Anda di halaman 1dari 23

Bed Site Teaching

Open Fracture Cominutif Tibia Sinistra 1/3 Medial


Close Fracture Oblique Fibula 1/3 Distal

Oleh :
Alqodri Setiawan, S. Ked
NIM : 71.2015.026

Pembimbing
dr. H. Gunawan Tohir, Sp.B., MM

SMF ILMU BEDAH


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PALEMBANG BARI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
PALEMBANG
2017
BAB I
LANDASAN TEORI

1.1. Definisi dan Penyebab Fraktur


Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan epifisis dan
atau tulang rawan sendi. Fraktur dapat terjadi akibat peristiwa trauma tunggal, tekanan
yang berulang-ulang, atau kelemahan abnormal pada tulang (fraktur patologik).
Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan,
yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, penekukan, pemuntiran, atau penarikan.
Fraktur dapat disebabkan trauma langsung atau tidak langsung. Trauma langsung berarti
benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu. Trauma tidak langsung bila
titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan.
Tekanan yang berulang-ulang dapat menyebabkan keretakan pada tulang.
Keadaan ini paling sering ditemui pada tibia, fibula, atau metatarsal. Fraktur dapat pula
terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang itu lemah (misalnya oleh tumor) atau kalau
tulang itu sangat rapuh (misalnya pada penyakit paget).

1.2. Anatomi
Fraktur cruris merupakan akibat terbanyak dari kecelakaan lalu lintas. Hal ini
diakibatkan susunan anatomi cruris dimana permukaan medial tibia hanya ditutupi
jaringan subkutan, sehingga menyebabkan mudahnya terjadi fraktur cruris terbuka yang
menimbulkan masalah dalam pengobatan.
Secara anatomi terdapat 4 grup otot yang penting di cruris:
1.otot ekstensor
2.otot abductor
3.otot triceps surae
4.otot fleksor
Keempat grup oto tersebut membentuk kompartemen
Grup I :memebentuk kompartemen anterior
Grup II :membentuk kompartemen lateral

2
Grup III+IV :membentuk kompartemen posterior yang terdiri dari kompartemen
superficial dan kompartemen dalam.
Arteri:
1.arteri tibialis anterior
2.arteri tibialis posterior
3.arteri peroneus

Saraf:
1.n.tibialis anterior dan n.peroneus mempersarafi otot ekstensor dan abductor
2.n.tibialis posterior dan n.poplitea untuk mempersarafi otot fleksor dan otot triceps
surae.
1.3. Klasifikasi Fraktur
a. Komplit - tidak komplit
- Fraktur komplit : garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua
korteks tulang seperti terlihat pada foto.
- Fraktur tidak komplit : garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti:
1. Hairline fracture (patah retak rambut)
2. Buckle fracture atau torus fracture (terjadi lipatan dari satu
korteks dengan kompresi tulang spongiosa dibawahnya).
3. Greenstick fracture (mengenai satu korteks dengan angulasi
korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak)

b. Bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma


- garis patah melintang

- garis patah oblique

3
- garis patah spiral

- fraktur kompresi

- fraktur avulsi

c. Jumlah garis patah

- fraktur kominutif : garis patah lebih dari satu dan saling


berhubungan
- fraktur segmental : garis patah lebih dari satu tetapi tidak
berhubungan. Bila dua garis patah disebut pula fraktur
bifokal.
- fraktur multipel : garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan
tempatnya.

d. Bergeser - tidak bergeser (displaced-undisplaced)


- fraktur undisplaced (tidak bergeser) : garis patah komplit tetapi kedua fragmen
tidak bergeser. Periosteumnya masih utuh.

4
- Fraktur displaced (bergeser) : terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang
juga disebut dislokasi fragmen.
1. dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan
overlapping)
2. dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut)
3. dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauhi).

e. Terbuka - tertutup
- Fraktur tertutup : bila tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan udara
luar atau permukaan kulit.
- Fraktur terbuka : bila terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur
dengan udara luar atau permukaan kulit.
Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat yang ditentukan oleh berat ringannya
luka dan berat ringannya patah tulang.

