Anda di halaman 1dari 7

SEJARAH LAHIRNYA ORDE BARU

Ditulis pada Oktober 6, 2013

Latar belakang Lahirnya Orde Baru

Lahirnya era orde baru dilatarbelakangi oleh runtuhnya orde lama. Tepatnya pada saat
runtuhnya kekuasaan Soekarno yang lalu digantikan oleh Soeharto. Salah satu penyebab yang
melatarbelakangi runtuhnya orde lama dan lahirnya orde baru adalah keadaan keamanan
dalam negri yang tidak kondusif pada masa orde lama. Terlebih lagi karena adanya peristiwa
pemberontakan G30S PKI. Hal ini menyebabkan presiden Soekarno memberikan mandat
kepada Soeharto untuk melaksanakan kegiatan pengamanan di indonesia melalui surat
perintah sebelas maret atau Supersemar.

Kronologis lahirnya orde baru

 30 September 1965
Terjadinya pemberontakan G30S PKI
 11 Maret 1966
Letjen Soeharto menerima Supersemar dari presiden Soekarno untuk melakukan
pengamanan
 12 Maret 1966
Dengan memegang Supersemar, Soeharto mengumumkan pembubaran PKI dan
menyatakannya sebagai organisasi terlarang
 22 Februari 1967
Soeharto menerima penyerahan kekuasaan pemerintahan dari presiden Soekarno
 7 Maret 1967
Melalui sidang istimewa MPRS, Soeharto ditunjuka sebagai pejabat presiden sampai
terpilihnya presiden oleh MPR hasil
pemilu
 12 Maret 1967
Jenderal Soeharto dilantik menjadi presiden Indonesia kedua sekaligus menjadi masa
awal mula lahirnya era orde baru.

Peristiwa-Pristiwa Lahirnya Orde Baru

1. Aksi-Aksi Mahasiswa

Pada Sidang paripurna cabinet Dwikora tanggal 6 Oktober 1965, presiden memutuskan
bahwa penyelesaian politik Gerakan 30 September akan ditangani langsung oleh presiden.
Sementara itu, tuntutanpenyelesaian seadil-adilnya terhadap para pelaku Gerakan 30
September semakin meningkat. Tuntutan itu di pelopori oleh kesatuan aksi mahasiswa
(KAMI), pemuda –pemuda(KAPPI),dan pelajar(KAPI). Kemudian muncul pula
KABI(buruh),KASI(Sarjana),KAWI (Wanita),dan KAGI(guru). Pada tanggal 26 OKtober
1965, kesatuan-kesatuan aksi tersebut bergabung dalam satu front, yaitu FRONT
PANCASILA.
Mereka menyampaikan Tri Tuntutan Rakyat(TRITURA) kepada pemerintah, yang berisi :

1. Bubarkan PKI

2. Retool Kabinet DWIKORA

3. Turunkan Harga/Perbaikan Ekonomi

2. Kabinet Dwikora yang diSempurnakan


Pada hari pelantikan Kabinet Dwikora yang disempurnakan tanggal 24 Februari 1966 terjadi
demonstrasi besar-besaran. Dalam bentrokan di sekitar istan mahasiswa UI yang bernama
Arief Racham Hakim tewas tertembak oleh Cakrabirawa, dan keesokan harinya Presiden
sebagai Panglima Komando Gayang Malaysia membubarkan KAMI.

Pada tanggal 8 Maret 1966 Departemen Luar Negri yang di pimpin oleh Dr. Subandrio
diserang oleh pelajar dan mahasiswa.

