Anda di halaman 1dari 34

i

METODE MAGNETIK

oleh:
SAIFILLAH
165090701111018

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOFISIKA


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERISTAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bumi memiliki 3 lapisan utama, yaitu kerak, mantel dan inti bumi yang masing-masing
lapisan tersebut memiliki pembagiannya lagi. Pada kerak sendiri terdapat kerak benua dan
kerak samudera yang mana pada kedua kerak ini memiliki distribusi massa jenis dan
suseptibilitas yang tidak merata pada batuan penyusun bumi akan memberikan harga yang
bervariasi terhadap medan gravitasi dan medan magnetik. Metode gravitasi dan magnetik
merupakan metode-metode eksplorasi geofisika yang didasarkan pada variasi medan gravitasi
dan magnetik yang dapat diamati dan diukur di permukaan bumi.
Pada ilmu geofisika terdapat banyak metode yang dapat digunakan untuk eksplorasi dan
penelitian. Salah satunya adalah metode gravitasi yang sering digunakan untuk survey awal.
Metode gravitasi pada percobaan kali ini dilakukan dengan pengukuran terhadap medan
gravitasi sebagai akibat adanya massa batuan tertentu di bawah permukaan bumi. Berdasarkan
perekaman data inilah yang digunakan untuk perkiraan keadaan bawah tanah di daerah
penelitian.
Metode magnetik atau yang dikenal dengan metode geomagnetik merupakan salah satu
metode geofisika yang sering digunakan dalam survei pendahuluan pada eksplorasi migas,
panas bumi, mineral, maupun pemantauan gunung api. Metode magnetik memiliki akurasi
pengukuran yang relatif tinggi dengan instrumen dan pengoperasiannya yang relatif sederhana
dibandingkan dengan metode geofisika lainnya.
Semakin banyaknya kebutuhan akan eksplorasi geofisika khususnya untuk mengetahui
kondisi bawah permukaan maka diperlukan metode yang cocok dalam pemenuhan hal tersebut.
Dengan diketahuinya kondisi geologi di bawah permukaan bisa dijadikan sebagai acuan dalam
melakukan kepentingan yang diinginkan. Oleh karena itu praktikum dengan judul ”Metode
Magnetik” dilakukan agar praktikan dapat lebih memahami konsep dari metode gravitasi dalam
geofisika sehingga ke depannya dapat memanfaatkan metode ini untuk kemaslahatan bersama.

1.2 Perumusan Masalah


Adapun permasalahan dalam praktikum menggunakan metode magnetik ini dirumuskan
sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep metode magnetik?
2. Bagaimanakah akuisisi, pengolahan data, serta interpretasi dari praktikum metode magnetik
yang telah dilakukan?
3. Bagaimanakah kondisi lapisan bawah permukaan berdasarkan kontras suseptibilitas
magnetik batuan yang terekam?

1
1.3 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dalam praktikum menggunakan metode gravitasi ini adalah
sebagai berikut:
1.Pengambilan di lapangan hanya dibatasi dalam waktu 2 hari karena titik yang sedikit dan
medan yang susah.
2. Pengolahan data digunakan hanya untuk mengetahui struktur bawah dan suseptibilitas
magnetik batuan yang terdapat di lokasi penelitian.

1.4 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan praktikum menggunakan metode magnetik ini yaitu sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi variasi batuan penyusun bawah permukaan area penelitian (dalam hal ini
lapangan Proyek di Sawojajar) berdasarkan kontras suseptibilitas magnetik batuan yang
terekam
2. Memberikan pengalaman di lapangan mengenai metode geomagnetik baik dari segi akuisisi
data, pengolahan data, maupun interpretasi hasil

1.5 Manfaat Penelitian


Dengan adanya studi lapangan metode geomagnetik ini, harapannya dapat menambah
pengalaman praktikan dalam menerapkan teori dari metode magnetik secara real di lapangan.
Sementara itu, hasil studi geomagnetik ini dapat digunakan sebagai tambahan informasi untuk
mendukung eksplorasi daerah penelitian.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Dasar Fisika tentang Magnetik
Seorang fisikawan Inggris bernama Sir William Gilbert menganalogikan bumi
sebagai dipole magnetik raksasa dalam bukunya yang berjudul “de magnete”. Pernyataan
ini menjadi cikal bakal dipelajarinya suatu teori bernama geomagnet atau kemagnetan
bumi. Selanjutnya Gilbert mengatakan bahwa bumi adalah sebuah magnet raksasa dengan
sebuah kutub magnet utara dan sebuah kutub magnet selatan.
Penjelasan kemagnetan bumi (geomagnetism) terjadi karena adanya arus listrik di dalam
inti bumi yang berbentuk cair dan mudah bergerak. Pergerakan bumi menimbulkan
pergerakan relatif dari ion-ion di dalam materi. Ion-ion yang bergerak itu menimbulkan
arus listrik dalam inti bumi dan arus yang berputar menimbulkan medan magnet
disekitarnya.
Bumi terbagi atas lapisan inti-dalam yang padat dan diatasnya adalah lapisan inti-luar yang
cair. Dari segi kandungan kimia, kandungan bagian inti bumi adalah paduan besi-nikel.
Struktur bumi dapat dijelaskan dari faktor suhu dan tekanan. Pada inti bumi, panas yang
ditimbulkan oleh peluruhan radioaktif akan melelehkan batuan. Tekanan tinggi, sebaliknya
akan cenderung memadatkan batuan. Dengan demikian, walaupun pada inti-dalam
suhunya paling tinggi, mencapai 3.000 derajat Celcius, tekanan dari lapisan batuan
diatasnya lebih kuat pengaruhnya sehingga inti-dalam berwujud padat. Di lapisan inti-luar,
tekanan lapisan batuan diatasnya tidak cukup tinggi untuk mengimbangi kekuatan faktor
suhu sehingga dihasilkan wujud cair.

