Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KRITIS

MASALAH PEMBELAJARAN MAGANG KEPENDIDIKAN III

DI SMA NEGERI 3 BOYOLALI

TAHUN PELAJARAN 2018/2019

Disusun untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat Mengikuti FGD Magang
Kependidikan III di SMA Negeri 3 Boyolali

Disusun oleh :

Nama : Dwikie Mahendra Sani

NIM : K2315023

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2018

i
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan kritis masalah pembelajaran ini telah disetujui dan disahkan guna
memenuhi tugas Magang Kependidikan III Program Studi Pedidikan Fisika, Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta di SMA Negeri
3 Boyolali Tahun Pelajaran 2018/2019 pada :

Hari :
Tanggal :

Menyetujui,

Dosen Pembimbing, Guru Pamong,

Ahmad Fauzi, M. Pd. Alice Fauziah Ahmad, S. Pd.


NIP 19790205 200312 1 001 NIP. 19780429 200701 2 010

Mengetahui

Kepala SMA Negeri 3 Boyolali,

Khaerul Anwar, S.Pd


NIP. 19690805 199101 1 001

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan
Kritis Masalah Pembelajaran yang dilaksanakan di SMA Negeri 3 Boyolali 7. Magang
Kependidikan III merupakan salah satu mata kuliah yang harus ditempuh oleh seluruh
mahasiswa FKIP UNS.
Dalam pelaksanaan Magang Kependidikan III dan penulisan laporan kritis
masalah pembelajaran ini, penulis banyak memperoleh bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada :
1. Bapak Khaerul Anwar, S.Pd selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Boyolali
atas diberikannya izin kepada mahasiswa Magang Kependidikan III untuk
melaksanaan kegiatan Magang Kependidikan III.
2. Ibu Dra. Elly Rosita, selaku Koordinator guru pamong Magang
Kependidikan III di SMA Negeri 3 Boyolali.
3. Ibu Alice Fauziah Ahmad, S.Pd selaku guru pamong yang telah
membimbing penulis selama melaksanakan kegiatan Magang
Kependidikan III.
4. Bapak Ahmad Fauzi, M.Pd selaku dosen pembimbing yang senantiasa
memberikan bimbingan kepada penulis selama melaksanakan kegiatan
Magang Kependidikan III.
5. Bapak, Ibu Guru dan seluruh staff karyawan SMA Negeri 3 Boyolali yang
telah memberikan berbagai bantuan yang diperlukan penulis selama
melaksanakan kegiatan Magang Kependidikan III.
6. Siswa – siswi kelas X MIPA 2, X MIPA 3, X MIPA 4 SMA Negeri 3
Boyolali atas bantuan dan kerjasamanya..
7. Teman-teman Magang Kependidikan III yang selalu membantu dan
berkerjasama selama melaksanakan kegiatan magang.
8. Teman-teman Pendidikan Fisika 2015 yang selalu mendukung

iii
9. Bapak dan Ibu yang selalu memberikan dukungan
10. Semua pihak yang telah membantu kelancaran pelaksanaan Magang
Kependidikan III di SMA Negeri 3 Boyolali
Penulis menyadari dalam penulisan laporan permasalahan pembelajaran ini
masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak agar laporan
permasalahan pembelajaran ini dapat lebih baik lagi. Semoga laporan ini dapat
bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Surakarta, 30 Oktober 2018


Penulis

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................... ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
A. Latar Belakang...................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 2
C. Tujuan Penulisan .................................................................................. 2
BAB II PERMASALAHAN DAN UPAYA PEMECAHAN MASALAH .......... 3
A. Permasalahan ........................................................................................ 3
B. Upaya Pemecahan................................................................................. 8
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 12
A. Kimpulan .............................................................................................. 12
B. Saran ..................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………....13

