Anda di halaman 1dari 34

BINTANG-BINTANG DAN CARA PENGAMATANNYA

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas terstruktur mata kuliah


Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa

Dosen Pengampu:
Dr. Adam Malik, M.Pd.
Rena Denya Agustina, M.Si.
.

Disusun oleh:

1.Rasna Solehayati 1162070057


2.Siti Asya Nurmalita 1162070067

KELOMPOK 10
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2018

1
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya mungkin
penyusun tidak akan sanggup menyelesaikannya dengan baik. Shalawat dan salam
semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad
SAW.
Makalah ini di susun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang “Bintang-
Bintang dan Cara Pengamatannya”, yang kami sajikan berdasarkan kajian pustaka
dari berbagai literasi bacaan. Dalam penyusunan makalah ini penyusun
berterimakasih kepada dosen pengampu mata kuliah Ilmu Pengetahuan Bumi dan
Antariksa, Bapak Dr. Adam Malik, M.Pd, dan Ibu Rena Denya Agustina,M.Si.
yang telah memberikan kesempatan dan dukungan kepada penyusun.
Makalah ini memuat tentang definisi, jenis-jenis,tafsir quran,evolusi dan cara
pengamatan bintang. Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang
lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan
kekurangan. Penyusun membutuhkan kritik dan saran dari pembaca yang
membangun.

Bandung, 17 September 2018

Tim Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ......................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah .................................................................................... 2

C. Tujuan....................................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Kuno Bintang .............................................................................. 4

B. Pengertian Bintang ................................................................................... 5

C. Tata Nama dan Jenis-Jenis Bintang.......................................................... 6

D. Tafsir Ayat Al-Qur’an tentang Bintang ................................................... 9

E. Magnitudo Bintang ................................................................................. 13

F. Klasifikasi Spektrum Warna Bintang ..................................................... 15

G. Evolusi Bintang ...................................................................................... 21

H. Peralatan Pengamatan Bintang ............................................................... 25

I. Cara dan Perkembangan Pengamatan Bintang ....................................... 26

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan............................................................................................. 28

B. Saran ....................................................................................................... 28

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 29

ii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Klasifikasi Bintang Berdasarkan Spektrum ....................................... 17
Gambar 2. Spektrum Bintang Dari Kelas O5v .................................................... 18
Gambar 3. Spektrum dari Bintang kelas B2II ..................................................... 18
Gambar 4. Spektrum dari Bintang Kelas A2i ...................................................... 19
Gambar 5. Spektrum dari Bintang Kelas F2III ................................................... 19
Gambar 6. Spektrum dari Bintang Kelas G5iii ................................................... 20
Gambar 7. Spektrum dari Bintang Kelas K4iii ................................................... 20
Gambar 8. Spektrum dari Bintang Kelas MOiii .................................................. 21
Gambar 9. Diagram Evolusi Bintang Tahap Lanjut ............................................ 23
Gambar 10. Diagram HR..................................................................................... 24
Gambar 11. Bagian-bagian teleskop.................................................................... 25
Gambar 12. Penbentukan Bayangan pada teleskop pantul .................................. 26

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Benda langit di jagat raya ini jumlahnya banyak sekali. Ada yang dapat
memancarkan cahaya sendiri ada juga yang tidak dapat memancarkan cahaya
sendiri, tetapi hanya memantulkan cahaya dari benda lain. Bintang adalah benda
langit yang memancarkan cahaya sendiri (sumber cahaya). Bukan hanya
sekedar itu bintang terdefinisikan, melainkan bintang merupakan bola raksasa
yang mampu menghasilkan energi radiasi melalui reaksi di pusat (Tjasyono
HK, 2013).
Selama selang waktu 1920-1940 dapat kita sebut sebagai periode emas
dalam penelitian di lapangan melalui pengamatan secara langsung, kemudian
setelah perkembangan secara teoritis orang dapat menjelaskan data-data
pengamatan bintang. Sejak saat itulah keadaan bagian dalam bintang atau
struktur dalam bintang dapat diketahui dan dijadikan landasan astrofisika
modern, serta diperbaiki oleh adanya komputasi yang bisa menjelaskan konsep
bintang lebih rinci. Bintang merupakan obyek astronomi yang menarik karena
selain menghasilkan cahaya sendiri yang membuatnya mudah terdeteksi, juga
dikarenakan bintang memiliki jalur evolusi tersendiri yang membuat manusia
bisa memperkirakan keadaan bintang, baik di masa depan maupun di masa lalu.
Secara sederhana bintang mengalami evolusi dari awal- akhir. Bintang
dapat terbentuk oleh karena adanya kontraksi awan molekul (nebula). Pada
prosesnya bintang-bintang terbentuk secara berkelompok. Kelompok-
kelompok bintang ini disebut sebagai gugus (cluster) dan dibagi menjadi
beberapa kelas bedasarkan jumlah anggota dan interaksi gravitasinya. Adapun
klasifikasi bintang yang diurutkan berdasarkan interaksi gravitasi terlemah
hingga terkuat adalah asosiasi bintang, gugus terbuka (open cluster), gugus
muda masif (young massive cluster) serta gugus bola (globular cluster) Gugus
bintang merupakan obyek yang sangat penting dalam studi evolusi bintang.
Bintang-bintang anggota gugus terikat satu sama lain oleh gaya gravitasi dan
terpengaruh oleh gravitasi dari obyek lain. Bintang anggota gugus memiliki

1
komposisi kimia yang mirip karena berasal dari awan molekul yang sama,
sehingga parameter utama anggota gugus seperti usia, jarak dan pemerahan
(reddening) akan lebih mudah dipelajari dibandingkan dengan bintang yang
menyendiri. Selain itu, gugus bintang memiliki anggota yang lahir dalam waktu
yang hampir bersamaan, oleh karenanya tiap bintang dalam satu gugus
memiliki usia yang hampir sama dan memudahkan dalam penelitian (Riswanto
& Suseno, 2015).
Pengamatan bintang telah dimulai oleh para pemikir kuno jauh sebelum
zaman Yunani kuno. Pengamatan tersebut seiring berjalannya waktu telah
dibantu oleh berbagai alat teknologi canggih yang akan memambu manusia
khusnya ilmuan astronomi melakukan pengamatan bintang. Pengamatan
bintang ini tentunya memilki berbagai cara atau metode yang tepat untuk
digunakan.
Untuk memaparkan lebih rinci mengenai bintang-bintang dan cara
pengamatannya, maka kami menulis makalah mengenai topik tersebut dan akan
di paparkan juga tafsir Al-Qur’an.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengertian dari bintang?
2. Bagaimana tata nama dan macam-macam bintang?
3. Apa yang dimaksud dengan magnitude bintang?
4. Bagaimana klasifikasi spektrum bintang?
5. Bagaimana evolusi bintang?
6. Bagaiamana tafsir ayat Al-Qur’an mengenai bintang?
7. Bagaimana cara pengamatan bintang?
8. Apa alat yang digunakan untuk pengamatan bintang?

