Anda di halaman 1dari 8

UJIAN TENGAH SEMESTER

Nama : Ulfa Nurul Yasmine

NPM/Kelas : 0117124033/Kelas Reg. B2-B

Mata Kuliah : Pelaporan Keuangan Syariah

Dosen : Radhi Abdul Halim R., S.E., M.M., AK., CA.

1. Jelaskan arti dari aktivitas usaha nonsyariah dan syariah serta sebutkan perbedaan lembaga
keuangan dan nonkeuangan syariah
Jawab:
Perbedaan lembaga keuangan dan nonkeuangan syariah dapat dilihat dari perbedaan Bank
Syariah dan Konvensional melalui tabel di bawah ini:

Aspek Bank Syariah Bank Konvensional


Hukum Syariah Islam berdasarkan Hukum positif yang berlaku
Al-Qur’an dan Hadist dan di Indonesia (Perdata dan
fatwa ulama (MUI) Pidana).

Investasi Jenis usaha yang halal saja Semua bidang usaha

Orientasi Keuntungan (profit oriented), Keuntungan (profit


kemakmuran, dan kebahagian oriented) semata
dunia akhirat

Keuntungan Bagi hasil Dari bunga

Hubungan Nasabah Kemitraan Kreditur dan debitur


dan Bank

Keberadaan Dewan Ada Tidak ada


Pengawas
2. Dilihat dari aspek syariah, kegiatan usaha Lembaga Keuangan Syariah yang satu tidak
beda dengan yang lain. Gambarkan serta beri penjelasan mengenai Alur Operasional
Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia
Jawab:

Dari gambar tersebut diatas dapat dijabarkan sebagai berikut:

a. Dalam penghimpunan dana bank syariah, yang diperhatikan bukan nama produknya
namun prinsip syariah yang dipergunakan, dimana saat ini mempergunakan dua
prinsip, yaitu prinsip wadiah yad dhamanah yang diaplikasikan pada giro wadiah dan
tabungan wadiah dan prinsip mudharabah mutlaqah yang diaplikasikan pada produk
deposito mudharabah dan tabungan mudharabah. Selain itu bank syariah juga
mempunyai sumber dana lain yang berasal dari modal sendiri. Semua penghimpunan
dana atau sumber dana tersebut dicampur menjadi satu, dalam bentuk pooling dana.
b. Dana bank syariah yang dihimpun, disalurkan dengan pola-pola penyaluran dana yang
dibenarkan syariah. Secara garis besar penyaluran bank syariah dilakukan dengan tiga
pola penyaluran, yaitu:
 Prinsip jual beli yang meliputi murabahah, salam dan salam paralel, istishna dan
istishna paralel,
 Prinsip bagi hasil yang meliputi pembiayaan mudharabah dan pembiayaan
musyarakah dan
 Prinsip ujroh yaitu ijarah dan ijarah muntahiayah bitamllik.

Oleh karena dana bank syariah dicampur menjadi satu dalam bentuk pooling dana,
maka dalam penyaluran tersebut tidak diketahui dengan jelas sumber dananya dari
prinsip penghimpunan dana yang mana, dari prinsip wadiah atau dari prinsip
mudharabah atau dari sumber dana modal sendiri.

c. Atas penyaluran dana tersebut akan diperoleh pendapatan yaitu dalam prinsip jual beli
lazim disebut dengan margin atau keuntungan dan prinsip bagi hasil akan
menghasilkan bagi hasil usaha serta dalam dalam prinsip ujroh akan memperoleh upah
(sewa). Pendapatan dari penyaluran dana ini disebut dengan
pendapatan operasi utama, merupakan pendapatan yang akan dibagi-hasilkan,
pendapatan yang merupakan unsur pembagian hasil usaha (profit distribution).
Disamping itu bank syariah memperoleh pendapatan operasi lainya yang berasal dari
pendapatan jasa perbankan, yang merupakan pendapatan sepenuhnya milik bank
syariah.
d. Dari pendapatan operasi utama yang penerimaannya benar-benar terjadi (cash basis)
inilah yang akan dibagi hasilkan antara pemilik dana dan pengelola dana. Secara
prinsip pendapatan yang akan dibagi hasilkan antara pemilik dana dengan pengelola
dana adalah pendapatan dari penyaluran dana yang sumber dananya berasal dari
mudharabah mutaqlah.
e. Pendapatan bank syariah tidak hanya dari bagian pendapatan pengelolaan dana
mudharabah saja tetapi ada pendapatan-pendapatan yang lain yang menjadi hak
sepenuhnya bank syariah, dimana pendapatan-pendapatan tersebut tidak dibagi
hasilkan antara pemilik dan pengelola dana (bank). Pendapatan- pendapatan tersebut
antara lain pendapatan yang berasal dari fee base income, misalnya pendapatan atas
fee kliring, fee transfer, fee inkaso, fee pembayaran payroll dan fee lain dari jasa
layanan yang diberikan oleh bank syariah.
3. Dalam melaksanakan akuntansi dikenal”prinsip akuntansi yang berlaku umum/general
accepted accounting principle/GAAP”.pada akuntansi syariah memiliki prinsip Akuntansi
Syariah yang berlaku Umum/General Accepted Sharia Accounting principle/GASAP.
a. Jelaskan perbedaan GAAP dengan GASAP!
b. Berikan contoh prinsip yang berlaku di akuntansi umum tidak dilaksanakan di
akuntansi syariah?