v
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan khususnya pendidikan di Indonesia mempunyai peranan
yang penting untuk menjamin perkembangan kemajuan dan kelangsungan
bangsa. Sehingga pedidikan saat ini harus dipersiapkan sedemikian rupa
sehingga mampu menjawab segala permasalahan bangsa dan tujuan yang
dicapai. Salah satu yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan adalah proses
pembelajaran yang dilaksanakan dalam kelas.
Proses pembelajaran merupakan proses yang didalamnya terjadi relasi
dan interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik. Dalam suatu
proses pembelajaran perubahan perilaku peserta didik dan pendidik, sehingga
dalam hal ini posisi pendidik merupakan posisi yang strategis dalam
meningkatkan kualitas pembelajaran. Akan tetapi, dalam proses pembelajaran
peserta didik seringkali mengalami beberapa masalah yang daoat
mempengaruhinya sehingga akan mengakibatkan hasil belajar yang kurang
optimal. Masalah-masalah tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor
antara lain faktor dalam (intern) seperti sikap, motivasi, dan konstrasi dalam
belajar. Sedangkan faktor dari luar (ekstern) seperti pendidik, sarana dan
prasarana, lingkungan, dan lain-lain. Oleh karena itu, pendidik harus
mengetahui masalah pembelajaran. Sehingga jika terdapat peserta didik
mengalami masalah belajar dapat diketahui dan bisa menyelesaikannya.
Dalam kegiatan magang kependidikan III, mahasiswa diorientasikan
untuk merasakan menjadi pendidik yang seusungguhnya. Dalam proses
kegiatan pembelajaran, seorang pendidik selalu dihadapkan dengan permasalah
selama proses pembelajaran di kelas. Dari permasalahan teresebut pendidik
dituntut untuk mencari suatu penyelesaian terhadap masalah yang terjadi

1
tersebut agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, yang nantinya
akan tercapai prestasi belajar peserta didik.
Berdasarkan uraian di atas, maka laporan kritis masalah pembelajaran
ini disusun untuk menjelaskan persiapan mahasiswa magang untuk menjadi
calon guru professional agar mampu meningkatkan kualitas pendidikan yaitu
dengn cara mengidentifikasi permasalahan-permasalahan dalam kegiatan
pembelajaran di kelas serta memberikan solusi untuk memecahkan asalah
tersebut. Laporan kritis tersebut disusun karena betapa pentingnya terutama
bagi mahasiswa magang dalam hal ini sebagai observer aktif untuk mengetahui
permasalahan-permasalahan yang terjadi pada saat pembelajaran berlangsung,
sehingga mahasiswa dapat mengetahui solusi atau upaya yang dapat membantu
dalam penyelesaian masalah yang ditemukan. Sehingga dapat kegiatan
pembelajaran dapat berjalan dengan lancar
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam kegiatan
pembelajaran yang muncul di kelas X MIPA 2, MIPA 3, dan MIPA 4 di
SMA Negeri 3 Boyolali tahun pelajaran 2018/2019?
2. Bagaimanana upaya menyelesaiakan atau pemecahan masalah
pembelajaran di kelas X MIPA 2, MIPA 3, dan MIPA 4 SMA negeri 3
Boyolali tahun pelajaran 2018/2019?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan perumusan masalah tersebut, tujuan penyusunna laporan kritis ini
adalah:
1. Menjelaskan permasalahan-permasalahan dalam kegiatan pembelajran
yang muncul di kelas X MIPA 2, MIPA, 3, dan MIPA 4 SMA Negeri 3
Boyolali.
2. Menjelaskan upaya penyelesaian masalah untuk mengatasi masalah
pembelajaran di kelas X MIPA 2, MIPA 3, dan MIPA 4 SMA Negeri 3
Boyolali.

