Anda di halaman 1dari 43

Pengertian Brahma Widya.

Kedudukan Brahma Widya [ilmu pengetahuan tentang kesejatian Brahman/Ida Sang Hyang Widhi
Waça] dalam agama Hindu adalah sangat mendasar dan urgen. Dalam pustaka Brahma Sutra I.1.1
diuraikan bahwa jalan untuk mencapai moksah/nirwana adalah dengan mengenal Brahman/Ida Sang
Hyang Widhi Waça secara tepat dan baik. Apabila ditinjau secara etimologi, Brahma Widya berarti
ilmu yang mempelajari tentang kesejatian Brahman/Ida Sang Hyang Widhi Waça dalam segala
aspek-Nya.

Guna memahami “keberadaan” beliau serta segala sesuatu tentang-Nya, satu-satunya jalan yang
harus ditempuh adalah dengan mendalami pustaka-pustaka suci. Pernyataan “Sāstrayonitwat”
(Brahma Sutra I.1.3) menegaskan bahwa “Pustaka Suci Weda dan Sastera Agama”-lah yang
merupakan sumber utama untuk dapat memahami-Nya. Pernyataan itulah yang menjadi pegangan
teguh dan diyakini tanpa reserve oleh setiap pribadi Hindu, karena kenyataannya memang tidak
dapat dibantah.

B. Penghayatan Terhadap Brahman/Sang Hyang Widhi Waça.

Berbagai model yang dapat dilihat dalam kehidupan beragama untuk menghayati dan menunjukan
rasa bhakti dari setiap kelompok keyakinan kepada yang diyakini sebagai kausa prima. Berikut ini
adalah beberapa model termaksud:

1. Animisme.

Model keyakinan dalam Animisme adalah bahwa setiap yang ada di alam raya ini adalah mempunyai
jiwa/roh. Roh adalah wujud non fisik yang senantiasa hidup sepanjang alam raya ini ada. Demikian
juga bahwa setiap satu kesatuan wilayah ada roh yang bertanggung jawab, melindungi, menata dan
mengatur wilayah tersebut.

Karena roh sifatnya permanen, maka setiap orang wajib dan sangat menghormati roh leluhurnya
serta roh para tokoh yang ada di lingkungannya. Mereka (para roh leluhur) diyakini senantiasa akan
menuntun, membimbing dan mengarahkan para keturunannya (sang prati-sentana) sehingga
menemukan kebahagiaan hidup.

-1-
-2-

2. Dynamisme.

Merupakan suatu keyakinan akan adanya roh-roh suci, benda-benda dan tempat-tempat sakral.
Bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini adalah berjiwa (memiliki kekuatan). Di atas segala jiwa,
ada “jiwa tertinggi/jiwa utama”. Dari keyakinan akan adanya roh-roh suci dan benda-benda serta
tempat-tempat sakral ini, memunculkan adanya aktivitas perawatan terhadap benda-benda tersebut
dan perawatan terhadap tempat-tempat khusus di masing-masing wilayah.

3. Polytheisme.

Suatu keyakinan yang mengakui adanya banyak tuhan, dimana masing-masing tuhan mempunyai
sifat sendiri-sendiri. Penganut Polytheisme dalam memuja tuhan sering dan pasti melakujan
perpindahan dari satu tuhan ke tuhan yang lain apabila ybs. beralih profesi. Oleh Max Muller
(pemimpin kaum missionaris Jerman), karena kebingungannya dalam memahami konsep-konsep
pemikiran pada pustaka suci Reg Weda, model demikian disebut Kathenoisme.

Ciri-ciri umum dari model penghayatan secara Polytheisme ada beberapa macam, seperti:

a. Dalam melakukan pemujaan, digunakan nyanyian dari berbagai bentuk ucapan pemujaan yang
tersusun dalam model puisi/syair-syair. Juga digunakan musik, gamelan dan tari-tarian, sehingga
pemujaan menjadi menyentuh seluruh perasaan, dan menekankan kepada rasa keindahan.

b. Aktifitas pemujaan kepada tuhan tidak bersifat formalitas dan uniformitas, melainkan
menekankan kepada kepuasan bathin masing-masing pemuja.

c. Masyarakat penganut pada masing-masing tempat melakukan pemujaan dengan caranya


sendiri-sendiri serta menggunakan sarana-sarana yang berbeda sesuai dengan yang tersedia di
daerah masing-masing. Namun, secara keseluruhan memiliki prinsip dasar yang sama yakni
memohon dan mencapai kesucian serta ketentraman hidup.

d. Model penghayatan Polytheisme menjamin adanya penghayatan dengan penuh kreatif, penuh
daya imaginasi, daya seni, sastera, serta senantiasa terbuka dalam menerima berbagai perubahan
dan kemajuan zaman, namun identitas inti yang terdapat pada dirinya tetap dipertahankan.

e. Simbol-simbol keagamaan diberikan berkembang secara luas dan optimal sehingga kehidupan
beragama menjadi demikian semarak. Imaginasi para penganut juga diberi kesempatan luas untuk
maju dan berkembang, tetapi tetap terarah dan mantap.
-3-

4. Monotheisme.

Model ini menekankan akan adanya keyakinan terhadap satu tuhan. Keyakinan model ini dapat
dibedakan menjadi dua macam yang antara satu dengan yang lain sangat bertolak belakang, yakni:

a. Monotheisme Absolut.

Model ini bercirikan:

- Tuhan berwujud tunggal dan bersifat personal/individu serta memiliki jenis kelamin laki-laki.

- Dalam pemujaan selalu dituakan, harus dipuja dengan sebutan bapak, tidak boleh dipuja
sebagai: kakak, teman, adik, ibu, dan sejenisnya.

- Memiliki tempat sendiri, yaitu sorga. Ia dapat pergi kemana-mana tetapi tempat tinggal yang
tetap adalah sorga.

- Merupakan raja yang berkuasa penuh atas sorga dan dunia; juga penguasa atas segala takdir.

- Raja ini harus selalu disembah dan dipuja. Manusia harus sering dan taat menyembah dan
menghormatinya sehingga sang raja menjadi puas, dan manusia harus senantiasa takut kepadanya.

- Manusia harus hanya menyembahnya, tidak boleh menyembah yang lain. Apabila menyembah
yang lain, berarti penghianatan terhadap kerajaan-Nya. Bila hal ini terjadi, maka tuhan akan
menghukum dan menjebloskannya ke neraka.

- Tuhan mempunyai musuh/saingan abadi yakni Setan/Kuasa Kegelapan. Karena itu akan selalu
terjadi persaingan antara kedua kekuatan tersebut dalam memperebutkan manusia. Apabila
manusia mau dikuasai oleh setan, maka tuhan akan murka dan pada akhirnya manusia akan
dijebloskan ke neraka abadi.

- Kehendak tuhan di sorga, agar diketahui oleh manusia, maka dikirim para rasul. Manusia harus
menuruti kehendak tersebut, apabila menentang atau menyimpang, maka akan dijebloskan ke
neraka.

b. Monotheisme Non Absolut.

Model ini menunjukkan ciri-ciri:

- Tuhan adalah tunggal, tetapi boleh dipuja dalam banyak nama serta boleh diposisikan sebagai
ayah, ibu, guru, pemimpin, teman, kekasih, kakak, dan sejenisnya.
-4-

- Tuhan yang tunggal memiliki berbagai manifestasi atau perwujudan. Fungsi perwujudan adalah
agar para penyembahnya dapat menghayati keberadaan beliau.

- Tuhan tidak menentukan segalanya, beliau hanya menguasai beberapa takdir saja, seperti: umur
planet, gerakan alam, pertumbuhan mahluk, dsb.

- Tuhan tidak mempunyai musuh abadi, juga tidak murka apabila manusia melakukan
penyimpangan. Tuhan hanya memantulkan apa adanya seperti apa yang dilakukan mahluk
ciptaannya (ibarat cermin).

- Manusia menjadi baik atau jahat, cerdas atau bodoh, kaya atau miskin, dan sejenisnya
tergantung dari dirinya sendiri. Bukan karena rayuan setan, cobaan dari tuhan, bukan pula karena
takdir tuhan.

- Manusia masuk sorga atau jatuh ke dalam neraka juga karena dirinya sendiri, bukan karena
hukuman dari tuhan.

- Tuhan mengayomi seluruh ciptaannya dengan penuh kasih sayang. Beliau bersifat netral ibarat
cermin datar memantulkan setiap bayangan yang ada di depannya.

