Anda di halaman 1dari 22

TUGAS UNDANG-UNDANG DAN ETIKA FARMASI

RANGKUMAN PERSYARATAN & PROSES AKREDITASI


RUMAH SAKIT TERKAIT INSTALASI RUMAH SAKIT

Dosen : Drs. Fauzi Kasim, M.kes., Apt

KELOMPOK 5:

1. HESTY NOVADIANTY (18344056)


2. NELLA RAHAYU SUSANI (18344057)
3. PALENTIANA WULANDARI (18344058)
4. NING MANDA YANTI (18344059)
5. DIN SISKA SARI (18344060)
6. IVA RESTU ANDRAENI (18344061)
7. HARIO SUKMONO (18344062)

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

PROFESI APOTEKER

JAKARTA

2018
RANGKUMAN PERBANDINGAN PER UU-AN
PERSYARATAN DAN PROSES PERIZINAN IFRS DAN APOTEK
Aspek IFRS Apotek
UU Sumber daya di bidang kesehatan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009
adalah segala bentuk dana, tenaga, tentang Kesehatan menyebutkan bahwa
perbekalan kesehatan, sediaan farmasi praktik kefarmasian meliputi pembuatan
dan alat kesehatan serta fasilitas termasuk pengendalian mutu Sediaan
pelayanan kesehatan dan teknologi Farmasi, pengamanan, pengadaan,
yang dimanfaatkan untuk penyimpanan dan pendistribusian Obat,
menyelenggarakan upaya kesehatan pelayanan Obat atas Resep dokter,
yang dilakukan oleh Pemerintah, pelayanan informasi Obat serta
pemerintah daerah, dan/atau pengembangan Obat, bahan Obat dan
masyarakat. Obat tradisional harus dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang mempunyai
keahlian dan kewenangan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-
undangan.
UU Persyaratan UU No 44 Tahun 2009 Tentang Permenkes RI No.9 Tahun 2017
UU no 36 th 2009 Rumah Sakit Tentang Apotek
Pasal 1 (2) (1) Rumah Sakit harus memenuhi (1) Apoteker dapat mendirikan
persyaratan lokasi, bangunan, Apotek dengan modal sendiri
A. Umum prasarana, sumber daya dan/atau modal dari pemilik
manusia, kefarmasian, dan modal baik perorangan atau
peralatan. perusahaan.
(2) Rumah Sakit dapat didirikan oleh (2) Dalam hal Apoteker yang
Pemerintah, Pemerintah mendirikan Apotek bekerjasama
Daerah, atau swasta. dengan pemilik modal maka
(3) Rumah Sakit yang didirikan pekerjaan kefarmasian harus
oleh Pemerintah dan Pemerintah tetap dilakukan sepenuhnya oleh
Daerah sebagaimana dimaksud Apoteker yang bersangkutan.
pada ayat (2) harus berbentuk Pasal 4
Unit Pelaksana Teknis dari Pendirian Apotek harus memenuhi
Instansi yang bertugas di bidang persyaratan, meliputi :
kesehatan, Instansi tertentu, a. Lokasi
atau Lembaga Teknis Daerah b. Bangunan
dengan pengelolaan Badan c. Sarana,prasarana, dan peralatan
Layanan Umum atau Badan ; dan
Layanan Umum Daerah sesuai d. Ketenagaan.
dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(4) Rumah Sakit yang didirikan oleh
swasta sebagaimana yang
dimaksud pada ayat (2) harus
berbentuk badan hukum yang
kegiatan usahanya hanya
bergerak di bidang
perumahsakitan.
(1) Persyaratan lokasi sebagaimana Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
B. Lokasi dimaksud dalam Pasal 7 ayat dapat mengatur persebaran Apotek di
(1) harus memenuhi ketentuan wilayahnya dengan memperhatikan
mengenai kesehatan, akses masyarakat dalam mendapatkan
keselamatan lingkungan, dan pelayanan kefarmasian.
tata ruang, serta sesuai dengan
hasil kajian kebutuhan dan
kelayakan penyelenggaraan
Rumah Sakit.
(2) Ketentuan mengenai kesehatan
dan keselamatan lingkungan
sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) menyangkut Upaya
Pemantauan Lingkungan, Upaya
Pengelolaan Lingkungan
dan/atau dengan Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan
dilaksanakan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
(3) Ketentuan mengenai tata ruang
sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilaksanakan sesuai
dengan peruntukan lokasi yang
diatur dalam Rencana Tata
Ruang Wilayah
Kabupaten/Kota, Rencana Tata
Ruang Kawasan Perkotaan
dan/atau Rencana Tata
Bangunan dan Lingkungan.
(4) Hasil kajian kebutuhan
penyelenggaraan Rumah Sakit
sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) harus didasarkan pada
studi kelayakan dengan
menggunakan prinsip
pemerataan pelayanan, efisiensi
dan efektivitas, serta demografi.
C. Bangunan Persyaratan bangunan sebagaimana (1) Banguan Apotek harus
dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) harus memenuhi fungsi keamanan,
memenuhi : kenyamanan, dan kemudahan
a. persyaratan administratif dan dalam pemberian pelayanan
persyaratan teknis bangunan kepada pasien serta
gedung pada umumnya, sesuai perlindungan dan keselamatan
dengan ketentuan peraturan bagi semua orang termasuk
perundang-undangan; dan penyandang cacat, anak-anak,
b. persyaratan teknis bangunan dan orang lanjut usia.
Rumah Sakit, sesuai dengan (2) Bangunan Apotek harus bersifat
fungsi, kenyamanan dan permanen.
kemudahan dalam pemberian (3) Bangunan bersifat permanen
pelayanan serta perlindungan dan sebagaimana dimaksud pada
keselamatan bagi semua orang ayat (2) dapat merupakan bagian
termasuk penyandang cacat, dan/atau terpisah dari pusat
anak-anak, dan orang usia lanjut. perbelanjaan, apartemen, rumah
(1) Bangunan Rumah Sakit toko, rumah kantor, rumah
sebagaimana dimaksud dalam susun, dan bangunan yang
Pasal 9 harus dapat digunakan sejenis.
untuk memenuhi kebutuhan
pelayanan kesehatan yang
paripurna, pendidikan dan
pelatihan, serta penelitian dan
pengembangan ilmu
pengetahuan dan
teknologi kesehatan.
(2) Bangunan rumah sakit
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
paling sedikit terdiri atas ruang:
a. rawat jalan;
b. ruang rawat inap;
c. ruang gawat darurat;
d. ruang operasi;
e. ruang tenaga kesehatan;
f. ruang radiologi;
g. ruang laboratorium;
h. ruang sterilisasi;
i. ruang farmasi;
j. ruang pendidikan dan latihan;
k. ruang kantor dan
administrasi;
l. ruang ibadah, ruang tunggu;
m.ruang penyuluhan kesehatan
masyarakat rumah sakit;
n. ruang menyusui;
o. ruang mekanik;
p. ruang dapur;
q. laundry;
r. kamar jenazah;
s. taman;
t. pengolahan sampah; dan
u. pelataran parkir yang
mencukupi.
D. Prasarana (1) Prasarana Rumah Sakit Prasarana Apotek paling sedikit terdiri
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 atas :
ayat (1) dapat meliputi: a. Instalasi air bersih;
a. instalasi air; b. Instalasi listrik;
b. instalasi mekanikal dan c. Sistem tata udara; dan
elektrikal; d. Sistem proteksi kebakaran.
c. instalasi gas medik;
d. instalasi uap;
e. instalasi pengelolaan limbah;
f. pencegahan dan
penanggulangan kebakaran;
g. petunjuk, standar dan sarana
