Anda di halaman 1dari 19

BAB I

HAEMORRHAGE POST PARTUM (HPP)

a. Definisi
Perdarahan post partum adalah perdarahan lebih dari 500 cc yang terjadi setelah bayi
lahir pervaginam atau lebih dari 1.000 mL setelah persalinan abdominal1,2,3. Kondisi
dalam persalinan menyebabkan kesulitan untuk menentukan jumlah perdarahan yang
terjadi, maka batasan jumlah perdarahan disebutkan sebagai perdarahan yang lebih dari
normal dimana telah menyebabkan perubahan tanda vital, antara lain pasien mengeluh
lemah, limbung, berkeringat dingin, menggigil, hiperpnea, tekanan darah sistolik < 90
mmHg, denyut nadi > 100 x/menit, kadar Hb < 8 g/dL2.

b. Klasifikasi1,2,5
1) Perdarahan Post Partum Dini / Perdarahan Post Partum Primer (early postpartum
hemorrhage) adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama setelah kala III.
2) Perdarahan pada Masa Nifas / Perdarahan Post Partum Sekunder (late postpartum
hemorrhage) adalah perdarahan yang terjadi pada masa nifas (puerperium) tidak
termasuk 24 jam pertama setelah kala III.

c. Etiologi1,2
1) Perdarahan tempat implantasi plasenta
- Hipotoni sampai atonia uteri
o Akibat anestesi
o Distensi berlebihan ( gemeli, anak besar, hidramnion)
o Partus lama, partus kasep
o Partus presipitatus / partus terlalu cepat
o Persalinan karena induksi oksitosin
o Multiparitas
o Korioamnionitis
o Pernah atonia sebelumnya
- Sisa plasenta
o Kotiledon atau selaput ketuban tersisa
o Plasenta susenteriata
o Plasenta akreta, inkreta, perkreta
2) Perdarahan karena robekan jalan lahir
- Episiotomi yang melebar
- Robekan pada perineum, vagina dan serviks
- Ruptura uteri
3) Gangguan Koagulasi (jarang terjadi)
- Jika terjadi dapat memperburuk keadaan
Ex : trombofilia, sind HELLP. Preeklamsia, solusio plasenta, kematian janin dalam
kandungan, emboli air ketuban

d. Patofisiologi
Secara normal, setelah bayi lahir uterus akan mengecil secara mendadak dan akan
berkontraksi untuk melahirkan plasenta, menghentikan perdarahan yang terjadi pada
bekas insersi plasenta dengan menjepit pembuluh darah (disebut “living ligatures of the
uterus”) pada tempat tersebut. Apabila mekanisme ini tidak terjadi atau terdapat sesuatu
yang menghambat mekanisme ini (adanya sisa plasenta, adanya selaput plasenta yang
tertinggal, adanya bekuan darah, dsb.) akan terjadi perdarahan akibat lumen pembuluh
darah pada bekas insersi plasenta tidak tertutup atau tertutup tidak optimal. Perdarahan
juga dpat terjadi akibat adanya robekan pada jalan lahir, dan gangguan pembekuan darah.

e. Penilaian Klinik
1) Menentukan Derajat Syok3
Volume Tekanan Darah
Gejala dan Tanda Derajat Syok
Kehilangan Darah (Sistolik)
500-1.000 mL Palpitasi, takikardia,
Normal Terkompensasi
(10-15%) pusing
1000-1500 mL (15- Penurunan ringan Lemah, takikardia,
Ringan
25%) (80-100 mm Hg) berkeringat
1500-2000 mL (25- Penurunan sedang Gelisah, pucat,
Sedang
35%) (70-80 mm Hg) oliguria
2000-3000 mL (35- Penurunan tajam Pingsan, hipoksia,
Berat
50%) (50-70 mm Hg) anuria
2) Menentukan Penyebab Perdarahan Post Partum2
Gejala dan Tanda Penyulit Diagnosis Kerja
Uterus tidak berkontraksi dan Syok. Atonia uteri
lembek. Bekuan darah pada serviks
Perdarahan segera setelah anak atau posisi telentang akan
lahir. menghambat aliran darah
keluar.
Darah segar mengalir segera Pucat. Robekan jalan lahir
setelah bayi lahir. Lemah.
Uterus berkontraksi dan keras. Menggigil.
Plasenta lengkap.
Plasenta belum lahir setelah 30 Tali pusat putus akibat Retensio plasenta
menit. traksi berlebihan.
Perdarahan segera. Inversio uteri akibat tarikan.
Uterus berkontraksi dan keras. Perdarahan lanjutan.
Plasenta atau sebagian selaput Uterus berkontraksi tetapi Retensi sisa
tidak lengkap. tinggi fundus tidak plasenta
Perdarahan segera. berkurang.
Uterus tidak teraba. Neurogenik syok. Inversio uteri
Lumen vagina terisi massa. Pucat dan limbung
Tampak tali pusat (bila
plasenta belum lahir).
Sub-involusi uterus. Anemia. Endometritis atau
Nyeri tekan perut bawah dan Demam. sisa fragmen
pada uterus. plasenta (terinfeksi
Perdarahan sekunder. atau tidak)