5. Pantheisme.

Konsepsi ketuhanan pada model ini menyatakan bahwa jiwa yang terdapat pada setiap mahluk pada
akhirnya akan kembali kepada tuhan (manunggaling kawula lan Gusti). Selain itu, tuhan juga mau
mengambil perwujudan dalam berbagai bentuk duniawi, bukan saja sebagai manusia, tetapi juga
sebagai manusia setengah binatang, sebagai binatang, bahkan sebagai tumbuh-tumbuhan.

Ada tiga macam perwujudan umum yang dipakai oleh tuhan, seperti:

a. Anthrophomorphes; tuhan mengambil wujud sebagai manusia super, yakni manusia dengan
berbagai kelebihan/keistimewaan, seperti: sangat sakti, dapat memurti, melakukan hal-hal diluar
kemampuan manusia biasa, dsb.

b. Semi Anthrophomorphes; tuhan mengambil wujud setengah atau sebagian manusia sebagian
binatang, seperti: Narasimha, Ganeça, dsb.

c. Unanthrophomorphes; tuhan mengambil wujud penuh sebagai binatang atau sebagai tumbuh-
tumbuhan, seperti: Kurma Awatara, Matsya Awatara, Soma, dsb.

6. Henotheisme.

Model ini menyatakan bahwa dewa yang banyak itu adalah tunggal adanya, dan yang tunggal itu
adalah banyak adanya.
-5-

Ciri-ciri dari konsep model ini adalah:

a. Tuhan ada pada posisi: paling tinggi, paling mulia, paling utama dan seluruh alam beserta
isinya menyatu dengannya.

b. Tuhan merupakan perwujudan keindahan dan kemegahan seluruh alam, termasuk kebajikan
dan kemuliaan yang terdapat dalam diri manusia.

c. Pemujaan dilakukan dalam bentuk yang maha utama dalam usaha menggambarkan kemaha-
kuasaan tuhan, walaupun nama-nama tuhan yang digunakan berbeda-beda.

d. Keberadaan tuhan adalah dalam posisi netral dan memenuhi seluruh alam yang ada.

e. Dewa yang banyak itu adalah satu, sehingga tidak ada kontradiksi dalam penampilan satu
dewa terhadap dewa yang lain. Yang ada hanyalah perbedaan tugas masing-masing.

f. Dalam kehidupan beragama senantiasa disertai nilai-nilai keindahan dan kesemarakan.

7. Monisme.

Konsep ini menjelaskan bahwa tuhan adalah tunggal, tetapi melingkupi seluruh alam ini. Tuhan juga
adalah inti dan kesejatian dari segala yang ada. Segala yang ada muncul dari tuhan.

“Sarwam khalu idam Brahman” (Bŗhad Aranyaka Upanisad), artinya bahwa segalanya ada dalam
tuhan dan tuhan ada dalam segalanya. Tuhan ada pada setiap mahluk, apapun jenis mahluk itu.
Sebaliknya, seluruh mahluk, apapun jenisnya, ada/hidup dalam tuhan.

8. Atheisme.

Konsep ini merupakan kelanjutan dari Monisme. Ia menyatakan tuhan ada dalam diri sendiri. “Diri”
inilah tuhan, tetapi “diri” di sini tidak menunjuk badan wadag, melainkan atman yang sudah
mencapai kesadaran optimal (setara dengan Brahman). Saat inilah berlaku “Aham Brahman Asmi”
(aku adalah Brahman), “Brahman Atman aikyam”.(Brahman dan Atman adalah tunggal), atau “Ayam
Atman Brahman” (Atman ini adalah Brahman).

Atheisme dalam hal ini tidak sama dengan atheisme komunis dari Karl Mark (tidak percaya akan
adanya tuhan). Di sini atheisme artinya tidak bertuhan/perlu lagi mencari tuhan, karena ybs. telah
sampai kepada tuhan.
-6-

Dari semua
model/paham/isme yang telah disebutkan dapat digambarkan bahwa posisi ajaran Hindu seperti
berikut:

Hindu

Animisme Dynamisme

Monotheisme

Pantheisme
Monisme

Henotheisme

Polytheisme

Atheisme

C. Pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Waça.

Pemujaan dilakukan terhadap Brahman/Ida Sang Hyang Widhi dilakukan dalam dua model, yakni:

1. Trancendental  Nirguna Brahman (Impersonal God).

Sang Hyang Widhi Waça dipuja/dihayati dalam posisi “acintyarūpa” artinya diluar daya
jangkau/kemampuan pikir manusia. Sang Hyang Widhi Waça: serba maha, serba bukan, serba
seluruh, dsb. Serba di luar daya jangkau pikir manusia maupun mahluk lain, yang dalam teks Kawi
dinyatakan “tan kagrahita dening manah mwang indriya”. [Reg Weda X.90.1].

2. Immanen  Saguna Brahman (Personal God).

Sang Hyang Widhi Waça dipuja/dihayati dalam posisi berwujud sehingga dapat dijangkau oleh rasa
atau daya pikir manusia. Dalam posisi ini beliau dipuja dengan menggunakan berbagai gelar/nama
“nāmarūpa”. Beliau dipuja dalam seribu gelar/nama “sahasranāma” [Reg Weda I.164.46]. Pemujaan
model ini disebut “Saguna Upāsana”.

Beberapa gelar diantaranya:

a. Sang Hyang Acintya = Ia yang tak terpikirkan.

b. Sang Hyang Jagatnatha = Ia yang menjadi raja segala raja.

c. Sang Hyang Jagatkarana = Ia yang menyebabkan adanya alam raya.


d. Sang Hyang Paramakawi = Ia yang maha penyusun/pengarang.
-7-

e. Sang Hyang Parama Wisesa = Ia yang penguasa utama.

f. Sang Hyang Pramesti Guru = Ia yang guru segala guru.

g. Sang Hyang Taya = Ia yang tanpa panca indriya.

h. Sang Hyang Tri Purusha = Ia yang memiliki tiga kesucian tertinggi.

i. Sang Hyang Tri Murti = Ia yang memiliki tiga wujud utama.

j. Sang Hyang Tri Lokasarana = Ia yang menjadikan adanya Tri Loka.

k. Sang Hyang Prajapati = Ia yang menjadi raja semua mahluk.

l. Sang Hyang Tuduh = Ia yang maha mengatur.

m. Sang Hyang Tunggal = Ia yang satu-satunya.

n. Sang Hyang Wenang = Ia yang maha menentukan.

o. Sang Hyang Widhi Waça = Ia yang maha kuasa.

D. Prabhawa dan Mahluk Ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Waça.

1. Prabhawa Sang Hyang Widhi Waça.

Dalam Reg Weda III.55.1 dan dalam Weda Parikrama, maupun dalam pustaka-pustaka lain
khususnya yang menganut model Śaiva Siddhānta, prabhawa Ida Sang Hyang Widhi ada 7 macam.
Perinciannya seperti berikut:

Sapta Loka Sapta Prabhawa Sapta Atman

7. Satya Loka  Sang Hyang Parama Siwa  Sunya Atman

6. Tapa Loka  Sang Hyang Sadha Siwa  Niskala Atman

5. Jana Loka  Sang Hyang Siwa  Adhi Atman

4. Maha Loka  Sang Hyang Mahadewa  Nir Atman

3. Swah Loka  Sang Hyang Iswara  Para Atman

2. Bhuwah Loka  Sang Hyang Wisnu  Antar Atman

1. Bhūr Loka  Sang Hyang Brahma  Jiwa Atman

2. Mahluk-Mahluk Ciptaan Sang Hyang Widhi Waça.

Mahluk-mahluk ciptaan Brahman/Ida Sang Hyang Widhi Waça ada tiga macam, yakni:

I. D e w a.
II. M a n u s i a.

III. B h u t a k a l a:

a. Bhutakala Sekala (Hewan dan Tumbuh-tumbuhan).

b. Bhutakala Niskala (Raksasa, Paisaca, Asura, Krikara, Yatudhana, Naga, dsb.).

IV. Mahluk Peralihan:

a. Gandharwa.

b. Apsara [Widyādharā/ Widyādharī].

c. Kinnara/Kinnari.
-8-

I. D E W A.

A. Pembahasan Umum.

Dewa ada 2 macam, yakni: Dewa Prabhawa (dewa yang merupakan perwujudan atau manifestasi
dari Ida Sang Hyang Widhi Waça) [Reg Weda III.55.1; Nirukta VII.4; Yajur Weda XL.17; Weda
Parikrama]. Yang kedua, adalah Dewa Ciptaan (dewa yang sengaja diciptakan oleh Ida Sang Hyang
Widhi Waça guna melaksanakan tugas-tugas tertentu) [Reg Weda X.90.3; Reg Weda X.129.6; Ath.
Weda X.7.27; M.Dh. I.22].

