Anda di halaman 1dari 12

Utilitas Penyedian Air di PT.

Indonesia Gula
Nusantara (PT.IGN)

Makalah

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah: Utilitas.


Dosen pengampu: Dr. Maria ulfah St Mt

Disusun Oleh:

Tri Sandi Ramadhan (1610017411039)


Lukman Hakim (1610017411003)

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS BUNG HATTA 2018

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Air merupakan kebutuhan penting dalam proses produksi dan kegiatan lain dalam
suatu industri. Penggunaan air industri dapat memanfaatkan air permukaan, air
sebagai sumber air. Penggunaan air permukaan dan air tanah mengharuskan untuk
mengolah air. Air merupakan kebutuhan penting dalam proses produksi dan kegiatan
lain dalam suatu industri. Untuk itu diperlukan penyediaan air bersih yang secara
kualitas memenuhi standar yang berlaku dan secara kuantitas dan kontinuitas harus
memenuhi kebutuhan industri sehingga proses produksi tersebut dapat berjalan
dengan baik. Dengan adanya standar baku mutu untuk air bersih industri, setiap
industri memiliki pengolahan air sendiri-sendiri sesuai dengan kebutuhan industri

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari makalah ini antara lain:


1. Apakah utilitas air itu?

2. Apa saja jenis air yang digunakan pada PT.IGN ini?

3. Apa saja tahapan pengolahan air pada utilitas ?

1.3 Tujuan

Tujuan dari makalah ini, antara lain:

1. Mengetahui apa yang dimaksud utilitas air tersebut

2. Mengetahui jenis air dan manfaat utilitas air dalam industri

3. Mengetahui tahap pengolahan air umpan boiler

4. Mengetahui tahap pengolahan air proses

5. Mengetahui tahap pengolahan air pendingin

BAB II ISI

2.1 Tahap pengolahan tebu menjadi gula kristal putih

Adapun tahap pengolahannya sebagai berikut

1. Proses pengolahan Awal (Penimbangan dan Pengerjaan Pendahuluan )

Pada tahap ini, tebu (cane) yang akan di giling dipersiapkan, baik itu kualitas
maupun kuantitasnya. Kualitas meliputi kondisi fisik tebu, tingkat kebersihan dan
potensi kandungan gula (rendemen) di dalamnya. Sedang dari segi kuantitas, di
lihat jumlahnya dengan ditimbang yang akhirnya menentukan jumlah gula yang
akan dihasilkan.

Dari segi kualitas, tebu (cane) yang baik adalah secara umum memenuhi 3
persyaratan, antara lain :
1.Masak, berarti tebu yang akan di giling harus memiliki kandungan gula
(rendemen) yang mencukupi. Besarnya kandungan gula dipengaruhi oleh
varietas, sistem tanam, iklim dan tingkat kemasakan pada saat tebang.

2.Bersih, berarti tebu yang akan di giling harus bersih dari kotoran, baik itu
kotoran berupa tanah, daun atau akar yang terikut pada saat tebang.

3.Segar, berarti waktu yang diperlukan dari mulai tebu ditebang, masuk pabrik
hingga di giling harus secepat mungkin. Karena semakin lama waktunya,
kandungan gula dalam tebu juga semakin menurun

2. Proses Penggilingan

Pada stasiun gilingan ini dilakukan pemerasan tebu dengan tujuan untuk
mendapatkan nira sebanyak-banyaknya. Pemerasan dilakukan dengan 5
set three roll mill yaitu unit gilingan I sampai V dimana setiap unit gilingan
terdapat 3 roll yang diatur sedemikian rupa membentuk sudut 120°, dan
pada masing-masing gilingan terjadi 2 kali pemerasan.

Pemerahan nira tebu atau mengambil nira tebu dari tebu merupakan
langkah awal dalam memproses pembuatan gula dari tebu. Tebu yang
layak digiling bila telah mencapai fase kemasakan, dimana rendemen
batang tebu bagian pucuk mendekati rendemen bagian batang bawah,
kemudian kebersihan tebu > 95%.