2
C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendefnisikan pengertian dari bintang
2. Untuk mengklasifikasikan tata nama dan macam-macam bintang
3. Untuk menjelasakan magnitude bintang
4. Untuk mengklasifikasikan spektrum warna bintang
5. Untuk memaparkan evolusi bintang
6. Untuk menjelaskan tafsir ayat Al-Qur’an mengenai bintang
7. Untuk menjelaskan cara pengamatan bintang
8. Untuk menjelaskan alat yang digunakan untuk pengamatan bintang.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Kuno Bintang


Ribuan tahun yang lalu sejak zaman Mesir kuno, ilmu perbintangan telah
dikenal di masyarakat, walaupun masih dalam kepercayaan tahayul dan mitos-
mitos. Konsep masyarakat Mesir kuno tentang matahari, bulan, dan bintang-
bintang masih sederhana dan keliru. Bumi masih dianggap sebagai pusat dari
peredaran matahari, bulan dan bintang-bintang. Formasi bintang-bintang
tertentu yang berbentuk gambaran hewan atau lainnya (yang kemudian disebut
rasi bintang) dijadikan ramalan penasiban, bahkan bintang-bintang yang terang
dan menarik perhatian orang akan diartikan sebagai petunjuk lahirnya
pemimpin dunia.
Warisan peradaban kuno itu sampai sekarang masih tersisa. Misalnya
meramal nasib berdasarkan tanggal dan bulan kelahiran seseorang, yaitu yang
disesuaikan dengan munculnya rasi bintang tertentu ketika seseorang
dilahirkan. Rasi bintang yang digunakan untuk meramal biasanya rasi bintang
zodiak. Zodiak adalah 12 rasi bintang sepanjang ekliptika membentuk gelang
melingkari garis edar bumi mengelilingi matahari. Dua belas rasi bintang itu
sudah kita kenal yaitu, Capricornus, Pisces, Aries, Taurus, Gemini, Cancer,
Leo, Virgo Libra, Scorpio dan Sagitarius. Pada awal tahun 2007, rasi zodiac
ditambah satu lagi yaitu rasi Ophiuchus (pawang ular) yaitu muncul pada 29
November samapi dengan 18 Desember.
Selain zodiac, terdapat pula rasi bintang yang lainnya yang sangat terkenal
seperti rasi crux yang terkenal sebagai rasi salib atau di Jawa dikenal dengan
nama gubuk menceng. Rasi ini berada yang terletak di belahan langit selatan.
Jika orang dalam perjalanan kehilangan arah di malam hari, dapat melihat
kedudukan rasi bintang ini. Bentuk rasi ini seperti laying-layang. Untuk
menentukan titik selatan caranya dengan menarik garis lurus binatng yang
paling atas kea rah bumi melalui bintang yang paling bawah. Ujung garis dan
seterusnya adalah titik selatan yang sesungguhnya.
Namun jika berada di belahan bumi utara, di sebagian tempat tidak akan
melihat rasi bintang gubuk menceng karena bumi berbentuk bulat. Sebagai

4
gantinya di belahan bumi utara dapat memperhatikan rasi bintang ursa minor
atau bahasa lainnya juga disebut dengan biduk besar atau beruang besar. Pada
ujung ursa minor terdapat bintang Polaris. Seandainya ada orang berdiri di titik
kutub utara bumi dan menengadah di langit maka tepat di atas ubun-ubunnya
ada bintang Polaris.
Rasi orion waluku dapat dilihat di sebelah barat, tengah dan timur.
Kedudukan rasi ini dugunakan petani sebagai pentujuk waktu bercocok taman.
Bila orion terbit maka menandakan waktunya bercocok tanam. Bila terbenam
maka menandakan musim hujan lebat.
Rasi kala atau scorpio menyerupai bentuk kalajengking. Rasi ini dapat
digunakan untuk menunjukkan arah tenggara (Yani, 2009).

B. Pengertian Bintang
Apabila malam hari yang cerah ketika memandang ke langit, maka akan
terlihat benda-benda langit yang bertaburan pada bola langit yang sangat besar.
Dapat melihat benda-benda langit seperti bulan yang bersinar terang, serta
bintang-bintang yang berkelap-kelip. Bintang merupakan benda langit yang
dapat memancarkan cahaya sendiri. Apabila dilihat dari dekat, bintang
berbentuk seperti bola besar yang terdiri dari berbagai macam gas yang
memiliki panas dan memancarkan cahaya cahaya (Roekhan, 2012).
Bintang merupakan objek langit yang berukuran besar yang mampu
memancarkan cahaya sendiri (Tjasyono HK, 2013). Bintang merupakan suatu
objek tetap yang dapat dilihat pada waktu malam hari sebagai satu titik cahaya
dari bumi. Sedangkan menurut Beade menyatakan bintang merupakan suatu
objek yang dihasilkan dari nebula. Pembentukan bintang terjadi ketika partikel-
partikel kecil terdiri debu dan gas yang bergerak secara rapat.
Secara umum jika menyebut benda-benda langit yang terlihat berkela-kelip
di malam hari sebagai bintang. Jadi bintang merupakan benda langit yang
memancarkan cahayanya. Namun, bintang yang sebenarnya adalah bintang
yang menghasilkan cahaya sendiri, sering disebut bintang nyata. Sedangkan
bintang yang tidak menghasilkan cahaya sendiri disebut bintang semu. Bintang
semu sebenarnya bukan bitang melainkan benda langit yang dapat

5
memancarkan cahaya karena memantulkan cahaya yang diterima dari bintang
nyata (Kemal, 2007).
Bintang-bintang yang terlihat seperti tetap susunannya, sebenarnya
susunannya berubah. Namun perubahan susunan bintang-bintang tersebut
sangat kecil untuk diamati. Pergerakan bintang-bintang hanya dapat
dibandingkan posisinya dalam waktu ribuan tahun dengan menggunakan
teropong, sehingga pergeserannya dapat diketahui secara jelas. Di samping
pergerakan tersebut, pergerakan bintang-bintang juga dapat diamati dalam arah
radial, yaitu mendekati atau menjauhi matahari. Pergerakan bintang-bintang
mendekati atau menjauhi matahari ini dapat membuktikan terjadinya rotasi
pada galaksi (Sujadi, 2009).

C. Tata Nama dan Jenis-Jenis Bintang


Pada zaman Babilonia telah dikenal konsep rasi bintang. Para pengamat
langit pada saat itu membayangkan suatu pola yang dibentuk oleh bintang-
bintang, yang kemudian dihubungkan dengan aspek tertentu pada mitologi.
Menurut Koch-Westenholz & Koch terdapat beberap pola bintang yang diberi
nama dan dijadikan sebagai dasar astrologi. Selain itu, banyak juga bintang-
bintang yang diberi nama menggunakan penamaan Arab atau Latin.
Orang Yunani kuno mengenal beberapa bintang sebagai planet. Bahkan
nama planet yang kini dikenal berasal dari nama dewa mereka diantaranya
adalah Merkurius, Venus, Mars, Jupiter dan Saturnus (Coleman, 2012).
Sementara itu, nama planet Uranus dan Neptunus diberikan oleh para astronom
berikutnya karena pada masa kuno sinar dari kedua planet tersebut masih redup.
Tetapi penamaan tersebut juga masih berasal dari nama dewa-dewa Yunani dan
Romawi.
Sekitar tahun 1600, bintang-bintang di wilayah langitnya, menggunakan
rasi bintang. Johann Bayer yang merupakan astronom Jerman menciptakan peta
bintang dengan memberi nama bintang-bintang pada setiap rasi bintang
menggunakan huruf Yunani. Lalu John Flamsteed menciptakan system
penomoran berdasarkan asensiorekta, merupakan salah satu besaran yang
mendefinisikan jarak antara titik gamma dengan titik potong proyeksi benda

