Anda di halaman 1dari 17

Analisis Kesalahan Siswa Bimbingan Belajar Rafflesia Education Center dalam

Menyelesaiakan Soal Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan


Terbesar (FPB) berdasarkan Tujuan Pembelajaran

NILNA MA’RIFAH
Mahasiswa S2 Program Studi Pendidikan Matematika
UNIVERSITAS BENGKULU

Email : nilnamarifah@gmail.com

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesalahan siswa dan faktor penyebabnya

dalam menyelesaikan soal kelipatan persekutuan terkecil (KPK) dan faktor

persekutuan terbesar (FPB). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Subjek

dalam penelitian ini adalah 8 siswa kelas IV di bimbingan belajar rafflesia education

center. Instrumen dan teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu lembar tes dan

wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:1) Sebanyak 25% dari jawaban

siswa melakukan kesalahan dalam menentukan kelipatan suatu bilangan. 2)Sebanyak

75% dari jawaban siswa melakukan kesalahan dalam menentukan faktor suatu

bilangan. 3) Sebanyak 50% dari jawaban siswa melakukan kesalahan dalam

menentukan kelipatan persekutuan dua bilangan. 4) Sebanyak 25% dari jawaban

siswa melakukan kesalahan dalam menentukan faktor persekutuan dua bilangan. 5)

