Anda di halaman 1dari 17

BAB I

STATUS PASIEN

NOMOR REKAM MEDIS : 658161


IDENTITAS/BIODATA
Nama : Ny. SS Nama Suami : Tn. W
Umur : 31 Tahun Umur : 19 Tahun
Suku Bangsa : Sunda Suku Bangsa : Sunda
Agama : Islam Agama : Islam
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Karyawan swasta
Alamat : Jl. Johar Baru Alamat : Jl. Johar Baru

Tanggal Masuk : 25 Mei 2014, Pukul 09.45 WIB

ANAMNESIS
Autoanamnesis
Keluhan Utama : Sakit kepala sejak jam 05.00 WIB
Keluhan Tambahan : Mual dan muntah sejak jam 05.00 WIB, nyeri ulu hati +.
Riwayat Penyakit Sekarang : OS merasa bahwa kepalanya sangat sakit sejak jam 05.00
pagi tadi, OS mengaku sakit kepala tersebut menetap dan
rasanya seperti ditusuk-tusuk. Sakit kepala disertai dengan
mual dan muntah yang berisi makanan. Mules (-), menurut
OS gerakan janin pada perutnya masih sangat aktif. Pada
saat itu didapatkan pemeriksaan Tekanan darah
menunjukkan angka 180/80.

Riwayat Penyakit Dahulu : OS pernah dirawat karena hipertensi gestasional sekitar 2


bulan yang lalu dan belum mendapatkan pematangan paru.
Hipertensi sebelum kehamilan disangkal, DM (-), asma (-).

Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada anggota keluarga dengan riwayat yang sama
Riwayat Pengobatan : OS diberi obat Nifedipin (1x10gr), Dopamet (3x250gr),
folamil genio (1x1), feritrin (1x1)

1
RIWAYAT OBSTETRI
Riwayat Kehamilan : G2P1A0
HPHT : 17 september 2013
TP : 24 juli 2014
Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas :
Th. Tempat Umur Jenis Penolong BB/
No. Penyulit Anak
Partus Partus Hamil Persalinan Persalinan Kel
1. 2009 Puskesmas Aterm Spontan Bidan (-) Lupa Sehat
2. Hamil Ini

Riwayat Menstruasi Riwayat Pernikahan


Menarche : 13 Tahun Pernikahan ke- :1
Siklus Haid : 28 hari Usia saat Menikah : 17 tahun
Lama Haid : 7 hari Usia suami : 18 tahun
Dismenorrhea : Disangkal Lama Menikah : 1 tahun

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Composmentis
Tanda- tanda Vital :-T : 180/120 mmHg
-N : 96 kali/menit
-R : 36 kali/menit
-S : 360c

Antropometri : Tidak diukur

2
STATUS GENERALIS STATUS OBSTETRI
Kepala : Normocephal Inspeksi
Mata : Konjungtiva anemis (-/-) - Wajah : Chloasma grav. (-)
Sklera Ikterik (-/-) - Thorax : Mammae simetris
Refleks Pupil (+/+) - Abdomen : Cembung lembut
Leher : Pembesaran KGB (-/-) Striae grav. (+)
Pembesaran Tiroid (-/-) Linea Nigra (+)
Thorax : Normochest Luka Post. Op (-)
Gerak Simetris Palpasi
Paru-Paru: VF Simetris (+/+) - TFU : 25 cm
Vesikular (+/+) - DJJ : 140x/menit
Ronkhi (-/-) - LA : Memanjang, Preskep, Puka
Wheezing (-/-) - His : (-)
Jantung : Gallop (-) - TBBA : (-)
Auskultasi DJJ : 140 kali/menit
Abdomen : Lihat status obstetri Pemeriksaan Genitalia
Ekstremitas atas : Akral Hangat - Tidak Dilakukan
CRT < 2dt
Udem (-/-)
Ekstremitas bawah : Akral Hangat
CRT <2dt
Udem (+/+)

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan


Haemoglobin 13.7 12 - 16 g/dL
Hematokrit 39 37 - 47 %
Eritrosit 4.56 4.2 - 5.4 106/µL
Leukosit 14.89 4.8 - 10.8 103/µL
Trombosit 229 150 - 450 10s/µL
Protein Urin +

3
RESUME

Seorang wanita 31 tahun diketahui hamil 30 minggu datang dengan keluhan sakit
kepala hebat dan mual muntah sejak jam 05 pagi. OS mengaku bahwa ulu hatinya nyeri..

