Anda di halaman 1dari 17

SNI 13-7169-2006

Standar Nasional Indonesia

Istilah dan definisi lingkungan hidup pertambangan

ICS 01.040.73 Badan Standardisasi Nasional


SNI 13-7169-2006

Daftar isi

Daftar isi.....................................................................................................................................i
Prakata .....................................................................................................................................ii
Pendahuluan............................................................................................................................ iii
1 Ruang lingkup.................................................................................................................... 1
2 Acuan normatif................................................................................................................... 1
3 Istilah dan definisi .............................................................................................................. 1
Bibliografi ............................................................................................................................... 11

i
SNI 13-7169-2006

Prakata

Standar Nasional Indonesia (SNI) 13-7169-2006, Istilah dan definisi lingkungan hidup
pertambangan ini disusun oleh Panitia Teknik 37 S, Istilah Teknik Pertambangan Umum.

Standar ini telah disepakati oleh para pemangku kepentingan (stakeholders) yang terkait,
yaitu perusahaan pertambangan, perguruan tinggi/lembaga penelitian, asosiasi di bidang
pertambangan umum dan instansi teknis terkait serta Pusat Bahasa Departemen Pendidikan
Nasional.

Istilah dan definisi lingkungan hidup pertambangan ini memuat pengertian atau penjelasan
berbagai istilah yang berkaitan dengan lingkungan hidup pertambangan, sebagai rujukan
bagi yang ingin berkomunikasi serta berkepentingan dengan bidang pertambangan.

SNI ini merupakan hasil Forum Konsensus Nasional yang dilaksanakan di Jakarta pada
tanggal 13 – 15 Desember 2004.

ii
SNI 13-7169-2006

Pendahuluan

Kemajuan yang cukup pesat di bidang pertambangan memberikan pengaruh yang signifikan
pada penyampaian informasi. Pengaruh ini dirasakan oleh pelaku usaha pertambangan
pada khususnya dan masyarakat pertambangan pada umumnya. Untuk itulah perlu adanya
standar istilah yang tepat dan sesuai sehingga terdapat penafsiran yang sama terhadap
istilah yang timbul. Sebagaimana diketahui, istilah-istilah di bidang pertambangan banyak
yang berasal dari istilah asing sehingga perlu dipadankan ke dalam bahasa Indonesia.

Penyusunan istilah dan definisi lingkungan hidup pertambangan ini memerlukan waktu,
pikiran, dan keuletan. Selain itu juga yang tak kalah pentingnya diperlukan para ahli dari
berbagai disiplin ilmu seperti teknik eksplorasi, penambangan, metalurgi, lingkungan,
ekonomi dan bahasa agar standar mempunyai bobot yang memadai. Istilah dan definisi ini
disusun secara alfabetis dan dilengkapi dengan istilah sumber dalam bahasa asing yang
dicetak miring.
Istilah dan definisi ini diharapkan dapat memberikan pengertian yang lengkap, jelas, tepat,
berkesinambungan, serta dalam pengungkapannya sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.

iii
SNI 13-7169-2006

Istilah dan definisi lingkungan hidup pertambangan

1 Ruang lingkup

Standar ini merupakan istilah dan definisi lingkungan hidup pertambangan yang
dipergunakan dalam kegiatan pertambangan. Jika terdapat dua atau lebih alternatif istilah
dan definisi yang biasa dipakai, alternatif yang ada tersebut dicantumkan seluruhnya dalam
standar ini.

2 Acuan normatif

SNI 13 - 6339.7.2 - 2000, Istilah uji logam, mineral dan batubara Bagian G: Pengujian baku
lingkungan. Subbagian 2: Uji udara.
SNI 13 - 6339.7.4 - 2000, Istilah uji logam, mineral dan batubara Bagian G: Pengujian baku
lingkungan. Subbagian 4: Uji hayati.
SNI 13 - 6975 - 2003, Pertambangan - Prosedur pemeriksaan kasus lingkungan.