Menurut Gillbert, sifat magnet bumi ditimbulkan karena adanya arus listrik di
lapisan inti luar. Seperti pernyataan di atas, lapisan inti-luar berwujud cair. Suhu
permukaan cairan inti-luar yang bersentuhan dengan inti-dalam jauh lebih tinggi daripada
lapisan cairan inti-luar yang bersentuhan dengan mantel. Akibatya, seperti memanaskan
air, akan terjadi arus konveksi cairan pada inti-luar dan arus konveksi ini menimbulkan
arus listrik. Arus listrik inilah yang menimbulkan sifat magnet bumi. Bumi mempunyai
sistem pertahanan yang dapat melindungi bumi dari radiasi sinar matahari misalnya sinar
ultraviolet. Lapisan tersebut dinamakan atmosfer bumi. Selain lapisan atmosfer yang
tersusun atas gas-gas, bumi juga memiliki sistem pertahanan terhadap aktivitas antariksa
yaitu medan magnet bumi. Fungsi dari medan magnet bumi sebagai pelindung pancaran
radiasi kosmis yang berasal dari luar angkasa. Medan magnetik bumi dapat memantulkan

3
sebagian besar angin matahari, yaitu arus partikel bermuatan dari matahari yang mampu
mengionisasi lapisan atmosfer bumi.

Gambar 2.1 Penggambaran Medan magnet bumi

Metode geomagnetik didasarkan pada sifat kemagnetan (kerentanan magnet) batuan, yaitu
kandungan magnetiknya sehingga efektifitas metode ini bergantung kepada kontras
magnetik di bawah permukaan. Di daerah panas bumi, larutan hidrotermal dapat
menimbulkan perubahan sifat kemagnetan batuan, dengan kata lain kemagnetan batuan
akan menjadi turun atau hilang akibat panas yang ditimbulkan. Karena panas terlibat dalam
alterasi hidrotermal, maka tujuan dari survei magnetik pada daerah panas bumi adalah
untuk melokalisir daerah anomali magnetik rendah yang diduga berkaitan erat dengan
manifestasi panas bumi.

Bumi merupakan magnet alam raksasa, dapat dibuktikan dengan alat yang
dinamakan kompas, dimana jarum penunjuk pada kompas akan menunjukkan arah utara
dan selatan bumi kita. Karena sekeliling bumi sebenarnya dilingkupi garis gaya magnet
yang tidak tampak oleh mata kita tapi bisa diamati dengan kompas keberadaannya.

4
Penyebab bumi bersifat magnetik karena faktor perputaran inti bumi yang bersifat
cair. Inti cair bumi terdiri dari lelehan besi dan nikel yang bertemperatur 5000oC. Lelehan
besi dan nikel ini mengandung sejumlah muatan listrik yang berputar mengelilingi
sumbunya sehingga menimbulkan medan magnet yang arahnya sesuai dengan aturan
tangan kanan. Hal tersebutlah yang membuat bumi menjadi sebuah magnet raksasa
dengan kutub selatan magnet berada di utara dan kutub utara berada di selatan, seperti yang
terlihat pada Gambar

Gambar 2.2. Garis-Garis Gaya Magnet (Lesmana, 2007)

1. Gaya Magnet (𝐹⃗ )


Gaya magnet yang diberikan oleh dua buah kutub yang terpisah pada jarak r dan masing
masing memiliki muatan p1 dan p2 oleh persamaan:
(2.1)
1 𝑝1 𝑝2
𝐹⃗ = 𝑟⃗
𝜇𝑜 𝑟 2

Dimana:
𝐹⃗ = Gaya Coulomb (N)
𝜇𝑜 = Permeabilitas Medium Sekitar (ruang hampa = 1)
𝑟2 = Jarak antara p1 dan p2
p1 dan p2 = Kuat kutub yaitu banyaknya medan magnet (C)
Jika m1 dan m2 berbeda kutub, maka gaya akan tarik menarik dan sebaliknya apabila sama
maka saling tolak menolak.
(Telford, 1990).