6
langit dan kutub ke ekuator langit. System penomoran ini dikenal sebagai
penamaan Flamsteed.
Berdasarkan beragam penamaan yang diciptakan astronom, terdapat
penamaan yang dilakukan oleh perusahaan –perusahaan komersial, tetapi
penamaan tersebut tidak diakui. Adapun penamaan benda langit yang diakui
secara internasional yaitu berdasarkan kesepakatan International Astronomical
Union (IAU). Pada tahun 1928, IAU meresmikan 88 rasi bintang dan
menentukan setiap rasi, tetapi terdapat 12 belas kelompok bintang yang
melewati langit di daerah khatulistiwa (Lyall, 2009). Deretan rasi bintang
tersebut membentuk gelang yang biasa disebut dengan zodiac. Para astronom
mengaitkan rasi bintang tersebut pada setiap tanggal kelahiran manusia. rasi
bintang tersebut diantaranya adalah Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo,
Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricornus, Aquarius dan Pisces. (Tanudidjaja,
1995).
Salah satu yang menjadi ciri dari bintang maupun benda langit lainnya
adalah ukuran dan juga suhunya yang cenderung panas. Namun ada pula planet
dengan suhu rendah karena letaknya yang jauh dari matahari. Ukuran bisa
menjadi salah satu hal yang membedakan jenis-jenis bintang. Selain itu, jenis
bintang juga dibedakan dari kemiripan susunan garis spektrumnya. Adapun
berbagai jenis bintang tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Giant Star (Bintang Raksasa)
Jenis bintang yang pertama adalah bntang raksasa atau yang disebut
dengan Giant Star atau bintang raksasa memiliki luminositas atau intensitas
cahaya (energy yang dipancarkan oleh bintang per detik) hingga mencapai
1.000 kali luminositas matahari dan bisa 200 kali lebih besar. Ada beberapa
contoh bintang yang termasuk ke dalam Giant Star adalah Aldebaran atau
Alpha Tauri yaitu bintang tercerah di konstelasi Taurus.
2. Supergiant Star (Bintang Super Raksasa)
Jenis bintang yang selanjutnya adalah Supergiant Stars atau bintang
yang lebih besar lagi atau bintang super raksasa. Sepanjang sejarah atau
sejauh ini, bintang terbesar yang pernah ditemukan memiliki luminositas 10
kali juta luminositas matahari. Apabila matahari memiliki ukuran ukuran

7
hingga sebesar itu maka tidak ada planet karena mungkin sudah tenggelam
dan bintang ini ukurannya lebih besar dari itu. Contoh supergiant star ini
anatar lain Betelgeuse (Alpha Ori), Rigel (Beta Ori) dan Mu Cephei
3. Dwarf (Bintang Katai atau Cebol)
Jenis bintang yang selanjutnya adalah Dwarf atau yang dikenal dengan
bintang katau atau cebol. Bintang jenis ini ukurannya jauh lebih besar
daripada planet Bumi, namun sangat kecil apabila dibandingkan dengan
kedua bintang diatas. Bahkan matahari yang merupakan tata surya kita ini
termasuk ke dalam bintang jenis ini. Selama masa hidupnya, bintang
melalui banyak fase. Ketika ukuran bintang sama dengan massanya, fase
tersebut dinamakan fase Dwarf. Dwarf coklat atau brown dwarf merupakan
bintang yang gagal yang mana bintang ini tidak cukup panas untuk dapat
menjadi bintang yang normal. Dwarf putih atau white dwarf merupakan
bintang yang perlahan-lahan mati dan menghabiskan bahan bakarnya.
Meskipun namanya adalah white atau putih, namun bintang ini beralih dari
warna putih ke warna merah dan pada akhirnya bintang ini mati dan berubah
menjadi warna hitam menjadi black dwarf yaitu bintang mati yang tidak
memiliki luminositas. Sementara bintang dwarf putih diyakini menjadi
bintang yang menghuni dark matter atau materi gelap yang di jagat raya
4. Bintang Neutron
Bintang yang memiliki massa dua kali dari matahari, setelah meledak
menjadi supernova kemudian akan menjadi bintang neutron. Bintang
neutron ini akan menghancurkan atom-atomnya, serta menyatukan proton
dan elektron sehingga hanya akan menyisakan neutron hasil fusi tersebut.
Hal itu pula menyebabkan bintang neutron memiliki struktur yang sangat
padat dan mampat. Bintang neutron yang memiliki diameter sekitar 30 km
memiliki massa yang hampir sama dengan matahari. Jadi, apabila berhasil
memindahkan materi sebanyak satu sendok dari bintang neutron ini ke
bumi, maka materi itu bisa jadi seberat gunung. Bintang neutron bisa
berputa dengan kecepatan yang sangat tinggi, bisa jadi puluhan atau ratusan
kali perdetik.
5. Pulsar

8
Selanjutnya adalah bintang ulsar atau pulsating star. Bintang Pulsar
atau pulsating star merupakan bintang neutron yang memancarkan getaran
radiasi yang sifatnya teratur (biasanya adalah gelombang radio dari kutub
magnetiknya). Contoh bintang pulsar adalah PSR+121, yaitu sebuah pulsar
radio. Pulsar ini merupakan bintang neutron pertama yang diketahui sebagai
pulsar. Radiasi lain yang dipancarkan oleh pulsar ini selain gelombang radio
adalah sinar X dan sinar Gamma.
6. Magnetar
Magnetar merupakan salah satu jenis dai bintang neutron. Bintang
magnetar ini adalah bintang neutron yang memiliki medan magnet yang
jauh lebih kuat daripada bintang neutron (Anonim, Jenis Bintang, 2017).
D. Tafsir Ayat Al-Qur’an tentang Bintang
1. Q.S Al-Furqon:61
‫ك ا ل َّ ِذ ي َج َع َل ف ِ ي ال سَّ َم ا ِء ب ُ ُر و ًج ا َو َج َع َل ف ِ ي ه َ ا ِس َر ا ًج ا َو ق َ َم ًر ا ُم ن ِ ي ًر ا‬
َ ‫ت َ ب َ ا َر‬
“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang
dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.”
a. Tafsir Jalalin
(Maha Suci) yakni Maha Agung (Allah yang telah menjadikan di
langit gugusan-gugusan bintang) yang ada dua belas, yaitu: Aries,
Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Scorpio,
Copricornus, Aquarius dan Pisces. Gugusangugusan tersebut
merupakan garis edar dari tujuh planet yang beredar, yaitu planet Mars
mempunyai Aries dan Scorpio, Gemini dan Virgo, planet bulan
mempunyai bulan mempunyai Cancer, planet matahari mempunyai Leo,
planet Yupiter mempunyai Sagitarius dan Pisces, planet Uranus
mempunyai Copricornus dan Aquarius. (dan Dia juga menjadikan
padanya) juga (lampu) yakni matahari (dan bulan yang bercahaya)
menurut suatu qiraat lafal “siraajan” dibaca “suruujan” dengan
ungkapan jamak. Arti “muniiran” adalah “nayyiraatin” yakni yang
bercahaya. Sengaja disini hanya disebutkan buulan diantara planet-
planet tersebut karena mengingat keutamaan yang dimilikinya (Al-
Mahally, Imam Jalaluddin, & Imam Jalaluddin As-Suyuti, 1990).

9
b. Tafsir Al-Misbah
Ayat di atas menjelaskan bahwa Maha Melimpah anugrah Ar-
Rahman yaitu Dia yang menjadikan di langit gugusangugusan bintang.
Dari gugusan itu Dia menjadikan padanya “siraj” yakni pelita yang
terang benderang yaitu matahari yang bersinar dan bulan yang
bercahaya. Kata “burujan” yang dimaksud disini adalah rasi yaitu
gugusan bintang di zodiak yang dilalui matahari ketika berputar
mengelilingi bumi. Gugusan bintang tersebut seakan menjadi tempat
berputarnya matahari sepanjang tahun. Setiap tiga bulan terjadi satu
musim yang dimulai dari musim semi. Rasi-rasi bintang terbagi lagi atas
dua belas kumpulan dengan nama masing-masing yaitu Aries, Taurus,
Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricornus,
Aquarius dan Pisces. Kata “sirajan” dari segi bahasa yaitu pelita yang
terang benderang maksudnya disini adalah matahari. Ini berdasarkan
firman Allah (Q.S. Nuh ayat 16). Menurut ayat di atas, matahari
merupakan bintang yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil,
matahari bersinar secara sendirinya dan menyinari benda-benda
disekitarnya, maka dari itu matahari disebut “siraj” (Shihab, 2002).
c. Tafsir Ibnu Katsir
Allah swt. mengagungkan dan membesarkan diri-Nya atas
keindahan segala apa yang diciptakan-Nya di langit berupa gugusan-
gugusan bintang yang besar-besar; menurut pendapat Mujahid, Said
Ibnu Jubair, Abu Saleh, Al-Hasan, dan Qatadah. Sedangkan menurut
pendapat lain, yang dimaksud dengan “alburuj” ialah gedung-gedung
penjagaan yang ada di langit. Demikianlah menurut riwayat yang
bersumber dari Ali Ibnu Abbas, Muhammad Ibnu Ka’b, Ibrahim An-
Nakha’i, dan Sulaiman Ibnu Mahran Al-A’masy. Pendapat ini dikatakan
pula oleh sebuah riwayat yang bersumber dari Abu Saleh. Akan tetapi,
pendapat yang pertama yang lebih kuat, kecuali jika bintang yang besar-
besar itu diumpamakan sebagai gedunggedung penjagaan, maka kedua
pendapat ini dapat dipertemukan (Abdullah, 2003).
2. Q.S Al-Hijr: 16

