Anda di halaman 1dari 23

TUGAS ILMU PENYAKIT DALAM VETERINER II

PARTURIENT PARESIS (MILK FEVER)

Disusun oleh:
Kelas A
Kelompok 3:
Amelia Yovita Susanto 1309005078
Hartina Samosir 1309005081
Tessa Saputri Marmanto 1309005082
Satria Anugrah Dewantara 1309005083
Saptarima Eka E. Boro 1309005084
Febio Tomasini Marciano Meus 1309005087
Teresia Irene Julianta S. 1309005088
Gigih Pambudi 1309005089
Grace Tabitha Tenggi Olihta S. 1309005090
Annabella Ruth Wijaya 1309005091
I Gusti Ngurah Surya Pranata 1309005117
I Putu Gede Widnyana Aryawiguna 1309005118
I Wayan Widya Adigunawan 1309005119
Gusti Ayu Made Sri Antari 1309005125
Ni Kadek Marliani 1309005126
Mersy Rambu Maramba Ndiha 1309005127

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat dan rahmatnya, paper ini dapat diselesaikan dengan baik. Paper ini disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Penyakit Dalam Veteriner II, Fakultas
Kedokteran Hewan, Universitas Udayana.
Kami berterima kasih kepada drh. Sri Kayati Widyastuti yang mengajar mata
kuliah ini, khususnya pada bahasan penyakit parturient paresis (milk fever). Kami
juga berterima kasih kepada teman sekelompok dan pihak-pihak lain yang tidak
disebutkan namanya, yang sudah membantu proses penyusunan paper ini.
Segala kritik dan saran kami harapkan demi kebaikan paper ini dan agar kami
berkembang lebih baik lagi.

Denpasar, 14 Maret 2016

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

COVER .......................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................ iii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2 Tujuan ............................................................................................... 2
1.3 Manfaat ............................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 3
2.1 Etiologi ............................................................................................. 3
2.2 Hewan Rentan ................................................................................... 4
2.3 Patogenesis ....................................................................................... 5
2.4 Tanda Klinis...................................................................................... 8
2.5 Diagnosis ........................................................................................ 12
2.6 Pencegahan ..................................................................................... 13
2.7 Pengobatan ...................................................................................... 15
BAB III PENUTUP ................................................................................................ 17
3.1 Kesimpulan ..................................................................................... 17
3.2 Saran ............................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 19

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Sapi perah yang menderita milk fever ................................................ 10


Gambar 2.2 Dampak milk fever ............................................................................. 12
Gambar 2.3 Strategi preventif milk fever ............................................................... 13

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kejadian yang acap kali menimpa peternak pasca melahirkan khususnya
pada ternak sapi adalah kurangnya asupan kalsium yang menjadikan hewan
terkait menjadi lumpuh. Kebutuhan kalsium yang tinggi selama masa
kebuntingan dan masa menyusui menjadikan tantangan yang harus dihadapi
setiap peternak agar kejadian parturient paresis atau milk fever ini tidak terjadi.
Banyak faktor yang mempengaruhi terhadap kejadian penyakit ini di lapangan,
mulai dari manajemen pakan yang minim kalsium sampai faktor usia ternak.
Pentingnya pemahaman mengenai kejadian penyakit ini menjadikan para
peternak harus lebih peka lagi mengenai kasus ini agar penanganannya dapat
dilakukan dengan tepat. Perlu dipahami dalam kejadian parturient paresis ini
bahwa kalsium yang ada juga berperan dalam menjaga sistem saraf hewan.
Itulah sebabnya klinis yang dapat diamati dalam kejadian ini adalah
kelumpuhan; yang oleh sebagian besar peternak menyebutnya dengan “ambruk
secara tiba-tiba”. Jika pemahaman peternak kurang, maka masalah ini akan
menjadi masalah serius yang jika dibiarkan akan menjadikan kesalahpahaman
yang fatal (misalnya dikira terserang penyakit viral mematikan). Memberikan
pemahaman yang benar merupakan tugas seorang dokter hewan agar
masyarakat tidak perlu khawatir dan penanganannya cukup dengan pemberian
preparat kalsium dengan dosis tertentu.
Dalam paper ini akan dibahas mengenai parturient paresis, mulai dari
proses terjadinya sampai penanggulangan yang perlu diambil. Diharapkan
dengan adanya paper ini, masyarakat dan calon dokter hewan terutama yang
akan berkarya di lapangan dapat memahami dengan benar penanggulangannya,
sebab penyakit ini akan sering dijumpai di lapangan.

1
1.2 Tujuan
Adapun tujuan penulisan paper ini diantaranya untuk memberikan
pencerahan mengenai proses terjadinya milk fever, tanda klinis, diagnosis,
penanganan sampai pencegahannya.

