Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sudah kita ketahui bersama bahwa politik adalah usaha untuk menggapai kehidupan
yang baik, di indonesia kita teringat pepatah gemah ripah loh jinawi. Orang yunani kuno
menyebutnya dengan good life seperti halnya interpretasi Plato dan aristoteles mengenai
politik. Mengapa politik dalam arti ini begitu penting?, karena sejak dahulu kala masyarakat
mengatur kehidupannya dengan baik mengingat masyarakat sering menghadapi terbatasanya
sumber alam, atau perlu dicari satu cara distribusi sumberdaya agar warga merasa bahagia
dan puas. Lantas bagaimana cara mencapai tujuan yang mulia itu?. Usaha itu terkadang
dilakukan dengan berbagai cara, meskipun dengancara kotor pun akan dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan hidup, maka ketika hal tersebut terjadi, akan terciptanya kondisi yang
carut marut. Tentu hal ini tidak diharapkan oleh semua pihak. Oleh karena itu diperlukannya
seseorang yang mampu meakomodir keseluruhan itu sehingga kekacauan dapat dihindari,
sehingga tujuan itu dapat tecapai jika ada seseorang yang memiliki kekuasaan (power) . Dan
kekuasaan itu akhirnya dapat melahirkan suatu tatanan sosial yang lebih baik karena lahirnya
kebijakan-kebijakan yang membantu tercapainya hal itu. Dengan demikian penulis akan
mengangkat pokok pembahasan mengenai kepemimpinan politik, yang memiliki pengaruh
sangat besar terhadap sistem suatu negara, dan pencapaiaan tujuan suatu negara pula. Dengan
demikian konsep kekuasaan dipandang sangat penting untuk tercapainnya suatuharapan
masyarakat yang selama ini mereka idam-idamkan, sesuai dengan beberapa doktrin para ahli
ilmu politik menyatakan bahwa sebagian besar kegiatan politik berkaitan dengan
mempertahankan kekuasaan dan meraih kekuasaan, untuk tercapainnya hasil yang diharapkan
masyarakat, karena disisi lain, selaras dengan doktrin seorang ahli yang menyatakan
perubahan sosial kearah yang ebih baik dapat tercapai bila mana seorang atau suatu
kelompok itu memiliki power atau kekuasaan.

1.2 PERMASALAHAN

Beberapa pembahasan dalam makalah tersebut adalah :

1. Definisi dan Karakteristik Kepemimpinan Politik.


2. Pemimpin Organisasi dan Pemimpin Simbolik dalam Politik.
3. Ikatan Komunikasi di antara Pemimpin dan Pengikut.
4. Kepemimpinan Politik dalam Demokrasi Indonesia.
5. Persoalan – persoalan Kepemimpinan Politik yang Terjadi di Indonesia
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi dan Karakteristik Kepemimpinan Politik

Ralph M. Stockdill telah merangkum definisi – definisi ini serta mengatakan bahwa
kepemmpinan melibatkan proses kelompok, pengaruh kepribadian, seni meminta kerelaan,
penggunaan pengaruh, persuasi, pencapaian tujuan, interaksi, peran-peran yang diperbdakan,
dan pembentukan struktur dalam kelompok-kelompok. Selain definisi kepemimpinan yang
banyak itu ada beberapa teori mengenai kepemimpinan. Namun, ada empat yang
mendominasi kepustakaan. Yang pertama berpendapat bahwa pemimpin berbeda dari massa
rakyat karena mereka memiliki ciri atau sifat tersendiri yang sangat dihargai. Semua jenis
pemimpin di dalam segala macam setting dan budaya memiliki sifat tersendiri ini. Variasi
kedua ialah bahwa ada tiga jenis pemimpin yang keranjingan sifat-sifat tertentu yang
membuatnya tersendiri: manusia ulung yang menghancurkan kaidah-kaidah tradisional dan
menciptakan nilai-nilai baru bagi suatu bangsa, pahlawan yang mengabdikan dirinya untuk
tujuan yang besar dan mulia, pangeran yang termotivasi oleh hasrat untuk mendominasi
pangeran-pangeran lainnya.

Kesulitan teori sifat ini hanyalah bahwa para sarjana belum dapat menemukan sifat
tersendiiri tunggal, atau bahkan sejumlah terbatas sifat yang membedakan, yang dimiliki oleh
semua pemimpin di manapun. Hal ini membawa kita pada pandangan kedua, yakni teori
konstelasi sifat. Dalam teori ini pemimpin memiliki sifat-sifat yang sama yang dimiliki oleh
siapa pun, tetapi memadukan sifat-sifat ini dalam suatu sindrom kepemimpinan yang
membedakannya dari orang lain. Oleh sebab itu, misalnya pemimpin itu bisa menonjolkan
karena lebih tinggi, lebih besar, lebih bersemangat, lebih intelijen, percaya diri, tenang, dan
sebagainya. Dalam meninjau beraneka studi kepemimpinan ini, Stogdill mengamati bahwa
para pemimpin memang memiliki beberapa sifat yang derajatnya sedikit lebih tinggi daripada
bukan pemimpin. Namun, ia menyimpulkan bahwa hal ini hanya menunjukkan bahwa
kepribadian adalah salah satu faktor dalam pembedaan kepemimpinan; adanya sindrom itu
tidak menjamin peran pemimpin bagi seseorang, begitu pula tidak adanya sindrom tersebut
tidak menyebabkan seseorang tidak cocok untuk menjadi pemimpin.