Sebanyak 50% dari jawaban siswa melakukan kesalahan dalam menentukan KPK dua

bilangan. 6) Sebanyak 62,5% dari jawaban siswa melakukan kesalahan dalam

menentukan FPB dua bilangan. 7) Sebanyak 25% dari jawaban siswa melakukan

kesalahan dalam menentukan KPK dua bilangan dengan faktor prima. 8) Sebanyak

12,5% dari jawaban siswa melakukan kesalahan dalam menentukan FPB dua bilangan

dengan faktor prima. Faktor penyebab terjadinya kesalahan karena siswa: tidak

mengetahui konsep kelipatan bilangan, kesalahan dalam menjumlahkan bilangan,

konsep faktor diartikan sebagai kelipatan, kesalahan dalam melakukan perkalian,


tidak teliti dalam memahami soal, nilai dalam menentukan kelipatan dua bilangan

terlalu besar, kesulitan mengambil kesimpulan dalam menentukan bilangan yang

merupakan kelipatan persekutuan, kesulitan mengambil kesimpulan dalam

menentukan bilangan yang merupakan faktor persekutuan, tidak mengetahui

bilangan prima serta tidak dapat membagi bilangan dengan faktor prima

Kata Kunci: Analisis, Kesalahan, KPK dan FPB

PENDAHULUAN

Pembelajaran matematika merupakan kegiatan pembelajaran yang menekankan


kemampuan penalaran seseorang dalam memecahkan masalah matematika. Materi
matematika merupakan materi yang abstrak yang memiliki karakteristik berbeda dengan
ilmu lainnya, sehingga menuntut kemampuan penalaran dalam mempelajarinya. Salah satu
aplikasi pembelajaran matematika di sekolah dasar adalah KPK dan FPB.
Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) adalah
materi yang penting diajarkan dan dikuasai siswa di jenjang sekolah dasar (SD). Materi ini
mulai diajarkan di SD dari kelas 4 hingga kelas 6. Hal yang dipelajari pada bab KPK dan FPB
di kelas 4 yaitu menentukan nilai KPK, nilai FPB dengan menggunkan pohon faktor, kelipatan
dan kotak satuan. Umumnya KPK digunakan untuk menyelesaikan operasi tambah dan
kurang pada pecahan biasa, sedangkan FPB digunakan untuk menyederhanakan pecahan
biasa dan mengubah pecahan desimal menjadi pecahan biasa. Pada materi ini siswa mencari
nilai KPK dan FPB suatu bilangan, namun pada pelaksanaan masih ditemukan banyak
kesalahan dalam penyelesaian soal. Kondisi ini membuat hasil belajar siswa rendah.
Rendahnya aktifitas belajar juga dijumpai siswa bimbingan belajar rafflesia education
center yang masih banyak melakukan kesalahan dalam penyelesaian soal KPK dan FPB yang
menyebakan hasil belajar siswa dalam materi ini rendah. Nilai yang didapat siswa
menunjukkan bahwa siswa masih belum bisa menyelesaikan soal KPK dan FPB dengan baik.
Prosedur pengerjaan soal untuk materi KPK dan FPB dapat dilihat pada contoh
berikut ini yaitu menentukan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dari 12 dan 16. Langkah-
langkah pengerjaan soal FPB umumnya dilakukan dengan cara faktor prima berikut
berdasarkan prosedur Murpratiwi, Nusantara dan Sa’dijah (2016:56): 1) siswa mencari
faktorisasi prima bilangan pertama, 2) siswa mencari faktorisasi bilangan kedua, 3) siswa
menentukan faktor prima yang sama, 4) siswa menentukan faktor prima yang sama dengan
pangkat terkecil, 5) siswa melakukan perhitungan dengan mengalikan faktor prima yang
sama dengan pangkat terkecil. Adapun langkah penyelesaian yang dilakukan oleh siswa
pada tahap 1 sampai tahap 3 sudah baik dimana siswa telah bisa menggambarkan pohon
faktor dan mencari faktorisasi bilangan prima pertama dan kedua. Kesalahan siswa dalam
pengerjaan soal FPB pada umumnya terjadi pada tahap 4 dan 5 yaitu dalam menentukan
faktor yang sama dengan pangkat terkecil, disini masih ditemui siswa yang menjawab
dengan nilai 24 yang merupakan faktor yang sama dengan pangkat terbesar. Jawaban yang
seharusnya didapat oleh siswa adalah 2 2. Terlihat bahwa siswa masih salah dalam
memahami konsep dasar dalam menyelesaikan pengerjaan soal FPB dengan KPK.

METODE

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif atau descriptive research.
Subjek dari penelitian ini adalah siswa bimbingan belajar rafflesia education center.
Penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian deskriptif yang akan dilaksanakan
berdasarkan prosedur menurut Mardapi (2012:110) adalah sebagai berikut :
1. Menyusun spesifikasi tes
2. Menulis tes
3. Mentelaah soal tes
4. Melakukan ujicoba tes
5. Menganalisis butir tes
6. Memperbaiki tes
7. Merakit tes
8. Melaksanakan tes
9. Menafsirkan hasil tes
A. Teknik Pengumpulan Data
Pada penelitian ini teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode
sebagai berikut :
1. Tes
Susetyo (2015:2) menyatakan tes adalah alat atau instrumen yang digunakan
untuk mengukur kemampuan, kecakapan individu pada aspek tertentu, baik yang
tampak maupun yang tidak tampak dan hasilnya berupa angka atau skor. Pada
penelitian ini tes terdiri dari soal yang sesuai dengan masalah yang ada.
2. Wawancara
Wawancara adalah suatu metode atau cara yang digunakan untuk mendapatkan
jawaban dari responden dengan cara tanya jawab sepihak (Arikunto,2013:44).
B. Teknik Analisis Data
Adapun sebelum menggunakan soal maka dilakukan pemerikasaan validitas, reliabilitas,
tingkat kesukaran dan daya beda soal menggunakan :
a. Uji Validitas Soal
Teknik yang digunakan untuk menentukan validitas butir soal dengan menggunakan
korelasi product momen pearson angka kasar. Rumus yang digunakan yaitu :
N ∑ XY −( ∑ X )( ∑ Y )
r xy =
√ {N ∑ X −(∑ X ) }{ N ∑ Y −(∑ Y ) }
2 2 2 2

Keterangan :
r xy = koefisien korelasi antara variabel X dan Y, dua variabel yang dikorelasikan
N = jumlah peserta tes
X = skor tiap item
Y = skor total
∑X = jumlah skor tiap item