evakuasi saat terjadi keadaan
darurat;
h. instalasi tata udara;
i. sistem informasi dan
komunikasi; dan
j. ambulan.
(2) Prasarana sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) harus memenuhi
standar pelayanan, keamanan,
serta keselamatan dan kesehatan
kerja penyelenggaraan Rumah
Sakit
(3) Prasarana sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus
dalam keadaan terpelihara dan
berfungsi dengan baik.
(4) Pengoperasian dan pemeliharaan
prasarana Rumah Sakit
sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) harus dilakukan oleh petugas
yang mempunyai kompetensi di
bidangnya.
(5) Pengoperasian dan pemeliharaan
prasarana Rumah Sakit
sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) harus didokumentasi dan
dievaluasi secara berkala dan
berkesinambungan.
E. Sumber Daya (1) Persyaratan sumber daya (1) Apoteker pemegang SIA dalam
Manusia manusia sebagaimana dimaksud menyelenggarakan Apotek
dalam Pasal 7 ayat (1) yaitu dapat dibantu oleh Apoteker
Rumah Sakit harus memiliki lain, Tenaga Teknis
tenaga tetap yang meliputi Kefarmasian dan/atau tenaga
tenaga medis dan penunjang administrasi.
medis, tenaga keperawatan, (2) Apoteker dan Tenaga Teknis
tenaga kefarmasian, tenaga Kefarmasian sebagaimana
manajemen Rumah Sakit, dan dimaksud pada ayat (1) dan ayat
tenaga nonkesehatan. (2) (2) wajib memiliki surat izin
Jumlah dan jenis sumber daya praktik sesuai dengan ketentuan
manusia sebagaimana dimaksud peraturan perundang-undangan.
pada ayat (1) harus sesuai Pelayanan Kefarmasian di Apotek
dengan jenis dan klasifikasi diselenggarakan oleh Apoteker,
Rumah Sakit. dapat dibantu oleh Apoteker
(3) Rumah Sakit harus memiliki pendamping dan/atau Tenaga
data ketenagaan yang Teknis Kefarmasian yang
melakukan praktik atau memiliki Surat Tanda Registrasi,
pekerjaan dalam Surat Izin Praktik atau Surat Izin
penyelenggaraan Rumah Sakit. Kerja.
(4) Rumah Sakit dapat Dalam melakukan Pelayanan
mempekerjakan tenaga tidak Kefarmasian Apoteker harus
tetap dan konsultan sesuai memenuhi kriteria:
dengan kebutuhan dan (1) Persyaratan administrasi
kemampuan sesuai dengan a) Memiliki ijazah dari institusi
ketentuan peraturan pendidikan farmasi yang
perundangan. terakreditasi
Pasal 13 b) Memiliki Surat Tanda
(1) Tenaga medis yang melakukan Registrasi Apoteker (STRA)
praktik kedokteran di Rumah c) Memiliki sertifikat
Sakit wajib memiliki Surat Izin kompetensi yang masih
Praktik sesuai dengan ketentuan berlaku
peraturan perundang-undangan. d) Memiliki Surat Izin Praktik
(2) Tenaga kesehatan tertentu yang Apoteker (SIPA)
bekerja di Rumah Sakit wajib (2) Menggunakan atribut praktik
memiliki izin sesuai dengan antara lain baju praktik, tanda
ketentuan peraturan perundang- pengenal.
undangan. (3) Wajib mengikuti pendidikan
(3) Setiap tenaga kesehatan yang berkelanjutan/Continuing
bekerja di Rumah Sakit harus Professional Development (CPD)
bekerja sesuai dengan standar dan mampu memberikan
profesi, standar pelayanan pelatihan yang
berkesinambungan.
Rumah Sakit, standar prosedur
(4) Apoteker harus mampu
operasional yang berlaku, etika
mengidentifikasi kebutuhan
profesi, menghormati hak pasien
akan pengembangan diri, baik
dan mengutamakan keselamatan
melalui pelatihan, seminar,
pasien.
workshop, pendidikan
(4) Ketentuan mengenai tenaga berkelanjutan atau mandiri.
medis dan tenaga kesehatan (5) Harus memahami dan
sebagaimana dimaksud pada melaksanakan serta patuh
ayat (1) dan ayat (2) terhadap peraturan perundang
dilaksanakan sesuai dengan undangan, sumpah Apoteker,
ketentuan peraturan perundang- standar profesi (standar
undangan. pendidikan, standar
Pasal 14 pelayanan, standar kompetensi
(1) Rumah Sakit dapat dan kode etik) yang berlaku.
mempekerjakan tenaga
kesehatan asing sesuai dengan
kebutuhan
pelayanan.
(2) Pendayagunaan tenaga
kesehatan asing sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) hanya
dilakukan dengan
mempertimbangkan
kepentingan alih teknologi dan
ilmu pengetahuan serta
ketersediaan tenaga kesehatan
setempat.
(3) Pendayagunaan tenaga
kesehatan asing sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) hanya
dilakukan bagi tenaga kesehatan
asing yang telah memiliki Surat
Tanda Registrasi dan Surat Ijin
Praktik
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai
pendayagunaan tenaga
kesehatan asing pada ayat (1)
ayat (2) dan ayat (3) diatur
dengan Peraturan Pemerintah.
F. Peralatan Persyaratan peralatan sebagaimana (1) Peralatan Apotek meliputi
dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) semua peralatan yang
meliputi peralatan medis dan dibutuhkan dalam pelaksanaan
nonmedis harus memenuhi standar pelayanan kefarmasian.
pelayanan, persyaratan mutu, (2) Peralatan sebagaimana
keamanan, keselamatan dan laik dimaksud pada ayat (1) antara
pakai. lain meliputi rak obat, lemari
(2) Peralatan medis sebagaimana pendingin, meja, kursi,
dimaksud pada ayat (1) harus komputer, sistem pencatatan
diuji dan dikalibrasi secara mutasi obat, formulir catatan
berkalaoleh Balai Pengujian pengobatan pasien dan peralatan
Fasilitas Kesehatan dan/atau lain sesuai dengan kebutuhan.
institusi pengujian fasilitas (3) Formulir catatan pengobatan
kesehatan yang berwenang. pasien sebagaimana dimaksud
(3) Peralatan yang menggunakan pada ayat (2) merupakan catatan
sinar pengion harus memenuhi mengenai riwayat penggunaan
ketentuan dan harus diawasi oleh sediaan farmasi dan/atau alat
lembaga yang berwenang. kesehatan atas permintaan
(4) Penggunaan peralatan medis dan tenaga medis dan catatan
nonmedis di Rumah Sakit harus pelayanan Apoteker yang
dilakukan sesuai dengan indikasi diberikan kepada pasien.
medis pasien. (5) Pengoperasian
dan pemeliharaan peralatan
Rumah Sakit harus dilakukan
oleh petugas yang mempunyai
kompetensi di bidangnya.
(6) Pemeliharaan peralatan harus
didokumentasi dan dievaluasi
secara berkala dan
berkesinambungan
(7) Ketentuan mengenai pengujian
dan/atau kalibrasi peralatan
medis, standar yang berkaitan
dengan keamanan, mutu, dan
manfaat dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 17
Rumah Sakit yang tidak memenuhi
persyaratan
sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10,
Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13, Pasal
14, Pasal 15,
dan Pasal 16 tidak diberikan izin
mendirikan, dicabut atau tidak
diperpanjang izin operasional
Rumah Sakit.( UU NO 44
TAHUN 2009 PASAL 7-17)

