Anda di halaman 1dari 6

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat dan
Karunia-Nya, dan dengan segenap usaha serta kemampuan yang ada, penulis dapat menyelesaikan
penyusunan tugas ini yaitu makalah tentang TEORI PEMIMPIN POLITIK.
Shalawat serta Salam semoga senantiasa terlimpah curahkan kepada junjungan alam Nabi besar
Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan semoga sampai kepada kita
selaku umatnya. Selama penulisan tugas ini, penulis telah mendapatkan bantuan serta bimbingan
dan pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dengan selesainya tugas ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu dan memberikan dorongan. Besar
harapan penulis, mudah-mudahan makalah ini bermanfaat khususnya untuk penulis, umumnya
untuk pembaca. Amin.

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Sudah kita ketahui bersama bahwa politik adalah usaha untuk menggapai kehidupan yang baik, di
indonesia kita teringat pepatah gemah ripah loh jinawi. Orang yunani kuno menyebutnya dengan
good life seperti halnya interpretasi Plato dan aristoteles mengenai politik. Mengapa politik dalam
arti ini begitu penting?, karena sejak dahulu kala masyarakat mengatur kehidupannya dengan baik
mengingat masyarakat sering menghadapi terbatasanya sumber alam, atau perlu dicari satu cara
distribusi sumberdaya agar warga merasa bahagia dan puas. Lantas bagaimana cara mencapai
tujuan yang muaia itu?. Usaha itu terkadang dilakukan dengan berbagai cara, meskipun dengancara
kotor pun akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup, maka ketika hal tersebut terjadi, akan
terciptanya kondisi yang carut marut. Tentu hal ini tidak diharapkan oleh semua pihak. Oleh karena
itu diperlukannya seseorang yang mampu meakomodir keseluruhan itu sehingga kekacauan dapat
dihindari, sehingga tujuan itu dapat tecapai jika ada seseorang yang memiliki kekuasaan (power) .
Dan kekuasaan itu akhirnya dapat melahirkan suatu tatanan sosial yang lebih baik karena lahirnya
kebijakan-kebijakan yang membantu tercapainya hal itu. Dengan demikian penulis akan mengangkat
pokok pembahasan mengenai kepemimpinan politik, yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap
sistem suatu negara, dan pencapaiaan tujuan suatu negara pula. Dengan demikian konsep
kekuasaan dipandang sangat penting untuk tercapainnya suatuharapan masyarakat yang selama ini
mereka idam-idamkan, sesuai dengan beberapa doktrin para ahli ilmu politik menyatakan bahwa
sebagian besar kegiatan politik berkaitan dengan mempertahankan kekuasaan dan meraih
kekuasaan, untuk tercapainnya hasil yang diharapkan masyarakat, karena disisi lain, selaras dengan
doktrin seorang ahli yang menyatakan perubahan sosial kearah yang ebih baik dapat tercapai bila
mana seorang atau suatu kelompok itu memiliki power atau kekuasaan.
B. RUMUSAN MASALAH.

1. Apa itu kepemimpinan politik?

2. Seperti apakah kepemimpinan politik itu?

3. Apa fungsi kepemimpinan politik itu sendiri?

4. Adakah macam-macam bentuk kepemimpinan politik?

BAB II PEMBAHASAN

A. Teori Kepemimpinan Kepemimpinan berasaldari kata pimpin yang memuat dua hal pokok

yaitu:pemimpin sebagai subjek, dan.Yang dipimpin sebagai objek.Kata pimpin mengandung


pengertian mengarahkan, membina atau mengatur,menuntun dan juga menunjukkan atau pun
mempengaruhi. Pemimpin mempunyai tanggung jawab baik secara fisik maupun spiritual terhadap
keberhasilan aktivitas kerja dari yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu tidak mudah dan
tidak akan setiap orang mempunyai kesamaan di dalam menjalankan ke-pemimpinannya. Sesuai
dengan beragamnya definisi mengenai kepemimpinan, teori-teori kepemimpinan pun ada beberapa
macam. Teori kepemimpinan secara umum dapat digolongkan ke dalam empat kategori besar, yaitu
menggunakan pendekatan:

1. Pengaruh Kekuasaan Teori yang dikemukakan oleh French dan Raven (1959) ini menyatakan
bahwa kepemimpinan bersumber pada kekuasaan dalam satu kelompok atau organisasi. Dengan
perkataan lain, orang atauorang-orang yang memiliki akses terhadap sumber kekuasaan dalam suatu
kelompok atau organisasi tertentu akan mengendalikan atau memimpin kelompok atau organisasi
itu. Adapun sumber kekuasaan itu sendiri ada tiga macam, yaitu, kedudukan, kepribadian, politik.