1.3 Manfaat
Manfaat penulisan paper ini diharapkan para pembaca yang budiman
dapat mengambil hikmah dan dapat menerapkan apa yang dapat dilakukan jika
kajadian milk fever terjadi di lapangan, pengobatan apa yang dipilih (meliputi
pertolongan pertama, dan pengobatan selama dan setelah) berdasarkan dari
patogenesa penyakit dan tanda kinisnya. Manfaat lainnya adalah mengingat
kejadian penyakit ini sering terjadi, pembaca dapat menyebarkan informasi
mengenai penyakit ini kepada para kolega peternak agar tidak perlu panik jika
kejadian ini terjadi, melainkan harus memanggil dokter hewan dengan segera
agar hewan dapat diberikan penanganan yang tepat.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Etiologi
Parturient paresis (milk fever) adalah penyakit metabolik yang sering
terjadi pada sapi (khususnya sapi perah). Penyakit ini disebabkan oleh kondisi
hypocalcemia dimana kadar Ca di dalam darah rendah. Kebutuhan Ca di dalam
tubuh sapi berperan penting dalam fungsi saraf. Oleh karena itu, apabila kadar
Ca dalam darah turun dengan drastis maka pengaturan urat saraf akan berhenti,
sehingga fungsi otak pun terganggu. Hal ini dapat menyebabkan kelumpuhan
pada ternak.
Pada akhir masa kebuntingan, kebutuhan sapi akan Ca cukup tinggi,
sebab jumlah yang dibutuhkan cukup besar. Oleh karena itu, apabila Ca dalam
ransum tidak mencukupi, maka Ca yang berada dalam tubuh akan
dimobilisasikan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Demikian juga pada masa
awal laktasi, kebutuhan Ca juga meningkat, sebab setiap kg air susu
mengandung Ca 1,2 sampai dengan 1,4 gram. Sedangkan Ca dalam darah
adalah 9–12 mg/100ml, sehingga sekresi susu yang mendekati 2 kg akan
memerlukan semua Ca yang terdapat dalam darah, padahal jumlah Ca dalam
darah tidak dapat kurang. Jika keadaan Ca dalam darah tidak dapat
dipertahankan maka sapi akan mengalami milk fever.
Faktor predisposisi meliputi bertambah tua ternak tersebut (lebih dari 5
tahun), 20% herediter, produksi susu yang terlalu tinggi, nafsu makan ternak
yang semakin lama semakin berkurang. Faktor etiologi menjelaskan bahwa
adanya gangguan sistim saraf, alergi, gangguan neuromuskuler, penyakit
turunan, penyakit infeksi, dan defisiensi mineral dan vitamin dalam pakan
seperti Ca, P, vit A, vitamin D. Pada umumnya sapi penderita mempunyai
konsentrasi kalsium darah kurang dari 7 mg/dl. Implikasi menurunnya peran
fungsi kalsium mempunyai dampak yang luas terhadap sistem kekebalan dan

3
penyakit-penyakit lain pada sapi periode periparturien. Pemberian kalsium
dengan kadar tinggi dan perbandingan kalsium dan fosfor yang tinggi di dalam
ransum kepada sapi perah pada periode kering dapat merangsang pelepasan
calcitonin dari sel-sel parafolikuler pada kelenjar thyroid, sehingga
menghambat penyerapan Ca ke dalam tulang oleh parathormon. Hypercalcemia
menghambat sekresi parathormon dan merangsang sekresi calcitonin.
Calcitonin merupakan suatu zat yang dapat menurunkan konsentrasi Kalsium
dalam darah dengan jalan menghambat reasorbsi oleh tulang. Pengaruh ini
cenderung menghambat adaptasi normal sapi tersebut terhadap kekurangan Ca
pada permulaan partus dan laktasi yang menyebabkan terjadinya paralysis.

2.2 Hewan Rentan


Milk fever menyerang sapi perah yang memasuki laktasi ketiga atau lebih.
Penyakit ini dapat menyerang sapi dalam segala usia dan lebih umum dijumpai
pada sapi ras Channel Island, yaitu Alderney, Jersey, dan Guernsey. Menurut
Subronto (2003), penyebab sapi perah yang baru melahirkan terkena hipokalsemia,
sehingga terjadi kasus milk fever adalah:
 Hormon paratiroid yang kadarnya mengalami penurunan dalam darah
(defisiensi). Meskipun beberapa waktu milk fever diduga disebabkan oleh
kurangnya hormon paratiroid , akan tetapi dalam penelitian lebih lanjut
diketahui bahwa kadar hormon tersebut dapat meningkat dengan cepat apabila
hormon di dalam darahmengalami penurunan.
 Penurunan kadar kalsium yang normalnya 9-12 mg turun menjadi 4-5 mg.
kadar fosfor yang normalnya adalah 5-6 mg/dl mengalami penurunan hingga
hanyasekitar 1 mg/dl/ hal ini dihubungkan oleh mobilisasi mineral Ca dan P ke
dalamkolostruim secara tiba-tiba saat sapi menjelang melahirkan.
 Dugaan lain menyangkut hormon tirokalsitonin. Tirokalsitonin mampu
mengatur mukosa sel usus dalam menyerap Ca dalam tubuh dan mengatur kadar
Ca dalamdarah. Sapi-sapi yang menerima pakan yang mengandung Ca dalam
jumlah besar selama mengandung, banyak yang menderita milk fever saat
melahirkan. Hal inididuga karena hormon tirokalsitonin yang dihasilkan oleh