G. Kefarmasian Pasal 15 Pasal 1


(1) Persyaratan kefarmasian Dalam Peraturan Menteri ini yang
sebagaimana dimaksud dimaksud dengan:
dalam Pasal 7 ayat (1) harus 1. Apotek adalah sarana
menjamin ketersediaan pelayanan kefarmasian tempat
sediaan farmasi dan alat dilakukan praktik kefarmasian
kesehatan yang bermutu, oleh Apoteker.
bermanfaat, aman dan 2. Standar Pelayanan
terjangkau. Kefarmasian adalah tolak ukur
(2) Pelayanan sediaan farmasi di yang dipergunakan sebagai
Rumah Sakit harus pedoman bagi tenaga
mengikuti standar pelayanan kefarmasian dalam
kefarmasian. menyelenggarakanpelayanan
(3) Pengelolaan alat kesehatan, kefarmasian.
sediaan farmasi, dan 3. Pelayanan Kefarmasian adalah
bahan habis pakai di Rumah suatu pelayanan langsung dan
Sakit harus dilakukan bertanggung jawab kepada
oleh Instalasi farmasi sistem pasien yang berkaitan dengan
satu pintu. sediaan farmasi dengan
(4) Besaran harga perbekalan maksud mencapai hasil yang
pasti untuk meningkatkan
farmasi pada instalasi
mutu kehidupan pasien.
farmasi Rumah Sakit harus
Pasal 2
wajar dan berpatokan
Pengaturan Standar Pelayanan
kepada harga patokan yang
Kefarmasian di Apotek
ditetapkan Pemerintah.
bertujuan untuk:
(5) Ketentuan lebih lanjut (1) meningkatkan mutu Pelayanan
mengenai standar pelayanan Kefarmasian;
kefarmasian sebagaimana (2) menjamin kepastian hukum
dimaksud pada ayat (2)diatur bagi tenaga kefarmasian; dan
dengan Peraturan Menteri. (3) melindungi pasien dan
masyarakat dari penggunaan
STANDAR PELAYANAN Obat yang tidak rasional dalam
KEFARMASIAN DI RS rangka keselamatan pasien
Standar Pelayanan Kefarmasian (patient safety).
di Rumah Sakit meliputi Pasal 3
standar: (1) Standar Pelayanan
a. pengelolaan Sediaan Kefarmasian di Apotek meliputi
Farmasi, Alat Kesehatan, standar:
dan Bahan Medis Habis a. pengelolaan Sediaan
Pakai; dan Farmasi, Alat Kesehatan,
b. pelayanan farmasi klinik. dan Bahan Medis Habis
(2) Pengelolaan Sediaan Pakai; dan
Farmasi, Alat Kesehatan, b. pelayanan farmasi klinik.
dan Bahan Medis Habis (2) Pengelolaan Sediaan Farmasi,
Pakai sebagaimana dimaksud Alat Kesehatan, dan Bahan
pada ayat (1) huruf a Medis Habis Pakai
meliputi: sebagaimana dimaksud pada
a. pemilihan; ayat (1) huruf a meliputi:
b. perencanaan kebutuhan; a) perencanaan;
c. pengadaan; b) pengadaan;
d. penerimaan; c) penerimaan;
e. penyimpanan; d) penyimpanan;
f. pendistribusian; e) pemusnahan;
g. pemusnahan dan penarikan; f) pengendalian; dan
h. pengendalian; dan g) pencatatan dan pelaporan.
i. administrasi. (3) Pelayanan farmasi klinik
(3) Pelayanan farmasi klinik sebagaimana dimaksud pada
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
ayat (1) huruf b a) pengkajian Resep;
meliputi: b) dispensing;
a. pengkajian dan pelayanan c) Pelayanan Informasi Obat
(PIO);
Resep;
d) konseling;
b. penelusuran riwayat
e) Pelayanan Kefarmasian di
penggunaan Obat;
rumah (home pharmacy
c. rekonsiliasi Obat;
care);
d. Pelayanan Informasi Obat
f) Pemantauan Terapi Obat
(PIO); (PTO); dan
e. konseling; g) Monitoring Efek Samping
f. visite; Obat (MESO);
g. Pemantauan Terapi Obat (4) Ketentuan lebih lanjut
(PTO); mengenai pengelolaan Sediaan
h. Monitoring Efek Samping Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Obat (MESO); Bahan Medis Habis Pakai dan
i. Evaluasi Penggunaan Obat pelayanan farmasi klinik
(EPO); sebagaimana dimaksud pada
j. dispensing sediaan steril; dan ayat (2) dan ayat (3) tercantum
k. Pemantauan Kadar Obat dalam Lampiran yang
dalam Darah (PKOD); merupakan bagian tidak
(4) Pelayanan farmasi klinik terpisahkan dari Peraturan
berupa dispensing sediaan Menteri ini.
steril sebagaimana dimaksud Pasal 4
pada ayat (3) huruf j hanya (1) Penyelenggaraan Standar
dapat dilakukan oleh Rumah Pelayanan Kefarmasian di
Sakit yang mempunyai sarana Apotek harus didukung oleh
untuk melakukan produksi ketersediaan sumber daya
sediaan steril. kefarmasian yang berorientasi
(5) Ketentuan lebih lanjut kepada keselamatan pasien.
mengenai pengelolaan Sediaan (2) Sumber daya kefarmasian
Farmasi, Alat Kesehatan, dan sebagaimana dimaksud pada
Bahan Medis Habis Pakai dan ayat (1) meliputi:
pelayanan farmasi klinik a. sumber daya manusia; dan
sebagaimana dimaksud pada b. sarana dan prasarana.
ayat (2) dan ayat (3) tercantum Pasal 5
dalam Lampiran yang (1) Untuk menjamin mutu
merupakan bagian tidak Pelayanan Kefarmasian di
terpisahkan dari Peraturan Apotek, harus dilakukan
Menteri ini. evaluasi mutu Pelayananan
Pasal 4 Kefarmasian.
(1) Penyelenggaraan Standar (2) Ketentuan lebih lanjut
Pelayanan Kefarmasian di mengenai evaluasi mutu
Rumah Sakit harus didukung Pelayananan Kefarmasian
oleh ketersediaan sumber daya sebagaimana dimaksud pada
kefarmasian, pengorganisasian ayat (1) tercantum dalam
yang berorientasi kepada Lampiran yang merupakan
keselamatan pasien, dan standar bagian tidak terpisahkan dari
prosedur operasional. Peraturan Menteri ini.
(2) Sumber daya kefarmasian Pasal 6
sebagaimana dimaksud pada Penyelenggaraan Pelayanan
ayat (1) Kefarmasian di Apotek harus
meliputi: menjamin ketersediaan Sediaan
a. sumber daya manusia; dan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai yang
b. sarana dan peralatan.
aman, bermutu, bermanfaat, dan
(3) Pengorganisasian
terjangkau.
sebagaimana dimaksud pada
Pasal 7
ayat (1) harus menggambarkan