2. Bakat Teori bakat dinamakan juga teori sifat (trait), teori karismatik atau teori transformasi. Inti
dari teori ini adalah bahwa kepemimpinan terjadi karena sifat- sifat atau bakat yang khas yang
terdapat dalam diri pemimpin yang dapat diwujudkan dalam prilaku kepemimpinan. Sifat atau bakat
itu dinamakan karisma atau wibawa. Sebagai contoh adalah Bung Karno, Adolf Hitler, Fidel Castro,
Mahatma Gandhi, Ibu Theresa dan Martin Luther King. Tokoh-tokoh ini memiliki sifat yang tidak
dimiliki pemimpin-pemimpin lain. Di pihak lain, pemimpin-pemimpin karismatik tidak dapat
disamakan dengan tokoh-tokoh yang kewibawaan, kekuasaan atau kepemimpinannya bersumber
atau ditopang oleh legenda-legenda, mitos, dan dongeng-dongeng. Misal keturunan raja,
bangsawan, orang sakti, keturunan yang dianggap titisan dewa dan sebagainya. Karisma yang
ditunjang oleh oleh mitos dan legenda ini bukanlah dating dari bakat atau sifat pribadi yang
bersangkutan, sehingga tidak dapat digolongkan dalam teori bakat yang sedang kita bicarakan ini.
Teori bakat menurut Hourse (1977) bahwa karisma yang berupa bakat atau sifat adalah hal yang
dapat dijelaskan secara objektif ilmiyah, sehingga dapat diteliti, diukur, dan dibuktikan
keberadaanya. Teori bakat menurut Baas (1985) ada factor-faktor tambahan lain yang menyebabkan
lahirnya kepemimpinan karismatik selain faktor bawaan sejak lahir yang dikemukakan oleh Hourse,
yaitu factor anteseden (hal yang mendahului terjadinya seorang pemimpin), faktor atribusi
(keyakinan sendiri) dan faktor konsekuensi dari kepemimpinan. Teori bakat menurut Conger dan
Kanungo (1987) bahwa kepemimpinan karismatik terutama bersifat atributif, yaitu karena adanya
ciri-ciri tertentu dari pemimpin yang dipersepsikan oleh para pengikut bersarkan pengamatan
pengikut terhadap prilaku pemimpin.

3. Prilaku Teori prilaku memusatkan perhatiannya pada perilaku pemimpin dalamkaitannya dengan
struktur dan organisasi kelompok. Oleh karena itu, teori prilaku ini lebih sesuai untuk kepemimpinan
dalam lingkungan organisasi atau perusahaan, karena peran pemimpin digariskan dengan jelas. Teori
perilaku menurut beberapa ahli, antara lain; Mintzberg (1973) mengemukakan sepuluh peran
pemimpin (manager) sebagai berikut; Peran dalam hubungan antarpribadi adalah sebagai
pemimpin, penghubung dan panutan (figurehead). Peran yang berkaitan dengan pemrosesan
informasi adalah sebagai pemantau, penyebaran informasi dan juru bicara. Peran yang berkaitan
dengan pembuatan keputusan adalah sebagai wiraswasta, penyelesaian gangguan, pengalokasian
sumber, dan negosiator. Bagaimana seorang pemimpin memenuhi kesepuluh peran itu, hal itu akan
ditentukan bagaimana kepemimpinannya. Mereka akan memiliki kecocokan dengan salah satu
peran, dan biasanya mereka akan unggul dalam hal itu. Page (Page, 1985 & Tornow, 1987) juga
memusatka teori kepemimpinannya pada peran yang dibawakan pemimipin dalam posisi
managerial.Menurutnya ada Sembilan kewajiban dan tanggung jawab manager dalam organisasi.
Yaitu penyelia (supervising), perencan dan pengorganisasi, pembuat keputusan, pemantau indicator,
pengendalian, perwakilan, pengkooordinasi, konsultasi, dan administrasi.

