Anda di halaman 1dari 22

1. Apakah yang dimaksud dengan Ekstraksi Metalurgi ?

Jelaskan pembagiannya dan


jelaskan apa yang membedakan ketiganya ?
2. Jelaskan keterkaitan antara aspek Mining, aspek processing mineral dan aspek ilmu
pengetahuan dengan ekstraktif metalurgi. BUAT skema dan apa yang mendasari
keterkaitan tsb ?
3. Jelaskan apa saja ilmu pengetahuan yang mendukung ekstraktif metalurgi ? dan apa
peranan masing-masing ilmu pengetahuan tersebut dalam proses peleburan logam ?
4. Jelaskan apa yang anda ketahui tentang “ Geometalurgy “ dan buat skema
keterkaitannya dengn ekstraksi metalurgi ?
5. a. Sebutkan dan jelaskan tahapan proses peleburan logam secara umum Pyro
metalurgy ? Apa saja 4 persiapan yang harus dilakukan sebelum peleburan logam
serta apa fungsi dari Tanur (furnace), flux, coke dan refractory dalam proses
peleburan ?
b. Dalam proses peleburan loga kita mengenai primary impurities dan secondary
impurities, Jelaskan!
6. a. Apa yang dimaksud dengan diagram Ellingham dan apa hubungannya dengan
proses peleburan ?
b. Apa hubungan antara diagram Ellingham dengan daftar periodik yang anda
ketahui ?
c. Bila diketahui : Reaksi suatu logam alumina (AL2O3) dan magnesium oksida
(MgO) mana yang lebih stabil pada suhu 1.200º dan Hitung berapa Free Gibbs
Energy (Δ Gº) dalam kaitannya dengan gas yang dihsasilkan (CO2) dan pembentukan
Cu2O (lihat diagra ellingham) bagaimana reaksi : yang terjadi antara : Al dengan
Cu2O dan reaksi antara Al2O3 dan Magnesium oksida.

Jawab :
1. Ekstraksi Metalurgi : Ilmu dan teknologi untuk memperoleh sampai
pengolahan logam mulai dari processing bijih mineral sampai pemerolehan
(ekstraksi) sesuai sifat dan karakteristik logam melalui proses-proses kimia,
baik melalui temperatur rendah (pelindian) maupun temperatur tinggi (piro
metalurgi/peleburan).
Pembagian Ekstrasksi Mealurgi :

1. Metalurgi Ekstraksi : suatu ilmu yg mempelajari cara - cara mendapatkan metal


dari ore, konsentrat, serap, slag shg bermanfaat bg manusia.

2. Metalurgi fisik : upaya memadukan 2 logam / lebih agar hasil perpaduan ini
mempunyai sifat fisik sesuai dgn yg diinginkan.

3. Metalurgi Mekanik : pembentukan logam dgn struktur tertentu agar dapat


dimanfaatkan atau upaya pemrosesan logam lebih lanjut agar dpt dimanfaatkan
oleh manusia, misal utk jembatan yg mpy daya dukung tertentu.

Perbedaannya adalah :
1. Metalurgi Ekstraksi : Pada bagian pengolahan mineral, konsentrat
yang mengandung logam berharga dipisahkan dari pengotor
yang menyertainya. Sedangkan ilmu metalurgi ekstraksi adalah untuk
memisahkan logam berharga dalam konsentrat dari material lain.
2. Metalurgi Fisik : Metalugi fisik adalah pengetahuan-pengetahuan
mengenai fisika dari logam-logam dan paduan-paduan umpamanya tentang
sifat-sifat mekanik, sifat-sifat teknologi serta pengubahan-pengubahan sifat-
sifat tersebut yang umumnya menyangkut segi-segi pengembangan atau
development, pada penggunaan dan pengolahan atau teknologi logam-
logam dan paduan-paduan.
3. Metalurgi Mekanik : Proses pengerjaan secara mekanik untuk mencapai
bentuk tertentu termasuk proses pembentukan dan proses lainnya yang tidak
merubah komposisi kimia, termasuk sifat mekanik dan cara ujinya

2 Skema keterkaitan antara aspek mining, mineral processsing, dan ilmu


pengetahuan

Aspek Mining

Aspek Ilmu Ekstraksi Aspek Mineral


Pengetahuan Metalurgi Processing

Keterkaitan antara aspek mining dengan ekstraksi metalurgi :