5
⃗⃗ )
2. Kuat Medan Magnet (𝐻
Kuat medan magnet adalah besarnya medan magnet pada suatu titik dalam
ruang yang timbul sebagai akibat sebuah kutub yang berada sejauh r dari
⃗⃗ ) pada suatu titik yang berjarak r
titik tersebut. Kuat medan magnet (𝐻
dari m didefinisikan sebagai gaya persatuan kuat kutub magnet, dapat
dituliskan sebagai:

𝑚
⃗⃗ =
𝐻 𝑟⃗ (2.2)
𝜇𝑟 2

Dimana:

H adalah kuat medan magnet (A-1)


m’ adalah kutub khayal yang diukur oleh alat (m)

(Telford, 1990)
3. Momen Magnet

Pada kenyataannya, kutub-kutub magnet selalu muncul berpasangan


(dipole) dimana dua kutub berkekuatan +m dan –m dipisahkan oleh jarak
I, maka momen maghnetik ini didefinisikan sebagai:

⃗⃗⃗ = 𝑙𝑚𝑟⃗
𝑀 (2.3)

Dimana

M adalah momen magnet (m.C)

m adalah kutub magnet (m)

𝑟⃗ adalah arah dari unit vektor dari kutub negatif hingga kutub positif

𝑙 adalah jarak dari kedua kutub (m)

(Telford, 1990)

Batuan atau mineral dapat dibedakan menjadi beberapa bagian berdasarkan


perilaku atom-atom penyusunnya jika mendapat medan magnet luar H, yaitu : diamagnetik,
paramagnetik, ferromagnetik, ferrimagnetik dan antifferomagnetik. Berikut penjelasan
masing-masing bagian:
6
1. Diamagnetik
Batuan diamagnetik mempunyai harga suseptibilitas k negatif, sehingga intensitas imbasan
dalam batuan atau mineral tersebut mengarah berlawanan dengan gaya medan magnet,
seperti yang terlihat pada Gambar 2.2 Contoh batuan diamagnetik antara lain : marmer,
bismuth dan kuarsa. (Lesmana,2007)

Gambar 2.3 Spin Elektron Bahan Diamagnetik


2. Paramagnetik
Batuan atau mineral paramagnetik mempunyai kerentanan magnet positif dan akan
mengecil sesuai dengan menurunnya suhu, seperti yang terlihat pada Gambar 2.3 Sifat-
sifat paramagnetik akan timbul bila atom atau molekul suatu batuan atau mineral memiliki
momen magnet pada waktu tidak terdapat medan luar dan interaksi antara atom lemah.
Contoh batuan paramagnetik antara lain : piroksen, olivine, garnet dan biotit.
(Lesmana,2007)

Gambar 2.4 Spin Elektron Bahan Paramagnetik

3. Ferromagnetik
Atom-atom dalam bahan ferromagnetik memiliki momen magnet dan interaksi antara
atom-atom tetangganya begitu kuat sehingga momen semua atom dalam suatu daerah
mengarah sesuai dengan medan magnet luar yang diimbaskan, seperti yang terlihat pada
Gambar 2.6 Contohnya : besi, cobalt dan nikel. (Lesmana,2007)

7
Gambar 2.5 Spin Elektron Bahan Ferromagnetik

4. Antiferromagnetik
Suatu bahan atau material akan bersifat antifferomagnetik pada saat kemagnetan benda
ferromagnetik naik sesuai dengan kenaikan temperatur yang kemudian hilang setelah
temperatur mencapai titik Curie, seperti yang terlihat pada Gambar 2.7 Contohnya
hematite. (Lesmana,2007)

Gambar 2.6 Spin Elektron Bahan Antiferromagnetik

5. Ferrimagnetik
Bahan-bahan dikatakan ferrimagnetik bila momen magnet pada dua daerah magnet saling
berlawanan arah satu terhadap lainnya, seperti yang terlihat pada Gambar 2.8 Harga k
cukup tinggi dan bergantung pada temperatur. Contohnya adalah titanium.

Gambar 2.7 Spin Elektron Bahan Ferrimagnetik


(Lesmana,2007)

8
2.2 Metode Magnetik

Metoda Magnetik adalah salah satu metoda di geofisika yang memanfaatkan sifat
kemagnetan bumi. Menggunakan metoda ini diperoleh kontur yang menggambarkan
distribusi susceptibility batuan di bawah permukaan pada arah horizontal. Dari nilai
susceptibility selanjutnya dapat dilokalisir / dipisahkan batuan yang mengandung sifat
kemagnetan dan yang tidak. Mengingat survey ini hanya bagus untuk pemodelan kearah
horizontal, maka untuk mengetahui informasi kedalamannya diperlukan metoda Resistivity
2D. Jadi, survey magnetik diterapkan untuk daerah yang luas, dengan tujuan untuk mencari
daerah prospek. Setelah diperoleh daerah yang prospek selanjutnya dilakukan survey
Resistivity 2D.
Metode Geofisika merupakan ilmu yang mempelajari tentang bumi dengan menggunakan
pengukuran fisis pada atau di atas permukaan. Dari sisi lain, geofisika mempelajari semua
isi bumi baik yang terlihat maupun tidak terlihat langsung oleh pengukuran sifat fisis
dengan penyesuaian pada umumnya pada permukaan (Dobrin dan Savit, 1988). Secara
umum, metode geofisika dibagi menjadi dua kategori, yaitu:
 Metode pasif dilakukan dengan mengukur medan alami yang dipancarkan oleh bumi.
 Metode aktif dilakukan dengan membuat medan gangguan kemudian mengukur respon
yang dilakukan oleh bumi.