Para peneliti kepemimpinan telah menjawab pendekatan sifat kepada penetapan


pemimpin dengan teori ketiga, yakni teori situasionalis. Teori ini hanya berpendapat bahwa
waktu, tempat, dan keadaan menentukan siapa yang memimpin, siapa pengikut. Pengkritik
aliran situasional, bagaimanapun, menunjukkan bahwa teori itu tidak mampu menerangkan
beragamnya tipe pemimpin yang muncul dalam situasi yang berbeda atau mengapa dalam
beberapa setting tidak dapat diidentifikasi pemimpin yang dapat dilihat. Teori keempat yang
pada zamannya diterima secara luas ialah bahwa kepemimpinan merefleksikan interaksi
kepribadian para pemimpin dengan kebutuhan dan pengharapan para pengikut, karakteristik
dan tugas kelompoknya, dan situasi. Jadi, ia berusaha menerangkan berbagai faktor yang
pada umumnya bertalian dengan pendefinisan kepemimpinan (Nimmo dan Jalaluddin
Rakhmat, 39-40 : 2000).

2.2 Pemimpin Organisasi dan Pemimpin Simbolik dalam Pemimpin

Bagi komunikator politik, untuk menjadi pemimpin politik, ia harus berperilaku


sebagaimana yang diharapakan yang diharapkan orang dari pemimpin; pengikut mengaitkan
kepemimpinan dengan orang yang sesuai dengan pengertian mereka tentang apa pemimpin
itu. Beberapa komunikator merupakan pemimpin karena posisi yang diduduki mereka di
dalam struktur sosial atau kelompok terorganisasi yang ditetapkan dengan jelas. Di luar
organisasi mungkin mereka tidak banyak bagi orang. Komunikator seperti itu kita sebut
pemimpin organisasi. Namun, komunikator yang lain tidak menduduki posisi demikian,
mereka berarti bagi orang karena alasan di luar peran keorganisasian. Komuikator politik
yang merupakan pemimpin karena arti yang ditemukan orang di dalam dirinya sebagai
manusia, kepribadian, tokoh yang ternama, dan sebagainya, kita beri nama pemimpin
simbolik.

Jelas bahawa sebagian besar dari politikus, komunikator profesional, dan aktivis
politik adalah pemimpin organisasi. Pejabat terpilih, ditunjuk, atau karier mempunyai posisi
formal kepemimpinan di dalam jaringan komunikasi yang terorganisasi yang membentuk
pemerintah. Komunikator profesional sering merupakan karyawan organisasi, yaitu wartawan
yang bekerja pada pelayanan kawat, koran, jaringan televisi, atau organisasi berita yang lain,
dan promotor sebagai anggota organisasi memublikasikan kepentingan perusahaan, jawatan
pemerintah, kandidat atau partai politik. Jurubicara sebagai komunikator aktivis adalah
hampir secara harfiah, pembela organisasi. Dari komunikator politik utama yang dilukiskan
lebih dulu, hanya pemuka pendapat yang bekerja melalui keakraban yang disediakan oleh
jaringan komunikasi interpersonal berada terutama di luar struktur organisasi yang
diformalkan (Nimmo dan Jalaluddin Rakhmat, 47: 2000).
Kepemimpinan organisasi, menurut definisi, bekerja melalui posisi komunikator alam
struktur sosial yang tegas. Sebaliknya, kata sosiolog Orrin Klapp, “Kepemimpinan simbolik
bekerja pada massa dan khalayak sebelum, tanpa, dan tidak dapat dihalangi oleh organisasi”.
Orang menemukan arti pada kepemimpinan simbolik yang melontarkan imajinasinya dengan
penampilan luar yang memukau dengan melambangkan gaya hidup yang menarik. “Teori
kepemimpinan simbolik ialah kepemimpinan yang diturunkan dari makna, dan makna selalu
tidak inheren. Jika seseorang membuat kesan yang benar, dan tidak menyangkalnya. Secara
terang-terangan, ia dapat menjadi simbol hampair apa saja yang disukainya (atau yang
disukai oleh nasibnya) (Nimmo dan Jalaluddin Rakhmat, 48:2000).

Untuk lebih menjelaskan perbedaan di antara pemimpin organisasi dan pemimpin


simbolik, dan juga untuk mengesankan sumber-sumber kepemimpinan simbolik, ada gunanya
meneliti dua cara yang digunakan oleh para teoris ketika mencoba menjawab pertanyaan
yang sudah sangat tua. Satu pandangan ialah bagaimana masyarakat muncul dan berlanjut
melalui perantara Kontrol sosial-organisasi, lembaga pendidikan, pemerintah yang membuat
aturan dan hukum, dan sebagainya. Perantara yang berorientasikan tugas ini adalah habitat
para pemimpin organisasi.

Ketika orang-orang membuat pilihan atau pilihan-pilihan yang sama, ini adalah gejala
seleksi konvergen, faktor yang mendasari penciptaan dan penciptaan kembali tatanan sosial.
Dalam konsepsi ini opini publik hanya sebagai konsensus dari opini massa, produk
independen yang dengan bebas mencapai pilihan-pilihan pribadi; Setiap orang dipengaruhi
oleh iklan yang mempengaruhi perseorangan yang menjadi konsumen media massa, bukan
oleh propaganda yang mencapainya konsumen media massa, bukan oleh propaganda yang
mencapainya sebagai anggota kelompok sosial. Komunikasi kurang berorientasikan tugas,
tetapi lebih diarahkan untuk menciptakan ikatan-ikatan emosional, dan melalui ikatan-ikatan
itu diarahkan kepada kelompok-kelompok sosial orang-orang yang tadinya terasing satu sama
lain di dalam massa. (Nimmo dan Jalaluddin Rakhmat, 48-49 : 2000).