Penyelenggarakan Pelayanan
uraian tugas, fungsi, dan
Kefarmasian di Apotek wajib
tanggung jawab serta hubungan mengikuti Standar Pelayanan
koordinasi di dalam maupun di Kefarmasian sebagaimana diatur
luar Pelayanan Kefarmasian dalam Peraturan Menteri ini.
yang ditetapkan oleh pimpinan Pasal 8
Rumah Sakit. Apotek wajib mengirimkan
(4) Standar prosedur laporan Pelayanan Kefarmasian
operasional sebagaimana secara berjenjang kepada Dinas
dimaksud pada ayat (1) Kesehatan Kabupaten/Kota,
ditetapkan oleh pimpinan Dinas Kesehatan Provinsi, dan
Rumah Sakit sesuai dengan Kementerian Kesehatan sesuai
ketentuan peraturan perundang- ketentuan peraturan perundang-
undangan. undangan.
(5) Ketentuan lebih lanjut Pasal 9
mengenai sumber daya (1) Pembinaan dan pengawasan
kefarmasian dan terhadap pelaksanaan
pengorganisasian sebagaimana Peraturan Menteri ini
dimaksud pada ayat (2) dan dilakukan oleh Menteri, Kepala
ayat (3) tercantum dalam Dinas Kesehatan Provinsi, dan
Lampiran yang merupakan Kepala Dinas Kesehatan
bagian tidak terpisahkan dari Kabupaten/Kota sesuai tugas
Peraturan Menteri ini. dan fungsi masing-masing.
Pasal 5 (2) Pelaksanaan pembinaan dan
(1) Untuk menjamin mutu pengawasan sebagaimana
Pelayanan Kefarmasian di dimaksud pada ayat (1) dapat
Rumah Sakit, harus dilakukan melibatkan organisasi profesi.
Pengendalian Mutu Pelayananan
Kefarmasian yang meliputi:
a. monitoring; dan
b. evaluasi.
(2) Ketentuan lebih lanjut
mengenai Pengendalian Mutu
Pelayananan Kefarmasian
sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tercantum dalam
Lampiran yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Menteri ini.
Pasal 6
(1) Penyelenggaraan Pelayanan
Kefarmasian di Rumah Sakit
harus menjamin ketersediaan
Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai yang aman,
bermutu, bermanfaat, dan
terjangkau.
(2) Penyelenggaraan Pelayanan
Kefarmasian di Rumah Sakit
sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilaksanakan di
Instalasi Farmasi Rumah Sakit
melalui sistem satu pintu.
(3) Instalasi Farmasi
sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dipimpin oleh seorang
Apoteker sebagai penanggung
jawab.
(4) Dalam penyelenggaraan
Pelayanan Kefarmasian di
Rumah Sakit dapat dibentuk
satelit farmasi sesuai dengan
kebutuhan yang merupakan
bagian dari Instalasi Farmasi
Rumah Sakit.
Pasal 7
(1) Setiap Tenaga Kefarmasian
yang menyelenggarakan
Pelayanan Kefarmasian di
Rumah Sakit wajib mengikuti
Standar Pelayanan Kefarmasian
sebagaimana diatur dalam
Peraturan Menteri ini.
(2) Setiap pemilik Rumah
Sakit, direktur/pimpinan
Rumah Sakit, dan pemangku
kepentingan terkait di bidang
Pelayanan Kefarmasian di
Rumah Sakit harus mendukung
penerapan Standar Pelayanan
Kefarmasian di Rumah Sakit.
Pasal 8
Rumah Sakit wajib
mengirimkan laporan
Pelayanan Kefarmasian secara
berjenjang kepada Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota,
Dinas Kesehatan Provinsi, dan
Kementerian Kesehatan sesuai
dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 9
(1) Pembinaan dan pengawasan
terhadap pelaksanaan Peraturan
Menteri ini dilakukan oleh
Menteri, Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi, dan Kepala
Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota sesuai tugas
dan fungsi masing-masing.
(2) Pelaksanaan
(2) Pelaksanaan pembinaan dan
pengawasan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat
melibatkan organisasi profesi.
PP 51 TAHUN 2009
Tentang Pekerjaan Kefarmasian
Permenkes PMK No 56 Tahun 2014 Tentang KMK Nomor :
Persyaratan Klasifikasi Dan Perizinan Rumah 1332/Menkes/Sk/X/2002 Tentang
Sakit Perubahan Atas PMK No.
922/Menkes/Per/X/1993 Tentang
Studi kelayakan sebagaimana Ketentuan Dan Tata Cara Pemberian
dimaksud pada ayat (1) huruf b Izin Apotik
merupakan gambaran kegiatan a. Apoteker atau apoteker yang bekerja
rencanaan Rumah Sakit secara fisik sama dengan pemilik sarana yang
dan nonfisik yang terdiri atas: telah memenuhi persyaratan harus
a. kajian kebutuhan pelayanan Rumah siap dengan tempat, perlengkapan
Sakit yang meliputi: termasuk sediaan farmasi dan
1) kajian demografi yang perbekalan farmasi yang lain yang
mempertimbangkan luas merupakan milik sendiri atau milik
wilayah dan kepadatan pihak lain.
penduduk serta karakteristik b. Sarana apotek dapat didirikan pada
penduduk yang terdiri dari lokasi yang sama dengan pelayanan
umur, jenis kelamin, dan status komoditi yang lain di luar sediaan
perkawinan; farmasi.
2) kajian sosio-ekonomi yang c. Apotek dapat melakukan kegiatan
empertimbangkan pelayanan komoditi yang lain di luar
kultur/kebudayaan, tingkat sediaan farmasi.
pendidikan, angkatan kerja,
lapangan pekerjaan,
pendapatan domestik rata-rata
bruto;
3) kajian morbiditas dan mortalitas,
yang mempertimbangkan
sekurang-kurangnya sepuluh
penyakit utama, angka
kematian (GDR, NDR), dan
angka persalinan;
4) kajian kebijakan dan regulasi,
yang mempertimbangkan
kebijakan dan regulasi
pengembangan wilayah
pembangunansektor
nonkesehatan, kesehatan, dan
perumah sakitan.
5) kajian aspek internal Rumah
Sakit merupakan rancangan
sistem-sistem yang akan
dilaksanakan atau
dioperasionalkan, yang terdiri
dari􀀀sistem manajemen
organisasi termasuk􀀀sistem
manajemen unit-unit
pelayanan,􀀀system unggulan
pelayanan, ariff teknologi
peralatan, 􀀀sistem tarif, serta
rencana kinerja dan keuangan.