4
oleh sel C dari kelenjar tiroid terbiasa mengatur mineral kalsium dalam jumlah
kecil.Pada saat kelahiran untuk mencukupi kebutuhan Ca dari tulang dan darah
ke kolostrum, secara teoritis dibutuhkan kalsium yang banyak. Dan dalam
penelitianterhadap sapi yang baru melahirkan diketahui bahwa kadar hormon
tidak mengalami perubahan yang mencolok.
 Milk mungkin terjadi akibat gangguan produksi vitamin D. Dengan pengambilan
pakan yang berlebihan dalam mineral kalsium dan fosfor akan mampu untuk
menyebabkan penurunan 1,25 vitamin D.
 Hormon estrogen dan steroid kelenjar adrenal dapat menurunkan absorpsi
kalsiumdari usus dan mobilisasi mineral tersebut dari tulang
Milk fever kadang terjadi pada babi dan dapat menyerang babi sehat. Kondisi
yang terjadi pada babi sama dengan yang terjadi pada sapi, spesies yang lebih
mendapat perhatian tentang penyakit ini (Hungerford, T. G., 1967). Penelitian pada
masa awal penyakit ini mulai diteliti yang dilakukan oleh Dr. Dryerre dan Greig
menunjukkan bahwa disfungsi kelenjar paratiroid merupakan faktor utama. Akibatnya
adalah penurunan kadar kalsium darah yang kadang berkorelasi dengan turunnya kadar
fosfor. Para ahli percaya bahwa kadar magnesium juga turun tapi tanpa penurunannya
biasa dikaitkan dengan hyperaestesia atau bahkan tetani yang merupakan pengaruh
yang sangant komplikatif/ rumit. Maka dari itu dibedakan dengan pingsan yang
disebabkan oleh hipokalsemia baik dengan atau tanpa hypophospatemia, sangat sedikit
literature yang membahas hal ini terutama pada babi. Hipokalsemia atau milk fever
pada babi berbeda dengan kejadian pada sapi dan domba. Namun penyebab dan
pengobatan yang dilakukan biasanya sama (Hungerford, T. G., et all., 1967).

2.3 Patogenesis
Kegagalan homeostatis kalsium pada awal laktasi merupakan penyebab
utama milk fever. Kebutuhan yang mendadak terhadap kalsium (Ca) untuk
sintesis kolostrum di dalam kelenjar ambing yang berlaktasi merupakan factor
penyebeb kegagalan homeostatis Ca. Perubahan pola pemberian pakan dalam
proses pencernaan pada saat melahirkan akan mengganggu keseimbangan
metabolisme mineral di dalam tubuh. Foetus menyerap Ca dari placenta sebesar
0,2 g/jam dan akan berhanti pada saat lahir, tetapi kebutuhan Ca tersebut akan

5
terus meningkat dengan berlangsungnya proses laktasi sebesar 1 g Ca/jam.
Namun pada umumnya sapi akan beradaptasi dengan cara mengatur kecepatan
aliran masuk (inflow) dan keluar (outflow) dari Ca. Tetapi proses adaptasi ini
berlangsung tidak sempurna karena adanya hypocalsemia sementara (transient
sebagai penyebab turunnya Ca normal dari 9,5 mg/dl menjadi 7,0 mg/dl,
terutama pada sapi yang lebih tua pada saat kelahiran ketiga dan berikutnya.
Keparahan hypocalsemia hanya bergantung pada output (keluarnya) Ca melalui
susu pada hari pertama laktasi akan tetapi hal terpenting adalah beberapa sapi
dapat menderita hypocalsemia yang lebih parah dibandingkan sapi lainnya
bahkan dengan tingkat produksi susu yang sama. Tingkat kritis Ca plasma
adalah 6,5 mg/dl, karena kadar Ca pada hypocalsemia ini terlihat tidak
sebanding dengan motilitas saluran pencernaan. Kondisi statis pada saluran
pencernaan akan menghambat pasokan Ca dari pakan sapi akan segera
mengalami hypocalsemia yang parah, menurun hingga sekitar 4,5 mg/dl, yang
dimana gejala klinis akan mulai terlihat.
Blowey (1988) menyatakan bahwa induk sapi secara normal memiliki
cadangan kalsium yang cukup dalam tulangnya (6.000 g) maupun dari asupan
pakan melalui saluran pencernaan (100g) serta hanya dalam jumlah kecil
terdapat di dalam sirkulasi darah (8 g). Cadangan kalsium tersebut tidak cukup
untuk memenuhi kebutuhan pedet bila terjadi perubahan yang drastic pada
akhir kebuntingan (5 g/hari) dan untuk menghasilkan susu pada masa awal
laktasi (25 g/kg). Secara normal, setiap hari selalu terjadi kehilangan kalsium
melalui ekskresi urin dan feces yang tidak dapat dihindari oleh induk sapi
perah. Kondisi ini semakin parah karena kolostrum mengandung kalsium dua
kali lebih banyak daripada susu (2 g/liter berbanding I g/liter) sehingga terjadi
kehilangan kalsium yang drastis dalam cairan tubuh. Oleh karena itu, pada saat
melahirkan, kebutuhan kalsium akan meningkat tinggi secara mendadak yang
mengakibatkan induk sapi mengalami penurunan kadar kalsiurn dalam darah.
Secara fisiologis, pengaturan kadar kalsium darah dilakukan oleh
beberapa organ tubuh yang saling berinteraksi, yaitu hati, kelenjar parathyroid,