Aspek Mining (Pertambangan) menjadi suatu hal yang sangat penting


dikarenakan didalamnya termasuk kegiatan survey tinjau, eksplorasi dan eksploitasi. Dari
kegiatan survey tinjau dan eksplorasi, didapatkanlah jumlah cadangan, jenis cadangan dan
kadar cadangan. Jumlah cadangan menentukan apakah kegiatan ekstraksi dapat kontinyu
(supply bahan tambang terpenuhi), sedangkan jenis cadangan (apakah cadangan primer,
sekunder, atau tersier) dan kadar (low grade deposit dan high grade deposit) akan
menentukan metode penambangan dan bagaimana cara penambangan. Untuk dilakukan
ekstraksi atau peleburan maka dipilihlah kadar yang tinggi (high grade deposit) dan jumlah
yang besar.
Selain itu, aspek mining juga berpengaruh terhadap ekstraksi metalurgi karena untuk
menentukan metode ekstraksi apa yang akan digunakan.Selain itu, aspek mining juga
berpengaruh dalam pembangunan smelter untuk peleburan bijih logam.
Apabila bijih logam yang ditambang tidak memiliki kadar yang tinggi maka
pembangunan smelter akan menyebabkan produk yang dihasilkan tidak memiliki kualitas
yang bagus. Ditambah dengan jumlah logam yang dihasilkan sedikit, pembangunan smelter
akan menyebabkan naiknya biaya operasi karena supply logam untuk dileburkan tidak baik.
Aspek pertambangan (mining) tidak bisa terlepas dari ekstraksi metalurgi karena yang
akan dilakukan peleburan berasal dari pertambangan. Logam yang akan dilebur pun harus
memiliki kualitas, kuantitas dan kadar yang baik. Selective Mining dapat dilakukan untuk
menambang logam yang hanya memiliki kadar yang baik. Supply logam yang akan dilebur
pun harus berjalan dengan baik agar pabrik smelter dapat beroperasi terus menerus. Selain
itu, aspek pertambangan juga menentukan metode peleburan seperti apa yang sesuai dengan
sifat logam yang akan di lebur dan biaya yang akan dikeluarkan. Maka, Aspek pertambangan
(mining) sangat penting dalam proses pembangungan pabrik smelter dan proses ekstraksi
metalurgi.
Keterkaitan antara aspek mineral processing dengan ekstraksi metalurgi :

Aspek processing disini ialah kegiatan sebelum dilakukannya peleburan atau dengan
kata lain proses pengolahan untuk meningkatkan kadar. Bahan tambang yang sudah
ditambang akan dilakukan pengolahan untuk menaikkan nilai tambah. Dari pengolahan
(processing) inilah dapat diketahui mineral apa saja yang terkandung didalam logam tersebut.
Apakah masih banyak mineral ikutan didalam logam tersebut yang apabila dilakukan
peleburan kembali akan menguntungkan karena kadar yang tinggi atau nilai jualnya yang
tinggi.

Keterkaitan antara aspek ilmu pengetahuan dengan aspek ekstraksi metalurgi :

Untuk menghasilkan logam dari bijihnya, diperlukan suatu proses ekstraksi metalurgi.
Karena di alam bijih logam umumnya dalam bentuk oksida dan sulfida, maka untuk
menghasilkan logam diperlukan reaksi reduksi dan oksidasi. Pada proses metalurgi juga
terdapat sifat fisika dan kimia. Dasar Fisika Kimia Metalurgi dapat didefinisikan juga yaitu
sebagai ilmu dan teknologi untuk memperoleh sampai pengolahan logam yang mencakup
tahapan dari pengolahan bijih mineral,pemerolehan (ekstraksi) logam, sampai ke
pengolahannya untuk menyesuaikan sifat-sifat dan perilakunya sesuai dengan yang
dipersyaratkan dalam pemakaian untuk pembuatan produk rekayasa tertentu. Berdasarkan
tahapan rangkaian kegiatannya, metalurgi dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu metalurgi
ekstraksi, metalurgi kimia dan metalurgi fisika. Metalurgi ekstraksi yang banyak melibatkan
proses-proses kimia, baik yang temperatur rendah dengan cara pelindian maupun pada
temperatur tinggi dengan cara proses peleburan utuk menghasilkan logam dengan kemurnian
tertentu, dinamakan juga metalurgi kimia.
Meskipun sesungguhnya metalurgi kimia itu sendiri mempunyai pengertian yang luas,
antara lain mencakup juga pemaduan logam denagn logam lain atau logam dengan
bahan bukan logam.
Metalurgi kimia merupakan proses metalurgi yang banyak melibatkan proses-proses
kimia, baik yang temperatur rendah dengan cara pelindian maupun pada temperatur tinggi
dengan cara proses peleburan utuk menghasilkan logam dengan kemurnian tertentu,
dinamakan juga metalurgi kimia. Beberapa aspek perusakan logam (korosi) dan cara-cara
penanggulangannya, pelapisan logam secara elektrolit,dll.
Metalurgi fisika adalah pengetahuan-pengetahuan mengenai fisika dari logam-logam
dan paduan-paduan umpamanya tentang sifat-sifat mekanik, sifat-sifat teknologi serta
pengubahan-pengubahan sifat-sifat tersebut yang umumnya menyangkut segi-segi
pengembangan atau development, pada penggunaan dan pengolahan atau teknologi logam-
logam dan paduan-paduan.
Kriteria yang mendasari aspek tersebut adalah
1. Aspek Mining : hal yang mendasarinya adalah kegiatan prospeksi, eksplorasi, studi
kelayakan dan eksploitasi
2. Aspek Mineral processing : hal yang mendasarinya adalah kegitan crushing, grinding
screening, untuk meningkatan nilai kadar dari mineral
3. Aspek Ilmu Pengetahuan : hal yang mendasarinya adalah ilmu fisika dan kimia yang
berkaitan dengan kalor atau panas seperti hukum termodinamika, hukum termokimia, asas
black.