f. Gejala Klinis
Penyebab terjadinya perdarahan post partum, secara mudah adalah 4-T :
1. Tonus : atonia uteri, kandung kemih yang over distensi.
2. Tissue : retensi plasenta (sisa plasenta) dan bekuan darah.
3. Trauma : perlukaan pada vagina, serviks, atau uterus.
4. Trombin : gangguan pembekuan darah (bawaan atau didapat).
g. Faktor Risiko
Faktor risiko untuk terjadinya perdarahan post partum adalah:
1. Kehamilan pertama kali
2. Ibu gemuk
3. Bayi besar
4. Kehamilan kembar
5. Persalinan lama atau persalinan dengan augmentasi
6. Perdarahan antepartum

h. Kriteria Diagnosis1
1) Pemeriksaan fisik :
Pucat, dapat disertai tanda-tanda syok, tekanan darah rendah, denyut nadi cepat,
kecil, ekstremitas dingin serta tampak darah keluar melalui vagina terus menerus
2) Pemeriksaan obstetri :
kontraksi usus lembek, uterus membesar bila ada atonia uteri. Bila kontraksi uterus
baik, perdarahan mungkin karena luka jalan lahir
3) Pemeriksaan ginekologi :
Dilakukan dalam keadaan baik atau telah diperbaiki, dapat diketahui kontraksi
uterus, luka jalan lahir dan retensi sisa plasenta

i. Pemeriksaan Penunjang1,2,3
1) Pemeriksaan laboratorium
- Dilakukan sejak periode antenatal. Kadar hemoglobin di bawah 10 g/dL
berhubungan dengan hasil kehamilan yang buruk
-
Pemeriksaan golongan darah dan tes antibodi harus dilakukan sejak periode
antenatal
- Perlu dilakukan pemeriksaan faktor koagulasi (waktu perdarahan dan waktu
pembekuan)
2) Pemeriksaan radiologi
- Onset perdarahan post partum biasanya sangat cepat. Dengan diagnosis dan
penanganan yang tepat, resolusi biasa terjadi sebelum pemeriksaan laboratorium
atau radiologis dapat dilakukan. Berdasarkan pengalaman, pemeriksaan USG
dapat membantu untuk melihat adanya jendalan darah dan retensi sisa plasenta
3) USG pada periode antenatal dapat dilakukan untuk mendeteksi pasien dengan resiko
tinggi yang memiliki faktor predisposisi terjadinya perdarahan post partum seperti
plasenta previa. Pemeriksaan USG dapat pula meningkatkan sensitivitas dan
spesifisitas dalam diagnosis plasenta akreta dan variannya