Grade I : luka biasanya kecil, luka tusuk yang bersih pada tempat tulang
menonjol keluar. Terdapat sedikit kerusakan pada jaringan
lunak, tanpa penghancuran dan fraktur tidak kominutif.
Grade II : luka > 1 cm, tetapi tidak ada penutup kulit. Tidak banyak terdapat
kerusakan jaringan lunak, dan tidak lebih dari kehancuran atau
kominusi fraktur tingkat sedang.
Grade III : terdapat kerusakan yang luas pada kulit, jaringan lunak dan
struktur neurovaskuler, disertai banyak kontaminasi luka.
III A : tulang yang mengalami fraktur mungkin dapat ditutupi secara
memadai oleh jaringan lunak.
III B : terdapat pelepasan periosteum dan fraktur kominutif yang berat.

5
III C : terdapat cedera arteri yang perlu diperbaiki, tidak peduli berapa
banyak kerusakan jaringan lunak yang lain.

1.4. Pemeriksaan Penunjang


Dilakukan foto rontgen sinar X minimal harus 2 proyeksi yaitu AP dan lateral.
Pemeriksaan radiologis pada fraktur femur selain proyeksi AP dan lateral, proyeksi
panggul dan lutut ipsilateral, termasuk AP pelvis juga harus didapatkan. Fraktur
intertrochanter dan femoral neck ipsilateral telah dilaporkan pada 10% pasien dengan
fraktur femur.
Untuk fraktur-fraktur dengan tanda-tanda klasik, diagnosis dapat dibuat secara
klinis sedangkan pemeriksaan radiologis tetap diperlukan untuk melengkapi deskripsi
fraktur dan dasar untuk tindakan selanjutnya.
Untuk fraktur-fraktur yang tidak memberikan tanda-tanda klasik memang
diagnosanya harus dibantu pemeriksaan radiologis baik rontgen biasa ataupun
pemeriksaan canggih seperti MRI, contohnya untuk fraktur tulang belakang dengan
komplikasi neurologis.

1.5. Diagnosis
Menegakkan diagnosis fraktur dapat secara klinis meliputi anamnesis lengkap dan
melakukan pemeriksaan fisik yang baik, namun sangat penting untuk dikonfirmasikan
dengan melakukan pemeriksaan penunjang berupa foto rontgen untuk membantu
mengarahkan dan menilai secara objektif keadaan yang sebenarnya.
1. Anamnesa : ada trauma
Bila tidak ada riwayat trauma berarti fraktur patologis. Trauma harus diperinci
jenisnya, besar-ringannya trauma, arah trauma dan posisi penderita atau ekstremitas
yang bersangkutan (mekanisme trauma).
Dari anamnesa saja dapat diduga :
- Kemungkinan politrauma.
- Kemungkinan fraktur multipel.
- Kemungkinan fraktur-fraktur tertentu, misalnya : fraktur colles, fraktur
supracondylair humerus, fraktur collum femur.
- Pada anamnesa ada nyeri tetapi tidak jelas pada fraktur inkomplit
- Ada gangguan fungsi, misalnya : fraktur femur, penderita tidak dapat berjalan.
6
Kadang-kadang fungsi masih dapat bertahan pada fraktur inkomplit dan fraktur
impacted ( impaksi tulang kortikal ke dalam tulang spongiosa).

2. Pemeriksaan umum
Dicari kemungkinan kompikasi umum, misalnya : shock pada fraktur multipel,
fraktur pelvis atau fraktur terbuka, tanda-tanda sepsis pada fraktur terbuka terinfeksi.
3. Pemeriksaan status lokalis
Tanda-tanda fraktur yang klasik adalah untuk tulang panjang. Fraktur tulang-
tulang kecil misalnya: naviculare manus, fraktur avulsi, fraktur intraartikuler, fraktur
epifisis. Fraktur tulang-tulang yang dalam misalnya odontoid-cervical, cervical, dan
acetabulum mempunyai tanda-tanda tersendiri.