Dalam satu hal kepemimpinan organisasi bahkan memberikan pendorong bagi bagi
komunikator politik untuk menjadi pemimpin politik. Karena organisasi memolakan
komunikasi, ia membatasi kebebasan bergerak dengan rantai komando, membatasi informasi
yang dipublikasikan, dan sebagainya. Untuk menerobos keluar dari organisasi kadang-kadang
pemimpin mengambil sikap komunikasi yang memberikan status orang termasyhur dan
menciptakan simbol sambutan yang meluas. Kepemimpinan simbolik menyoroti tindakan
saling memengaruhi yang penting di antara apa yang oleh para pengikut diharapkan menurut
citra mereka tentang pemimpin yang bercita-cita tinggi. Ini hanyalah satu unsur dalam segi
penting yang lain lagi dari peran komunikator sebagai pemimpin, yakni ikatan di antara dan
pengikut. (Nimmo dan Jalaluddin Rakhmat, 49-50 : 2000).

2.3 Ikatan Komunikasi di antara Pemimpin dan Pengikut

Kepemimpinan dan kepengikutan adalah cara komplementer untuk meninjau suatu


transaksi tunggal: kita tidak dapat membayangkan pemimpin tanpa pengikut, begitu pula
pengikut tanpa pemimpin. Kedua istilah ini mengingatkan kita bahwa orang-orang dalam
peran yang saling tukar menurunkan hal-hal yang berbeda dari kepemimpinan mereka yang
timbal balik; misalnya, untuk memperoleh dukungan rakyat, pemimpin memersonifikasikan
dan mengongretkan proses-proses yang abstrak itu bagi para pengikut dan mmemberikan
kepada mereka ketenangan emosional dalam situasi-situasi yang asing dan memprihatinkan.
Jenis kepuasan apa yang diperoleh pemimpin dan pengikut dari transaksi yang memperkuat
ikatan di antara mereka?

Bagi para pemimpin ada beberapa ganjaran seperti itu. Misalnya, pemimpin
mempunyai peluang yang lebih besar untuk “menguasai keadaan” dan untuk mengendalikan
nasibnya. Lebih dari itu, ada sesuatu yang menarik dalam kemampuan mempengaruhi orang
lain, menegaskan kekuasaan di dalam kelompok, dan bahkan memberikan keuntungan dan
kerugian. Pemimpin organisasi biasanya menduduki posisi dengan gaji yang menarik;
pemimpin simbolik sering mendapat bantuan keuangan dari pendukung yang kaya. Apalagi,
ada keuntungan yang meningkat karena memiliki status yang lebih tinggi, baik dalam arti
bahwa anggota-anggota kelompok menaruh rasa hormat kepada pemimpin mereka maupun
dalam arti bahwa pemimpin itu menguasai cukup sumber nafkah melalui dukungan para
pengikutnya umtuk berunding sebagai yang setara dengan, atau bahkan lebih tinggi dari
pemimpin kelompok lain.

Robert Salisbury menyamakan ikatan antara pemimpin dan pengikut dengan ikatan
antara pengusaha dan pelanggan. Pemimpin kepentingan yang terorganisasi, misalnya
memberi dorongan untuk menciptakan kelompok dengan menyajikan intensif kepada orang-
orang yang menjadi anggota kelompok, insentif sebagai penukar “biaya” mereka untuk
bergabung dan memberikan dukungan. Keputusan ekspresif melibatkan kesenangan yang
diturunkan dari identifikasi dengan pemimpin, memproyeksikan kebutuhan bergantung pada
pemimpin sebagai simbol kondensasi, atau sekadar diidentifikasi sebagai pengikut yang setia
dan mengabdi.

Jika dirangkum, terdapat ikatan di antara pemimpin dan pengikut yang ditempa oleh
kepuasan material, sosial, dan emosional yang diturunkan orang dari keikutsertaan dalam
politik. Kepuasan ini, terutama yang kurang berwujud, yaitu sosioemosional, muncul di
dalam dan melalui proses komunikasi. Komunikasi menciptakan, mendorong, atau
menghancurkan rasa solidaritas di antara orang-orang dan rasa puas pribadi dalam
mengungkapkan harapan dan cita-cita, ketakutan dan kegelisahan orang. Kemudian, sampai
taraf yang sangat luas, ikatan antara pemimpin dan pengikut adalah ikatan komunikasi. Oleh
sebab itu, komunikator politik utama memainkan peran strategis, bertindak sebagai pemimpin
politik dengan menyiarkan pesan-pesan yang oleh para pengikut dianggap berarti dan
memuaskan. Satu ukuran bagi arti dan kepuasan itu berupa pandangan bukan pemimpin
terhadap pemimpin. (Nimmo dan Jalaluddin Rakhmat, 49-51: 2000).

2.4 Kepemimpinan Politik dalam Demokrasi Indonesia

Untuk menganalisis kepemimpinan politik Indonesia, di sini digunakan kerangka


pemikiran dari Cathy Gormley-Heenan (2001) dalam risetnya, From Protagonist to
Pragmatist: Political Leadership in Societies in Transition. Ada sembilan isu kunci yang
dijadikan kategori yang mendasari analisis: (1) penggunaan dan penyalahgunaan kekuasaan
politik; (2) aktivitas memimpin partai; (3) pemenuhan janji kepada konstituen; (4) pembinaan
hubungan dengan partai lain; (5) pelayanan publik; (6) persiapan menghadapi pemilu
selanjutnya; (7) pengelolaan dan penataan ulang partai; (8) kesiapan menghadapi perubahan;
dan (9) manajemen proses.