Medan dalam ilmu geofisika terdiri dari 2 :

 Medan alami adalah misalnya radiasi gelombang gempa bumi, medan gravitasi bumi,
medan magnet bumi, medan listrik dan elektromagnetik bumi serta radiasi radiokativitas
bumi.
 Medan buatan dapat berupa ledakan dinamit, pemberian arus listrik ke dalam tanah,
pengiriman sinyal radar dan lain sebagainya.

Dalam melakukan pengukuran magnetikik, peralatan paling utama yang digunakan


adalah magnetometer. Peralatan ini digunakan untuk mengukur kuat medan magnetik di
lokasi survei. Salah satu jenisnya adalah Proton Precission Magnetometer (PPM) yang
digunakan untuk mengukur nilai kuat medan magnetik total. Peralatan lain yang bersifat
pendukung di dalam survei magnetik adalah Global Positioning System (GPS). Peralatan
ini digunaka untuk mengukur posisi titik pengukuran yang meliputi bujur, lintang,
ketinggian, dan waktu. GPS ini dalam penentuan posisi suatu titik lokasi menggunakan
bantuan satelit. Penggunaan sinyal satelit karena sinyal satelit menjangkau daerah yang
sangat luas dan tidak terganggu oleh gunung, bukit, lembah dan jurang.

9
Beberapa peralatan penunjang lain yang sering digunakan di dalam survei magnetik, antara
lain :

1. Kompas geologi, untuk mengetahui arah utara dan selatan dari medan magnet bumi.
2. Peta topografi, untuk menentukan rute perjalanan dan letak titik pengukuran pada saat
survei magnetik di lokasi
3. Sarana transportasi
4. Buku kerja, untuk mencatat data-data selama pengambilan data
5. PC atau laptop dengan software seperti Surfer, Matlab, Mag2DC, dan lain-lain.

Pengukuran data medan magnetik di lapangan dilakukan menggunakan peralatan


PPM, yang merupakan portable magnetometer. Data yang dicatat selama proses
pengukuran adalah hari, tanggal, waktu, kuat medan magnetik, kondisi cuaca dan
lingkungan.

Dalam melakukan akuisisi data magnetik yang pertama dilakukan adalah


menentukan base station dan membuat station – station pengukuran (usahakan membentuk
grid – grid). Ukuran gridnya disesuaikan dengan luasnya lokasi pengukuran, kemudian
dilakukan pengukuran medan magnet di station – station pengukuran di setiap lintasan,
pada saat yang bersamaan pula dilakukan pengukuran variasi harian di base station.

2.3 Koreksi Metode Magnetik

untuk memperoleh nilai anomali medan magnetik yang diinginkan, maka dilakukan
koreksi terhadap data medan magnetik total hasil pengukuran pada setiap titik lokasi atau
stasiun pengukuran, yang mencakup koreksi harian, IGRF dan topografi.

2.3.1 Koreksi Harian


Koreksi harian (diurnal correction) merupakan penyimpangan nilai medan magnetik bumi
akibat adanya perbedaan waktu dan efek radiasi matahari dalam satu hari. Waktu yang
dimaksudkan harus mengacu atau sesuai dengan waktu pengukuran data medan magnetik
di setiap titik lokasi (stasiun pengukuran) yang akan dikoreksi. Apabila nilai variasi harian
negatif, maka koreksi harian dilakukan dengan cara menambahkan nilai variasi harian yang
terekan pada waktu tertentu terhadap data medan magnetik yang akan dikoreksi.
Sebaliknya apabila variasi harian bernilai positif, maka koreksinya dilakukan dengan cara

10
mengurangkan nilai variasi harian yang terekan pada waktu tertentu terhadap data medan
magnetik yang akan dikoreksi, datap dituliskan dalam persamaan
ΔH = Htotal ± ΔHharian (2.4)

2.3.2 Koreksi IGRF


Data hasil pengukuran medan magnetik pada dasarnya adalah konstribusi dari tiga
komponen dasar, yaitu medan magnetik utama bumi, medan magnetik luar dan medan
anomali. Nilai medan magnetik utama tidak lain adalah niali IGRF. Jika nilai medan
magnetik utama dihilangkan dengan koreksi harian, maka kontribusi medan magnetik
utama dihilangkan dengan koreksi IGRF. Koreksi IGRFdapat dilakukan dengan cara
mengurangkan nilai IGRF terhadap nilai medan magnetik total yang telah terkoreksi harian
pada setiap titik pengukuran pada posisi geografis yang sesuai. Persamaan koreksinya
(setelah dikoreksi harian) dapat dituliskan sebagai berikut :
ΔH = Htotal ± ΔHharian ± H0 (2.5)
Dimana H0 = IGRF