b. kajian kebutuhan lahan, bangunan,


prasarana, sumber daya manusia,
dan peralatan sesuai kriteria
klasifikasi Rumah Sakit yang akan
didirikan yang meliputi:
1) Lahan dan bangunan Rumah
Sakit harus dalam satu
kesatuan lokasi yang saling
berhubungan dengan ukuran,
luas dan bentuk lahan serta
bangunan/ruang mengikuti
ketentuan tata ruang daerah
setempat yang berlaku.

2) Persyaratan lokasi meliputi :


a) Tidak berada di lokasi area
berbahaya (di tepi lereng,
dekat kaki gunung yang
rawan terhadap longsor,
dekat anak sungai atau
badan air yang dpt mengikis
pondasi, dekat dengan jalur
patahan aktif/gempa, rawan
tsunami, rawan banjir,
berada dalam zona
topan/badai, dan lain-lain).
b) Harus tersedia infrastruktur
aksesibilitas untuk jalur
transportasi.
c) Ketersediaan utilitas publik
mencukupi seperti air
bersih, jaringan air kotor,
listrik, jalur
komunikasi/telepon.
d) Ketersediaan lahan parkir.
e) Tidak berada di bawah
pengaruh SUTT dan
SUTET.
3) rencana cakupan, jenis
pelayanan kesehatan, dan
fasilitas lain;
4) jumlah, spesialisasi, dan
kualifikasi sumber daya
manusia; dan
5) jumlah, jenis, dan
spesifikasi peralatan mulai
dari peralatan sederhana
hingga peralatan canggih.

c. kajian kemampuan
pendanaan/pembiayaan yang meliputi:
1) prakiraan jumlah kebutuhan
dana investasi dan sumber
pendanaan;
2) prakiraan pendapatan atau
proyeksi pendapatan terhadap
prakiraan jumlah kunjungan
dan pengisian tempat tidur;
3) prakiraan biaya atau proyeksi
biaya tetap dan biaya tidak
tetap terhadap prakiraan
sumber daya manusia;
4) proyeksi arus kas 5 (lima)
sampai 10 (sepuluh) tahun; dan
5) proyeksi laba atau rugi 5 (lima)
sampai 10 (sepuluh) tahun.
3) Master plan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf c memuat
strategi pengembangan aset untuk
sekurang-kurangnya 10 (sepuluh)
tahun kedepan dalam pemberian
pelayanan kesehatan secara
optimal yang meliputi identifikasi
proyek perencanaan, demografis,
tren masa depan, fasilitas yang
ada, modal dan pembiayaan.