j. Penatalaksanaan
Pasien dengan perdarahan post partum ditangani dalam 2 komponen3 :
(1) Resusitasi dan penanganan perdarahan obstetri serta kemungkinan syok hipovolemik
(2) Identifikasi dan penanganan penyebab terjadinya perdarahan post partum
Resusitasi cairan
Pengangkatan kaki dapat meningkatkan aliran darah balik vena sehingga dapat
memberi waktu untuk menegakkan diagnosis dan menangani penyebab perdarahan. Perlu
dilakukan pemberian oksigen dan akses intravena. Selama persalinan perlu dipasang
peling tidak 1 jalur intravena pada wanita dengan resiko perdarahan post partum, dan
dipertimbangkan jalur kedua pada pasien dengan resiko sangat tinggi.
Resusitasi dengan cairan kristaloid dalam volume yang besar, baik normal salin
(NS/NaCl) atau cairan Ringer Laktat melalui akses intravena perifer. Resiko terjadinya
asidosis hiperkloremik sangat rendah dalam hubungan dengan perdarahan post partum.
Bila dibutuhkan cairan kristaloid dalam jumlah banyak (>10 L), dapat dipertimbangkan
pengunaan cairan Ringer Laktat.
Cairan yang mengandung dekstrosa, seperti D 5% tidak memiliki peran pada
penanganan perdarahan post partum. Kehilangan I L darah perlu penggantian 4-5 L
kristaloid, karena sebagian besar cairan infus tidak tertahan di ruang intravasluler, tetapi
terjadi pergeseran ke ruang interstisial. Pergeseran ini bersamaan dengan penggunaan
oksitosin, dapat menyebabkan edema perifer pada hari-hari setelah perdarahan post
partum. Kehilangan darah yang banyak, biasanya membutuhkan penambahan transfusi
sel darah merah.
Transfusi Darah
Transfusi darah perlu diberikan bila perdarahan masih terus berlanjut dan
diperkirakan akan melebihi 2.000 mL atau keadaan klinis pasien menunjukkan tanda-
tanda syok walaupun telah dilakukan resusitasi cepat.
Tujuan transfusi adalah memasukkan 2 – 4 unit PRC untuk menggantikan pembawa
oksigen yang hilang dan untuk mengembalikan volume sirkulasi. PRC bersifat sangat
kental yang dapat menurunkan jumlah tetesan infus.
Jenis Uterotonika dan Cara Pemberiannya
Jenis dan Cara Oksitosin Ergometrin Misoprostol
Dosis dan cara IV: 20 U dalam 1 IM atau IV (lambat): Oral atau rektal
pemberian awal L larutan garam 0,2 mg 400 mg
fisiologis dengan
tetesan cepat
IM: 10 U
Dosis lanjutan IV: 20 U dalam 1 Ulangi 0,2 mg IM 400 mg 2-4 jam
L larutan garam setelah 15 menit setelah dosis awal
fisiologis dengan Bila masih diperlukan,
40 tetes/menit beri IM/IV setiap 2-4
jam
Dosis maksimal Tidak lebih dari 3 L Total 1 mg (5 dosis) Total 1200 mg
per hari larutan fisiologis atau 3 dosis
Kontraindikasi Pemberian IV secara Preeklampsia, vitium Nyeri kontraksi
atau hati-hati cepat atau bolus kordis, hipertensi Asma

k. Pencegahan
Penanganan aktif pada persalinan kala III dapat menurunkan insidensi dan tingkat
keparahan perdarahan post partum3. Penanganan aktif merupakan kombinasi dari :
1) Pemberian uterotonik (dianjurkan oksitosin) segera setelah bayi dilahirkan
2) Penjepitan dan pemotongan tali pusat dengan cepat dan tepat
3) Penarikan tali pusat yang lembut dengan traksi balik uterus ketika uterus berkontraksi
dengan baik
Penanganan Perdarahan Post Partum Berdasarkan Penyebab
BAB II
ATONIA UTERI

a. Definisi
Atonia uteri adalah kegagalan serabut-serabut otot miometrium uterus untuk
berkontraksi dan memendek. Hal ini merupakan penyebab perdarahan post partum yang
paling penting dan biasa terjadi segera setelah bayi lahir hingga 4 jam setelah persalinan.
Atonia uteri dapat menyebabkan perdarahan hebat dan dapat mengarah pada terjadinya
syok hipovolemik3.

b. Etiologi3
1. Overdistensi uterus, baik absolut maupun relatif, merupakan faktor resiko terjadinya
atonia uteri. Overdistensi uterus dapat disebabkan oleh kehamilan ganda, janin
makrosomia, polihidramnion atau abnormalitas janin (misal hidrosefalus berat),
kelainan struktur uterus atau kegagalan untuk melahirkan plasenta atau distensi
akibat akumulasi darah di uterus baik sebelum maupun sesudah plasenta lahir
2. Lemahnya kontraksi miometrium merupakan akibat dari kelelahan karena persalinan
lama atau persalinan dengan tenaga besar, terutama bila mendapatkan stimulasi. Hal
ini dapat pula terjadi sebagai akibat dari inhibisi kontraksi yang disebabkan oleh
obat-obatan, seperti agen anestesi terhalogenisasi, nitrat, obat-obat antiinflamasi
nonsteroid, magnesium sulfat, beta-simpatomimetik dan nifedipin
3. Plasenta letak rendah
4. Toksin bakteri (korioamnionitis, endomiometritis, septikemia)
5. Hipoksia akibat hipoperfusi atau uterus couvelaire pada abruptio plasenta dan
hipotermia akibat resusitasi masif

