Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

UJI RUSAK

Dosen Pengampu :

Drs. Solichin, S.T, M.Kes

Disusun Oleh :

Mat Saroji

130511616261

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK MESIN

JURUSAN TEKNIK MESIN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Maret 2016
A. Latar Belakang
Pengelasan (welding) adalah salah salah satu teknik penyambungan logam
dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau
tanpa tekanan dan dengan atau tanpa logam penambah dan menghasilkan
sambungan yang continue. Pengelasan berdasarkan klasifikasi cara kerja dapat
dibagi dalam tiga kelompok yaitu pengelasan cair, pengelasan tekan dan
pematrian. Pengelasan cair adalah suatu cara pengelasan dimana benda yang akan
disambung dipanaskan sampai mencair dengan sumber energi panas. Cara
pengelasan yang paling banyak digunakan adalah pengelasan cair dengan busur
(las busur listrik) dan gas. Jenis dari las busur listrik ada 4 yaitu las busur dengan
elektroda terbungkus, las busur gas (TIG, MIG, las busur CO2), las busur tanpa
gas dan las busur rendam.
Pengelasan bukan meruapakan tujuan utama dari konstruksi tetapi hanya
merupakan sarana untuk mencapai tujuan pembuatan yang lebih baik. Karena itu
rancangan dan cara pengelasan harus betul-betul memperhatikan kesesuaian
antara sifat-sifat las dengan kegunaan konstruksi serta keadaan sekitarnya.
Prosedur pengelasan kelihatannya sangat sederhana, tetapi sebenarnya di
dalamnya banyak masalah-masalah yang harus diatasi dimana pemecahannya
memerlukan bermacam-macam penngetahuan. Karena itu di dalam pengelasan,
penngetahuan harus turut serta mendampingi praktek, secara lebih terperinci
dapat dikatakan bahwa perancangan kontruksi bangunan dan mesin dengan
sambungan las, harus direncanakan pula tentang cara-cara pengelasan. Cara ini
pemeriksaan, bahan las dan jenis las yang akan digunakan, berdasarkan fungsi
dari bagian-bagian bangunan atau mesin yang dirancang.
Proses pengelasan merupakan ikatan metalurgi antara bahan dasar yang dilas
dengan elektroda las yang digunakan, melalui energi panas. Energi masukan
panas ini bersumber dari beberapa alternatif diantaranya energi dari panas
pembakaran gas, atau energi listrik. Panas yang ditimbulkan dari hasil proses
pengelasan ini melebihi dari titik lebur bahan dasar dan elektroda yang di las.
Kisaran temperatur yang dapat dicapai pada proses pengelasan ini mencapai 2000
sampai 3000 ºC. Pada temperatur ini daerah yang mengalami pengelasan melebur
secara bersamaan menjadi suatu ikatan metalurgi logam lasan.

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui uji rusak pada pengelasan SMAW
2. Mahasiswa mampu melakukan uji rusak sesuai dengan prosedur pada
pengelasan SMAW
3. Mahasiswa mampu menganalisa hasil uji rusak pada pengelasan SMAW