(4) Detail Engineering Design


sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf d merupakan gambar
perencanaan lengkap Rumah Sakit
yang akan dibangun yang meliputi
gambar arsitektur, struktur dan
mekanikal elektrikal sesuai dengan
persyaratan teknis yang ditetapkan
oleh Menteri.
(5) Dokumen pengelolaan dan
pemantauan lingkungan
sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf e terdiri atas upaya
pengelolaan lingkungan (UKL),
upaya pemantauan lingkungan
(UPL), atau analisis dampak
lingkungan (AMDAL)
berdasarkan klasifikasi Rumah
Sakit sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(6) Izin undang-undang gangguan
(hinder ordonantie/HO) dan/atau
surat izin tempat usaha (SITU),
dan izin mendirikan bangunan
(IMB) sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf g, huruf h,
dan huruf i diperoleh sesuai
dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Persyaratan SDM Lampiran PMK Nomor 35 Tahun Lampiran PMK Nomor 35 Tahun
2014 Tentang Standar Pelayanan 2014 Tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian Di Apotek Kefarmasian Di Apotek
Persyaratan administrasi Persyaratan administrasi
a. Memiliki ijazah dari institusi a. Memiliki ijazah dari institusi
pendidikan farmasi yang terakreditasi pendidikan farmasi yang terakreditasi
b. Memiliki Surat Tanda Registrasi b. Memiliki Surat Tanda Registrasi
Apoteker (STRA) Apoteker (STRA)
c. Memiliki sertifikat kompetensi yang c. Memiliki sertifikat kompetensi yang
masih berlaku masih berlaku
d. Memiliki Surat Izin Praktik d. Memiliki Surat Izin Praktik Apoteker
Apoteker (SIPA) (SIPA)

Permenkes TENAGA MEDIS


Perizinan (KEDOKTERAN) .(Permenkes
Surat Izin Praktek/ 512 Tahun 2007 Pasal 17)
administrasi
Pejabat Kesehatan di
Kabupaten/Kota dalam
mengeluarkan Surat Izin Praktik
harus mempersyaratkan:
A. memiliki Surat Tanda
Registrasi Dokter/Dokter Gigi
sebagaimana dimaksud dalam
pasal 9, dalam pasal 11 dan
dalam pasal 12 masih berlaku;
B. tempat di mana akan
dilaksanakan praktik;
C. Izin Praktik hanya untuk
paling banyak di tiga tempat;
D. rekomendasi dari organisasi
profesi

