Anda di halaman 1dari 7

METODELOGI PENELITIAN AKUNTANSI

EKA 400 BP
“ SAP 4 ”

Oleh Kelompok 2:

Ni Putu Arlita Ekayanti (1606531069 / 07)

Ni Kadek Lisa Irawari (1607531151 / 29)

Ni Kadek Jeshi Dwivayani (1607531156 / 31)

Ni Luh Putu Trisna Dewi (1607531175 / 34)

Disampaikan Kepada :
Dr. Ni Made Dwi Ratnadi, S.E., M.Si., Ak. CA.

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2018
4.1 SUMBER SUMBER MASALAH PENELITIAN

Masalah dapat berasal dari berbagai sumber. Menurut James H. MacMillan dan Schumacher
(Hadjar, 1996: 40-42), masalah dapat bersumber dari observasi, dedukasi dari teori, ulasan
kepustakaan, masalah sosial yang sedang terjadi, situasi praktis dan pengalaman pribadi. Masing-
masing dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Observasi

 Observasi merupakan sumber yang kaya masalah penelitian. Kebanyakan


keputusan praktis didasarkan atas praduga tanpa didukung oleh data empiris.

2. Dedukasi dari teori

 Teori merupakan konsep-konsep yang masih berupa prinsir-prinsip umum yang


penerapannya belum dapat diketahui selama belum diuji secara empiris.

3. Kepustakaan

 Hasil penelitian mungkin memberikan rekomendasi perlunya dilakukan penelitian


ulang (replikasi) baik dengan atau tanpa variasi. Replikasi dapat meningkatkan
validitas hasil penelitian dan kemampuan untuk digeneralisasikan lebih luas.

4. Masalah sosial

 Masalah sosial dapat pula menjadi sumber masalah penelitian. Misalnya:


seringnya menjadi perkelahian siswa antar sekolah dapat memunculkan
pertanyaan tentang efektivitas pelaksanaan pendidikan moral dan agama serta
pembinaan sikap disiplin. Banyaknya pengangguran lulusan perguruan tinggi
menimbulkan pertanyaan tentang kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan
masyarakat.

5. Situasi praktis

 Dalam pembuatan keputusan tertentu, sering mendesak untuk dilakukan


penelitian evaluatif. Hasil sangat diperlukan untuk dijadikan dasar pembuatan
keputusan lebih lanjut.

1
6. Pengalaman pribadi

 Pengalaman pribadi dapat memunculkan masalah yang memerlukan jawaban


empiris untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam.(Purwanto,
M.pd:109-111)

4.2 KRITERIA PEMILIHAN MASALAH PENELITIAN

Setiap orang yang akan melakukan penelitian ilmiah, terlebih dahulu harus
mengidentifikasi masalah yang akan diteliti. Mengidentifikasi dan merumuskan masalah
merupakan hal yang sangat penting, karena rumusan masalah harus disesuaikan dengan jenis
penelitian yang akan dilakukan. Misalnya penelitian kuantitatif, kualitatif, studi pustaka,
eksperimen, historis dan lain sebagainya.

Ada beberapa jenis penelitian dengan masing-masing karakteristik permasalahannya, akan


tetapi secara garis besar ada beberapa karakteristik yang harus diperhatikan dalam
mengidentifikasi suatu rumusan masalah penelitian ilmiah, yaitu sebagai berikut :

1. Sukardi mengemukakan bahwa“ciri-ciri permasalahan yang baik serta layak untuk


diteliti di antaranya yaitu dapat diteliti, mempunyai manfaat teoritis maupun manfaat
praktis, dapat diukur, sesuai dengan kemampuan dan keinginan peneliti”.
2. Menurut Tuckman (1999) dalam Setyosari Punaji, bahwa suatu masalah yang dipilih
harus memiliki ciri-ciri khusus (karakteristik) sebagai berikut :
Masalah menanyakan dua atau lebih variable, dinyatakan atau dirumuskan secara
jelas dan tidak ambigius, dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan (atau, kalau
tidak, dalam bentuk suatu pernyataan secara implisit seperti : tujuan penelitian ini
adalah ingin menentukan apakah …), dapat diuji melalui metode empiris; artinya
adanya kemungkinan pengumpulan data untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang ditanyakan, dan masalah tidak menyangkut moral dan etika.
Berdasarkan pendapat tersebut di atas, kami dapat menyimpulkan bahwa kriteria memiliki ciri-
ciri sebagai berikut :
1. Masalah menanyakan dua atau lebih variabel.
2. Masalah dinyatakan atau dirumuskan secara jelas dan tidak ambigius
3. Masalah dapat didukung dengan data empiris.

2
4. Masalah tidak menyangkut moral dan etika
5. Sesuai dengan keinginan dan kemampuan peneliti.
6. Dapat bermanfaat bagi peneliti dan masyarakat.
Seorang peneliti dalam merumuskan masalah harus menetapkan dua variabel atau lebih yang
akan dijadikan obyek formal penelitian, sehingga arah dan sasaran penelitian akan menjadi jelas,
dan hal ini sangat penting untuk menentukan instrument penelitian yang akan dipergunakan
dalam melakukan pendekatan untuk memperoleh data maupun untuk pengukuran.

4.3 PEDOMAN PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN

Berdasarkan level of explanation , suatu gejala, maka secara umum terdapat tiga bentuk rumusan
masalah, yaitu rumusan masalah deskriptif, komparatif dan assosiatif.

