Anda di halaman 1dari 41

Sumber Air

Air merupakan suatu sarana utama untuk meningkatkan derajat kesehatan


masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam penularan
penyakit, terutama penyakit perut.

Tabel 1 Unsur Fungsional dalam Sistem Penyediaan Air Bersih

Prinsip Perencanaan
Unsur Fungsional Keterangan
(Primer/Sekunder)
Sumber Air Kuantitas/Kualitas Sumber air permukaan dari
sungai, danau, mata air (air
tanah).
Prasedimentasi Kuantitas/Kualitas Fasilitas penyimpanan air
permukaan ditempatkan dekat
sumber.
Transmisi Kuantitas/Kualitas Fasilitas penyaluran air dari
penyimpanan dan pengolahan.
Pengolahan Kuantitas/Kualitas Fasilitas untuk merubah
kualitas air baku.
Transmisi dan Kuantitas/Kualitas Fasilitas penyaluran air
Penampungan pengolahan ke reservoir
distribusi.
Distribusi Kuantitas/Kualitas Fasilitas pendistribusian air ke
sambungan konsumen.
(Sumber:Tri Joko,Unit Air Baku dalam Sistem Penyediaan Air Minum

1
Sumber air adalah wadah air yang terdapat diatas dan dibawah permukaan
tanah, termasuk dalam pengertian ini adalah mata air, sungai, rawa, danau, waduk, dan
muara. Berikut ini adalah sumber-sumber air :

1. Air Laut

Air laut adalah air dari laut atau samudera. Air laut mempunyai sifat asin,
karena mengandung garam NaCl. Kadar garam NaCl dalam air laut 3%, gas-gas
terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Dengan keadaan
ini, maka air laut tidak memenuhi sarat untuk air minum.

2. Air Permukaan

Air permukaan adalah air hujan yang mengalir di permukaan bumi. Pada
umumnya air permukaan ini akan mendapat pengotoran selama
pengalirannya, misalnya oleh lumpur, batang-batang kayu, daun-daun, kotoran
industri kota dan sebagainya. Beberapa pengotoran untuk masing-masing air
permukaan akan berbeda-beda, tergantung pada daerah pengaliran air
permukaan ini. Jenis pengotorannya adalah merupakan kotoran fisik, kimia dan
bakteri. Setelah mengalami suatu pengotoran, pada suatu saat air permukaan itu akan
mengalami suatu proses pembersihan sendiri. Udara yang mengandung
oksigen atau gas O2 akan membantu mengalami proses pembusukan yang
terjadi pada air permukaan yang telah mengalami pengotoran, karena selama
dalam perjalanan O2 akan meresap ke dalam air permukaan.

2
Air permukaan ada dua macam yaitu :

1. Air sungai
Dalam penggunaannya sebagai air minum, haruslah mengalami suatu
pengolahan yang sempurna, mengingat bahwa air sungai ini pada umumnya
mempunyai derajat pengotoran yang tinggi sekali. Debit yang tersedia untuk
memenuhi kebutuhan air minum pada umumnya dapat mencukupi.

2. Air rawa/danau
Kebanyakan air rawa ini berwarna hitam atau kuning kecoklat, hal ini
disebabkan oleh adanya zat-zat organis yang telah membusuk, misalnya asam
humus yang terlarut dalam air yang menyebabkan warna kuning coklat.

Dengan adanya pembusukan kadar zat organis tinggi, maka umumnya


kadar Fe dan Mn akan tinggi pula dan dalam keadaan kelarutan O2 kurang sekali
(anaerob), maka unsur-unsur Fe dan Mn ini terlarut. Pada permukaan air akan
tumbuh algae (lumut) karena adanya sinar matahari dan O2.

2 Air tanah
Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan di
bawah permukaan tanah pada lajur/zona jenuh air. Air tanah merupakan salah
satu sumber daya air yang keberadaannya terbatas dan kerusakannya dapat
mengakibatkan dampak yang luas serta pemulihannya sulit dilakukan.

Air tanah berasal dari air hujan dan air permukaan, yang meresap mula-
mula ke zona tak jenuh dan kemudian meresap makin dalam hingga mencapai zona
jenuh air dan menjadi air tanah. Air tanah berinteraksi dangan air permukaan
serta komponen-komponen lain seperti jenis batuan penutup, penggunaan lahan, serta
manusia yang di permukaan.

3
4. Air tanah dangkal
Terjadi karena adanya proses peresapan air dari permukaan tanah.
Lumpur akan tertahan, sedemikian pula dengan sebagian bakteri, sehingga air
akan jernih tetapi lebih banyak mengandung zat kimia (garam-garam yang
terlarut) karena melalui lapisan tanah yang mempunyai unsur-unsur kimia
tertentu untuk masing-masing lapisan tanah. Lapisan tanah ini berfungsi
sebagai saringan. Di samping penyaringan, pengotoran masih terus
berlangsung, terutama pada muka air yang dekat dengan muka tanah, setelah
menemui lapisan rapat air, air akan terkumpul menjadi air tanah dangkal
dimana air tanah ini dimanfaatkan untuk sumber air minum melalui sumur-sumur
dangkal.

5. Air tanah dalam


Terdapat sebuah lapisan rapat air yang pertama. Pengambilan air tanah
dalam tak semudah pada air tanah dangkal. Dalam hal ini harus digunakan bor dan
memasukkan pipa kedalamannya sehingga dalam suatu kedalaman akan didapat
satu lapis air. Jika tekanan air tanah ini besar, maka air dapat menyembur ke luar
dan dalam keadaan ini, sumur ini disebut dengan sumur artetis atau sumur bor. Jika
air tidak dapat keluar dengan sendirinya, maka digunakan pompa untuk
membantu pengeluaran air.

6. Mata air
Adalah air tanah yang keluar dengan sendirinya ke permukaan tanah.
Mata air yang berasal dari tanah dalam, hampir tidak terpengaruh oleh musim
dan kualitasnya sama dengan keadaan air tanah.

4
Persyaratan Umum Penyediaan Air Bersih

Dalam merencanakan penyediaan air bersih harus memenuhi konsep 3K yaitu


Kualitas, Kuantitas dan Kontinuitas. Kualitas menyangkut mutu air, baik air baku maupun
air hasil pengolahan yang siap didistribusikan. Kuantitas menyangkut jumlah atau
ketersediaan air baku yang akan diolah. Perlu pertimbangan apakah sumber air baku
tersebut dapat memenuhi kebutuhan air baku selama umur rencana. Kontinuitas
menyangkut kebutuhan air yang terus menerus. Artinya sumber air baku tersebut apakah
dapat memasok kebutuhan air secara terus menerus terutama ketika musim kemarau.
Dalam penggunaan yang sangat luas dalam segala segi kehidupan dan aktivitas
manusia, maka suatu penyediaan air untuk suatu komunitas harus memenuhi syarat:
 Aman dari segi higienisnya.

 Baik dan dapat diminum.

 Tersedia dalam jumlah yang cukup.

 Cukup murah/ ekonomis (terjangkau).

Persyaratan Kualitatif

Untuk menjamin bahwa suatu sistem penyediaan air minum aman, higienis dan baik
serta dapat diminum tanpa kemungkinan dapat menginfeksi penyakit pada pemakai air
maka haruslah terpenuhi suatu persyaratan kualitasnya. Persyaratan kualitatif
menggambarkan mutu/kualitas dari air bersih. Syarat- syarat yang digunakan sebagai
standar kualitas air antara lain:
1. Persyaratan Fisik Air

Air bersih/minum secara fisik harus jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan
tidak berasa. Syarat lain yang harus dipenuhi adalah suhu.
Bau

Bau disebabkan oleh adanya senyawa lain yang terkandung dalam air seperti gas H2S, NH3,
senyawa fenol, klorofenol dan lain-lain. Pengukuran biologis senyawa

5
organik dapat menghasilkan bau pada zat cair dan gas. Bau yang disebabkan oleh senyawa
organik ini selain mengganggu dari segi estetika, juga beberapa senyawanya dapat bersifat
karsinogenik. Pengukuran secara kuantitatif bau sulit diukur karena hasilnya terlalu
subjektif.
Kekeruhan
Kekeruhan disebabkan adanya kandungan Total Suspended Solid baik yang bersifat
organik maupun anorganik. Zat organik berasal dari lapukan tanaman dan hewan,
sedangkan zat anorganik biasanya berasal dari lapukan batuan dan logam. Zat organik
dapat menjadi makanan bakteri sehingga mendukung perkembangannya. Kekeruhan dalam
air minum/ air bersih tidak boleh lebih dari 5 NTU. Penurunan kekeruhan ini sangat
diperlukan karena selain ditinjau dari segi estetika yang kurang baik juga proses desinfeksi
untuk air keruh sangat sukar, hal ini disebabkan karena penyerapan beberapa koloid dapat
melindungi organisme dari desinfektan.
Rasa
Syarat air bersih/ minum adalah air tersebut tidak boleh berasa. Air yang berasa
dapat menunjukkan kehadiran berbagai zat yang dapat membahayakan kesehatan. Efeknya
tergantung penyebab timbulnya rasa tersebut. Sebagai contoh rasa asam dapat disebabkan
oleh asam organik maupun anorganik, sedangkan rasa asin dapat disebabkan oleh garam
terlarut dalam air.
Suhu
Suhu air sebaiknya sama dengan suhu udara (25 °C), dengan batas toleransi yang
diperbolehkan yaitu 25 °C ± 3 °C. Suhu yang normal mencegah terjadinya pelarutan zat
kimia pada pipa, menghambat reaksi biokimia pada pipa dan mikroorganisme tidak dapat
tumbut. Jika suhu air tinggi maka jumlah oksigen terlarut dalam air akan berkurang, juga
akan meningkatkan reaksi dalam air.

6
Warna
Air minum sebaiknya tidak berwarna, bening dan jernih untuk alasan estetika dan
untuk mencegah keracunan dari berbagai zat kimia maupun organisme yang berwarna.
Pada dasarnya warna dalam air dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu warna semu
(apparent colour) yang disebabkan oleh unsur tersuspensi dan warna sejati (true colour)
yang disebabkan oleh zat organik dan zat koloidal. Air yang telah mengandung senyawa
organik seperti daun, potongan kayu, rumput akan memperlihatkan warna kuning
kecoklatan, oksida besi akan menyebabkan air berwarna kecoklatan atau kehitaman.

2. Persyaratan Kimia

Air bersih/ minum tidak boleh mengandung bahan-bahan kimia dalam jumlah tertentu
yang melampaui batas. Bahan kimia yang dimaksud tersebut adalah bahan kimia yang
memiliki pengaruh langsung pada kesehatan. Beberapa persyaratan kimia tersebut antara
lain:
 pH
pH merupakan faktor penting bagi air minum, pada pH < 6,5 dan > 8,5 akan
mempercepat terjadinya korosi pada pipa distribusi air bersih/ minum.
 Zat pada total (Total Solid)
Total solid merupakan bahan yang tertinggal sebagai residu pada penguapan dan
pengeringan pada suhu 103-105 °C.
 Zat organik sebagai KMnO4
Zat organik dalam air berasal dari alam (tumbuh-tumbuhan, alkohol, sellulosa, gula
dan pati), sistesa (proses-proses produksi) dan fermentasi. Zat organik yang
berlebihan dalam air akan mengakibatkan timbulnya bau tidak sedap.