10
ِ ‫َو ل َ ق َ ْد َج َع ل ْ ن َا ف ِ ي ال سَّ َم ا ِء ب ُ ُر و ًج ا َو َز ي َّن َّا ه َا ل ِ ل ن َّا‬
‫ظ رِ ي َن‬
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di
langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang
memandang(nya).”
a. Tafsir Jalalyn
(Dan sesungguhnya Kami menciptakan gugusan bintang-bintang di
langit) yang berjumlah dua belas, yaitu: Aries, Taurus, Gemini, Cancer,
Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius dan Pisces.
Bintang-bintang tersebut merupakan garis-garis peredaran daripada tujuh
bintang yang beredar, yaitu Mars mempunyai garis edar pada bintang Aries
dan bintang Scorpio; Venus mempunyai garis edar pada bintang Taurus dan
bintang Libra; Utarid mempunyai garis edar pada bintang Gemini dan
bintang Virgo; bulan mempunyai garis edar pada bintang Cancer; matahari
mempunyai garis edar pada bintang Leo; Jupiter mempunyai garis edar pada
bintang Sagitarius dan Pisces; Saturnus mempunyai garis edar pada bintang
Capricorn dan Aquarius (dan Kami telah menghiasi langit itu) dengan
bintang-bintang yang gemerlapan (bagi orang-orang yang memandang)
(Al-Mahally, Imam Jalaluddin, & Imam Jalaluddin As-Suyuti, 1990).
b. Tafsir Al-Misbah
Sesungguhnya Kami telah menciptakan bintang-bintang di langit
membentuk beraneka ragam gugusan. Kami telah menghiasi langit dengan
rasi bintang agar mereka dapat mengamati, merenungi dan mengambil
pelajaran serta menjadikannya sebagai bukti kemahakuasaan Sang Pencipta
(Shihab, 2002).
c. Tafsir Ibnu Katsir
Allah menyebutkan bahwa Allah telah menciptakan langit yang tinggi
yang dihiasi dengan bintang-bintang yang berjalan dan yang tetapi bagi
orang yang mau merenungkan dan memikirkan berulang kali tentang
keajaiban dan tanda-tanda kekuasaan Allah yang jelas dan yang dia lihat,
yang membuat pemandangannya menakjubkan. Karena itu, Mujahid dan
Qatadah mengatakan bahwa alburuj di sini adalah bintang-bintang. Ibnu
Katsir mengatakan, ini adalah firman Allah Ta’ala: tabaarakalladzii ja’ala

11
fis samaa-i buruujan (Mahasuci Allah yangmenjadikan di langit gugusan-
gugusan bintang). (al-Furqaan: 61) (Abdullah, 2003).
3. Q.S. Al-An’am: 97
‫َو ه ُ َو ا ل َّذِ ي َج َع َل ل َ كُ مُ ال ن ُّ ُج و َم ل ِ ت َ ه ْ ت َ دُ وا ب ِ ه َ ا ف ِ ي ظ ُ ل ُ َم ا ت ِ ال ْ ب َ ر َو ال ْ ب َ ْح ر ِ ق َ ْد‬
ْ ‫ص ل ْ ن َا‬
‫اْل ي َ ا ت ِ ل ِ ق َ ْو م ي َ ْع ل َ ُم و َن‬ َّ َ ‫ف‬
“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu
menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut.
Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami)
kepada orang-orang yang mengetahui.”
a. Tafsir Jalalayn
(Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu agar kamu
menjadikannya sebagai petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut)
sewaktu dalam perjalanan (sesungguhnya Kami telah menjelaskan) Kami
telah terangkan (tanda-tanda) yang menunjukkan akan kekuasaan Kami
(kepada orang-orang yang mengetahui) yakni orang-orang yang mau
menggunakan akalnya (Al-Mahally, Imam Jalaluddin, & Imam Jalaluddin
As-Suyuti, 1990)
b. Tafsir Al-Misbah
Dialah yang menciptakan bintang-bintang agar kalian dapat mengetahui
arah yang hendak kalian tuju, dengan melihat letaknya di tengah kegelapan
malam, di darat dan di laut. Sungguh, Kami telah menunjukkan bukti kasih
sayang dan kekuasaan Kami untuk orang-orang yang dapat memanfaatkan
ilmunya(1). (1) Sejak awal peradaban umat manusia sempai sekarang, benda-
benda langit merupakan tanda penunjuk perjalanan manusia, baik di darat
maupun di laut. Dengan meneropong matahari, bulan dan bintang--terutama
bintang-bintang tak bergerak--seseorang yang akan bepergian dapat
menentukan arah yang hendak dituju. Dengan kemajuan ilmu dan teknologi,
pelayaran dan penerbangan kini menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri,
dengan menggunakan alat canggih dan dengan merujuk kepada daftar
khusus untuk itu. Bahkan, para antariksawan belakangan ini berpedoman
pada matahari dan bintang dalam menentukan arah perjalanan pada suatu
masa tertentu. Mereka juga menggunakan gugus bintang dalam menentukan

12
waktu, seperti gugus Bintang Biduk. Dengan demikian, manusia dapat
mengenal tempat dan waktu melalui bantuan bintang, persis seperti yang
diisyaratkan ayat ini (Shihab, 2002).
c. Tafsir Ibnu Katsir
(Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu
menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut) sebagian
ulama salaf mengatakan:“Barangsiapa yang meyakini bahwa bintang-
bintang itu mempunyai fungsi selain dari tiga hal tersebut, maka ia telah
melakukan kesalahan dan berbuat dusta terhadap Allah swt. karena Allah
telah menjadikannya sebagai hiasan langit, sebagai alat melempari syaithan,
dan sebagai petunjuk bagi manusia di kegelapan daratan dan lautan.”
(Abdullah, 2003).
E. Magnitudo Bintang
Telah ada sebelumnya seorang astronom Yunani bernama Hipparchus
membuat sistem klasifikasi keterangan bintang yang pertama. Saat itu, ia
mengelompokkan keterangan bintang menjadi enam kategori dalam bentuk
yang kurang lebih seperti ini: paling terang, terang, tidak begitu terang, tidak
begitu redup, redup dan paling redup. Sistem tersebut kemudian berkembang
dengan penambahan angka sebagai penentu keterangan bintang Yang paling
terang memiliki nilai 1, berikutnya 2, 3, hingga yang paling redup bernilai 6.
Klasifikasi inilah yang kita kenal sebagai sistem magnitudo (Wiramiharja,
2010). Sistem tersebut kemudian semakin berkembang setelah Galileo dengan
teleskopnya menemukan bahwa ternyata terdapat lebih banyak bintang lagi
yang lebih redup daripada yang bermagnitudo 6. Skalanya pun berubah hingga
muncul magnitudo 7,8, dan seterusnya (Djamaluddin, 2005).
Kemudian pada tahun 1856, berdasar penemuan Wiliam Herschel yang
menyatakan bahwa bintang bermagnitudo 1,100 kali lebih terang dari bintang
bermagnitudo 6, N.R. Pongson membuat skala magnitude bintang ini menjadi
kuantitatif. Perbedaan magnitude sebesar 5 sesuai dengan perbedaan
kecermelangan 100 kali. Oleh karena itu, perbedaan satu magnitude akan sama
dengan 1001/5 =2,512 kali lemah atau lebih terang (Admiranto, 2009).