Dewa ciptaan bukan perwujudan/manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Waça, melainkan mahluk
ciptaan sebagaimana halnya mahluk lain. Tubuhnya disusun oleh bahan-bahan yang sama dengan
mahluk ciptaan lainnya, yakni Panca Maha Bhuta: perthiwi/tanah, apah/air, teja/api/sinar,
bayu/angin, dan akasa/ruang kosong berkekuatan.

Tubuh Dewa dominant tersusun oleh unsur “div” (teja/sinar), karena itu dewa dikenal juga dengan
sebutan “mahluk sinar atau mahluk bersinar”.

Sebagai mahluk ciptaan, dewa memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan dewa:

1) Nirjara (tidak mengalami umur tua).

2) Sakti (mempunyai kekuatan istimewa).

3) Gerak dan kerjanya serba cepat.

4) Bisa Nyuti Rupa (berubah wujud).

5) Bisa Nyepih Raga (menduplikasi diri).

6) Cara kerjanya sangat professional/mengkhusus.

Kekurangan dewa:

1) Sulit diatur.

2) Tidak senang dan tidak mau diperintah.

3) Sangat senang apabila dimohoni.

4) Hanya mau mengerjakan satu hal saja.

B. Perincian Dewa Ciptaan.

Diantara semua loka dari Sapta Loka yang terdapat dewa ciptaan hanya di Tri Loka/Tri Bhuwana.
Mereka memiliki tugas sendiri-sendiri. Jumlahnya adalah 3.339 dewa [Reg Weda III.9.9; Reg Weda
X.52.6].
Dari jumlah sebanyak 3.339 dewa, yang cukup penting diantaranya adalah 33 dewa [Reg Weda
I.34.11; Rdg Weda I.52.2; Reg Weda I.139.11; Reg Weda III.6.9; Brihad Aranyaka Up. III.9.1; Yaj Weda
XIV.31; Atharwa Weda X.7.27; Ath Weda X.7.23; Ath Weda X.7.27; Satapatha Brahmana XIV.5].
”Penting”, artinya sering dihubungi oleh manusia, karena memegang hal-hal yang banyak
berhubungan dengan kebutuhan atau kehidupan manusia.

Diantara 33 dewa, ada 11 dewa yang sangat penting [Reg Weda VIII.57.2; Wisnu Purana 15; Amsa
Purana 1]. Dari 11 dewa tersebut, yang lebih penting lagi ada 9 dewa.
-9-

Perincian yang 9 (sembilan) itu disebut “Dewa Asta Dikpalaka” (penanggung jawab 8 penjuru angin +
1 di tengah/poros). Dalam pustaka Jawa Kuna maupun lontar-lontar di Bali disebut “Dewata Nawa
Sanga” [Reg Weda X.36.14; Prasna Up. VI.5-6]. Diantara 9 dewa, yang paling penting karena tiap hari
dihubungi oleh manusia, khususnya mereka yang tergolong Grihasthin, ada 5 dewa. Ini disebut
“Sang Hyang Panca Dewata” [Reg Weda X.36.14].

C. Aksara Jendra, Tugas, Pasuk Wetu, dan Sesaji untuk Sang Hyang Panca Dewata.

Perincian Sang Hyang Panca Dewata beserta segala hal yang berkaitan dengan beliau seperti berikut:

a. Sang Hyang Sadhyajata:

 Aksara Jendra  : Sang

Nama  : Sang Hyang Sadhyajata/Indra Bhalaka.

 Bhuwana Agung  : Penjaga ufuk timur.

 Bhuwana Alit  : Pepusuhan/jantung.

 Tempat Suci Umum  : Penanggung jawab Uttama Mandala.

 Tri Kahyangan Desa  : Tidak bertugas.

 Rumah Keluarga Hindu  : Penjaga Pekarangan.

 Tugas Lain  : Penanggung jawab bendungan, sawah, pengatur karang angker,


dan pelindung segala jenis binatang piaraan.

 Pasuk Wetu  : Ibu jari tangan kiri/Putih mata kanan kiri.

Wahana  : Sang Bhuta Bhucari

 Warna Bunga Sesaji  : dominan putihSweta Warna (warna putih).

 Warna Nasi Segehan  : Warna Putih.

 Sesaji Inti Wetonan  : Ketupat Dampul.

b. Sang Hyang Bhamadewa:

 Aksara Jendra  : Bang

Nama  : Sang Hyang Bhamadewa.

 Bhuwana Agung  : Penjaga ufuk selatan.

 Bhuwana Alit  : Ati/hati.

 Tempat Suci Umum  : Apit Surang/Candi Bentar (Dwaraphala).


 Tri Kahyangan Desa  : Tidak bertugas.
-9A-

Denah Pekarangan & Rumah Menurut Pustaka Asta Kosala Kosali.


U

A 1
$3Cbr clear="ALL" />

2
C

Keterangan:

A = Uttama Mandala 1 = Tugu/Penglurah

B = Madya Mandala 2 = Lebuh/Angkul-angkul

C = Kanista Mandala 3 = Pelinggih Halaman

4 = Taksu

5 = Pelangkiran.
-10-

 Rumah Keluarga Hindu  : Penjaga Angkul-angkul (Gerbang keluar).

 Tugas Lain  : Penanggung jawab gunung, hutan, marga agung, catus pata,
penguasa segala kayu.

 Pasuk Wetu  : Telunjuk tangan kiri/Merah mata kanan kiri.

Wahana  : Sang Durgha Bhucari.

 Warna Bunga Sesaji  : Rakta warna (warna merah).

 Warna Nasi Segehan  : Warna merah.

 Sesaji Inti Wetonan  : Ketupat Galeng.

c. Sang Hyang Tatpurusha:

 Aksara Jendra  : Tang

Nama  : Sang Hyang Tatpurusha.

 Bhuwana Agung  : Ufuk Barat.

 Bhuwana Alit  : Ungsilan/pancreas.

 Tempat Suci Umum  : Penanggung jawab Madya Mandala.

 Tri Kahyangan Desa  : Penanggung jawab Pura Puseh.

 Rumah Keluarga Hindu  : Penjaga Halaman.

 Tugas Lain  : Penanggung jawab tegal/kebun.

 Pasuk Wetu  : Jari manis kiri/Kuning mata kanan kiri.

Wahana  : Sang Kala Bhucari.

 Warna Bunga Sesaji  : Pita warna (warna kuning).

 Warna Nasi Segehan  : Warna kuning.

 Sesaji Inti Wetonan  : Ketupat Gangsa.

d. Sang Hyang Aghora:

 Aksara Jendra  : Ang

Nama  : Sang Hyang Aghora.

 Bhuwana Agung  : Penjaga ufuk utara.

 Bhuwana Alit  : Ampru/empedu.


 Tempat Suci Umum  : Kanista Mandala.

 Tri Kahyangan Desa  : Penanggung jawab Pura Dalem.


-11-

 Rumah Keluarga Hindu  : Penjaga Pemerajan/Sanggah.

 Tugas Lain  : Penanggung jawab setra (kuburan), sungai, sumber air, semua
jenis mahluk halus, jenis burung, segala jenis seni ngiring (bisa tanpa bela-jar/karena anugrah), para
pengobat, balian, para-medis, dokter, juru terang (pembuat hujan atau panas).

 Pasuk Wetu  : Kelingking tangan kiri/hitam mata kanan kiri.

Wahana  : Sang Bhuta Kresna.

 Warna Bunga Sesaji  : Kresna warna (warna hitam).

 Warna Segehan  : Warna hitam

 Sesaji Inti Wetonan  : Ketupat Gong.

e. Sang Hyang Isyana:

 Aksara Jendra  : Ing

Nama  : Sang Hyang Isyana.

 Bhuwana Agung  : Penjaga ufuk tengah.

 Bhuwana Alit  : Hredaya/kembang hati (abstrak).

 Tempat Suci Umum  : Balai Agung/Balai Banjar.

 Tri Kahyangan Desa  : Penanggung jawab Pura Desa.

 Rumah Keluarga Hindu  : Penjaga Rumah.

 Tugas Lain  : Penjaga orang hamil, anak kecil, pembimbing undagi, tukang,
sangging, pande.

 Pasuk Wetu  : Jari tengah tangan kiri/Pupil mata kanan kiri.