7
 CO2 agresif

CO2 yang terdapat dalam air berasal dari udara dan hasil dekomposisi zat
organik. CO2 agresif yaitu CO2 yang dapat merusak bangunan, perpipaan
dalam distribusi air bersih.
 Kesadahan total (Total Hardness)
Kesadahan adalah sifat air yang disebabkan oleh adanya ion-ion (kation)
logam valensi, misalnya Mg2+, Ca2+, Fe+, dan Mn+. Kesadahan total adalah
kesadahan yang disebabkan oleh adanya ion-ion Ca2+ dan Mg2+ secara
bersama-sama. Air sadah menyebabkan pemborosan pemakaian sabun
pencuci dan mempunyai titik didih yang lebih tinggi dibandingkan dengan air
biasa.
 Besi
Keberadaan besi dalam air bersifat terlarut, menyebabkan air menjadi merah
kekuning-kuningan, menimbulkan bau amis, dan membentuk lapisan seperti
minyak. Besi merupakan logam yang menghambat proses desinfeksi. Hal ini
disebabkan karena daya pengikat klor (DPC) selain digunakan untuk mengikat
zat organik, juga digunakan untuk mengikat besi, akibatnya sisa klor menjadi
lebih sedikit dan hal ini memerlukan desinfektan yang lebih banyak pada
proses pengolahan air. Dalam air minum kadar maksimum besi yaitu 0,3 mg/l,
sedangkan untuk nilai ambang rasa pada kadar 2 mg/l. Besi dalam tubuh
dibutuhkan untuk pembentukan hemoglobin namun dalam dosis yang
berlebihan dapat merusak dinding halus.
 Mangan
Mangan dalam air bersifat terlarut, biasanya membentuk MnO2. Kadar
mangan dalam air maksimum yang diperbolehkan adalah 0.1 mg/l. Adanya
mangan yang berlebihan dapat menyebabkan flek pada benda-benda putih
oleh deposit MnO2, menimbulkan rasa dan menyebabkan warna (ungu/ hitam)
pada air minum, serta bersifat toksik.

8
 Tembaga (Cu)
Pada kadar yang lebih besar dari 1 mg/l akan menyebabkan rasa tidak enak
pada lidah dan dapat menyebabkan gejala ginjal, muntaber, pusing, lemah dan
dapat menimbulkan kerusakan pada hati. Dalam dosis rendah menimbulkan
rasa kesat, warna dan korosi pada pipa.
 Seng (Zn)
Tubuh memerlukan seng untuk proses metabolisme, tetapi pada dosis tinggi
dapat bersifat racun. Pada air minum kelebihan kadar Zn > 3 mg/l dalam air
minum menyebabkan rasa kesat/ pahit dan bila dimasak timbul endapat
seperti pasir dan menyebabkan muntaber.
 Klorida
Klorida mempunyai tingkat toksisitas yang tergantung pada gugus
senyawanya. Klor biasanya digunakan sebagai desinfektan dalam penyediaan
air minum. Kadar klor yang melebihi 250 mg/l akan menyebabkan rasa asin
dan korosif pada logam.

 Nitrit
Kelemahan nitrit dapat menyebabkan methamoglobinemia terutama pada bayi
yang mendapat konsumsi air minum yang mengandung nitrit.
 Flourida (F)
Kadar F < 2 mg/l menyebabkan kerusakan pada gigi, sebaliknya bila terlalu
banyak juga akan menyebabkan gigi berwarna kecoklatan.
 Logam-logam berat (Pb, As, Se, Cd, Hg, CN)
Adanya logam-logam berat dalam air akan menyebabkan gangguan pada
jaringan syaraf, pencernaan, metabolisme oksigen, dan kanker.

9
3. Persyaratan mikrobiologis

Persyaratan mikrobiologis yangn harus dipenuhi oleh air adalah sebagai


berikut:
 Tidak mengandung bakteri patogen, misalnya: bakteri golongan coli; Salmonella
typhi, Vibrio cholera dan lain-lain. Kuman-kuman ini mudah tersebar melalui air.
 Tidak mengandung bakteri non patogen seperti: Actinomycetes, Phytoplankton
colifprm, Cladocera dan lain-lain.

4. Persyaratan radioaktifitas

Persyaratan radioaktifitas mensyaratkan bahwa air bersih tidak boleh


mengandung zat yang menghasilkan bahan-bahan yang mengandung radioaktif,
seperti sinar alfa, beta dan gamma.
Air baku yang digunakan untuk menghasilkan air bersih harus memenuhi
aturan yang tertuang dalam Peratutan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82
Tahun 2001 tentang Pengelolaan Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Pada pasal 8
PP mengenai klasifikasi dan criteria mutu air ditetapkan menjadi 4 (empat) kelas :
1. Kelas Satu, yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku
air minum.
2. Kelas Dua, yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana
rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi
peternakan.
3. Kelas Tiga, yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk ikan air
tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman.
4. Kelas Empat, yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk
mengairi pertanaman.

(Sumber:Tri Joko,Unit Air Baku dalam Sistem Penyediaan Air Minum)

10
Air minum
Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang
memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Semua air yang bersifat alami maupun
yang telah mengalami proses tertentu misalnya desalinasi pada air laut yang memenuhi standar
air minum yang telah ditetapkan ada beberapa jenis air minum dan standar air minum yang dapat
dijadikan acuan dalam menetapkan mutu air minum. Jenis air minum dan standar air minum
dalam kemasan antara lain:

1. Air Mineral Alami (Natural Mineral Water)


Produk impor (produk luar negri yang masuk ke Indonesia) menggunakan aturan Codex
Alimentarius Commision (CAC) tahun 1996, yaitu air mineral alami. Definisi air mineral alami
adalah air yang dapat jelas dibedakan dari air minum biasa karena kandungan garam-garam
mineralnya (trace elements) lebih tinggi, karena diperoleh langsung dari alam. Contoh air
mineral yang ada di pasar adalah air mineral dengan merek Equil dan Evien. Harga jual produk
air mineral alami tergolong mahal. Air mineral alami berpengaruh baik terhadap kesehatan,
seperti mengurangi iritasi ginjal, fungsi normal empedu, dan mencegah katarak. Kandungan
mineral dan mutu mikrobiologik air mineral dalam kemasan hendaknya memenuhi standar pada
Tabel 1.
2. Air Minum Dalam Kemasan
Dalam SNI 01-3553-1996 (Dewan Standar Nasional-DSN), AMDK di definisikan
sebagai air yang telah diperoses, dikemas dan aman diminum. Contoh AMDK yang ada
dipasaran adalah Aqua, Prima, 2 tang, Ades dan masih banyak yang merek-merek yang lainnya.
Harga jual AMDK berbeda-beda. Kandungan mineral dan mutu mikrobiologik air mineral dalam
kemasan hendaknya memenuhi standar.

11
3. Air Minum Isi Ulang
Harga air minum isi ulang per galon sekitar Rp.3000,- - Rp.4000,-. Kemungkinan terjadi
pencemaran dapat terjadi secara umum bila ada gangguan dalam daur materi, yaitu dalam laju
produksi suatu zat melebihi laju pembuangan atau penggunaan zat cemaran. Contohnya adalah
limbah rumah tangga, industri dan angkutan. Masalah pencemaran yang sering dihadapi dalam
pengelolaan air minum isi ulang adalah sumber air (bahan baku), proses pengolahan air, wadah
galon, dan pengisian (filling).

C. Persyaratan Kualitas Air Minum


Pemanfaatan air dalam kehidupan harus memenuhi persyaratan baik kualitasdan kuantitas
yang erat hubungannya dengan kesehatan. Air yang memenuhi persyaratan kuantitas apabila air
tersebut mencukupi semua kebutuhan keluarga baik sebagai air minum maupun untuk keperluan
rumah tangga lainnya. Sedangkan air yang memenuhi persyaratan air minum isi ulang ditetapkan
oleh Departemen Kesehatan RI No.492/Menkes/Per/IV/2010 dapat dilihat pada Tabel 2.

12
BOD dan COD
BOD atau Biochemical Oxygen Demand adalah suatu karakteristik yang menunjukkan
jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme (biasanya bakteri) untuk mengurai
atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik. Bahan organik yang terdekomposisi
dalam BOD adalah bahan organik yang siap terdekomposisi (readily decomposable organic
matter). COD atau Chemical Oxygen Demand adalah jumlah oksigen yang diperlukan untuk
mengurai seluruh bahan organik yang terkandung dalam air. Hal ini karena bahan organik yang
ada sengaja diurai secara kimia dengan menggunakan oksidator kuat kalium bikromat pada
kondisi asam dan panas dengan katalisator perak sulfat, sehingga segala macam bahan organik,
baik yang mudah urai maupun yang kompleks dan sulit urai, akan teroksidasi. Dengan demikian,
selisih nilai antara COD dan BOD memberikan gambaran besarnya bahan organik yang sulit urai
yang ada di perairan. Bisa saja nilai BOD sama dengan COD, tetapi BOD tidak bisa lebih besar
dari COD. Jadi COD menggambarkan jumlah total bahan organik yang ada.