c. Penatalaksanaan2,3
1) Kenali dan tegakkan diagnosis kerja atonia uteri
2) Masase uterus, berikan oksitosin dan ergometrin intravena, bila ada perbaikan dan
perdarahan berhenti, oksitosin dilanjutkan perinfus
3) Bila tidak ada perbaikan dilakukan kompresi bimanual, dan kemudian dipasang
tampon uterovaginal padat. Kalau cara ini berhasil, dipertahankan selama 24 jam
4) Kompresi bimanual eksternal
Menekan uterus melalui dinding abdomen dengan jalan saling mendekatkan kedua
belah telapak tangan yang melingkupi uterus. Pantau aliran darah yang keluar. Bila
perdarahan berkurang, kompresi diteruskan, pertahankan hingga uterus dapat
kembali berkontraksi. Bila belum berhasil dilakukan kompresi bimanual internal
5) Kompresi bimanual internal
Uterus ditekan di antara telapak tangan pada dinding abdomen dan tinju tangan
dalam vagina untuk menjepit pembuluh darah di dalam miometrium (sebagai
pengganti mekanisme kontraksi). Perhatikan perdarahan yang terjadi. Pertahankan
kondisi ini bila perdarahan berkurang atau berhenti, tunggu hingga uterus
berkontraksi kembali. Apabila perdarahan tetap terjadi , coba kompresi aorta
abdominalis
6) Kompresi aorta abdominalis
Raba arteri femoralis dengan ujung jari tangan kiri, pertahankan posisi tersebut,
genggam tangan kanan kemudian tekankan pada daerah umbilikus, tegak lurus
dengan sumbu badan, hingga mencapai kolumna vertebralis. Penekanan yang tepat
akan menghentikan atau sangat mengurangi denyut arteri femoralis. Lihat hasil
kompresi dengan memperhatikan perdarahan yang terjadi
7) Dalam keadaan uterus tidak respon terhadap oksitosin / ergometrin, bisa dicoba
prostaglandin F2a (250 mg) secara intramuskuler atau langsung pada miometrium
(transabdominal). Bila perlu pemberiannya dapat diulang dalam 5 menit dan tiap 2
atau 3 jam sesudahnya.
8) Laparotomi dilakukan bila uterus tetap lembek dan perdarahan yang terjadi tetap >
200 mL/jam. Tujuan laparotomi adalah meligasi arteri uterina atau hipogastrik
(khusus untuk penderita yang belum punya anak atau muda sekali)
9) Bila tak berhasil, histerektomi adalah langkah terakhir.
d. Penilaian Klinik Atonia Uteri2
BAB III
RETENSIO PLASENTA

a. Definisi
Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga atau lebih
dari 30 menit setelah bayi lahir2. Hampir sebagian besar gangguan pelepasan plasenta
disebabkan oleh gangguan kontraksi uterus

