Anda di halaman 1dari 7

TUGAS KESEHATAN KERJA

Oleh :

Nama : Ariel Pratama


NIM : 15441002
Jurusan : Teknik Instrumentasi Kilang
Program Studi : Instrumentasi dan Elektronika
Diploma : D III

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL


BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
SEKOLAH TINGGI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
STEM Akamigas
Getaran di Tempat Kerja dan Lingkungan
Menurut Kep.MenLH No: KEP-49/MENLH/II/1996, getaran adalah gerakan bolak balik
suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. Pemaparan getaran terhadap
pekerja merupakan efek dari peralatan mekanik yang digunakan tersebut memberikan dampak
yang beraneka ragam sesuai dengan jenis, posisi dan frekuensi dan lama paparan getaran pada
tenaga kerja.
Pembagian jenis getaran mekanis terhadap pekerja terdapat pada pekerja industri, transportasi
dan pertanian. Pembagian jenis getaran secara garis besar dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
a. Getaran vulkanis (geologis) getaran yang timbul akibat gejala alam berupa letusan
gunung berapa dan pergerakan permukaan kulit bumi.
b. Getaran mekanis adalah getaran yang ditimbulkan karena pengoperasian peralatan
mekanis.
c. Getaran kejut atau getaran yang terjadi seketika karena terhempas atau terjatuh dari
ketinggian.

A. Tujuan Pengukuran

1. Untuk mengukur getaran mekanis di tempat kerja ada tiga jenis, yaitu:
a. Segmental Vibration atau Hand and Arm Vibration (HAV)
b. Whole Body Vibration (WBV)
c. Getaran mesin
2. Untuk mengukur getaran mekanis di lingkungan ada tiga jenis, yaitu:
a. Getaran untuk kenyamanan dan kesehatan
b. Getaran berdasarkan dampak kerusakan
c. Getaran berdasarkan jenis bangunan
3. Untuk membandingkan intensitas getaran dengan NAB atau standar.
4. Untuk pedoman dalam menentukan jenis pengendalian.
5. Sebagai pedoman waktu paparan sehingga tidak mengganggu kesehatan para tenaga
kerja.
Peralatan: Vibration meter yang sudah dikalibrasi.

B. Prosedur Pengukuran
Pengukuran getaran untuk kenyamanan dan kesehatan:
1. Alat penangkap getaran diletakkan pada lantai oleh permukaan yang bergetar dan
disambungkan ke alat ukur getaran.
2. Pembacaan dan pencatatan hasil pengukuran dilakukan untuk setiap frekuensi 4-63
Hz.
Pengukuran getaran untuk keutuhan bangunan:
Cara pengukurannya sama dengan pengukuran getaran untuk kenyamanan dan kesehatan
manusia, hanya besaran yang dipakai ialah kecepatan getaran puncak (peak velocity).

C. Pengukuran Getaran Mekanis di Tempat Kerja

1. Segmentasi vibration atau biasa disebut hand arm vibration (HAV) adalah
pengukuran getaran yang berpengaruh pada bagian lengan dan telapak tangan.
Satuan: Acceleration (m/det2), yang diukur adalah handle mesin atau bagian yang
sering bersentuhan dengan tenaga kerja dan berpengaruh pada bagian lengan dan
telapak tangan. Standar berdasarkan Kepmenaker No: KEP-51/MEN/1999.
2. Whole Body Vibration (WBV) adalah getaran yang memberikan pengaruh pada
seluruh tubuh tenaga kerja. Paparan getaran berada pada pusat titik berat.
Satuan: acceleration (m/det2), yang diukur adalah bagian yang menopang bagian
tubuh seperti pada alas duduk bila tenaga kerja bekerja sambil dudukl dan tempat
berdiri bila paparan getaran berasal dari lantai dan tenaga kerja bekerja dengan berdiri.
Standar Menurur ISO 2631, gangguan yang dapat ditimbulkan getaran dibagi menjadi
3 bagian:
a. Mengganggu kenyamanan
b. Meningkatkan kelelahan
c. Mengganggu kesehatan
3. Getaran mesin adalah getaran yang ada pada badan mesin.
Satuan: Velocity (mm/det), yang diukur adalah dasar mesin. Mesin dikelompokan
menjadi 4, yaitu:
a. Group K (Small machines)
b. Group M (Medium machines)
c. Group G (Large machines)
d. Group T (Largest machines)
Standar berdasarkan standar ISO 2372, dibagi menjadi 4, yaitu:
a. Baik (Good)
b. Dapat diterapkan (Acceptable)
c. Masih diijinkan (Still permishabel)
d. Berbahaya (dangerous)