C. Alat, Bahan dan Cara Kerja


1. Alat dan Bahan
Alat :
1. Mesin Las SMAW
2. Meja Las
3. Mesin Gerinda Tangan
4. Palu Terak
5. Palu Konde
6. Palu
7. Sikat Baja
8. Tang
9. Thermos Elektroda
10. Pahat Tangan
11. Mistar baja
12. Kikir
13. Kapur Tulis
Bahan :
a) Plat strip baja karbon
b) Elektroda RB-26
2. Alat Pelindung Diri
a. Helm/kedok las
b. Topi kerja
c. Sarung tangan las
d. Masker
e. Pakaian kerja
f. Respirator
3. Cara Kerja
a. Persiapan Alat
1) Siapkan benda kerja yang akan dikerjakan
2) Menyiapkan penggaris dan penggores kapur
3) Menyiapkan kabel roll, ragum, dan gerinda
4) Menyiapkan perlengkapan APD berupa masker, helm las, sarung tangan las,
dan apron.
b. Pengukuran
1) Ambil garis siku untuk mengukur ketegakan benda kerja
c. Penggerindaan
1) Sambungkan gerinda dengan saklar
2) Posisikan benda kerja secara vertikal dengan garis hasil goresan saling
membelakangi
3) Jepit kedua benda kerja secara bersamaan pada ragum
4) Pakailah APD yang telah di siapkan
5) Lakukan penggerindaan pada muka benda kerja sampai rata
d. Take welding
1) Posisikan benda kerja secara sejajar seri dengan sudut yang saling
berhadapan dan menempel
2) Pasangkan elektroda RB-26 ke holder las
3) Take weld pada titik himpitan kedua benda kerja
4) Lakukan take weld pada kedua tepi benda kerja yang digabungkan
5) Bersihkan terak hasil take weld
6) Kemudian jatuhkan benda kerja dilantai untuk mengetahui kekuatan las
sambungan.
e. Las SMAW
1) Posisikan benda kerja yang sudah digabungkan pada meja las
2) Nyalakan mesin las dan atur aliran listrik sebesar 75 ampere
3) Pasang elektroda RB-26 pada holder las
4) Kemudian benda kerja dilas
5) Setelah selesai mengelas bersihkan terak yang masih menempel
6) Kemudian dinginkan di air yang sudah disediakan
7) Bersihkan benda kerja dengan cara disikat
f. Uji rusak (destructive test)
1) Memasang benda kerja ke ragum yang ada di meja bengkel, pasang
sambungan las 1 cm diatas jepitan ragum.
2) Siapkan palu 5 kg untuk memukul benda kerja.
3) Pukul benda kerja secara bertahap pada benda kerja sampai membentuk 900
4) Catat dan foto hasil analisa uji rusak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Las SMAW
Las SMAW merupakan proses pengelasan dengan mencairkan material dasar
yang menggunakan panas dari listrik melalui ujung elektroda dengan pelindung
berupa flux atau slag yang ikut mencair ketika pengelasan.
Pada proses las SMAW, busur api listrik yang terjadi antara ujung elektroda
dan benda kerja akan menghasilkan panas. Panas inilah yang mencairkan ujung
elektroda (kawat las) dan benda kerja secara setempat. Busur listrik yang terjadi
dibangkitkan oleh mesin las. Elektroda yang dipakai berupa kawat yang
dibungkus oleh pelindung berupa fluks. Dengan adanya pencairan ini maka
kampus las akan terisi oleh logam cair yang berasal dari elektroda dan logam
induk, terbentuklah kawah cair, lalu membeku makan terjadilah loga lasan
(weldment) dan terak (slag).

Gambar Skema Pengelasan

(Davies, 1977)
Bagian yang sangat penting dalam las SMAW adalah elektroda. Jenis elektroda yang
digunakan akan sangat menentukan hasil pengelasan.

Kelebihan dari las SMAW adalah:

1. Dapat dipakai dimana saja, diluar, dibengkel dan didalam air


2. Dapat mengelas berbagai macam tipe material
3. Set-up yang cepat dan sangat mudah diatur
4. Dapat dipakai mengelas semua posisi
5. Elektroda mudah didapat dalam banyak ukuran dan diameter
6. Peralatan yang digunakan sederhana, murah dan mudah dibawa
kemana-mana
7. Kebisingan rendah
8. Tidak terlalu sensitif terhadap korosi, oli dan gemuk.
Kekurangan dari las SMAW adalah:

1. Pengelasan terbatas hanya sampai panjang elektroda dan harus


melakukan penyambungan
2. Setiap akan melakukan pengelasan berikutnya terak harus di bersihkan
dahulu
3. Tidak dapat digunakan untuk pengelasan bahan no-ferrous
4. Mudah terjadi oksidasi akibat pelindung logam cair hanya busur las
dari fluks
5. Diameter elektroda tergantung dati tebal pelat dan posisi pengelasan

B. Uji Merusak (Destructive Test)

1. Pengertian Pengujian Merusak

Pengujian merusak (destructive test) adalah pengujian suatu bahan, tapi hasil
akhir bahan tersebut akan cacat/rusak. Uji rusak dipakai untuk menguji sifat mekanis
dan fisis lasan. Seperti namanya, uji rusak, benda teruji tidak bisa dipakai lagi maka
pengujian hanya dilakukan terhadap sampel (Mochamad Alip : 252).

