Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM PENCAPAN 1

PENCAPAN KAIN T/C DENGAN ZAT


WARNA PIGMEN

Diajukan untuk memenuhi tugas praktikum pencapan 1

Disusun Oleh :

Kelompok 3

Nama : Nabila Maulidiyah (16020068)


Muhammad Reynaldi B.S (16020078)
Yuniarti Nur Azizah (16020081)
Nur Azizah Nasution (16020088)
Novia Nurfajrianty (16020089)

Group : 3K3

Dosen : Khairul U.,S.ST.,MT.

Asisten Dosen : Eka O.,S.ST.,MT

Desiriana

KIMIA TEKSTIL
POLITEKNIK STTT BANDUNG
2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebelum kain siap untuk proses pencapan, kain harus sudah melalui proses
persiapan penyempurnaan untuk menghilangkan wax, lignin, kanji dan kotoran
lainnya yang akan mengganggu proses selanjutnya.

Pencapan dengan zat warna pigmen dapat digunakan pada semua jenis serat. Zat
warna pigmen tidak mempunyai afinitas terhadap serat, maka fiksasinya ke dalam
serat diperlukan bantuan zat pengikat yaitu binder. Kekuatan ikatan antara zat
warna pigmen dengan serat tergantung pada daya ikat dari binder yang
digunakan. Oleh karena sifat fiksasi zat warna pigmen yang demikian, maka zat
warna pigmen dapat diaplikasikan pada semua jenis serat, termasuk serat-serat
gelas.

Pada proses pencapan dengan zat warna pigmen perlu dilakukan pemilihan
pengental dan zat pembantu tekstil yang sesuai dengan bahan yang akan dicap,
penentuan urutan proses dan resep yang tepat, perhitungan kebutuhan zat yang
tepat dan pelaksanaan proses pencapan yang baik sehingga diperoleh hasil
pencapan sesuai yang dipersyaratkan.

1.2 Tujuan
Memberi warna pada bahan tekstil dengan menggunakan zat warna pigmen
sesuai dengan motif yang diinginkan.
BAB II
TINJUAN PUSTAKA

Pencapan adalah suatu proses untuk mewarnai bahan tekstil dengan melekatkan
zat warna pada kain secara tidak merata sesuai dengan motif yang diinginkan.
Motif yang akan diperoleh pada kain cap nantinya harusnya dibuat dulu gambar
pada kertas. Kemudian dari gambar ini masing-masing warna dalam komponen
gambar yang akan dijadikan motif dipisahkan dalam kertas film.

Dari kertas film inilah motif dipindahkan ke screen, dimana dalam screen ini
bagian-bagian yang tidak ada gambarnya akan tertutup oleh zat peka cahaya
sedangkan untuk bagian-bagian yang merupakan gambar akan berlubang dan
dapat meneruskan pasta cap ke bahan yang akan dicap.

2.1 Serat Poliester


Serat poliester merupakan suatu polimer yang mengandung gugus ester dan
memiliki keteraturan struktur rantai yang menyebabkan rantai-rantai mampu saling
berdekatan,sehingga gaya antar rantai polimer poliester dapat bekerja membentuk
struktur yang teratur.

Poliester merupakan serat sintetik yang bersifat hidrofob karena terjadi ikatan
hidrogen antara gugus – OH dan gugus – COOH dalam molekul tersebut. Oleh
karena itu serat polierter sulit didekati air atau zat warna.Serat ini dibuat dari asam
tereftalat dan etilena glikol. Untuk dapat mendekatkan air terhadap serat yang
hidrofob, maka kekuatan ikatan hidrogen dalam serat perlu dikurangi. Kenaikan
suhu dapat memperbesar fibrasi molekul, akibatnya ikatan hidrogen dalam serat
akan lemah dan air dapat mendekati serat. Disamping sifat hidrofob, faktor lain
yang menyulitkan pencelupan ialah kerapatan serat poliester yang tinggi sekali
sehingga sulit untuk dimasuki oleh molekul zat warna. Derajat kerapatan ini alan
berkurang dengan adanya kenaikan suhu karena fibrasinya bertambah dan
akibatnya ruang antar molekul makin besar pula. Molekul zat warna akan masuk
dalam ruang antar molekul. ( Soeprijono; 1973)