Pada pemeriksaan fisik ditemukan tekanan darah 180/1200mmHg, RR: 36x/menit,


tanda vital lainnya dalam batas normal dan dditemukan oedem pada kedua kaki. Pada
pemeriksaan luar didapatkan TFU 25 cm, letak anak memanjang, presentasi kepala,
punggung kanan dengan DJJ 140 kali/menit. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan
protein urine (+)

DIAGNOSIS
G2P1A0 hamil 30 minggu dengan preeklamsia berat

PLANNING
1. Memberikan pematangan paru (setelah acc Sp.PD)
2. Memberikan obat penurun tekanan darah
3. Memberikan loading dose MgSO4
4. Memberikan maintenance dose MgSO4
5. Observasi TTV setiap 30 menit, jika membaik menjadi setiap 1 jam
6. Mempersiapkan untuk terminasi kehamilan dengan risiko bayi masih sangat muda

PROGNOSIS

Quo ad vitam : dubia ad bonam


Quo ad functionam : dubia ad bonam

4
FOLLOW UP RUANGAN
Tanggal Catatan Instruksi

25.05.2014 KU : sakit ringan - Berikan Terapi MgSO4 sesuai


T : 170/120 mmHg terapi
R : 34 x/mnt - Acc dr Sp.PD untuk pemberian
N : 98 x/mnt dexamethason 1x12mgg selama 2
S :36 hari
OS masih mengeluh sakit kepala, - Dr.. Sp.PD menyarankan untuk
mual dan kadang muntah. pindah ke HCU dengan diberikan
perdipin (syringe pump)

26.05.2014 KU : sakit ringan - Pemberian perdipin drip


(HCU) T : 156/86 mmHg menggunakan Syringe pump
R : 16 x/mnt - Pemberian kalmetason sekali lagi
N : 97 x/mnt pada pukul 10 WIB
S : Afebris - Dopamet 3x500mg
OS masih mengeluh keluhan yang
sama pada kemarin

5
BAB II
DISKUSI

A. PENDAHULUAN

Preeklampsia adalah suatu gangguan multisistem, bersifat spesifik pada


kehamilan dan mempunyai ciri khas yaitu terdapatnya hipertensi dan proteinuria setelah
umur kehamilan mencapai 20 minggu. Gangguan ini terdapat pada setidaknya 5-7%
pada seluruh kehamilan dengan insidensi 23.6 kasus pada 1000 kelahiran bayi di
Amerika Serikat1. Komplikasi dari hipertensi adalah penyebab ketiga terbesar setelah
perdarahan dan embolisme yang menyebabkan kematian pada kehamilan. Preeklampsia
dikaitkan dengan peningkatan resiko dari abruptio plasenta, gagal ginjal akut,
komplikasi serebrovaskular dan kardiovaskular, pembekuan intravaskular meluas
(disseminated intravaskular coagulation) dan kematian ibu hamil. Preeklampsia dapat
dibagi menjadi dua tipe yaitu preeklampsia ringan dan berat. Angka kejadian rekurensi
preeklamsia kategori berat lebih kurang 20-25% pada kehamilan selanjutnya2. Karena
itu, diagnosa dini dan penanganan tepat dari preeklampsia berat menjadi hal yang sangat
penting dan tidak dapat dielakkan lagi, dengan tentunya tidak mengesampingkan
diagnosis dan penanganan preeklampsia ringan.