3. Surat Perintah 11 Maret 1966


pada tanggal 11 Maret 1966, Presiden Soekarno mengadakan sidang pelantikan Kabinet
Dwikora yang disempurnakan yang dikenal dengan nama “kabinet 100 menteri“. Pada saat
sidang dimulai, Brigadir Jendral Sabur sebagai panglima pasukan pengawal
presiden’ Tjakrabirawa melaporkan bahwa banyak “pasukan liar” atau “pasukan tak dikenal”
yang belakangan diketahui adalah Pasukan Kostrad dibawah pimpinan Mayor Jendral Kemal
Idris yang bertugas menahan orang-orang yang berada di Kabinet yang diduga terlibat G-30-
S di antaranya adalah Wakil Perdana Menteri I Soebandrio. Mayor Jendral Soeharto
mengutus tiga orang perwira tinggi (AD) ke Bogor untuk menemui Presiden Soekarno di
Istana Bogor yakni Brigadir Jendral M. Jusuf, Brigadir JendralAmirmachmud dan Brigadir
Jendral Basuki Rahmat. Setibanya di Istana Bogor, pada malam hari, terjadi pembicaraan
antara tiga perwira tinggi AD dengan Presiden Soekarno mengenai situasi yang terjadi dan
ketiga perwira tersebut menyatakan bahwa Mayjend Soeharto mampu mengendalikan situasi
dan memulihkan keamanan bila diberikan surat tugas atau surat kuasa yang memberikan
kewenangan kepadanya untuk mengambil tindakan. Menurut Jendral (purn) M Jusuf,
pembicaraan dengan Presiden Soekarno hingga pukul 20.30 malam..
Presiden Soekarno setuju untuk itu dan dibuatlah surat perintah yang dikenal sebagai Surat
Perintah Sebelas Maret yang populer dikenal sebagai Supersemar yang ditujukan kepada
Mayjend Soeharto selaku panglima Angkatan Darat untuk mengambil tindakan yang perlu
untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.

4. Penyerahan Kekuasan
Pada tanggal 20 February 1967 presiden menandatangani surat penyerahan kekuasaan kepada
Pengemban Supersemar Jendral Soeharto. Pada kamis pukul 19.30 bertempat di istana
Negara dengan di saksikan oleh ketua presidium Kabinet Ampera dan para Menteri,
Presiden/Mandataris MPRS/Panglima Tertinggi ABRI Ir.Soekarno dengan resmi
menyerahkan kekuasaan kepada jendral Soeharto.
Pada tanggal 12 Maret 1967, Jendral Soeharto dilantik dan diambil sumpahnya sebagai
Presiden RI. Dengan pelantikan Soeharto sebagai presiden tersebut, secara lagal formal
pemerintahan Demokrasi Terpimpin yang kemudian dinamakan Orde Lama berakhir.
Pemerintahan baru di bawah kepemimpinan presiden Soeharto yang kemudian di sebut Orde
Baru pun mulai menjalankan pemerintahannya.
Ciri pokok orde baru:

 Pemerintahan yang diktator tetapi aman dan damai


 Tindak korupsi
merajalela
 Tidak ada kebebasan berpendapat
 Pancila terkesan menjadi ideologi tertutup
 Pertumbuhan ekonomi yang berkembang pesat
 Ikut sertanya militer dalam
pemerintahan
 Adanya kesenjangan sosial yang mencolok antara orang kaya dan orang miskin

Kebijakan pada masa orde baru

 Indonesia didaftarkan lagi menjadi anggota PBB pada bulan september 1966
 Adanya perbaikan ekonomi dan pembangunan
 Pengeksploitasian sumber daya alam secara besar-besaran
 Dilaksanakannya kebijakan transmigrasi dan keluarga berencana
 Adanya gerakan memerangi buta
huruf
 Dilakukannya swasembada pangan
 Munculnya gerakan Wajib Belajar dan gerakan Nasional Orang Tua Asuh
 Dibukanya kesempatan investor asing untuk menanamkan modal di
Indonesia

Pengertian Orde Lama


Setelah kemerdekaan, Indonesia mengalami beberapa periode pemerintahan diantaranya orde
lama, orde baru, dan reformasi. Orde lama adalah sebutan bagi periode pemerintahan di bawah
kepemimpinan Presiden Soekarno yang berlangsung pada tahun 1945 sampai tahun 1968. Pada
periode ini, Presiden Soekarno berlaku sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan.

Predisen Pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno


Sistem Pemerintahan Orde Lama
Pada masa orde lama, sistem pemerintahan di Indonesia mengalami beberapa peralihan. Indonesia
pernah menerapkan sistem pemerintahan presidensial, parlementer, demokrasi liberal, dan sistem
pemerintahan demokrasi terpimpin. Berikut penjelasan sistem pemerintahan masa Soekarno:

Masa Pemerintahan Pasca Kemerdekaan (1945-1950)


Pada tahun 1945-1950, terjadi perubahan sistem pemerintahan dari presidensial menjadi
parlementer. Dimana dalam sistem pemerintahan presidensial, presiden memiliki fungsi ganda, yaitu
sebagai badan eksekutif dan merangkap sekaligus sebagai badan legislatif.
Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno ini juga terjadi penyimpangan UUD 1945. Berikut
Penyimpangan UUD 1945 yang terjadi pada masa orde lama:
Fungsi Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) berubah, dari pembantu presiden menjadi badan
yang diserahi kekuasaan legislatif dan ikut menetapkan GBHN yang merupakan wewenang MPR.