2.1.1 Sifat Poliester


2.1.1.1 Sifat Fisika
1. Elektrostatik
Serat poliester sangat menimbulkan elektrstatik selama proses.Selain itu kain
poliester bila bersentuhan dengan kulit akan menyebabkan timbulnya listrik statis.
Oleh karena itu perlu ditambahkan sifat anti statik pada serat poliester

2. Berat jenis
Serat poliester memiliki berat jenis 1,38 g/cm3.

3. Morfologi
Serat poliester berbentuk silinder dengan penampang melintang bulat.

4. Kandungan air
Serat sintetik pada umumnya memiliki kandungan air yang rendah yaitu antara 0-
3 % .Serat poliester sendiri memiliki kandungan air 0,4 %

5. Derajat kristalinitas
Derajat kristalinitas adalah faktor penting untuk serat poliester,karena derajat
kristalinitas serat sangat berpengaruh pada serap zat warna ,mulur, kekuatan
tarik,stabilitas dimensi, serta sifat-sifat lainya.

6. Pengaruh panas
Serat poliester tahanh terhadap panas sampaipada suhu 2200C, diatas suhu ini
akan memeengaruhi kekuatan, mulur, dan warnanya menjadi kekuningan. Suhu
230-2400C menyebabkan poliester melunak, suhu 260 C menyebabkan poliester
meleleh.

7. Sifat Elastis
Poliesater memiliki sifat elastisitas yang baik dan ketahanan kusut yang baik.

2.1.1.2 Sifat Kimia


Poliester tahan asam lemah meskipun pada suhu mendidih, dan tahan asam kuat
dingin. Polieater tahan basa lemah tapi kurang tahan basa kuat. Poliester tahan
zat oksidator, alkohol, keton, sabun, dan zat-zat untuk pencucian kering. Polieater
larut dalam metakresol panas, asam trifouro asetat-orto-cloro fenol.

2.2 Serat Kapas


Serat kapas merupakan serat alam dengan komposisi sebagai berikut:
1. Selulosa
Selulosa merupakan polimer linier yang tersusun dari kondensasi molekul-molekul
glukosa.
Derajat polimerisasinya sekitar 10.000 dengan berat molekul 1.580.000. Selulosa
mengandung gugus hidroksil yaitu 1 gugus promer dan 2 gugus sekunder.
Selulosa terdapat pada dinding primer dan dinding sekunder.

2. Pektin
Pektin adalah karbohidrat dengan berat molekul tinggi dan mempunyai struktur
molekul seperti selulosa. Terutama terdiri dari susunan linier asam d-galakturonat
dalam garam-garam kalsium dan besi yang tidak larut. Selulosa pecah menjadi
glukosa, tetapi pektin terurai menjadi galaktosa, pentosa, asam poligalakturonat,
dan metil alkohol.

3. Zat-zat yang mengandung protein


Diperkirakan bahwa zat-zat ini merupakan sisa-sisa protoplasma yang tertinggal
di dalam lumen setelah selnya mati ketika buah membuka.

4. Lilin
Lilin merupakan lapisan pelindung yang tahan air pada serat-serat kapas mentah.
Lilin seluruhnya meleleh pada dinding primer.

5. Abu
Abu timbul kemungkinan karena adanya bagian-bagian daun, kulit buah, dan
kotoran-kotoran yang menempel pada serat. Abu tersebut mengandung
magnesium, kalsium, atau kalium karbonat, fosfat, atau klorida, dan garam-garam
karbonat yang merupakan bagian terbesar.

2.2.1 Sifat Fisika


a. Warna
Warna serat kapas tidak betul-betul putih. Biasanya sedikit berwarna krem.
Pengaruh cuaca yang lama, debu, dan kotoran dapat menyebabkan warna keabu-
abuan. Sedangkan jamur dapt mengakibatkan warna puih kebiru-biruan yang tidak
hilang dalam pemutihan.

b. Kekuatan
Kekuatan serat per bundelnya adalah 70.000 sampai 96.700 pon per inci
persegi.Dalam keadaan basah, kekuatannya akan bertambah.

c. Mulur
Mulurnya sekitar 4-13% dengan rata-rata 7%.
d. Keliatan ( toughness )
Keliatan adalah ukuran yang menunjukkan kemampuan suatu benda untuk
menerima kerja.

e. Kekakuan ( stiffness )
Kekakuan adalah daya tahan terhadap perubahan bentuk atau perbandingan
kekuatan saat putus dengan mulur saat putus.

f. Moiture Regain
MR serat kapas pada kondisi standar adalah 7-8,5%.

g. Berat jenis
Berat jenis serat kapas berkisar 1,50-1,56.

h. Indeks bias
Indeks bias serat kapas yang sejajar sumbu serat 1,58. Sedangkan yang tegak
lurus adalah 1,53.