4. Situasi. Teori situasional berintikan hubungan antara perilaku pemimpin dan situasi dilingkungan
pemimpin itu.dalam hal ini ada dua macam hubungan, yaitu (1) perilaku pemimpin yang merupakan
hasil atau akibat dari situasi dan (2) perilaku pemimpin merupakan penentu atau penyebab situasi.
Dengan perkataan lain, pada hubungan pertama, pemimpin merupakan variabel ikutan (dependent
variable), sedangkan yang kedua masuk dalam variabel bebas (independent variable). Tapi ini baru
sebagian teori, yaitu dari pandangan masyarakat barat, belum dari masyakat timur.Sementara itu
ada 3 mitos tentang pemimpin banyak tumbuh di masyarakat yang melekat pada gambaran seorang
pemimpin, diantaranya:

a. Mitos the Birth Right Berpandangan bahwa pemimpin itu dilahirkan bukan dihasilkan (didik).Mitos
ini berbahaya bagi perkembangan regenerasi pemimpin karena yang dipandang pantas menjadi
pemimpin adalah orang yang memangdarisananya dilahirkan sebagai pemimpin, sehingga yang
bukan dilahirkan sebagai pemimpin tidak memiliki kesempatan menjadi pemimpin.
b. Mitos the For All – Seasons Berpandanganbahwasekali orang itu menjadi pemimpin selamanya dia
akan menjadi pemimpin yang berhasil.Pada kenyataannya keberhasilan seorang pemimpin pada
satusituasi dan kondisi tertentu belum tentu sama dengan situasi dan kondisilainnya.

c. MitostheIntensity Berpandangan bahwa seorang pemimpin harus bisa bersikap tegas dangan
rekan pekerja itu pada dasarnya baru akan bekerja jika di dorong dengan cara yang keras. Pada
kenyataannya kekerasan mempengaruhi peningkatan produktivitas kerja hanya pada awal-awalnya
saja, produktivitas seterusnya tidak bisa dijamin.

Kekerasan pada kenyataannya justru dapat menumbuhkan keterpaksaan yang akan dapat
menurunkan produktivitas kerja.Macam-Macam Teori Kepemimpinan. Teori-teori kepemimpinan
yang mendominasi pembahasan kepemimpinan sebelum tahun 1900, menjadi pendahulu
munculnya teori-teori kepemimpinan yang menekankan sifat-sifat pemimpin. Adapun teori-teori
kepemimpinan yaitu :

1. Teori kepemimpinan V-Room&Yeton Modern. Disebut juga Teori Normatif (Normative Theory),
karena mengarah kepada pemberian suatu rekomendasi tentang gaya kepemimpinan yang
sebaiknya digunakan dalam situasi tertentu. Yaitu berfokus pada tingkat partisipasi yang
diperbolehkan oleh pemimpin dalam pengambilan keputusan dan seleksi pendekatan yang akan
memaksimalkan manfaat yang akan didapat kelompok dan pada waktu yang bersamaan,
meminimalisasi gangguan pencapaian tujuan kelompok. Teori ini juga memberikan serangkaian
aturan untuk menentukan bentuk dan banyaknya pengambilan keputusan partisipatif dalam situasi
yang berbeda–beda.(Robbins, Stephen P,2003.). Model yang menjelaskan bagaimana seorang
pemimpin harus memimpin dalam berbagai situasi. Model ini menunjukkan bahwa tidak ada corak
kepemimpinan tunggal yang dapat diterapkan pada semua situasi. (Gibson, Ivancevich, & Donelly,
1996.)

2. Teori kepemimpinan Contingensi of Leadhership (Fiedler). Menurut teori ini, gaya kepemimpinan
yang tepat ditentukan oleh corak persoalan yang dihadapi oleh macam keputusan yang harus
diambil. Model teori ini dapat digunakan untuk :membantu mengenali berbagai jenis situasi
pemecahan persoalan secara berkelompok ( group problem solving situation)menyarankan gaya –
gaya kepemimpinan mana yang dianggap layak untuk setiap situasi.

3. Teori kepemimpinan Path-goal. Menurut teori ini, gaya kepemimpinan yang tepat ditentukan oleh
corak persoalan yang dihadapi oleh macam keputusan yang harus diambil. Model teori ini dapat
digunakan untuk :
A.membantu mengenali berbagai jenis situasi pemecahan persoalan secara berkelompok ( group
problem solving situation) menyarankan gaya – gaya kepemimpinan mana yang dianggap layak
untuk setiap situasi.