Jawab:

a. GASAP hampir sama dengan GAAP yang mengatur akuntansi konvensional,


perbedaan mendasar ada pada landasan dasar. Jika dalam GAAP, landasannya hanya
terdiri dari dua, yaitu Landasan Konseptual dan Landasan Operasional, sedangkan
GASAP memuat tiga landasan, yaitu Landasan Syari’ah, Landasan Konseptual, dan
Landasan Operasional di mana dimana landasan syari’ah GASAP adalah syariah yang
bersumber pada sumber hukum agama Islam, yaitu Al Quran, Al Hadist, Ijama, Qiyas,
dan Fatwa Ulama.
b. Beberapa prinsip akuntansi konvensional tidak sesuai dengan akuntansi syari’ah,
salah satunya adalah prinsip biaya historis (historical cost principle) yang menyatakan
bahwa asset, kewajiban, beban, keuntungan, kerugian, dinilai sebesar nilai perolehan.
Metode pengukuran beban dan kerugian konvensional adalah dalam pengertian biaya
historis bagi perusahaan. Prinsip ini tidak mungkin dipakai untuk menentukan
besarnya zakat karena penentuan zakat menggunakan nilai sekarang.

4. Tujuan akhir penyusunan akuntansi adalah diterbitkannya laporan keuangan?


a. Jelaskan unsur laporan keuangan pada Lembaga Keuangan Syariah?
b. Jelaskan perbedaan laporan keuangan syariah dan laporan keuangan umum?
Jawab:
a. Unsur-unsur laporan keuangan syariah:
 Aset
 Kewajiban
 Dana Syirkah Temporer
 Ekuitas
 Pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian
 Arus kas
 Dana zakat
 Dana kebajikan
b. Perbedaan laporan keuangan syariah dan laporan keuangan umum
1) Sudut Pelaporan
Laporan Keuangan Konvensional: Neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas,
laporan perubahan ekuitas, dan catatan atas laporan keuangan.
Laporan keuangan syariah: Neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, laporan
perubahan ekuitas, laporan perubahan dana investasi terkait, laporan rekonsiliasi
pendapatan dan bagi hasil, laporan sumber dana dan penggunaan dana zakat, serta
laporan dan penggunaan dana kebaikan, dan catatan atas laporan keuangan.
2) Akad dan Legalitas
Istilah akad dikenal sebagai kesepakatan kedua belah pihak terkait untuk
melaksanakan kewajiban mereka masing-masing. Syarat dan ketentuannya jelas
sudah disepakati dari awal secara rinci dan spesifik sehingga ketika salah satu
pihak tidak bisa memenuhi kewajibannya maka ia wajib menerima sanksi seperti
yang sudah disepakati. Ketentuan akad tersebut teridiri dari rukun dan syarat.
3) Organisasi
Dilihat dari segi organisasi, kehadiran Dewan Pengawas Syariah atau DPS
menjadi faktor pembeda antara perusahaan berbasis syariah dengan perusahaan
konvensional. Kehadiran DPS yang terdiri dari minimal 3 orang propesi ahli
hukum Islam ini bertanggung jawab dalam memberikan fatwa agama dan
mengawasinya bersama dengan Dewan Komisaris perusahaan yang
menggunakan basis syariah. Sedangkan dalam perusahaan konvensional tidak
dikenal adanya DPS maupun aturan-aturan yang merupakan bagian dari tanggung
jawab DPS itu.
4) Penyelesaian Sengketa
Adanya masalah akan diselesaikan secara berbeda oleh perusahaan dengan basis
konvensional serta basis syariah. Pada perusahaan berbasis syariah, adanya
masalah akan diselesaikan dengan aturan dan hukum syariah. Berbeda halnya
dengan perusahaan konvensional yang memilih menyelesaikan perkaranya di
pengadilan negeri. Lembaga yang mengatur hukum syariah di Indonesia ini
adalah Badan Arrbitrase Muamalah Indonesia atau BAMUI.
5) Usaha yang Dibiayai
Ada paradigma berbeda yang membedakan usaha konvensional dengan usaha
berbasis syariah. Usaha berbasis syariah akan menggunakan paradigma tersendiri
yang mana menekankan kepercayaan bahwa setiap aktivitas manusianya
memiliki nilai akuntabilitas dan ilahiah yang menempatkan akhlak serta
perangkat syariah sebagai parameter baik dan buruknya suatu aktivitas usaha.
Berbeda halnya dengan perusahaan konvensional yang tidak mengenal hal
semacam ini sebagai dasar pelaksanaan aktivitas bisnis mereka.

5. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis riba serta pengaruh riba pada umat manusia
Jawab:
Jenis riba:
1) Riba Nasiah (bersumber dari Al Quran)
Adalah riba yang muncul karena utang-piutang, riba nasi’ah dapat terjadi dalam segala
jenis transaksi kredit atau utang-piutang di mana satu pihak harus membayar lebih
besar dari pokok pinjamannya.
a. Riba Qardh, suatu tambahan atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan
terhadap yang berutang.
b. Riba Jahiliyyah, hutang yang dibayar melebihi dari pokok pinjaman, karena si
peminjam tidak mampu mengembalikan dana pinjaman pada waktu yang telah
ditetapkan.
2) Riba Fadhl (bersumber dari Al Hadist)
Adalah riba yang muncul karena transaksi pertukaran atau barter. Suatu penambahan
pada salah satu dari benda yang dipertukarkan dalam jual beli benda ribawi yang
sejenis (benda yang secara kasat mata tidak dapat dibedakan), atau perbedaan,
perubahan atau tambahan antara barang yang diserahkan saat ini dan barang yang
diserahkan kemudian.

Pengaruh riba pada manusia:

 Peminjam jatuh miskin karena dieksploitasi


 Menghalangi orang untuk melakukan usaha karena pemilik dapat menambah hartanya
dengan transaksi riba baik secara tunai maupun berjangka
 Terputusnya hubungan baik antar masyarakat dalam bidang pinjam meminjam
 Memberikan jalan bagi orang kaya untuk menerima tambahan harta dari orang miskin
yang lemah.
6. Jelaskan yang dimaksud dengan pasar modal, kriteria efek syariah, obligasi syariah dan
reksadana syariah
Jawab:
a. Pasar modal

Pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka
panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk utang, ekuitas (saham), instrumen
derivatif, maupun instrumen lainnya.

b. Kriteria efek syariah

Ada dua kriteria yang harus dipenuhi agar suatu efek dinyatakan sesuai syariah:

1) Kriteria jenis usaha, di mana entitas tersebut tidak melakukan kegiatan usaha:
 Perjudian dan permainan yang tergolong judi
 Perdagangan yang dilarang menurut syariah
 Jasa keuangan ribawi
 Jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian dan/atau judi
 Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan, dan/atau menyediakan
barang atau jasa haram zatnya, barang atau jasa haram bukan karena zatnya, dan
barang atau jasa yang merusak moral dan/atau bersifat mudarat
 Melakukan transaksi yang mengandung unsur suap
2) Kriteria rasio keuangan, yaitu memenuhi rasio-rasio keuangan yaitu:
 Total utang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset tidak lebih dari
45%; atau
 Total pendapatan bunga dan pendapatantidak halal lainnya dibandingkan dengan
total pendapatan usahadan pendapatan lain-lain tidak lebih dari 10%
c. Obligasi syariah
Obligasi syariah merupakan surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip
syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi syariah, yang mewajibkan
emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi
hasil/margin/fee serta membayar kembali dana obligasi saat jatuh tempo.
d. Reksadana syariah
Reksa dana syariah adalah reksa dana yang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip
syariah Islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai pemilik harta (shabib
al-mal/rabb al-maal) dengan manajer investasi sebagai wakil shabib al-mal, maupun
antara Manajer Investasi sebagai wakil shahib al-mal dengan pengguna investasi.
Reksa dana syariah merupakan sarana investasi campuran yang menggabungkan
saham dan obligasi syariah dalam satu produkyang dikelola oleh manajer investasi.

7. Pada perode sekarang ini Akutansi syariah di Indonesia telah memiliki acuan yaitu PSAK
Sebutkan dan jelaskan PSAK berapa dan jelaskan
Jawab:
 PSAK No. 59 – Akuntansi Perbankan Syariah
 PSAK No. 101 – Penyajian Laporan Keuangan Syariah
 PSAK No. 102 – Akuntansi Murabahah
 PSAK No. 103 – Akuntansi Salam
 PSAK No. 104 – Akuntansi Istisna
 PSAK No. 105 – Akuntansi Mudharabah
 PSAK No. 106 – Akuntansi Musyarakah
 PSAK No. 107 – Akuntansi Ijarah
 PSAK No. 108 – Akuntansi Transaksi Asuransi Syariah
 PSAK No. 109 – Akuntansi Zakat dan Infaq/Sedekah

PSAK 59 hanya untuk BUS, BPRS, Cabang syariah dan bank konvensional, entitas lain
seperti asuransi dll belum. PSAK 59 kemudian direvisi dan disempurnakan dan disahkan
oleh DSAK tahun 2007. PSAK 101 s/d 109 dipergunakan mulai tahun buku 2008. Saat ini
sedang dipersiapkan ED PSAK 110.