Metode pengukuran BOD dan COD


Prinsip pengukuran BOD yaitu mengukur kandungan oksigen terlarut awal (DOi) dari
sampel segera setelah pengambilan contoh, kemudian mengukur kandungan oksigen terlarut
pada sampel yang telah diinkubasi selama 5 hari pada kondisi gelap dan suhu tetap (20oC) yang
sering disebut dengan DO5. Selisih DOi dan DO5 (DOi-DO5) merupakan nilai BOD yang
dinyatakan dalam miligram oksigen per liter (mg/L). Pengukuran oksigen dapat dilakukan secara
analitik dengan cara titrasi (metode Winkler, iodometri) atau dengan menggunakan alat yang
disebut DO meter yang dilengkapi dengan probekhusus. Jadi pada prinsipnya dalam kondisi
gelap, agar tidak terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan oksigen, dan dalam suhu yang
tetap selama lima hari, diharapkan hanya terjadi proses dekomposisi oleh mikroorganime,
sehingga yang terjadi hanyalah penggunaan oksigen, dan oksigen tersisa ditera sebagai DO5.
Yang penting diperhatikan dalam hal ini adalah mengupayakan agar masih ada oksigen tersisa
pada pengamatan hari kelima sehingga DO5tidak nol. Bila DO5 nol maka nilai BOD tidak dapat
ditentukan. Pada prakteknya, pengukuran BOD memerlukan kecermatan tertentu mengingat
kondisi sampel atau perairan yang sangat bervariasi, sehingga kemungkinan diperlukan
penetralan pH, pengenceran, aerasi, atau penambahan populasi bakteri. Pengenceran dan/atau
aerasi diperlukan agar masih cukup tersisa oksigen pada hari kelima. Karena melibatkan

13
mikroorganisme (bakteri) sebagai pengurai bahan organik, maka analisis BOD memang cukup
memerlukan waktu. Oksidasi biokimia adalah proses yang lambat. Dalam waktu 20 hari,
oksidasi bahan organik karbon mencapai 95 – 99 %, dan dalam waktu 5 hari sekitar 60 – 70 %
bahan organik telah terdekomposisi. Lima hari inkubasi adalah kesepakatan umum dalam
penentuan BOD. Bisa saja BOD ditentukan dengan menggunakan waktu inkubasi yang berbeda,
asalkan dengan menyebutkan lama waktu tersebut dalam nilai yang dilaporkan (misal BOD7,
BOD10) agar tidak salah dalam interpretasi atau memperbandingkan. Temperatur 20oC dalam
inkubasi juga merupakan temperatur standard. Temperatur 20oC adalah nilai rata-rata temperatur
sungai beraliran lambat di daerah beriklim sedang dimana teori BOD ini berasal. Untuk daerah
tropik seperti Indonesia, bisa jadi temperatur inkubasi ini tidaklah tepat. Temperatur perairan
tropik umumnya berkisar antara 25 – 30 oC, dengan temperatur inkubasi yang relatif lebih
rendah bisa jadi aktivitas bakteri pengurai juga lebih rendah dan tidak optimal sebagaimana yang
diharapkan. Ini adalah salah satu kelemahan lain BOD selain waktu penentuan yang lama
tersebut. Metode pengukuran COD sedikit lebih kompleks, karena menggunakan peralatan
khusus reflux, penggunaan asam pekat, pemanasan, dan titrasi. Peralatan reflux diperlukan untuk
menghindari berkurangnya air sampel karena pemanasan.
Pada prinsipnya pengukuran COD adalah penambahan sejumlah tertentu kalium bikromat
(K2Cr2O7) sebagai oksidator pada sampel (dengan volume diketahui) yang telah ditambahkan
asam pekat dan katalis perak sulfat, kemudian dipanaskan selama beberapa waktu. Selanjutnya,
kelebihan kalium bikromat ditera dengan cara titrasi. Dengan demikian kalium bikromat yang
terpakai untuk oksidasi bahan organik dalam sampel dapat dihitung dan nilai COD dapat
ditentukan. Kelemahannya, senyawa kompleks anorganik yang ada di perairan yang dapat
teroksidasi juga ikut dalam reaksi, sehingga dalam kasus-kasus tertentu nilai COD mungkin
sedikit ‘over estimate’ untuk gambaran kandungan bahan organik. Bilamana nilai BOD baru
dapat diketahui setelah waktu inkubasi lima hari, maka nilai COD dapat segera diketahui setelah
satu atau dua jam. Walau- pun jumlah total bahan organik dapat diketahui melalui COD dengan
waktu penentuan yang lebih cepat, nilai BOD masih tetap diperlukan. Dengan mengetahui nilai
BOD, akan diketahui proporsi jumlah bahan organik yang mudah urai (biodegradable), dan ini
akan memberikan gambaran jumlah oksigen yang akan terpakai untuk dekomposisi di perairan
dalam sepekan (lima hari) mendatang. Lalu dengan memperbandingkan nilai BOD terhadap
COD juga akan diketahui seberapa besar jumlah bahan-bahan organik yang lebih persisten yang

14
ada di perairan. Peralatan reflux untuk pengukuran COD. Dalam suratKEP-51/MENLH/10/1995
ditetapkan baku mutu limbah cair dari 21 jenis kegiatan industri, yang meliputi:
• industri soda kostik
• pelapisan logam
• penyamakan kulit
• minyak sawit
• pulp dan kertas
• karet
• gula
• tapioka
• tekstil
• pupuk urea
• ethanol
• MSG
• kayu lapis
• susu dan makanan dari
susu
• minuman ringan
• industri bir
• sabun, deterjen & produk
minyak nabati
• baterai kering
• industri cat
• farmasi, dan
• industri pestisida.

15
Selain itu juga telah ditetapkan baku mutu limbah cair atau air limbah kegiatan-kegiatan
lainnya seperti:
•Kegiatan perhotelan (KEP-52/MENLH/10/1995)
•Kegiatan rumah sakit (KEP-58/MENLH/12/1995)
•Kegiatan minyak dan gas serta panas bumi (KEP-42/MENLH/10/1996)
•Kegiatan domestik (Kep. MENLH No. 112 Tahun 2003)
•Baku mutu air limbah kegiatan pertambangan batu bara (Kep. MENLH No. 113 Tahun 2003).
Di antara berbagai kegiatan tersebut hanya kegiatan industri soda kaustik, pelapisan
logam, eksplorasi dan produksi panas bumi, pengilangan LNG dan LPG terpadu, serta kegiatan
penambangan dan pengolahan batu bara yang baku mutu air limbahnya tidak menggunakan
parameter BOD dan COD. Pada industri dan kegiatan lainnya, baku mutu air limbahnya
menggunakan BOD dan COD, di samping pH, TSS dan parameter kunci lainnya

Pengelolaan Air Limbah


Air limbah dihasilkan dari berbagai sumber yaitu aktivitas rumah tangga, industri,
pertanian, pertambangan dan lain-lain. Air limbah tersebut seharusnya dikelola dan diolah
dengan baik sebelum dibuang ke lingkungan.

Pembuangan Air Limbah


Air limbah dari dari berbagai sumber dapat harus diolah terlebih dahulu sebelum
dibuang ke lingkungan. Jika tidak, air limbah berpotensi merusak lingkungan dan mengganggu
kesehatan manusia.

Air Limbah Rumah Tangga


Air limbah rumah tangga biasanya dibuang langsung melalui saluran yang dialirkan ke
sungai. Cara tersebut tentu akan menimbulkan pencemaran lingkungan yang pada gilirannya
akan berdampak buruk bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Sebelum dibuang ke sungai,
limbah sebaiknya diolah terlebih dahulu terutama limbah industri rumah tangga. Air limbah
rumah tangga dapat berasal dari kamar mandi (mandi dan cuci), dan toilet (Buang Air Besar
dan Buang Air Kecil).
Air limbah dari kamar mandi dan cuci. Limbah rumah tangga yang dimaksud di sini
adalah limbah bekas mandi dan cuci. Tempat mandi dan cuci dibuat dapat dari batu bata,
16
campuran semen dan pasir. Limbah yang telah melewati bak kontrol dapat langsung dibuang
melalui got atau ditampung kembali pada sumur resapan. Pada sumur resapan diberi kerikil dan
pasir. Jarak antara sumur air bersih ke sumur resapan minimum 10 m agar supaya jangan
mencemarinya.

Pemeliharaan saluran setiap hari perlu dibersihkan dengan memakai sapu, atau alat lain,
jangan membuang benda-benda padat seperti: batu kerikil, kertas, kain, plastik dan barang-
barang lainnya, dan semua resapan perlu sering dikontrol, agar bagian-bagian yang tersumbat
dibersihkan. Keuntungan sistem ini adalah pembuatannya mudah, bahan-bahan ada di sekitar
kita dan konstruksinya sederhana. Kerugiannya pembuangan air kotor ini juga tergantung dari
struktur lapisan tanah. Tanah yang liat pada musim kemarau akan bongkah- bongkah hal ini
mungkin berpengaruh pada sumber air bersih. Untuk mengatasi hal ini agar jaraknya perlu
lebih diperpanjang lagi.
Air limbah dari toilet: Air limbah dari toilet adalah berupa air sisa BAB dan BAK. Air
Gambar 5.4: Bak saluran bekas mandi dan cuci
Sumber: Direktorat Perumahan, Ditjen Cipta Karya-Dept. PU.
17
tersebut dialirkan dan ditampung dalam tempat pembuangan khusus yaitu septictank. Septik
tank atau cubluk adalah penampungan air kotoran manusia. Septik tank adalah penampungan
dari kakus. Bak penampung kotoran (septik tank) perlu dirancang dengan sistem dua bak yaitu
bak A sebagai pengumpul dan bak B sebagai peresapan. Jika air kotoran telah diresapkan
selanjutnya dihubungkan dengan saluran pipa pralon. Air limbah kakus dialirkan melalui
pralon ke bak penampung kotoran berdinding kedap air. Berikut ini contoh membuat bak
penampung kotoran dengan jumlah keluarga 6 orang dan dalam jangka waktu 5 tahun,
sedangkan waktu tinggal dalam tangki direncanakan minimal 2 hari (24 jam). Untuk
mendapatkan gambaran besarnya tangki yang harus dibuat maka diperoleh dengan cara sebagai
berikut :

1) Jumlah air limbah yang dibuang setiap hari sekitar 100 liter/orang/hari.
2) Besarnya tangki pencerna dalam 1 tahun 2 x 6 x 100 liter = 1.200 liter.
3) Banyaknya lumpur sebesar 30 liter/orang/tahun.
4) Banyaknya lumpur selama 5 tahun 6 x 30 liter x 5 = 900 liter.
5) Jadi untuk melayani keluarga tersebut di atas diperlukan tangki pencerna 1,2 m3 dengan
ruang pengumpul lumpur sebesar 0,9 m3.

Bahan-bahan yang akan digunakan, sbb.:


1) Batu bata 4) Ijuk 7) Pipa pralon
2) Seng/genteng 5) Semen 8) Kerikil
3) Pasir 6) Lem 9)Tangkikotoran

Peralatan yang akan dipakai, sbb:

1) Gergaji 4) Cetok & parang


2) Cangkul 5) Ember
3) Meteran 6) Besi runcing
Cara pembuatannya, sbb:
Bangunan kakus dibuat dari batu bata, campuran semen an pasir, serta atapnya dari
genteng/seng. Kakus dengan lubang leher angsa dipasang (1), kemudian dibuat tangki kotoran
dengan dinding kedap air. Untuk mengalirkan udara dari tangki keluar dipasang pula pralon
berukuran kecil yang berbentuk huruf T. Kemudian dibuat sumur resapan yang didalamnya

18
diisi kerikil, ijuk dan dinding peresapan berlubang-lubang. Pemeliharaannya perlu dibersihkan
dengan menggunakan karbol/densol dengan takaran sesuai aturan. Jangan masukkan benda-
benda padat seperti kerikil, batu, kertas, kain, plastik dsb. Karena akan menyumbat saluran air.
Keuntungan model ini adalah mudah dibuat, sederhana, bahan mudah didapatkan dan murah.
Sedangkan kerugiannya peresapan air tergantung dari kapasitas tangki/bak dan jenis tanahnya.
Semakin kecil bak peresapan semakin kecil resapanya.