b. Klasifikasi2
Retensio plasenta terdiri dari beberapa jenis, antara lain :
1) Plasenta adhesiva adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga
menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis.
2) Plasenta akreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai sebagian
lapisan miometrium
3) Plasenta inkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai/melewati
lapisan miometrium
4) Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan
miometrium hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus
5) Plasenta inkarserata adalah tertahannya plasenta di dalam kavum uteri, disebabkan
oleh konstriksi ostium uteri
Gambaran dan dugaan penyebab retensio plasenta2
Separasi / akreta Plasenta
Gejala Plasenta akreta
parsial inkarserata
Konsistensi
Kenyal Keras Cukup
uterus
Tinggi fundus Sepusat 2 jari bawah pusat Sepusat
Bentuk uterus Diskoid Agak globuler Diskoid
Perdarahan Sedang-banyak Sedang Sedikit/tidak ada
Tali pusat Terjulur sebagian Terjulur Tidak terjulur
Ostium uteri Terbuka Konstriksi Terbuka
Separasi Melekat
Lepas sebagian Sudah lepas
plasenta seluruhnya
Syok Sering Jarang Jarang sekali
c. Penatalaksanaan
1) Retensio plasenta dengan separasi parsial
- Tentukan jenis retensio yang terjadi karena berkaitan dengan tindakan yang
akan diambil
- Regangkan tali pusat dan minta pasien untuk mengedan. Bila ekspulsi plasenta
tidak terjadi, coba traksi terkontrol tali pusat
- Pasang infus oksitosin 20 IU dalam 500 mL NS/RL dengan 40 tetes per menit.
Bila perlu, kombinasikan dengan misoprostol 400 mg per rektal (sebaiknya
tidak menggunakan ergometrin karena kontraksi tonik yang timbul dapat
menyebabkan plasenta terperangkap dalam kavum uteri)
- Bila traksi terkontrol gagal untuk melahirkan plasenta, lakukan manual plasenta
secara hati-hati dan halus untuk menghindari terjadinya perforasi dan
perdarahan
- Lakukan transfusi darah apabila diperlukan
- Beri antibiotika profilaksis (ampisilin 2 g IV / oral + metronidazol 1 g
supositoria / oral)
- Segera atasi bila terjadi komplikasi perdarahan hebat, infeksi, syok neurogenic
2) Plasenta inkarserata
- Tentukan diagnosis kerja melalui anamnesis, gejala klinik dan pemeriksaan
- Siapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan untuk menghilangkan konstriksi
serviks dan melahirkan plasenta
- Pilih fluethane atau eter untuk konstriksi serviks yang kuat, siapkan infus
oksitosin 20 IU dalam 500 mL NS/RL dengan 40 tetes per menit untuk
mengantisipasi gangguan kontraksi yang diakibatkan bahan anestesi tersebut
- Bila prosedur anestesi tidak tersedia dan serviks dapat dilalui cunam ovum,
lakukan manuver sekrup untuk melahirkan plasenta. Untuk prosedur ini berikan
analgesik (Tramadol 100 mg IV atau Pethidine 50 mg IV) dan sedatif
(Diazepam 5 mg IV) pada tabung suntik yang terpisah
- Manuver sekrup :
o Pasang spekulum Sims sehingga ostium dan sebagian plasenta tampak
dengan jelas
o Jepit porsio dengan klem ovarium pada jam 12, 4 dan 8 kemudian lepaskan
spekulum
o Tarik ketiga klem ovarium agar ostium, tali pusat dan plasenta tampak lebih
jelas
o Tarik tali pusat ke lateral sehingga menampakkan plasenta di sisi
berlawanan agar dapat dijepit sebanyak mungkin. Minta asisten untuk
memegang klem tersebut
o Lakukan hal yang sama untuk plasenta pada sisi yang berlawanan
o Satukan kedua klem tersebut kemudian sambil diputar searah jarum jam,
tarik plasenta keluar perlahan-lahan melalui pembukaan ostium
o Pengamatan dan perawatan lanjutan meliputi pemantauan tanda vital,
kontraksi uterus, tinggi fundus uteri dan perdarahan pasca tindakan.
Tambahan pemantauan yang diperlukan adalah pemantauan efek samping
atau komplikasi dari bahan-bahan sedatif, analgetika atau anestesi umum
misal: mual, muntah, hipo/atonia uteri, pusing/vertigo, halusinasi,
mengantuk
3) Plasenta akreta
Tanda penting untuk diagnosis pada pemeriksaan luar adalah ikutnya fundus
atau korpus bila tali pusat ditarik. Pada pemeriksaan dalam sulit ditentukan tepi
plasenta karena implantasi yang dalam. Upaya yang dapat dilakukan pada fasilitas
kesehatan dasar adalah menentukan diagnosis stabilisasi pasien dan rujuk ke rumah
sakit rujukan karena kasus ini memerlukan tindakan operatif.
Penilaian Klinik Plasenta Akreta
4) Sisa Plasenta
o Penemuan secara dini, hanya dimungkinkan dengan melakukan pemeriksaan
kelengkapan plasenta setelah dilahirkan. Pada kasus sisa plasenta dengan
perdarahan pasca persalinan lanjut, sebagian besar pasien akan kembali lagi ke
tempat bersalin dengan keluhan perdarahan setelah beberapa hari pulang ke
rumah dan subinvolusi uterus
o Berikan antibiotika karena perdarahan juga merupakan gejala metritis.
Antibiotika yang dipilih adalah ampisilin dosis awal 1 g IV dilanjutkan 3 x 1 g
oral dikombinasi dengan metronidazol 1 g supositoria dilanjutkan 3 x 500 mg
oral
o Lakukan eksplorasi digital (bila serviks terbuka) dan mengeluarkan bekuan
darah atau jaringan. Bila serviks hanya dapat dilalui oleh instrumen, lakukan
evakuasi sisa plasenta dengan dilatasi dan kuretase
o Bila kadar Hb < 8 g/dL berikan transfusi darah. Bila kadar Hb > 8 g/dL, berikan
sulfas ferosus 600 mg/hari selama 10 hari
BAB IV
LASERASI JALAN LAHIR