3. Proses Pemurnian
Proses ini bertujuan untuk menghilangkan kandungan kotoran dan
bahan non sugar (yang tidak termasuk gula) dalam nira mentah dengan
catatan gula reduksi maupun saccarosa jangan sampai rusak selama
perlakuan. Bahan non sugar yang dimaksud adalah :
1. Ion – ion organik yang nantinya menghambat pengkristalan
dari saccarosa (gula).
2. Koloid yang menyebabkan sukarnya pengendapan serta penyaringan.
3. Zat warna yang mungkin terkandung dalam zat lain yang mungkin juga
terikut seperti tanah dan sisa daun.

Macam –macam proses pemurnian yang dilakukan pabrik gula di Indonesia


antara lain :
1. Proses Defekasi
Tujuan proses defikasi adalah untuk membersihkan komponen-komponen
bukan gula dan meningkatkan harkat kemurnian (HK).
2. Proses Sulfitasi
Nira yang telah tercampur masuk kedalam tangki sulfitasi dalam proses ini
terjadi penurunan pH nira menjadi 7.0 – 7.2. Sulfitasi ini dilakukan pada
suhu 70 - 75°C. Penambahan SO2 tidak boleh berlebihan karena akan
menyebabkan penurunan pH menjadi terlalu rendah dan terbentuknya
senyawa Calsium Hidrosulfit (CaHSO3) yang larut dalam nira.

4. Proses penguapan (Evaporation)

Tujuan dari penguapan ini adalah untuk mengurangi kadar air yang terdapat pada
nira encer agar diperoleh nira yang lebih kental, dengan kentalan 60 – 65 % brik.
Penguapan ini dilakukan pada temperatur 65 – 110 0C . Setiap evaporator
dilengkapi dengan separator atau penyangga (sap vanger) yang berguna untuk
menangkap percikan nira yang terbawa oleh uap.

5. Proses Masakan (Kristalisasi)

Nira kental dari stasiun penguapan yang sudah dipucatkan (dibleaching) masih
mengandung air ± 35% - 40% lagi. Apabila kadar air lebih besar dari yang
semestinya,maka pembentukan kristal akan lebih lama. Dimana kelebihan
kandungan ini akan diuapkan pada stasiun kristalisasi (dalam pan kristalisasi).

Pada stasiun masakan dilakukan proses kristalisasi dengan tujuan agar kristal
gula mudah dipisahkan dengan kotorannya dalam pemutaran sehingga
didapatkan hasil yang memiliki kemurnian tinggi, membentuk kristal gula yang
sesuai dengan standar kualitas yang ditentukan dan perlu untuk
mengubah saccarosa dalam larutan menjadi kristal agar pembentukan gula
setinggi-tingginya dan hasil akhir dari proses produksi berupa tetes yang masih
sedikit mengandung gula, bahkan diharapkan tidak mengandung gula lagi.
6. Prosess Putaran

Tujuan pemutaran pada stasiun ini adalah untuk memisahkan kristal gula dengan
larutan (stroop) yang masih menempel pada kristal gula. Putaran bekerja dengan
gaya centrifugal yang menyebabkan masakan terlempar jauh dari titik (sumbu)
putaran, dan menempel pada dinding putaran yang telah dilengkapi dengan
sarungan yang menyebabkan kristal gula tertahan pada dinding putaran dan
larutan (stroop) nya keluar dari putaran dengan menembus lubang-lubang
saringan, sehingga terpisah larutan (stroop) tersebut dari gulanya

7. Proses Pengeringan dan pendinginan

Pada stasiun penyelesaian ini dilakukan proses pengeringan gula yang


berasal dari stasiun putaran sehingga benar-benar kering. Pengeringan
dilakukan dengan penyemprotan uap panas dengan suhu ± 70OC, kemudian
didinginkan kembali karena gula tidak tahan pada temperatur yang tinggi.
Tujuan pengeringan adalah untuk menghindari kerusakan gula yang
disebabkan oleh microorganisme, agar gula tahan lama selama proses
penyimpanan sebelum disalurkan kepada konsumen

8. Proses Pengemasan

Gula yang telah bersih dari besi yang terikat didalamnya masuk kedalam sugar
bin. Sugar bin menampung gula dan sugar weigher mengisi dan menimbang
gula drngan berat 50kg kedalam karung secara otomatis. Kemudian karung
gula dijahit dan diangkut dengan menggunakan conveyor untuk disimpan
digudang penyimpanan dan siap untuk dipasarkan.