∑Y = jumlah skor total

∑ XY = jumlah skor perkalian X dan Y


(Arikunto, 2013 : 87)
Berdasarkan ke tabel harga kritik r product moment, apabila nilai r h itung ≥ r tabel
maka dianggap signifikan, artinya soal tersebut dinyatakan valid. Sebaliknya apabila
r h itung <r tabel maka soal tersebut harus direvisi atau tidak digunakan. adapaun hasilyang
diperoleh dalam pengujian
Tabel 1.1 Hasil Perhitungan Validitas Butir Soal Uji Coba
No rxy Ket
1 0,667 Valid
2 0,461 Valid
3 0,378 Valid
4 0,429 Valid
5 0,530 Valid
6 0,501 Valid
7 0,542 Valid
8 0,585 Valid
9 0,680 Valid
10 0,589 Valid
11 0,541 Valid
12 0,636 Valid
Pada Tabel 1.1 diperoleh nilai r xy untuk masing-masing butir soal pada uji coba yaitu

untuk 12 soal. Nilai r tabel yang digunakan pada uji coba adalah untuk taraf nyata 5% dan N

= 37 adalah 0,334. Didapat nilai r xy untuk masing-masing soal yaitu semua soal atau

terdapat 12 butir soal yang mempunyai nilai r xy lebih dari nilai r tabel . Sehingga, 12 butir

soal tersebut merupakan soal yang valid yaitu butir soal 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12.

b. Uji Reliabilitas Butir Soal


Untuk mengukur tingkat keajegan soal ini digunakan perhitungan Alpha Cronbach
sebagai berikut:
2
∑σ
(
r 11 =
n
( n−1 ) )(
1− 2 i
σt )
Keterangan :
r 11 = Reliabilitas yang dicari
n = banyaknya butir soal
∑ σ 2i = jumlah varians skor tiap-tiap butir soal
2
σt = varians total
(Arikunto, 2013 : 122)

Uji reliabilitas yang dilakukan dari hasil uji coba diperoleh nilai reliabilitas sebesar

r 11 =0,7552 . Nilai reliabilitas pada uji coba tersebut berada dalam kategori “tinggi” yaitu

0,70<r 11 < 0,90 , sehingga tes uji coba dikatakan reliabel.

c. Uji Tingkat Kesukaran Soal


Tingkat kesukaran pada masing-masing butir soal dihitung dengan menggunakan
rumus :
B
P=
JS
Keterangan :
P = Indeks Kesukaran
B = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul
SB = Jumlah seluruh siswa peserta tes
(Arikunto, 2013 : 223)
Tabel 1.2 Hasil Perhitungan Tingkat Kesukaran Butir Soal Uji Coba.
No TK Ket
1 0,443 Sedang
2 0,189 Sukar
3 0,386 Sedang
4 0,803 Mudah
5 0,286 Sukar
6 0,228 Sukar
7 0,554 Sedang
8 0,453 Sedang
9 0,083 Sukar
10 0,145 Sukar
11 0,225 Sukar
12 0,079 Sukar

Berdasarkan hasil perhitungan tingkat kesukaran pada tabel 1.2 diperoleh 1 soal

dalam kategori mudah dengan rentang nilai 0,71-1,00 yaitu soal nomor 4, 4 soal dalam

kategori sedang dengan rentang nilai 0,31-0,70 yaitu soal nomor 1,3,7 dan 8, 7 soal dalam

kategori sukar yaitu 0,00-0,30 soal nomor 2, 5, 6, 9, 10, 11, 12. Hasil tingkat kesukaran yang

diperoleh beraneka ragam sehingga, semua soal termasuk kategori yang dapat digunakan.

d. Uji Daya Pembeda Soal


Daya pembeda ditentukan dengan:
B A BB
D= − =P A −PB
J A JB
Keterangan :
J = jumlah peserta tes
JA = banyaknya peserta kelompok atas
JB = banyaknya peserta kelompok bawah
BA = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar
BB = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar
PA = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar
PB = proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar
(Arikunto,2013:228)

Tabel 1.3 Hasil Perhitungan Daya Pembeda Uji Coba.