3 Istilah dan definisi

3.1
abu endap, abu dasar - bottom ash
abu sisa pembakaran batubara yang jatuh ke bagian dasar tungku pembakar batubara

3.2
abu terbang - fly ash
abu sisa pembakaran batubara yang keluar dari tungku pembakar batubara bersama aliran
gas buang

3.3
air artesis - artesian water
air tanah yang tertekan dan terperangkap di antara dua lapisan kedap air; jika ada lubang
keluar, baik sengaja dibuat maupun tidak, air tersebut akan keluar dengan sendirinya

3.4
air asam tambang - acid mine water
air tambang yang mengandung asam sulfat yang dihasilkan melalui reaksi kimia dari batuan
yang mengandung mineral sulfida dengan air dan oksigen karena adanya bakteri

3.5
air larian - run off water
air yang berasal dari curah hujan dan/atau salju yang mengalir di permukaan tanah

3.6
air tanah – groundwater
air yang terdapat pada daerah jenuh di dalam tanah atau akuifer

3.7
akuifer – aquifer
satuan batuan berpori di bawah permukaan tanah yang dapat menyimpan dan meluluskan
air

1 dari 11
SNI 13-7169-2006

3.8
ambang batas – ambient, threshold
batas tingkat pencemaran yang diperbolehkan mempengaruhi lingkungan hidup sesuai
dengan ketentuan yang berlaku (UU No. 23/1997 tentang Pengelolaan lingkungan hidup)

3.9
ampas – tailing
bahan sisa proses pengolahan bahan galian yang tidak bernilai ekonomis lagi

3.10
analisis dampak lingkungan (Andal) - environmental impact analysis
telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana
usaha dan/atau kegiatan

3.11
analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) - environmental impact assessment
kajian yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan
keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan

3.12
amblesan permukaan - surface subsidence
penurunan sebagian permukaan tanah akibat batuan di bawahnya turun atau runtuh

3.13
asap ledak - fume
asap yang terbentuk oleh proses peledakan yang pada umumnya beracun atau berbahaya
seperti karbon monoksida, hidrogen sulfida, dan nitrogen oksida

3.14
audit lingkungan - environmental audit
suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
untuk menilai tingkat ketaatan terhadap persyaratan hukum yang berlaku dan/atau suatu
kebijaksanaan dan standar yang ditetapkan oleh penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan yang bersangkutan

3.15
awan debu - dust cloud
partikel-partikel batubara halus atau zat padat lainnya dengan konsentrasi tinggi yang
tersuspensi dalam udara yang mengalir

3.16
bahan berbahaya dan beracun (B3) - hazardous material
1) Setiap bahan yang karena sifat atau konsentrasinya, baik secara langsung maupun
tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup,
kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain.
2) Setiap senyawa atau campurannya yang memiliki sifat-sifat mampu menghasilkan
pengaruh buruk bagi kesehatan dan keselamatan makhluk hidup.
3) material yang memiliki lebih dari satu sifat-sifat berikut:
a) titik pijar di bawah 140oF pada bejana tertutup atau dapat berpijar pada pemanasan
spontan,
b) nilai ambang batas di bawah 500 ppm untuk gas dan uap, di bawah 500 mg/m3
untuk asap dan di bawah 25 mppcf (million particles per cubic foot) untuk debu,
c) dosis tunggal secara oral (LD50) di bawah 50 mg/kg,
d) dapat membebaskan sejumlah besar energi pada proses polimerisasi,

2 dari 11
SNI 13-7169-2006

e) pereduksi atau pengoksidasi yang kuat,


f) dapat menyebabkan luka bakar tingkat pertama pada kulit bila terpapar dalam
waktu singkat atau secara sistemik bersifat toksik pada waktu kontak dengan kulit,
g) karsinogen, beracun, menyebabkan iritasi, korosif dan zat-zat yang dapat merusak
paru-paru, kulit, mata ataupun membran mucus;
h) dapat menghasilkan debu, gas, asap, dan uap yang memiliki karakteristik di atas
pada kondisi operasi normal.

3.17
bahan pencemar, polutan – pollutant
bahan atau energi yang mengubah derajat kualitas lingkungan dan mengakibatkan
gangguan terhadap kelayakan hidup suatu organisme

3.18
baku mutu air – water quality standard
konsentrasi bahan pencemar yang diperbolehkan ada dalam air yang diperkuat melalui
perundang-undangan lingkungan, biasanya bersifat spesifik untuk daerah-daerah tertentu

3.19
baku mutu air limbah – waste water quality standard
ukuran batas atau kadar unsur pencemar dan/atau jumlah unsur pencemar yang ditenggang
keberadaannya dalam air limbah yang akan dibuang atau dilepas ke perairan umum

3.20
baku mutu udara ambien – ambient air quality standard
batas kadar bahan pencemar yang diizinkan terdapat di udara yang tidak menimbulkan
gangguan terhadap makhluk hidup

3.21
bendungan ampas - tailing dam
bendungan yang dibuat untuk membatasi penyebaran ampas

3.22
berozon – ozonic
kondisi udara atau alam yang mengandung ozon

3.23
daerah ledakan – blast area
daerah yang mengalami dampak langsung peledakan, misalnya getaran, perubahan fisik,
dan lain-lain

3.24
daerah bekas tambang - mined out area
daerah yang telah selesai ditambang.