1.6. Penatalaksanaan
Secara umum prinsip pengobatan fraktur ada 4:
1. Recognition, diagnosis dan penilaian fraktur
Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan
anamnesis, pemeriksan klinis dan radiologis. Pada awal pengobatan perlu
diperhatikan:
# Lokalisasi fraktur
# Bentuk fraktur
# Menentukan teknik yang sesuai untuk pengobatan
# Komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan
2. Reduction; reduksi fraktur apabila perlu
Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi yang dapat
diterima. Pada fraktur intraartikuler diperlukan reduksi anatomis dan sedapat
mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti
kekakuan, deformitas, serta perubahan osteoartritis di kemudian hari.
Posisi yang baik adalah :
-alignment yang sempurna
-aposisi yang sempurna
3. Retention; imobilisasi fraktur
4. Rehabilitation; mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin

7
Pilihan Terapi
Ada 2 terapi, pilihan berdasarkan banyak faktor seperti bentuk fraktur, usia penderita,
level aktivitas, dan pilihan dokter sendiri.
a. Terapi pada fraktur tertutup
Pilihannya adalah terapi konservatif atau operatif .
- Terapi konservatif
1. Proteksi saja
Untuk penanganan fraktur dengan dislokasi fragüen yang minimal atau dengan
dislokasi yang tidak akan menyebabkan cacat di kemudian hari.
2. Immobilisasi saja tanpa reposisi
Misalnya pemasangan gips pada fraktur inkomplit dan fraktur dengan
kedudukan yang baik.
3. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips

Ini dilakukan pada fraktur dengan dislokasi fragmen yang berarti. Fragüen
distal dikembalikan ke kedudukan semula terhadap fragüen proksimal dan
dipertahankan dalam kedudukan yang stabil dalam gips.
4. Traksi
Ini dilakukan pada fraktur yang akan terdislokasi kembali di dalam gips. Cara
ini dilakukan pada fraktur dengan otot yang kuat. Traksi dapat untuk reposisi
secara perlahan dan fiksasi hingga sembuh atau dipasang gips setelah tidak
sakit lagi. Pada anak-anak dipakai traksi kulit (traksi Hamilton Russel/traksi
Bryant). Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban < 5 kg, untuk anak-
anak waktu dan beban tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai traksi

8
definitif, bilamana tidak maka diteruskan dengan immobilisasi gips. Untuk
orang dewasa traksi definitif harus traksi skeletal berupa balanced traction.

- Terapi operatif
Terapi operatif dengan reposisi secara tertutup dengan bimbingan radiologis.
1. Reposisi tertutup – fiksasi externa
Setelah reposisi berdasarkan control radiologis intraoperatif maka dipasang
fiksasi externa. Untuk fiksasi fragmen patahan tulang, digunakan pin baja yang
ditusukkan pada fragmen tulang, kemudian pin baja tadi disatukan secara
kokoh dengan batangan logam di luar kulit.

2. reposisi tertutup dengan control radiologis diikuti fiksasi interna.


Fragmen direposisi secara non operatif dengan meja traksi. Setelah tereposisi
dilakukan pemasangan pen secara operatif.

9
Terapi operatif dengan membuka frakturnya
1. Reposisi terbuka dan fikasasi interna /ORIF (Open Reduction and Internal
Fixation)
fiksasi interna yang dipakai bisa berupa pen di dalam sumsum tulang panjang,
bisa juga berupa plat dengan skrup di permukaan tulang. Keuntungan ORIF
adalah bisa dicapai reposisi sempurna dan bila dipasang fiksasi interna yang
kokoh, sesudah operasi tidak perlu lagi dipasang gips dan segera bisa dilakukan
immobilisasi. Kerugiannya adalah reposisi secara operatif ini mengundang
resiko infeksi tulang.

Indikasi ORIF:
a) fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avasculair necrosis tinggi.
b) Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup
c) Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan.
d) Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik
dengan operasi, misalnya fraktur femur.
2. Excisional arthroplasty
Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi.
3. Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis
dilakukan pada fraktur kolum femur.

10
b. Terapi pada fraktur terbuka
Fraktur terbuka adalah suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan
segera. Tindakan harus sudah dimulai dari fase pra rumah sakit:
- pembidaian
- menghentikan perdarahan dengan perban tekan
- menghentikan perdarahan dengan perban klem.