3. Ilmu pengetahuan yang mendukung ekstraksi metalurgi yaitu

1. ilmu fisika, yang bertujuan untuk mengetahui sifat fisik dari logam

2. ilmu kimia, yang bertujuan untuk mengetahui sifat kimia dari logam

Dari kedua ilmu pengetahuan tersebut terdapat beberapa hukum yang berperan dalam proses
ekstraksi metalurgi, yaitu :

1 Hukum Termodinamika.

Termodinamika adalah cabang ilmu pengetahuan alam yang mempelajari perpindahan


panas dan interkonversi panas & kerja dalam berbagai proses fisika dan kimia.
Termodinamika digunakan sebagai Perangkat (tools) untuk menentukan apakah suatu proses
metalurgi bisa dilakukan (feasible) atau tidak. Contoh pada reduksi PbO dengan C.

GAMBAR 2.1

POTENSIAL STANDAR PEMBENTUKAN OKSIDA

Cabang-cabang Termodinamika antara lain :

1. Termodinamika Klassik

Merupakan pandangan transfer energi dan kerja dalam sistem makroskopis,


tanpa memperhatikan interaksi dan gaya antar individual partikel
(mikroskopik).

2. Termodinamika Statistik

Melihat prilaku secara mikroskopik, menjelaskan hubungan energi


berdasarkan sifat-sifat statistik dari sejumlah besar atom/molekul dan bergantung
pada implikasi Mekanika Kuantum.

3. Termodinamika Kimia

Fokus pada transfer energi dalam reaksi Kimia dan kerja pada sistem Kimia.
4. Termodinamika Teknik

Pemanfaatan Termodinamika pada beberapa mesin panas dan proses-proses


yang menyangkut transfer energi. (Mesin bakar, refrigerator, AC, stasiun
tenaga nuklir, sistem pemercepat roket).

Kondisi suatu sistem termodinamika ditentukan oleh besaran yang secara eksperimen
dapat diukur :

1. Variabel keadaan atau sifat sistem

Contoh:

Tekanan (p), suhu (T), volume (V), magnetisasi, polarisasi etc.

Variabel keadaan yang berbanding lurus dengan massa atau volume

2. Besaran ekstensif

Variabel keadaan yang independen dengan massa atau volume

3. Besaran intensif

Perbandingan antara besaran ekstensif dengan massa disebut besaran ‘spesifik’.


(Biasanya disimbolkan dengan huruf kecil)

Contoh:

Volume sebuah sistem: V

Volume spesifik dinyatakan: v

Jelas bahwa volume spesifik berbanding terbalik dengan kerapatan ρ, yakni


massa persatuan volume:

ρ=m=1

Jelas bahwa v merupakan besaran intensif. Pada banyak kasus Termodinamika, lebih
menguntungkan merumuskan dalam besaran spesifik karena persamaan menjadi tidak
bergantung pada massa.
1.1 Tekanan (P).

Sebagaimana di Mekanika, tekanan merupakan gaya persatuan luas.

P = F/A

Satuan tekanan di MKS: 1 N m-2

Satuan lain:

1 bar = 105 N/m2 atau 106 dyne/cm2

1 μ bar (mikro bar) = 1 dyne/cm2

1 atm = tekanan yang dihasilkan oleh kolom air raksa setinggi 76 cm

= 1,01325×105 N/m2

1 Torr = 1 mmHg = 133,3 N m-2

1.2 Temperatur (T).

Pengertian awam, temperatur merupakan sensasi indra kita terhadap panas-


dinginnya (hotness and coldness) suatu benda. Secara saintifik pengukuran
besaran ini harus dapat dikuantifikasi (berupa angka numerik), bukan hanya
direka dengan perasaan.