Terjadinya perubahan sistem kabinet presidensial menjadi kabinet parlementer.

Masa Demokrasi Liberal (1950-1959)

Masa pemerintahan pada tahun 1950-1959 disebut masa liberal, karena dalam politik maupun
sistem ekonominya menggunakan prinsip-prinsip liberal. Pada saat negara kita menganut sistem
demokrasi liberal, terdapat ciri-ciri sistem pemerintahan sebagai berikut:

 Presiden dan wakil presiden tidak dapat diganggu gugat.


 Menteri bertanggung jawab atas kebijakan pemerintahan.
 Presiden berhak membubarkan DPR.
 Perdana Menteri diangkat oleh Presiden.
 Pada 17 Agustus 1950 sampai 5 Juli 1959 Presiden Soekarno memerintah menggunakan
konstitusi Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia 1950. Dewan Konstituante
diserahi tugas membuat undang-undang dasar yang baru sesuai amanat UUDS 1950. Namun
sampai tahun 1959 badan ini belum juga bisa membuat konstitusi baru. Akhirnya, Soekarno
mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959, yang membubarkan Konstituante. Isi Dekrit Presiden 5 Juli
1959 adalah:

 Pembentukan MPRS dan DPAS


 Kembali berlakunya UUD 1945 dan tidak berlakunya lagi UUDS 1950
 Pembubaran Konstituante
Tahun 1959 – 1968 (Demokrasi Terpimpin)

Demokrasi terpimpin adalah sebuah sistem demokrasi dimana seluruh keputusan serta pemikiran
berpusat pada pemimpin negara, yaitu Presiden Soekarno. Sistem Pemerintahan Demokrasi
Terpimpin pertama kali diumumkan oleh Presiden Soekarno dalam pembukaan sidang konstituante
pada tanggal 10 November 1956.
Pada masa demokrasi terpimpin ini terjadi berbagai penyimpangan yang menimbulkan beberapa
peristiwa besar di Indonesia. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada masa Demokrasi
terpimpin yaitu:
 Pancasila diidentikkan dengan NASAKOM (Nasionalis, Agama, dan Komunis)
 Produk hukum yang setingkat dengan undang-undang (UU) ditetapkan dalam bentuk
penetapan presiden (penpres) daripada persetujuan
 MPRS mengangkat Soekarno sebagai presiden seumur hidup
 Presiden membubarkan DPR hasil pemilu 1955
 Presiden menyatakan perang dengan Malasya
 Presiden menyatakan Indonesia keluar dari PBB
 Hak Budget tidak jalan

Pada masa ini terjadi persaingan antara Angkatan Darat, Presiden, dan PKI. Persaingan ini mencapai
klimaks dengan terjadinya perisiwa Gerakan 30 September 1965 yang dilakukan oleh PKI. Adapun
dampak dari peristiwa G 30 S adalah :
 Demostrasi menentang PKI
 Mayjen Soeharto menjadi Panglima AD
 Keadaan ekonomi yang buruk
 Kabinet seratus menteri
 Munculnya TRITURA (Tri Tuntutan Rakyat)

Tritura adalah singkatan dari tri tunturan rakyat atau tiga tuntutan rakyat yang dicetuskan dan
diserukan oleh para mahasiswa KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dengan didukung oleh
ABRI pada tahun 1965. Tuntutan ini ditujukan kepada Pemerintah. Isi TRITURA yaitu:

1. Pembubaran PKI dan ormas-ormasnya.


2. Pembersihan kabinet Dwikora dari unsur-unsur PKI.
3. Penurunan harga barang-barang.

Peralihan Kekuasaan politik dari Orde lama ke Orde Baru


Terjadinya peristiwa G 30 S PKI sangat berpengaruh terhadap proses peralihan pemerintahan dari
Orde Lama ke Orde baru. Berikut proses peralihan pemerintahan dari Orde Lama ke Orde baru:

Tanggal 16 Oktober 1966 Mayjen Soeharto telah dilantik menjadi Menteri Panglima Angkatan Darat
dan dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Jenderal.
Keberanian KAMI dan KAPPI yang memberikan kesempatan bagi Mayjen Soeharto untuk
menawarkan jasa baik demi pulihnya kemacetan roda pemerintahan dapat diakhiri. Untuk itu ia
mengutus tiga Jenderal yaitu M.Yusuf, Amir macmud dan Basuki Rahmat oleh Soeharto untuk
menemui presiden guna menyampaikan tawaran itu pada tanggal 11 Maret 1966. Sebagai hasilnya
lahirlah surat perintah 11 Maret 1966 (SUPERSEMAR).