D. Pengukuran Getaran Mekanis Pada Lingkungan

1. Getaran untuk kenyamanan dan kesehatan


Satuan: Simpangan mikron, dapat dirubah menjadi velocity atau accelerasi, yang
diukur: lantai atau tanah
Baku Mutu: berdasarkan Kepmenneg LH No 49 Tahun 1996
2. Getaran berdasarkan dampak kerusakan
Satuan: velocity (mm/det), yang diukur: pondasi dan dinding
Baku Mutu: Kepmenneg LH Nomor 49 Tahun 1996.
3. Getaran berdasarkan jenis bangunan
Satuan: velocity (mm/det), yang diukur: lantai pada bagunan paling atas.
Baku Mutu: Kepmenneg LH Nomor 49 Tahun 1996.

E. Contoh Pengukuran Getaran

Pengukuran Getaran Mekanis Pada Lingkungan


Hasil pengukuran getaran mekanis di lingkungan dengan sumber getaran mesin diesel,
tempat pengukuran garasi, tipe mesin 2 KW (kategori mesin kecil) ada pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1 Hasil Pengukuran Getaran Mekanis pada Lingkungan


Tempat Kecepatan Getaran (m/s)
No Keterangan
Pengukuran Frekuensi 10 Hz Frekuensi 20 Hz Frekuensi 50 Hz
1 Output Mesin 7.48 - 1 Mesin baik
Tidak
2 Lantai 0.00262 0.00018 0.0001
mengganggu
Tidak
3 Dinding 0.038 0.0212 0 menimbulkan
kerusakan
4 Pondasi 0.0032 - -

Keterangan: alat yang digunakan sudah dikalibrasi dan nilai diatas merupakan rata-rata
pengukuran untuk output mesin dan pondasi tidak mempertimbangkan frekuensi. Bila
dibandingkan dengan NAB hasilnya masing dibawah NAB.
Hasil Pengukuran Getaran Mesin
Hasil pengukuran getaran mesin = 7,48 mm/det, menurut ISO 2372 dan VDI 2056
standar kecepatan getaran berdasarkan klasifikasi mesin adalah:
a. Jika mesin tersebut termasuk group K (Small Machines), maka nilai tersebut masih
diperkenankan (NAB = 1,81 – 4,5 mm/det).
b. Jika mesin tersebut termasuk group M (Medium Machines), maka nilai tersebut masih
diperkenankan (NAB = 2,81 – 7,1 mm/det).
c. Jika mesin tersebut termasuk group G (Large Machines), maka nilai tersebut dapat
diterapkan (NAB = 1,81 – 4,50 mm/det).
d. Jika mesin tersebut termasuk group T (Largest Machines), maka nilaitersebut dapat
diterapkan (NAB = 1,81 – 7,10 mm/det).
NAB Untuk Lantai
Menurut Kepmen L.H Nomor. Kep49/MENLH/11/1996 tentang Baku Mutu tingkat
getaran untuk kenyamanan dan kesehatan, maka hasil pengukuran tersebut:
a. Pada frekuensi 10 Hz = 0,00262 mikron, tidak mengganggu (< 37 mikron)
b. Pada frekuensi 20 Hz = 0,00018 mikron, tidak mengganggu (< 20 mikron)
c. Pada frekuensi 50 Hz = 0,0001 mikron, tidak mengganggu (< 8 mikron)