B. KRITERIA DIAGNOSIS PREEKLAMPSIA RINGAN


Preeklampsia ringan dapat ditegakkan diagnosisnya dengan kriteria yaitu :
1. Tekanan darah :  140/90 mmHg -- < 160/110 mmHg
Kenaikan tekanan sistolik  30 mmHg dan kenaikan diastolik  15 mmHg tidak
dimasukkan dalam kriteria diagnostik preeklampsia tetapi perlu observasi yang
cermat
2. Proteinuria  300 mg/24 jam jumlah urine atau dipstick  1 +
3. Edema : lokal pada tungkai tidak dimasukkan dalam kriteria diagnostik kecuali
anasarka3

6
C. PREEKLAMPSIA BERAT
1. Kriteria Diagnosis
Terdapat banyak versi kriteria diagnosis dari pre eklampsia berat yang
beredar di lingkungan petugas kesehatan termasuk dokter. Royal College of
Obstetricians and Gynaecologists di UK4 mendeskripsikan preeklampsia berat
dengan adanya gejala klinis yaitu :
a. Nyeri kepala yang hebat
b. Gangguan pada visus
c. Nyeri epigastrik dan/atau muntah
d. Tanda akan kejang
e. Papilloedema
f. Terabanya hati
g. Penurunan hitung jumlah trombosit hingga dibawah 100x106/l
h. Enzim liver yang abnormal ( peningkatan ALT/AST > 70 iu/l )
i. Terdapat sindroma HELLP
Sedangkan Himpunan Kedokteran Feto-Maternal POGI dalam Pedoman
Pengelolaan Hipertensi pada Kehamilan di Indonesia menyatakan bahwa termasuk
ke dalam preeklampsia berat adalah preklampsia dengan salah satu atau lebih gejala
dan tanda dibawah 3:
a. Tekanan darah : pasien dalam keadaan istirahat tekanan sistolik  160 mmHg
dan tekanan diastolik  90 mmHg
b. Proteinuria :  5 gr/jumlah urine selama 24 jam. Atau dispstick 4 +
c. Oliguria : produksi urine < 400 – 500 cc/24 jam
d. Kenaikan kreatinin serum
e. Edema paru dan cyanosis
f. Nyeri epigastrium dan nyeri kuadran atas kanan abdomen : disebabkan
teregangnya kapsula Glisoni. Nyeri dapat sebagai gejala awal ruptur hepar dan
biasanya diikuti dengan peningkatan enzim hepar dalam serum, menunjukkan
tanda untuk terminasi kehamilan5
g. Gangguan otak dan visus : perubahan kesadaran nyeri kepala, scotomata, dan
pandangan kabur
h. Gangguan fungsi hepar : peningkatan alanine atau aspartate amino transferase

7
i. Hemolisis makroangiopatik
j. Tombositopenia < 100.000 sel/mm3
k. Sindroma HELLP

2. Pembagian Preeklampsia Berat


Preeklampsia berat dapat dibagi dalam dua kategori yaitu :
a. Preeklampsia berat tanpa Impending Eklampsia
b. Preeklampsia berat dengan Impending Eklampsia, dengan gejala-gejala
Impending yaitu : nyeri kepala, mata kabur, mual dan muntah, nyeri epigastrium
dan nyeri kuadran kanan atas abdomen3.