Apabila dua benda dikontakkan:

Setelah sekian lama

1. Tidak ada lagi perubahan pada masing-masing benda

2. Terjadi keseimbangan termal.

3. Bila dua benda mengalami keseimbangan termal ketika kontak, maka dua
benda tersebut memiliki temperatur yang sama.

4. Berlaku sebaliknya bila dua buah benda memiliki suhu sama, maka
ketika kontak akan terjadi keseimbangan termal. Bila dua benda
(misal A & B) secara terpisah masing-masing mengalami
keseimbangan termal dengan benda ketiga (C), maka kedua benda
tersebut juga dalam keseimbangan termal.

5. Statemen Hukum Termodinamika ke-0

Merupakan prinsip dasar untuk pengukuran temperatur.

2 Gas Ideal.

Pada tekanan yang cukup rendah, dan suhu yang relatif tinggi, semua gas
ternyata semua gas mematuhi tiga hukum sederhana. Hukum-hukum itu menyatakan
hubungan antara volume gas dengan tekanan dan suhunya. Bila suatu gas mematuhi
hukum tersebut maka dikatakan gas itu berperangai seperti gas ideal.

Sehingga gas ideal didefinisikan sebagai :

1. Volume yang dimiliki molekul adalah kecil dibandingkan dengan total


volume gas.

2. Semua sifat molekul bertubrukan secara elastis.

3. Tidak ada gaya tolak-menolak atau gaya tarik-menarik antara molekul.

Gas ideal mengikuti formulasi berikut :

PV = nRT

Dimana : P = Tekanan V = Volume

R = Tetapan T = Suhu

N = Mol

Dalam ekstraksi metalurgi gas ideal sangat diperlukan hal ini tentu utuk menjaga
kesetabilan reaksi-reaksi yang terjadi dalam tahapan ekstraksi. Kondisi standar gas
dinyatakan ideal adalah pada 60oF.

3 Hukum Kesetimbangan.

Secara teoritis setiap reksi kimia sedikit banyak dapat berlangsung kearah balik.
Seiring gaya penggerak atau pendorong suatu reaksi sangant cenderung ke suatu arah
tertentu, dan reaksi ke arah balik tak terhingga kecilnya sehingga tidak mungkin diukur.
Gaya pendorong reaksi kimia atau perubahan energi bebas yang menyertai reaksi
merupakan ukuran pasti mengenai kecenderungan rekasi, apakah akan berlangsung
sampai penyelesaian atau tidak. Bila Go sangat besar dan tandanya negatif, reksi itu
dapat dikatakan berlangsung hingga selesai pada arah maju, Jika Go hanya negatif kecil,
reksi-reksi lebih lanjut akan menjadi nol dan akan berjalan di arah balik jika ada
konsentrasi sedikit saja.

Dalam hal ini rekasi organik dan metalurgi bersifat reversibel. Kita perlu
mendalami masalah bagaimana harusnya mengatur kondisi reaksi untuk mendapatkan
hasil yang ekonomis dan agar reaksi yang dikehendaki berlangsung lebih cepat, sedang
yang tidak dikehendaki menjadi minimum. Sistem kimia yang sudah mencapai keadaan
reversibilitas termodinamik tidak lagi melibatkan reaksi kearah maju ataupun balik,
karena Go = 0, sistem itu dikatakan kesetimbangan (equilibrium). Untuk menghasilkan
reaksi yang setimbang maka harus memenuhi persamaan berikut :

0 = Go + RT ln Qek

Go = -RT ln Qek

Dimana :

Go = Reaksi Kesetimbangan

R = Tetapan

T = Suhu

Qek = Jumlah kalor tetap

4 Azas Black

Hukum kekekalan energi untuk kalor menyatakan bahwa untuk berbagai benda
yang dicampur dan diisolasi sempurna terhadap lingkungan, banyaknya kalor yang
dilepas benda sama dengan banyak kalor yang diterima benda lainnnya.

Qlepas = Qmasuk

Hukum ini dinyatakan pertama kali oleh Joseph Black (1728-1799) sehingga dikenal
sebagai Azas Black.
Kalor yang diterima oleh suatu benda bermassa m dan memiliki kalor jenis c, dan
kapasitas kalor C yang mengalami perubahan suhu t dinyatakan dengan :

Q = m c t atau Q = C t

Dimana : Q = jumlah kalor m = massa

c = kalor jenis t = perubahan suhu

C = kapasitas kalor

4. Geometalurgi adalah ilmu yang menghubungkan geologi dan block mode ke pengolahan
metalurgi dan perencanaan produksi. Dalam pengertian lain, Geometalurgi Adalah disiplin
ilmu dari integrasi pendekatan analisa data geologi, perencanaan , dan metalurgi (ekstraktif
– pemrosesan bijih), yang menghasilkan informasi dan knowledge untuk optimasi
profitabilitas sumberdaya mineral.