2.3.3 Koreksi Topografi


Koreksi topografi dilakukan jika pengaruh topografi dalam survei megnetik sangat kuat.
Koreksi topografi dalam survei magnetikik tidak mempunyai aturan yang jelas. Salah satu
metode untuk menentukan nilai koreksinya adalah dengan membangun suatu model
topografi menggunakan pemodelan beberapa prisma segiempat (Suryanto, 1988). Ketika
melakukan pemodelan, nilai suseptibilitas magnetik (k) batuan topografi harus diketahui,
sehingga model topografi yang dibuat, menghasilkan nilai anomali medan magnetik
(ΔHtop) sesuai dengan fakta. Selanjutnya persamaan koreksinya (setelah dilakukan koreski
harian dan IGRF) dapat dituliska sebagai

ΔH = Htotal ± ΔHharian – H0 – ΔHtop (2.6)

Setelah semua koreksi dikenakan pada data-data medan magnetik yang terukur dilapangan,
maka diperoleh data anomali medan magnetik total di topogafi. Untuk mengetahui pola
anomali yang diperoleh, yang akan digunakan sebagai dasar dalam pendugaan model
struktur geologi bawah permukaan yang mungkin, maka data anomali harus disajikan
dalam bentuk peta kontur. Peta kontur terdiri dari garis-garis kontur yang menghubungkan
titik-titik yang memiliki nilai anomali sama, yang diukur dar suatu bidang pembanding
tertentu.
11
2.3.4 Reduksi ke Bidang Data
Untuk mempermudah proses pengolahan dan interpretasi data magnetik, maka data
anomali medan magnetik total yang masih tersebar di topografi harus direduksi atau dibawa
ke bidang datar. Proses transformasi ini mutlak dilakukan, karena proses pengolahan data
berikutnya mensyaratkan input anomali medan magnetik yang terdistribusi pada biang
datar. Beberapa teknik untuk mentransformasi data anomali medan magnetik ke bidang
datar, antara lain : teknik sumber ekivalen (equivalent source), lapisan ekivalen (equivalent
layer) dan pendekatan deret Taylor (Taylor series approximaion), dimana setiap teknik
mempunyai kelebihan dan kekurangan.

2.3.5 Pengangkatan ke Atas


Pengangkatan ke atas atau upward continuation merupakan proses transformasi data
medan potensial dari suatu bidang datar ke bidang datar lainnya yang lebih tinggi. Pada
pengolahan data magnetikik, proses ini dapat berfungsi sebagai filter tapis rendah, yaitu
unutk menghilangkan suatu mereduksi efek magnetik lokal yang berasal dari berbagai
sumber benda magnetik yang tersebar di permukaan topografi yang tidak terkait dengan
survei. Proses pengangkatan tidak boleh terlalu tinggi, karena ini dapat mereduksi anomali
magnetik lokal yang bersumber dari benda magnetik atau struktur geologi yang menjadi
target survei magnetik ini.

2.3.6 Koreksi Efek Regional

Dalam banyak kasus, data anomali medan magnetik yang menjadi target survei
selalu bersuperposisi atau bercampur dengan anomali magnetik lain yang berasal dari
sumber yang sangat dalam dan luas di bawah permukaan bumi. Anomali magnetik ini
disebut sebagai anomali magnetik regional. Untuk menginterpretasi anomali medan
magnetik yang menjadi target survei, maka dilakukan koreksi efek regional, yang bertujuan
untuk menghilangkan efek anomali magnetik regioanl dari data anomali medan magnetik
hasil pengukuran.

Salah satu metode yang dapat digunakan untuk memperoleh anomali regional
adalah pengangakatan ke atas hingga pada ketinggian-ketinggian tertentu, dimana peta
kontur anomali yang dihasilkan sudah cenderung tetap dan tidak mengalami perubahan
pola lagi ketika dilakukan pengangkatan yang lebih tinggi.

12
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Waktu penelitian dengan metode magnetik ini dilakukan pada hari jumat dan
sabtu pada tanggal 27 sampai dengan 28 April 2018. Tempat Penelitian kali ini berlokasi
Jl. Ki ageng gribig no.999, Sawojajar, Malang dengan koordinat 7˚59’26.67”S dan
112˚40’31.75”E. Melingkupi wilayah luas wilayah ... . Adapun denah lokasi praktikum
ini ditampilkan sebagai berikut.

13
3.2 Rancangan Penelitian
 Penelitian dilakukan dengan cara menentukan terlebih dahulu titik ikat(base station)
yang terletak pada 7˚59’26.67”S dan 112˚40’31.75”E akan digunakan sebagai titik
acuan pada aplikasi Google Earth Pro yang dalam hal ini akan dilakukan pengulangan
pengukuran sebanyak 3 kali berulang
 Kemudian titik ikat tersebut dibuat di aplikasi Mapsource guna mempermudah
penentuan intervalnya dan jarak antar titiknya sebanyak 35 titik pengukuran dengan
interval 50 meter agar diperoleh data yang bervariasi.
 Tampilan dari lokasi titik survey pada Google Earth Pro akan tampak seperti pada
gambar dibawah ini.