2
BAB II

PERMASALAHAN DAN UPAYA PEMECAHAN MASALAH

A. Permasalahan
Masalah adalah ketidaksesusaian antara harapan dengan kenyataan,
sehingga ada yang mengartikan sebagai sautu hal yang tidak mengenakan dan
perlu dihilangkan. Masalah merupakan bagian terpenting dalam proses
penelitian, masalah dapat menghadirkan petunjuk berupa informasi yang akan
dibutuhkan dalam membuat solusi. Sedangkan proses pembelajaran merupakan
hal yang kompleks, proses belajar didorong oleh motivasi peserta didik,
disiamping itu proses belajar juga terjadi atau menjadi bertambah baik bila
didorong oleh lingkungan peserta didik seperti model/metode pembelajaran,
saran prasarana, lingkungan sekolah, dan lingkungan social. Sehingga aktivitas
pembelajaran dapat meningkat bila program pembelajaran disusun dengan baik.
Sehingga masalah belajar merupakan kondisi tertentu yang dialami peserta didik
yang menjadi hambatan untuk kelancaran proses yang dilakukan individu agar
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan.
Berdasarkan observasi pembelajaran fisika di SMA Negeri 3 Boyolali
pada saat kegiatan belajar mengajar penulis dihadapkan dengan karakteristik dan
sikap peserta didik yang beraneka ragam. Beberapa peserta didik dapat
melaksanakan kegiatan belajarnya dengan lancar dan berhasil tanpa mengalami
kendala, tetapi tidak sedikit juga peserta didik yang mengalami kesulitan saat
kegiatan pembelajaran. Praktik latihan mengajar dalam egiatan Magang
Kependidikan III yang dilaksanakan penulis di kelas X MIPA 2 – X MIPA 4 juga
memenuhi permasalahan-permasalahn pembelajaran yang dominan, yaitu
sebagai berikut:
1. Pada awal kegiatan pembelajaran, masih terdapat peserta didik yang belum
siap menerima pelajaran fisika. Hal tersebut terlihat ketika pendidik memulai
pembelajaran, masih terdapat peserta didik khususnya yang duduk di bagian

3
belakang yang bermain sendiri dan belum menyiapkan apa yang dibutuhkan
saat pelajaran fisika seperti buku fisika, alat tulis, dan lain-lain.
2. Terdapat peserta didik yang tidak berkonsentrasi penuh dalam pembelajaran
yang bisa diamati dengan ketika peserta didik melamun saat pembelajaran
dan kurang bisa menjawab ketika ditanya tentang materi yang baru saja
disampaikan.
3. Ketika kegiatan berdiskusi, tidak semua peserta didik yang bersungguh-
sungguh dalam berdiskusi sehingga kegiatan diskusi kelompok kurang
kondusif.
4. Saat tahap presentasi beberapa peserta didik cenderung tidak menghargai
presentasi peserta didik lain dengan cara tidak mau mendengarkan apa yang
disampaikan dan mengobrol dengan teman yang lain.
5. Dalam pembelajaran fisika di kelas, hanya ada 3 sampai 5 siswa dari setiap
kelas yang aktif bertanya dan mampu menjawab pertanyaan guru. Penulis
pernah mendapat komentar dari siswa bahwa penulis terlalu cepat dalam
mengajarkan materi sehingga beberapa dari mereka masih bingung dengan
konsep materi yang diajarkan sehingga tidak tahu apa yang harus ditanyakan
kepada guru. Selain itu beberapa dari mereka masih malu untuk bertanya
kepada guru tentang ketidakpahamannya.
Berdasarkan permasalahan-permasaahan pembelajaran yang dominan
saat proses pembelajaran di atas, dapat disimpulkan bahwa secara umum
permaslahan pembelajaran yang terjadi di kelas X MIPA 2 – X MIPA 4 antara
lain:
1. Aspek Pengetahuan
a. Konsep matematika yang kurang
Ketika mempelajari fisika selalu berkaitan dengan ilmu hitung
atau ukur yaitu matematika. Dalam kegiatan pembelajaran fisika,
permasaalahan yang terjadi yaitu beberapa peserta didik bermasalah
dalam konsep-konsep matematikanya. Hal ini dikarenakan masih terdapat
konsep-konsep matematika yang belum diperoleh peserta didik untuk

4
memecahkan sebuah konsep fisika. Dengan kata lain pada mata pelajaran
matematika belum diajarkan tetapi pada pelajaran fisika sudah diajarkan.
Sehingga menimbulkan kurangnya pemahaman peserta didik tentang
konsep yang diajarkan. Contoh lain yaitu ketika peserta didik
memperoleh hasil belajar yang kurang, dalam prosesnya sebenarnya
peserta didik sudah memahami konsep fisikanya, tetapi terdapat beberapa
peserta didik yang salah hitung dan kurang teliti.