3.25
dampak lingkungan - environmental impact
pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau
kegiatan

3.26
dampak penting - principal impact
perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha
dan/atau kegiatan

3 dari 11
SNI 13-7169-2006

3.27
daur ulang – recycle
pemanfaatan kembali material bekas penggunaan sebelumnya

3.28
debu apung - float dust
partikel-partikel batubara atau zat padat lainnya (ukuran -250 mesh) yang tersuspensi di
udara

3.29
debu tambang - mine dust
partikel-partikel halus hasil kegiatan penambangan

3.30
efek rumah kaca - green house effect
meningkatnya suhu permukaan bumi akibat sinar matahari yang dipantulkan bumi tertahan
oleh gas-gas rumah kaca (CO2, NOx, SOx) sehingga panas sinar tersebut terakumulasi di
troposfer

3.31
efluen – effluent
limbah cair yang dilepas ke perairan umum

3.32
ekolabel – ecolabel
label produk khusus yang menunjukkan bahwa proses produksinya telah memenuhi standar
lingkungan

3.33
ekologi – ecology
ilmu pengetahuan mengenai hubungan antarorganisme dan antara organisme dengan
lingkungannya

3.34
ekosistem – ecosystem
tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling
mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan
hidup

3.35
emisi – emission
pemancaran atau pelepasan suatu zat (gas) dari sumbernya

3.36
erosi – erosion
pengikisan permukaan tanah/batuan akibat air, angin, dan pergerakan massa

3.37
gas beracun - toxic gas
gas yang mengandung bahan berbahaya

3.38
hujan asam - acid rain
air hujan yang mengandung asam (asam sulfat, asam nitrat) karena uap air dalam udara
bereaksi dengan pencemar udara (gas sulfur dioksida, SO2, dan nitrogen dioksida, NO2)

4 dari 11
SNI 13-7169-2006

3.39
karbondioksida - carbondioxide
gas tidak beracun, tidak berbau dan tidak berwarna yang biasanya menjadi bagian udara
sekitar yang merupakan hasil pembakaran bahan bakar fosil

3.40
karbonmonoksida – carbon monoxide
gas tak berbau, tak berwarna, dan bersifat racun yang dihasilkan dari pembakaran tidak
sempurna karbon atau senyawa karbon

3.41
keasaman – acidity
keaktifan ion hidrogen dalam suatu larutan

3.42
kebisingan – noise
bunyi (intensitas suara) yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan
waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan
lingkungan

3.43
kebutuhan oksigen biologis - biological oxygen demand
jumlah oksigen yang diperlukan untuk menguraikan bahan organik secara biologis di alam
terbuka dalam satuan miligram per liter

3.44
kebutuhan oksigen kimiawi - chemical oxygen demand
jumlah oksigen yang dibutuhkan dalam kondisi khusus di alam terbuka untuk menguraikan
bahan organik secara kimia dalam satuan sepersejuta (part per million) atau milligram
oksigen per liter

3.45
keseimbangan oksigen - oxygen balance
kondisi dengan kandungan oksigen yang dibutuhkan dalam bahan peledak untuk
menghasilkan reaksi yang ideal (keseimbangan oksigen nol)

3.46
kolam ampas - tailing pond
tempat pengendapan ampas dari suatu pabrik pengolahan bahan galian

3.47
kolam pengendapan - settling pond
tempat untuk mengendapkan lumpur tambang dan/atau ampas pengolahan bahan galian

3.48
konservasi – conservation
perlindungan, perbaikan, dan penggunaan sumber daya alam sesuai dengan asas yang
menjamin ekonomi atau kepentingan dan manfaat sosial yang tertinggi

3.49
kontaminasi, pencemaran – contamination
penurunan kualitas air, udara, dan tanah akibat masuknya organisme, bahan kimia, bahan
beracun, dan limbah

5 dari 11
SNI 13-7169-2006

3.50
kota hantu, kota mati - ghost town
daerah yang kegiatan ekonominya lumpuh pada pascatambang

3.51
ledakan - blast
ekspansi yang cepat dari suatu bahan menjadi bervolume lebih besar akibat reaksi kimia

3.52
letusan – explosion
ekspansi yang cepat dari suatu bahan menjadi bervolume lebih besar akibat perubahan
tekanan dan/atau suhu

3.53
limbah – waste
zat padat, cair, atau gas yang dibuang, diemisi, atau diendapkan pada lingkungan hidup
dalam jumlah tertentu yang dapat menyebabkan perubahan kualitas lingkungan hidup