2. Macam-macam Pengujian Merusak


a. Uji Tarik

Uji tarik adalah tes dimana sampel dipersiapkan ditarik sampai benda uji patah.
Uji Pengukuran dicatat dalam PSI (pounds per square inch) E7018=70 000 PSI.
Sampel uji tarik dalam pengelasan dapat mengungkapkan kekuatan tarik lasan, batas
elastis, titik luluh, dan daktilitas (Heri Wibowo, 2011)

Gambar Mesin Uji Tarik

b. Uji Bengkok

Uji bengkok merupakan metoda uji rusak yang paling banyak dipakai karena
prosedure dan alat yang diperlukan relatif sederhana. Uji bengkok tidak saja
mengungkap kemampuan lasan terhadap beban bengkok tetapi dapat pula dipakai
untuk mengevaluasi keliatan (ductility), pencairan, penyatuan sambungan, struktur
kristal dan bahkan kekuatan tarik lasan (Mochamad Alip : 253)
Gambar Uji Bengkok

c. Uji Beban Kejut

Pada uji beban kejut, sampel lebih dulu didekik (notched) pada lasan, kemudian
dipasang pada cekam dibagian bawah mesin uji bebab kejut. Selanjutnya bandul
pendulum dinaikan sampai ketinggian tertentu kemudian dilepas (Mochamad Alip :
265). Menurut Heri Wibowo, impact tester menggunakan bandul berat yang mampu
mengukur jumlah gaya yang dibutuhkan untuk mematahkan spesimen uji yang
diambil dari HAZ daerah terpengaruh panas.
Gambar Mesin Beban Kejut

d. Uji Kekerasan
Lasa sering juga diuji tingkat kekerasannya untuk mengevaluasi ada tidaknya
pengaruh panas terhadap kekerasannya. Uji kekerasan lasan sering dilakukan bila
lasan harus dikerjakan lagi, atau merupakan lasan penebalan pada bagian yang
sering aus, misal poros (Mochamad Alip : 263). Tujuan uji kekerasan yaitu untuk
mengetahui tingkat kekerasan pada daerah loga las, logam HAZ dan logam induk
sehingga dapat diperkirakan tingkat penurunan kekuatan bahan (Heri Wibowo,
2011)
Gambar Mesin Uji Kekerasan Vickers

e. Uji Struktur Mikro


Uji mikro sebenarnya termasuk bagian kegiatan laboratorium uji bahan. Lasan
yang akan diuji secara microsopic diambil sampelnya. Sampel harus dihaluskan
hingga seperti cermin. Untuk menghaluskan dimulai dengan kikir, kemudian
dengan kertas gosok lalu dipoles.

Gambar Mesin Struktur Mikro


C. Kawah Las
Kawah las adalah aliran atau lelehan apda benda kerja las apabila terkena oleh
busur api las. Dalam pengerjakaan pengelasan SMAW, penyesuaian kawah las sangat
dibutuhkan, agar dalam penyambungan atau penempelan kawat elektroda dengan
benda kerja dapat menyatu dengan baik.