1. Rumusan masalah deskriptif; Adalah suatu rumusan masalah yang memandu peneliti
untuk mengeksplorasi dan atau memotret situasi sosial yang akan diteliti secara
menyeluruh, luas dan mendalam.
2. Rumusan masalah komparatif; Adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk
membandingkan antara konteks sosial atau domain satu dibandingkan dengan yang lain.
3. Rumusan masalah assosiatif atau hubungan; Adalah rumusan masalah yang memandu
peneliti untuk mengkonstruksi hubungan antara situasi sosial atau domain satu dengan
yang lainnya. Rumusan masalah ini dibagi tiga:
a. Hubungan simetris Adalah hubungan suatu gejala yang munculnya bersamaan
sehingga bukan merupakan hubungan sebab akibat atau interaktif.
b. Kausal Adalah hubungan yang bersifat sebab akibat.
c. Reciprocal atau interaktif adalah hubungan yang saling mempengaruhi dalam
penelitian kualitatif hubungan yang diamati atau ditemukan adalah hubungan yang
bersifat reciprocal atau interaktif

4.4 VARIABEL PENELITIAN

Menurut Suharsimi Arikunto (1998: 99), variabel penelitian adalah objek penelitian atau
apa yang menjadi perhatian suatu titik perhatian suatu penelitian. Bertolak dari pendapat para
ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa variabel penelitian adalah suatu atribut dan sifat atau

3
nilai orang, faktor, perlakuan terhadap obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Variabel dapat dikelompokkan menurut beragam cara, namun terdapat tiga jenis tiga jenis
pengelompokkan variabel yang sangat penting dan mendapatkan penekanan. Karlinger, (2006:
58) antara lain:

1. Variabel bebas dan variabel terikat


Variabel bebas sering disebut independent, variabel stimulus, prediktor, antecedent.
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab
perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Variabel terikat atau dependen atau disebut
variabel output, kriteria, konsekuen, adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi
akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel terikat tidak dimanipulasi, melainkan
diamati variasinya sebagai hasil yang dipradugakan berasal dari variabel bebas. Biasanya
variabel terikat adalah kondisi yang hendak kita jelaskan.

2. Variabel aktif dan variabel atribut

Variabel aktif adalah variabel bebas yang dimanipulasi. Sebarang variabel yang
dimanipulasikan merupakan variabel aktif. Variabel atribut adalah yang tidak dapat
dimanipulasi atau kata lain variabel yang sudah melekat dan merupakan ciri dari subyek
penelitian. Perbedaan variabel aktif dan variabel atribut ini bersifat umum. Akan tetapi
variabel atribut dapat pula menjadi variabel aktif. Ciri ini memungkinkan untuk
penelitian relasi “yang sama” dengan cara berbeda.

3. Variabel kontinu dan variabel kategori

Sebuah variabel kontinu memiliki sehimpunan harga yang teratur dalam suatu cakupan
(range) tertentu. Arti defenisi ini ialah:

a. Harga-harga suatu variabel kontinu mencerminkan setidaknya suatu urutan peringkat.


Harga yang lebih besar untuk variabel itu berarti terdapatnya lebih banyak sifat
tertentu (sifat yang dikaji) yang dikandungnya, dibandingkan dengan variabel dengan
harga yang lebih murah. Misalnya, harga-harga yang diperoleh dari suatu skala untuk

4
mengukur ketergantungan (depedensi) mengungkapkan ketergantungan dengan kadar
yang berbeda-beda, yakni mulai dari tinggi, menengah/sedang, sampai rendah.
b. Ukuran-ukuran kontinu dalam penggunaan nyata termuat dalam suatu range, dan tiap
individu mendapatkan skor yang ada dalam range tersebut.

4.5 PERTANYAAN PENELITIAN


a. Pertanyaan Manajemen
Begitu seorang peneliti mempunyai masalah jelas mengenai yang permasalahan
manajer,dia harus menjadi menerjemahkannya permasalahan penelitian, yakni
permasalahan pengumpulan informasi. Sebagaimana ditunjukkan diatas mungkin ada
sejumlah cara yang berbeda untul€ mengamatkan setiap permasalahan manajemen.
Disinilah titik dimana pemahaman dan keahlian peneliti bermain. Hal ini juga merupakan
titik dimana keputusan manajer merubakan hal yang paling penting. Pemilihan penelitian
yang keliru untuk permasalahan yang benar bisa jadi berbahaya.
b. Pertanyaan Investigatif
Pertanyaan investigatif adalah pertanyaan dimana peneliti harus menjawab secara
memuaskan pertanyaan penelitian secara umum. Tujuan kita adalah untuk menangani
pertanyaan penelitian yang lebih umum dan memecahnya menjadi pertanyaan yang lebih
khusus
c. Pertanyaan Pengukuran
Pengukuran adalah pertanyaan pertanyaan yang sebenarnya diajukan kepada responden.
Pertanyaan tersebut muncul dalam kuisioner, Dalam studi observasi, pertanyaan
pengukuran adalah pertanyaan yang harus dijawab oleh para peneliti mengenai setiap
subyek yang diteliti.

5
DAFTAR PUSTAKA

Kuncoro, Mudrajad. 2003. Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi . Jakarta: Erlangga
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Bisnis . Bandung: ALFABETA
http://mahasiswauniramalang.blogspot.com (kamis, 13/09/18 20:53)

http://menzour.blogspot.com/2016/11/makalah-masalah-dan-rumusan-masalah.html
(selasa,18/9/18 12.25)

https://www.coursehero.com/file/p7n61so/4-3-Pedoman-Merumuskan-Masalah-Penelitian-
Fraenkel-dan-Wallen-199022-dalam/ (selasa,18/9/18 13.50)