2.2.2 Sifat Kimia


1. Tahan kondisi penyimpanan, pengolahan, dan pemakaian normal.
2. Rusak oleh oksidator dan penghirolisa.
3. Rusak cepat oleh asam kuat pekat dan rusak perlahan oleh asam encer.
4. Sedikit terpengaruh oleh alkali, kecuali larutan alkali kuat yang menyebabkan
penggelembungan serat.
5. Larut dalam kuproamonium hidroksida dan kuprietilen diamin.
6. Mudah terserang jamur dan bakteri dalam keadaan lembab dan hangat.
Sumber : Soeparjiono, Serat – Serat Tekstil, 1973.

2.3 Kain Campuran Poliester Kapas


2.3.1 Pendahuluan
Perkembangan Industri tekstil sudah semakin maju, hal ini dapat dilihat dengan
adanya produksi kain yang bukan dari satu jenis serat akan tetapi sudah
merupakan kain dari campuran dua jenis serat yang berbeda.

Produksi kain dari dua jenis serat yang berbeda ini merupakan campuran serat
alam dengan serat buatan .

Kain yang dihasilkan dari pencampuran dua jenis serat yang berbeda ini antara
lain : poliester – kapas, poliester – rayon. Dan masih banyak lagi jenis kain
campuran lainnya. Jenis kain hasil pencampura dari dua serat yang saat ini banyak
dipakai adalah kain poliester – kapas.
2.3.2 Tujuan Pencampuran Serat
Produksi kain campuran dari serat poliester dan kapas ini memiliki tujuan agar
didapatkan jenis kain yang memiliki sifat lebih baik bila dibandingkan dengan kain
yang terbuat dari salah satu jenis saja, karena setiap serat memiliki kelebihan dan
kekurangan masing – masing. Sebelum dilakukan proses pencampuran antara
dua serat tersebut, perlu diadakan suatu evaluasi yang lebih lanjut. Hal ini
dilakukan mengingat adanya perbedaan sifat antara kedua jenis serat tersebut.
Dengan adanya pencampuran kedua jenis serat ini diharapkan masing – masing
jenis serat dapat saling menutupi kekurangan dari salah satu jenis serat tersebut.

2.3.3 Sifat – Sifat Bahan Campuran Poliester Kapas

Sifat – sifat Poliester Kapas


Mekanik A B–A
Penyerapan zat warna C B–A
Penyerapan air C A
Kenampakan A B
Gosokan Kering B B
Gosokan Basah B C–B
Tahan Kusut A C
Tahan lipatan tetap A C
Kerutan B C–B
Tahan elektrostatik C A
Tahan pilling C A
Kelembutan B A
Ketahanan api pada gelembung C A
Sumber : Soenaryo, Proses Pengerjaan Kain Campuran Poliester Kapas, Thesis, 1974.
Keterangan : A = baik sekali
B = cukup baik
C = kurang baik.
2.4 Zat Warna Pigmen
Pencapan dengan zat warna pigmen dapat digunakan pada semua jenis serat. Zat
warna pigmen tidak mempunyai afinitas terhadap serat, maka fiksasinya ke dalam
serat diperlukan bantuan zat pengikat yaitu binder. Kekuatan ikatan antara zat
warna pigmen dengan serat tergantung pada daya ikat dari binder yang
digunakan. Oleh karena sifat fiksasi zat warna pigmen yang demikian, maka zat
warna pigmen dapat diaplikasikan pada semua jenis serat termasuk serat-serat
gelas. Ditinjau dari segi ekonomis, metoda pencapan zat warna pigmen sangat
sederhana dan murah. Proses pencucian yang dimaksudkan untuk
menghilangkan sisa-sisa zat warna, pengental dan zat-zat pembantu, tidak
diperlukan pada metoda pencapan pigmen. Oleh sebab itu metoda ini sangat luas
digunakan dalam industri.