2. Aspek Sikap
a. Sikap ilmiah
Dalam proses pembelajaran ketika pendidik memberikan
permasalahan ilmiah atau sains kepada peserta didik, masih banyak
peserta didik yang kurang aktif, hanya terdapat sekitar 3-5 peserta didik
yang berani mencoba pertanyaan dari pendidik.. Hal tersebut
mengakibatkan pembelajaran yang menggunakan proses ilmah belu
optimal sehingga pembelajaran masih berpusat pada pendidik (teacher
center learning). Dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa keaktifan dan
kemampuan diskusi selama proes pembelajaran ilmiah pada mata
pelajaran fisika masih kurang.
b. Motivasi belajar
Motivasi belajar adalah serangkaian usaha untuk menyediakan
kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan
sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan nerusaha untuk meniadakan
atau mengelak perasaan tidak suka itu. (A.M Sardiman, 2005). Ketika
motivasi belajr dalam diri peserta didik mulai berkurang, maka
dampaknya pada sikap yang ditunjukkan pada saat mengikuti kegiatan
pembelajaran. Teradapat beberapa peserta didik yang kurang tertarik
dengan mata pelajaran fisika. Hal tersebut dapat dilihat ketika penulis
melaksanakan kegiatan pembelajaran yaitu terdapat peserta didik yang
bermain smarthphone tetapi menggunakannya diluar konteks

5
pembelajaran. Selain itu, terdapat beberapa peserta didik mempunyai
sikap ketidakmauan untuk menemukan penyelesaiannya ketika penulis
memerintahkan untuk mengerjakan soal .
c. Konsentrasi belajar
Konsentrasi belajar adalah kemampan peserta didik untuk
memusatkan perhatian terhadap pembelajaran yang sedang berlangsung.
Berdasarkan pengamatan penulis, terdapat peserta didik yang kurang
bahkan tidak berkonsentrasi dalam mendengarkan penjelasan pendidik
atau saat melaksanakan tugas kelompok. Ketika terdapat bebrapa peserta
didik yang diwawancarai penulis secara langsung salah-satu hal yang
menyebabkan konsentrasi peserta didik kurang yaitu dikarenakan adanya
tugas di mata pelajaran sesudahnya atau terdapat penilaian harian dari
mata pelajaran lain.
d. Kedisiplinan
Kedisiplinan merupakan sikap menghormati, menghargai, dan
patuh terhadap peraturan yang berlaku. Dalam pembelajaran di kelas,
masih terdapat beberapa eserta didik yang kurang memiliki sikap disiplin.
Sebagai contohnya ketika melaksanakan penilaian harian, masih
teradapat beberapa peserta didik yang melihat pekerjaan peserta didik
lainnya. Dan contoh lain pada saat presentasi tugas kelompok, masih
teradapat peserta didik yang kurang menghargai kelompok yang sedang
maju depan kelas untuk menyampaikan pendapatnya.
e. Rasa percaya diri
Rasa percaya diri akan muncul sebagai akibat dari keinginan
mewujudkan diri dalam bertindak dan berhasil. Dari segi perkembangan,
rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dan lingkungan.
Dalam kelas sebagai tempat observasi terlihat beberapa peserta didik
kurang berpartisipasi secara aktif karena adanya kurang percaya dirian
dalam diri peserta didik, sehingga peserta didik menjadi pasif dalam
kegiatan pembelajaran berlangsung. Partisipasi di sini berkaitan pada saat