TENAGA KESEHATAN TENAGA KESEHATAN


(FARMASI) (Permenkes N0 889 (FARMASI) (Permenkes N0 889
Tahun 2011 Pasal 17) Tahun 2011 Pasal 17)
(2) Setiap tenaga kefarmasian yang
(1) Setiap tenaga kefarmasian yang akan menjalankan pekerjaan
akan menjalankan pekerjaan kefarmasian wajib memiliki surat
kefarmasian wajib memiliki izin sesuai tempat tenaga
surat izin sesuai tempat tenaga kefarmasian bekerja.
kefarmasian bekerja. (2) Surat izin sebagaimana dimaksud
(2) Surat izin sebagaimana pada ayat (1) berupa:
dimaksud pada ayat (1) berupa: a. SIPA bagi Apoteker
a. SIPA bagi Apoteker penanggung jawab di
penanggung jawab di fasilitas pelavanan
fasilitas pelavanan kefarmasian;
kefarmasian; b. SIPA bagi Apoteker
b. SIPA bagi Apoteker pendamping di fasilitas
pendamping di fasilitas pelayanan kefarmasian;
pelayanan kefarmasian; c. SIKA bagi Apoteker yang
c. SIKA bagi Apoteker yang melakukan pekerjaan
melakukan pekerjaan kefarmasian di fasilitas
kefarmasian di fasilitas produksi atau fasilitas
produksi atau fasilitas distribusi/penyaluran; atau
distribusi/penyaluran; atau d. SIKTTK bagi Tenaga Teknis
d. SIKTTK bagi Tenaga Teknis Kefarmasian yang melakukan
Kefarmasian yang pekerjaankefarmasian pada
melakukan fasiiitas kefarmasian
pekerjaankefarmasian pada
fasiiitas kefarmasian
Produksi Pmk Nomor 58 Tahun 2014
Tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian Di Rumah Sakit
Produksi Sediaan Farmasi
Instalasi Farmasi Rumah Sakit dapat
memproduksi sediaan tertentu apabila:
1) Sediaan Farmasi tidak ada di
pasaran;
2) Sediaan Farmasi lebih murah jika
diproduksi sendiri;
3) Sediaan Farmasi dengan formula
khusus;
4) Sediaan Farmasi dengan kemasan
yang lebih kecil/repacking;
5) Sediaan Farmasi untuk penelitian;
dan
6) Sediaan Farmasi yang tidak stabil
dalam penyimpanan/harus dibuat baru
(recenter paratus).
Sediaan yang dibuat di Rumah Sakit
harus memenuhi persyaratan mutu dan
terbatas hanya untuk memenuhi
kebutuhan pelayanan di Rumah Sakit
tersebut.
Perizinan PMKNo 56 Tahun 2014 KMKNomor :
Bangunan/Operasi Tentang Klasifikasi Dan Perizinan 1332/Menkes/Sk/X/2002Tentang
onal Rumah Sakit Pasal 63 Perubahan Atas PMK No.
(1) Setiap Rumah Sakit wajib 922/Menkes/Per/X/1993 Tentang
memiliki izin. Ketentuan Dan Tata Cara Pemberian
(2) Izin Rumah Sakit sebagaimana Izin Apotik
dimaksud pada ayat (1) terdiri atas
Izin Mendirikan dan Izin Operasional. (1) Permohonan Izin Apotik diajukan
Izin Mendirikan dan Izin Operasional kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kelas A diberikan oleh menteri Kabupaten/Kota dengan
(5) Izin Mendirikan dan Izin menggunakan contoh Formulir
Operasional Rumah Sakit kelas B Model APT-1;
diberikan oleh Pemerintah Daerah
provinsi (2). Dengan menggunakan Formulir
APT-2 Kepala Dinas Kesehatan
(6) Izin Mendirikan dan Izin Kabupaten/Kota selambat-
Operasional Rumah Sakit kelas C dan lambatnya 6 (enam) hari kerja
Rumah Sakit kelas D, diberikan oleh setelah menerima permohonan
kepala Pemerintah Daerah dapat meminta bantuan teknis
Kabupaten/Kota kepada Kepala Balai POM untuk
Izin Mendirikan melakukan pemeriksaan setempat
Pasal 66
(1) Izin Mendirikan diberikan untuk terhadap kesiapan apotik untuk
mendirikan bangunan baru atau melakukan kegiatan;
mengubah fungsi bangunan lama
(3) Tim Dinas Kesehatan
untuk difungsikan sebagai Rumah
Sakit. Kabupaten/Kota atau Kepala Balai
POM selambatlambatnya 6 (enam)
(2) Pendirian bangunan dan hari kerja setelah permintaan
pengalihan fungsi bangunan bantuan teknis dari Kepala Dinas
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
Kesehatan Kabupaten/Kota
harus dimulai segera setelah
mendapatkan Izin Mendirikan. melaporkan hasil pemeriksaan
setempat dengan menggunakan
(3) Izin Mendirikan diberikan untuk contoh Formulir APT-3;
jangka waktu 1 (satu) tahun dan hanya
dapat diperpanjang untuk 1 (satu) (4) Dalam hal pemeriksaan
tahun. sebagaimana dimaksud dalam ayat
(4) Perpanjangan Izin Mendirikan (2) dan (3) tidak dilaksanakan,
diperoleh dengan mengajukan Apoteker Pemohon dapat membuat
permohonan selambat-lambatnya 2 surat pernyataan siap melakukan
(dua) bulan sebelum jangka waktu Izin kegiatan kepada Kepala Dinas
Mendirikan berakhir dengan Kesehatan Kabupaten/Kota
melampirkan Izin Mendirikan. setempat dengan tembusan kepada
Kepala Dinas Propinsi dengan
menggunakan Formulir Model
APT-4;
(5) Dalam jangka waktu 12 (dua
belas) hari kerja setelah diterima
laporan hasil pemeriksaan
sebagaimana dimaksud ayat (3),
atau pernyataan dimaksud ayat (4)
Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota setempat
mengeluarkan Surat Izin Apotik
dengan menggunakan Formulir
Model APT-5;
(6) Dalam hal hasil pemeriksaan Tim
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
atau Kepala Balai POM dimaksud
ayat (3) masih belum memenuhi
syarat Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota setempat dalam
waktu 12 (dua belas) hari kerja
mengeluarkan Surat Penundaan
dengan menggunakan Formulir
Model APT-6;
(7) Terhadap Surat Penundaan
sebagaimana dimaksud dalam ayat
(6), Apoteker diberi kesempatan
untuk melengkapi persyaratan
yang belum dipenuhi
selambatlambatnya dalam jangka
waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal
Surat Penundaan.
Luas bangunan untuk standar apotek
adalah minimal 4x15m2 (60m2)
1.Ruang a) ruang pimpinan 1) Ruang tunggu
Kantor/Administrasi b) ruang staf
2) Ruang administrasi
c) ruang kerja/administrasi tata
usaha a. Administrasi Persediaan kantor
d) ruang pertemuan b. Administrasi hutang dan piutang
dagang
c. Administrasi penjualan
d. Administrasi keuangan
e. Administrasi personalia
3) Ruang Apoteker
4) Ruang Display
5) Ruang Konseling
6) Ruang penyimpanan sedian
farmasi dan perbekalan kesehatan
lainnya