Wahana  : Sang Kala Wiswa Warna.

 Warna Bunga Sesaji  : Wiswa warna (berumbun).

 Warna Segehan  : Warna berumbun.

 Sesaji Inti Wetonan  : Ketupat Lepet.


-12-

C. Dewa – Dewa Lain.

Selain Sang Hyang Panca Dewata, masih banyak dewa lain yang dianggap sangat penting oleh
manusia karena menangani aspek tertentu yang erat hubungannya dengan kehidupan manusia.

Beberapa diantaranya:

a. Sang Hyang Saraswati [Reg Weda I.3.10; Reg Weda I.13.9; Reg Weda I.164.49; Reg Weda
II.41.18; Reg Weda V.5.8; Reg Weda V.75.3; Nirukta IX.26].

Tugas Utama : Pelindung/pembimbing kaum Brahmacari.

Dewa/Dewi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.

Penanggung-jawab salah satu sungai dari Sapta Sindhu (s.Gangga, s. Saraswati, s.


Sindhu, s.Wipaça, s.Kauçikinadi, s. Yamuna, s. Sarayu).

Dewa penganugrah kekayaan, kegembiraan, keturunan dan makanan.

Abhisekanāma : - Sang Hyang Saradā (Dewi penganugrah sari-sari kehidupan)

- Sang Hyang Vagīswarī (Dewi kebijaksanaan/penganugrah kata-kata bijak).

- Sang Hyang Bhārati (Dewi kebudayaan).

- Sang Hyang Brahmī (Dewi tangan kanan/sakti dari Sang Hyang Brahma).

- Sang Hyang Sayumā (Dewi yang sangat cantik).

- Sang Hyang Śubhrā (Dewi yang berbusana putih).

- Sang Hyang Wīrapatnī (Dewi isteri pahlawan; Brahma).

- Sang Hyang Sindhūmātā (Dewi ibu segala air).

- Sang Hyang Pāvākā (Dewi yang menyucikan bhaktanya).

b. Sang Hyang Anala [Reg Weda II.1.6; Yajur Weda XVI.18.28; Agni Purana].

Tugas Utama : Penguasa Agni.

Penguasa ufuk tenggara Swah Loka.

Penjaga rumah keluarga Hindu.

Penganugrah tirtha penglukatan.

Saksi agung dan purohita para dewata.

Penganugrah kemakmuran dan kebahagiaan.

Saksi pelaksanaan segala Yadnya/pemujaan.


Abhisekanāma : - Sang Hyang Agni (Dewa penguasa api)

- Sang Hyang Wahini (Dewa penenerima dan pembakar persembahan).

- Sang Hyang Sapta Jihwa (Dewa yang berlidah tujuh).

- Sang Hyang Witihotra (Dewa pemberi pahala kepada para bhakta).

- Sang Hyang Dhumaketu (Dewa yang bermahkotakan asap).


-13-

- Sang Hyang Chagarāta (Dewa yang wahananya kambing betina).

- Sang Hyang Citrabhānu (Dewa yang memiliki dan memancarkan berbagai


warna).

- Sang Hyang Jātaweda (Dewa yang memiliki segalanya).

- Sang Hyang Pāwaka (Dewa yang mensucikan tanpa pandang bulu/penuh


keadilan).

c. Sang Hyang Anila [Reg Weda I.2.1-6; Reg Weda III.57.2; Reg Weda X.168.2; Yajur Weda XXXII.1;
Brihad Arnyaka Up. III.9.1]

Tugas Utama : Penguasa atmosfir/angin/udara.

Penguasa tenaga/prana/bayu/nafas.

Penguasa ufuk barat laut Swah Loka.

Abhisekanāma : - Sang Hyang Wayu/Bayu (Dewa penguasa angin/tenaga).

- Sang Hyang Marutha (Dewa yang memancarkan udara segar).

- Sang Hyang Gandhawaha (Dewa yang menyebarkan bau).

- Sang Hyang Sparśana (Dewa yang memberi sentuhan lembut).

- Sang Hyang Dandadhara (Dewa yang membawa gada).

d. Sang Hyang Bharuna/Varuna [Reg Weda I.2.7-9; Reg Weda V.4.1; Satapatha Brahmana II.61;
Taitirīya Samhita].

Tugas Utama : Penguasa laut/lautan/air asin.

Penganugrah tirtha penglukatan khusus (melasti), juga untuk beberapa hal


tertentu.

Penanggung jawab segala jenis penghuni lautan.

Penguasa ufuk barat Swah Loka.

Abhisekanāma : - Sang Hyang Yadapati (Dewa raja segala binatang laut).

- Sang Hyang Ambhūraja (Dewa raja air).

- Sang Hyang Paśi (Dewa yang membawa jaring).

- Sang Hyang Jalapati (Dewa yang menguasai lautan).

- Sang Hyang Pracheta (Dewa yang bijaksana).


e. Sang Hyang Pratyusa.[Reg Weda I.50.7; Reg Weda I.170.4; Reg Weda I.175.4; Reg Weda V.45.9;
Reg Weda VIII.90.12; Reg Weda X.7.3; Atharwa Weda IV.10.5; Nīlarudra Up. I.9; Mahābhārata
XII.362.1].

Tugas Utama : Penguasa surya/matahari.

Upasaksi utama dari upacara yadnya.

Upasaksi terhadap segala karma manusia.

Abhisekanāma : - Sang Hyang Dinākara (Dewa yang membuat hari).

- Sang Hyang Bhaskara (Dewa yng memancarkan cahaya hangat).

- Sang Hyang Wiwaswat (Dewa memancarkan cahaya).


-14-

- Sang Hyang Mihira (Dewa yang mengisap air di bumi).

- Sang Hyang Karmasāksi (Dewa yang menjadi saksi agung setiap perbuatan
manusia).

f. Sang Hyang Dyaus.[Dalam Reg Weda disebut sekitar 50 kali, Mahābhārata I.99].

Tugas Utama : Penguasa Ākasa/langit.

Paling berkuasa atas sorga/Bapak sorga.

Dipuja sebagai bapak seluruh alam.

Di Bali dipuja sebagai Bhatāra Luhuring Ākasa.

Abhisekanāma : - Sang Hyang Meghavesman (tempat tinggal segala mendung).

- Sang Hyang Ambhara (Dewa penyelubung alam semesta).

- Sang Hyang Anangga (Dewa yang tanpa badan).

- Sang Hyang Puskara (Dewa yang menjadi tempat aliran air).

- Sang Hyang Trivistapas (Dewa pengatur tempat Tri Loka).

- Sang Hyang Antariksa (Dewa ruang angkasa).

- Sang Hyang Meghavartaman (Dewa pengatur jalannya mendung).

- Sang Hyang Ananta (Ia yang tiada akhir).

g. Sang Hyang Dhawa.[Reg Weda VIII.57.2; Bŗhad Aranyaka Up III.9.1; Kalika Purana XXII. 10 - 13].

Tugas Utama : Penguasa perthiwi/bumi.

Dewi pencipta teknologi pertanian.

Penganugrah kekayaan dan makanan kepada manusia.

Abhisekanāma : - Sang Hyang Perthiwi (Ia yang bermuka lebar).

- Sang Hyang Dhara (Ibu yang baik).

- Sang Hyang Ksitīdharānī (Ibu pelindung tanah).

h. Sang Hyang Kuwera/Kubhera [Reg Weda X.36.14; Bhagawata Purana VIII; Amsumābhedāgama;
Rūpamandana]

Tugas Utama : Dewa penguasa/pengatur kekayaan.

Dewa penguasa ufuk utara Swah Loka.


Dewa kemakmuran alam raya.

Abhisekanāma : - Sang Hyang Rambut Sedhana (Dewa uang/kekayaan).

i. Sang Hyang Ganeśa [Reg Weda II.31.1; Brahma Sūtra I.1.4; Ganapati Up. 15; Lingga Purana;
Ganeśa Purāna; Padma Purana; Uttara Kanda/Ramayana; Varaha Purana; Matsya Purana; Skanda
Purana].

Tugas Utama : Pelenyap segala wighna/halangan.

Penghilang kekhawatiran.

Dewa penganugrah kesuksesan kerja.


-15-

Dewa pelindung empat macam mahluk hidup (dewa, manusia, bhutakala dan
mahluk peralihan).

Abhisekanāma : - Sang Hyang Ganapati (Dewa pemimpin para gana).

- Sang Hyang Wighnarāja (Dewa/Raja penghilang halangan).