D. Metalurgi Las
Pengertian Metalurgi didefinisikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari
karakteristik / sifat / perilaku logam, ditinjau dari sifat mekanik (kekuatan, keuletan,
kekerasan, ketahanan lelah, dsb.), fisik (konduktivitas panas, listrik, massa jenis,
magnetik, optik, dsb), kimia (ketahanan korosi, dsb) dan teknologi (kemampuan
logam untuk dibentuk, dilas / disambung, dimesin, dicor dan dikeraskan)
Metalurgi Dibagi menjadi 3 divisi :
1. Metalurgi Ekstraktif
Disebut juga metalurgi kimia, adalah semua proses yang menyangkut
perubahan kimia dari bijih sampai jadi bahan baku termasuk pemurniannya.
2. Metalurgi Fisik
Adalah mempelajari struktur dan sifat fisik lainnya dari logam dan paduannya.
Untuk mengetahui sifat fisik diperlukan peralatan seperti mikroskop optic, mikroskop
electron digunakan untuk mempelajari struktur logam dan sinar X untuk mempelajari
struktur kristal dasar. Pada metalurgi fisik juga mempelajari sifat magnetik, daya
hantar listrik dan panas, susut muai logam dan tahanan listriknya. Semua penelitian
dilakukan dalam keadaan padat.
3. Metalurgi Mekanik
Proses pengerjaan secara mekanik untuk mencapai bentuk tertentu termasuk
proses pembentukan dan proses lainnya yang tidak merubah komposisi kimia,
termasuk sifat mekanik dan cara ujinya.
 Tujuan metalurgi las adalah :
Untuk mengetahui struktur metalurgi sambungan las pada baja karbon yang
meliputi :
1. proses metalurgi pada pengelasan.
2. hubungan antara komposisi logam dasar dan logam las dan pengaruh dalam
sifat mekanik dan fisik :
 pengerasan logam las
 reaksi logam / gas ( logam besi dan non besi )
 reaksi logam / cairan
 reaksi keadaan padat
 mekanisme penguatan dalam logam las
 daerah pengaruh panas ( HAZ )
 logam dasar
Sifat-sifat baja lunak dan baja kuat dapat berubah karena terjadinya panas pada
saat pengelasan. Produk yang dibuat dapat mempunyai sifat-sifat yang selanjutnya
bisa berubah selama fabrikasi. Derajat perubahan yang berhubungan dengan prosedur
kerja secara besar tergantung pada komposisi kimia logam dan kemampuan
dikeraskan.
Kebanyakan logam kemampuan kekerasannya dapat dirubah dengan :
 kerja dingin seperti rolling atau pembentukan ( menghasilkan pengerasan )
 pemanasan dan pendinginan.

Logam yang didinginkan secara pelan dari temperatur yang lebih tinggi akan
membentuk struktur yang seragam yang disebut butiran.
Selama pendinginan, tenaga dalam struktur butiran ini menimbulkan cacat. Ketika
sekali keseragaman butiran berubah bentuk, kemampuan mereka untuk kembali
dengan sekeliling butiran selama kerja dingin akan hilang dan logam menjadi lebih
keras dan kurang liat. Logam yang telah dikeraskan dan dibengkokan berulang-ulang
atau kerja dingin akan menghasilkan patahan dalam logam.

Perubahan dapat dilakukan pada struktur butiran dan kekerasan logam dengan
pemanasan dan pendinginan.
Perubahan ini tergantung pada :

 komposisi pada logam


 temperatur logam yang dipanaskan
 lamanya waktu yang dijalani pada temperatur ini
 kecepatan pendinginan
 Pengelasan menghasilkan kondisi pemanasan dan pendinginan yang dapat
menghasilkan perubahan.

E. Heat Affected Zone (HAZ)


Dalam Pengelasan terdiri dari tiga bagian yaitu logam Pengelasan, daerah
pengaruh panas (Heat Affected Zone) dan logam induk yang tak terpengaruhi.
Logam Pengelasan adalah bagian dari logam yang ada pada waktu pengelasan
mencair dan kemudian membeku.
Daerah pengaruh panas atau HAZ adalah logam dasar yang bersebelahan
dengan logam las yang selama proses pengelasan mengalami siklus termal
pemanasan dan pendinginan cepat sehingga daerah ini yang paling kritis dari
sambungan las. Secara visual daerah yang dekat dengan garis lebur las maka
susunan struktur logamnya semakin kasar. Pada daerah HAZ terdapat tigak titik
yang berbeda, titik 1 dan 2 menunjukkan temperatur pemanasan mencapai daerah
berfasa austenit dan ini disebut dengan transformasi menyeluruh yang artinya
struktur mikro baja mula-mula ferit+perlit kemudian bertransformasi menjadi
austenit dan ini yang disebut transformasi sebagian yang artinya struktur mikro
baja mula-mula ferit+perlit berubah menjadi ferit dan asutenit.