No Butir Ket
1 0,94 Baik Sekali
2 0,3 Baik
3 0,67 Baik Sekali
4 0,25 Cukup
5 0,44 Baik Sekali
6 0,3 Cukup
7 0,68 Baik Sekali
8 0,68 Baik Sekali
9 0,26 Cukup
10 0,41 Baik Sekali
11 0,41 Baik Skali
12 0,21 Cukup

Data tabel 1.3 diketahui bahwa terdapat 4 soal dalam kategori cukup (0,21-0,40), 1

soal dalam kategori baik (0,41-0,70) dan terdapat 7 soal dalam kategori baik sekali (0,71-

1,00)

Analisis Data
Menurut pendapat Miles dan Huberman dalam Emzir (2011:129) ada tiga macam
kegiatan dalam analisis data kualitatif, yaitu :
1. Reduksi Data
Langkah dalam reduksi data adalah sebagai berikut :
a. Memeriksa hasil tes yaitu dengan memeriksa kesalahan yang dilakukan siswa
dalam menyelesaikan soal KPK dan FPB. Pada tahap ini peneliti membuat persentase
dalam setiap kesalahan dan dirumuskan sebagai berikut :
f
P ¿ x 100
∑f
Keterangan :
P ¿ Persentase
f =¿ Jumlah siswa yang melakukan kesalahan
∑ f =¿ Jumlah keseluruhan siswa yang mengikuti tes
b. Melakukan wawancara kepada siswa yang melakukan kesalahan berdasarkan
jenis kesalahan dalam menyelesaikan soal tes. Wawancara bertujuan untuk
mengetahui faktor penyebab terjadinya kesalahan.
2. Model data (Data Display)
Display data merupakan bagian dari analisis dimana dirancang kolom dan baris
dari suatu data kualitatif dan menentukan data yang mana dalam bentuk yang mana, yang
harus dimasukkan ke kolom kesalahan yang mana.
3. Penarikan / Verifikasi kesimpulan
Langkah ketiga dari aktivitas analisis adalah penarikan dan verifikasi kesimpulan.
Kesimpulan yang diperoleh merupakan jawaban dari masalah penelitian tentang
kesalahan yang dilakukan siswa ketika menyelesaikan soal KPK dan FPB dan faktor
penyebab kesalahannya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian berikut jenis-jenis kesalahan dan faktor penyebab


kesalahan siswa bimbingan belajar rafflesia education center melakukan kesalahan dalam
menyelesaikan soal-soal pada materi KPK dan FPB disesuaikan dengan tabel indikator
adalah
Tabel 1.4 Indikator Letak Kesalahan
Tujuan Pembelajaran Jenis Kesalahan Indikator Letak Kesalahan
1. Siswa dapat 1. Kesalahan 1. Tidak paham kelipatan.
2. Kesalahan perhitungan
menentukan dalam
kelipatan suatu menentukan

bilangan kelipatan suatu

bilangan
2. Siswa dapat 2. Kesalahan 1. Tidak paham faktor.
2. Kesalahan perhitungan
menentukan dalam

faktor suatu menentukan

bilangan faktor suatu

bilangan
3. Siswa dapat 3. Kesalahan 1. Tidak paham kelipatan.
2. Tidak paham kelipatan
menentukan dalam
persekutuan
kelipatan menentukan 3. Kesalahan perhitungan

persekutuan dua kelipatan

bilangan. persekuuian dua

bilangan
4. Siswa dapat 4. Kesalahan 1. Tidak paham faktor.
2. Tidak paham faktor
menentukan dalam
persekutuan
faktor menentukan 3. Kesalahan perhitungan

persekutuan dua faktor

bilangan persekutuan dua

bilangan
5. Siswa dapat 5. Kesalahan 1. Tidak paham kelipatan.
2. Tidak paham kelipatan
menentukan dalam
persekutuan
kelipatan menentukan 3. Tidak paham KPK
4. Kesalahan perhitungan
persekutuan kelipatan

terkecil dua persekutuan

bilangan. terkecil dua

bilangan.
6. Siswa dapat 6. Kesalahan 1. Tidak paham faktor.
menentukan dalam 2. Tidak paham faktor

faktor menentukan persekutuan


3. Tidak paham FPB
persekutuan faktor 4. Kesalahan perhitungan

terbesar dua persekutuan

bilangan terbesar dua

bilangan
7. Siswa dapat 7. Kesalahan 1. Tidak paham bilangan prima
2. Tidak paham faktorisasi prima
menentukan dalam 3. Tidak paham faktor prima yang