a. Klasifikasi2
- Ruptura perineum dan robekan dinding vagina
Tingkat perlukaan perineum dapat dibagi dalam :
o Tingkat I: bila perlukaan hanya terbatas pada mukosa vagina atau kulit
perineum
o Tingkat II : adanya perlukaan yang lebih dalam dan luas ke vagina dan
perineum dengan melukai fasia serta otot-otot diafragma urogenital
o Tingkat III : perlukaan yang lebih luas dan lebih dalam yang menyebabkan
muskulus sfingter ani eksternus terputus di depan
- Robekan servik

b. Faktor Resiko1
- Makrosomia
- Malpresentasi
- Partus presipitatus
- Distosia bahu

c. Penatalaksanaan
1) Ruptura perineum dan robekan dinding vagina
- Lakukan eksplorasi untuk mengidentifikasi lokasi laserasi dan sumber
perdarahan
- Lakukan irigasi pada tempat luka dan diberikan larutan antiseptic
- Berikan antibiotika profilaksis (ampisilin 2 g dan metronidazol 1 g per oral)
2) Robekan serviks
- Robekan serviks sering terjadi pada sisi lateral karena serviks yang terjulur akan
mengalami robekan pada posisi spina isiadika tertekan oleh kepala bayi
- Bila kontraksi uterus baik, plasanta lahir lengkap, tetapi terjadi perdarahan
banyak maka segera lihat bagian lateral bawah kiri dan kanan dari portio
- Jepitkan klem ovarium pada kedua sisi portio yang robek sehingga perdarahan
dapat segera dihentikan. Jika setelah eksplorasi lanjutan tidak dijumpai robekan
lain, lakukan penjahitan. Jahitan dimulai dari ujung atas robekan kemudian ke
arah luar sehingga semua robekan dapat dijahit
- Setelah tindakan, periksa tanda vital psien, kontraksi uterus, tinggi fundus uteri
dan perdarahan pasca tindakan
- Beri antibiotika profilaksis, kecuali bila jelas ditemui tanda-tanda infeksi
- Bila terdapat defisit cairan, lakukan restorasi dan bila kadar Hb < 8 g%, berikan
transfusi darah

d. Penilaian Klinik Perdarahan Oleh Karena Persalinan Trumatika


BAB V
KELAINAN DARAH

a. Etiologi
Pada periode post partum awal, kelainan sistem koagulasi dan platelet biasanya tidak
menyebabkan perdarahan yang banyak, hal ini bergantung pada kontraksi uterus untuk
mencegah perdarahan. Deposit fibrin pada tempat perlekatan plasenta dan penjendalan
darah memiliki peran penting beberapa jam hingga beberapa hari setelah persalinan.
Kelainan pada daerah ini dapat menyebabkan perdarahan post partun sekunder atau
perdarahan eksaserbasi dari sebab lain, terutama trauma3.
Abnormalitas dapat muncul sebelum persalinan atau didapat saat persalinan.
Trombositopenia dapat berhubungan dengan penyakit sebelumnya, seperti ITP atau
sindroma HELLP sekunder, solusio plasenta, DIC atau sepsis. Abnormalitas platelet
dapat saja terjadi, tetapi hal ini jarang. Sebagian besar merupakan penyakit sebelumnya,
walaupun sering tak terdiagnosis3.
Abnormalitas sistem pembekuan yang muncul sebelum persalinan yang berupa
hipofibrinogenemia familial, dapat saja terjadi, tetapi abnormalitas yang didapat biasanya
yang menjadi masalah. Hal ini dapat berupa DIC yang berhubungan dengan solusio
plasenta, sindroma HELLP, IUFD, emboli air ketuban dan sepsis. Kadar fibrinogen
meningkat pada saat hamil, sehingga kadar fibrinogen pada kisaran normal seperti pada
wanita yang tidak hamil harus mendapat perhatian. Selain itu, koagulopati dilusional
dapat terjadi setelah perdarahan post partum masif yang mendapat resusiatsi cairan
kristaloid dan transfusi PRC3.
DIC juga dapat berkembang dari syok yang ditunjukkan oleh hipoperfusi jaringan,
yang menyebabkan kerusakan dan pelepasan tromboplastin jaringan. Pada kasus ini
terdapat peningkatan kadar D-dimer dan penurunan fibrinogen yang tajam, serta
pemanjangan waktu trombin (thrombin time).