Perhitungan kelayakan ekonomis tentu melibatkan hitungan rumit dari analisa-analisa


teknikal: mineralisasi – perencanaan tambang – pengolahan, menggunakan sejumlah asumsi
teknikal. Disinilah pendekatan geometalurgi modern bisa berperan. Tiga faktor tersebut bisa
didekati dengan sejumlah pemodelan-optimasi dari pemahaman tubuh bijih (orebody
knowledge) yang baru. Lebih jauh, beberapa “optimasi” parameter-parameter geometalurgi
bisa digunakan, semisal:

1. Pemetaan struktur-struktur geologi yang lebih detil (dibantu geomodeling software


terbaru) bisa menghasilkan pemodelan 3-dimensi bond work index yang lebih akurat
(zona patahan – shear umumnya berkomposisi pecahan-hancuran batuan namun
kadang kadar clay lebih tinggi). Termasuk zonasi pelapukan dalam yang dikontrol oleh
struktur. Sehingga, bijih-bijih yang lebih lunak bisa dilokalisir. Ini bisa membantu
menurunkan komponen biaya grinding yang memang tinggi atau malah biaya drilling-
blasting.
2. Scheduling penambangan didasarkan pada model-model 3-dimensi sifat geometalurgi
batuan, sehingga dapat mengurangi biaya konsumsi energi total. Pun di dalamnya bisa
mempengaruhi pemilihan teknologi/alat tambang, semisal: articulated dump truck vs
haul truck, tracked vehicles vs trackless.
3. Lanjutan dari nomor 2 di atas, scheduling tersebut bisa berimpak pada strategi
blending dan stockpiling yang lebih selaras dengan sekuen tambang. Strategi ini, lebih
jauh, bisa berdampak ke pemilihan teknologi pengolahan, penggunaan material
pengolahan, dan strategi pengolahan. Tentu ini semua berujung ke perbaikan hitungan
NPV.

Masih banyak optimasi parameter-parameter geometalurgi yang bisa digunakan dalam


rangka memperbesar NPV, baik dalam mengurangi biaya-biaya operasional maupun
permodalan awal. Ujungnya, bisa digenerate “new orebody discoveries”, dari deposit-deposit
dengan sumberdaya marjinal atau kadar yang rendah tersebut, yang semula dianggap tidak
layak ekonomis.

Skema kaitan antara Geometalurgi dengan ekstraksi metalurgi

Bahan Galian

Tambang Logam dll.

(Bijih, dll)

Geologi - Eksplorasi Penambangan Metalurgi

Aktifitas Terintegrasi

“ Geometalurgi ”

5. a. Proses Pyro Metalurgi secara umum

1.1 Definisi Pirometalurgi.

Semua jenis proses yang dilakukan pada temperature tinggi (diatas 5000

C) dapat dikategorikan sebagai proses pirometalurgi. Proses – proses tersebut

meliputi beberapa tahap dalam produksi logam. Tahap pertama adalah

pengerjaan pendahuluan (tahap pra olahan / pra ekstraksi) yang berlangsung di

bawah titik leleh bahan baku.


Tahap selanjutnya adalah proses ekstraksi logam yang umumnya

berlangsung pada temperature yang lebih tinggi dan disertai dengan peleburan

atau penguapan untuk menghasilkan logam,karena logam yang dihasilkan

umumnya masih mengandung unsure – unsure pengotor yang relative tinggi,

biasaya diperlukan tahap pengerjaan lanjut, yaitu proses pemurnian. Proses

pemurnian seringkali juga dimaksudkan untuk mengatur komposisi logam,

dengan penambahan, satu atau lebih unsure pemandu sesuai dengan jenis logam

yang akan dipasarkan.

Meskipun secara pirometalurgi logam – logam dapat dihasilkan melalui

berbagai metode ekstraksi, akan tetapi semua metoda tersebut pada hakekatnya

selalu terdiri atas dua fenomena utama, yaitu :

1. Berlangsungnya reaksi – reaksi kimia yang menghasilkan logam dari

senyawa – senyawanya, dan

2. Terbentuknya dua atau lebih fasa yang memungkinkan terpisahnya

logam yang dihasilkan dari senyawa – senyawa yang tidak

dikehendaki.

Reaksi – reaksi yang berlangsung umumnya adalah reaksi – reaksi

reduksi, reaksi – reaksi oksidasi atau reaksi – reaksi netral (tanpa oksidasi atau

reduksi). Adapun pembentukan fasa – fasa yang diperlukan untuk

berlangsungnya pemisahan fisik antara logam – logam dengan unsure – unsure

pengotornya dapat terjadi dengan sendirinya, atau dengan bantuan penambahan

bahan – bahan/ reagen – reagen lain. Fungsi bahan – bahan imbuh (flux) ini

pada umunya adalah untuk mengikat unsure / senyawa pengotor guna

membentuk suatu fasa yang terpisah, yang dalam proses peleburan dikenal

sebagai terak (slag).