Gambar 5.5: Pengelolaan air limbah kakus Sumber:


Direktorat Perumahan, Ditjen Cipta Karya-Dept. PU

Pengelolaan limbah industri rumah tangga


Industri rumah tangga seperti industri tempe, tahu, rumah makan, dan lain-lain perlu
dikelola. Limbah dari industri rumah tangga tersebut menimbulkan bau yang tidak enak dan
mengganggu lingkungan sekitarnya. Salah satu cara mengelola limbah rumah tangga adalah
dengan membuat 3 bak. Ketiga bak tersebut digunakan sebagai tempat pengendapan limbah
secara bertahap. Dengan demikian air limbah yang keluar dari bak terakhir sudah tidak
membahayakan lagi. Bahan untuk membuat instalasi pengelolaan limbah industri rumah tangga
adalah batubata, semen, pipa pralon, lem, pasir dan lempengan besi. Pembuatan bak instalasi
sebanyak 3 buah dari batu bata dengan campuran pasir dan semen. Kemiringan saluran harus
diperhitungkan. Usahakan jangan sampai ada benda pada air limbah, sebab apabila ada akan
menempel dan menyumbat saluran. Antara bak satu dengan lainnya dihubungkan pipa pralon,
antara satu dengan yang lain letaknya lebih rendah. Susunan dan sifat air limbah yang berasal
dari limbah industri rumah tangga tergantung pada macam dan jenisnya, industri. Air limbah
dapat berupa limbah dari pabrik susu, rumah makan, pemotongan hewan, pabrik tahu, pabrik
tempe, dsb. Kotoran air limbah yang masuk ke bak I, akan mengapung. Pada bagian bawah
19
limbah melalui pipa akan terus mengalir ke bak II. Lemak akan tertinggal dan akan menempel
pad dinding. Untuk mengambil lemak perlu diserok. Dalam Bak II limbah akan mengalami
pengendapan, terus ke bak III begitu juga. Dari pipa pralon pada bak III air limbah akan keluar
dan sudah tidak membahayakan lagi. Untuk membawa lumpur diperlukan kecepatan
0.1m/detik dan untuk membawa pasir kasar perlu kecepatan 0,2m/detik.

Bak limbah industri Sumber

Pembuangan Air hujan (Sumur Resapan)


Sumur resapan adalah sumur atau lubang pada permukaan tanah yang dibuat untuk
menampung air hujan agar dapat meresap ke dalam tanah sehingga mempertahankan bahkan
meningkatkan tinggi muka air tanah dan mengurangi laju air permukaan (surface runoff) yang
dapat menimbulkan banjir. Sumur resapan merupakan kebalikan dari sumur air minum yang
berfungsi untuk menaikkan air tanah ke permukaan. Selain fungsi-fungsi di atas, sumur resapan
berfungsi sebagai pengendali banjir (aliran permukaan), melindungi dan memperbaiki air tanah
serta menekan laju erosi. Konstruksi sumur resapan sebagaimana layaknya sumur gali yang
20
dilengkapi perkuatan dinding dengan ruang sumur tetap direncanakan kosong guna menampung
semaksimal mungkin air hingga dimensinya optimal. Kendala estetika dapat diatasi dengan
menutup bagian atas sumur menggunakan plat beton kemudian tanah dan lumpur ataupun
dengan kombinasi pembuatan taman.
Konstruksi Sumur Resapan Air (SRA) merupakan alternatif pilihan dalam mengatasi
banjir dan menurunnya permukaan air tanah pada kawasan perumahan, karena dengan
pertimbangan a) pembuatan konstruksi SRA tidak memerlukan biaya besar, b) tidak
memerlukan lahan yang luas, dan c) bentuk konstruksi SRA sederhana. Sumur resapan air
merupakan rekayasa teknik konservasi air yang berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa
sehingga menyerupai bentuk sumur gali dengan kedalaman tertentu yang berfungsi sebagai
tempat menampung air hujan diatas atap rumah dan meresapkannya ke dalam tanah. Manfaat
yang dapat diperoleh dengan pembuatan sumur resapan air antara lain: (1) mengurangi aliran
permukaan dan mencegah terjadinya genangan air, sehingga memperkecil kemungkinan
terjadinya banjir dan erosi, (2) mempertahankan tinggi muka air tanah dan menambah
persediaan air tanah, (3) mengurangi atau menahan terjadinya intrusi air laut bagi daerah yang
berdekatan dengan wilayah pantai, (4) mencegah penurunan atau amblasan lahan sebagai akibat
pengambilan air tanah yang berlebihan, dan (5) mengurangi konsentrasi pencemaran air tanah.

21
Konstruksi sumur resapan

Dampak air limbah terhadap kesehatan dan lingkungan


Air limbah yang dibuang ke lingkungan tanpa melalui proses pengolahan dapat
membawa dampak buruk bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Dampak tersebut dapat terjadi
atau terasa secara cepat ataupun perlahan-lahan. Manusia yang mengkonsumsi air atau makanan
yang telah mengandung polutan akan merasakan dampaknya setelah sekian lama dilakukan.
Sementara itu, ada pula dampak yang segera terjadi setelah air limbah dibuang ke lingkungan.
Air limbah yang dihasilkan dari berbagai sumber, jika tidak dikelola dengan baik akan
berdampak buruk bagi kesehatan. Air limbah dapat menjadi media penularan penyakit maupun
menjadi tempat berbagai jenis bakteri penyebab penyakit. Penyakit kolera, radang usus, hepatitis
infektiosa, schstosomiasis menular melaui media air. Dalam limbah sendiri dapat menjadi
tempat hidup bagi bakteri patogen penyebab penyakit. Bakteri-bakteri tersebut diantaranya:
1) Virus, menyebabkan penyakit polio dan hepatitis.
2) Vibrio Kolera, menyebabkan penyakit kolera asiatika.
3) Salmonella Typhosa a dan Salmonella Typhosa b, menyebabkan penyakit tiphus
4) abdominalis dan para tiphus.
22
5) Salmonella Spp., menyebabkan keracunan makanan.
6) Shigella Spp, menyebabkan disentri bacsillair
7) Basillus Anthraksis, menyebabkan penyakit anthrak.
8) Brussella spp, menyebabkan penyakit brusellosis
9) Mikrobakterium Tuberkulosa, menyebabkan penyakit tuberkolosis.
10) Leptospira, menyebabkan penyakit weil
11) Entamuba Histolitika, menyebabkan penyakit amuba disentri.
12) Skhistosoma Spp., menyebabkan penyakit skhistosomiasis
13) Taenia Spp., menyebabkan penyakit cacing pita.
14) Askaris Spp Enterobius Spp., menyebabkan penyakit cacingan.
Air limbah, terutama limbah B3, juga dapat menyebabkan iritasi, bau dan suhu yang
tinggi. Bahkan, banyak kasus yang sangat terkenal seperti penyakit Minamata di di Teluk
Minamata Jepang yang menyebabkan kecacadan pada bayi yang dilahirkan akibat limbah air
raksa dari industri yang yang dibuang ke wilayah perairan.

Dampak air limbah bagi lingkungan


Lingkungan yang terkena air limbah dapat mengalami berbagai kerusakan. Kerusakan
tersebut dapat berupa penurunan kualitas air, gangguan terhadap kehidupan biotik dan
gangguan terhadap estetika/keindahan.
Penurunan Kualitas Air: Air limbah secara langsung dapat menurunkan kualitas air.
Kualitas air dapat diukur dengan menggunakan indikator fisik dan kimia. Secara fisik, air yang
baik adalah air yang tidak berwarna, berbau dan berasa. Secara kimia, air yang baik adalah air
yang tidak mengandung komponen-komponen kimia yang membahayakan kehidupan manusia
dan makhluk lainnya. Wilayah perairan yang dialiri air limbah, secara fisik akan terlihat dari
warna yang berubah. Selain itu, timbul bau dan rasa pada air tersebut. Secara kimia, air yang
terkena limbah akan berubah komposisi kimianya.
Gangguan terhadap kehidupan biotik Air limbah akan masuk ke wilayah perairan, baik
sungai, danau maupun laut. Sebelum masuknya limbah, wilayah perairan tersebut menjadi
habitat bagi banyak spesies ikan dan biota lainnya yang berperan penting dalam ekosistem dan
memberi manfaat ekonomi bagi manusia. Masuknya limbah ke lingkungan perairan
mengakibatkan turunnya kadar oksigen yang terlarut dalam air. Padahal, ikan dan biota lainnya
membutuhkan air yang memiliki kandungan oksigen di dalamnya. Akibatnya, biota yang hidup
23
dalam lingkungan perairan menjadi kekurangan oksigen, sehingga lama kelamaan mereka akan
mati. Matinya biota tersebut juga disebabkan karena air limbah mengandung bahan-bahan kimia
yang beracun. Selain ikan dan tumbuhan, bakteri yang hidup dalam lingkungan perairan juga
akan mati. Akibatnya, air limbah akan sulit diuraikan, sehingga menghambat kemampuan air
yang sudah terkena limbah untuk memurnikan dirinya kembali (Self Purification). Disamping
komposisi kimianya yang berbahaya, secara fisik air limbah juga berbahaya. Warnanya yang
kotor atau keruh menghalangi masuknya sinar matahari ke dasar perairan dan menghambat
berkembangnya kehidupan di dalamnya. Air limbah yang dibuang juga seringkali dalam kondisi
bersuhu tinggi, sehingga kehidupan dalam air juga terganggu.

Program Puskesmas
Program pokok Puskesmas merupakan program pelayanan kesehatan yang wajib
dilaksanakan karena mempunyai daya ungkit yang besar terhadap peningkatan derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya. Ada 6 program pokok pelayanan kesehatan diantaranya
program pengobatan, promosi kesehatan, pelayanan KIA dan KB, pencegahan penyakit menular
dan tidak menular, kesehatan lingkungan dan perbaikan gizi masyarakat.
Program kesehatan lingkungan adalah salah satu program pokok puskesmas yang
berupaya untuk menciptakan kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologi
yang dinamis antara manusia dan lingkungan untuk mendukung tercapainya kualitas hidup
manusia yang sehat dan bahagia. Tujuan program: mewujudkan mutu lingkungan hidup yang
lebih sehat melalui pengembangan sistem kesehatan kewilayahan untuk menggerakkan
pembangunan berwawasan kesehatan.
Salah satunya program penyehatan sumber air bersih. Kegiatan upaya penyehatan air
meliputi: surveilans kualitas air, inspeksi sanitasi sarana air bersih, pemeriksaan kualitas air,
pembinaan kelompok pemakai air.
- Kualitas: Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 492/MENKES/PER /IV/2010
- Persyaratan fisik: ditinjau dari segi kesehatan dan estetika
- Persyaratan kimia: tidak mengandung zat yang membahayakan kesehatan manusia atau
makhluk hidup lainnya, pertumbuhan tanaman, fungsi industri dan tidak
menimbulkankerusakan pada instalasi SPAM sendiri.
- Persyaratan bakteriologis: ditentukan jumlah batasan untuk bakteri coli dan bakteri
lainnya.
24
- Radioaktif
- Kuantitas: Penyediaan air minum harus dapat memenuhi setiap segi kehidupan
masyarakat dan tersedia dalam jumlah yang cukup.
- Kontinuitas: Penyediaan air bersih disalurkan secara terus menerus maupun untuk jam-
jam tertentu.
- Kehandalan sistem penyediaan air minum (reability)
- Kemudahan harga dan tempat.