 Dimana lokasinya daerah Bintang Utama Putra, Kecamatan Sawojajar, Kota Malang, Jawa
Timur.
 Tujuan dari dipilihnya tempat tersebut adalah untuk mengidentifikasi struktur bawah
permukaan menggunakan metode gravitasi dan metode magnetik yang notabene daerah
tersebut direncanakan adanya pembangunan.

3.1 Materi Penelitian


Dalam dilakukannya penelitian ini digunakan beberapa materi yang berupa data dan
pengolahan data, antara lain:
1. Data yang digunakan, antara lain:
 Latitude
 Longitude

14
 Elevasi
 Waktu
 Nilai Pembacaan alat
 Koreksi Diurnal
 Koreksi IGRF -> Anomaly Medan Magnetik Total

2. Peralatan yang digunakan pada akuisisi data metode magnetik antara lain:
 PPM(Proton Procession Magnetometer)

Gambar 3.1 PPM


PPM merupakan alat yang portable dengan sistem pengoperasian yang cukup
mudah dan sederhana. Dalam penelitian PPM yang digunakan berjumlah dua buah, satu
sebagai rover dan satunya sebagai base station. PPM dapat digunakan untuk mengukur
medan magnet gradien maupun medan magnet total. Pengukuran medan magnet gradien
dengan menggunakan dua buah sensor dan medan magnet total dengan menggunakan
satu buah sensor.

15
 GPS

Gambar 3.2 GPS Garmin

Global Positioning System atau yang dikenal dengan GPS merupakan sistem
penentuan lokasi berdasarkan sinyal satelit. GPS receiver merupakan peralatan yang
dapat menyediakan informasi koordinat pada lokasi penelitian. Informasi koordinat ini
meliputi lintang (latitude), bujur (longitude), dan ketinggian (altitude). GPS receiver
bekerja dengan mencari tiga atau lebih satelit-satelit, jarak dari setiap satelit ke GPS
receiver dihitung dan menggunakan informasi ini maka lokasi pengamat yang
membawa GPS receiver ini dapat ditentukan berdasarkan garis lintang dan garis bujur.
GPS receiver yang digunakan dalam penelitian ini ialah GPS GARMIN, ditunjukkan
seperti gambar diatas.

 Jam Tangan

Gambar 3.3 Jam Tangan


Jam Tangan pada penelitian ni bertindak sebagai pencatat waktu. Jam tangan
digunakan untuk mencatat waktu pada tiap-tiap titik pengukuran yang kemudian akan
digunakan pada tahap pengolahan data. Jam tangan ditunjukkan pada gambar diatas.

16
 Alat Tulis

Gambar 3.4 Alat tulis


Alat ini digunakan untuk mencatat hasil akuisisi data di lapangan survei. Alat tulis ini
ditunjukkan pada gambar diatas.

3. Perangkat lunak (software) yang digunakan antara lain:


 Ms Excel 2003
Ms Excel digunakan untuk pengelompokan data-data berupa latitude,
longitude, waktu, pembacaan alat, koreksi-koreksi, dan Anomali magnetik itu
sendiri.Ms Excel yang digunakan pun adalah jenis 2003 karena untuk pembacaan alat
Oasis hanya mampu Compatible untuk Excel 2003.
 Surfer 10(32-bit)
Surfer digunakan perubahan bentuk Longitude dan Latitude ke dalam bentuk
WGS84 sehingga output yang didapat adalah Easting dan Northing.
 Oasis Montaj
Merupakan Software utama dalam pengolahan data yang sudah dikoreksi
dengan beberapa koreksi sebelumnya, dan dibuat pemetaannya.

3.2 Langkah Penelitian


3.4.1 Akuisisi Data
Akuisisi data adalah proses pengambilan data di lapangan. Sebelum akuisisi data
di lapangan, dilakukan terlebih dahulu langkah-langkah persiapan. Persiapan
didahului oleh penentuan koordinat lokasi penelitian menggunakan GPS. Langkah
selanjutnya adalah pembuatan lintasan geomagnet. Secara umum lintasan geomagnet
dibuat mengikuti garis lurus dengan arah barat – timur dan utara – selatan(Desain
survey). Selain itu juga harus dipersiapkan logsheet untuk mencatat hasil pengukuran.
Hal yang harus dilakukan pertama kali adalah mengatur geometric dan sensor, kedua

17
nya harus dibawa oleh satu orang sekaligus, dengan catatan orang tersebut tidak
membawa atau mengenakan sesuatu yang terbuat dari logam. Setelah alat sudah diatur,
pertama dilakukan kalibrasi. Kalibrasi dilakukan dengan cara mengatur konfigurasi
waktu, lintasan dan interval waktu. Setelah alat sudah terkalibrasi, arah utara pada
sensor harus disesuaikan dengan arah utara sebenarnya. Kemudian dapat dilakukan
pembacaan dengan cara menekan tombol “read” pada geometric, dan nilai yang keluar
dicatat serta waktu pengambilan data dicatat. Pembacaan dilakukan berulang sebanyak
lima kali pada setiap titik.