3.54
lingkungan – environment
sejumlah kondisi eksternal yang mempengaruhi kehidupan, pertumbuhan, dan ketahanan
makhluk hidup

3.55
lingkungan tambang - mine environment
keadaan di wilayah tambang yang dipengaruhi oleh unsur-unsur seperti debu, gas, suhu, air,
kelembaban, kebisingan, dan pencahayaan

3.56
longsoran – failure
tanah atau batuan yang bergerak turun akibat tahanan gesernya dilampaui

3.57
longsoran baji - wedge failure
longsoran yang berbentuk baji

3.58
longsoran busur - circular failure
longsoran yang berbentuk busur

3.59
metana lapisan batubara– coal bed methane (CBM)
gas yang terdapat dalam lapisan batubara yang terbentuk bersamaan dengan proses
pembentukan batubara, memiliki rumus kimia CH4

3.60
muka air tanah - water table
bidang batas antara zona jenuh dengan zona tak jenuh pada akuifer tak tertekan

3.61
mutu air - water quality
kondisi air yang ditentukan berdasarkan parameter tertentu dan diuji menggunakan metode
tertentu sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku

6 dari 11
SNI 13-7169-2006

3.62
mutu emisi - emission quality
kondisi emisi yang ditentukan berdasarkan parameter tertentu dan diuji menggunakan
metode tertentu sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku

3.63
mutu udara - air quality
kondisi udara yang ditentukan berdasarkan parameter tertentu dan diuji menggunakan
metode tertentu sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku

3.64
oksida-oksida nitrogen – nitrogen oxides
gas-gas yang terdiri atas sebuah molekul nitrogen dan berbagai macam jumlah molekul
oksigen yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan
pembangkit listrik

3.65
ozon – ozone
persenyawaan tiga atom oksigen, merupakan zat beracun dan dapat mematikan
mikroorganisme, terdapat di troposfer maupun stratosfer; yang berada di troposfer
merupakan gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global, sedangkan yang berada
di stratosfer melindungi mahluk hidup dari pancaran sinar ultraviolet yang berasal dari
matahari

3.66
paras air - water level
ketinggian muka air terhadap permukaan air laut rata-rata; kadang-kadang dipakai sebagai
padanan untuk muka air tanah

3.67
pelingkupan - scoping
proses untuk menetapkan dampak penting sebagai masalah utama dari suatu kegiatan
terhadap lingkungan

3.68
peledakan - blasting
kegiatan pemecahan suatu material (batuan) dengan menggunakan bahan peledak

3.69
pembangunan berkelanjutan - sustainable development
pembangunan yang memperhatikan kelestarian fungsi daya dukung lingkungan dan
kepentingan generasi yang akan datang

3.70
pembangunan ramah lingkungan – environmental- friendly development
upaya secara sadar dan terencana dalam menggunakan dan mengelola sumber daya
secara bijaksana dari aspek lingkungan

3.71
pembersihan lahan – land clearing
kegiatan penyiapan lahan dengan pembabatan vegetasi dan penyingkiran benda-benda
yang menghalangi untuk penyiapan prasarana dan sarana tambang

7 dari 11
SNI 13-7169-2006

3.72
pembuangan ampas - tailing disposal
tempat penampungan ampas proses pengolahan bahan galian

3.73
pencemar – polluter
sumber polutan (lihat polutan)

3.74
pencemaran air – water pollution
penurunan kualitas air sampai di bawah baku mutu lingkungan akibat masuknya atau
dimasukkannya polutan ke dalam air

3.75
pencemaran lingkungan - environmental pollution
masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke
dalam lingkungan dan/atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh
proses alam sehingga menurunkan kualitas lingkungan sampai ke tingkat tertentu yang
menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan
peruntukannya

3.76
pencemaran tambang – mine pollution
masuknya zat, gas, debu, lumpur, asap, energi, biota atau zat kimia ke dalam komponen
lingkungan (udara, air, dan tanah) sebagai akibat kegiatan pertambangan sehingga kualitas
lingkungan menurun sampai di bawah mutu lingkungan

3.77
pencemaran udara - air pollution
penurunan kualitas udara sampai di bawah baku mutu lingkungan akibat masuknya atau
dimasukkannya polutan ke dalam udara

3.78
pengatur keasaman, pengatur pH - pH regulator
bahan kimia yang digunakan untuk mengatur pH larutan atau pH luluhan