Air yang Mengandung Logam


ciri air yang mengandung logam adalah air bening dan bersih tetapi jika diendapkan beberapa
saat akan berumah warna coklat atau kuning dan tidak jarang yang mengndap serta bau logam.

Keracunan Logam
Sesungguhnya, istilah logam berat hanya ditujukan kepada logam yang mempunyai berat
jenis lebih besar dari 5 g/cm3. Namun, pada kenyataannya, unsur-unsur metaloid yang
mempunyai sifat berbahaya juga dimasukkan ke dalam kelompok tersebut. Dengan demikian,
yang termasuk ke dalam kriteria logam berat saat ini mencapai lebih kurang 40 jenis unsur.
Beberapa contoh logam berat yang beracun bagi manusia adalah: arsen (As), kadmium (Cd),
tembaga (Cu), timbal (Pb), merkuri (Hg), nikel (Ni), dan seng (Zn).
Merkuri
Air raksa (Hg), atau sering disebut juga sebagai merkuri merupakan satu dari lima unsur
golongan logam transisi (bersama cesium, fransium, galium, dan brom) yang berbentuk cair
pada suhu kamar dan mudah menguap. Selain untuk kegiatan penambangan emas,
logam merkuri digunakan dalam produksi gas khlor dan soda kaustik, termometer, tambal gigi,
dan baterai.
Merkuri dapat berada dalam berbagai senyawa. Bila bergabung dengan khlor, belerang
atau oksigen, merkuri akan membentuk garam yang biasanya berwujud padatan putih. Garam
merkuri sering digunakan dalam krim pemutih dan krim antiseptik. Merkuri anorganik (logam
dan garam merkuri) terdapat di udara dari deposit mineral, dan dari area industri. Merkuri yang
25
ada di air dan tanah terutama berasal dari deposit alam, buangan limbah, dan aktivitas volkanik.
Toksisitas merkuri dapat terjadi dalam tiga bentuk yaitu :
a. Merkuri metal
Rute utama dari pajanan merkuri metal adalah melalui inhalasi; sebanyak 80 % merkuri
metal disabsorpsi. Merkuri metal dapat di metabolismekan menjadi ion inorganik dan
dieksresikan dalam bentuk merkuri inorganik. Organ yang paling sensitif adalah system syaraf
(peripheral dan pusat). Gejala neurotoksik spesifik adalah tremor, perubahan emosi (gugup,
penurunan percaya diri, mudah bersedih), insomania, penurunan daya ingat, sakit
kepala,penurunan hasil pada tes kognitif dan fungsi motorik. Gejala dapat bersifat irreversibel
jika terjadi peningkatan durasi dan atau dosis merkuri.
b. Merkuri anorganik
Garam merkuri anorganik bisa mengakibatkan presipitasi protein, merusak mukosa, alat
pencernaan, termasuk mukosa usus besar, dan merusak membran ginjal ataupun membran filter
glomerulus, menjadi lebih permeabel terhadap protein plasma yang sebagian besar akan masuk
ke dalam urin. Toksisitas akut dari uap merkuri meliputi gejala muntah, kehilangan kesadaran,
mulut terasa tebal, sakit abdominal, diare disertai darah dalam feses, oliguria, albuminuria,
anuria, uraemia, ulserasi, dan stomatis. Toksisitas garam merkuri yang larut bisa menyebabkan
kerusakan membran alat pencernaan, eksanterma pada kulit, dekomposisi eritrosit, serta
menurunkan tekanan darah. Toksisitas kronis dari merkuri anorganik meliputi gejala gangguan
system syaraf, antara lain berupa tremor, terasa pahit di mulut, gigi tidak kuat dan
rontok, anemia, albuminuria, dan gejala lain berupa kerusakan ginjal, serta kerusakan mukosa
usus.
c. Merkuri organik
Merkuri organik dapat masuk ketubuh melalui paru-paru, kulit dan juga lambung. Senyawa
organo merkuri yang paling umum adalah metil merkuri, yang terutama dihasilkan oleh
mikroorganisme (bakteri) di air dan tanah. Karena bakteri itu kemudian terikut (termakan) oleh
ikan, maka di ikan cenderung konsentrasi merkurinya akan tinggi .Merkuri apapun jenisnya
sangatlah berbahaya pada manusia karena merkuri akan terakumulasi pada tubuh dan bersifat
neurotoxin. Gejala toksisitas merkuri organik meliputi kerusakan sistem syaraf pusat berupa
anoreksia, ataksia, dismetria, gangguan pandangan mata yang bisa mengakibatkan kebutaan,
gangguan pendengaran, konvulsi, paresis, koma, dan kematian.
Sumber Pencemaran Lingkungan Akibat Merkuri
26
Merkuri merupakan elemen alami, sering mencemari lingkungan. Kebanyakan merkuri
yang terdapat di alam dalam bentuk senyawa dengan elemen lain dan jarang dijumpai dalam
bentuk elemen terpisah. Komponen merkuri banyak tersebar di karang-karang, tanah, udara, air,
dan organisme hidup melalui proses fisika, kimia, dan biologi yang kompleks.
Di Indonesia pencemaran merkuri ditemukan dibanyak tempat namun tidak ada
investigasi atau laporan adanya penderita penyakit minamata atau keracunan merkuri. Kadar
merkuri yang tinggi pada perairan umumnya diakibatkan oleh buangan industri (industrial
wastes) dan akibat sampingan dari penggunaan senyawa-senyawa merkuri di bidang pertanian.
Penggunaan merkuri di dalam industrti sering mengakibatkan pencemaran lingkungan, baik
melalui air limbah maupun melalui sistem ventilasi udara.
Terdapatnya merkuri di perairan dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu:
1. Oleh kegiatan perindustrian, seperti pabrik cat, kertas, peralatan listrik, chlorine dan coustic
soda
2. Oleh alam itu sendiri, melalui proses pelapukan batuan dan peletusan gunung berapi.

Penggunaan merkuri yang terbesar adalah dalam industri klor-alkali, di mana produksi
klorin (Cl2) dan kaustik soda (NaOH) dengan cara elektrolisis garam NaCl, dan produksi alat-
alat listrik untuk berbagai keperlua. Sebagai contoh, misalnya lampu uap baterai merkuri yang
mempunyai umur relatif panjang dan dapat digunakan pada kondisi suhu dan kelembaban yang
tinggi.Penggunaan merkuri terbesar ketiga beserta komponen-komponennya dalah fungisida.
Dalam hal ini merkuri digunakan untuk membunuh jamur di dalam cat, pulp, kertas dan industri-
industri pertanian. Logam merkuri juga digunakan sebagai katalis dalam industri kimia, terutama
pada industri vinil klorida yang merupakan bahan dasar berbagai plastik. Logam merkuri juga
digunakan di dalam termometer dan alat-alat pencatat suhu karena bentuk cairannya ada pada
kisaran suhu yang lebar, sifatnya uniform, koefisein muai panasnya besar dan konduktivitas
listriknya besar.
Proses Pencemaran Lingkungan Akibat Merkuri
Merkuri merupakan benda cair,hydrargyrum, air/cairan perak unsur golongan transisi
berwarna keperakan dan merupakan satu dari lima unsur yang berbentuk cair dalam suhu kamar
serta mudah menguap. Karena merupakan benda cair sehingga merkuri dengan mudah meresap
ke dalam tanah. Tanah yang mengandung 50 % pori-pori yang terisi air dan udara lebih
mempermudah merkuri yang merupakan benda cair untuk bereaksi ke dalam tanah Secara
27
alamiah, pencemaran Hg berasal dari kegiatan gunung api atau rembesan air tanah yang
melewati deposit Hg. Apabila masuk ke dalam air tanah, kemudaia air tanah mengalir masuk
menuju ke perairan dengan system. permeabilitas tanah. Merkuri mudah bereaksi dengan unsur
yang ada dalam tanah dan air dan membentuk HgCl (merkurianorganik). Merkuri anorganik
akan berubah oleh peran mikro organisme. Merkuri dapat pula bersenyawa dengan karbon
membentuk senyawa organomerkuri. Senyawa organo merkuri yang paling umum adalah methyl
merkuri yang dihasilkan oleh mikro organisme dalam tanah dan air.
Komponen merkuri yang digunakan dalam pestisida, umumnya memasuki tanah dengan
jumlah 1g/ha sampai 200g/ha (0,0005±0,1 ppm), yang mana apabila lebih dari tingkatan itu
dapat menghancurkan organik dalam tanah dan nitrogen dalam mineral tanah. Tanah
mengandung CO2dengan kesuburan tanah NH2dan NaOH. Merkuri dapat bereaksi dengan
nitrogen tanah membentuk methyl mercuryHg(NO2)3. Methyl merkuri dapat terendap dengan
skala waktu yang cukup lama di dalam tanah karena merkuri stabil dan tidak dapat dipisahkan
bahkan dicampurkan dengan zat lain

Dampak Pencemaran Lingkungan Akibat Merkuri


Telah kita ketahui merkuri digunakan dalam bidang perindustrtian, tetapi penggunaan
merkuri di dalam industri sering mengakibatkan pencemaran lingkungan dan kesehatan
manusia.Merkuri dapat terakumulasi dilingkungan dan dapat meracuni hewan, tumbuhan, dan
mikroorganisme. Acidic permukaan air dapat mengandung signifikan jumlah raksa. Bila nilai
pH adalah antara lima dan tujuh, maka konsentrasi raksa di dalam air akan meningkat karena
mobilisasi raksa dari dalam tanah. Setelah raksa telah mencapai permukaan air atau
tanahmikroorganisme dapat dikonversi ke methyl mercury, suatu zat yang dapat diserap oleh
sebagian besar organisme dengan cepat dan diketahui menyebabkan kerusakan saraf. Ikan
adalah organisme yang menyerap jumlah besar methyl raksa dari permukaan air setiap hari.
Akibatnya, methyl raksa dapat ikan dan menumpuk di dalam rantai makanan yang merupakan
bagian dari mereka. Efek yang telah raksa pada hewan adalah kerusakan ginjal, gangguan perut,
intestines kerusakan, kegagalan reproduksi DNA dan perubahan.