Dalam perkembangannya, saat ini sudah banyak diproduksi selain zat warna
pigmen sintentik juga binder sintentik yang lebih menjamin hasil cap sesuai
keinginan. Demikian pula halnya dengan penggunaan pengental, dari mulai
pengental alam berkembang menjadi pengental emulsi air dalam minyak (w/o),
kemudian emulsi minyak dalamair (o/w) dan pada akhirnya pengental sintetis.

Pada tahun 1935 mulai dikenal pigmen yang


mengandung kromofor dan mempunyai warna
yang lebih cerah pimen dari zat-zat organik.
Contohnya pigmen ftalosianina, antrakinon,
azina, dan yang mengandung kromofor lainnya.
Untuk contoh struktur molekul jenis ftalosianina
adalah ftalosianina tembaga (CI Pigment Blue
15 74160) seperti gambar di samping.

Komponen pasta cap pigmen didasarkan pada tiga hal penting, yaitu : dispersi zat
warna pigmen, binder dan zat pembantu ikatan silang, serta pengetal yang sesuai.
Hasil pencapanpigmen yang baik ditandai dengan tingkat kecerahan yang tinggi,
sifat pegangan yang tidak kaku dan sifat daya ketahanan yang tinggi terhadap
gosok dan pencucian.

Zat warna pigmen adalah zat warna yang tidak larut dalam air, diperdagangkan
dalam bentuk terdispersi kerap disebut juga emulsi pigmen. Terutama dibuat dari
bahan baku sintetis, selain tersedia cukup banyak warna-warna, untuk pigmen
putih digunakan bahan dasar titanium dioksida, campuran kupro dan alumunium
untuk warna metalik serta besi oksida untuk mendapatkan warna kecoklatan.
Dalam melakukan pemilihan zat warna pigmen yang penting diperhatikan selain
harganya juga sifat-sifat ketahanan lunturnya, kecerahannya dan kekuatan
pewarnaannya.

Pasta cap yang digunakan sebaiknya mempunyai sifat reologi seperti plastik,
dapat dipindahkan pada tekstil dengan mudah tetapi penetrasinya terbatas. Jika
terjadi perakelan pasta akan mengencer dan setelah perakelan kembali menjadi
solid pada permukaan kain, sehingga tidak berpenetrasi lebih jauh ke dalam tekstil
hanya tinggal di permukannya saja, sehingga menghasilkan tingkat pewarnaan
yang lebih baik.

Pada penggunaan pengental dispersi, untuk menghindari ketidakrataan warna


pada pencapan kain-kain halus dan kain-kain hidrofob dan juga terjadinya screen
fram marks, dapat dikombinasikan dengan pengental koloid (misal dari jenis eter
selulosa) yang mengurangi efek pecahnya lapisan pasta cap. Namun demikian
perlu tetap diperhatikan efek pegangan kaku jika penambahan pengental koloid
semakin besar.

Pigmen terdiri dari beberapa macam :

 Endapan zat warna kation


Zat warna basa yang bersifat kation diendapkan suatu anion misalnya asam
fostungs molidat akan memberikan endapan.

 Endapan zat warna anion


Zat warna anion diendapkan dalam barium, endapan garam logam tersebut tahan
terhadap pelarut organik tetapi biasanya tahan lunturnya kurang baik terhadap
asam dan alkali.

 Kompleks Logam
Adalah senyawa gabungan atau senyawa kordinat dimana molekul zat warna yang
mengandung atom oksigen atau nitrogen mampu memberikan elektron kepada
atom logam.

 Senyawa netral bebas logam


Merupakan jenis pigmen yang paling banyak dipakai dan berasal dari sebagian
besar zat warna monoazo, diazo dan beberapa dari golongan azina, indigo dan
antrakinon sehingga warnanya melengkapi seluruh warna spektrum.
Zat warna pigmen tidak mempunyai afinitas terhadap semua serat oleh karena itu
maka diperlukan zat pengikat yang akan membentuk lapisan film yang sangat tipis
diatas bahan dan membentuk ikatan dengan serat.