Gormley-Heenan menggunakan kerangka pemikiran ini untuk menganalisis negara-


negara yang sedang mengalami konflik atau yang sedang berada dalam transisi. Indonesia,
yang masih dalam masa transisi dari negara otoriter ke negara demokrasi, cukup sering
dilanda konflik horisontal. Oleh karena itu, kerangka pemikiran ini cocok juga digunakan
untuk menganalisis Indonesia.

Penggunaan dan Penyalahgunaan Kekuasaan Politik

Penggunaan kekuasaan politik dan sensitivitas terhadap hal-hal yang terkait dengan
penggunaan kekuasaan penting dalam kepemimpinan politik. Jika pemimpin kurang sensitif
terhadap isu-isu terkait dengan penggunaan kekuasaan dan hanya bertindak berdasarkan
kepentingan satu atau beberapa kelompok, maka kepemimpinannya tidak akan berefek
signifikan terhadap perbaikan dan perubahan negara yang positif.

Kita saksikan belakangan ini ada kecenderungan kepemimpinan politik Indonesia


sering menampilkan tindakan yang dipersepsi lebih menguntungkan kelompok-kelompok
tertentu ketimbang kepentingan rakyat. Selain kasus-kasus penyalahgunaan kekuasaan yang
sudah diproses secara hukum, masih banyak ditemukan indikasi penyalahgunaan yang
diberitakan di media massa dan diulas di forum-forum diskusi. Dari situ, tampak sensitivitas
pemimpin politik Indonesia masih rendah. Kepemimpinan politik Indonesia masih rawan
penyalahgunaan kekuasaan. Sementara penggunaan kekuasaan yang diarahkan kepada
perbaikan kondisi masyarakat Indonesia masih terus ditagih karena pelaksanaannya tampak
setengah hati.

Aktivitas Memimpin Partai

Keterampilan kepemimpinan dibutuhkan juga untuk mengelola partai. Banyak


persoalan yang menghambat dan merugikan negara berasal dari perilaku orang-orang partai
yang memegang kekuasaaan baik eksekutif maupun legislatif. Persoalan-persoalan itu
semestinya dapat dicegah atau ditangani secara cepat oleh pemimpin politik dari partai-partai
itu agar tidak mengganggu kinerja kepemimpinan nasional. Negosiasi, konsesi dan tarik-
menarik kepentingan antara pemerintah dan partai semestinya dapat diselesaikan dengan
cepat dan tepat oleh para pemimpin politik di dalam partainya sehingga tidak mengganggu
kinerja kepemimpinan politik dalam mengelola negara.

Kita bisa saksikan kasus-kasus korupsi yang melibatkan elit-elit partai, baik yang
memegang jabatan di pemerintahan maupun yang hanya menjabat di partai. Selain itu konflik
dalam partai marak diberitakan oleh media massa. Contohnya, Partai Demokrat saat ini
sedang mengalaminya meski berkali-kali dinyatakan oleh beberapa pengurusnya bahwa
mereka masih solid. Tetapi secara intuitif kita dapat menyaksikan konflik itu ada. Pemimpin
politik Indonesia tampaknya masih belum mampu memimpin partainya untuk tetap solid dan
menghindarkan kepemimpinannya dari kepusingan dan kebingungan yang menguras waktu,
tenaga dan pikiran untuk mengatasi masalah-masalah dalam partainya.

Pemenuhan Janji kepada Konstituen

Pemenuhan janji kepada konstituen merupakan satu indikator dari efektivitas


kepemimpinan politik. Selain keterampilan kepemimpinan untuk mengelola partai,
pembinaan hubungan baik dengan konstituen menjadi kunci keberhasilan kepemimpinan
politik. Kemampuan untuk mengelola dan memenuhi janji kepada konstituen memungkinkan
pemimpin politik untuk dapat bekerja efektif. Sebaliknya, jika pemimpin politik tak dapat
membina hubungan baik dengan konstituen, maka kepemimpinan politik akan berlangsung
tanpa dukungan mereka sehingga bisa menyebabkan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan
tidak dapat berjalan baik. Kepemimpinan politik akhirnya menjadi kepemimpinan tanpa
mandat.

Seperti sudah jadi pengetahuan umum di Indonesia, setelah pemilu, konstituen seakan
tak diperlukan lagi. Janji-janji orang yang kemudian terpilih jadi pemimpin politik seperti tak
diingat lagi. Pemenuhan janji tampaknya bukan hal yang penting bagi mereka.
Kepemimpinan politik Indonesia kebanyakan berjalan seperti tanpa mandat dan para
pemimpin pun tampak merasa tak perlu mempertanggungjawabkan mandat dari konstituen
yang diembannya.

Pembinaan Hubungan dengan Partai Lain

Membina hubungan baik dengan partai lain menjadi hal yang niscaya meski sulit
dilakukan, apalagi jika partai lain sejak awal memutuskan untuk menjadi oposisi.
Pertentangan dengan partai lain yang intens dan berkepanjangan akan menguras tenaga dan
menghambat jalannya pemerintahan. Tetapi, pembinaan hubungan itu jangan sampai melulu
mengurusi pembagian kekuasaan. Kerjasama antarpartai harus diarahkan kepada usaha
penerapan kebijakan dan pelaksanaan program untuk meningkatkan kualitas hidup rakyat.

Kita tahu ada pembinaan hubungan antarpartai seperti yang ditampilkan dalam bentuk
Sekretariat Gabungan. Tetapi kita juga menyaksikan partai-partai itu seringkali tidak
harmonis, bahkan saling mengancam, saling menyandera dan saling memaksakan
kepentingan masing-masing. Hubungan antarpartai tampaknya baru sampai urusan
pembagian kekuasaan, berapa menteri dari partai anu, berapa banyak yang akan diperoleh
partai lainnya. Itu pun masih banyak terjadi konflik kepentingan yang menguras banyak
waktu, tenaga, pikirn dan biaya sehingga kinerja kepemimpinan politik Indonesia tak efektif.