- Sang Hyang Wighneśwara (Dewa/Raja penghilang halangan).

- Sang Hyang Ekadanta (Ia yang bertaring satu).

- Sang Hyang Lambodara (Ia yang berperut gendut).

- Sang Hyang Wakrātunda (Ia yang bertaring bengkok).

- Sang Hyang Raktātunda (Ia yang bertaring merah).

j. Sang Hyang Durgā/Bhatari Durgā [Reg Weda; Yajur Weda; Mahābhārata/Virāta Parwa VI/Bhīsma
Parwa XXIII]

Tugas Utama : Dewi penganugrah kesidhian/tuah.

Dewi pemberi anugrah khusus sesuai permohonan.

Dewi pelenyap kebodohan.

Abhisekanāma : - Dewi Pārwatī (Dewi gunung).

- Dewi Umā (Dewi kedamaian malam hari).

- Dewi Gauri (Dewi yang cantik).

- Dewi Durgā (Dewi yang tidak dapat dibantah).

- Dewi Candikā (Dewi yang keras).

- Dewi Haimawatī (Dewi/putri gunung Himawan).

- Dewi Bhairawī (Dewi yang sangat menakutkan).

II. M A N U S I A.

A. Pembahasan Umum.

Tubuh Manusia tersusun oleh unsur-unsur yang sama dengan penyusun tubuh dewa, yakni Panca
Maha Bhuta, tetapi unsur yang paling dominan adalah apah/air. Semua ilmu yang muncul
belakangan sependapat dengan Weda, bahwa tubuh manusia ± 80 % terdiri dari air.

Manusia bukanlah mahluk paling sempurna. Manusia memiliki berbagai kelebihan dan juga
kekurangan, jika dibandingkan dengan mahluk ciptaan lainnya.
Kelebihan manusia:

1) Mahluk cerdas.

2) Mahluk kreatif.

3) Mahluk mudah dididik.

4) Mampu meningkatkan kesucian sampai maksimal (menyatu dengan Brahman/Ida Sang Hyang
Widhi Waça).

Kekurangan manusia:

1) Mahluk sangat rentan (sangat terpengaruh oleh situasi & kondisi sesaat, serta mudah
berubah).
-16-

2) Mahluk lobha (segala yang ada ingin dijadikan milik/bawahannya).

3) Mahluk egois/ahamkara (tidak pernah mau disalahkan).

4) Mahluk tidak jujur.

5) Mahluk tidak setia.

6) Mahluk dimakan usia.

B. Perincian Sapta Sarira. [Patanjali Yoga Sutra, Pitri Meda Yadnya].

Tubuh Manusia ada 7 macam sehingga disebut “Sapta Sarira”.

1. Sthula Sarira:

- Unsur dominant apah (air).

- Sifatnya: maya, kasat mata, lupa, mati.

- Nilai kesuciannya dapat senantiasa ditingkatkan.

- Sebagai sarana utama untuk menambah nilai kesucian.

2. Maya Sarira:

- Merupakan pasangan dari Sthula Sarira.

- Warna Maya Sarira keunguan.

- Antara Maya Sarira dan Sthula Sarira dihubungkan dengan benang penghubung (Sūtrātman) yang
berwarna kuning keemasan.

- Dapat pergi jauh dari Sthula Sarira, tetapi tetap berhubungan melalui Sūtrātman.

- Bila benang Sūtrātman putus, orang tsb. Meninggal.

- Selalu menunggui Sthula Sarira di atas kuburan (apabila tubuh tidak diperabukan atau tidak
diadakan upacara pemutusan hubungan).

- Orang bukan Hindu mengatakannya, Hantu Kuburan.

- Jika tubuh telah hancur terurai, maka Maya Sarira ikut lenyap (terurai). Ini yang menjadikan
landasan hukum kenapa ajaran Hindu menekankan adanya tindakan memperabukan.

3. Prana Sarira:

- Merupakan tenaga hidup setiap mahluk, termasuk manusia.

- Wujudnya adalah bhayu/wayu/angin.


- Warna (Udana = biru keunguan, Prana = kuning, Sāmanā = hijau, Wyāna = merah rose, dan Apāna =
orange).

- Prana Sarira dibersihkan dan kekuatannya semakin tinggi jika dilakukan Pranayama teratur.

- Jika Prana Sarira kotor, aliran prana ke seluruh tubuh akan terhambat.

- Kotornya Prana Sarira, hubungan antar Sapta Cakra akan buntu.

4. Manas Sarira:

- Merupakan kedudukan segala keinginan dan nafsu.

- Warnanya selalu berubah sesuai dengan kondisi pikiran: merah padam = marah/emosi/hilang
kesabaran, merah jambu = jatuh cinta/tresna, putih pucat = takut/sedih, cerah = tenang/bahagia.
-17-

- Pada orang yang bermoral tinggi, Manas Sarira tampak cerah, terang, lembut dan memancar.

- Pada orang yang bermoral rendah/jahat, Manas Sarira tampak gelap, tebal, kasar dan padat.

- Manas Sarira bersifat magnet terhadap sekeliling, misalnya: pada saat situasi kelilingnya marah, ia
akan menarik energi marah; saat sekelilingnya pada situasi positif, akan menarik energi positif.

- Saat terjaga, Manas Sarira bersatu dengan Sthula Sarira; saat tidur ia akan melayang keluar. Begitu
terbangun, Manas Sarira akan langsung bersatu dengan Sthula Sarira.

- Para Yogi dan orang suci menggunakan badan ini bersama Maya Sarira untuk menjelajah ke alam
lain dengan penuh kesadaran.

5. Kārana Sarira:

- Sebagai pusat wiweka/logika/akal.

- Merupakan gudang catatan/pita perekam dan perefleksi/pemantul semua karma yang dilakukan.

- Merupakan benih rel perjalanan hidup selanjutnya, baik pada waktu hidup ini maupun pada
kehidupan berikutnya.

- Kārana Sarira akan terbentuk baik dengan latihan berpikir logis, runtut dan konsentrasi.

- Kārana Sarira berbentuk oval, membungkus badan phisik.

- Waktu masih kecil, badan ini berbentuk tidak teratur.

- Pada orang bermoral tinggi, badan ini tampak: jelas, berwarna indah, penuh tenaga dan rapat.

6. Budhi Sarira:

- Merupakan pita/gudang pengenal baik buruk, benar salah, suci cemer, bersih kotor, baik jahat, dan
sejenisnya.

- Merupakan pusat nurani, kejujuran dan rasa kebahagiaan.

- Mereka yang bisa memasuki badan ini akan merasakan indahnya kehidupan atau kebahagiaan
sejati.

7. Antah Kārana Sarira:

- Pusat hidup dari seluruh sarira yang ada.

- Sang Diri Sejati yang sangat sulit untuk didefinisikan.

- Sumber segala kebijaksanaan, keluhuran, cinta kasih, dan sejenisnya.

- Tidak dapat digambarkan dengan kata-kata, tapi dapat dicapai dengan tindakan, yakni pelaksanaan
Asta Angga Yoga (Yama, Nyama, Asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, Samadhi), sabar
dan tiada kenal putus asa dalam menghadapi perjalanan hidup.
1. Bhakti marga yoga

Adalah proses atau cara mempersatukan atman dengan Brahman dengan berlandaskan
atas dasar cinta kasih yang mendalam kepada Ida Sang Hyang Widhi dan segala ciptaan-Nya.
Kata bhakti berarti hormat, taat, sujud, menyembah, mempersembahkan, cintah kasih
penyerahan diri seutuhnya pada Sang pencipta.

Seorang Bhakta (orang yang menjalani Bhakti marga) dengan sujud dan cinta,
menyembah dan berdoa dengan pasrah mempersembahkan jiwa raganya sebagai yadnya
kepada Sang Hyang Widhi. Cinta kasih yang mendalam adalah suatu cinta kasih yang bersifat
umum dan mendalam yang disebut maitri. Semangat tat twam asi sangat subur dalam hati
sanubarinya.

Cinta bhaktinya kepada Hyang Widhi yang sangat mendalam, itu juga dipancarkan
kepada semua makhluk baik manusia binatang juga tumbuh-tumbuhan. Dalam doanya selalu
menggunakan pernyataan cinta dan kasih sayang dan memohon kepada Hyang Widhi agar
semua makhluk tanpa kecuali selalu berbahagia dan selalu mendapat anugrah termulia dari
Hyang Widhi. Jadi untuk lebih jelasnya seorang bhakta akan selalu berusaha melenyapkan
kebenciannya kepada semua makhluk sebaliknya ia selalu berusaha memupuk dan
mengembangkan sifat-sifat maitri, karuna, mudita dan upeksa (catur paramita).