2.2 Utilitas Air


Air termasuk dalam unit utilitas karena air diperlukan dalam proses industri
selain untuk membersihkan alat-alat proses. Dalam proses industri, selain
digunakan sebagai pengisi air ketel, air juga digunakan pada unit gilingan,
pemurnian, penguapan, masakan, dan sebagai pendinginan unit yang beroperasi.
Sebelum digunakan, air harus dilunakkan terlebih dahulu untuk mencegah
timbulnya kerak dan korosi pada alat-alat proses. Air yang digunakan untuk
proses produksi di PT. IGN berasal dari air sumur.
Proses pelunakan air di PT. IGN dilakukan secara kimiawi. Pelunakan air secara
mekanik tidak dilakukan karena air yang digunakan berasal dari air sumur yang
sudah bersih namun masih mengandung kesadahan, sehingga tidak diperlukan
treatment secara mekanik terlebih dahulu. Pada pelunakan air secara kimiawi air
dialirkan menuju tangki softener dan ditambah dengan resin. Dalam tangki
softener tersebut resin berfungsi mengikat ion-ion logam dalam air sumur,
sehingga air yang dihasilkan dan digunakan untuk proses bebas dari
logam-logam yang menyebabkan kesadahan yang dapat menimbulkan kerak
pada peralatan proses. Resin yang digunakan dapat mengalami kejenuhan
sehingga penangkapan ion-ion logam tidak berjalan secara optimal, maka
diperlukan pengaktifan resin dengan penambahan garam.
Air di PT. IGN digunakan untuk:
1. Pengisi Ketel
Air pengisi ketel terdiri dari air sumur yang sebelumnya terlebih dahulu
mengalami proses pelunakan secara kimiawi. Berikut merupakan
persyaratan air untuk pengisi ketel.
Tabel Persyaratan Air Pengisi Ketel :
No Air pengisi ketel Takuma FCB I dan FCB II
1. pH (pada T = 25 0C) 7,0 – 9,0 8.5
2. Kesadahan CaCO3 Mendekati 0 8
3. Minyak, ppm Mendekati 0 -
4. Oksigen terlarut < 0,1 0,1
5. Hydrazine > 0,4
2. Air Proses
Unit-unit proses yang membutuhkan air adalah bagian gilingan, pemurnian,
penguapan, masakan, dan sebagai pendingin unit yang beroperasi. Air pada
stasiun gilingan digunakan sebagai air imbibisi sementara pada stasiun
penguapan dan masakan digunakan untuk air injeksi pada kondensor.

3. Air pendingin
Air pendingin adalah air limbah yang berasal dari aliran air yang digunakan
untuk penghilangan panas dan tidak berkontak langsung dengan bahan
baku
pada industri ini air digunakan di condenser pada evaporator dan
kristalisator.

2.3 Tahap Pengolahan Air Utilitas


1. Air Proses
Adapun tahapan Pengolahan air proses yaitu
A. Unit Penampungan Awal (Intake)
Unit ini dikenal dengan istilah unit Sadap Air (Intake). Unit ini berfungsi
sebagai tempat penampungan air dari sumber airnya. Selain itu unit ini
dilengkapi dengan Bar Sceen yang berfungsi sebagai penyaring awal dari
benda-benda yang ikut tergenang dalam air seperti sampah daun, kayu dan
benda2 lainnya.