3. Pengelolaan Preeklampsia Berat


Tujuan pengelolaan preeklampsia6 ialah :
a. Mencegah terjadinya eklampsi
b. Anak harus lahir dengan kemungkinan hidup yang besar
c. Persalinan harus dengan trauma yang sedikit-sedikitnya dan jangan sampai
menyebabkan penyakit pada kehamilan dan persalinan berikutnya (sectio
caesarea menambah bahaya pada perhamilan dan persalinan berikutnya)
d. Mencegah hipertensi yang menetap

Pengelolaan preeklampsia dapat berupa pengobatan jalan dan di Rumah


Sakit. Pengobatan jalan hanya mempunyai tempat kalau preeklampsia ringan
sekali misalnya kalau tensi kurang dari 140/90 mmHg dan edema serta proteinuria
tidak ada atau ringan sekali. Anjuran diberikan pada pasien semacam ini adalah :

a. Istirahat sebanyak mungkin di rumah


b. Penggunaan garam dikurangi
c. Pemeriksaan kehamilan harus 2 kali seminggu
d. Dapat juga diberikan sedativa dan obat-obat antihipertensi
e. Mengetahui tanda-tanda bahaya

8
Pengobatan di Rumah Sakit indikasinya ialah :

a. Tensi 140/90 atau lebih


b. Proteinuria positif kuat ( ++ )
c. Tambah berat 1½ kg atau lebih dalam seminggu
Di Rumah Sakit harus dilakukan pemeriksaan dan observasi yang teliti :
a. Sakit kepala, gangguan penglihatan dan edema jaringan dan kelopak mata
harus ditanyakan dan dicari, karena merupakan tanda akan terjadinya
impending Eklampsia
b. Berat badan ditimbang sekali dalam dua hari untuk mengetahui ada atau tidak
perubahan berat badan yang abnormal
c. Tekanan darah diukur sekali tiap empat jam kecuali pada malam hari kalau
pasien tidur
d. Cairan yang keluar dan masuk diukur dan dicatat untuk mengetahui terjadinya
retensi urine atau tidak
e. Pemeriksaan urine tiap hari; proteinuria ditentukan kuantitatif, dari hasil yang
didapat kita akan bisa menentukan seberapa parah kerusakan filtrasi
glomerulus ginjal ( berbanding lurus dengan kenaikan kreatin plasma )5
f. Pemeriksaan retina
g. Pemeriksaan darah
Selanjutnya perawatan dan pengobatan dilakukan sebagai berikut :
a. Istirahat rebah dalam kamar yang tenang dan tidak silau
b. Makanan yang sedikit mengandung garam (3 Gram sehari); protein harus
cukup
c. Cairan yang diberikan ± 3000 cc
d. Berikan sedasi kuat selama 24 jam untuk mencegah kejang-kejang, misalnya
dengan menyuntikkan morphine 20 mg disusul dengan barbiturat (luminal
sodium 100 mg tiap 6 jam), walau tindakan ini sudah ditinggalkan karena ikut
menimbulkan efek sedasi pada janin.

Pada kehamilan dengan penyulit apapun pada ibunya, dilakukan


pengelolaan dasar sebagai berikut :

a. Pertama adalah rencana terapi pada penyulitnya : yaitu terapi medikamentosa


dengan pemberian obat-obatan untuk penyulitnya

9
b. Kedua baru menentukan rencana sikap terhadap kehamilannya yang
tergantung umur kehamilan. Sikap terhadap kehamilannya dibagi dua, yaitu :
1) Ekspektatif; Konservatif : bila umur kehamilan < 37 minggu artinya :
kehamilan dipertahankan selama mungkin sambil memberikan terapi
medikamentosa.
2) Aktif; Agresif, dengan indikasi
a) Bila umur kehamilan  37 minggu artinya kehamilan diakhiri setelah
mendapat terapi medikamentosa untuk stabilisasi ibu.
b) Adanya gejala impending eklamsi
c) Laboratorik : Adanya HELLP syndrome: kenaikan SGOT, SGPT, LDH,
Trombositopenia  150.000/ml.
d) Janin : Adanya tanda – tanda gawat janin atau hipoksia