13
Untuk lebih memudahkan perhitungan dalam mencari hubungan antara
magnitude bintang dnegna kecermelangannya, dipakailah hubungan logaritmis.
objek dengan kecerlangan I1 dan I2 dan skala magnitudo m1 dan m2 terkait melalui persamaan
Pogson:
−(𝑚1 −𝑚2)
𝐼1
= 100 5 = 2,512−(𝑚1 −𝑚2 )
𝐼2

𝐼
𝑚1 − 𝑚2 = −2,5 𝑙𝑜𝑔 (𝐼1 )
2

Di sini, luminitas adalah energi yang dipancarkan setiap waktu,biasanya


dinyatakan dalam energi/detik. Pada persamaan diatas terlihat jelas bahwa
magnitude suatu bintang berbanding terbalik dengan kecermelanganya. Bintang
yang terang akan memiliki magnitude yang lebih kecil dibandingkan dengan
bintang yang lebih lema. (Admiranto, 2009).
Pengukuran magnitudo dalam sebuah pengamatan fotometri dilakukan
dengan mengambil serangkaian citra objek-objek yang hendak diukur
magnitudonya dan citra objek-objek yang sudah diketahui dengan baik
magnitudonya (objek standar). Setelah dilakukan proses reduksi citra untuk
membersihkan derau yang berasal dari instrumen, intensitas cahaya yang diukur
dari citra objek standar kemudian dibandingkan terhadap katalog sehingga
dapat diperoleh relasi atmosfer, dan pengaruh instrumen. Dengan mengetahui
relasi-relasi ini dapat dilakukan proses koreksi terhadap pengukuran magnitudo
objek program.
Magnitudo yang kita ukur sebagaimana tampak di Bumi disebut magnitudo
semu, sementar magnitudo yang diukur dari jarak yang serbasama disebut
Magnitudo Mutlak. Dalam hal ini, jarak yang disepakati adalah 10 Parsec.
Hubungan antara magnitudo semu dan magnitudo mutlak disebut persamaan
modulus jarak (Stott, 2006):
𝑚 − 𝑀 = 5 − 5 log 𝑑
Jarak-jarak bintang terhadap Bumi tidak sam, ada yangd ekat dan ada yang
sangat jauh. Dengan demikian, penggunaan magnitude semu bintang tidak
terlalu tepat untuk menggambarkan kecermelangan bintang yang sebenarnya
karena magnitude bintang tergantung jaraknya dari bumi. Sebagai gambaran,
dibawah ditunjukan magnitude semu bebrapa objek langit (Kerrod, 2005):

14
Benda Langit Magnetudo

Matahari -26,8
Bulan purnama -12,6
Venus (kecerahan maksimum) -4,4
Mars dan Jupiter (kecerahan maksimum) -2,8
Sirius (bintang tercerah) -1,5
Canopus -0,7
Arcturus, Capella, Vega (titik nol berdasarkan definisi) 0,0
Saturnus (kecerahan maksimum) +0,2
Aldebaran, Antares, Betelgeuse +1,0
Polaris +2,0
Uranus +5,6
Bintang teredup yang terlihat dengan mata telanjang (limit) +6,0
Neptunus +8,2
Kuasar tercerah +12,6
Pluto +13,7
Objek teredup yang dapat diamati oleh teleskop Hubble +30,0

F. Klasifikasi Spektrum Warna Bintang


Bintang juga dapat diklasifikasikan berdasarkan spketrumnya. Melalui
spektrumnya, banyak yang dapat diketahui seperti suhu dan komposisi yang
terdapat pada bintang tersebut (Hawking, 2011). Spectrum merupakan hasil
dari pembiasan garisan elektromagnetik yaitu cahaya. Selain dari itu, cahaya
putih adalah gabungan dari berbagai warna yang mana setiap cahaya
mempunyai kekuatan tertentu.
Pada tahun 1863, seorang astronom bernama Angelo Secchi
mengelompokkan spectrum bintang kedalam empat golongan berdasarkan
kemiripan susunan garis spectrumnya (Copeland, 2001). Dari hasil
klasifikasi bintang yang dilakukan oleh Secchi, Edward Charles Pickering
ditahun 1880 memulai penyelidikan spektrum bintang secara fotografi
bertempat diobservatorium Harvard. Dengan menggunakan prisma obyektif
(Pickering, 1890) para astronom di Harvard meng-klasifikasikan bintang

15
berdasarkan kuat garis-garis serapan pada deret Balmer dari hydrogen netral
(H I), memperluas penggolongan dan menanamkan kembali penggolongan
dengan huruf A, B, C dan seterusnya hingga P, dimana bintang kelas A
memiliki garis serapan atom hydrogen paling kuat, B terkuat berikutnya dan
seterusnya.
Asisten-asisten Pickering, Williamina Fleming, Annie Jump
Cannon, Antonia Maury dan Henrietta Swan Leavitt, memulai sebuah
proyek skala besar pengklasifikasian spectrum bintang. Antara tahun 1911
sampai 1949, 400.000 bintang telah didaftarkan ke dalam katalog Henry
Draper. Para ‘gadis’ Jarvard ini, khususnya Cannon dan Maury, kemudian
menyadari adanya sebuah keteraturan dalam semua garis-garis spectral
(tidak hanya hydrogen) jika penggolongan bintang-bintang tersebut
diurutkan menjadi O, B, A, F, G, K, M. kelas lainnya dihilangkan karena
ditemukan bahwa beberapa diantaranya sebenarnya merupakan kelas yang
sama.
Pada awalnya urutan pola spektrum ini diduga karena perbedaan
susunan kimia atmosfer bintang. Namun, kemudian disadari bahwa urutan
tersebut sebenarnya merupakan urutan temperatur permukaan bintang,
setelah pada tahun 1925, Cecilia Payne-Gaposchkin berhasil membuktikan
hubungan tersebut.
Berikut ini adalah daftar klasifikasi bintang yang dikenal dengan
klasifikasi Hardvard atau klasifikasi bintang berdasarkan spektrum. Kelas
bintang ini dimulai dari yang paling panas hingga yang paling dingin
dengan massa, radius dan luminositas dalam satuan Matahari.

16
Gambar 1. Klasifikasi Bintang Berdasarkan Spektrum
(Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Klasifikasi_bintang)

Berdasarkan spektrumnya bintang diklasifikasikan menjadi tujuh


kelas yaitu: O, B, A, F, G, K dan M di urutan penurunan suhu. Setiap jenis
dibagi menjadi persepuluh. Sebagai contoh,bintang terpanas di tipe G
adalah G0 dan paling rendah adalah G9. Matahari adalah bintang G2.
a. Kelas O
Bintang kelas O adalah bintang yang paling panas, temperatur
permukaannya lebih dari 25.000 Kelvin. Bintang deret utama kelas O
merupakan bintang yang tampak paling biru, walaupun sebenarnya
kebanyakan energinya dipancarkan pada panjang gelombang ungu dan
ultraungu. Dalam pola spektrumnya garis-garis serapan terkuat berasal dari
atom Helium yang terionisasi 1 kali (He II) dan karbon yang terionisasi dua
kali (C III). Garis-garis serapan dari ion lain juga terlihat, di antaranya yang
berasal dari ion-ion oksigen, nitrogen, dan silikon. Garis-garis Balmer
Hidrogen (hidrogen netral) tidak tampak karena hampir seluruh atom
hidrogen berada dalam keadaan terionisasi. Bintang deret utama kelas O
sebenarnya adalah bintang paling jarang di antara bintang deret utama
lainnya (perbandingannya kira-kira 1 bintang kelas O di antara 32.000
bintang deret utama). Namun karena paling terang, maka tidak terlalu sulit
untuk menemukannya (Walborn & Fitzpatrick., 1990). Bintang kelas O
bersinar dengan energi 1 juta kali energi yang dihasilkan Matahari. Karena
begitu masif, bintang kelas O membakar bahan bakar hidrogennya dengan
sangat cepat, sehingga merupakan jenis bintang yang pertama kali

17
meninggalkan deret utama (lihat Diagram Hertzsprung Russell). Contoh
dari bintang kelas O ini adalah Zeta Puppis.