Tiba di UGD rumah sakit harus segera diperiksa menyeluruh oleh karena 40%
dari fraktur terbuka merupakan polytrauma. Tindakan life-saving harus selalu di
dahulukan dalam kerangka kerja terpadu.
Tindakan terhadap fraktur terbuka:
1. Nilai derajat luka, kemudian tutup luka dengan kassa steril serta pembidaian
anggota gerak, kemudian anggota gerak ditinggikan.
2. Kirim ke radiologi untuk menilai jenis dan kedudukan fraktur serta tindakan
reposisi terbuka, usahakan agar dapat dikerjakan dalam waktu kurang dari 6 jam
(golden period 4 jam)
3. penderita diberi toksoid, ATS atau tetanus human globulin.
Tindakan reposisi terbuka:
1. Pemasangan torniquet di kamar operasi dalam pembiusan yang baik.
2. Ambil swab untuk pemeriksaan mikroorganisme dan kultur/ sensitifity test.
3. Dalam keadaan narkose, seluruh ekstremitas dicuci selama 5-10 menit dan dicukur.

11
4. Luka diirigasi dengan cairan Naci steril atau air matang 5-10 liter. Luka derajat 3
harus disemprot hingga bebas dari kontaminasi.
5. Tutup luka dengan doek steril
6. Ahli bedah cuci tangan dan seterusnya
7. Desinfeksi anggota gerak
8. Drapping
9. Debridement luka (semua kotoran dan jaringan nekrosis kecuali neirovascular vital
termasuk fragmen tulang lepas dan kecil) dan diikuti reposisi terbuka, kalau perlu
perpanjang luka dan membuat incisi baru untuk reposisi tebuka dengan baik.
10. Fiksasi:
a. fiksasi interna untuk fraktur yang sudah dipertahankan reposisinya (unstable
fracture) minimal dengan Kischner wire
b. Intra medular nailing atau plate screw sesuai dengan indikasinya seperti pada
operasi elektif, terutama yang dapat dilakukan dalam masa golden period untuk
fraktur terbuka grade 1-2
c. Tes stabilitas pada tiap tindakan. Apabila fiksasi interna tidak memadai (karena
sifatnya hanya adaptasi) buat fiksasi luar (dengan gips spalk atau sirkular)
d. Setiap luka yang tidak bisa dijahit, karena akan menimbulkan ketegangan,
biarkan terbuka dan luka ditutup dengan dressing biasa atau dibuat sayatan
kontra lateral.
Untuk grade 3 kalau perlu:
Pasang fikasasi externa dengan fixator externa (pin/screw dengan K nail/wire
dan acrylic cement). Usahakan agar alignment dan panjang anggota gerak
sebaik-baiknya. Apabila hanya dipasang gips, pasanglah gips sirkuler dan
kemudian gips dibelah langsung (split) setelah selesai operasi.
e. Buat x-ray setelah tindakan

2.7. Prognosis
Prognosis dari fraktur tibia fibula untuk kehidupan adalah bonam. Pada sisi fungsi
dari kaki yang cedera, kebanyakan pasien kembali ke performa semula, namun hal ini

12
sangat tergantung dari gambaran frakturnya, macam terapi yang dipilih, dan bagaimana
respon tubuh terhadap pengobatan.
Komplikasi infeksi yang menyebabkan osteomielitis biasanya merupakan akibat
dari fraktur terbuka meskipun tidak jarang terjadi setelah reposisi terbuka.

2.8. Komplikasi Fraktur Cruris


1. Komplikasi Dini
- Syok: dapat terjadi perdarahan sebanyak 1-2 liter walaupun fraktur bersifat
tertutup.
- Emboli lemak.
- Trauma Pembuluh darah.
- Trauma Saraf.
- Trombo-emboli.
- Infeksi.
2. Komplikasi Lanjut
- Delayed union: fraktur femur pada orang dewasa mengalami union dalam 4 bulan.
- Nonunion: apabila permukaan fraktur menjadi bulat dan sklerotik dicurigai adanya
nonunion dan diperlukan fiksasi interna dan bone graft.
- Malunion: bila terjadi pergeseran kembali kedua ujung fragmen, maka diperlukan
pengamatan terus menerus selama perawatan. Angulasi sering ditemukan.
Malunion juga menyebabkan pemendekan pada tungkai sehingga dieprlukn koreksi
berupa osteotomi.
- Refraktur: terjadi apabila imobilisasi dilakukan sebelum terjadi union yang solid

13
STATUS PASIEN BST

I. IDENTITAS
Nama : Ny. M binti S
Tempat Tanggal Lahir : Palembang, 2 Maret 1984
Usia : 33 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Suku Bangsa : Melayu
Status Perkawinan : Menikah
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : Sekolah Menengah Atas
Alamat :Jalan Gang Utama No.6 RT.64 RW.02
Kelurahan Plaju Ilir
No.Telp/Hp : 082278191901
Tanggal MRS : 21 Mei 2017
No. Rm : 53.62.04