6
ginjal dan tulang. Sapi mendapatkan vitamin D3 dari diet atau melalui sintesis
vitamin D3 pada kulit dibawah pengaruh sinar ultra-violet yang berasal dari
sinar matahari. Vitamin D3 pertama kali mengalami aktivasi untuk berubah
menjadi 25 hidroksi D3 [= 25(OH)D3] di dalam jaringan hati. Menurunnya
kadar kalsium darah akan merangsang pelepasan hormon parathyroid yang
terdapat di dalam kelenjar parathyroid. Hormon ini memiliki kemampuan untuk
merangsang pelepasan kalsium dan fosfor dari tulang. Metabolit vitamin D 3 [=
25(OH)D3] yang disinstesis di dalam hati menjadi bentuk yang sangat aktif
hingga 1,25 dihidroksi vitamin D3[1,25 (OH)2D3] di dalam ginjal. Senyawa
1,25 (OH)2D3 ini bertanggung jawab dalam penyerapan kalsium dari tulang
dan khususnya saluran pencernaan, dimana usus halus merupakan sumber
utama kalsium selama melahirkan, karena mobilisasi kalsium dari tulang
memerlukan waktu yang lama, yaitu antara 10-14 hari (Payne, 1989). Kondisi
in] menjadi penting, karena otot usus halus sangat peka terhadap kadar kalsium
rendah yang dapat menurunkan aktivitas usus halus sehingga menimbulkan
gejala milk fever. Rendahnya kadar kalsium akan menurunkan motilitas rumen
sehingga mengurangi asupan nutrisi dan selanjutnya penurunan aktivitas
intestinal akan mengurangi absorpsi kalsium dari saluran pencernaan.
Sapi pada umumnya akan mengalami peningkatan kadar hormon
parathyroid dan 1,25 (OH)2D3 pada saat melahirkan, namun beberapa di
antaranya tidak mampu mencapai tingkat yang cukup untuk mencegah
timbulnya milk fever. Aktivitas kedua hormon ini dirangsang oleh keberadaan
magnesium di dalam ginjal. Oleh karena itu, bila terjadi penurunan asupan
magnesium selama periode kering kandang dapat meningkatkan kejadian milk
fever. Hormon estrogen dapat menghambat mobilisasi kalsium dan kadar
estrogen biasanya meningkat pada saat melahirkan. Sapi perah dewasa (tua)
lebih peka terhadap milk fever daripada sapi muda (dara) karena cadangan
kalsiumnya lebih rendah . Oleh sebab itu, sapi dara (belum beranak) tidak
pernah mengalami milk fever dan penyakit ini jarang dijumpai pada induk sapi
beranak kedua. Sapi yang pernah mengalami milk fever pada saat melahirkan

7
akan lebih peka pada kelahiran berikutnya. Faktor lain yang dapat
menimbulkan penyakit ini adalah bangsa sapi (sapi Jersey lebih peka daripada
bangsa lainnya), cekaman (stress) lingkungan dan produksi susu (semakin
tinggi produksi susu maka semakin sering kejadian milk fever) (Payne, 1989).

2.4 Tanda Klinis


Sapi penderita milk fever akan mengalami kesulitan kontraksi otot,
termasuk juga otot-otot lubang puting. Laju kontraksi otot polos intestinal
sejalan dengan konsentrasi kalsium darah. Sphincter lubang puting tersusun
dari otot-otot polos. Kontraksi otot-otot polos tersebut akan menyebabkan
lubang puting menutup. Jika terjadi hipokalsemia maka akan terjadi penurunan
kekuatan dan laju kontraksi otot polos tersebut dan pada akhirnya akan
menyebabkan gangguan penutupan lubang puting. Dan sebagaimana kita tahu
bahwa lubang puting akan membuka sangat lebar setelah proses pemerahan dan
semakin lebar bila sapi tersebut produksi susunya tinggi.
Selain itu penderita milk fever cenderung untuk rebah karena tidak
mampu menopang berat badannya, karena kelemahan kontraksi otot-otot
tubuhnya. Terbukanya lubang puting dan kecenderungan sapi rebah akan
meningkatkan kemungkinan masuknya bakteri melalui lubang puting yang
menjadi dasar proses kejadian mastitis. Sementa itu, neutrofil dan limfosit
perifer mengalami penurunan fungsi kekebalan pada sapi penderita milk fever.
Dengan demikian memang milk fever meningkatkan risiko mastitis. Beberapa
penelitian menyatakan bahwa risiko matitis meningkat 8 kali pada sapi
penderita milk fever.
Hipokalsemia juga menjadi stressor bagi sapi perah. Sapi perah yang
memasuki inisiasi partus akan terjadi peningkatan kadar kortisol 3-4 kali. Pada
sapi hipokalsemia subklinis ditemukan peningkatan kortisol 5-7 kali saat partus,
sementara pada sapi yang mengalami milk fever ditemukan peningkatan
kortisol 10-15 kali lipat (Horst and Jorgensen, 1982). Tingginya kadar kortisol