Di dalam kitab suci Veda kita jumpai beberapa mantra tentang Bhakti salah satunya
adalah:
“Arcata prarcata priyam edhaso Arcata, arcantu putraka uta puram na dhrsnvarcata”
Rgveda VIII.69.8)
(pujalah, pujalah Dia sepenuh hati, Oh cendekiawan, Pujalah Dia. Semogalah semua anak-
anak ikut memuja- Nya, teguhlah hati seperti kukuhnya candi dari batu karang untuk memuja
keagungan- Nya).

Terhadap landasan filosofis ajaran Bhakti diatas, Drs. I Gusti Made Ngurah dkk
menyatakan pendapatnya: “… bhakti adalah perwujudan cinta yang tulus kepada Tuhan,
mengapa harus berbhakti kepada Tuhan karena Tuhan menciptakan alam semesta dengan
segala isinya berdasarkan Yajnya.” (Ngurah, 2006 : 80)

Sikap yang paling sederhana dalam kehidupan beragama adalah cinta kasih dan
pengabdian yang tulus. Tuhan dipandang sebagai yang paling disayangi, sebagai ibu, bapak,
teman, saudara, sebagai orangtua, sebagai tamu, dan sebagai seorang anak.

Pada umumnya kita mengenal dua bentuk bhakti yaitu bentuk Aparabhakti dan
parabhakti.
A. Apara bhakti artinya tidak utama; jadi apara bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang
Widhi yang tidak utama. Apara bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan
kesadaran rohaninya kurang atau sedang-sedang saja.
Aparabhakti, yaitu pemujaan atau persembahan dan kebaktian dengan berbagai permohonan
dan permohonan itu adalah wajar mengingat keterbatasan pengetahuan kita tentang hakekat
bhakti.

B. Para artinya utama; jadi para bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang utama.
Para bhakti dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi
Parabhakti adalah bhakti berupa penyerahan diri yang setulusnya. Penyerahan diri kepada-
Nya bukanlah dalam pengertian pasif tidak mau melakukan berbagai aktivitas, tetapi aktif
dan dengan keyakinan bahwa bila bekerja dengan baik dan tulus maka akan memperoleh
pahala yang baik pula. Kita tidak boleh mendoakan seseorang untuk memperoleh kecelakaan
dan sejenisnya.

Drs. I Gusti Made Ngurah dkk berpendapat : ”… Seperti yang disampaikan bahwa
Tuhan yang Maha Esa adalah ibu dan bapa kita , seperti kita meminta sesuatu pada kedua
orangtua kita tidak semua permintaan dapat terpenuhi. Demikianlah bila kita memohon
kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sesungguhnya kita sering mendapat karunia- Nya berupa
kesejahteraan, kegembiraan atau kebahagiaan, tetapi bila kita lalai, maka sekali waktu cobaan
dan penderitaan yang kita terima. Walaupun itu cobaan dan penderitaan, itupun
sesungguhnya sebuah karunia, kita harus mensyukuri agar kita segera mawas diri,
memperbaiki kesalahan atau kelalaian kita.” (Ngurah, 2006 : 83)

Dalam meningkatkan kualitas bhakti kita kepada sang Hyang Widi ada beberapa jenis
bentuk bhakti yang disebut Bhavabhakti, sebagai berikut:
a. Santabhava, yaitu sikap bhakti seperti bhakti atau hormat seorang anak terhadap ibu dan
bapaknya.
b. Sakhyabava, yaitu bentuk bhakti yang meyakini Hyang Widi, manifestasiNya, Istadevata
atau Avatara- Nya sebagai sahabat yang sangat akrab dan selalu memberikan perlindungan
dari pertolongan pada saat yang diperlukan.
c. Dasyabhava, yaitu bhakti atau pelayanan kepada Tuhan Yang Maha Esa seperti sikap
seorang hamba kepada majikannya.
d. Vatsalyabhava, yaitu sikap bhakti seorang penyembah memandang Tuhan Yang Maha Esa
seperti anaknya sendiri.
e. Kantabhava, yaitu sikap bhakti seorang istri terhadap suami tercinta.
f. Maduryabhava, yaitu bentuk bhakti sebagai cinta yang amat mendalam dan tulus dari
seorang bhakta kepada Tuhan Yang Maha Esa. Secara lahiriah bentuk- bentuk di Indonesia
sama halnya dengan di India, umat mewujudkannya melalui pembangunan berbagai Pura (
mandir), mempersembahkan berbagai sesaji (naivedya), mempersembahkan kidung (bhajan),
gamelan, tari- tarian, dan sebagainya.

Cirri-ciri seorang Bhakti Marga yaitu :


a. Keinginan untuk berkorban
b. Keinginan untuk bertemu

Tuhan senang bila engkau menolong dan melayani sesama manusia (pengabdian /
dharmabakti). Kitab-kitab suci telah menetapkan 9 jalan bhakti, yaitu :
- Mendengarkan kisah-kisah Tuhan (shravanam)
- Menyanyikan kemuliaan Tuhan (kirtanam)
- Mengingat Nama-Nama Tuhan ( Vishnusmaranam)
- Melayani kaki Tuhan yang suci (padasevanam)
- Pemujaan (archanam)
- Sembah sujud (vandanam)
- Pengabdian (dasyam)
- Persahabatan (sneham)
- Pasrah / penyerahan diri kepada Tuhan sepenuhnya (atmanivedanam)

2. Karma marga yoga


Adalah jalan atau usaha untuk mencapai kesempurnaan atau moksa dengan karma
atau perbuatan yang baik tanpa pamrih. Dalam Bhagawadgita. III.19 dinyatakan sebagai
berikut :
Tasmad asaktah satatam karyam karma samacara, asakto hy acaran karma, param apnoti
purusah
Artinya :
Oleh karena itu, laksanakanlah segala kerja sebagai kewajiban tanpa terikat pada hasilnya,
sebab dengan melakukan kegiatan kerja yang bebas dari keterikatan, orang itu sesungguhnya
akan mencapai yang utama.

Sebab pada hakekatnya bekerja atau melayani orang atau makhluk lain secara hakekat adalah
karma baik untuk diri sendiri. Adalah lebih baik dapat menolong/melayani dari pada
ditolong/dilayani.

Bhagawadgita III.8 menegaskan sebagai berikut :


Niyatam kuru karma twam karma jyayo hyakarmanah sarira-yatrapi ca ten a prasidhyed
akarmanah.
Artinya :

Bekerjalah seperti yang telah ditentukan sebab berbuat lebih baik daripada tidak berbuat dan
bahkan tubuhpun tidak akan berhasil terpelihara tanpa berkarya.

Dalam hubungan ini renungkalah cerita berikut :


Pada suatu hari Devi Laksmi mengadakan sayembara, dimana beliau akan memilih
suami. Semua Dewa dan para Danawa dating berduyun-duyun dengan harapan dapat terpilih.
Devi Laksmi belum mengumumkan janjinga, kemudian datanglah beliau dihadapan
pelamarnya dan berkata demikian : saya akan mengalungkan bunga kepada perya yang tidak
menginginkan diri saya. Tetapi mereka yang datang itu semua lobha, maka mulailah Devi
Laksmi mencari Dewa yang tiada berkeinginan, untuk dikalungi. Terlihatlah oleh Devi
Laksmi wujudnya Dewa Wisnu dengan tenangnya di atas ular Sesa yang sedang melingkar.
Kalung perkawinan kemudian diletakkan dileherNya dan sampai kinilah dapat kita lihat
simbolis Devi Laksmi berada di samping kaki Dewa Wisnu.