3. Terapi Aktif
a. Pengobatan medisinal
1) Infus larutan Ringer Laktat
2) Pemberian MgSO4
Cara pemberian MgSO4 :
a) Pemberian melalui intravena secara kontinyu ( dengan menggunakan
infusion pump)
 Dosis awal : 4 gram ( 20 cc MgSO4 20 % ) dilarutkan kedalam 100 cc
ringer laktat, diberikan selama 15 – 20 menit
 Dosis pemeliharaan : 10 gram ( 50cc MgSO4 20% ) dalam 500 cc cairan
RL, diberikan dengan kecepatan 1 – 2 gram/jam ( 20 – 30 tetes per
menit )
b) Pemberian melalui intramuskuler secara berkala :
 Dosis awal : 4 gram MgSO4 ( 20 cc MgSO4 20% ) diberikan secara i.v.
dengan kecepatan 1 gram/ menit
 Dosis pemeliharaan : Selanjutnya diberikan MgSO4 4 gram ( 10 cc
MgSO4 40% ) i.m. setiap 4 jam tambahkan 1 cc lidokain 2% pada setiap
pemberian i.m. untuk mengurangi perasaan nyeri dan panas.

10
Syarat – syarat pemberian MgSO4:
a) Harus tersedia antidotum MgSO4, yaitu kalsium glukonas 10 % ( 1 gram
dalam 10 cc ) diberikan i.v. dalam waktu 3 – 5 menit
b) Refleks patella ( + ) kuat
c) Frekuensi pernafasan ≥ 16 kali per menit
d) Produksi urin ≥ 30 cc dalam 1 jam sebelumnya ( 0,5 cc/Kg bb/jam )

Syarat-syarat penghentian MgSO4


a) Ada tanda – tanda intoksikasi
b) Setelah 24 jam pasca salin
c) Dalam 6 jam pasca salin sudah terjadi perbaikan tekanan darah
(normotensif)

3) Diuretikum
Salah satu diuretik yang dapat dipakai adalah golongan thiazid yaitu
diazoxide yang merupakan vasodilator arteiolar yang poten7. Diuretikum tidak
dibenarkan kecuali bila ada :
a) Edem paru
b) Payah jantung kongestif
c) Edema anasarka
Tidak dibenarkan diberikan secara rutin karena dapat memperberat
penurunan perfusi plasenta, memperberat hipovolemia, dan meningkatkan
hemokonsentrasi.
4) Anti Hipertensi diberikan bila :
a) Tekanan darah : Bila tensi  180/110 atau MAP  126.
b) Obat-obat anti hipertensi yang diperlukan:
 Obat pilihan adalah hidralazin, yang diberikan 5mg i.v pelan-pelan
selama 5 menit.
 Dosis dapat diulang dalam waktu 15-20 menit sampai tercapai tekanan
darah yang diinginkan.

Apabila hidralazin tidak tersedia, dapat diberikan:

 Nifedipin : 10mg, dan dapat diulangi setiap 30 menit (max 120mg/24


jam) sampai terjadi penurunan tekanan darah.

11
 Labetalol 10mg i.v. Apabila belum terjadi penurunan tekanan darah,
maka dapat diulangi pemberian 20mg setelah 10 menit, 40mg pada 10
menit berikutnya, diulangi 40mg setelah 10 menit kemudian dan sampai
80mg pada 10 menit berikutnya.
 Bila tidak tersedia, maka dapat diberikan Klonidin 1 ampul dilarutkan
dalam 10cc larutan garam faal atau air untuk suntikan. Disuntikkan
mula-mula 5cc i.v perlahan-lahan selama 5 menit. 5 menit kemudian
tekanan darah diukur, bila belum ada penurunan maka diberikan lagi
sisanya 5 cc i.v selama 5 menit. Kemudian diikuti dengan pemberian
secara tetes sebanyak 7 ampul dalam 500 cc dextrose 5% atau martos
10%. Jumlah tetesan dititrasi untuk mencapai tekanan darah yang
diinginkan, yaitu penurunan MAP sebanyak 20% dari awal.
Pemeriksaan tekanan darah dilakukan setiap 10 menit sampai tercapai
tekanan darah yang diinginkan, kemudian setiap jam sampai tekanan
darah stabil.
5) Kardiotonika
 Indikasi : tanda-tanda payah jantung
 Jenis kardiotonik yang diberikan cedilanid-D.
 Perawatan dilakukan dengan subbagian penyakit jantung.
6) Lain-lain
 Obat-obat antipiretik : Diberikan bila suhu rektal > 38,5 c.
 Antibiotika diberikan atas indikasi
 Anti nyeri, bila pasien karena kontraksi rahim dapat diberikan 50-75 mg
1x saja.
 Diet, diberikan secara seimbang, hindari protein dan kalori yang berlebih