Kelipatan menentukan sama


4. Tidak paham faktor prima
persekutuan Kelipatan
pangkat terbesar
terkecil dari dua persekutuan 5. Kesalahan perhitungan

bilangan dengan terkecil dari dua

menggunakan bilangan dengan

faktor prima. menggunakan

faktor prima.
8. Siswa dapat 8. Kesalahan 1. Tidak paham bilangan prima
2. Tidak paham faktorisasi prima
menentukan dalam 3. Tidak paham faktor prima yang

Faktor menentukan sama


4. Tidak paham faktor prima
persekutuan Faktor
pangkat terkecil
Terbesar dari dua persekutuan 5. Kesalahan perhitungan

bilangan dengan Terbesar dari

menggunakan dua bilangan

faktor prima. kelipatan

dengan

menggunakan

faktor prima.
1. Jenis kesalahan kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal materi KPK dan FPB
Jenis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal pada materi KPK dan FPB di analisis
berdasarkan indikator pembelajaran. Hasil dari tes siswa dalam menyelesaikan 12 soal
tersebut digolongkan menjadi 8 jenis yaitu kesalahan dalam mencari kelipatan, mencari
faktor, menentukan kelipatan persekutuan, menentukan faktor persekutuan, menentukan
KPK, menentukan FPB, menentukan KPK dengan faktor prima, menentukan FPB dengan
faktor prima
Mencari kelipatan suatu bilangan pada soal nomor 1 dibagi menjadi dua kategori yaitu
siswa tidak paham kelipatan dan kesalahan dalam melakukan perhitungan. Banyak siswa
yang melakukan kesalahan dalam kategori tidak paham kelipatan yaitu terdapat 2 orang
siswa. Siswa melakukan kesalahan dalam melakukan perhitungan kelipatan adalah sebanyak
2 orang.

Gambar 1.1 Contoh siswa tidak paham kelipatan

Soal nomor 2 dalam mencari faktor dari suatu bilangan terdapat 3 kategori siswa
dalam melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal tersebut yaitu yang pertama adalah
siswa salah dalam menerapkan konsep faktor dengan cara menerapkan konsep kelipatan
suatu bilangan. Kategori yang kedua yaitu siswa tidak paham bagaimana mencari faktor dari
bilangan tersebut dan yang ketiga adalah siswa melakukan kesalahan dalam melakukan
perhitungan untuk mencari faktor bilangan itu sendiri.