Melaksanakan Pelayanan Publik

Pembinaan hubungan antara pemimpin politik dan para aparat negara yang bertugas
menjalankan pelayanan terhadap masyarakat merupakan satu kunci penting dalam
kepemimpinan politik. Pemimpin politik harus dapat menjamin terlaksananya pelayanan
publik, bekerjanya setiap sektor untuk meningkatkan kualitas hidup rakyat, mengembangkan
masyarakat. Kepemimpinan politik yang buruk bukan hanya membuat kinerja pelayanan
publik tidak efektif, melainkan juga melemahkan mentalitas dan moralitas para petugas
pelayanan publik.

Pelayanan publik di Indonesia masih tergolong buruk meski sudah ada beberapa
perbaikan, seperti kartu miskin yang memperingan biaya kesehatan dan pendidikan. Secara
umum pelayanan publik di Indonesia masih jauh di bawah standar kelayakan. Sarana
transportasi, bahkan di kota besar sekalipun, masih minimal. Pelayanan kesehatan dan
penyediaan pangan dan perumahan rakyat juga demikian. Berbagai macam urusan yang
memerlukan persetujuan aparat pemerintah masih berlangsung lambat. Penerapan dan
penanganan hukum masih diskriminatif. Praktek pungutan liar, sogok-menyogok dan suap
masih berlangsung. Kepemimpinan politik Indonesia belum dapat melaksanakan pelayanan
publik secara memadai.

Mempersiapkan Pemilu Selanjutnya

Tantangan-tantangan terhadap kepemimpinan sering muncul berkaitan dengan pemilu


selanjutnya. Banyak serangan dan gangguan yang ditujukan kepada pemimpin politik dalam
rangka menurunkan popularitasnya sehingga perolehan suarannya menurun di pemilu
selanjutnya. Efek dari serangan dan gangguan itu seringkali bukan hanya menurunkan
popularitas, melainkan juga melemahkan kinerja kepemimpinan politik sehingga penerapan
kebijakan dan pelaksanaan program-program pemerintah tidak berjalan. Pemimpin politik
harus memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan-tantangan itu, mengatasi serangan
dan gangguan itu secara efektif dan efisien.

Menghadapi Pemilu 2014, partai-partai mapan yang ada di Indonesia sudah mulai
saling menyerang dan saling melemahkan. Kepentingan menang pemilu itu bisa berefek
kepada kinerja kepemimpinan nasional. Isu-isu seputar siapa yang akan dicalonkan menjadi
presiden sudah beredar dan mengusik pemimpin politik Indonesia untuk menanggapinya,
bahkan Presiden SBY secara khusus menanggapinya. Meski belum sampai secara langsung
mengganggu kinerja kepemimpinan politik Indonesia, isu pemilu yang akan datang sudah
mengambil porsi perhatian para pemimpin politik dan bisa jadi mengganggu konsentrasi
kerja mereka mengelola negara. Isu-isu kudeta atau pemakjulan bermunculan, meskipun
pihak-pihak yang terkait sudah membantahnya. Situasi itu memberikan indikasi bahwa
kepemimpinan politik Indonesia belum dapat mengatasi tantangan-tantangan kepemimpinan
terkait isu politik secara optimal.

Penataan Ulang Partai

Terpilihnya pemimpin politik (sebagai presiden, gubernur, bupati atau walikota) dari
partai tertentu menuntut partainya untuk melakukan penataan ulang partainya untuk
menyesuaikan dengan tuntutan-tuntutan situasi politik yang berlangsung setelah itu.
Pemimpin politik sebagai kader dari partainya harus memiliki kemampuan menata partainya
sesuai dengan kebutuhannya untuk menjalankan tugas sebagai pemimpin politik. Penataan
ulang partai perlu dilakukan untuk kebutuhan dukungan di dewan perwakilan rakyat,
pengaturan koalisi, penempatan kader partai dalam pemerintahan, pengelolaan konflik dan
sebagainya. Tanpa kemampuan menata ulang partai, kepemimpinan efektif tak bisa dicapai.
Kepemimpinan politik nasional harus mempersiapkan dirinya untuk kemungkinan-
kemungkinan penataan ulang partainya.

Terkait dengan belum mampunya pemimpin politik memimpin dan mengelola


partainya untuk tetap solid, aktivitas penataan ulang partai politik oleh para pemimpin politik
Indonesia pun masih belum optimal. Malah banyak terjadi konflik internal partai. Alih-alih
partai menunjang berjalannya kepemimpinan politik Indonesia secara efektif, justru
persoalan-persoalan internal partai jadi pengganggu. Urusan internal partai malah menyedot
banyak waktu, tenaga, pikiran dan biaya para pemimpin politik Indonesia.

Kesiapan Menghadapi Perubahan

Perubahan politik merupakan satu implikasi dari pergantian kepemimpinan politik


nasional, bahkan menjadi tuntutan bagi kepemimpinan politik yang baru. Jika tidak,
kepemimpinan itu tidak berbeda dengan kepemimpinan sebelumnya dan dapat kehilangan
mandat dalam memimpin. Perubahan politik selalu mengandung risiko dan pemimpin harus
bersiap-siap menanggung risiko itu.