8
akan menyebabkan imunosupresi pada sapi pada periode periparturien dan
diduga mulai terjadi 1-2 minggu sebelum partus.
Penyakit ini ditandai dengan adanya penurunan kadar kalsium di dalam
darah, yang normalnya 9-12 mg/dl menjadi kurang dari 5 mg/dl. Sebanyak 90%
kejadian ditemukan dalam 48 jam setelah proses kelahiran. Jumlah kejadian
penyakit akan meningkat sejalan dengan bertambahnya umur sapi perah. Milk
Fever biasanya ditemukan pada sapi perah yang telah beranak lebih dari 3 kali.
Kejadian penyakit 3-4 kali lebih tinggi pada sapi yang dilahirkan dari induk
yang pernah mengalami Milk Fever. Gejala-gejala yang ditimbulkan penyakit
milk fever antara lain: sapi nampak gusar dalam waktu yang singkat, kemudian
kaki belakang nampak lemah, sulit digerakkan, gerakkan rumen terhenti dan
nafsu makan hilang. Sapi terlihat berbaring terus-menerus dengan posisi seperti
sapi yang sehat, tetapi lehernya dilipat dan kepalanya diletakkan di sisi
tubuhnya. Selain itu, sapi akan sulit menelan dan terjadi salivasi serta bola mata
setengah menutup, suhu tubuh menurun sampai 350, reaksi terhadap lingkungan
tidak sempurna yang akhirya akan terjadi kelumpuhan. Kelumpuhan ini bisa
terjadi beberapa hari sebelum ataupun sesudah melahirkan.
Gejala pertama yang terlihat pada penderita adalah induk sapi mengalami
sempoyongan waktu berjalan atau berdiri dan tidak adanya koordinasi gerakan
yang menyebabkan sapi terjatuh, dan sapi terlihat berusaha untuk berdiri. Bila
pada stadium ini induk sapi segera mendapatkan pengobatan gejala paresis
tidak akan muncul.
Bila pengobatan belum dilakukan gejala berikutnya adalah induk sapi
akan terlihat berbaring pada sebelah sisinya atau pada tulang dada (sternal
recumbency) dan diikuti dengan kepalanya yang dijulurkan ke arah atas kedua
kaki depan atau kepala diletakkan disebelah sisi dari tubuh diatas bahu/scapula
(kurva S), namun ada juga yang tidak disertai kurva S. Matanya mejadi
membelalak dan pupilnya berdilatasi, anoreksi, moncongnya kering dan suram,
hewan tidak peka terhadap sakit dan suara, suhu rektal umumnya sub normal
walaupun terkadang masih dalam batas normal, rumen dan usus mengalami

9
atoni, anggota badan dingin, denyut jantung meningkat, defekasi terhambat dan
anus relaksasi.

Gambar 2.1. Sapi perah yang menderita milk fever

Bila pengobatan ditunda beberapa jam kemudian induk sapi akan


kehilangan kesadaran dan jika tidak ada penanganan atau pengobatan sama
sekali induk sapi akan bertambah stress dan berbaring dengan posisi lateral
(tahap komstose). Hewan tidak dapat bangun lagi dan akibat gangguan
berbaring terus terjadi timpani. Pulsa meningkat (sampai lebih dari 120 x),
pupil mata berdilatasi, kepekaan terhadap cahaya menghilang dan akhirnya
beberapa jam terjadi kematian.
Secara garis besar, gejala klinis milk fever yang dapat diamati tergantung
pada tingkat dan kecepatan penurunan kadar kalsium di dalam darah. Dari
kedua faktor tersebut, gejala klinis milk fever pada sapi dapat dibagi atas tiga
stadium yaitu:
 Stadium I atau stadium prodromal. Pada stadium ini sapi akan terlihat
gelisah dengan ekspresi muka yang tampak agresif/beringas. Nafsu
makan dan pengeluaran kemih serta tinja terhenti. Sapi mengalami
rangsangan dari luar yang memicu terjadinya hipersensitivitas. Otot
kepala maupun otot kaki tampak gementar. Waktu berdiri,sapi akan
terlihat kaku,tonus otot alat-alat gerak meningkat dan bila bergerak