Gambar Heat Affected Zone


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Impact Sudut kemiringan Hasil
1 10o Tidak Retak
2 30o Tidak Retak
3 45o Tidak Retak
4 65o Tidak Retak
5 80o Tidak Retak
6 90o Tidak Retak

Foto sebelum di uji rusak

Impact 1: sudut kemiringan 10o


Impact 2: sudut kemiringan 30o

Impact 3 : sudut kemiringan 45o

Impact 4 : sudut kemiringan 65o


Impact 5 : sudut kemiringan 80o

Impact 6 : sudut kemiringan 90o

B. PEMBAHASAN
Pemanasan logam dengan temperature yang sangat tinggi ini dapat megakibatkan
terjadinya reaksi kimia antara logam tersebut dengan oksigen dan nitrogen yang ada
dalam udara. Jika selama proses las cairan logam las (welding pool) tidak dilindungi
dari pengaruh udara, maka logam akan bereaksi dengan oksigen dan nitrogen
membentuk oxides dan nitrides yang dapat menyebabkan logam tersebut menjadi
getas dan keropos karena adanya kotoran (slag inclutions).

Pencairan logam saat pengelasan menyebabkan adanya perubahan fasa logam dari
padat hingga mencair. Ketika logam cair mulai membeku akibat pendinginan cepat,
maka akan terjadi perubahan struktur mikro dalam deposit logam las dan logam dasar
yang terkena pengaruh panas (Heat affected zone/HAZ). Struktur mikro dalam logam
lasan biasanya berbentuk columnar, sedangkan pada daerah HAZ terdapat perubahan
yang sangat bervariasi. Perubahan ini mengakibatkan perubahan pula sifat-sifat
logam dari sebelumnya. Struktur mikro pearlite memiliki sifat liat dan tidak keras,
sebaliknya martensite mempunyai sifat keras dang etas. Biasanya keretakan
sambungan las bearsal dari struktur mikro ini.

Perlakuan Panas Logam Las


C. KESIMPULAN
Berdasarkan dari pembahasan dapat disimpulkan dari pelaksanaan praktikum
pengelasan SMAW, menyambung plat baja dengan menggunakan las SMAW
dengan elektroda RB-26 membuat sambungan las tidak mudah retak dan patah..
Uji impact adalah pengujian dengan menggunakan pembebanan yang cepat (rapid
loading). Proses pengujian yang dilakukan untuk menguji ketangguhan suatu
spesimen terhadap pemberian beban secara tiba-tiba melalui tumbukan yang
diayunkan. Semakin rendah uji impact yang diberikan maka jenis patahan yang
terjadi akan semakin getas. Salah satu hal yang mempengaruhi impact adalah
temperatur. Semakin rendah temperatur suatu material maka akan semakin getas
material tersebut, dan semakin tinggi temperatur maka material akan semakin ulet
dan menyatu. Energi impact yang terbesar terdapat pada takikan setengah
lingkaran dan energi impact terendah pada takikan segitiga. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa patahan akan lebih mudah patah jika berada daerah yang
ditumbuk yang bersudut
DAFTAR PUSTAKA

Alghazali, Saifuddin. 2009. Metalurgi Las. (Online),


(http://saifuddinalghazali.blogspot.co.id/2009/01/tugas-metalurgi-las.html),
diakses pada tanggal 28 Februari 2016

Alip, Mochamad. 1989. Teori dan Praktek Las. IKIP Yogyakarta, Yogyakarta.

Ginting, Dines. 1984. Dasar-Dasar Pengelasan. Jakarta: Erlangga

Triharjo, Himawa.2010.Pengujian impak dan fenomena patahan. (Online),


(http://himawantriraharjo.blogspot.co.id/2013/03/pengujian-dengan-merusak-
dan-tidak.html), diakses pada tanggal 28 Februari 2016