Gambar1.2 Contoh siswa melakukan kesalahan perhitungan oleh MS


Menentukan kelipatan persekutuan suatu bilangan terdapat pada soal nomor 3 dan 4.
Kesalahan yang dilakukan siswa yaitu kesalahan dalam melakukan perhitungan dari faktor
dua bilangan tersebut. Dalam melakukan perhitungan kelipatan suatu bilangan, siswa
kesulitan dalam mencari kelipatan dengan angka-angka yang bernilai besar. Indikator
kesalahan kedua yang banyak dilakukan siswa adalah kesulitan dalam menenentukan
kelipatan yang sama. Siswa kurang teliti dan jeli dalam melihat kelipatan yang sama padahal
siswa telah mendapatkan hasil dalam mencari kelipatan dari dua bilangan tersebut.
Faktor persekutuan dari dua bilangan untuk soal nomor 5 dan 6 kesalahan yang
dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal tersebut ada untuk setiap indikator pembelajaran.
Kesalahannya meliputi mencari faktor dari bilangan pertama, mencari faktor dari bilangan
kedua dan menentukan faktor yang sama dari dua bilangan yang telah diketahui dan dicari
faktornya. Mencari faktor dari dua bilangan pada soal terdapat dua kategori jenis kesalahan
siswa. Dua jenis kesalahan siswa tersebut adalah siswa mencari faktor dari suatu bilangan
dengan menggunakan konsep dari kelipatan bilangan dan kedua adalah siswa memahami
konsep dalam mencari faktor dari suatu bilangan akan tetapi salah dalam melakukan
perhitungannya. Indikator kesalahan dalam menentukan faktor persekutuan bilangan
dipengaruhi oleh 2 cara penyelesaian siswa. Cara penyelesaian yang pertama ialah siswa
tidak paham definisi dan konsep dari faktor persekutuan yaitu dalam artian faktor yang sama.
Kesalahan yang disebabkan oleh cara yang kedua adalah siswa sudah salah dalam mencari
faktor dari dua bilangan tersebut
Kesalahan yang dilakukan siswa dalam menentukan KPK dari dua bilangan terdapat 4
indikator kesalahan yaitu siswa salah dalam mencari faktor dari bilangan pertama, siswa
salah dalam mencari faktor bilangan kedua, kesalahan dalam menentukan faktor persekutuan,
kesalahan dalam menentukan nilai KPK yang tepat. Menentukan KPK dari dua bilangan
terdapat pada soal nomor 7 dan 8 dibagi menjadi empat indikator kesalahan, yaitu siswa tidak
paham kelipatan,siswa tidak paham kelipatan persekutuan,siswa tidak paham KPK dan siswa
melakukan kesalahan perhitungan. Pada indikator mencari faktor untuk dua bilangan yang
ditanyakan siswa salah dalam melakukan perhitungan kelipatan tersebut. Kesalahan
perhitungan dalam mencari kelipatan bilangan itu terdapat pada angka dengan nilai belasan
dan puluhan. Menentukan kelipatan persekutuan dan kelipatan persekutuan terkecil untuk dua
indikator kesalahan ini siswa belum mampu menemukan kelipatan yang sama dan terdapat
siswa yang masih belum paham jika KPK diambil dari kelipatan persekutuan yang nilainya
terkecil.
Jenis kesalahan dalam menentukan FPB yang terdapat pada soal nomor 9 dan 10 yang
dilakukan siswa yaitu kesalahan dalam mencari faktor dari dua bilangan, menentukan faktor
persekutuan, dan menentukan nilai FPB dari dua bilangan tersebut. Kesalahan yang banyak
dilakukan siswa yaitu mencari faktor bilangan, dalam hal ini siswa telah memahami konsep
dalam mencari faktor bilangan tetapi belum lengkap dalam menuliskan jawaban yang diminta
soal dalam mencari faktor tersebut. Dua jenis kesalahan dalam menentukan faktor
persekutuan dan faktor persekutuan terbesar dilakukan oleh kebanyakan siswa karena telah
salah dalam mencari dua faktor bilangan sebelumnya serta siswa kesulitan dalam memahami
definisi dari faktor persekutuan dan faktor persekutuan terbesar.

Gambar 1,3 Contoh siswa yang melakukan kesalahan perhitungan

Pada soal nomor 11 dan 12 yaitu dalam menentukan KPK dan FPB dengan cara faktor
prima terdapat kesamaan jenis kesalahan yang dilakukan oleh siswa. Kesalahan yang sama
dalam menyelesaikan soal tersebut adalah siswa belum memahami bilangan prima dan faktor
prima, oleh karena itu tidak terdapat siswa yang benar dalam menjawab soal serta siswa tidak
memahami cara menyelesaikan soal tersebut.