Cara Pengendalian Pencemaran Lingkungan Akibat Merkuri


Pencemaran air oleh merkuri tidak bisa diatasi hanya dengan cara penyaringan, koagulasi
kopulasi, pengendapan, atau pemberian tawas. Hal ini karena merkuri di air berbentuk ion. Cara
28
terbaik untuk menghilangkan merkuri dalam air ini adalah dengan pertukaran ion. Yaitu
mempergunakan suatu resin yang mampu mengikat ion merkuri hingga menjadi jenuh,
kemudian diregenerasi kembali dengan penambahan suatu asam, sehingga merkuri bisa
dinetralisir. Mencegah merkuri tidak masuk perairan. Pada penelitian dengan sampel kecil
dilakukan pada pekerja tambang yang terekpos air raksa diberikan DMSA dan NAP. Obat ini
bekerja dengan cara memperkecil partikel air raksa,sehingga pengeluaran ke ginjal bisa di
tingkatkan.
Pengendalian / penanggulangan pencemaran air di Indonesia telah diatur melalui
Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian
Pencemaran Air. Secara umum hal ini meliputi pencemaran air baik oleh instansi ataupun non-
instansi. Salah satu upaya serius yang telah dilakukan Pemerintah dalam pengendalian
pencemaran air adalah melalui Program Kali Bersih (PROKASIH).
Pada prinsipnya ada 2 (dua) usaha untuk menanggulangi pencemaran, yaitu
penanggulangan secara non-teknis dan secara teknis. Penanggulangan secara non teknis yaitu
suatu usaha untuk mengurangi pencemaran lingkungan dengan cara menciptakan peraturan
perundangan yang dapat merencanakan, mengatur dan mengawasi segala macam bentuk
kegiatan industri dan teknologi sehingga tidak terjadi pencemaran. Peraturan perundangan ini
hendaknya dapat memberikan gambaran secara jelas tentang kegiatan industri yang akan
dilaksanakan, misalnya meliputi AMDAL, pengaturan dan pengawasan kegiatan dan
menanamkan perilaku disiplin. Sedangkan penanggulangan secara teknis bersumber pada
perlakuan industri terhadap perlakuan buangannya, misalnya dengan mengubah proses,
mengelola limbah atau menambah alat bantu yang dapat mengurangi pencemaran.

Arsen
Arsen merupakan unsur dari komponen obat sejak dahulu kala. Senyawa arsen trioksida
misalnya pernah digunakan sebagai tonikum, yaitu dengan dosis 3 x 1-2 mg. Dalam jangka
panjang, penggunaan tonikum ini ternyata telah menyebabkan timbulnya gejala intoksikasi
arsen kronis. Arsen juga pernah digunakan sebagai obat untuk berbagai infeksi parasit, seperti
protozoa, cacing, amoeba, spirocheta dan tripanosoma, tetapi kemudian tidak lagi digunakan
karena ditemukannya obat lain yang lebih aman. Arsen dalam dosis kecil sampai saat ini juga
masih digunakan sebagai obat pada resep homeopathi.
Bermacam-macam bentuk senyawa kimia dari arsen ini yaitu sebagai berikut ;
29
1. Arsen triokasida (As2O3), ialah bentuk garam inorganic dan bentuk trivial dari asam
arsenat (H4AsO4) berwarna putih dan padat seperti gula.
2. Arsen pentaoksida (As2O5)
3. Arsenat (misalnya : PbHAsO4), ialah bentuk garam dari asam arsenat, merupakan
senyawa arsen yang banyak dijumpai di alam dan bersifat kurang toksik.
4. Arsen organic, arsen berikatan kovalen dengan rantai karbon alifatik atau struktur cincin,
dimana arsen terikat dalam bentuk trivalent ataupun pentavalen. Bentuk senyawa arsen
ini kurang toksin dibandingkan dengan bentuk senyawa arsen inorganic trivalent.

Selain dapat ditemukan di udara, air maupun makanan, arsen juga dapat ditemukan
di industri seperti industri pestisida, proses pengecoran logam maupun pusat tenaga
geotermal. Elemen yang mengandung arsen dalam jumlah sedikit atau komponen arsen
organik (biasanya ditemukan pada produk laut seperti ikan laut) biasanya tidak beracun
(tidak toksik). Arsen dapat dalam bentuk inorganik bervalensi tiga dan bervalensi lima.
Bentuk inorganik arsen bervalensi tiga adalah arsenik trioksid, sodium arsenik, dan arsenik
triklorida. Sedangkan bentuk inorganik arsen bervalensi lima adalah arsenik pentosida,
asam arsenik, dan arsenat (Pb arsenat, Ca arsenat). Arsen bervalensi tiga (trioksid)
merupakan bahan kimia yang cukup potensial untuk menimbulkan terjadinya keracunan
akut.

Sumber Pencemaran Oleh Arsen


Keberadaan arsen di alam (meliputi keberadaan di batuan (tanah) dan sedimen, udara, air dan
biota), produksi arsen di dalam industri, penggunaan dan sumber pencemaran arsen di
lingkungan. Keberadaan arsen di alam; batuan (tanah) dan sedimen, udara, air, biota, produksi
dalam industri,
Penggunaan Senyawa Arsen
Arsen banyak digunakan dalam berbagai bidang, yaitu salah satunya dalam bidang
pertanian. Di dalam pertanian, senyawa timah arsenat, tembaga acetoarsenit, natrium arsenit,
kalsium arsenat dan senyawa arsen organik digunakan sebagai pestisida. Sebagian tembakau
yang tumbuh di Amerika Serikat, perlu diberi pestisida yang mengandung arsen untuk
mengendalikan serangga yang menjadi hama tanaman tersebut selama masa pertumbuhannya.
Tembakau ini akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan rokok.
30
Mekanisme Terjadinya Toksisitas
Mekanisme masuknya Arsen dalam tubuh manusia umumnya melalui oral, dari
makanan/minuman. Arsen yang tertelan secara cepat akan diserap lambung dan usus halus
kemudian masuk ke peredaran darah (Wijanto, 2005). Arsen adalah racun yang bekerja dalam
sel secara umum. Hal tersebut terjadi apabila arsen terikat dengan gugus sulfhidril (-SH),
terutama yang berada dalam enzim. Salah satu system enzim tersebut ialah kompleks piruvat
dehidrogenase yang berfungsi untuk oksidasi dekarboksilasi piruvat menjadi Co-A dan CO2
sebelum masuk dalam siklus TOA (tricarbocyclic acid). Dimana enzim tersebut terdiri dari
beberapa enzim dan kofaktor. Reaksi tersebut melibatkan transasetilasi yang mengikat koenzim
A (CoA-SH) untuk membentuk asetil CoA dan dihidrolipoil-enzim, yang mengandung dua
gugus sulfhidril. Kelompok sulfhidril sangat berperan mengikat arsen trivial yang membentuk
kelat. Kelat dari dihidrofil-arsenat dapat menghambat reoksidasi dari kelompok akibatnya bila
arsen terikat dengan system enzim, akan terjadi akumulasi asam piruvat dalam darah.
Arsenat juga memisahkan oksigen dan fosfolirasi pada fase kedua dari glikolisis dengan
jalan berkompetisi dengan fosfat dalam reaksi gliseraldehid dehidrogenase. Dengan adanya
pengikatan arsenat reaksi gliseraldehid-3-fosfat, akibatnya tidak terjadi proses enzimatik
hidrolisis menjadi 3-fosfogliserat dan tidak memproduksi ATP. Selama Arsen bergabung dengan
gugus –SH, maupun gugus –SH yang terdapat dalam enzim, maka akan banyak ikatan As dalam
hati yang terikat sebagai enzim metabolic. Karena adanya protein yang juga mengandung gugus
–SH terikat dengan As, maka hal inilah yang menyebakan As juga ditemukan dalam rambut,
kuku dan tulang. Karena eratnya As bergabung dengan gugus –SH, maka arsen masih dapat
terdeteksi dalam rambut dan tulang beberapa tahun kemudian.
Cara Mengatasi Keracunan Arsenik
Pertolongan pertama (standart treatment) bila kulit kita terpapar arsenik: cuci
permukaan kulit dengan air mengalir secara kontinu kurang lebih 10 menit, atau sampai
tidak ada kandungan bahan kimia di atas kulit. Bila perlu, gunakan sabun. Baju yang
terkontaminasi harus dilepaskan. Kemudian segera ke dokter untuk mendapat pertolongan
medis. Sementara bila racun masuk ke pencernaan, masukkan air dalam jumlah yang cukup
besar ke dalam mulut untuk mencuci. Tetapi, air jangan tertelan. Kalau bahan kimianya
sudah tertelan, minum kurang lebih 250 ml air dan jangan memaksakan muntah. Segera cari
pertolongan medis.
Cara mengatasi keracunan arsenik berbeda antara keracunan akut dan kronik. Untuk
31
keracunan akut yang belum berlangsung 4 jam, korban diberi ipekak untuk merangsangnya
muntah. Dapat juga dilakukan bilas lambung apabila ia tidak dapat minum. Pemberian
katartik atau karboaktif dapat bermanfaat. Sedangkan untuk keracunan yang sudah
berlangsung lebih lama (termasuk juga keracunan kronik), sebaiknya diberi antidotumnya,
yaitu suntikan intramuskuler dimerkaprol 3-5 mg/kgBB 4-6 kali sehari selama 2 hari.
Pengobatan dilanjutkan 2-3 kali sehari selama 8 hari.
Metode kimia dan sintetik saat ini digunakan untuk mengobati keracunan arsenik.
Dimercaprol dan asam dimercaptosuccinic adalah agen chelating yang mengambil arsenik
dari protein darah dan digunakan untuk mengobati keracunan arsenik akut. Dimercaprol
jauh lebih beracun dari pada succimer.
Efek-efek yang ditimbulkan oleh arsen
Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan air, tanah, maka ia
dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk
ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah
tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat
mencemari air tanah dan udara di atasnya.
WHO menetapkan ambang aman tertinggi arsen dalam air tanah sebesar 50 ppb. Air
tanah biasa digunakan sebagai sumber air minum bagi kelangsungan hidup manusia. Salah
satu akibat yang merugikan dari arsen adalah apabila dalam air minum mengandung unsur
arsen melebihi nilai ambang batas, yaitu bila kadarnya melebihi 10 ppb dalam air minum.
Gejala keracunan kronis yang ditimbulkannya pada tubuh manusia berupa iritasi usus,
kerusakan syaraf dan sel, kelainan kulit atau melanoma serta kanker usus.
Arsen inorganik telah dikenal sebagai racun manusia sejak lama, yang dapat
mengakibatkan kematian. Dosis rendah akan mengakibatkan kerusakan jaringan. Bila
melalui mulut, pada umumnya efek yang timbul adalah iritasi saluran makanan, nyeri, mual,
muntah dan diare. Selain itu mengakibatkan penurunan pembentukan sel darah merah dan
putih, gangguan fungsi jantung, kerusakan pembuluh darah, luka di hati dan ginjal
(Wijanto, 2005). Berikut ini adalah implikasi klinik akibat tercemar oleh arsen :
1. Mata
Efek Arsenic terhadap mata adalah gangguan penglihatan dan kontraksi mata pada
bagian perifer sehingga mengganggu daya pandang (visual fields) mata.
2. Kulit
32
Adanya kulit yang berwarna gelap (hiperpigmentasi), penebalan kulit
(hiperkeratosis), timbul seperti bubul (clavus), infeksi kulit (dermatitis) dan mempunyai
efek pencetus kanker (carcinogenic).
3. Darah
Efeknya menyebabkan kegagalan fungsi sum-sum tulang dan terjadinya
pancytopenia (yaitu menurunnya jumlah sel darah perifer).
4. Liver
Paparan arsen yang cukup lama (paparan kronis) pada liver akan menyebabkan efek
yang signifikan, berupa meningkatnya aktifitas enzim pada liver (enzim SGOT, SGPT,
gamma GT), ichterus (penyakit kuning), liver cirrhosis (jaringan hati berubah menjadi
jaringan ikat dan ascites (tertimbunnya cairan dalam ruang perut).
5. Ginjal
Arsen akan menyebabkan kerusakan ginjal berupa renal damage (terjadi ichemia dan
kerusakan jaringan).
6. Saluran pernapasan
Paparan arsen pada saluran pernafasan akan menyebabkan timbulnya laryngitis
(infeksi laryng), bronchitis (infeksi bronchus) dan dapat pula menyebabkan kanker paru.
7. Pembuluh darah
Logam berat Arsen dapat menganggu fungsi pembuluh darah, sehingga dapat
mengakibatkan penyakit arteriosclerosis (rusaknya pembuluh darah), portal hypertention
(hipertensi oleh karena faktor pembuluh darah potal), oedema paru dan penyakit pembuluh
darah perifer (varises, penyakit bu rger).
8. Sistem Reproduksi
Efek arsen terhadap fungsi reproduksi biasanya fatal dan dapat pula berupa cacat
bayi waktu dilahirkan, lazim disebut efek malformasi.
9. Sistem Immunologi
Efek pada sistem immunologi, terjadi penurunan daya tahan tubuh/ penurunan
kekebalan, akibatnya peka terhadap bahan karsinogen (pencetus kanker) dan infeksi virus.
10. Sistem Sel
Efek terhadap sel mengakibatkan rusaknya mitokondria dalam inti sel sehingga
menyebabkan turunnya energi sel dan sel dapat mati.
11. Gastrointestinal (Saluran Pencernaan)
33
Arsen akan menyebabkan perasaan mual dan muntah, serta nyeri perut, mual
(nausea) dan muntah (vomiting).