Pigmen umumnya dipasarkan dalam bentuk terdipersi (emulsi pigmen), terutama


terbuat dai bahan baku sintetis dan tersedia cukup banyak warna. Untuk pigmen
putih digunakan bahan dasar titanium dioksida,untuk warna metalik digunakan
campuran tembaga dan aluminium, serta untuk warna kecoklatan dibuat dari besi
oksidasi. Pada saat akan memilih pigmen sintetis tersebut, harus memperhatikan
harga, ketahanan luntur warna, kecerahan dan daya pewarnaan dari sekian
banyak produk yang ada. Pigmen merupakan suatu zat atau senyawa yang inert,
stabil dan dapat mewarnai suatu zat atau bahan lain. Bahan yang diwarnai oleh
pigmen antara lain logam,kayu, batu, elastik, tembok, kulit, dan tekstil. Sebelum
dikenal pigmen buatan , telah banyak dipakai zat – zat organik sebagai pewarna
antara lain oksida – oksida dari besi, krom, timbal, tembaga dan oksida logam
lainnya yang daya pewarnaannya terbatas.

Pigmen dapat digunakan sendiri atau dicampur dengan pigmen putih sebagai
pengatur tua muda warna. Pigmen juga dikenal sebagai pewarna pada produk –
produk kosmetik, sabun, malam, kapur, dan sebagai pewarna cairan polimer serat.

2.5 Pengental emulsi


Pengental emulsi banyak digunakan untuk pencapan zat warna pigmen. Karena
suksesnya sebagai pengental pada zat warna pigmen, kemudian pengental emulsi
digunakan juga untuk pencapan zat warna lainnya. Berhubung pengental emulsi
memiliki aliran pasta yang pendek (Short flow) maka memberikan hasil cap yang
kurang memuaskan, sehingga penggunaannya dengan zat warna selain pigmen,
dicampur dengan penggal alam dari jenis alginat atau guar. Pengental semi emulsi
ini memberikan keuntungan yaitu lebih tingginya tingkah pewarna yang dicapai
dan waktu pengeringan Aung lebih cepat dibandingkan penggal alam 100%.

Penggal emulsi dibagi Menjadi dua jenis, yaitu :

1. Emulsi ari dalam minyak (w/o), yaitu air merupakan asa terdispersi dan minyak
sebagai medium pendispersi.
2. Emulsi minyak dam air (o/w), yaitu minyak merupakan asa terdispersi dan air
sebagai medium pendispersi.
Terlepas dari apakah menggunakan sistem emulsi w/o atau o/w, kesuksesan
sistem pencapan pigmen didasarkan pada tiga komponen yang sama penting
yaitu:

1. Dispersi pigmen
2. Binder dan zat pengikat silang
3. Penggal dan zat pembantu untuk mendapatkan sifat – sifat yang disyaratkan.

Sekarang banyak digunakan pengental semi emulsi yaitu penggal campuran


antara pengental emulsi dan penggal sintetik atau pengental alam. Adanya
pencampuran pengental tersebut kara masing - masing pengental mempunyai
kekurangan dan kelebihan masing – masinng sehingga untuk mendapatkan hasil
yang diinginkan maka digunakan pengental setengah emulsi.

2.6 Binder
Binder merupakan zat pengikat antara zat warna dan serat, yang dapat larut atau
terdispersi dalam air dan pada suhu tinggi dapat berpolimerisasi. Contoh binder
yang dipakai adalah dari jenis poliakrilat.

Polimerisasi ini akan memberikan lapisan tipis yang melindungi zat warna pada
permukaan bahan. Ilustrasinya sebagai berikut :

Keterangan:
 Lapisan binder atau lapisan film yang dibentuk dari binder yang telah
berpolimerisasi, tipis, transparan, tidak berwarna, fleksibel sedapat
mungkin membentuk ikatan silang (jaringan tiga dimensi) dengan serat dan
mampu melindungi zat warna.
 Zat warna pigmen, berada pada permukaan kain, dilindungi oleh lapisan
film dan tidak terserap sampai ke inti serat sebagaimana pencelupan
dengan zat warna selain dengan zat warna pigmen.
 Ikatan silang, jaringan tiga dimensidari lapisan film yang terbentuk
sehingga zat warna pigmen tidak dapat terlepas dari serat

Apabila pada larutan proses ada resin anti kusut dan resin pelembut, maka
keduanya juga akan berpolimerisasi di dalam serat dan atau di permukaan kain
saja tergantung kereaktifannya. Polimerisasi antara resin resin dan binder dapat
saja bergabung satu sama lain dengan menggabungkan gugusan yang sesuai.