SUPERSEMAR atau Surat Perintah Sebelas Maret adalah surat perintah yang ditandatangani Presiden
Soekarno pada 11 Maret 1966. Isinya berupa instruksi Presiden Soekarno kepada Letjen Soeharto,
selaku Menteri Panglima Angkatan Darat, untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu
untuk mengawal jalannya pemerintahan pada saat itu. Sampai saat ini belum ada yang tahu secara
pasti isi supersemar.

 Pada tanggal 7 februari 1967, jenderal Soeharto menerima surat rahasia dari Presiden
melalui perantara Hardi S.H. Pada surat tersebut di lampiri sebuah konsep surat penugasan
mengenai pimpinan pemerintahan sehari-hari kepada pemegang Supersemar.

 Pada 11 Februari 1967 Jend. Soharto mengajukan konsep yang bisa digunakan untuk
mempermudah penyelesaian konflik. Konsep ini berisi tentang pernyataan presiden
berhalangan atau presiden menyerahkan kekuasaan pemerintah kepada pemegang
Supersemar sesuai dengan ketetapan MPRS No.XV/MPRS/1966, presiden kemudian
meminta waktu untuk mempelajarinya.

 Pada tanggal 12 Februari 1967, Jend.Soeharto kemudian bertemu kembali dengan presiden,
presiden tidak dapat menerima konsep tersebut karena tidak menyetujui pernyataan yang
isinya berhalangan.

 Pada tanggal 20 Februari 1967 ditandatangani konsep ini oleh presiden setelah diadakan
sedikit perubahan yakni pada pasal 3 di tambah dengan kata-kata menjaga dan menegakkan
revolusi.

 Pada tanggal 23 Februari 1967, pukul 19.30 bertempat di Istana Negara presiden
/Mendataris MPRS/ Panglima tertinggi ABRI dengan resmi telah menyerahkan kekuasaan
pemerintah kepada pengemban Supersemar yaitu Jend.Soeharto.

 Pada bulan Maret 1967, MPRS mengadakan sidang istimewa dalam rangka mengukuhkan
pengunduran diri Presiden Soekarno sekaligus mengangkat Jenderal Soeharto sebagai
pejabat presiden RI.

 Setelah turunnya Presiden Soekarno dari kursi kepresidenan maka berakhirlah orde lama.
Kepemimpinan disahkan kepada Jendral Soeharto yang menanamkan era kepemimpinanya
sebagai orde baru.
Kelebihan dan Kekurangan Pemerintahan Orde Lama

Masa Pemerintahan Orde Lama memang tergolong pemerintahan yang mengalami banyak transisi
sistem pemerintahan dan banyak peristiwa penting yang terjadi di dalamnya. Berikut kelebihan dan
kekurangan masa Pemerintahan Orde lama:

Kelebihan Masa Orde Lama

 Presiden Soekarno banyak menyumbangkan gagasan-gagasan dalam politik luar negeri.


 Indonesia berhasil merebut kembali Irian Barat dari Belanda melalui jalur diplomasi dan
militer
 Kepemimpinan Indonesia di mata dunia Internasional mempunyai sumbangsih besar, yaitu
sebagai pelopor gerakan Non blok dan Pemimpin Asia Afrika. Konferensi Asia Afrika
diadakan pada tahun 1955 di Bandung. Konferensi Asia Afrika tersebut membuahkan
Gerakan Non-Blok pada tahun 1961.
 Mampu membangun integritas nasional yang kuat

Kekurangan Masa Orde Lama

 Penataan kehidupan konstitusional yang tidak berjalan sebagaimana di atur dalam UUD
1945.
 Situasi politik yang tidak stabil terlihat dari banyaknya pergantian kabinet yang mencapai 7
kali pergantian kabinet.
 Sistem demokrasi terpimpin. Kekuasaan Presiden Soekarno yang sangat Dominan, Sehingga
kehidupan politik tidak tumbuh demokratis.
 Pertentangan ideologi antara nasionalis, agama dan komunis (NASAKOM)
 Terjadinya inflasi yang mengakibatkan harga kebutuhan pokok menjadi tinggi.