2.Ruang penerimaan Ruang penerimaan resep di RS terletak Ruang penerimaan Resep sekurang-
Resep di bagian paling depan instalasi kurangnya terdiri dari tempat
farmasi, agar mudah terlihat oleh penerimaan Resep, 1 (satu) set meja
pasien.. Peralatan yang digunakan di
dan kursi, serta 1 (satu) set
penerimaan resep meliputi : meja,
kursi, komputer, printer, ATK serta komputer. Ruang penerimaan Resep
stempel. ditempatkan pada bagian paling
depan dan mudah terlihat oleh
pasien.
3.Ruang pelayanan Ruang pelayanan Resep dan
Resep dan peracikan peracikan atau produksi sediaan
(produksi sediaan secara terbatas meliputi rak Obat
secara terbatas)
sesuai kebutuhan dan meja
peracikan. Di ruang peracikan
sekurang-kurangnya disediakan
peralatan peracikan, timbangan
Obat, air minum (air mineral) untuk
pengencer, sendok Obat, bahan
pengemas Obat, lemari pendingin,
termometer ruangan, blanko salinan
Resep, etiket dan label Obat. Ruang
ini diatur agar mendapatkan cahaya
dan sirkulasi udara yang cukup,
dapat dilengkapi dengan pendingin
ruangan (air conditioner).
4.Ruang penyerahan Ruang penyerahan obat sebelahan Ruang penyerahan Obat berupa
Obat dengan ruang peneimaan obat, yang konter penyerahan Obat yang dapat
menggunakan peralatan, meja, ATK, digabungkan dengan ruang
leaflet, serta stempel informasi obat, penerimaan Resep
bukti obatl sudah di berikan kepada
pasien beserta memberikan informasi
kepasien.
5.Ruang konseling Ruang konsultasi / konseling Ruang konseling sekurang-
Obat kurangnya memiliki satu set meja
Untuk memberikan dan kursi konseling, lemari buku,
buku-buku referensi, leaflet, poster,
konsultasi/konseling pada
alat bantu konseling, buku catatan
pasien dalam rangka konseling dan formulir catatan
meningkatkan pengetahuan dan pengobatan pasien, Buku standar
kepatuhan pasien yang diwajibkan dan kumpulan
perundang-undangan yang
berhubungan dengan apotek.
6. Ruang 2) Ruang penyimpanan Sediaan Ruang penyimpanan harus
penyimpanan Farmasi, Alat Kesehatan, dan memperhatikan kondisi sanitasi,
Sediaan Farmasi, Bahan Medis Habis Pakai temperatur, kelembaban, ventilasi,
Alat Kesehatan, dan a) Kondisi umum untuk ruang pemisahan untuk menjamin mutu
Bahan Medis Habis penyimpanan: produk dan keamanan petugas.
Pakai (1) Obat jadi Ruang penyimpanan harus
(2) Obat produksi dilengkapi dengan rak/lemari Obat,
(3) bahan baku Obat pallet, pendingin ruangan (AC),
(4) Alat Kesehatan lemari pendingin, lemari
b) Kondisi khusus untuk ruang penyimpanan khusus narkotika dan
penyimpanan: psikotropika, lemari penyimpanan
(1) Obat termolabil Obat khusus, pengukur suhu dan
(2) bahan laboratorium dan kartu suhu.
reagensia
(3) Sediaan Farmasi yang
mudah terbakar
(4) Obat/bahan Obat
berbahaya
(narkotik/psikotropik)
7. Ruang arsip Untuk menyimpan laporan dan Untuk menyimpan dokumen yang
dokumen yang berkaitan kegiatan berkaitan dengan pengelolaan
pelayanan kefarmasian di rumah sakit. Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
Peralatan ruang arsip meliputi : kartu dan Bahan Medis Habis Pakai serta
arsip, lemari/ rak arsip. Pelayanan Kefarmasian dalam
jangka waktu tertentu.
8. Ruang Pelayanan Pelayanan Informasi Obat dilakukan Untuk pelayanan informasi obat di
Informasi Obat di ruang tersendiri dengan dilengkapi lakukan atau di ruang tersendiri dengan
sumber informasi dan teknologi dilengkapi dengan peraltan sebai
komunikasi. berikut :
Peralatan ruang informasi obat : a) pustaka ( pustaka primer, sekunder,
a) Kepustakaan yang memadai tersier)
untuk melaksanakan pelayanan b) sarana ( fasilitas ruangan,peralatan,
informasi obat; komputer, internet,)
b) Peralatan meja, kursi,rak buku, c) sumber informasi lainnya (
kotak ; informasi obat dari media massa,
c) Komputer leaflet, brosur, dan informasi yang
d) Telpon-faxcimile; berasal dari seorang Medical
e) Lemari arsip Representative).
f) Kartu arsip
g) Tv dan VCD player
9. Ruang distribusi Sediaan Farmasi, Alat Ruang penyimpanan Sediaan Farmasi,
Sediaan Farmasi, Kesehatan, dan Bahan Medis Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Alat Kesehatan, dan Habis Pakai rawat jalan (apotek Habis Pakai
Bahan Medis Habis Ruang penyimpanan harus
rawat jalan) dan rawat inap
Pakai terdiri dari memperhatikan kondisi sanitasi,
distribusi (satelit farmasi). temperatur, kelembaban, ventilasi,
a) Ruang distribusi untuk pemisahan untuk menjamin mutu
pelayanan rawat jalan, di produk dan keamanan petugas. Ruang
mana ada ruang penyimpanan harus dilengkapi dengan
khusus/terpisah untuk rak/lemari Obat, pallet, pendingin
penerimaan resep dan ruangan (AC), lemari pendingin, lemari
penyimpanan khusus narkotika dan
peracikan
psikotropika, lemari penyimpanan Obat
b) Ruang distribusi untuk khusus, pengukur suhu dan kartu suhu.
pelayanan rawat inap, dapat
secara sentralisasi maupun
desentralisasi di masing-
masing ruang rawat inap.
10. Ruang produksi; Persyaratan bangunan untuk Ruang pelayanan Resep dan peracikan
ruangan produksi harus (produksi sediaan secara terbatas)
memenuhi kriteria: Ruang pelayanan Resep dan peracikan
atau produksi sediaan secara terbatas
a) Lokasi meliputi rak Obat sesuai kebutuhan dan
b) Konstruksi meja peracikan. Di ruang peracikan
c) Rancang bangun dan sekurang-kurangnya disediakan peralatan
penataan gedung di ruang peracikan, timbangan Obat, air minum
produksi harus memenuhi (air mineral) untuk pengencer, sendok
Obat, bahan pengemas Obat, lemari
kriteria: pendingin, termometer ruangan, blanko
(1) Pembagian ruangan salinan Resep, etiket dan label Obat.
(2) Daerah pengolahan dan Ruang ini diatur agar mendapatkan
pengemasan cahaya dan sirkulasi udara yang cukup,
dapat dilengkapi dengan pendingin
9) Ruang Produksi Non Steril ruangan (air conditioner).
10 ) Ruang Penanganan Sediaan
Sitostatik
11) Ruang
Pencampuran/Pelarutan/
Pengemasan Sediaan Yang
Tidak Stabil
12) Ruang Penyimpanan Nutrisi
Parenteral

b. Peralatan
Fasilitas peralatan harus memenuhi
syarat terutama untuk perlengkapan
peracikan dan penyiapan baik
untuk sediaan steril, non steril,
maupun cair untuk Obat luar atau
dalam.
a. Peralatan untuk penyimpanan,
peracikan dan pembuatan Obat
baik steril dan nonsteril maupun
aseptik/steril;
b. Peralatan kantor untuk
administrasi dan arsip;
c. Kepustakaan yang memadai
untuk melaksanakan Pelayanan
Informasi Obat;
d. Lemari penyimpanan khusus
untuk narkotika;
e. Lemari pendingin dan
pendingin ruangan untuk Obat
yang termolabil;
f. Penerangan, sarana air,
ventilasi dan sistem
pembuangan limbah yang baik;
g. Alarm.