10
terlihat inkoordinasi sehingga sapi akan sulit bergerak,dan bila
dipaksakan sapi akan terjatuh.
 Stadium II atau stadium berbaring/recumbent. Sapi sudah tidak mampu
berdiri, sapi hanya berbaring pada sternum dengan kepala mengarah ke
belakang seperti huruf S. Kulit tampak kering karena dehidrasi. Sapi
tampak lesu, pupil mata normal atau membesar dan tanggapan pada
rangsangan sinar jadi lambat atau hilang sama sekali. Tanggapan terhadap
rangsangan rsa sakit juga berkurang, otot jadi kendor, spinchter ani
mengalami relaksasi, sedang reflek anal jadi hilang dengan rectum yang
berisi tinja kering atau setengah kering. Pada stadium ini induk sapi masih
mau makan dan proses ruminasi meskipun berkurang intensitasnya masih
dapat terlihat. Pada tingkat selanjutnya proses ruminasi hilang dan nafsu
makanpun hilang dan induk sapi akan bertambah lesu. Gangguan sirkulasi
yang mengikuti akan terlihat sebagai pulsus yang frekuen dan
lemah,rabaan pada alat gerak terasa dingin dan suhu rektal yang
subnormal.
 Stadium III atau stadium koma, pada stadium ini induk sapi akan tampak
sangat lemah, tidak mampu bangun lagi dan berbaring pada salah satu
sisinya(lateral recumbency). Kelemahan otot-otot rumen akan segera
diikuti dengan kembung pada rumen. Gangguan sirkulasi akan terlihat
sangat mencolok ,pulsus jadi lemah(120x/menit),dan suhu turun di bawah
normal. Pupil melebar dan refleks terhadap sinar telah hilang. Stadium
koma kebanyakan akan berakhir dengan kematian,meskipun pengobatan
konvensional telah dilakukan.

11
Gambar 2.2. Dampak milk fever

2.5 Diagnosis
Diagnosis dapat diteguhkan melalui pengamatan gejala klinis.
Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan terhadap sapi ini adalah
melakukan pemeriksaan darah. Darah dapat diambil lewat vena jugularis.
Darah yang diambil diperiksa terhadap kadar kalsium darah. Kalsium dalam
serum dapat diukur dengan metoda sangat sederhana sampai metoda yang
mutakhir. Yang termasuk sederhana ialah dengan metoda Clark & Collib yang
menggunakan KmnO4 untuk titrasi. Lainnya ialah dengan metoda “kolorimetri
sederhana”, berdasarkan intensitas warna yang kemudian dibandingkan dengan
warna standar.
Prognosis terhadap kasus hypocalcaemia yaitu fausta-infausta. Fausta jika
kejadian hypocalcaemia cepat ditangani (95% sembuh) dan infausta jika
penanganan yang lambat dan pengobatan pertama yang tidak menunjukkan
perubahan ke arah kondisi yang membaik. Kecepatan dan ketepatan diagnosis
serta pengobatan sangat membantu kesembuhan . kesembuhan spontan hampit
tidak dimungkinkan.
Diagnosis diferensial meliputi mastitis beracun, metritis beracun, kondisi
beracun sistemik lainnya, luka trauma (misalnya, menahan cedera, keseleo
coxofemoral, panggul patah, kompresi tulang belakang), calving paralysis

12
sindrom (kerusakan pada L6 akar lumbar dari sciatic dan saraf obturator), atau
sindrom kompartemen.

2.6 Pencegahan

Gambar 2.3. Strategi preventif milk fever

 Kalsium dalam pakan.


Pemberian pakan dengan kandungan Ca > 100 g/hari selama
masa dry pregnant berhubungan dengan meningkatnya risiko kejadian
milk fever. Sapi dengan berat 500 kg membutuhkan 31 g Ca/hari untuk
maintenance dan kebutuhan fetus pada kebuntingan akhir. Bila sapi
selama dry pregnant diberi pakan dengan kandungan Ca yang tinggi
(>100g/hari), kebutuhan Ca dapat dipenuhi semuanya hanya dengan
transport pasif dari Ca dalam pakan. Transport aktif dan penyerapan Ca
dari tulang, tertekan dan tidak terjadi. Hasilnya, pada saat melahirkan,
pada saat sapi membutuhkan Ca dalam jumlah tinggi sapi tidak bisa
menggunakan mekanisme penyerapan Ca dari tulang maupun transport
aktif Ca dari pakan. Akibatnya, sapi akan mengalami hipokalsemia berat
sampai mekanisme tersebut bisa di rangsang dan bekerja yang biasanya
berlangsung dalam beberapa hari setelah melahirkan. Pakan dengan