Gambar 2. Spektrum Bintang Dari Kelas O5v


(Sumber: http://kafeastronomi.com/klasifikasi-bintang-
harvard.html)
b. Kelas B
Bintang kelas B adalah bintang yang cukup panas dengan
temperatur permukaan antara 10.000 hingga 20.000 Kelvin dan
berwarna putih-biru (Habets & Heintze, 1981). Dalam pola
spektrumnya garis-garis serapan terkuat berasal dari atom Helium yang
netral. Garis-garis Balmer untuk Hidrogen (hidrogen netral) nampak
lebih kuat dibandingkan bintang kelas O. Bintang kelas O dan B
memiliki umur yang sangat pendek, sehingga tidak sempat bergerak
jauh dari daerah dimana mereka dibentuk, dan karena itu cenderung
berkumpul bersama dalam sebuah asosiasi OB. Dari seluruh populasi
bintang deret utama terdapat sekitar 0,13 % bintang kelas B. Contoh dari
bintang kelas B yaitu Rigel dan Spica.

Gambar 3. Spektrum dari Bintang kelas B2II


(Sumber: http://kafeastronomi.com/klasifikasi-bintang-harvard.html)
c. Kelas A
Bintang kelas A memiliki temperatur permukaan antara 7.600
hingga 11.500 Kelvin dan berwarna putih (Habets & Heintze, 1981).
Karena tidak terlalu panas maka atom-atom hidrogen di dalam
atmosfernya berada dalam keadaan netral sehingga garis-garis Balmer
akan terlihat paling kuat pada kelas ini. Beberapa garis serapan logam
terionisasi, seperti magnesium, silikon, besi dan kalsium yang
terionisasi satu kali (Mg II, Si II, Fe II dan Ca II) juga tampak dalam

18
pola spektrumnya. Bintang kelas A kira-kira hanya 0.63% dari seluruh
populasi bintang deret utama. Contoh dari bintang kelas C yaitu Vega
dan Sirius.

Gambar 4. Spektrum dari Bintang Kelas A2i


(Sumber:https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:A2i-spectrum.star.png)
d. Kelas F
Bintang kelas F memiliki temperatur permukaan 6000 hingga 7500
Kelvin, berwarna putih-kuning (Habets & Heintze, 1981). Spektrumnya
memiliki pola garis-garis Balmer yang lebih lemah daripada bintang
kelas A. Beberapa garis serapan logam terionisasi, seperti Fe II dan Ca
II dan logam netral seperti besi netral (Fe I) mulai tampak. Bintang kelas
F kira-kira 3,1% dari seluruh populasi bintang deret utama. Contoh dari
bintang kelas F yaitu Canopus dan Procyon.

Gambar 5. Spektrum dari Bintang Kelas F2III


(Sumber: http://kafeastronomi.com/klasifikasi-bintang-harvard.html)
e. Kelas G
Bintang kelas G mungkin adalah yang paling banyak dipelajari
karena Matahari adalah bintang kelas ini. Bintang kelas G memiliki
temperatur permukaan antara 5300 hingga 6000 Kelvin dan berwarna
kuning (Habets & Heintze, 1981). Garis-garis Balmer pada bintang
kelas ini lebih lemah daripada bintang kelas F, tetapi garis-garis ion
logam dan logam netral semakin menguat. Profil spektrum paling
terkenal dari kelas ini adalah profil garis-garis Fraunhofer. Bintang kelas
G adalah sekitar 8% dari seluruh populasi bintang deret utama. Contoh
dari bintang kelas G yaitu Contoh : Matahari, Capella dan Alpha
Centauri A.

19
Gambar 6. Spektrum dari Bintang Kelas G5iii
(Sumber: http://kafeastronomi.com/klasifikasi-bintang-harvard.html)
f. Kelas K
Bintang kelas K berwarna jingga memiliki temperatur sedikit lebih
dingin daripada bintang sekelas Matahari, yaitu antara 3900 hingga
5200 Kelvin (Habets & Heintze, 1981). Alpha Centauri B adalah
bintang deret utama kelas ini. Beberapa bintang kelas K adalah raksasa
dan maharaksasa, seperti misalnya Arcturus. Bintang kelas K memiliki
garis-garis Balmer yang sangat lemah. Garis-garis logam netral tampak
lebih kuat daripada bintang kelas G. Garis-garis molekul Titanium
Oksida (TiO) mulai tampak. Bintang kelas K adalah sekitar 13% dari
seluruh populasi bintang deret utama. Contoh dari bintang kelas K yaitu
Alpha Centauri B, Arcturus dan Aldebaran.

Gambar 7. Spektrum dari Bintang Kelas K4iii


(Sumber: http://kafeastronomi.com/klasifikasi-bintang-harvard.html)
g. Kelas M
Bintang kelas M adalah bintang dengan populasi paling banyak.
Bintang ini berwarna merah dengan temperatur permukaan lebih rendah
daripada 3500 Kelvin. Semua katai merah adalah bintang kelas ini.
Proxima Centauri adalah salah satu contoh bintang deret utama kelas M.
Kebanyakan bintang yang berada dalam fase raksasa dan maharaksasa,
seperti Antares dan Betelgeuse merupakan kelas ini. Garis-garis serapan
di dalam spektrum bintang kelas M terutama berasal dari logam netral.
Garis-garis Balmer hampir tidak tampak. Garis-garis molekul Titanium
Oksida (TiO) sangat jelas terlihat. Bintang kelas M adalah sekitar 78%
dari seluruh populasi bintang deret utama. Contoh dari bintang kelas M
yaitu: Proxima Centauri, Antares, Betelgeuse.

20
Gambar 8. Spektrum dari Bintang Kelas MOiii
(Sumber: http://kafeastronomi.com/klasifikasi-bintang-harvard.html)
Ejnar Hertzsprung di Denmark dan Henry Russell di Princeton
University (Amerika Serikat) pada awal 1900-an membuat diagram yang
memetakan hubungan magnitudo dan kelas spektrum bintang. Diagram ini
menggunakan dasar hubungan magnitudo mutlak yang dikenal dengan
diagram H-R (Riswanto & Suseno, 2015).

G. Evolusi Bintang
Saat kita membicarakan tentang evolusi bintang, kita membahas tentang
perubahan yang terjadi pada bintang saat mereka mengkonsumsi “bahan bakar”,
sejak lahir sepanjang masa hidupnya, hingga bintang itu mati. Pengertian
tentang evolusi bintang akan membantu para astronom agar mengerti tentang :
• Sifat alami dan takdir masa depan dari matahari.
• Asal-usul tata surya.
• Bagaimana perbandingan sistem tata surya kita dengan sistem planet yang
lain.
• Kemungkinan adanya kehidupan di suatu tempat dalam alam semesta,
Bintang sebagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa
tentunya memiliki awal dan akhir. Proses awal meluputi proses terbentuknya
bintang hingga terjadi reaksi termonuklir, selanjutnya terjadi fusi inti yang
melepaskan energi dan akhir dari bintang berupa peristiwa supernova.
1. Proses Evolusi Bintang
Secara sederhana evolusi yang dialami oleh bintang dari awal sampai
akhir adalah sebagai berikut (Riswanto & Suseno, 2015):
1) Bintang merupakan hasil dari kondensasi dari awan nebula. Akibat dari
peristiwa kondensasi tekanan dari dalam awan melakukan ekspansi
dengan nilai tekanan yang lebih kecil dari gaya gravitasi yang
melingkupi proses kondensasi. Kemudian awan nebula yang pada