Pencegahan Terjadinya Paparan Arsen


Usaha pencegahan terjadinya paparan arsen secara umum adalah pemakaian alat
proteksi diri bagi semua individu yang mempunyai potensi terpapar oleh arsen.
Alat proteksi diri tersebut misalnya :
 Masker yang memadai
 Sarung tangan yang memadai
 Tutup kepala
 Kacamata khusus
Usaha pencegahan lain adalah melakukan surveilance medis, yaitu pemeriksaan
kesehatan dan laboratorium yang dilakukan secara rutin setiap tahun. Jika keadaan dianggap luar
biasa, dapat dilakukan biomonitoring arsen di dalam urine. Usaha pencegahan agar lingkungan
kerja terbebas dari kadar arsen yang berlebihan adalah perlu dilakukan pemeriksaan kualitas
udara (indoor), terutama kadar arsen dalam patikel debu. Pemeriksaan kualitas udara tersebut
setidaknya dilakukan setiap tiga bulan. Ventilasi tempat kerja harus baik, agar sirkulasi udara
dapat lancar.

Timbal
Timbal ( Pb ) di udara
Emisi Pb pada lapisan atmosfir bumi dapat berbentuk gas dan partikulat. Emisi Pb dalam
bentuk gas, berasal dari gas kendaraan bermotor. Emisi tersebut merupakan hasil samping dari
pembakaran yang terjadi dalam mesin kendaraan. Pb yang merupakan hasil samping dari
pembakaran berasal dari senyawa tetrametil – Pb dan tetraetil – Pb yang selalu ditambahkan
dalam bahan bakar kendaraan bermotor dan berfungsi sebagai anti ketuk ( anti-knock ) pada
mesin – mesin kendaraan.
Selain itu, dalam bahan bakar kendaraan bermotor biasanya ditambahkan pula
bahanscavenger, yaitu etilendibromida ( C2H4Br2 ) dan etilendikhlorida ( C2H4C12 ). Senyawa ini
dapat mengikat residu Pb yang dihasilkan setelah pembakaran, sehingga di dalam gas buangan
terdapat senyawa Pb dengan halogen

34
.
Timbal ( Pb ) di air dan makanan
Secara alamiah, Pb dapat masuk ke badan perairan melalui pengkristalan Pb di udara
dengan bantuan air hujan. Di samping itu, proses korosifikasi dari bantuan mineral akibat
hempasan gelombang dan agin, juga merupakan salah satu jalur sumber Pb yang akan masuk ke
dalam badan perairan. Pb yang masuk ke dalam badan perairan sebagai dampak dari aktivitas
kehidupan manusia ada bermacam bentuk. Di antaranya adalah air buangan (limbah) dari
industri yang berkaitan dengan Pb, air buangan dari pertambangan bijih timah hitam dan
buangan sisa industri baterai.
Selain kontaminasi Pb pada minuman, juga ditemukan kontaminasi Pb pada makanan
olahan atau makanan kaleng. Makanan yang telah diasamkan dapat melarutkan Pb dari wadah
atau alat-alat oengolahannya. Proses masuknya Pb ke dalam tubuh dapat melalui beberapa jalur,
yaitu melalui makana dan minuman, udara dan perembesan atau penetrasi pada selaput atau
lapisan kulit. Senyawa-senyawa Pb organik relatif lebih mudah untuk diserap tubuh melalui
selaput lendir atau melalui lapisan kulit, bila dibandingkan dengan senyawa-senyawa Pb an-
organik. Senyawa Pb organik umumnya masuk ke dalam tubuh melalui jalur pernafasan dan atau
penetrasi melewati kulit. Penyerapan lewat kulit ini dapat terjadi disebabkan karena senyawa ini
dapat larut dalam minyak dan lemak.

Keracunan oleh Logam Pb


Selain dalam bentuk logam murni, timbal ditemukan dalam bentuk senyawa organik dan
inorganik. Semua bentuk Pb berpengaruh terhadap toksisitas pada manusia. Pengaruh toksisitas
akut jarang di jumpai, tetapi pengaruh toksititas kronis paling sering ditemukan. Pengaruh
toksisitas kronis sering dijumpai pada pekerja di pertambangan dan pabrik pemurnian logam,
pabrik mobil ( proses pengecatan ), penyimpanan baterai, percetakan, pelapisan logam, dan
pengecatan sistem semprot.
Mekanisme toksisitas Pb
Timbal adalah logam toksik bersifat kumulatif sehingga mekanisme toksisitasnya
dibedakan menurut beberapa organ yang dipengaruhinya yaitu sebagaai berikut.
1. Sistem hemopoietik
Pb mengahambat sistem pembentukan hemoglobin sehingga menyebabkan anemia.
2. Sistem syaraf pusat dan tepi.
35
Menyebabkan gangguan ensefalopati dan gejala gangguan syaraf perifer.
3. Sistem reproduksi
Menyebabkan kematian janin waktu melahirkan pada wanita serta hipospermi dan
teratospermia pada pria.
4. Sistem kardiovaskuler
Menyebabkan peningkatan permiabilitas kapiler pembuluh darah.
5. Sistem ginjal
Menyebabkan aminoasiduria, fosfaturia, glokusuria, nefropati, fibrosis, dan atrofi
glomerular.
6. Sistem endokrin
Mengakibatkan gangguan fungsi tiroid dan fungsi adrenal.
7. Sistem gastro – intestinal
Menyebakan kolik dan konstipasi.

Kadmium

Kadmium adalah logam kebiruan yang lunak, termasuk golongan II B table berkala
dengan konigurasi elekron [Kr] 4d105s2. unsur ini bernomor atom 48, mempunyai bobot atom
112,41 g/mol dan densitas 8,65 g/cm3. Titik didih dan titik lelehnya berturutturut 765oC dan
320,9oC. Kadmiun merupakan racun bagi tubuh manusia. Waktu paruhnya 30 tahun dan
terakumulasi pada ginjal, sehingga ginjal mengalami disfungsi kadmium yang terdapat dalam
tubuh manusia sebagian besar diperoleh melalui makanan dan tembakau, hanya sejumlah kecil
berasal dari air minum dan polusi udara. Pemasukan Cd melalui makanan adalah 10 – 40
μg/hari, sedikitnya 50% diserap oleh tubuh.
Sumber-sumber dan bahan polutan
Logam kadmium mempunyai penyebaran sangat luas di alam, hanya ada satu jenis
mineral kadmium di alam yaitu greennockite (CdS) yang selalu ditemukan bersamaan dengan
mineral spalerite (ZnS). Mineral greennockite ini sangat jarang ditemukan di alam, sehingga
dalam eksploitasi logam Cd biasanya merupakan produksi sampingan dari peristiwa peleburan
bijih-bijih seng (Zn). Biasanya pada konsentrat bijih Zn didapatkan 0,2 sampai 0,3 % logam
36
Cd.Di samping itu, Cd juga diproduksi dalam peleburan bijih-bijih logam Pb(timah hitam) dan
Cu(tembaga). Namun demikian, Zn merupakan sumber utama dari logam Cd, sehingga produksi
dari logam tersebut sangat dipengaruhi oleh Zn.
Dalam lingkungan,menurut Clark (1986) sumber kadmium yang masuk ke perairan
berasal dari:
1) Uap, debu dan limbah dari pertambangan timah dan seng.
2) Air bilasan dari elektroplating.
3) Besi, tembaga dan industri logam non ferrous yang menghasilkan abu dan uap serta air
limbah dan endapan yang mengandung kadmium.
4) Seng yang digunakan untuk melapisi logam mengandung kira-kira 0,2 % Cd sebagai
bahan ikutan (impurity); semua Cd ini akan masuk ke perairan melalui proses korosi
dalam kurun waktu 4-12 tahun.
5) Pupuk phosfat dan endapan sampah

Sumber kadmium terutama dari biji seng, timbal-seng, dan timbal-tembaga-seng.