Ada kecenderungan para pemimpin politik Indonesia menghindari perubahan yang


signifikan. Mereka tak menampilkan keberanian menghadapi risiko. Mereka cenderung
mempertahankan status quo. Dibandingkan dengan kepemimpinan politik terdahulu, tidak
ada perubahan berarti yang terjadi. Tak ada program yang sungguh berbeda dan berefek kuat
terhadap perbaikan kondisi masyarakat. Meskipun secara makro keadaan ekonomi Indonesia
tergolong stabil, bahkan meningkat, tetapi secara umum program-program yang dilaksanakan
tak berbeda secara signifikan dengan program-program di periode terdahulu. Malahan,
beberapa kebijakan terobosan yang banyak mendapat tanggapan positif ditinjau kembali,
seperti wewenang Komite Pemberantasan Korupsi dan wewenang Mahkamah Konstitusi.

Manajemen Proses

Manajemen proses merupakan elemen esensial dalam setiap komitmen keterlibatan


dalam jabatan politik. Untuk menjamin tanggung jawab dan mandat dari rakyat dapat
terlaksana secara baik, pemimpin politik harus dapat menjaga berjalannya penerapan
kebijakan dan pelaksanaan program. Ia harus memahami mekanisme dan aturan dari
penerapan kebijakan dan pelaksanaan program, menjaga semua itu agar terus berlangsung,
mengendalikan proses ke arah yang direncanakan. Tanpa kemampuan manajemen proses,
kepemimpinan politik tak akan berjalan baik.

Kita saksikan banyak program yang tidak berkelanjutan. Kita temukan juga undang-
undang yang sudah disahkan dan diundangkan negara tak sungguh-sungguh diterapkan dalam
masyarakat, hambatan-hambatan dalam pencairan dana program, lambatnya penanganan-
penanganan masalah di dalam dan luar negeri. Masih banyak mekanisme dan aturan
penerapan kebijakan dan pelaksanaan program yang belum jelas atau tak tersosialisasi secara
baik. Kepemimpinan politik Indonesia masih belum dapat menjaga dan mengendalikan
proses pembangunan negara secara optimal. (dikutip dari sumber
http://www.p2d.org/index.php/kon/53-32-juli-2011/278-kualitas-kepemimpinan-politik-
indonesia.html).

2.5 Persoalan-persoalan Kepemimpinan Politik yang Terjadi di Indonesia

Dari segi teknis atau prosedur, demokrasi di Indonesia sesungguhnya sudah


terlaksana. Hal ini dapat dibuktikan dengan terlaksananya pemilu pada tahun 1955, 1971,
1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, 2004 dan 2009 untuk pemilihan calon legislatif (Pileg)
dan pemilihan calon presiden dan wakil presiden (Pilpres). Bahkan, pemilu Indonesia tahun
1999 mendapat apresiasi dari dunia internasional sebagai Pemilu pertama di era Reformasi
yang telah berlangsung secara aman, tertib, jujur, adil, dan dipandang memenuhi standar
demokrasi global dengan tingkat partisipasi politik ketika itu adalah 92,7%.
Namun sesungguhnya pemilu 1999 yang dipandang baik ini mengalami penurunan partisipasi
politik dari pemilu sebelumnya yaitu tahun 1997 yang mencapai 96,6 %. Tingkat partisipasi
ppolitik di tahun berikutnya pun mengalami penurunan, dimana pada pemilu tahun 2004,
tingkat partisipasi politik mencapai 84,1 % untuk pemilu Legislatif, dan 78,2 % untuk
Pilpres. Kemudian pada pemilu 2009, tingkat partisipasi politik mencapai 10,9 % untuk
pemilu Legislatif dan 71,7 % untuk Pilpres.

Menurunnya angka partisipasi politik di Indonesia dalam pelaksanaan pemilu ini


berbanding terbalik dengan angka golput (golongan putih) yang semakin meningkat.
Tingginya angka golput ini menunjukkan apatisme dari masyarakat di tengah pesta
demokrasi, karena sesungguhnya pemilu merupakan wahana bagi warga negara untuk
menggunakan hak pilihnya dalam memilih orang-orang yang dianggap layak untuk mewakili
masyarakat, baik yang akan duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan
Perwakilan Daerah (DPD), maupun Presiden dan Wakil Presiden.

Hak untuk memilih atau mengemukakan pendapat tergolong sebagai Hak Asasi
Manusia yang pelaksanaannya dijamin dalam UUD 1945 Pasal 28E ayat (3). Tingginya
angka golput mungkin berasal dari pandangan masyarakat yang memandang bahwa hak asai
manusia merupakan suatu kebebasan, yang dalam hal ini adalah kebebasan untuk
menggunakan hak pilihnya ataupun tidak. Memang tidak ada aturan atau hukum yang
menjerat bagi orang-orang yang tidak turut serta berpartisipasi politik dalam pemilu, namun
apabila terus dibiarkan angka golput terus meningkat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran
terhadap demokrasi Indonesia yang akan semakin tidak berkualitas akibat rendahnya
partisipasi dari para warganya.

Yang kedua adalah demokrasi dipandang dari segi etika politiknya. Secara subtantif
pengertian etika politik tidak dapat dipisahkan dengan subyek sebagai pelaku etika yaitu
manusia. Oleh karena itu etika politik berkait erat dengan bidang pembahasan moral. Hal ini
berdasarkan kenyataan bahwa pengertian moral senantiasa menunjuk kepada manusia sebagai
subyek etika. Walaupun dalam konteks politik berkaitan erat dengan masyarakat, bangsa dan
negara, Etika politik tetap meletakkan dasar fundamental manusia sebagai manusia. Dasar ini
lebih meneguhkan akar etika politik bahwa kebaikan senantiasa didasarkan kepada hakikat
manusia sebagai makhluk yang beradab dan berbudaya.