Binder dan katalis yang digunakan harus berkesesuaian, artinya pemilihan katalis
dilakukan sedemikian sehingga temperatur pecahnya katalis harus sesuai dengan
temperatur untuk binder berpolimerisasi, jika :
 Temperatur pecahnya katalis lebih rendah daripada temperatur binder untuk
berpolimerisasi maka asam yang dihasilkan akan habis menguap sebelum
mencapai temperatur binder untuk berpolimerisasi, misalnya :
 Telah dipilih biner yang berpolimerisasi ada 170 C dan katalis yang pecah
pada temperatur 150 C. Pada temperatur 150 C katalis sudah pecah
menghasilkan asam, sedang binder baru dapat berpolimerisasi pada
temperatur 170 C, asam yang telah dihasilkan akan habis menguap pada
waktu binder mencapai temperatur polimerisasi, tidak tersedia asam ,
sehingga polimerisasi tidak berlangsung.
 Jika temperatur pecahnya katalis lebih tinggi daripada temperatur polimerisasi
binder, maka pada waktu binder akan berpolimerisasi tidak tersedia asam
karena katalis belum pecah pada temperatur yang lebih rendah sehingga
polimerisasi tidak berlangsung. Jika pemanasan diteruskan sampai mencapai
temperatur pecahnya katalis maka walupun dapat terbentuk asam karena akan
teapi binder akan rusak karena tidak tahan pada pemanasan yang lebih tinggi.

Binder merupakan zat kimia yang memegang peran penting dalam proses
pencapan dengan zat warna pigmen untuk meningkatkan daya tahan luntur
warna. Film binder pada pencapan pigmen adalah struktur tiga dimensi. Binder
adalah suatu zat yang akan membentuk lapisan tipis yang terbuat dari
makromolekul rantai panjang yang pada saat diaplikasikan pada tekstil bersama
pigmen menghasilkan jaringan berkaitan tiga dimensi. Jaring tiga dimensi dapat
terbentuk selama proses fiksasi (uring) pada suhu tinggi dan pada saat ini terjadi
perubahan suhu pH sehingga terjadi salah satu sel-cross-linking atau reaksi
dengan zat pengikat silang.

Binder mempunyai gugus reaktif dalam kopolimer yang akan membentuk ikatan
silang (Cross- linking) antara molekul – molekul kopolimer tinggi atau dengan
hidroksi, amino dan gugus lainnya dari serat pada saat proses uring. Reaksi ikatan
silang membentuk suhu tinggi dan katalis bersifat asam. Katalis yang banyak
digunakan pada pencapan zat warna pigmen adalah diamonium fosfat.
Reaksi ikatan silang dari binder terjadi pada kondisi asam yang dapat di
gambarkan sebagai berikut :

pH < 5

B – CH2OH + HO-CH2-B B-CH2OCH-B + HOH

atau pH < 5

B-CH2OH + HOB B-CH2-OB + HOH

Reaksi antara binder dengan serat dapat digambarkan sebagai berikut:

B-CH2OR + HO-Sel B-CH2-O-Sel + ROH

dimana R adalah CH3 atau H; dan B adalah molekul binder.

2.6 Keuntungan dan kerugian pencapan pigmen


Beberapa utama keuntungan pencapan pigmen adalah :
1. Pencapan pigmen adalah pencapan yang paling ekonomis kara tidak perlu
dilakukan pencucian setelah fiksasi, pengambilan contoh cepat dan tidak
memerlukan waktu lama.
2. Penggunaan zat warna pembantu yang sesuai akan meong hasilkan
ketahanan warna yang tinggi terutama ketahanan terhadap cahaya.
3. Pencapan pigmen dapat dilakukan kepada semua jenis bahan.
4. Pewarnaan yang dihasilkan tidak mempunyai banyak masalah.
5. Lebih ramah lingkungan karena tidak ada proses pencucian.

Beberapa kerugian pencapan pigmen adalah :


1. Untuk warna – warna tua ketahanan luntur paling baik bila diaplikasikan pada
bahan yang jarang terkena gesekan.
2. Hasil pencapan menyebabkan pegangan yang kaku.
3. Pigmen mudah retak apabila digunakan pada pencapan menggunakan rol.
4. Permukaan bahwa semuanya tertutup oleh lapisan film.
5. Tidak ada pigmen yang sangat tahan luntur pada pencucian kering.