Kandungan logam Cd bersumber dari makanan dan lingkungan perairan yang sudah
terkontaminasi oleh logam berat. Kontaminasi makanan dan lingkungan perairan tidak terlepas
dari aktivitas manusia didarat maupun pada perairan. Sifat logam Cd yang akumulatif pada suatu
jaringan organisme serta sulit terurai. Kadmium dalam air juga berasal dari pembuangan industri
dan limbah pertambangan. Logam ini sering digunakan sebagai pigmen pada keramik, dalam
penyepuhan listrik, pada pembuatan alloy, dan baterai alkali.
Bahan bakar dan minyak pelumas mengandung Cd sampai 0,5 ppm, batubara mengandung Cd
sampai 2 ppm, pupuk superpospat juga mengandung Cd bahkan ada yang sampai 170 ppm.
Limbah cair dari industri dan pembuangan minyak pelumas bekas yang mengandung Cd masuk
ke dalam perairan laut serta sisa-sisa pembakaran bahan bakar yang terlepas ke atmosfir dan
selanjutnya jatuh masuk ke laut.
Toksisitas Kadmium pada Manusia
Keberadaan kadmium di alam berhubungan erat dengan hadirnya logam Pb dan Zn.
Dalam industri pertambangan, Pb dan Zn proses pemurniannya akan selalu memperoleh hasil
samping kadmium yang terbuang dalam lingkungan. Kadmium masuk ke dalam tubuh manusia
37
terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Untuk mengukur kadmium intake
ke dalam tubuh manusia perlu dilakukan pengukuran kadar Cd dalam makanan yang dimakan
atau kandungan Cd dalam feses.
Mekanisme toksisitas Cd
Sekitar 5% dari diet kadmium,diabsobsi dalam tubuh. Sebagian besar Cd masuk melalui
saluran pencernaan, tetapi keluar lagi melalui feses sekitar 3-4 minggu kemudian dan sebagian
kecil dikeluarkan melalui urine. Kadmium dalam tubuh terakumulasi dalam hati dan ginjal
terutama terikat sebagai metalotionein. Metalotinein mengandung unsur sistein,dimana Cd
terikat dalam gugus sulfhidril(-SH) dalam enzim seperti karboksil sisteinil,histidil,hidroksil dan
fosfatil dari protein dan purin. Kemungkinan besar pengaruh toksisitas Cd disebabkan oleh
interaksi antara Cd dan protein tersebut, sehingga menimbulkan hambatan terhadap aktivitas
kerja enzim dalam tubuh.
Plasma enzim yang diketahui dihambat Cd ialah aktivitas dari enzim alfa anti tripsin. Terjadinya
defisiensi enzim ini dapat menyebabkan emfisema dari paru dan hal ini merupakan salah satu
gejala gangguan paru karena toksisitas Cd.

Gejala Toksisitas Cd
Kadmium lebih beracun bila terhisap melalui saluran pernafasan dari pada melalui
saluran pencernaan. Kasus keracuan akut kadmuim kebanyakan dari menghisap debu dan asap
kadmium, terutama kadmium oksida(CdO). Dalam beberapa jam setelah menghisap,korban akan
mengeluh gangguan saluran pernafasan, nausea, muntah,kepala pusing dan sakit pinggang.
Kematian disebabkan karena terjadinya oedema paru-paru. Apabila pasien tetap bertahan hidup,
akan terjadi emfisema atau gangguan paru-paru dapat jelas terlihat.
Keracunan kronis terjadi bila inhalasi Cd dosis kecil dalam waktu lama dan gejalanya
juga berjalan kronis. Kadmium dapat menyebabkan nefrotoksisitas(toksik ginjal) yaitu gejala
proteinuria,glikosuria dan aminoasiduria disertai dengan penurunan laju filtrasi glumerulus
ginjal. Kasus keracunan Cd kronis juga menyebabkan gangguan kadrdivaskuler dan hipertensi.
Hal tersebut terjadi karena tingginya afinitas jaringan ginjal terhadap kadmium. Gejala
hipertensi ini tidak selalu terjadi pada kasus keracunan kronis kadmium. Selain itu, kadmium
dapat menyebabkan terjadinya gejala osteomalasea karena terjadi interferensi daya
keseimbangan kandungan kalsium dan fosfat dalam ginjal.

38
Cara Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan utama dalam penanggulangan keracunan logam pada manusia terutama
terhadap bayi dan anak-anak perlu dilakukan dengan 2 hal yaitu :
a) Hidup atau tinggal di lingkungan yang bersih dan bebas polusi.
b) Makan dan minum dari bahan makanan atau produk makanan yang berkadar logam rendah.

Pengobatan toksisitas Cd biasanya hanya bersifat suportif saja seperti pemberian vitamin
D untuk pengobatan nyeri tulang. Pengobatan dengan mengguanakan bahan kelat tidak
dianjurkan, walaupun dapat meningkatkan ekskresi Cd melalui ginjal, tetapi hal tersebut juga
dapat menyebabkan toksik pada ginjal. Kondisi tersebut terjadi karena ikatan kompleks dari
kelasi dapat menyebabkan reaksi disosiasi ginjal pada waktu terjadi pembebasab Cd.

Dampak Bagi Lingkungan


Dalam strata lingkungan, logam cadmium(Cd) dan persenyawaannya ditemukan dalam
banyak lapisan. Secara sederhana dapat diketahui bahwa kandungan logam Cd akan dapat
dijumpai di daerah penimbunan sampah dan aliran air hujan,selain dalam air buangan. Logam
Cd juga membawa sifat racun yang dapat sangat merugikan semua organisme hidup termasuk
manusia.
Dalam badan perairan, kelarutan Cd dalam konsentrasi tertentu dapat membunuh biota
perairan. Biota-biota yang tergolong crustacea akan mengalami kematian dalam waktu 24-504
jam bila dalam badan air dimana rentang konsentrasi Cd dalam perairan adalah 0,005-0,15 ppm.
Untuk biota yang tergolong insecta akan mengalami kematian 24-672 jam dimana rentang
konsentrasi Cd adalah 0,0028-4,6 ppm. Sedangkan untuk perairan tawar,seperti ikan emas akan
mengalami kematian dalam waktu 96 jam dengan rentang konsentrasi Cd dalam perairan yaitu
1,092-1,104 ppm.
Cara Pencegahan
Upaya penanganan pencemaran logam berat sebenarnya dapat dilakukan dengan
menggunakan proses kimiawi. Seperti penambahan senyawa kimia tertentu untuk proses
pemisahan ion logam berat atau dengan resin penukar ion (exchange resins), serta beberapa
metode lainnya seperti penyerapan menggunakan karbon aktif, electrodialysis dan reverse
osmosis. Penanganan logam berat dengan mikroorganisme atau mikrobia (dalam istilah Biologi
dikenal dengan bioakumulasi,bioremediasi, atau bioremoval), menjadi alternatif yang dapat
39
dilakukan untuk mengurangi tingkat keracunan elemen logam berat di lingkungan perairan
tersebut. Penyerapan ion logam berat oleh sianobakteria dan mikroorganisme terdiri atas dua
mekanisme yang melibatkan proses aktif uptake (biosorpsi) dan pasif uptake (bioakumulasi).

Tembaga
Cu dalam lingkungan
Tembaga masuk kedalam tatanan lingkungan perairan dapat berasal dari peristiwa-
peristiwa alamiah dan sebagai efek samping dari aktivitas yang dilakukan oleh manusia.Secara
alamiah, Cu masuk kedalam badan perairan sebagai akibat dari erosi atau pengikisan batuan
mineral dan melalui persenyawaan Cu di atmosfir yang dibawa turun oleh air hujan. Secara
singkat daur tembaga di lingkungan adalah sebagai berikut : Kandungan tembaga yang terdapat
dalam bebatuan terkikis oleh air hujan. Air hujan ini memecah kandungan tembaga dalam
bebatuan dan melarutkan ion tembaga tersebut dalam air. Air yang mengandung tembaga terus
mengalir ke sungai, ke sumber-sumber air, dan meresap ke dalam tanah. Didalam tanah yang
mengandung tembaga, unsur hara tersebut akan diserap oleh akar tanaman dalam bentuk kation
Cu2+ melalui suatu proses aktif. Dengan adanya kandungan tembaga ini akan membantu
tumbuhan dalam pembentukan klorofil.kemudian tumbuhan yang mengandung tembaga ini
dimakan oleh consumer sehingga tembaga berpindah ke hewan. Tumbuhan dan hewan mati,
feses dan urinnya akan terurai menjadi Cu2+. Oleh bakteri, tembaga tersebut akan diubah
menjadi tembaga yang dapat diserap oleh tumbuhan. Dan seperti ini akan terus berulang.
Aktivitas manusia seperti buangan industri, pertambangan Cu, industry galangan kapal
dan bermacam-macam aktivitas pelabuhan lainnya merupakan salah satu jalur yang
mempercepat terjadinya peningkatan kelarutan Cu dalam badan-badan perairan. Masukan
sebagai efek samping dari aktivitas manusia ini, lebih ditentukan oleh bentuk dan tingkat
aktivitas yang dilakukan. Proses daur ulang yang terjadi dalam sistem tatanan lingkungan
perairan yang merupakan efek dari aktivitas biota perairan juga sangat berpengaruh terhadap
peningkatan Cu dalam badan perairan.
Bentuk – Bentuk Keracunan Cu
Bentuk tembaga yang paling beracun adalah debu-debu Cu yang dapat mengakibatkan
kematian pada dosis 3,5 mg/kg. Garam-garam khlorida dan sulfat dalam bentuk terhidrasi yang
sebelumnya diduga mempunyai daya racun paling tinggi, ternyata memiliki daya racun yang
lebih rendah dari debu – debu Cu. Pada manusia, efek keracunan utama yang ditimbulkan akibat
40
terpapar oleh debu atau uap logam Cu adalah terjadinya gangguan pada jalur pernapasan sebelah
atas. Efek keracunan yang ditimbulkan akibat terpapar oleh debu atau uap Cu tersebut adalah
terjadinya kerusakan atropik pada selaput lendir yang berhubungan dengan hidung. Kerusakan
itu, merupakan akibat dari gabungan sifat iritatif yang dimiliki oleh debu atau uap Cu.
Sesuai dengan sifatnya sebagai logam berat beracun, Cu dapat mengakibatkan keracunan
akut dan kronis. Terjadinya keracunan akut dan kronis ini ditentukan oleh besar dosis yang
masuk dan kemampuan organisme untuk menetralisir dosis tersebut.
1. Keracunan akut
Gejala – gejala yang dapat dideteksi sebagai akibat keracunan akut tersebut adalah :
a. Adanya rasa logam pada pernapasan penderita.
b. Adanya rasa terbakar pada epigastrum dan muntah yang terjadi secara berulang – ulang.
2. Keracunan kronis
Pada manusia, keracunan Cu secara kronis dapat dilihat dengan timbulnya penyakit Wilson dan
Kinsky.gejala dari penyakit Wilson ini adalah terjadi hepatic cirrhosis, kerusakan pada otak, dan
demyelinas, serta terjadinya penurunan kerja ginjal dan pengendapan Cu dalam kornea mata.
Penyakit Kinsky dapat diketahui dengan terbentuknya rambut yang kaku dan berwarna
kemerahan pada penderita. Sementara pada hewan seperti kerang, bila didalam tubuhnya telah
terakumulasi dalam jumlah tinggi, maka bagian otot tubuhnya akan memperlihatkan warna
kehijauan. Hal ini dapat menjadi petunjuk apakah kerang tersebut masih bisa dikonsumsi
manusia atau tidak.

Cara Mengobati Dampak Keracunan Tembaga (Cu)


Pengobatan keracunan Cu yang paling efektif untuk pengobatan toksisitas Cu ialah
kelator penisilin. Kelator ini juga sangat baik untuk pengobatan beberapa penyakit seperti
Wilson diseases dan beberapa penyakit lain termasuk radang sendi Rhematoid arthritis.

41