3.79
pemeriksaan lingkungan pertambangan – mine environmental inspection
kegiatan pengawasan terhadap daerah yang terkena dampak kegiatan pertambangan

3.80
pengelolaan lingkungan - environmental management
upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijakan
penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan
pengendalian lingkungan hidup

3.81
pengumpul debu - dust collector
alat untuk mengumpulkan partikel-partikel padat dari udara atau gas buang untuk proses
lebih lanjut

3.82
penyakit Minamata - Minamata disease
penyakit yang disebabkan oleh mengonsumsi ikan yang terkontaminasi oleh metilmerkuri

8 dari 11
SNI 13-7169-2006

3.83
penyaliran asam tambang - acid mine drainage
penyaluran ke luar air yang bersifat asam dengan sistem penyaliran tambang bawah tanah
atau tambang terbuka

3.84
peredaman lingkungan - abatemen
peniadaan dampak lingkungan akuatik yang disebabkan oleh penyaliran tambang

3.85
perusakan lingkungan - environmental damage
tindakan yang menimbulkan perubahan terhadap sifat-sifat fisik dan /atau hayati lingkungan,
baik langsung maupun tidak langsung, yang mengakibatkan lingkungan itu kurang atau tidak
berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan yang berkesinambungan

3.86
polutan - pollutant
bahan atau energi yang mengubah derajat unsur lingkungan dan mengakibatkan gangguan
terhadap kelayakan hidup suatu organisme

3.87
prosedur pelindian karakteristik bahan beracun – toxicity characteristics leaching
procedure (TCLP)
metode untuk menentukan potensi racun dalam suatu bahan dengan cara pelindian

3.88
reklamasi – reclamation
upaya untuk mengembalikan fungsi lingkungan hidup di daerah bekas penambangan
menjadi daerah yang berdaya guna sesuai dengan peruntukannya

3.89
rona awal lingkungan – initial environmental setting
kondisi awal lingkungan di suatu daerah yang meliputi komponen geo-bio-fisik-kimia, sosial-
ekonomi-budaya, dan sarana lainnya sebelum ada kegiatan

3.90
rencana pemantauan lingkungan (RPL) - environmental monitoring plan
upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting
akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan

3.91
rencana pengelolaan lingkungan (RKL) - environmental management plan
upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan
akibat dari rencana usaha dan /atau kegiatan

3.92
revegetasi – revegetation
salah satu kegiatan reklamasi atau rehabilitasi lahan yang berupa penanaman atau
penghijauan kembali daerah bekas tambang dengan jenis tanaman tertentu

3.93
sianida – cyanide
senyawa yang termasuk kelompok CN, bersifat sangat beracun, dapat digunakan untuk
melarutkan logam dari bijih

9 dari 11
SNI 13-7169-2006

3.94
sianidasi – cyanidation
proses ekstraksi emas dan perak dari bijih dengan menggunakan larutan sianida

3.95
sianisida – cyanicide
unsur kimia selain emas dan perak yang bereaksi dengan sianida pada proses ekstraksi
secara sianidasi

3.96
sumber daya air - water resource
tempat atau wadah air yang mengandung sumber air, baik alamiah berupa sungai, danau,
rawa, mata air, maupun buatan berupa waduk dan bangunan pengairan lainnya yang
terdapat di tiap-tiap daerah aliran sungai

3.97
sumber daya tak terbarukan - non-renewable resource
sumber daya yang habis bila dimanfaatkan, seperti batubara, mineral, minyak, dan gas bumi

3.98
sumber daya terbarukan - renewable resource
sumber daya yang dapat diperbarui, misal hutan, panas bumi

3.99
tanah penutup – overburden
lapisan tanah atau batuan yang berada di atas endapan bahan galian

3.100
tanah pucuk - top soil
tanah alami yang terdapat di bagian atas lapisan tanah penutup yang banyak mengandung
unsur hara

3.101
tapak penambangan - mining site
daerah yang terkena dampak langsung akibat adanya kegiatan penambangan

3.102
teknologi batubara bersih - clean coal technology
inovasi atau teknologi baru yang dirancang untuk mengolah dan memanfaatkan batubara
secara lebih efektif dan efisien dari segi biaya dengan tetap meningkatkan perlindungan
lingkungan

10 dari 11
SNI 13-7169-2006

Bibliografi

Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan
Status Mutu Air
Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara, 2003. Kamus Pertambangan dan Istilah Terkait,
ISBN: 979 – 8641 – 00 –0, Bandung : Proyek Pengembangan Manajemen Sumber Daya :
Bandung
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1999 tentang Pengendalian
Pencemaran Udara
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup

11 dari 11