13
Fosfor yang tinggi (>80g PO4/hari) juga meningkatkan risiko terjadinya
milk fever. Hal ini terjadi karena tingginya Fosfor dalam darah akan
secara langsung menghambat enzyme yang mengkatalisis pembentukan
1,25 dihidroksi vitamin D di ginjal. Hal ini akan menurunkan produksi
1,25 dihidroksi vitamin D yang pada akhirnya juga menurunkan resorbsi
Ca dari lumen usus halus sebelum kelahiran.
 Pemberian Garam Anionik
Keseimbangan kation-anion dalam pakan sapi transisi sebelum
melahirkan terbukti bisa mempengaruhi kejadian Milk fever. Pakan
dengan kandungan kation yang tinggi khususnya Na + , K + dan Ca ++
cenderung menyebabkan Milk fever. Pakan dengan kandungan anion
yang tinggi khususnya Cl – dan S – bisa mencegah terjadinya Milk fever.
Pakan sapi transisi yang cenderung banyak hijauan, banyak mengandung
kation, khususnya K +. Hal ini akan mengakibatkan sapi akan berada
pada kondisi metabolic alkalosis yang bisa dilihat dari tingginya pH
urine. Penambahan anion akan menakibatkan penurunan metabolic
alkalosis bahkan bisa menyebabkan metabolic acidosis. Hormon
paratiroid dan 1,25 dihidroksi vitamin D menurun kemampuannya dalam
metabolisme Ca bila kondisi darah adalah alkaline. Dan akan meningkat
apabila kondisi darah asam. Ada cara untuk menghitung perbedaan
kation anion dalam pakan (DCAD = Dietary Cation Anion Difference)
yang bisa digunakan untuk menghitung seberapa banyak anion yang
harus ditambahkan dalam pakan agar bisa mengakibatkan metabolic
acidosis. Perbedaan tersebut dinyatakan dalam mEq.
 Injeksi Vitamin D
Vitamin D berperan dalam metabolisme Ca seperti yang sudah
dijelaskan pada pemaparan sebelumnya. Penambahan dalam tubuh dari
sumber luar akan membantu penyerapan Ca dari lumen usus halus.

14
2.7 Pengobatan
Pengobatan dengan injeksi preparat-preparat Ca secara intravenous
500 cc, dengan larutan calsium gluconate 20 %. Pengobatan dilakukan dengan
cara menyuntikkan garan kalsium. Sediaan kalsium yang dipakai antara lain:·
Larutan kalsium khlorida 10% disuntikkan secara intra vena, pemberian yang
terlalu banyak atau terlalu cepat dapat mengakibatkan heart block. Larutan
kalsium boroglukonat 20-30% sebanyak 1:1 terhadap berat badan disuntikkan
secara intra vena jugularis atau vena mammaria selama 10-15 menit. Campuran
berbagai sediaan kalsium seperti Calphon Forte, Calfosal atau Calcitad-50.
Bila kasus ini disertai hipomagnesemia sebaiknya disuntik dengan
kombinasi kalsium boroglukonat dan magnesium boroglukonat yang terdiri dari
kalsium boroglukonat 200 gram, magnesium boroglukonat 50 gram dan
aquades sampai 1000 ml selanjutnya dibuat larutan steril. Dosis pemberian
yaitu 200-500 ml secara intravena. Pada kasus paresis puerpuralis yang disertai
ketosis maka pengobatan dilakukan dengan pemberian kalsium boroglukonat
ditambah dekstrose 5% sebanyak 250-500 ml secara intravena.
Bila pengobatan ini tidak berhasil dapat dicoba pengobatan dengan
menggunakan pemompaan (insufflasi) udara ke dalam keempat kwartir ambing
hingga tekanan intra-mamer meningkat dan menghentikan pengeluaran air susu
berikutnya yang berarti menghentikan penghentian pengurasan unsur kalsium
ke dalam ambing.
Pengobatan cara ini dapat diulangi setiap 6-8 jam. Pengobatan dengan
cara ini terbukti telah mengurangi kematian sebesar 15%. Untuk mencegah
terjadinya komplikasi seperti dekubites, gembung perut atau pneumonia maka
induk penderita sebaiknya selalu dibolak-balik dan diberikan jerami yang cukup
tebal sebagai alas berbaring.
Evaluasi pengobatan dengan penyuntikan kalsium ini diajurkan
mendengarkan denyut jantung dengan stetoskop. Kalau tidak digunakan
stetoskop, secara visual dapat diikuti dengan melihat reaksi penderita,
kecepatan pulsus venosus, gerak bola mata, dan tidaknya eksitasi. Jika terjadi

15
keracunan sediaan kalsium yang harus segera dilakukan adalah menghentikan
penyuntikan, memberikan masase jantung, memberikan sediaan yang berefek
pada jantung (MgSO4, atropin), dan sediaan yang dapat mengikat (chelating
agent) kalsium misalnya Na-EDTA.