B. Fungsi dasar kepemimpinan Fungsi Pertama; adalah memberi kejelasan alur. Maksudnya, seorang
pemimpin harus mampu membantu bawahannya dalam memahami bagaimana cara kerja yang
diperlukan di dalam menyelesaikan tugasnya.Fungsi Kedua; adalah meningkatkan jumlah hasil
(reward) bawahannya dengan memberi dukungan dan perhatian terhadap kebutuhan pribadi
mereka.

C. Gaya kepemimpinan politik Seorang pemimpin haruslah memiliki kekuatan yang besar, rasa
percaya diri yang tinggi, serta pendirian yang kuat.Sebuah tujuan yang besar memotivasi pemimpin
untuk berusaha mempengaruhi bawahannya. Seorang pemimipin yang tidak memiliki sifat-sifat
diatas akan sangat sulit untuk mempengaruhi bawahanya. Berikut adalah macam-macam gaya
kepemimpinan yang diterapkan oleh pemimpin diseluruh dunia :

1. Gaya Kepemimpinan Otoriter. Authoritarian Adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala
keputusan dan kebijakanyang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Segala pembagian tugas dan
tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahanhanya
melaksanakan tugas yang telahdiberikan.

2. Gaya Kepemimpinan Demokratis. Democratic Gaya kepemimpinan demokratisadalah gaya


pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan
selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan
demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggungjawab para
bawahannya.

3. Gaya Kepemimpinan Bebas. Laissez Faire Pemimpin jenis ini hanya terlibat delam kuantitas yang
kecil di mana para bawahannya yang secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah
yang dihadapi. Selain itu, pemimpin harus mempunyai aura sebagai pemimpin atau istilah kerennya
karismati seorang pemimpin. Para pemimpin yang berkarisma sering menjaga perilakunnya didepan
para bawahannya agar dirinya terkesan berkompeten dibidangnya. Seorang pemimpin yang
berkarisma pandai dalam menyuarakan idiologinya yang berhubungan dengan tujuan organisasi,
sehingga dapat menciptakan aspirasi bersama yang diakomodasikan terhadap bawahan.

BAB II PENUTUP A. SIMPULAN.


Negarawan yang berada pada pihak kebenaran dan filusuf yang berada dipihak kebaikan dari zaman
sebelum masehi pada zaman Plato mengatakan bahwa “hendaknya negarawan itu filusuf disatu
pihak dan dipihak lain hendaknya filusuf itu negarawan”. Dengan apa yang sudah dibahas diatas,
setidaknya kita dapat mengetahui peranan kepemimpinan politik, hal ini dianggap penting karena
seorang pemimpin akan mempertanggung jawabkan seluruh aspek kehidupan masyarakat yang
dipimpin olehnya, terlepas pemimpin itu, otoriteris, atau demokratis, karena setiap kepemimpinan
yang ada memiliki konsekuensinya dan kelebihannya masing-masing. Menjadikan titik utama dalam
pembahasan ini adalah, pengaruh pemimpin yang begitu populis, sehingga setiap kebijakan yang
ditetapkannya harus ditimbang terlebih dahulu karena hal ini akan menarik bukan hanya positive
values akan tetapi negative values pun akan tertauk oleh itu, oleh karenanya, hal ini menunjuan
bahwa pemimpin tidaklah berdiri sendiri, pemipin akan ditopang oleh sub-sub lainnya pula, dengan
analogi tubuh saja sedikitnya kita akan mengerti, bagaimana keseimbangan dalam tubuh, ini adalah
bukti bahwa, seorang peminpin haruslah mampu mempengaruhi hal-hal yang positiv terhadap
seluruh aspek yang ada, baik itu aspek intern, atau pun extern.

BAB III DAFTAR PUSTAKA

Prof. Mariam Budiardjo.208. Dasar-dasarilmu poitik. PT. GramediaPustaka. Jakarta.

Dr. Raihan. 2011.Kepemimpinan tarasformtif. LKIS Group. Yogyakarta.

Sartono Kartodirdjo. 1982. Kepemimpinan dalam SejarahIndonesia.Yogyakarta :Balai


pembinaanAdministrasi UGM, Buletin. Will Kymlicka.filsafat politik kontemporer.cetakan pertama
2004, cetakan kedua 2011, diterjemahkan oleh agus wahyudi, M.Hum. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

ARTIKEL : http://putrititania.ngeblogs.com/2009/10/26/kepemimpinan/, diaakses pada 20.35 wib,


02 02-2015. https://uwiemolor.wordpress.com/2009/11/10/teori-teori-kepemimpinan/, diakses
pada pukul 22.53 wib. 02-02-15