2.7 Tahapan Pencapan


2.7.1 Pembuatan pasta cap
Pengental induk :
Pengental emulsi ini dibuat dengan cara menambahkan emulsifier sedikit demi
sedikit ke dalam air dalam ember plastik sampai homogen,kemudian tambahkan
minyak sedikit demi sedikit minyak tanah sedikit demi sedikit sambil di-mixer
dengan kecepatan tinggi.

Pasta cap :
Semua zat pembantu yang tidak dalam bentuk larutan harus dilarutkan lebih
dahulu dengan air atau air panas, agar tidak mengganggu homogenitas pasta cap.
Siapkan pengental dalam ember plastik, kemudian sambil di-mixer tambahkan zat
warna, binder, fixer, dan terakhir DAP.

2.7.2 Tahap pencapan


Setelah meja cap, kain, pasta cap, kasa dalam peralatan lain siap, maka
pencapan kain kapas dengan zat warna pigmen dapat segera dilakukan, yaitu:
1) Pencapan dengan pasta emulsi
2) Pengeringan awal, suhu 100 0C
3) Pemanasanwetan atau curing, suhu 160 – 180 0C
BAB III
METODELOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
 Ember plastik  pengaduk
 Gelas plastik  Stirrer
 Gelas piala  Kassa datar
 Gelas ukur  Rakel
 Pipet ukur  Neraca analitik
3.1.2 Bahan
 Kain T/C  Minyak Tanah
 Zat warna pigmen  Emulsifier
 Binder  Gliserin
 DAP  Fixer

3.2 Resep
3.2.1 Resep Pengental
 Pengental sintetik : 30 gram
 Air : 570 gram

3.2.2 Resep Pasta Cap


 Zat Warna Pigmen : 20 gram
 Pengental Emulsi 5% : 700 gram
 Gliserin : 20 gram
 Binder : 180 gram
 DAP : 20 gram
 Fixer : 20 gram

 Balance : X gram

1000 gram
3.3 Perhitungan Resep
a. Pengental induk
Kebutuhan pengental = 600 gram
5
Pengental 5 % = x 600 = 30 gram
100
Air = 600 – 30 gram = 570 gram

b. Pasta Cap
Total pasta cap per kelompok = 50 gram

20
Zat warna pigmen = x 50 = 1 gram
1000
700
Pengental = x 50 = 35 gram
1000
20
Urea = x 50 = 1 gram
1000
180
Binder = x 50 = 9 gram
1000
20
DAP = x 50 = 1 gram
1000
20
Fixer = x 50 = 1 gram
1000

Total = 48 gram
X = balance (air atau pengental)
48 gram + (x) = 50 gram
X = 2 gram

Catatan: pada saat pembuatan pasta cap ditambahkan pengental sintetik ± 20


gram dikarenakan hasil dari perhitungan resep tersebut menghasilkan pasta cap
yang encer.
3.4 Diagram Alir
Persiapan Pencapan

Pencapan

Pengeringan

Pemanasawetan
160-1800C ~ 2 menit

Pencucian dan Pengeringan

Evaluasi

3.5 Skema Proses

Persiapan 4 Proses Drying Curing Cuci Sabun Pengeringan


Pencapan Pencapan
Dan evaluasi

3.4 Langkah Kerja


3.4.1 Pembuatan Pasta Cap
 Pengental Induk
1. Menyiapkan bahan dan alat yang digunakan.
2. Menimbang pengental sintetik sebanyak 30 gram lalu dimasukkan ke dalam
ember kecil
3. Menambahkan air sedikit demi sedikit sambil diaduk memakai mixer sampai
menjadi homogen dan dilihat viskositasnya
 Pasta Cap
1. Menyiapkan pengental dalam ember plastik.
2. Memasukan zat warna, binder, fixer, DAP ke dalam ember yang berisi
pengental sambil diaduk sesuai dengan perhitungan resep yang telah
dilakukan.

3.4.2 Tahapan Proses Pencapan


1. Menyiapkan meja cap, kain, pasta cap, kassa dan peralatan lainnya.
2. Melakukan proses pencapan
3. Melakukan proses pengeringan awal dengan suhu 1000C
4. Melakukan proses pemanasawetan atau curing pada suhu 160 – 180 0C
5. Melakukan evaluasi terhadap hasil pencapan.