Dari cerita di atas dapat dikemukakan bahwa orang yang hanya mengharapkan hasil
dari kerjanya, akan menjadi kecewa dan putus asa bila hasil itu belum datang dan
menyebabkan kerjanya menjadi tidak maksimal, walaupun sesungguhnya hasil itu pasti
datang hanya saja waktunya bisa prarabda atau kryamana. Tetapi bagi karma yogin walaupun
ia berbuat sedikit, dilakukannya dengan senang hati dan merupakan kewajiban, serta tanpa
pamrih, ia akan mendapatkan hasil yang tidak ternilai. Maka itu ajaran suci selalu
menyarankan kepada umatnya agar menjadi seorang karma yogi yang selalu mendambakan
pedoman rame inggawe sepi ing pamrih (Banyak bekerja tanpa mengharapkan hasil)

Karma Marga Yoga menekankan kerja sebagai bentuk pengabdian dan bentuk
pengabdian dan bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ajaran karma Yoga merupakan etos
kerja atau budaya kerja bagi umat Hindu di dalam usaha mewujudkan kesejahteraan dan
kebahagiaan lahir batin. Di dalam Landasan filosofis ajaran karma, doa seorang karmayogin
adalah untuk memohon kesehatan dan kekuatan, badan yang sempurna dan umur panjang,
kebaikan di dunia, serta kekuatan untuk menghadapi segala bentuk kejahatan.
Salah satu contoh isi veda yang menjadi Landasan filosofis ajaran karma yaitu:
“udyanam te purusa navayanam, jivatum te daksatatim krnomi”
(Atharwaveda VIII.1.6.)
Artinya :
Oh manusia, giatlah bekerja untuk kemajuan, jangan mundur , Aku anugerahkan kekuatan
dan tenaga.

Manfaat karma marga yaitu :


a. Kehidupan di dunia ini dibelenggu oleh hukum kerja sehingga kehidupan ini selalu dituntut
untuk bekerja.
b. Tidak seorangpun yang hidup di dunia ini terlepas dari kerja.
c. Dengan bekerja orang dapat mencapai kebebasan (tujuan hidup yang tertinggi), asal
pekerjaan itu dilakukan dengan tindakan mengikat diri pada hasilnya.

3. Jnana marga yoga


Jnana artinya kebijaksanaan filsafat (pengetahuan). Yoga berasal dari urat kata Yuj
artinya menghubungkan diri. Jadi jnana yoga artinya mempersatukan jiwatman dengan
paramatman yang dicapai dengan jalan mempelajari dan mengamalkan ilmu pengetahuan
baik science maupun spiritual, seperti hakekat kebenaran tentang Brahman, Atman. Dengan
pemanfaatan ilmu pengetahuan yang sejati akan mampu membebaskan diri dari ikatan-ikatan
keduniawian.

Ada tiga hal yang penting dalam hal ini yaitu kebulatan pikiran, pembatasan pada
kehidupan sendiri dan keadaan jiwa yang seimbang atau tenang maupun pandangan yang
kokoh tentram damai. Ketiga hal tersebut di atas merupakan dhyana yoga. Untuk tercapainya
perlu dibantu dengan abhyasa yaitu latihan-latihan dan vairagya yaitu keadaan tidak
mengaktifkan diri. Adapun kekuatan pikiran kita lakukan di dalam hal kita berbuat saja,
pikiran harus kita pusatkan kepadanya.

Pelajar Jñanayoga pertamatama melengkapi dirinya dengan ti


ga cara yaitu:
 Pembedaan (viveka)
 Ketidakterikatan (vairagya)
 Kebajikan

Ada enam macam( s a t s a m p a t ) , ya i t u :


1. Ketenangan (sama)
2. P e n ge k a n ga n ( d a m a )
3. p e n o l a k a n (uparati), ketabahan (titiksa)
4. Keyakina n (sraddha)
5. Konsentrasi (samadhana)
6. Kerinduan yang sangat akan pembebasan (mumuksutva).

Ada tujuh tahapan dari Jñana atau pengetahuan, yaitu;


1. Aspirasi pada kebenaran(subhecha)
2. Pencarian filosofis (vicarana)
3. Penghalusan pikiran (tanumanasi)
4. Pencapaian sinar (sattwatti)
5. Pemisahan batin (asamsakti)
6. Penglihatan spiritual(padarthabhawana)
7. kebebasan tertinggi (turiya).
4. Raja marga yoga
Raja yoga adalah suatu jalan mistik (rohani) untuk mencapai kelepasan atau moksa.
Melalui raja marga yoga seseorang akan lebih cepat mencapai moksa, tetapi tantangan yang
dihadapinya pun lebih berat, orang yang mencapai moksa dengan jalan ini diwajibkan
mempunyai seorang guru kerohanian yang sempurna untuk dapat menuntun dirinya ke arah
tersebut.

Adapun tiga jalan pelaksanaan yang ditempuh oleh para raja yogin yaitu melakukan
tapa, brata, yoga, Samadhi. Tapa dan brata merupakan suatu latihan untuk mengendalikan
emosi atau nafsu yang ada dalam diri kita kea rah yang positif sesuai dengan petunjuk ajaran
kitab suci. Sedangkan yoga dan Samadhi adalah latihan untuk dapat menyatukan atman
dengan Brahman dengan melakukan meditasi atau pemusatan pikiran.

Seorang raja yoga akan dapat menghubungkan dirinya dengan kekuatan rohani
melalui astangga yoga yaitu delapan tahapan yoga untuk mencapai moksa. Astangga yoga
diajarkan oleh Maharsi Patanjalai dalam bukunya yang disebut yoga sutra patanjali. Adapun
bagian-bagian dari astangga yoga adalah sebagai berikut :
a. Yama yaitu suatu bentuk larangan yang harus dilakukan oleh seseorang dari segi jasmani
yaitu :
 Dilarang membunuh (ahimsa)
 Dilarang berbohong (satya)
 Pantang menginginkan sesuatu yang bukan miliknya (asteya)
 Pantang melakukan hubungan seksual (brahmacari)
 Tidak menerima pemberian dari orang lain (aparigraha)
b. Nyama yaitu pengendalian diri yang bersifat rohani yaitu :
 Sauca (tetap suci lahir bhatin)
 Santosa (selalu puas dengan apa yang datang)
 Swadhyaya (mempelajari kitab-kitab keagamaan)
 Iswara pranidhana (selalu bhakti kepada Tuhan)
 Tapa (tahan uji)
c. Asana yaitu sikap duduk yang menyenangkan, teratur dan disiplin
d. Pranayama yaitu mengatur pernafasan sehingga menjadi sempurna melalui tiga jalan yaitu :
 Puraka (menarik nafas)
 Kumbhaka (menahan nafas)
 Recaka (mengeluarkan nafas)
e. Pratyahara yaitu mengontrol dan mengendalikan indriya dari ikatan obyeknya, sehingga
orang dapat melihat hal-hal suci
f. Dharana yaitu usaha-usaha untuk menyatukan pikiran dengan sasaran yang diinginkan
g. Dhyna yaitu pemusatan pikiran yang tenang, tidak tergoyahkan kepada suatu obyek. Dhyna
dapat dilakukan terhadap Ista Dewata
h. Samadhi yaitu penyatuan atman

Bila seseorang melakukan latihan yoga dengan teratur dan sungguh-sungguh ia akan
dapat menerima getaran-getaran suci dan wahyu Tuhan. Keempat jalan untuk pencapaian
moksa itu sesungguhnya memiliki kekuatan yang sama bila dilakukan dengan sungguh-
sungguh. Setiap orang akan memilih kecenderungan memilih jalan-jalan tersebut, maka itu
setiap orang memiliki jalan mencapai moksa bervariasi.
Moksa sebagai tujuan hidup spiritual bukanlah merupakan suatu janji yang hampa
melainkan merupakan suatu keyakinan yang berakhir dengan kenyataan. Kenyataan dalam
dunia batin merupakan alam super transcendental yang hanya dapat dibuktikan berdasarkan
instuisi yang dalam. Moksa merupakan suatu yang tidak dapat dibantah kebenarannya, karena
demikianlah yang dijelaskan oleh kitab suci.

Oleh sebab itu marilah kita melatih diri untuk melaksanakan ajaran astangga yoga
dengan tuntunan seorang guru yang telah memiliki kemampuan didalam hal tersebut.

Keempat jalan (marga) itu dapat dilakukan diberbagai tempat dan waktu sesuai
kemampuan seseorang dan keempatnya tidak dapat dipisahkan karena dalam prakteknya
saling berkaitan. Misalnya sembahyang , keempat cara (marga) itu dapat diamalkan sekaligus
yaitu :
 Rasa hormat atau berserah merupakan wujud bhakti marga.
 Menyiapkan sarana kebhaktian merupakan wujud karma marga.
 Pemahaman tentang sembahyang merupakan wujud jnana marga.
 Duduk tegak-tenang-konsentrasi merupakan wjud raja marga.

Jika direnungkan dan diperhatikan maka sesungguhnya pengamalan agama Hindu


sangat mudah, praktis dan lues. Keluesan itu disebabkan karena agama Hindu dapat
dilaksanakan :
- Dengan mempraktekan Catur Marga
- Oleh seluruh umat tanpa terkecuali
- Disegala tempat, waktu dan keadaan
- Tidak harus dengan materi
- Sesuai dengan kemampuan umat
- Sesuai dengan adat istiadat karena Hindu menjiwai adat istiadat.