2. Faktor Penyebab Kesalahan Siswa dalam menyelesaikan soal pada materi KPK dan
FPB
Faktor penyebab kesalahan siswa dapat diketahui dengan dilakukannya wawancara.
Berdasarkan wawancara kepada siswa yang melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal
dapat diketahui setiap indikator pembelajaran. Hasil dari wawancara tersebut dapat diketahui
8 kategori jenis kesalahan yang dilakukan siswa.
Jenis kesalahan pada soal nomor 1 dalam mencari kelipatan bilangan dari 13 yaitu
kesalahan dalam melakukan perhitungan kelipatan tersebut. Berdasarkan hasil wawancara
dengan siswa faktor penyebab kesalahan adalah siswa kurang teliti dalam mengerjakan soal
dan terdapat siswa yang tidak memahami definisi dari kelipatan tersebut.
Kesalahan dalam mencari faktor suatu bilangan pada soal nomor 2 adalah siswa
melakukan kesalahan perhitungan dalam mencari faktor tersebut. Penyebab kesalahan siswa
terbagi menjadi 2 kategori. Pertama adalah siswa tidak membaca soal dengan baik sehingga
siswa mengerjakan soal faktor dengan menggunakan konsep mencari kelipatan bilangan.
Faktor penyebab yang kedua adalah siswa tidak teliti dalam mengerjakan soal sehingga
jawaban dari siswa untuk faktor bilangan tidak lengkap
Faktor penyebab kesalahan siswa dalam menentukan kelipatan persekutuan pada soal
nomor 3 dan 4 adalah siswa tidak memahami definisi dari kelipatan persekutuan dan tidak jeli
dalam menentukan kelipatan persekutuan tersebut. Siswa tidak memahami definisi kelipatan
persekutuan karena siswa tidak mengulang pelajaran dirumah setelah mendapat materi
pembelajaran disekolah
Menentukan faktor persekutuan pada soal nomor 5 dan 6 penyebab kesalahan siswa
adalah salah dalam menerapkan konsep faktor. Cara yang digunakan siswa dalam
menyelesaikan faktor adalah dengan menggunakan konsep kelipatan. Kesalahan lainnya
siswa tidak menuliskan jawaban dengan lengkap karena faktor salah dalam menghitung.
Kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal pada nomor 7 dan 8 yaitu menentukan
KPK dari dua bilangan dipengaruhi oleh faktor siswa salah dalam menghitung kelipatan dari
dua bilangan dan tidak memahami definisi dari apa itu KPK.
Penyebab kesalahan dalam menentukan FPB pada soal nomor 9 dan 10 adalah
kesalahan konsep penyelesaian faktor dengan menggunakan kelipatan bilangan. Tidak
memahami definisi dari FPB yang diakibatkan oleh tidak dapat menentukan faktor
persekutuan dari dua bilangan tersebut.
Terakhir untuk nomor 11 dan 12 mempunyai kesamaan dalam faktor penyebab
kesalahan yang dilakukan oleh siswa yaitu tidak memahami atau lupa bilangan prima. Siswa
tidak bisa membagi bilangan dengan cara faktor prima karena tidak memahami bilangan apa
saja yang termasuk bilangan prima.
Adapun berdasarkan Penelitian Murpratiwi, Nusantara dan Sa’dijah (2016) yang
berjudul “ Analisis Kesalahan siswa SMP dalam Menyelesaikan Soal Cerita KPK dan FPB”.
Berdasarkan hasil penelitian, kesalahan menunjukan terdapat 1 siswa salah menentukan
penyelesaian soal KPK, 1 siswa salah menentukan penyelesaian semua soal menggunakan
FPB, 3 Siswa menentukan penyelesaian terbalik, 2 Siswa menentukan nilai KPK dan FPB
terbalik, 5 siswa menentukan nilai KPK dan FPB tidak sesuai prosedur dan 8 siswa
menjawab dengan benar. Siswa yang salah menentukan penyelesaian disebabkan kesulitan
membedakan soal cerita KPK dan FPB. Siswa salah menentukan nilai KPK dan FPB
disebabkan siswa tidak mengetahui cara menentukan nilai KPK dan FPB
Adapun keterbatasan penelitian ini adalah pada saat mengerjakan soal tes siswa
diberikan lembar jawaban yang telah dilengkapi dengan langkah-langkah pengerjaan soal.
Hal ini dapat meminimalisir kesalahan yang dilakukan siswa pada saat pengerjaan soal.

PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
Indikator letak kesalahan yang dilakukan oleh siswa adalah sebagai berikut :
1. Sebanyak 25% dari jawaban siswa melakukan kesalahan dalam menentukan
kelipatan suatu bilangan.
2. Sebanyak 75% dari jawaban siswa melakukan kesalahan dalam menentukan
faktor suatu bilangan.
3. Sebanyak 50% dari jawaban siswa melakukan kesalahan dalam menentukan
kelipatan persekutuan dua bilangan.
4. Sebanyak 25% dari jawaban siswa melakukan kesalahan dalam menentukan
faktor persekutuan dua bilangan.
5. Sebanyak 50% dari jawaban siswa melakukan kesalahan dalam menentukan
KPK dua bilangan.
6. Sebanyak 62,5% dari jawaban siswa melakukan kesalahan dalam menentukan
FPB dua bilangan.
7. Sebanyak 25% dari jawaban siswa melakukan kesalahan dalam menentukan
KPK dua bilangan dengan faktor prima.
8. Sebanyak 12,5% dari jawaban siswa melakukan kesalahan dalam menentukan
FPB dua bilangan dengan faktor prima.