b. Pengelolaan Obstetrik
Cara terminasi kehamilan :
1) Belum Inpartu :
Induksi persalinan: amniotomi+tetes oksitosin dengan syarat skor bishop ≥ 8.
Bila perlu dilakukan pematangan serviks dengan mesoprostol. Induksi
persalinan harus sudah mencapai kala II dalam waktu 24 jam. Bila tidak,

12
induksi persalinan dianggap gagal dan harus disusul dengan pembedahan
sesar bila :
 Tidak ada indikasi untuk persalinan per vaginam
 Induksi persalinan gagal
 Terjadi maternal distres
 Terjadi fetal distres
 Bila umur kehamilan < 33 minggu
2) Sudah Inpartu
 Perjalanan persalinan diikuti dengan Grafik Friedman
 Memperpendek kala II
 Pembedahan cesar dilakukan bila terdapat maternal distres dan fetal distres
 Primigravida direkomendasikan pembedahan cesar
 Anestesia : regional anestesia, epidural anestesia. Tidak dianjurkan
anestesia umum

Kala I

Fase Laten : Amniotomi + tetes oksitosin dengan syarat skor bishop ≥

Fase Aktif :

 Amniotomi
 Bila his tidak adekuat, diberikan tetes oksitosin
 Bila 6 jam setelah amniotomi belum terjadi pembukaan lengkap,
pertimbangkan S.C.
 Catatan : amniotomi dan tetes oksitosin dilakukan sekurang-kurangnya 15
menit setelah pemberian pengobatan medisinal

Kala II

Pada persalinan pervaginam diselesaikan dengan partus buatan.

c. Pengelolaan Konservatif
1) Indikasi :
Kehamilan preterm (< 37 minggu) tanpa disertai tanda-tanda impending
eklampsi dengan keadaan janin baik.

13
2) Pengobatan medisinal :
Sama dengan perawatan medisinal pengelolaan secara aktif. Hanya dosis
awal Mg SO4 tidak diberikan i.v cukup i.m saja (MgSO4 40% 8 gram i.m).
Pemberian MgSO4 dihentikan bila sudah mencapai tanda-tanda preeklamsi
ringan, selambat-lambatnya dalam waktu 24 jam.
3) Pengelolaan Obstetrik
Selama perawatan konservatif, tindakan observasi dan evaluasi sama seperti
perawatan aktif, termasuk pemeriksaan tes tanpa kontraksi dan USG untuk
memantau kesejahteraan janin7 , pemeriksaan air ketuban dengan
amniocentesis dan amnioskopi (dilakukan setelah minggu ke 32 diilangi tiap
2 hari, cephalometri mengukur diameter biparietalis sehingga induksi
persalinan pada anak yang terlalu kecil dapat dihindarkan ( >9 cm),
kardiografi, dan penentuan estrogen dalam urine6
Bila setelah 2 x 24 jam tidak ada perbaikan maka keadaan ini dianggap
sebagai kegagalan pengobatan medisinal dan harus diterminasi. Cara
terminasi sesuai dengan pengelolaan aktif.6

Proses terminasi kehamilan aktif diatas masih menuai kontroversi


dikalangan praktikan. Penelitian di Bangladesh membuktikan bahwa pada kasus
tertentu dengan pengawasan dan observasi yang teliti dan ketat, kehamilan pada
preeklampsia berat dan eklampsia dapat dilanjutkan dengan tujuan untuk mencapai
kematuran janin tanpa meningkatkan resiko pada ibu janin. Dengan rata-rata
mempertahankan kehamilan dalam kurun waktu 13,27 hari (cakupan 3-35 hari),
dari 51 bumil yang diteliti terdapat 32 bayi lahir dengan selamat dengan prosentase
62.75% dan hanya 1 yang meninggal 5 menit setelah lahir9.