Demikian agama Hindu dapat diamalkan selama 24 jam setiap hari dengan cara serta
bentuk pengamalan yang beraneka ragam. Untuk itu umat Hindu tidak patut memaksakan
bentuk pengamalan agama agar seragam dari segi materi maupun bentuk material lainnya,
apalagi keseragaman jumlah uang. Namun yang harus sama dan seragam ialah prinsip dasar
ajaran agama.

B. Implementasi Ajaran Catur Marga Yoga dalam Kehidupan Masyarakat Hindu.

Penerapan catur marga oleh umat Hindu sesungguhnya telah diterapkan secara rutin
dalam kehidupannya sehari-hari, termasuk juga oleh umat Hindu yang tinggal di Bali maupun
oleh umat Hindu yang tinggal di luar Bali. Banyak cara dan banyak pula jalan yang bisa
ditempuh untuk dapat menerapkannya. Sesuai dengan ajaran catur marga bahwa
penerapannya disesuaikan dengan kondisi atau keadaan setempat yang berdasarkan atas
tradisi, sima, adat-istiadat, drsta, ataupun yang lebih dikenal di Bali yakni desa kala patra atau
desa mawa cara.

Inti dan penerapan dan Catur Marga adalah untuk memantapkan mengenai hidup dan
kehidupan umat manusia di alam semesta ini, terutama untuk peningkatan, pencerahan, serta
memantapkan keyakinan atau kepercayaan (sraddha) dan pengabdian (bhakti) terhadap
Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan memahami dan
menerapkan ajaran catur marga, maka diharapkan segenap umat Hindu dapat menjadi umat
Hindu yang berkualitas, bertanggung jawab, memiliki loyalitas, memiliki dedikasi, memiliki
jati diri yang mulia, menjadi umat yang pantas diteladani oleh umat manusia yang lainnya,
menjadi umat yang memiliki integritas tinggi terhadap kehidupan secara lahir dan batin, dan
harapan mulia lainnya guna tercapai kehidupan yang damai, rukun, tenteram, sejahtera,
bahagia, dan sebagainya. Jadi dengan penerapan dan ajaran catur marga diharapkan agar
kehidupan umat Hindu dan umat manusia pada umumnya menjadi mantap dalam berke-
sraddha-an dan berke-bhakti-an kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, serta dapat
diharmoniskan dengan kehidupan nyata dengan sesama manusia, semua ciptaan Tuhan, dan
lingkungan yang damai dan serasi di sekitar kehidupan masing-masing

Tidak ada orang yang menjalankan catur marga itu sendiri-sendiri atau terpisah-pisah,
karena satu sama lainnya berkaitan. Perincian menjadi empat itu hanyalah untuk mengukur
dan memilih ‘bobot’ jalan yang mana yang bisa diutamakan, sesuai dengan kemampuan
masing-masing.

Misalnya seorang yang kurang pengetahuan agama-nya, mungkin dengan


mengutamakan bhakti marga dan karma marga saja, ditambah pengetahuan minim (misalnya)
rajin melakukan trisandya (termasuk jnyana marga) dan asana (termasuk yoga marga).
Bobotnya adalah bhakti marga.Tetapi seorang wiku tentu bobotnya pada jnyana marga dan
yoga marga, walaupun bhakti marga yang menjadi dasar dan karma marga tidak juga
ditinggalkan.

Kesimpulannya: keempat marga itu dilaksanakan bersama-sama, namun pemilihan


mana yang utama tergantung dari kemampuan individu. Inilah salah satu contoh ‘kebesaran
Agama Hindu’ yang membedakannya dengan agama-agama lain yang dogmatis.

a. Mengenai penerapan bhakti marga oleh umat Hindu seperti berikut ini :
 Melaksanakan doa atau puja tri sandhya seçara rutin setiap hari;
 Menghaturkan banten saiban atau jotan/ngejot atau yajnasesa;
 Berbakti kehadapan Tuhan Yang Maha Esa beserta semua manifestasi-Nya;
 Berbakti kehadapan Leluhur;
 Berbakti kehadapan para pahlawan pejuang bangsa;
 Melaksanakan upacara dewa yajna (piodalan/puja wali, saraswati, pagerwesi, galungan,
kuningan, nyepi, siwaratri, purnama, tilem, tumpek landep, tumpek wariga, tumpek krulut,
tumpek wayang dan lain-lainnya);
 Melaksanakan upacara manusia yajna (magedong-gedongan, dapetan, kepus puser,
macolongan, tigang sasihin, ngotonin, munggah deha, mapandes, mawiwaha, mawinten, dan
sebagainya);
 Melaksanakan upacara bhuta yajna (masegeh, macaru, tawur, memelihara lingkungan,
memelihara hewan, melakukan penghijauan, melestarikan binatang langka, dan sebagainya);

 Melaksanakan upacara pitra yajna (bhakti kehadapan guru rupaka atau rerama,
ngaben, ngerorasin, maligia, mamukur, ngeluwer, berdana punya kepada orang tua,
membuat orang tua menjadi hidupnya bahagia dalam kehidupan di alam nyata ini, dan
sebagainya);
 Melaksanakan upacara resi yajna (upacara pariksa, upacara diksa, upacara
ngelinggihang veda), berdana punya pada sulinggih atau pandita, berguru pada orang
suci, tirtha yatra ke tempat suci bersama sulinggih atau pandita, berguru pada orang
suci, sungkem (pranam) pada sulinggih sebagai guru nabe, menerapkan ajaran tri
rnam, dan sebagainya.
b. Mengenai penerapan karma marga oleh umat Hindu seperti berikut ini :
 Menerapkan filosofi ngayah;
 Menerapkan filosofi matulungan;
 Menerapkan filosofi manyama braya;
 Menerapkan filosofl paras-paros sarpanaya salunglung sabayantaka;
 Menerapkan filosofi suka dan duka;
 Menerapkan filosofi agawe sukaning wong len;
 Menerapkan filosofi utsaha ta larapana;
 Menerapkan filosofi makarya;
 Menerapkan filosofi makarma sane melah;
 Menerapkan filosofi ala kalawan ayu;
 Menerapkan filosofi karma phala;
 Menerapkan filosofi catur paramita;
 Menerapkan filosofi tri guna;
 Menerapkan filosofi trikaya parisudha; dan
 Menerapkan filosofi yama niyama brata dan berbagai ajaran agama Hindu.

c. Beberapa model atau bentuk nyata dan penerapan jnana marga berikut ini :
 Menerapkan ajaran aguron-guron;
 Menerapkan ajaran guru dan sisya;
 Menerapkan ajaran guru bhakti;
 Menerapkan ajaran guru susrusa;
 Menerapkan ajaran brahmacari dan ajaran catur guru;
 Menerapkan ajaran sisya sasana;
 Menerapkan ajaran resi sasana;
 Menerapkan ajaran putra sasana;
 Menerapkan ajaran guru nabe, guru waktra, guru saksi;
 Menerapkan ajaran catur asrama; dan
 Menerapkan ajaran dalam wrati sasana, slokantara, sila krama, dan ajaran agama Hindu yang
bersumber pada Veda dan susastra Hindu lainnya.

d. Dalam penerapan yoga marga oleh umat Hindu, realitanya seperti berikut :
 Melaksanakan introspeksi atau pengendalian diri;
 Menerapkan ajaran tapa, brata, yoga dan samadhi;
 Menerapkan ajaran astangga yoga;
 Melakukan kerja sama atau relasi yang baik dan terpuji dengan sesama;
 Menjalin hubungan kemitraan secara terhormat dengan rekanan, lingkungan, dan semua
ciptaan Tuhan di alam semesta ini;
 Membangun pasraman atau paguyuban untuk praktek yoga;
 Mengelola ashram yang bergerak di bidang pendidikan rohani, agama, spiritual, dan upaya
pencerahan diri lahir batin;
 Menerapkan filosofi mulat sarira;
 Menerapkan filosofi ngedetin/ngeret indriya;
 Menerapkan filosfi mauna;
 Menerapkan filosofi upawasa;
 Menerapkan filosofi catur brata panyepian, dan
 Menerapkan filosofi tapasya, pangastawa, dan menerapkan ajaran agama Hindu dengan baik
dan benar menuju keluhuran diri sebagai mahluk sosial dan religius.