3.5 Fungsi Zat


1 Zat warna pigmen, berfungsi untuk pemberi warna pada kain dengan motif
tertentu.
2 Pengental sintetik, berfungsi untuk meningkatkan kekentalan pasta cap,
melekatkan zat warna pada bahan tekstil dan sebagai pengatur viskositas.
3 Binder, berfungsi pada suhu pemanasawetan akan berpolimerisasi
membentuk lapisan film tipis yang dapat menutupi zat warna sehingga hasil
pencapan memiliki ketahanan gosok yang lebih baik.
4 DAP, berfungsi sebagai katalis merupakan senyawa yang pada pemanasan
tinggi dapat memberikan reaksi asam.
5 Fixer, berfungsi sebagai pemerkuat lapisan film binder agar dapat menambah
sifat ketahanan luntur warna.
BAB IV
HASIL PERCOBAAN

(TERLAMPIR)
BAB V
DISKUSI

Pada praktikum pencapan kali ini yaitu proses pencapan zat warna pigmen
pada kain T/C. Sebelum melakukan proses pencapan pada kain, dilakukan terlebih
dahulu persiapan pencapan nya yaitu meliputi persiapan kain, pembuatan
pengental sintetik, pembuatan pasta cap, persiapan kasa dan rakel dan lain
sebagainya.
Jika dilihat berdasarkan warna yang dihasilkan, maka zat warna pigmen tersebut
dapat mewarnai kain membentuk motif yang telah kami buat sebelumnya, maka
dapat diketahui bahwa zat warna dapat menempel pada kain tersebut. Zat warna
pigmen sebenarnya tidak dapat mewarnai kain dengan adanya ikatan antara kain
tersebut dengan zat warna, melainkan hanya menempel saja pada permukaan
kain yang diikat menggunakan binder. Binder tersebut membentuk lapisan film
(tipis) yang membentuk jaringan 3 dimensi, dan membentuk jaringan 3 dimensi
(berupa ikatan silang antar molekul nya sendiri/self cross linking) yang terjadi pada
saat proses curing atau pemanas awetan pada suhu 160OC, sebelum dilakukan
proses curing maka dilakukan proses pengeringan (drying) terlebih dahulu agar air
yang terkandung dalam kain menguap sehingga keadaan kain tidak basah dan zat
warna tersebut tidak bermigrasi lalu setelah itu dilakukan curing dengan
penyetrikaan dengan suhu tinggi dan bantuan katalis. Namun akibat adanya
lapisan yang berasal dari binder, maka hasil dari proses pencapan zat warna
pigmen tersebut menghasilkan kain yang kaku. Adapun Reaksi ikatan silang dari
binder terjadi pada kondisi asam yang dapat di gambarkan sebagai berikut :

pH < 5

B – CH2OH + HO-CH2-B B-CH2OCH-B + HOH

atau pH < 5

B-CH2OH + HOB B-CH2-OB + HOH

Reaksi antara binder dengan serat dapat digambarkan sebagai berikut:

B-CH2OR + HO-Sel B-CH2-O-Sel + ROH

dimana R adalah CH3 atau H; dan B adalah molekul binder.


Kain hasil dari proses pencapan lalu dibagi menjadi 2 bagian, yaitu dilakukan
proses pencucian dan tanpa proses pencucian. Jika dibandingkan antara tanpa
proses pencucian dan dengan proses pencucian maka hasil nya jika dilihat
berdasarkan ketuaan warna maka tidak jauh berbeda (tidak luntur atau turun
warnanya) sehingga dapat disebutkan bahwa proses polimerisasi binder berjalan
dengan baik atau tidak tercapai, namun jika dilihat berdasarkan kekakuan kain
maka kain hasil proses pencapan tanpa dilakukan proses pencucian menghasilkan
kain lebih kaku, hal ini dikarenakan pada kain tersebut masih mengandung
pengental yang akan mengeras / kaku.
BAB VI
KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah kami lakukan dapat disimpulkan


bahwa:
- Zat warna pigmen dapat mewarnai kain T/C dengan bantuan
binder
- Proses pencucian dapat mempengaruhi terhadap kekakuan kain
dan ketuaan kain jika proses polimerisasi nya tidak berjalan
sempurna
DAFTAR ISI
LAMPIRAN