b. Penatalaksanaan
Jika tes koagulasi darah menunjukkan hasil abnormal dari onset terjadinya perdarahan
post partum, perlu dipertimbangkan penyebab yang mendasari terjadinya perdarahan post
partum, seperti solutio plasenta, sindroma HELLP, fatty liver pada kehamilan, IUFD,
emboli air ketuban dan septikemia. Ambil langkah spesifik untuk menangani penyebab
yang mendasari dan kelainan hemostatik.
Penanganan DIC identik dengan pasien yang mengalami koagulopati dilusional.
Restorasi dan penanganan volume sirkulasi dan penggantian produk darah bersifat sangat
esensial. Perlu saran dari ahli hematologi pada kasus transfusi masif dan koagulopati.
Konsentrat trombosit yang diturunkan dari darah donor digunakan pada pasien dengan
trombositopenia kecuali bila terdapat penghancuran trombosit dengan cepat. Satu unit
trombosit biasanya menaikkan hitung trombosit sebesar 5.000 – 10.000/mm3. Dosis biasa
sebesar kemasan 10 unit diberikan bila gejala-gejala perdarahan telah jelas atau bila
hitung trombosit di bawah 20.000/mm3. transfusi trombosit diindakasikan bila hitung
trombosit 10.000 – 50.000/mm3, jika direncanakan suatu tindakan operasi, perdarahan
aktif atau diperkirakan diperlukan suatu transfusi yang masif. Transfusi ulang mungkin
dibutuhkan karena masa paruh trombosit hanya 3 – 4 hari4.
Plasma segar yang dibekukan adalah sumber faktor-faktor pembekuan V, VII, IX, X
dan fibrinogen yang paling baik. Pemberian plasma segar tidak diperlukan adanya
kesesuaian donor, tetapi antibodi dalam plasma dapat bereaksi dengan sel-sel penerima.
Bila ditemukan koagulopati, dan belum terdapat pemeriksaan laboratorium, plasma segar
yang dibekukan harus dipakai secara empiris4.
Kriopresipitat, suatu sumber faktor-faktor pembekuan VIII, XII dan fibrinogen,
dipakai dalam penanganan hemofilia A, hipofibrinogenemia dan penyakit von
Willebrand. Kuantitas faktor-faktor ini tidak dapat diprediksi untuk terjadinya suatu
pembekuan, serta bervariasi menurut keadaan klinis4.
DAFTAR PUSTAKA

1. Komite Medik RSUP dr. Sardjito. 2000. Perdarahan Post Partum dalam Standar
Pelayanan Medis RSUP dr. Sardjito. Yogyakarta: Penerbit Medika Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada.
2. Prawihardjo, Suryono. 2011. Ilmu Kebidanan Ed. IV. Jakarta: PT. Bina Pusaka Sarwono
Prawirohadjo.
3. Smith, J. R., Brennan, B. G. 2004. Postpartum Hemorrhage. http://www.emedicine.com
4. Rayburn, W. F., Carey, J. C., 2001, Obstetri & Ginekologi, Jakarta: Penerbit Widya
Medika.
5. Mochtar, R., Lutan, D. (ed). 1998. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi Obstetri
Patologi, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
6. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spong CY. Obstetrical
hemmorrhage. In: Williams Obstetric. 23rd Ed. McGrawHill Medical, New York, 2010.