1.2 Tahap – Tahap Proses Pirometalurgi.

1. Kalsinasi.

Pemanasan pada T < TL tanpa penambahan reagen untuk mengubah

senyawa bijih / konsentrat, sehingga bijih / konsentrat sesuai untuk proses

selanjutnya. Umumnya terjadi penguraian senyawa kimia pada temperature

tinggi.

Tujuan :

- Untuk penguraian karbonat

MCO3(p)  MO(p) + CO2 (g)

M : Zn, Fe, Ag, Pb, Cd, Mn, Mg, Ca

ΔGT = ΔGT˚ + RT In PCO2

- Untuk penghilangan air kristal dan penguraian hidroksida

M(OH)2 = MO +H2O

ΔGT˚ = - RT ln PH2O

- Desagregasi bijih kompak

proses penguraian mekanis bijih yang sangat kompak dan penguraian

senyawa organic. Sebagai contoh : M3O4 (misal Fe3O4) sangat kompak

(porositasnya rendah), jk direduksi dgn gas CO reaksi diffusi gas lamban,

maka Fe3O4 dipanaskan dan didinginkan mendadak (quenching) sehingga

timbul retakan yg mudah diterobos gas CO. Jika pada peleburan Fe3O4

(magnetit) yg dikandung oleh bijih < 40% tidak perlu Quenching.


2. Pemanggangan.

Pemanasan pada T < TL dengan reagen (biasanya gas) untuk

mengubah senyawa bijih/ konsentrat agar sesuai dengan persyaratan proses

selanjutnya. Temperatur pada 5000 - 10000 C, senyawa yang dirubah logam

utama / pengotor.

GAMBAR 3.1

ROASTER PLANT

a. Pemanggangan Oksidasi

Bijih yg diolah sulfida : Zn, Pb, Ni, Cu, Hg.

Untuk menghasilkan seluruh kandungan belerang (dead roasting).

Dilakukan pd bijih oksida bila :

- bijih / konsentrat kaya sulfida logam berharga. Kemudian diekstrak

dengan reduksi misal : PbS dan ZnS.

- Oksida logam berharga bersifat mudah menguap. Misal Sb2O3 dan

As2O3, tetapi jangan teroksidasi mencapai Sb2O4 dan Sb2O5 atau As2O4

dan As2O5 krn berbentuk padatan, hingga perlu penambahan karbon C

gas CO.

- pemanggangan oksida partial


Cu2S.n FeS + 3/2 n’ O2 = Cu2S. (n-n’) FeS + n’ FeO + n’ SO2

Syarat : logam pengotor lebih mudah dioksidasi daripada logam

b. Pemanggangan menghasilkan sulfat (sulfatisasi).

Maksudnya yaitu untuk membentuk sulfat yang larut air, preparasi

hydrometalurgi. Syaratnya T < T (diss) Sulfat, utk FeSO4 = 550oC,

CuSO4 = 700oC, ZnSO4 = 750oC, PbSO4 = >1000oC

c. Pemanggangan menghasilkan metal (metalisasi).

Pada umumnya seluruh sulfida logam bila dipanaskan di atas TL dapat

teroksidasi menjadi logam, tetapi belum tentu menguntungkan sebab

logam pengotor ikut lebur.

3. Aglomerasi.

Tujuan aglomerasi, yaitu mengubah ukuran butiran bijih/ konsentrat

menjadi gumpalan yang relatif besar agar tidak menyumbat lubang - lubang

pada tanur yg digunakan untuk lewat gas - gas

a. Pembriketan (briqueting)

Cetak-tekan dengan bahan perekat ( kapur, semen, lempung, minyak

residu, tar), maupun tanpa perekat, dilakukan pada

temperatur kamar/ pemanasan. Pemakaian terbatas, biaya mahal.

b. Nodulasi (nodulizing)

Seperti pada pembuatan klinker semen dengan cara pemanasan di dalam

tanur putar, sehingga terbentuk gumpalan-gumpalan.

c. Sinterisasi (sintering)
Banyak digunakan untuk preparasi peleburan pada tanur tiup (blast furnace).

Dilakukan dengan mesin khusus DLSM (dwight- lloyd sintering machine).

GAMBAR 3.2

SINTERING

Proses pembuatannya, yaitu :

Bijih besi dicampur 5% kokas dan 5-10% air serta kapur sebagai bahan

imbuh panaskan pada DLSM. Kokas akan terbakar temperatur naik 1200-

1300oC. Aglomerasi terjadi karena silikat dalam bijih meleleh / terjadi

pertumbuhan kristal dan rekristalisasi.