6
bertanya, menjawab pertanyaan guru, menyampaikan pendapat, maupun
menjawab soal. Hanya beberapa peserta didik yang sudah aktif, sehingga
yang bertanya dan menyampaikan pendapatnya hanya orang-orang itu
saja. Kurangnya partisipasi peserta didik mungkin disebabkan karena
adanya rasa minder dalam diri peserta didik, sehingga mereka lebih
memilih untuk menjadi pasif atau diam ketika kegiatan pembelajaran
berlangsung meskipun mereka ingin mengemukakan pendapat.
3. Aspek Ketrampilan
Kurangnya kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis dalam
pembelajaran.
Berdasarkan kegiatan observasi yang dilakukan saat penulis
mengadakan pembelejaran dengan kegiatan diskusi informasi terbimbing
yang kemudian dilanjutkan presentasi, penulis menemukan terdapat peserta
didik yang pada saat diskusi hanya bekerja sendiri dan pada saat presentasi
hanya membaca monoton tanpa melihat kondisi peserta didik lain yang tidak
sedang presentasi. Kemampuan bertanya peserta didik juga kurang ditandai
dengan kurang aktifnya peserta didik untuk Tanya jawab pada saat diskusi
presentasi berlangsung. Kemudian ketika pendidik memberikan latihan soal
kepada siswa, ada siswa yang berani maju untuk mengerjakan, dan peserta
didik lain yang lain ikut mencoba mengerjakan di meja masing - masing,
namun masih terdapat siswa yang terkadang bicara dengan teman, ada yang
membuka laptop mengerjakan tugas lain, ada juga yang bermalas malasan
tidak mengerjakan.

7
Sedangkan permasalahan-permasalahan pembelajaran lain diluar ketiga
aspek tersebut yang muncul selama kegiatan pembelajaran di kelas X MIPA 2 –
X MIPA 4 SMA Negeri 3 Boyolali antara lain adalah sebagai berikut:
Sarana dan prasarana
Sarana dan prasarana merupakan salah satu komponen yang penting
dalam proses pembelajaran. Apabila suatu sekolah memiliki sarana dan prasarana
yang memadai, maka kegiatan pembelajaran akan berlangsung baik. Tetapi
permasalahan sarana dan prasarana berdasarkan observasi yaitu keadaan ruang
kelas yang sedikit panas walaupun sudah tersedia kipas angina di setiap kelas,
tetapi hal tersebut sering mengganggu konsentrasi pesera didik dalam proses
pembelajaran karena peserta didik merasa kurang nyaman.

B. Upaya Pemecahan
Berdasarkan permasalahan-permasalahn yang sudah penulis uraiakan, penulis
berpendapat terkait upaya-upaya untuk memecahkan permasalahn tersebut
berdasarkan referensi penulis. Berikut ini adalah beberapa upaya pemecahan dari setiap
masalah, antara lain:
1. Penyajian pembelajaran dengan model dan metode yang bervariasi
Metode dan model pembelajaran yang tepat perlu digunakan pendidik
sehingga pada saat proses pembelajaran peserta didik dapat berperan aktif dalam
pembelajaran. Model dan metode yang sesuai dengan materi peserta didik dapat
mengantarkan kegiatan pembelajaran. Model dan metode yang sesuai dengan
materi dan karakteristik peserta didik dapat menghasilkan kegiatan pembelajaran
yang efektif dan efisien dan juga menyenangkan.
2. Mengubah pola pikir peserta didik
Untuk menjadi pendidik yang propesional, maka harus mampu mengubah
pola pikir peserta didik. Agar peserta didik dapat berasumsi bahwa fisika itu
mudah dan menyenangkn. Salah satu cara yang digunakan adalah penggunaan
metode dan model pembelajaran yang beraneka ragam. Selain itu pendidik juga
mendorong peserta didik untuk memiliki pengalaman yang memungkinkan dalam