B. Unit Pengolahan (Water Treatment)


Pada unit ini, air dari unit penampungan awal diproses melalui beberapa
tahapan:
a. Tahap Koagulasi (Coagulation)
Pada tahap ini, air yang berasal dari penampungan awal diproses dengan
menambahkan zat kimiaTawas (alum) atau zat sejenis seperti zat garam
besi (Salts Iron) atau dengan menggunakan sistem pengadukan cepat
(Rapid Mixing). Air yang kotor atau keruh umumnya karena
mengandung berbagai partikel koloid yang tidak terpengaruh gaya gravitasi
sehingga tidak bisa mengendap dengan sendirinya. Tujuan dari tahap ini
adalah untuk menghancurkan partikel koloid (yang menyebabkan air
keruh) tadi sehingga terbentuk partikel-partikel kecil namun masih sulit
untuk mengendap dengan sendirinya.

b. Tahap Flokulasi (Flocculation)


Proses Flokulasi adalah proses penyisihan kekeruhan air dengan cara
penggumpalan partikel untuk dijadikan partikel yang lebih besar (partikel
Flok). Pada tahap ini, partikel-partikel kecil yang terkandung dalam air
digumpalkan menjadi partikel-partikel yang berukuran lebih besar (Flok)
sehingga dapat mengendap dengan sendirinya (karena gravitasi) pada
proses berikutnya. Di proses Flokulasi ini dilakukan dengan cara
pengadukan lambat (Slow Mixing)

c. Tahap Pengendapan (Sedimentation)


Pada tahap ini partikel-patikel flok tersebut mengendap secara alami di
dasar penampungan karena massa jenisnya lebih besar dari unsur air.
Kemudian air di alirkan masuk ke tahap penyaringan di Unit Filtrasi

d. Tahap Penyaringan (Filtration)


Pada tahap ini air disaring melewati media penyaring yang disusun dari
bahan-bahan biasanya berupa pasir dan kerikil silica. Proses ini ditujukan
untuk menghilangkan bahan-bahan terlarut dan tak terlarut.

C. Unit Penampung Akhir (Reservoir)


Setelah masuk ke tahap ini berarti air sudah siap untuk didistribusikan
proses industri.

2. Air Umpan Boiler


Adapun tahapan Pengolahan air proses yaitu
A. Demineralisasi
Demineralisasi adalah penghilangan kadar mineral logam yang dapat
menimbulkan kerak dan korosi dengan cara pelunakan air, air tersebut
dialiri dalam tangki dan diberi resin agar mengikat ion-ion logam,sehingga
air bebas dari kandungan logam yang menyebabkan korosi

B. Feed Tank
Dilakukan pemanasan awal yang bertujuan mengurangi beban pemanasan di
deaerator, suhunya adalah sekitar 60 -80oc

C. Deaerator
Berfungsi untuk mengurangi oksigen dan CO2 pada air yag akan
mengakibatkan terjadinya korosi pada pipa boiler

3. Air Pendingin
A. Cooling Tower
Air panas dari proses dialirkan menuju cooling tower dan didinginkan
dengan cara menjatuhkan air dari atas dan bersentuhan dengan plat-plat
besi dan terdapat hembusan kipas.

B. Kolam Spray Water


Air panas dari proses disemprotkan ke udara dan jatuh pada kolam.
Sehingga air yang jatuh menjadi dingin dan dapat digunakan kembali untuk
proses
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari makalah ialah sebagai berikut:

1. tahap proses pengolahan gula kristal putih dari tebu adalah pengolahan awal
(seleksi bahan), penggilingan atau ekstraksi, pemurnian, pemanasan dan
evaporasi, kristalisasi, pemisahan kristal (sentrifugasi), pengeringan dan
pengemasan

2. Air termasuk dalam unit utilitas karena air diperlukan dalam proses industri
dan membersihkan alat-alat proses. pada industri ini air digunakan sebagai
pengisi air ketel, air juga digunakan pada unit gilingan, pemurnian,
penguapan, masakan, dan sebagai pendinginan unit yang beroperasi

3. Berdasarkan pemakaiannya pada proses pembuatan gula kristal dari tebu, air
dalam unit utilitas ini terbagi menjadi dua yaitu air pengisi boiler, air proses ,
air pendingin

4. Tahapan pengolahan air proses, air umpan boiler, dan air pendingin berbeda
beda dalam proses pengolahannya

3.2 Saran
Adapun saran dari makalah ini adalah Sebaiknya dalam perancangan sebuah
pabrik memperhatikan aspek-aspek yang berpengaruh dalam penggunaan
utilitas air dan parameter yang mengaturnya untuk memaksimalkan efisiensi dan
nilai ekonomi dari proses produksi.