16
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Parturient paresis (milk fever) adalah penyakit metabolik yang sering
terjadi pada sapi (khususnya sapi perah). Penyakit ini disebabkan oleh kondisi
hypocalcemia dimana kadar Ca di dalam darah rendah. Kebutuhan Ca di dalam
tubuh sapi berperan penting dalam fungsi saraf. Oleh karena itu, apabila kadar
Ca dalam darah turun dengan drastis maka pengaturan urat saraf akan berhenti,
sehingga fungsi otak pun terganggu. Hal ini dapat menyebabkan kelumpuhan
pada ternak. Pada sapi, ras yang rentan adalah ras Channel Island, yaitu
Alderney, Jersey, dan Guernsey. Penyakit ini juga menyerang ternak lain
seperti babi.
Penyakit ini ditandai dengan adanya penurunan kadar kalsium di dalam
darah, yang normalnya 9-12 mg/dl menjadi kurang dari 5 mg/dl. Sebanyak 90%
kejadian ditemukan dalam 48 jam setelah proses kelahiran. Jumlah kejadian
penyakit akan meningkat sejalan dengan bertambahnya umur sapi perah. Milk
Fever biasanya ditemukan pada sapi perah yang telah beranak lebih dari 3 kali.
Kejadian penyakit 3-4 kali lebih tinggi pada sapi yang dilahirkan dari induk
yang pernah mengalami Milk Fever. Gejala-gejala yang ditimbulkan penyakit
milk fever antara lain: sapi nampak gusar dalam waktu yang singkat, kemudian
kaki belakang nampak lemah, sulit digerakkan, gerakkan rumen terhenti dan
nafsu makan hilang. Sapi terlihat berbaring terus-menerus dengan posisi seperti
sapi yang sehat, tetapi lehernya dilipat dan kepalanya diletakkan di sisi
tubuhnya. Selain itu, sapi akan sulit menelan dan terjadi salivasi serta bola mata
setengah menutup, suhu tubuh menurun sampai 350, reaksi terhadap lingkungan
tidak sempurna yang akhirya akan terjadi kelumpuhan. Kelumpuhan ini bisa
terjadi beberapa hari sebelum ataupun sesudah melahirkan.

17
Diagnosis dapat diteguhkan melalui pengamatan gejala klinis.
Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan terhadap sapi ini adalah
melakukan pemeriksaan darah. Prognosis terhadap kasus hypocalcaemia yaitu
fausta-infausta. diferensial meliputi mastitis beracun, metritis beracun, kondisi
beracun sistemik lainnya, luka trauma (misalnya, menahan cedera, keseleo
coxofemoral, panggul patah, kompresi tulang belakang), calving paralysis
sindrom (kerusakan pada L6 akar lumbar dari sciatic dan saraf obturator), atau
sindrom kompartemen.
Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan pemberian kalsium pada
pakan, pemberian garam anionik dan injeksi vitamin D. Sementara pengobatan
dapat diberikan injeksi preparat kalsium atau pemompaan (insufflasi) udara ke
dalam keempat kwartir ambing.

3.2 Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan kepada pembaca yaitu melakukan
pemeriksaan kadar kalsium darah pada sapi perah yang memasuki masa akhir
kebuntingan untuk menghindari Milk Fever. Karena dengan mengetahi kadar
kalsium darah kita bisa dengan mudah melakukan tindakan medis yang benar.

18
DAFTAR PUSTAKA

Allen, A. J. 2015. Parturient Paresis in Cows.


(http://www.merckvetmanual.com/mvm/metabolic_disorders/disorders_of_calciu
m_metabolism/parturient_paresis_in_cows.html, diakses tanggal 8 Maret 2016).
Anonim. 2015. Penyakit Milk Fever pada Sapi Perah.
http://www.ilmuternak.com/2015/03/penyakit-milk-fever-pada-sapi-perah.html
Girindra, A. 1988. Biokimia Patologi Hewan. PAU-IPB. Bogor.
Goff JP. 2008. The Monitoring, Prevention and Treatment of Milk Fever and
Subclinical Hyocalsemia in Dairy Cows. The Veterinary Journal 176 (1) : 50-57.
Harjopranjoto, S. 1995. Ilmu Kemajiran Pada Ternak. Airlangga University Press.
Surabaya.
Hungerford, T. G., 1967, Disease of Livestock. Angus and Robertson: Sydney
Mulligan, Ogrady, Rice, Desmond. 2006. Production Diseases of the Transition
Cow: Milk Fever and Subclinical Hypocalcaemia. Irish Veterinary Journal.
Volume 59 (12).
Radostits O.M. Blood D.C. And Gray C.C. (1994): Veterinary Medicine. A text book
of the diseases of cattle, sheep, pigs, goats and horses, 8th edition, ELBS,
Balliare,Tindall, London.
Smith Bradford P. (2000): Large Animal Internal medicine 3rd Ed. St.louis
Missouri.pp.1248-1253.
Subronto dan Ida Tjahajati. 2003. Ilmu Penyakit Ternak II. Gadjah Mada University
Press.Yogyakarta
Subronto. 2001. Ilmu Penyakit Ternak II. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Susilo Joko. 2015. Pencegahan dan Penanganan Milk Fever pada Sapi Perah. Medik
Veteriner Muda, Balai Veteriner Lampung. Direktorat Kesehatan Hewan, Dirjen
PKH Kementrian Pertanian RI
(http://www.majalahinfovet.com/2015/12/pencegahan-dan-penanganan-milk-
fever.html).
Triakoso, Nusdianto. 2009. Penyakit Metabolik Pada Sapi Perah - Dampaknya
Terhadap Respon Kekebalan dan Penyakit-penyakit Lain. Universitas Airlangga

19