GAMBAR 3.3

BAGAN ALIR PROSES PYROMETALLURGI

c. Peletisasi (peletizing)

Umumnya dilakukan pada bijih / konsentrat yg sangat halus sehingga sulit

disinter. Proses yang terjadi, yaitu bijih/ konsentrat ditambah air dan bahan

perekat (kapur, lempung, bahan organik) pada temperatur kamar dibentuk

menjadi bulatan pelet (gumpalan ukuran 1-3 cm) di dalam drum atau

piringan berputar, dibakar dengan tanur tegak, atau dengan DSCM.

4 persiapan sebelum peleburan :

1. drying ( pengeringan )

adalah suatu proses yang bertujuan untuk menghilangkan / mengurangi kandungan air
bebas.

Tujuan dari drying :

Mengeluarkan H2O
Merubah dari fase padat ke fase cair tetapi tidak terjadi peleburan

2. kalsinasi

Temperatur kaslinasi harus lebih tinggi dari drying dan membutuhkan panas untuk
menguraikan air hidrat

Tujuan kalsinasi :

Penguraian karbonat

Penguraian hydrant (air kristal)

3. roasting ( pemanggangan )

adalah suatu proses pemanasan suatu material / konsentrat tanpa disertai peleburan,
yang bertujuan untuk mengubah senyawa-senyawa yang terkandung menjadi senyawa-
senyawa lain yang sesuai untuk proses selanjutnya.

4. aglomerasi.

Suatu proses penggumpalan dari partikel yang kecil menjadi partikel yang lebih besar.
Biasa dilakuakn pada bijih, konsentrat dan partikel partikel yang mengalami roasting.
Aglomerasi diperlukana bila diumpankan butiran yang terlalu halus dapat terjadi
penyumbatan aliran aliran gas terganggu.

Fungsi dari :

Tanur (Furnace) : suatu alat sejenis oven berukuran besar, berupa ruangan dengan penyekat
termal yang dapat dipanaskan hingga mencapai suhu tertentu, untuk menyelesaikan tugas
atau proses tertentu seperti pengeringan, pengerasan, atau perubahan kimiawi. Berbagai
industri dan perdagangan memanfaatkan berbagai jenis dan bentuk tanur, misalnya untuk
mengolah tanah liat menjadi gerabah, batu bata, keramik dan lain-lain. Juga untuk
memproses bijih logam, batu gamping, pembuatan semen, pengeringan kayu, dan sebagainya.

Fluk : bahan yang digunakan untuk membantu penggabungan logam atau mineral tertentu.
Bahan tersebut diterapkan pada sisi atau permukaan benda yang akan digabungkan melalui
proses welding, soldering, atau brazing. Penambahan bahan fluks berguba untuk mencegah ,
melarutkan atau memudahkan penghilangan pengotor (oksida-oksida tertentu atau zat-zat
lainnya) dan membantu proses penyatuannya.
Coke : adalah bahan karbon padat yang berasal dari distilasi batubara rendah abu dan rendah
sulfur, batubara bitumen. Digunakan sebagai bahan bakar dan sebagai agen pereduksi dalam
peleburan bijih besi dalam blast furnace. Kokas ini digunakan untuk mengurangi oksida besi
(hematite) untuk mengumpulkan besi

Refractory : mineral yang tahan terhadap penguraian oleh panas, tekanan, atau serangan
kimia. Ini paling sering mengacu pada mineral yang mempertahankan kekuatan dan terbentuk
pada suhu tinggi. Refraktori digunakan untuk tungku, klin, insinerator, dan reaktor. Selain itu
juda digunakan untuk membuat cawan lebur dan cetakan untuk pengecoran kaca dan logam
untuk memaparkan siste deflektor api untuk struktur peluncuran roket. Saat ini, sektor besi
dan baja industri dan pengecoran logam menggunakan sekitar 70% dari semua refraktori
yang dihasilkan.

b. a. Primary Impurities adalah pengotor utama pada proses peleburan bijih.

b. Secondary Impurities adalah pengotor sampingan pada proses peleburan bijih.

6. a. Diagram Ellingham adalah grafik yang menunjukkan ketergantungan suhu stabilitas


untuk senyawa. Analisis ini biasanya digunakan untuk mengevaluasi kemudahan reduksi
oksida logam dan sulfida. Diagram Ellingham adalah diagram yang diplot berdasarkan ΔG vs
temperatur. Karena nilai ΔH dan ΔS pada dasarnya bersifat konstan terhadap temperatur
kecuali terjadi permubahan fasa, sehingga energi bebas Gibbs (ΔG) vs temperatur dapat
digambarkan sebagai persamaan garis lurus dengan ΔS sebagai gradien dan ΔH sebagai
konstanta. Perubahan gradien akan terjadi ketika terjadinya perubahan fasa pada material
yang meliputi pelelehan ataupun penguapan.

y = mx + c

di mana: y = ΔG; m = - ΔS; x = T; dan c = ΔH.