Akuisisi data dibagi mejadi dua yaitu akuisisi data intensitas medan magnet
bumi diurnal (harian) dengan menggunakan stasiun base (stasiun A) dan akuisisi data
anomali medan magnet penyusun kerak bumi dengan stasiun mobile (stasiun B).
pencatat waktu (time) kedua stasiun tersebut telah disamakan. Pengambilan data
magnetik dilakukan dengan spasi yang serapat mungkin (1 - 5 meter) agar data yang
diperoleh banyak. Pengambilan data juga mesti disesuaikan dengan topografi dan
keadaan vegetasi lokasi survei. Untuk daerah yang sulit dijangkau, spasi pengambilan
data dapat divariasikan.

3.4.2 Pengolahan Data


Pengolahan data magnetik dapat diawali dengan menggunakan microsoft excel,
dengan memasukkan semua data hasil akuisisi. Kemudian dilakukan konversi waktu
ke dalam satuan detik, menghitung nilai koreksi harian (diurnal), dan menghitung
nilai koreksi IGRF, serta menghitung nilai anomali medan magnet total.

Tabel 3.1 Data Magnetik


Untuk koreksi harian memiliki rumus tersendiri sedangkan koreksi IGRF harus
menggunakan website di NOAA.gov sehingga didapatkan anomali medan magnet
total.

18
Selanjutnya dilakukan pengolahan dengan menggunakan oasis. Pengolahannya
membuat sheet baru di excel yang berisi Easting, Northing, Elevasi dan delta H. Yang
mana untuk diimport ke dalam software Oasis Montaj.

Tabel 3.2 Data UTM Magnetik


Data yang digunakan antara lain koordinat dalam UTM dan nilai anomali medan
magnet total. Sebagai tambahan untuk convert Longitude dan Latitude menjadi
Easting Northing bisa dilakukan pada Survei pada menu data.

19
3.4.3 Interpretasi
Saat sudah pengolahan data maka langkah selanjutnya adalah interpretasi
dengan membuat peta regional dan peta residual dengan menggunakan filter
Butterworth, namun sebelumnya membuat peta anomaly magnet total yang telah
dihitung sebelumnya.

Gambar 3.5 Anomali Magnetik Total

20
Jika sudah didapatkan maka selanjutnya dengan menu MAGMAP dan Grid and
Image bisa diolah data dengan filter Butterworth untuk mendapatkan peta penampang
regional dan residual seperti gambar berikut ini.

Gambar 3.6 Peta Regional

Gambar 3.7 Peta Residual


Kemudian hasil dari residual ini diolah menggunakan filter “Reduce to Pole” untuk
memperhitungkan pengaruh kutub, dan didapatlah peta RTP seperti gambar berikut.

21
Gambar 3.8 Peta Hasil RTP

3.3 Diagram Alir Penelitian

Mulai / Selesai

Arah

Proses

Input/output data

Percabangan
(ya / tidak)

22
Mulai

Data Primer

Koreksi IGRF Koreksi Diurnal

Anomali Anomali Total


Regional

Kuantitatif Anomali Kualitatif


Residual

Reduce to Pole Pemodelan

Selesai

23
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengolahan


Data akuisisi yang didapatkan berupa medan magnet total di titik pengukuran, koordinat titik
pengukuran, dan waktu pengambilan data. Jumlah titik pengukuran yang diperoleh yaitu 35
titik. Data hasil pengukuran ditampilkan pada bagian lampiran. Spasi untuk jarak antar titik
pengukuran sekitar 50 meter. Elevasi dari daerah pengukuran berkisar 492-547 meter di atas
permukaan air laut. Distribusi titik pengukuran pada peta topografi daerah penelitian dapat
dilihat pada gambar berikut.
4.1.1 Anomali Magnetik Total

Gambar 4.1 Peta Anomali Magnetik Total dengan titik Pengukuran

24
4.1.2 Filter Butterworth

Gambar 4.2 Peta Regional hasil filter Butterworth

4.2 Interpretasi Kualitatif

Interpretasi kualitatif didasarkan pada pola kontur anomali medan magnetik yang
bersumber dari distribusi benda-benda termagnetisasi atau struktur geologi bawah permukaan
bumi. Selanjutnya pola anomali medan magnetik yang dihasilkan ditafsirkan berdasarkan
informasi geologi setempat dalam bentuk distribusi benda magnetik atau struktur geologi, yang
dijadikan dasar pendugaan terhadap keadaan geologi yang sebenarnya.

4.2.1 Anomali Regional


Pada Anomali regional mempunyai nilai medan magnet yang berkurang dari barat ke
timur, dan terjadi penurunan tajam di tengah daerah penelitian, kemungkinan banyak batuan
sedimen pada daerah tersebut namun bersifat regional. Peta penampang regional bisa
ditunjukan oleh gambar berikut.