II. ANAMNESIS
Diambil dari : Autoanamnesis dan Alloanamnesis keluarga pasien pada
tanggal 27 Mei 2017, pukul 16.30 WIB.

A. Keluhan Utama
Nyeri tungkai bawah kiri sejak 15 menit sebelum masuk rumah sakit.

B. Keluhan Tambahan
Tak ada keluhan tambahan.

C. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke IGD RSMP pukul 12.30 WIB diantar oleh warga
yang berada di tempat kejadian kecelakaan dengan menggunakan becak
dalam keadaan sadar setelah kecelakaan lalu lintas ± 15 menit SMRS.
Pasien menggunakan helm membonceng ibu dan keponakannya. Pasien
mengeluhkan tungkai kiri bawahnya nyeri dan tidak dapat digerakkan.
Pasien mengaku sadar saat kejadian kecelakaan. Pasien mengaku
saat menaiki sepeda motor dari arah sebelah kirinya terdapat sepeda
motor dengan kecepatan tinggi yang menabrak dirinya. Pasien langsung
terjatuh dari sepeda dengan tungkai kanan membentur aspal, kemudian
pasien jatuh terguling. Pasien tidak merasakan nyeri maupun mendengar
bunyi “krek” pada saat terjatuh. Saat itu pasien tidak pingsan dan tetap
sadarkan diri. Menurut pasien kepalanya tidak terbentur. Pasien tidak
dapat langsung berdiri lagi setelah kejadian dikarenakan kaki kirinya
sangat nyeri. Pasien kemudian langsung dibawa ke IGD RSMP.
Pasien tidak merasakan pusing, tidak ada rasa sakit pada leher, tidak
ada rasa kesemutan pada tungkai, penglihatan yang jelas, tidak sesak,
tidak merasakan mual, dan tidak muntah, selain itu juga tidak ada cairan
maupun darah yang keluar dari telinga dan hidung pasien sesaat setelah
terjadi kecelakaan. Setelah pasien di bidai dan stabil di instalasi gawat
darurat pasien di bawa ke bangsal bedah untuk dirawat dan direncanakan
operasi.

D. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat trauma dan operasi sebelumnya tidak ditemukan. Pasien
belum pernah mengalami hal yang sama sebelumnya. Pasien tidak pernah
menderita darah tinggi, penyakit jantung, kencing manis , serta alergi dan
asma.

E. Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang memiliki riwayat patah tulang
dengan atau tanpa trauma. Riwayat darah tinggi, penyakit jantung,
kencing manis, serta alergi dan asma dalam keluarga disangkal.

F. Riwayat Pengobatan
Pasien belum mendapatkan pengobatan intensif sebelumnya dan
sedang tidak menjalani pengobatan apapun. Riwayat alergi obat-obatan
juga disangkal oleh pasien.
15
G. Latar Belakang Sosial dan Pekerjaan
Pasien mengaku sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Primary Survey
A : Airway clear paten, bicara (+), gargling (-), snoring (-).
B : RR : 22 x / menit, nafas adekuat.
C : TD : 110 / 80 mmHg, N : 88 x / menit.
D : GCS E4 M6 V5 : 15, Pupil isokor diameter 3 mm, RC (+/+).
E : Pada status lokalis.

Secondary Survey
“Status Lokalis Regio Cruris Sinistra”
Look :
 Ekskoriasi (+) dengan ukuran 7 cm x 2 cm
 Deformitas (+) : angulasi (-), pemendekan tungkai kiri (+)
 Oedem (+)
 Jejas (+)
 Tak tampak sianosis pada bagian distal lesi
 Cara berjalan pasien tidak dapat dinilai
 Raut muka pasien tampak kesakitan
Feel :
 Nyeri tekan setempat (+)
 Sensibilitas (+)
 Suhu rabaan normal
 Krepitasi tidak dilakukan
 Capillary Refill Test < 2 detik (normal)
 Arteri dorsalis pedis teraba (normal)
 Pengukuran Panjang Tungkai
Tungkai Kanan Tungkai Kiri
Panjang 84 cm 81 cm

16
Move
 Gerakan aktif dan pasif terhambat. Gerakan abduksi tungkai kiri
terhambat, gerakan adduksi tungkai kiri terhambat, sakit bila
digerakkan, ROM terbatas baik aktif maupun pasif, keterbatasan
pergerakan sendi-sendi distal. Gerakan abnormal tidak dapat
dinilai karena adanya rasa nyeri saat digerakkan.