8
menemukan prinsip untuk dirinya sendiri. Apabila menemukan sendiri, maka hasil
yang dieroleh akan lebih lama dalam ingatan peserta didik. Dan dengan model
penemuan, peserta didik belajar berpikir secara analitis dan mencoba memecahkan
masalah yang dihadapi
3. Konsentrasi Belajar
Dalam kegiatan pembelajaran selama kegiatan Magang Kependidikan II
terdapat beberapa peserta didik yang kurang berkonsentrsi pada pembelajaran,
antara lin mengerjakan tugas dari mata pelajaran lain, berbicara dengan temannya,
maupun bermain smartphone. Sehingga, pada hal-hal tersebut, pendidik
sebakiknya:
a. Pendidik dapat menegur peserta didik yang bermain sendiri dan melakukan
penguatan materi dengan suara yang tegas sehingga semua perhatian tertuju
pada guru yang menjelaskan di depan.
b. Pendidik bisa memberi penguatan sambil berkeliling agar peserta didik tidak
ada yang sibuk bermain sendiri.
c. Pendidik dapat memberi kuis lisan agar peserta didik yang bermain sendiri
dapat berkonsentrasi untuk berfikir mengenai soal lisan tersebut
4. Meningkatkan kedisiplinan peserta didik
Jika terdapat pserta didik yang kurang disiplin pendidik dapat melakukan
usaha sebagai berikut:
b. Pendidik memberlakukan peraturan tatatertib secara tegas, agar peserta didik
mudah mengikuti dan membuat suasana belajar yang kondusif
c. Secara berkelanjutan pendidik terus mensosialisasikan kepada peserta didik
tentang pentingnya disiplin dalam belajar untuk dapat mencapai hasil yang
optimal.
Semua unsur dalam sekolah mempunyai peran dalam membentuk kedisiplinan
peserta didik serta memberikan nasihat yang kiranya dapat membantu semangat
belajar peserta didik sehingga terciptanya kedisiplinan dalam pembelajaran.

9
5. Peningkatan motivasi peserta didik.
Untuk meningkatkan motivasi peserta didik terhadap mata pelajaran fisika,
maka peserta didik bisa dibuat senyaman mungkin ketika pembelajaran
berlangsung tetapi tidak terlalu membebaskan peserta didik. Sebagai pendidik,
ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan motivasi belajar
siswa dalam pelajaran fisika. Penddik bisa menciptakan iklim belajar yang terbuka
dan positif dengan menitikberatkan pada kebutuhan siswa saat ini. Membuat siswa
aktif berpartisipasi dalam pembelajaran dan mengaitkan pembelajaran fisika
dengan kehidupan sehari-hari. Selanjutnya bersama siswa menganalisis apa yang
membuat kelas menjadi lebih atau kurang termotivasi. Dalam perencanaan
pembelajaran, guru harus merancang tindakan pengajaran dan merumuskan RPP
yang variatif (sesuai dengan pokok bahasan) agar dapat memotivasi siswa. Ketika
pelaksanaan pembelajaran guru menginformasilkan dengan jelas tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai. Memberikan penekanan pada pemahaman dan
pembelajaran dibandingkan nilai. Melakukan evaluasi dan menginformasikan
hasilnya, sehingga siswa mendapat informasi yang tepat tentang keberhasilan dan
kegagalan dirinya. Kemudian memberikan penghargaan atas keberhasilan siswa
untuk menumbuhkan motivasi instrinsik.
Cara lain untuk meningkatkan motivasi peserta didik yaitu dengan adanya
kegiatan ice breaking. Ice breaking dibutuhkan untuk menyegarkan suasana
belajar, menghilangkan kejenuhan peserta didik, dan membangkitkan semangat
belajar peserta didik, karena pada saat tersebut pesert didik mengalami kejenuhan
dan merasa bosan terhadap pelajaran sehingga membutuhkan penyegaran untuk
mengembalikan potensi atau kemampuan dalam menangkap pelajaran yang baik
(Hidayatullah dan Istyawati, 2012). Ice breaking dalam posisi ini berarti
menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (fun) serta serius tapi santai.
Berikut adalah beberapa contoh dari ice breaking yang dapat diterapkan dalam
pembelajaran, antara lain:
a. Ice breaking untuk konsentrasi, pada ice breaking jenis ini guru memberikan
clue atau instruksi yang harus dilakukan peserta didik. Dalam melakukan