Faktor penyebab kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal pada materi KPK dan
FPB adalah sebagai berikut :
1. Faktor penyebab kesalahan siswa dalam menentukan kelipatan suatu
bilangan adalah tidak mengetahui konsep kelipatan suatu bilangan serta kesalahan
dalam menjumlahkan bilangan yang menjadi hasil dari kelipatan.
2. Faktor penyebab kesalahan siswa dalam menentukan faktor suatu bilangan
adalah konsep faktor diartikan sebagai kelipatan, kesalahan dalam melakukan
perkalian bilangan untuk mendapatkan faktor dan tidak teliti dalam memahami soal.
3. Faktor penyebab kesalahan siswa dalam menentukan kelipatan persekutuan
dari dua bilangan adalah nilai dalam menentukan kelipatan terlalu besar, kesulitan
mengambil kesimpulan dalam menentukan bilangan yang merupakan kelipatan
persekutuan, serta siswa tidak teliti dalam membaca soal.
4. Faktor penyebab kesalahan siswa dalam menentukan faktor persekutuan dari
dua bilangan adalah siswa mengerjakan soal dengan tergesa-gesa, menggunakan
konsep kelipatan yang seharusnya menggunakan faktor, kesulitan mengambil
kesimpulan dalam menentukan bilangan yang merupakan faktor persekutuan dan
salah dalam menghitung perkalian bilangan dalam menentukan faktor.
5. Faktor penyebab kesalahan siswa dalam menentukan KPK dari dua bilangan
adalah salah dalam menjumlahkan bilangan untuk mendaptkan kelipatan bilangan,
kesulitan mengambil kesimpulan menentukan kelipatan persekutuan dan
menyimpulkan bahwa KPK merupakan gabungan dari semua kelipatan dari dua
bilangan yang dicari .
6. Faktor penyebab kesalahan yang dilakukan siswa dalam menentukan FPB dari
dua bilangan adalah tidak teliti dalam memahami soal dan nilai bilangan dari faktor
yang akan dicari terlalu besar.
7. Faktor penyebab kesalahan yang dilakukan siswa dalam menentukan KPK dan
FPB dengan menggunakan faktorisasi prima adalah tidak mengetahui bilangan prima
dan tidak dapat membagi bilangan dengan faktor prima dan faktor prima.

Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, beberapa kesimpulan yang dapat penulis sampaikan
adalah sebagai berikut :
1. Untuk setiap guru bidang studi matematika agar lebih mengingatkan materi
prasyarat tentang perkalian dan pembagian bilangan dan materi bilangan prima
2. Guru sebaiknya mengingatkan siswa agar lebih teliti dalam membaca dan
memahami maksud soal serta lebih jeli dalam menyelesaikan permasalahan soal.
3. Dalam memberikan latihan soal sebaiknya guru lebih memberikan umpan
balik dan membahas soal secara lebih detail serta menyeluruh sehingga
penyampaian pembelajaran dapat diterima dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2013. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.


Emzir. 2011. Metodologi Penelitaian Kualitatif Analisis Data. Jakarta : PT RajaGrafindo
Persada.
Mardapi, Djemari. 2012. Pengukuran Penilaian & Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta : Nuha
Litera.
Murpratiwi, Gendis & Nusantara, Toto dkk. 2016. Analisis Kesalahan Siswa SMP Dalam
Menyelesaikan Soal Cerita KPK dan FPB. Prosiding.
https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/6941/5_142_Makalah
%20Rev%20Gendis%20Murpratiwi.pdf?sequence=1 . Diakses 20 September 2018
Susetyo, Budi. 2015. Prosedur Penyusunan dan Analisis Tes untuk Penilaian Hasil Belajar
Bidang Kognitif. Bandung : PT Refika Aditama.