25
Gambar 4.3 Peta Anomali Regional
4.2.2 Anomali Residual
Hal menarik terjadi pada peta penampang residual, dikarenakan untuk setiap titik
pengukuran terdapat nilai bacaan yang bersinggungan dengan titik puncak suatu respon medan
magnetik baik yang kuat ataupun lemah. Hal ini bisa dilihat

Gambar 4.4 Peta Anomali Residual

26
4.2.3 RTP Residual
Jika sudah mendapatkan peta penampang residual, dilanjutkan dengan memfilter
lanjutan peta tersebut ke “Reduce to Pole” untuk membantu interfrensi. Filter RTP pada
dasarnya mencoba untuk mengasumsikan anomali magnetik di suatu lokasi seolah-olah berada
di posisi kutub utara magnetik bumi. Filter RTP diperlukan karena sifat dipolar anomali
magnetik menyulitkan interpretasi data lapangan yang umumnya masih berpola asimetrik.
Akan tetapi, terdapat masalah ketidak-stabilan fungsi filter transformasi ke kutub ini yang
diakibatkan oleh inklinasi mendekati nol untuk daerah dengan lintang magnetik rendah.

Gambar 4.5 Peta Hasil Filter RTP

4.3 Interpretasi Kuantitatif

Interpretasi kuantitatif bertujuan untuk menentukan bentuk atau model dan kedalaman
benda anomali atau strukutr geologi melalui pemodelan matematis. Untuk melakukan
interpretasi kuantitatif, ada beberapa cara dimana antara satu dengan lainnya mungkin berbeda,
tergantung dari bentuk anomali yang diperoleh, sasaran yang dicapai dan ketelitian hasil
pengukuran.

27
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Tipe batuan beku dan metamorf akan memiliki respons magnetik yang lebih tinggi
daripada batuan sedimen mengingat kedua jenis batuan ini kaya akan unsur magnetik.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dari peta anomali residual, terlihat bahwa
lokasi penelitian (lapangan Sawojajar) didominasi oleh batuan Tuf. Hal ini ditunjukkan oleh
respons medan magnetik yang rendah pada lokasi penelitian. Namun hal ini perlu diselidiki
lebih lanjut melalui slicing data serta korelasi terhadap keadaan geologi lokasi penelitian
melalui peta geologi lembar Malang. Terdapat densitas tebal dibeberapa tempat yang
menunjukan adanya batuan beku/metamorf yang memiliki densitas lebih tinggi.

5.2 Saran
Titik pengukuran sebaiknya jauh dari medan-medan magnetik yang menggangu seperti
ponsel, pemancar, dll. Namun saat penelitian dilaksanakan, terdapat segerombolan orang di
lokasi penelitian yang dapat menggangu kualitas pengukuran medan magnet. Lakukan lagi
pemastian koordinat saat mengulang titik pengukuran dengan metode kedua agar tidak
terdapat titik yang bergeser terlalu jauh.

28
DAFTAR PUSTAKA

Blakely, Richard. J. 1996. Potential Theory in Gravity and Magnetic Applications. Cambridge
University Press : Cambridge

Dobrin, M.B. and C.H. Savit, (1988): Introduction to Geophysical Prospecting. 4th Edition
McGraw Hill Book Co., New York.

Lawless, J., 1996. Guide Book An Introduction to Geothermal Systems - Lecture Note.
Kingston Morrison. Jakarta

Lesmana, O. I., 2007. Pendugaan Struktur 3D Waduk Energi Vulkanik-Geothermal Kompleks


Arjuno Welirang Berdasarkan Anomali Magnetik Pseudogravitasi. Jurusan Fisika.
Universitas Brawijaya Malang

Reynolds, J. M., 1997. An Introduction to Applied and Environmental Geophysics.


Chichester: John Wiley & Sons.

Zemansky. 1982. Fisika Universitas 1. Binacipta : Bandung

Sleep, N.H. 1997. Principles of Geophysics. Blackwell Science Inc : USA

Sunaryo. 2012. Identification Of Arjuno-Welirang Volcano-Geothermal Energy Zone By


Means Of Density And Susceptibility Contrast Parameters. International Journal of
Civil & Environmental Engineering IJCEE-IJENS Vol: 12 No: 01

Suryanto, W., 2008, Efek Keberadaan Jebakan Minyak Bumi ‘Trapped Fault’ Pada Rekaman
Seismik dengan Penyelesaian Beda Hingga Model Bumi Elastik.

Telford, W. M., Geldart, L.P., Sheriff, R.E. 1990. Applied Geophysics Second Edition.
Cambridge University Press : USA

Untung, M., 2001. Dasar - Dasar Magnet dan Gayaberat Serta Beberapa Penerapannya
(Seri Geofisika). Himpunan Ahli Geofisika Indonesia : Jakar

29
LAMPIRAN

Lampiran 1 : Data Hasil Pengukuran

Lampiran 2 : Pengolahan Data (Screenshot)


Lampiran 3 : Dokumentasi

30
31
32