Energi bebas pembentukan pada kebanyakan oksida logam bernilai negatif, sehingga pada
diagram Ellingham digambarkan dengan garis ΔG = 0 pada sisi atas diagram. Sedangkan
temperatur di mana logam ataupun oksida logam mengalami pelelehan ataupun penguapan
ditandai dengan tanda berbeda pada diagram tersebut, seperti terlihat pada Gambar 2.
diagram ellingham

Gambar 2 Diagram Ellingham[3]

garis kesetimbangan nikel pada diagram ellinghamSeperti terlihat pada Gambar 2, diagram
Ellingham digambakan sebagai reaksi dari logam menjadi oksidanya. Tekanan parsial dari
oksigen disamakan menjadi 1 atm, dan semua reaksi diseragamkan sehingga hanya bereaksi
dengan satu mol oksigen.

Mayoritas dari gradien garis pada diagram Ellingham bernilai positif atau naik ke atas. Hal
tersebut terjadi karena fasa dari logam maupun oksidanya dalam bentuk fasa terkondensasi
(padatan atau cairan). Ketika terjadi reaksi antara gas dengan fasa terkondensasi dan
menghasilkan fasa terkondensasi lain yang berupa oksida logam, nilai dari entropi akan turun.
Salah satu contoh dari reaksi tersebut yaitu:

2Ni + O2 => 2NiO


Pada persamaan reaksi C + O2 => CO2, terjadi reaksi antara fasa solid dengan satu mol gas
dan menghasilkan satu mol senyawa dengan fasa gas, sehingga perubahan entropinya sangat
sedikit (ΔS ≈ 0) dan menghasilkan garis yang mendekati horizontal.

Gradien garis akan bernilai negatif jika perubahan entropinya bernilai positif. Contoh reaksi
yang mempunyai gradien garis negatif adalah

2C + O2 => 2CO

garis kesetimbangan karbon pada diagram ellinghamPada reaksi tersebut terjadi reaksi antara
fasa padat dengan gas kemudian menghasilkan 2 mol fasa gas, sehingga terjadi peningkatan
nilai entropi (ΣS produk > ΣS reaktan), maka ΔS bernilai positif, karena ΔS bernilai positif
maka gradien kemiringan garisnya bernilai negatif.

Posisi garis dari suatu reaksi pada diagram Ellingham menunjukan kestabilan oksida sebagai
fungsi dari temperatur. Reaksi yang berada pada bagian atas diagram adalah logam yang
bersifat lebih mulia (contohnya emas dan platina), dan oksida dari logam ini bersifat tidak
stabil dan mudah tereduksi. Semakin kebawah posisi garis reaksi maka logam bersifat
semakin reaktif dan oksida menjadi semakin stabil.

Suatu logam dapat digunakan untuk mereduksi oksida jika garis oksida yang akan direduksi
terletak diatas garis logam yang digunakan sebagai reduktor. Contoh, garis 2Mg + O2 =>
2MgO terletak dibawah garis Ti + O2 => TiO2, maka magnesium dapat digunakan untuk
mereduksi titanium oksida menjadi logam titanium.

Karbon merupakan bahan yang paling sering digunakan sebagai reduktor untuk mereduksi
oksida menjadi logamnya. Pada diagram Ellingham garis reaksi 2C + O2 => 2CO
mempunyai gradien yang negatif, sehingga data yang didapat dari perpotongan garis ini
dengan garis pembentukan oksida lainnya dapat dijadikan acuan untuk mereduksi oksida.
Contoh karbon dapat mereduksi kromium oksida menjadi kromium pada temperatur lebih
dari 1225°C.

Diagram Ellingham juga dapat digunakan untuk menentukan rasio antara CO dan
CO2 yang dibutuhkan untuk dapat mereduksi logam oksida menjadi logam. Selain itu
diagram ini dapat digunakan untuk mengetahui kesetimbangan dari tekanan partial oksigen
dari logam atau oksida saat temperatur tertentu.

b. Hubungan antara tabel periodik dengan diagram ellingham yaitu

1. Untuk meplot energi bebas sebagai fungsi temperatur untuk mengamati kondisi pada
reaksi redoks yang mungkin terjadi.
2. Untuk mengetahui titik leleh dan titik lebur dari mineral logam tersebut
3. Untuk mengetahui sifat kimia dari mineral logam yang akan dilebur.
c.