14
BAB III

ANALISA KASUS

A. ANALISA KASUS TERHADAP TINJAUAN PUSTAKA

Diagnosis preeklamsi berat bila didapatkan satu atau lebih dari gejala pada
kriteria preeklamsi berat.

No. Kriteria Preeklamsia Berat Kasus


1. Tekanan darah diastol ≥ 110 mmHg +
2. Proteinuri ≥ 2g/24 jam atau ≥ +2 dipstick +
3. Kreatinin serum > 1,2 mg% disertai oliguri (<400 ml/24jam) -
4. Trombosit< 100.000 mm3 -
5. Angiolisis mikroangiopathy (peningkatan kadar LDH) +
6. Peningkatan kadar enzim hati (SGOT dan SGPT) -
7. Sakit kepala yang menetap atau gangguan visus dan serebral +
8. Nyeri epigastrium yang menetap -
9. Pertumbuhan janin terhambat -
10. Edema paru disertai sianosis -
11. Adanya HELLP syndrome -

B. PENATALAKSANAAN
1. Informed concent
2. Cek laboratotium, dan observasi TTV dan observasi tekanan darah dan kadar
proteinuria.
3. Nifedipine 2x10mg
4. Pasang DC
5. Observasi keadaan umum, tanda-tanda vital, DJJ, his, dan pembukaan
6. Pemeriksaan serial protein urin
7. Rencana partus pervaginam

15
C. PROGNOSIS
1. Quo ad vitam ad bonam
Tidak ada gejala atau tanda yang mengarah pada ancaman kematian. Keadaan umum,
kesadaran, dan tanda vital pasien masih dalam batas normal.
2. Quo ad functionam ad bonam
Preeklamsia berat apabila diobati dan ditangani dengan benar akan sembuh, namun
akan menyebabkan komplikasi yang mengancam bagi ibu dan janin apabila tidak
segera ditangani.

16
DAFTAR PUSTAKA

Bagian Obstetri dan Ginekologi RSHS. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan
Ginekologi RSHS. Bagian Pertama (Obstetri). 2005. Bandung : RSHS

Cunningham, F. Gary. Williams Obstetry. Edisi 23 Jilid 1. 2010. Jakarta : Penerbit buku
kedokteran EGC

Kelompok Kerja Penyusunan Pedoman Pengelolaan Hipertensi Dalam Kehamilan di


Indonesia. Pedoman Pengelolaan Hipertensi Dalam Kehamilan di Indonesia.
Edisi kedua. Himpunan Kedokteran Feto Maternal POGI, 2005

Tucker, D. Pre-eclampsia and Eclampsia. diambil dari situs


http://www.hon.ch/Dossier/MotherChild/complications/complicate_eclampsia.ht
ml diterbitkan pada 25 Juni 2002, diakses pada 8 April 2013

Tuffnell, DJ. Shennan, AH. Waugh JJS dkk. The management of Severe preeclampsia /
eclampsia diambil dari situs http://www.rcog.org.uk/
resources/Public/pdf/management_pre_eclampsia_ mar06.pdf diterbitkan pada
Maret 2006 dan berlaku hingga Maret 2009. diakses pada 8 Aprl 2013

Wagner, K Lana. Diagnosis and Management of Preeclampsia. diambil dari situs


http://www.aafp.org/afp/20041215/2317.html diterbitkan pada 15 December
2004 diakses pada 8 April 2013

17