NAB Untuk dinding


Menurut Kepmen L.H Nomor. Kep.49/MENLH/11/1996 tentang Baku Mutu tingkat
getaran berdasarkan dampak kerusakan, maka hasil pengukuran tersebut:
a. Pada frekuensi 10 Hz = 0,038 mm/det dibawah baku mutu sebesar 5,2 mm/det untuk
kategori A (tidak menimbulkan kerusakan).
b. Pada frekuensi 20 Hz = 0,0212 mm/det dibawah baku mutu sebesar 3,8 mm/det
untuk kategori A (tidak menimbulkan kerusakan.
c. Pada frekuensi 50 Hz = 0 mm/det dibawah baku mutu sebesar 1 mm/det untuk
kategori A (tidak menimbulkan kerusakan).

F. Penyakit Akibat Getaran

HAVS adalah penyakit kerja akibat getaran mekanis yang menyerang tangan dan lengan
pekerja. Penyakit ini dapat menimbulkan gejala vaskuler, neurologi, dan muskuloskeletal pada
jari, tangan, dan lengan yang disebabkan penggunaan alat yang bergetar secara terus-menerus,
seperti penggunaan bor (drill), gerinda, bor listrik, gergaji, dan alat penghancur beton
(jackhammer).

G. Gejala - Gejala HAVS

Gejala – gejala HAVS yang terjadi antara lain:


a. Gejala Vaskuler
Gejala ini dikenal sebagai fenomena Raynaud. Gejala vaskuler ditandai dengan
pemucatan jari (jari-jari memutih) dan menjadi dingin, jari-jari tersebut kemudian berubah
warna jadi kebiruan akibat kurangnya suplai oksigen, dan kemudian jari-jari tersebut jadi
memerah. Perubahan warna ini tidak selalu dialami para penderita. Namun, keluhan tidak
nyaman, jari pucat dan dingin tetap muncul. Lamanya gejala bisa berlangsung beberapa menit
hingga beberapa jam. Gejala tersebut dapat muncul bila dirangsang oleh udara dingin atau
pekerja menyentuh benda dingin. Kondisi ini dapat menimbulkan keluhan seperti kesemutan,
kram, atau nyeri. Nyeri pada tangan biasanya timbul pada malam hari, terkadang rasa nyeri
menjalar sampai lengan bawah, siku, dan leher, serta rasa nyeri yang dirasakan bisa
mengakibatkan sulit untuk menggenggam dan mengepal.
b. Gejala Sensorineural
Gejala sensorineural yang timbul meliputi rasa baal dan/ atau kesemutan pada satu atau
lebih jari. Tingkat gejala sensorineural yang dirasakan setiap penderita bisa berbeda. Pada
gejala ringan, rasa baal atau kesemutan pada jari sifatnya hilang timbul. Namun, jika gejala
berlangsung lebih dari satu jam, Anda perlu mewaspadainya.
Gejala yang dirasakan penderita bisa bertambah parah bila paparan terhadap alat bergetar terus
berlanjut dalam jangka waktu yang lama.

H. Pencegahan HAVS

Cara yang dilakukan untuk mencegah HAVS:


1. Mendesain ulang alat-alat yang bergetar untuk meminimalisasi paparan pada tangan
dan lengan.
2. Gunakan alat-alat yang bergetar tidak lebih dari 2 jam (tergantung nilai percepatan
getaran) sesuai dengan peraturan mengenai batas waktu pemaparan getaran tertuang
dalam Kepmenaker No: KEP-51/MEN/ 1999 tentang nilai ambang batas faktor fisika
di tempat kerja.
DAFTAR PUSTAKA

1. Arifin, Zainal. Tanpa Tahun. “Pengantar K3” (online) (https://www.scribd.com/upload


document?archive_doc=137681770&escape=false&metadata=%7B%22context%22
%3A%22archive%22%2C%22page%22%3A%22read%22%2C%22action%22%3Af
alse%2C%22logged_in%22%3Atrue%2C%22platform%22%3A%22web%22%7D
diakses pada tanggal 16 April 2018 pada pukul 20:00 WIB)