21
awalnya menyatu dalam satu gumpalan besar terpecah dan mengalami
fragmentasi.
2) Akibat dari tekanan yang besar dan penyusutan volum suhu awan
menjadi sangat tinggi dan menyebabkan awan tersebut menjadi berpijar
dan menjadi calon bintang (protobintang) dengan unsur penyusun yang
dominan adalah hidrogen. Protobintang yang telah selesai
berfragmentasi terus mengalami penyusutan sebagai akibat dari gaya
gravitasi.
3) Temperatur awal dan luminositas bintang berada dalam angka yang
masih rendah. Seiring dengan perubahan kerapatan bintang yang
semakin rapat menuju inti maka temperatur dan luminositas bintang ikut
mengalami perubahan.
4) Perubahan dari protobintang menjadi bintang praderet utama ditandai
dengan peningkatan temperatur protobintang hingga mencapai
keseimbangan hidrostatik. Akan tetapi luminositas bintang sangat tinggi
sehingga masih banyak energi yang terpancar ke permukaan sehingga
menjadi sangat panas.
5) Pada tahap selanjutnya evolusi bintang berjalan dengan sangat lambat
hingga mencapai suhu pusat bintang cukup untuk melakukan reaksi
termonuklir. Tahap ini ditandai dengan bintang telah menjadi bintang
deret utama berumur nol.
6) Tahap selanjutnya inti bintang terus melakukan reaksi termonuklir yang
mengubah kesetimbangan kimia dari inti hingga batas waktu (sekitar 0,1
matahari). Setelah mencapai batas kesetimbangan energi maka bintang
akan menjadi hancur dan mengalami supernova.
Namun, perlu diingat bahwa tidak semua bintang mengakhiri
hidupnya dengan meledak menjadi Supernova, yaitu hanya terjadi pada
bintang yang massanya 8 kali massa matahari atau lebih massif dari
Matahari. Nah, supernova akan terjadi ketika bintang tersebut tidak lagi
memiliki cukup bahan bakar untuk proses fusi di inti bintang.
Menciptakan tekanan keluar sehingga memicu terjadinya dorongan
gravitasi kedalam massa bintang yang besar (Kutner, 2003).

22
Berikut ini merupakan diagram proses terbentuknya bintang dalam bentuk
ringk asnya yaitu:
Tempera
Kondens
Fragmen Protobin ture Coklat
Nebula asi
tasi tang terlalu Ketai
Awan
rendah

Konde Tempe
Fragm Protobi Deret
Nebula nsasi ratur ZAM
entasi ntang Utama
Awan cukup

2. Evolusi Bintang Tahap Lanjut


Proses evolusi tahap lanjut dapat kita tinjau dari diagram berikut:

Gambar 9. Diagram Evolusi Bintang Tahap Lanjut


(Sumber : https://image.slidesharecdn.com/presentasievolusibintang)

3. Diagram Hertzsprung-Russell (HR)


Diagram HR memuat properti bintang-bintang yang menunjukkan daya
(tingkat terang) sebagai fungsi dari temperatur (kelas spektrum); bagian

23
ordinat “magnitudo absolut" adalah ukuran daya secara logaritmik. (Percy,
2018).
Hal utama yang harus kita ketahui adalah bahwa 90% bintang dalam
Diagram HR menempati posisi seperti diagonal dari kiri atas ke kanan
bawah. Daerah ini dinamakan daerah Deret Utama (Main Sequence). Posisi
kiri atas merupakan posisi bintang yang memiliki derajat terang bintang
yang tinggi dan panas. Sedangkan posisi kanan bawah memiliki derajat
terang bintang yang rendah dan relatif dingin. Matahari kita berada pada
pertengahan daerah ini. Sebelah kanan Deret utama, terdapat bintang yang
dingin (indeks warnanya : merah) tetapi terang. Karena luminositas hanya
bergantung pada temperatur dan massa/ukuran, maka seharusnya bintang-
bintang di daerah ini lebih besar daripada bintang-bintang di deret utama.
Daerah ini dinamakan Giants (Raksasa) dan Supergiants (Maharaksasa).
Pada sudut sebaliknya adalah bintang yang redup, bintang biru yakni
bintang panas, bintang kecil atau White Dwarfs (Katai Putih). Sempitnya
deret utama merupakan petunjuk bahwa terdapat hubungan yang kuat antara
luminositas dengan massa. Maka dinamakan Relasi Massa-Luminositas.
Massa dan Luminositas di-plot dalam skala logaritmik relatif terhadap
massa matahari dan luminositas matahari. Maka posisi deret utama
bergantung pada massa, bintang yang lebih masif lebih panas dan lebih
terang. Daerah-derah yang ditunjukan oleh diagram HR adalah sebagai
berikut:

Gambar 10. Diagram HR (Sumber: http://thescientificodyssey.typepad.com)

24
H. Peralatan Pengamatan Bintang
1. Alat Pengumpul Cahaya (Teleskop)
Bintang berada pada jarak yang
sangat jauh sehingga cahaya yang
sampai kebumi sangat lemah. Untuk
memperkuat cahaya yang sangat lebah
itu,diperlukan teleskop. Pada prinsipnya
teleskop terbagi atas 2 bagian, yaitu
objektif dan okuler. Objektif berfungsi
memutuskan cahaya bintang pada satu
titik api atau focus. Okuler berfungsi
menangkap cahaya yang sudah terpusat
(Admiranto, 2009). Adapun fungsi
pokok telekop adalah sebagi berikut Gambar 11. Bagian-bagian teleskop
(Sumber:http://www.seputarilmu.com/
(Anonim, 2018): 2016/02/pengertian-jenis-jenis-dan-
a. Untuk mengumpulkan banyak 14-bagian.html
cahaya sehingga objek redup dapat terlihat lebih jelas dari pada
menggunakan mata telanjang.
b. Untuk membantu kita agar dapat melihat lebih detail atau lebih jelas
objek yang jauh.
c. Penggunaan teleskop, dapat dilengkapi menggunakan binokuler dapat
membantu kita dalam mengamati langit malam.
Dalam hal ini yang menjadi detectornya dapat berupa mata manusia,
kamera, fotometer,atau peralatan lain.
2. Teleskop Bias
Teleskop bias sudah banyak digunakan untuk melihat objek langit.
Rancangan teleskop bias cukup sederhana,hanya ada lensa objektif dan
okuler. Teleskop jenis ini sudah semakin jarang dikembangka,terutama
dalam dunia astronomi yang sudah maju seperti sekarang. Ada beberapa
kelemahan yang dimiliki oleh sebuah teleskop bias, misalnya abrasi
kromatis pada lensa objektifnya dan kesulitan membuat lensa objektif
dengan diameter yang besar.

25
3. Teleskop Pantul
Komponen utama dari telekop
pantul adalah sebuah cermin cekung
yang berperan sebagai objektif. Cahaya
yang datang dipantulkan oleh
permukaan objektif ke focus utama
untuk selanjutnya diterima oleh detector
mata manusia,kamera,fotometer,atau
Gambar 12. Penbentukan lainya. Dalam teleskop reflektor,
Bayangan pada teleskop pantul
objektifnya yaitu cermin (sebagai
pokoknya), sedangkan yang kedua adalah cermin lain yang langsung
memantulkan sinar dari lensa pokok (objektif) ke posisi yang lebih baik
untuk dilihat (Riswanto & Suseno, 2015).