10
instruksi tersebut pasti peserta didik akan berpikir keras untuk memecahkan
instruksi dari guru. Walaupun sebenarnya jawaban dari instruksi tersebut
sangat sederhana.
b. Ice breaking audio visual, misalnya dengan pemutaran video motivasi pada
awal pembelajaran.
6. Meningkatkan konsep matematika peserta didik
Jika konsep matematika yang digunakan dalam fisika kurang cukup, maka
akibatnya akan mempersulit ketika mengerjekan penyelesaian soal-soal yang
diberikan. Dalam hal ini pendidik berusaha mencari upaya-upaya agar peserta
didik secara tidak langsung sudah memahami konsep matematikanya pada saat
pendidik menyampaikan konsep fisika. Salah satunya yaitu dengan menggunakan
teknik komputasi dan metode numerik yang mengantarkan pada hal tersebut.
Selain itu, peserta didik harus lebih membiasakan diri untuk mengerjakan soal
fisika degan dimulai menggunakan angka-anka yang mudah dipahami kemudian
ditingkatkan kesulitannya.

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan observasi dan praktik kegiatan pembelajaran di SMA Negeri 3


Boyolali, secara umum, permasalahan yang terjadi dan mendominasi di kelas X MIPA
2, X MIPA 3 dan X MIPA 4, SMA Negeri 3 Boyolali adalah; peserta didik kurang
memahami konsep matematika yang belum diajarkan, sikap ilmiah pesert didik alam
pembelajaran yang belum terlihat, motivasi dan konsentrasi belajar peserta didk masih
kurang dan kurangnya kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis dalam
pembelajaran.
Berdasarkan masalah-masalah tersebut penulis mengupayakan pemecahan
masalah yang pokok antara lain bagaimana pendidik menyajikan model dan metode
pembelajaran yang bervariasi yang sesuai dengan kondisi peserta didik, pendidik
dengan segala caranya selalu memberikan motivasi yang menarik yang dapat
mengembalikan konsentrasi peserta didik pada materi serta meningkatkan konsep
matematika dengan cara metode yang bervariasi sehingga secara tidak langsung peserta
didik sudah memahami konsep matematika bersaman pendidik menyampaikan konsep
fisika.

B. Saran
Penulis mengharapkan dengan dituliskannya laporan kritis ini dapat
memberikan manfaat bagi penulis, pembaca, dan berbagai pihak agar memahami,
membuat dan menyelasaikan permasalahan-permasalahan ketika proses pembelajaran
berlangsung. Sehingga proses pembelajaran akan berlangsung menarik, efektif dan
efisien, serta peserta didik dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Laporan kritis terhadap masalah pembelajaran ini bukan solusi akhir dari
permasa lahan yang ditemukan pada proses pembelajaran, sehingga masih diharapkan
adanya solusi baru dan tindak lanjut mengenai solusi-solusi yang telah diberikan.

12
DAFTAR PUSTAKA

Aunurrahman. (2013). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta


A.M. Sardiman. 2005. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja.
Grafindo Persada.
Azizah, R. 2015. Kesulitan Pemecahan Masalah Fisika Pada Siswa SMA. Jurnal
Penelitian Fisika dan Aplikasinya (JPFA) Vol 5, No 2, Pendidikan Fisika
Universitas Negeri Malang
Hidayatullah, Syah Nanda dan Istyawati. 2012. Penerapan Ice Breaker Pada Proses
Belajar Mengajar Siswa Kelas X SMK Negeri 7 Surabaya Pada Mata
Pelajaran K3 (Keselamatan dan Keselamatan Kerja). Http://jurnal penerapan
ice breaking pada proses belajar. JPTM. Volume 01 Nomor 02 Tahun 2013
Diakses pada hari rabu tanggal 27 Oktober 2018.
Pedoman Panduan Magang Kependidikan III tahun 2018

13