Masih mengambil contoh yang sama yaitu mengenai pemilihan umum, dimana
pemilihan umum yang seharusnya terjadi sebagaimana tercantum dalam Pasal 22E ayat (1)
UUD 1945 adalah pemilihan umum secara langsung dan umum, sera bersifat bebas, rahasia,
jujur, dan adil. Namun bagaimanakah etika politik dari para aktor dalam pemilihan umum,
khususnya calon pemerintah dan calon wakil rakyat di Indonesia ?

Pemilihan umum di Indonesia merupakan arena pertarungan aktor-aktor yang haus


akan popularitas dan kekuasaan. Sebagian besar petinggi pemerintahan di Indonesia adalah
orang-orang yang sangat pandai mengumbar janji untuk memikat hati rakyat. Menjelang
pemilihan umum, mereka akan mengucapkan berbagai janji mengenai tindakan-tindakan
yang akan mereka lakukan apabila terpilih dalam pemilu, mereka berjanji untuk
mensejahterakan rakyat, meringankan biaya pendidikan dan kesehatan, mengupayakan
lapangan pekerjaan bagi rakyat, dan sebagainya.Tidak hanya janji-janji yang mereka gunakan
untuk mencari popularitas di kalangan rakyat melalui tindakanmoney politics.

Perbuatan tersebut adalah perbuatan yang tidak bermoral dan melanggar etika politik.
Hak pilih yang merupakan hak asasi manusia tidak bisa dipaksakan oleh orang lain, namun
melalui money politics secara tidak langsung mereka mempengaruhi seseorang dalam
penggunaan hak pilihnya. Selain itu, perbuatan para calon petinggi pemerintahan tersebut
juga melanggar prinsip pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.
Tindakan mempengaruhi hak pilih seseorang merupakan perbuatan yang tidak jujur, karena
jika rakyat yang dipengaruhi tersebut mau memilihnya pun hanya atas dasar penilaian yang
subyektif, tanpa memandang kemampuan yang dimiliki oleh calon tersebut. Tindakan ini
juga merupakan persaingan yang tidak sehat dan tidak adil bagi calon lain yang menjadi
pesaingnya.

Apabila calon petinggi pemerintahan yang sejak awal sudah melakukan persaingan
tidak sehat tersebut berhasil menduduki jabatan pemerintahan, tentu sangat diragukan apakah
ia dapat menjalankan pemerintahan yang bersih atau tidak. Terbukti dengan begitu
banyaknya petinggi pemerintahan di Indonesia saat ini, khususnya mereka yang duduk di
kursi DPR sebagai wakil rakyat, yang terlibat kasus korupsi. Ini adalah buah dari kecurangan
yang mereka lakukan melalui money politics dimana mereka sudah mengaluarkan begitu
banyak dana demi membeli suara rakyat, sehingga ketika mereka berkuasa mereka akan
cenderung memanfaatkan kekuasaannya yang antara lain bertujuan untuk mengembalikan
uang yang telah mereka keluarkan tersebut.

Tidak hanya korupsi, sikap atau perilaku keseharian para wakil rakyat tersebut juga
tidak menunjukkan etika politik yang baik sebagai seseorang yang seharusnya mengayomi
dan menjadi penyambung lidah rakyat demi mencapai kesejahteraan rakyat. Mereka
kehilangan semangat dan tekad untuk membela rakyat yang bertujuan pada tercapainya
kesejahteraan rakyat, yang mereka ungkapkan ketika masih menjadi calon wakil rakyat.
Mereka kehilangan jatidiri sebagai seorang pemimpin dan justru menyalahgunakan
kepercayaan rakyat terhadap mereka demi kepentingan pribadi dan kelompok. Terbukti
banyak anggota DPR yang menginginkan gaji tinggi, adanya berbagai fasilitas dan sarana
yang mewah yang semuanya itu menghabiskan dana dari rakyat, dalam jumlah yang tidak
sedikit. Hal ini tidak sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan, bahkan untuk sekedar
rapat saja mereka tidak menghadiri dan hanya titip absen, atau mungkin hadir namun tidak
berpartisipasi aktif dalam rapat tersebut. Sering diberitakan ada wakil rakyat yang tidur ketika
rapat berlangsung.

Terakhir atau yang ketiga adalah permasalahan demokrasi dipandang dari


segisistemnya secara keseluruhan, mencakup infrastruktur dan suprastruktur politik di
Indonesia. Infrastruktur politik adalah mesin politik informasl berasal dari kekuatan riil
masyarakat, seperti partai politik (political party), kelmpok kepentingan (interest group),
kelompok penekan (pressure group), media komunikasi politik (political communication
media), dan tokoh politik (political figure). Disebut sebagai infrastruktur politik karena
mereka termasuk pranata sosial dan yang menjaid konsen masing-masing kelompok adalah
kepentingan kelompok mereka masing-masing.

Sedangkan suprastruktur politik (elit pemerintah) merupakan mesin politik formal di


suatu negara sebagai penggerak politik formal. Kehidupan politik pemerintah bersifat
kompleks karena akan bersinggungan dengan lembaga-lembaga negara yang ada, fungsi, dan
wewenang/kekuasaan antara lembaga yang satu dengan yang lainnya. Dalam perkembangan
ketatanegaraan modern, pada umunya elit politik pemerintah dibagi dalam
kekuasaan eksekutif (pelaksana undang-undang), legislatif (pembuat undang-undang),
dan yudikatif (yang mengadili pelanggaran undang-undang), dengan sistem pembagian
kekuasaaan atau pemisahan kekuasaan.