STATUS GENERALIS
A. Keadaan Umum : Tampak sakit sedang, pasien merasa kesakitan

B. Vas : 5
C. Tinggi Badan : 166 cm
D. Berat Badan : 63 kg
E. IMT : 22,86 kg/m2 (normal)
F. Kesan Gizi : Baik
G. Kesadaran : Composmentis
H. Cara Berjalan : Belum dapat dinilai
I. Vital sign : TD : 110 / 80 mmHg R : 22 x / menit
N : 88 x / menit S : 37,1 ºC
J. Bahasa / Bicara : Komunikasi dan kontak saat berbicara (+)
K. Status Psikis : Sikap : Kooperatif
Perhatian : Wajar
Ekspresi wajah : Wajar
Kontak Psikis : Ada

17
L. Status Generalis
 Kulit
Warna kulit sawo matang, tidak ikterik, tidak sianosis, turgor kulit
baik.
 Kepala
Simetris, mesocephali, rambut hitam distribusi merata tidak
mudah dicabut, tidak terdapat jejas maupun hematoma.
 Mata
Bentuk normal, simetris, konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-
/-), pupil bulat isokor, refleks cahaya langsung (+/+), reflex
cahaya tidak langsung (+/+), terdapat vulnus laseratum pada
superior orbita sinistra ± 2 cm.
 Hidung
Bentuk normal, tidak ada deformitas, septum deviasi (-), konka
hipertrofi (-/-), konka hiperemis (-/-), discharge (-/-).
 Telinga
Simetris, normotia, liang telinga lapang, tidak hiperemis, sekret (-
/-), discharge (-/-), serumen (+/+), membrane timpani utuh intak,
benda asing (-/-).
 Mulut
Bibir sianosis (-), luka (-), hematom (-), mukosa baik, coated
tongue (-), trismus (-), gigi geligi utuh, caries dentis (+), oral
hygiene sedang, tonsil (T1-T1 tenang), faring hiperemis (-).
 Leher
Inspeksi : Jejas (-), oedem (-), hematom (-)
Palpasi : Deviasi trakea (-), KGB dan kelenjar tiroid tidak
membesar, tidak ada massa, nyeri tekan (-), JVP 5+2
cmH2O.
 Thorax
Inspeksi : bentuk simetris saat statis maupun dinamis,
jejas (-), retraksi sela iga (-), gerak nafas yang
tertinggal (-), spider nervi (-), tidak ada
ginekomastia.

18
Palpasi : nyeri tekan costae (-), krepitasi pada bagian
anterior costae (-), vocal fremitus simetris.
Perkusi : Paru-paru  Sonor di seluruh lapang paru,
batas paru hepar di ICS V midclavicula
dextra perajakan (+) 2cm.
Jantung  Batas atas ICS III linea
parastrenal sinistra, batas kanan ICS IV linea
parasternal dextra, batas kiri ICS VI 1 cm
medial linea midclavicula sinistra.
Auskultasi : Paru-paru  Suara napas vesikuler (+/+),
ronkhi (-/-), wheezing (-/-).
Jantung  BJ I-II murni reguler, murmur (-),
gallop (-).
 Abdomen
Inspeksi : Datar, sagging of the flanks (-), smiling umbilicus (-),
dilatasi vena (-), jejas (-),spider nervi (-).
Palpasi : Soepel, nyeri tekan epigastrium (+), nyeri tekan lepas
(-), defans mucular (-), massa (-), hepar/lien tak
teraba, ballottement (-), nyeri ketok CVA (-).
Perkusi : Timpani, shifting dullness (-), undulasi (-).
Auskultasi : Bising usus (+) normal.
Refleks dinding perut baik.
 Ekstremitas

Anggota gerak Kanan Kiri


lengan

Otot massa Eutrofi Eutrofi


Tonus Normotonus Normotonus
Sendi Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
Gerakan Aktif Aktif
Kekuatan 5 5
Oedem Tidak ada Tidak ada