I. Cara dan Perkembangan Pengamatan Bintang


Sampai tahun 1930-an, sebagian besar pengamatan bintang dilakukan pada
panjang gelombang optic. Akan tetapi, sebenarnya bintang memancarkan
radiasi dalam seluruh panjang gelombang,dan panjang gelombang iptik ini
sebenarnya hanya mencakup sebagian kecil dari spektrum gelombang
elektromagnetik yang terentang dari daerah sinar gamma sampai pada panjang
gelombang radio (Admiranto, 2009).
Pengamatan bintang telah dimulai oleh para pemikir kuno jauh sebelum
zaman yunani kuno. Ilmu perbintangan yang populer pada zaman dahulu adalah
ramalan nasib, ramalan waktu beraktifitas dan ramalan pergantian musim.
Selain itu para ilmuan kuno menggunakan rasi bintang untuk menandakan
kelahiran keluarga yang saat ini masih dikenal dengan istilah Zodiak. Saat ini
hal tersebut masih dipercayai oleh sebagian besar orang meskipun perhitungan
dan prediksi menggunakan bintang ataupun rasi bintang saat ini tidak seakurat
zaman dahulu (Spaeth, 2000).
Pengamatan bintang bintang secara mendetail dimulai ketika Tycho Brahe
berhasil mengidentifikasi bintang-bintang baru yang dikenal dengan istilah
novea (nova). Pada tahun 1548 barulah Giordano Bruno menyederhanakan

26
defenisi bintang sebagai bentuk lain dari matahari dan menyatakan bahwa
hampir terdistribusi merata di seluruh alam semesta. Pada tahun 1667
penjelasan lebih lanjut dikemukakan oleh Geminiano Montanari tentang
perubahan luminositas bintang dan barulah pada tahun 1838 Friedrich Bessel
berhasil mengukur jarak bintang 61 Cygni menggunakan teknik paralaks
(Hoskin, 1998).
Observatorium modern pada dasarnya menggunakan alat bantu sehingga
bahaya dari radiasi yang dihasilkan oleh reaksi inti bintang tidak langsung
diterima oleh observer. Beberapa bentuk observatorium modern adalah sebagai
berikut (Cox, 2000):
1. Observatorium sinyal radio, mengamati radiasi dengan panjang gelombang
yang lebih dari satu milimeter. Salah satu objek yang berhasil diamati
adalah supernova.
2. Observatorium inframerah, mendeteksi dan menganalisis gelombang
inframerah yang tidak diserap bumi. Salah satu kegunaannya adalah
mendeteksi komet.
3. Observatorium optikal, merupakan observatorium yang mengamati radiasi
elektromagnetik yang tampak dengan mata telanjang dengan ciri-ciri
perangkat yang digunakan berupa teknik fotografis seperti CCS (Charge-
coupled device).
4. Observatorium ultraviolet, mengamati radiasi elektromagnetik dengan
panjang gelombang kurang dari 3200 A dan difokuskan untuk mengamati
radiasi thermal dan garis spektrum dari bintang biru.
5. Observatorium sinar X, pengamatan tidak bisa dilakukan di bumi karena
radiasi sinar X diserap oleh bumi. Objek yang diamati berupa bintang
biner, pulsar, supernova dan gugusan galaksi yang memiliki inti yang
masih aktif.
Observatorium sinar gamma, jenis teleskop yang digunakan pada
observatorium ini adalah teleskop Cherenkof yang mampu mendeteksi
percikan cahaya tampak sebagai hasil dari proses penyerapan sinar gamma
oleh atmosfer.

27
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Bintang merupakan benda langit yang dapat memancarkan cahaya sendiri.
2. memberi nama bintang-bintang pada setiap rasi bintang menggunakan huruf
Yunani. Benda langit yang diakui secara internasional yaitu berdasarkan
kesepakatan International Astronomical Union (IAU).
3. Ayat Al-Quran yang menerangkan mengenai bintang dan pengamatannya
adalah Q.S Furqon:61, Q.S. Al-Hijr:16 dan Q.S. Al-An’am:97.
4. Magnitudo adalah skala redup terangnya suatu bintang.
5. Evolusi bintang didasari oleh konsep bahwa bintang akan mengawal awal
dan akhir. Proses awal meluputi proses terbentuknya bintang hingga terjadi
reaksi termonuklir, selanjutnya terjadi fusi inti yang melepaskan energi dan
akhir dari bintang berupa peristiwa supernova.
6. Peralatan yang digunakan untuk pengmatan bintang dapat mengunakan
teleskop.
B. Saran
Menyadari bahwa penyusun masih jauh dari kata sempurna, kedepannya
penyusun akan lebih fokus dan detail dalam menjelaskan tentang makalah di
atas dengan sumber–sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di
pertanggung jawabkan.Untuk saran dapat berisi kritik atau saran terhadap
penulisan juga bisa untuk menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan
makalah yang telah dijelaskan. Untuk bagian terakhir dari makalah adalah
daftar pustaka yang kami jadikan sebagai referensi.

28
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah. (2003). Tafsir Ibnu Katsir . Bogor: Pustaka Imam Asy-syafi'i.

Admiranto, A. G. (2009). Menjelajahi Bintang, Galaksi dan Alam Semesta.


Yogyakarta: Kanisius.

Al-Mahally, Imam Jalaluddin, & Imam Jalaluddin As-Suyuti. (1990). Tafsir


Jalalain Berikut Asbab An-Nujulnya. Bandung: Sinar Baru.

Anonim. (2017). Jenis Bintang. Dipetik September 17, 2018, dari Ilmu
Geografi.com: https://ilmugeografi.com/astronomi/jenis-jenisbintang

Anonim. (2018, Januari 13). Telescop. Dipetik September 18, 2018, dari
Nanopdf.com: https://nanopdf.com/download/teleskop_pdf

Copeland, L. (2001). Principles of Seed Science and. London: Kluwer Academi.

Cox, A. (2000). Allen's Astrophysical Quantities. New York: Springer-Verlag.

Djamaluddin, T. (2005). Menggagas Fiqh Astronomi. Bandung: Kaki.

Hawking, S. (2011). The Theory of Everything. Beverly Hill: Phoenix Book.

Hoskin, M. (1998). The Value of Archives in Writing the History of Astronomy.


ASP Conference Series.

Kemal, T. (2007). Seri Pengetahuan Bintang dan Planet. Jakarta: Erlangga.

Kerrod, R. (2005). Bengkel Ilmu Astronomi. (S. Peusangan, Penerj.) Jakarta:


Erlangga.

Kutner, M. L. (2003). Astronomy: A Physical Perspektive. New York: Cambridge


University Press.

Lyall, F. &. (2009). "Chapter 7: The Moon and Other Celestial Bodies". . New
York: A. Treatise Ashgate Publishing .

Percy, J. R. (2018, September 18). Evolusi Bintang: Kelahiran,Masa Hidup,dan


Kematian Bintang. Diambil kembali dari Astrosecundaria:
http://sac.csic.es/astrosecundaria/in/cursos/formato/materiales/ppts/confere
ncias/C1_in.pdf

Riswanto, & Suseno. (2015). Dasar-Dasar Astronomi dan Fisika Kebumian.


Metro: Lembaga Penelitian UM Metro Press.

Roekhan, A. R. (2012). Seri Pengetahuan Alam Bintang. Surabaya: Tim


Pengetahuan Alam.

29
Shihab, M. (2002). Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati.

Spaeth, O. (2000). Dating the Oldest Egyptian Star Map. Centaurus International
Magazine of the History of Mathematics, Science and Technology, 42(3),
159-179.

Stott, C. T. (2006). Bintang dan Planet. (T. Kemal, Penerj.) Surabaya: Erlangga.

Sujadi, F. (2009). Seri Pengetahuan Alam: Alam Semesta yang menakjubkan.


Jakarta: Bee Media Indonesia.

Tjasyono HK, B. (2013). Ilmu Kebumian dan Antariksa. Bandung: Remaja


Rosdakarya.

Wiramiharja, S. D. (2010).

Yani, D. M. (2009). Handout Matakuliah Kosmografi . Bandung : Universitas


Pendidikan Indonesia .

30

Anda mungkin juga menyukai