Dalam pelaksanaan demokrasi, harus ada hubungan atau relasi yang seimbang antar
komponen yang ada. Tugas, wewenang, dan hubungan antar lembaga negara itu pun diatur
dalam UUD 1945. Relasi atau hubungan yang seimbang antar lembaga dalam komponen
infrastruktur maupun suprasruktur, serta antara infrastruktur dengan suprastruktur akan
menghasilkan suatu keteraturan kehidupan politik dalam sebuah negara. Namun tetap saja,
penyimpangan dan permasalahan itu selalu ada dalam kehidupan masyarakat yang beragam
dan senantiasa berubah seiring waktu.

Dalam lembaga legiflatif (DPR) misalnya, sebagai lembaga yang dipilih oleh rakyat,
dan kedudukannya adalah sebagai wakil rakyat yang sebisa mungkin harus memposisikan
diri sebagai penyambung lidah rakyat, megingat pemegang kekuasaan tertinggu dslam negara
demokrasi adalah rakyat (kedaulatan rakyat). Namun dalam pelaksanaannya, lembaga negara
tidak memposisikan diri sebagai penyampai aspirasi rakyat dan representasi dari kehendak
rakyat untuk mencapai kesejahteraan, namun justru lembaga negara tersebut sebagai
pemegang kekuasaan dalam sebuah negara, dan rakyat harus tunduk terhadap kekuasaan
tersebut.

Contoh lain adalah dalam lembaga yudikatif, atau lembaga yang bertugas mengadili
terhadap pelanggaran undang-undang. Hukum di Indonesia adalah hukum yang tumpul ke
atas namun tajam ke bawah. Siapa yang punya uang, tentu akan mengalami hukuman yang
ringan meskipun melakukan kesalahan yang besar. Sebaliknya, apabila tidak punya uang, dia
tidak bisa berkutik dengan hukuman yang dijatuhkan padanya meskipun kesalahan yang
dilakukan tergolong ringan. Bukti bahwa hukum Indonesia bisa dibeli adalah adanya hakim
yang tertangkap akibat menerima suap untuk meringankan kasus yang sedang ia tangani.
Atau contoh lain adalah seorang pejabat tinggi pemerintahan yang sedang menjalani
hukuman, namun dapat dengan mudah keluar masuk penjara dengan berbagai alasan atau
kepentingan, dan tentu saja hal ini tidak bisa dilakukan oleh rakyat kecil.

(Dikutip dari http://politik.kompasiana.com/2013/05/11/permasalahan-demokrasi-di-


indonesia-559279.html).
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

1. Ralph M. Stockdill telah merangkum definisi-definisi ini serta mengatakan bahwa


kepemmpinan melibatkan proses kelompok, pengaruh kepribadian, seni meminta
kerelaan, penggunaan pengaruh, persuasi, pencapaian tujuan, interaksi, peran-peran
yang diperbdakan, dan pembentukan struktur dalam kelompok-kelompok.
2. Kepemimpinan organisasi, menurut definisi, bekerja melalui posisi komunikator alam
struktur sosial yang tegas. Sebaliknya, kata sosiolog Orrin Klapp, “Kepemimpinan
simbolik bekerja pada massa dan khalayak sebelum, tanpa, dan tidak dapat dihalangi
oleh organisasi”. Orang menemukan arti pada kepemimpinan simbolik yang
melontarkan imajinasinya dengan penampilan luar yang memukau dengan
melambangkan gaya hidup yang menarik.
3. Robert Salisbury menyamakan ikatan antara pemimpin dan pengikut dengan ikatan
antara pengusaha dan pelanggan. Pemimpin kepentingan yang terorganisasi, misalnya
memberi dorongan untuk menciptakan kelompok dengan menyajikan intensif kepada
orang-orang yang menjadi anggota kelompok, insentif sebagai penukar “biaya”
mereka untuk bergabung dan memberikan dukungan. Keputusan ekspresif melibatkan
kesenangan yang diturunkan dari identifikasi dengan pemimpin, memproyeksikan
kebutuhan bergantung pada pemimpin sebagai simbol kondensasi, atau sekadar
diidentifikasi sebagai pengikut yang setia dan mengabdi.

4. Cathy Gormley-Heenan (2001) dalam risetnya, From Protagonist to Pragmatist:


Political Leadership in Societies in Transition. Ada sembilan isu kunci yang dijadikan
kategori yang mendasari analisis: (1) penggunaan dan penyalahgunaan kekuasaan
politik; (2) aktivitas memimpin partai; (3) pemenuhan janji kepada konstituen; (4)
pembinaan hubungan dengan partai lain; (5) pelayanan publik; (6) persiapan
menghadapi pemilu selanjutnya; (7) pengelolaan dan penataan ulang partai; (8)
kesiapan menghadapi perubahan; dan (9) manajemen proses.

5. Dari segi teknis atau prosedur, demokrasi di Indonesia sesungguhnya sudah


terlaksana. Hal ini dapat dibuktikan dengan terlaksananya pemilu pada tahun 1955,
1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, 2004 dan 2009 untuk pemilihan calon
legislatif (Pileg) dan pemilihan calon presiden dan wakil presiden (Pilpres). Bahkan,
pemilu Indonesia tahun 1999 mendapat apresiasi dari dunia internasional sebagai
Pemilu pertama di era Reformasi yang telah berlangsung secara aman, tertib, jujur,
adil, dan dipandang memenuhi standar demokrasi global dengan tingkat partisipasi
politik ketika itu adalah 92,7%.
DAFTAR PUSTAKA

· Nimmo dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Politik Pesan dan Efek, PT Remaja
Rosdakarya Ofsset, Bandung : 2000.

 http://politik.kompasiana.com/2013/05/11/permasalahan-demokrasi-di-indonesia-
559279.html

http://www.p2d.org/index.php/kon/53-32-juli-2011/278-kualitas-kepemimpinan-politik-
indonesia.html