19
Tungkai (kaki) Kanan Kiri

Otot massa Eutrofi Eutrofi


Tonus Normotonus Normotonus
Sendi Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
Gerakan Aktif Terbatas
Kekuatan 5 2
Oedem Tidak ada Ada

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Laboratorium

 Darah rutin :
 Hemoglobin : 13,2 g/dl (N : 12-16 g/dl)
 Leukosit : 15.100/mm3 (N : 5.000-10.000/ mm3)
 Trombosit : 411.000/mm3 (N : 150.000-400.000/mm3)
 Hematokrit : 37% (N : 40 – 48%)
 Waktu perdarahan : 2 menit (1-6 menit)
 Waktu pembekuan : 7 menit (10-15 menit)
 Golongah darah : AB
 Rhesus : (+)

 Imunoserologi :
 HbsAg : (-)

Radiologi
 Rontgen Tibia Fibula sinistra Anterior Posterior (AP) : tampak garis fraktur
comminuted 1/3 tengah os. tibia dextra dan tampak garis fraktur oblique 1/3
distal os fibula dextra.
 Rontgen Tibia Fibula sinistra Lateral : tampak garis fraktur comminuted 1/3
tengah os. tibia dextra dan tampak garis fraktur oblique 1/3 distal os fibula
dextra., allignment baik, terlihat adanya gambaran fragmen tulang.

20
V. DIAGNOSA KERJA
Open Fracture Cominutif Tibia Sinistra 1/3 Medial
Close Fracture Oblique Fibula Sinistra 1/3 Distal

VI. PENATALAKSANAAN
1. Non - Operatif
Medikamentosa
 Tatalaksana terapi cairan
 Antibiotik
 Analgetik
Non – Medikamentosa
Promotif
 Pemberian edukasi terkait berkendaraan yang aman serta
selalu memproteksi diri saat berkendaraan dan mematuhi
aturan lalu lintas
 Memberikan edukasi kepada pasien agar selalu waspada dan
melihat kondisi kesehatan saat ingin berkendaraan dan dalam
keadaan fisik dan mental yang sehat.

21
Preventif
 Untuk mencegah terjadi kedepannya agar tidak terulang
dilakukan pengawasan dan mengingatkan kembali oleh
keluarga atau dari diri sendiri untuk selalu berkendaraan yang
aman serta memproteksi perlindungan diri yang lengkap dan
taat aturan lalu lintas.
 Untuk mencegah atau meminimalisir kecacatan atau
disabilitas pasien dilakukan edukasi agar bersedia dilakukan
operasi pada tulangnya.
Kuratif
 Pemasangan bidai pada tungkai bawah yang mengalami
fraktur (terapi initial awal).
 Edukasi kepada pasien untuk immobilisasi tungkai kiri bawah
dan akan dilakukan perencanaan operasi oleh dokter spesialis
bedah tulang.
Rehabilitatif
 Setelah operasi pasien di anjurkan untuk rajin kontrol dan
mengikuti instruksi dokter terkait latihan-latihan terkait tulang
yang sedang masa penyembuhan.
 Edukasi kepada pasien bahwa bila didapatkan keluhan yang
berat atau terdapat masalah pada luka disarankan untuk segera
ke rumah sakit agar meminimalir komplikasi dan dapat
ditangani secara tepat.
 Lakukan konseling agar keluarga dan pasien agar tetap
mendukung dan memberikan semangat setelah pasien
mengalami kecelakaan agar mendapatkan semangat dan
dukungan moril untuk beraktivitas.

2. Operatif
 OREF Tibia.

VII. PROGNOSIS
Ad Vitam : Dubia ad bonam.
Ad Fungsionam : Dubia ad bonam.
22
VIII. Komplikasi
 Syok Hipovolemik
 Sepsis
 Osteomyelitis
 Malunion
 Delayed union
 Non union

IX. KDU
Sebagai dokter umum fraktur tertutup maupun terbuka memiliki tingkat
kompetensi 3b.
Tingkat Kemampuan 3b: mendiagnosis, melakukan penatalaksana
awal , dan merujuk
Dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi
pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa
atau mencegah keparahan dan / atau kecacatan pada pasien. Dokter
mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien
selanjutnya. Dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari
rujukan.

23