Anda di halaman 1dari 25

No Kode: DAR2/Profesional/001/2018

PENDALAMAN MATERI PENAMBANGAN

MODUL 3
KEAMANAN, KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3) TAMBANG

Dr. H. Agus Solehudin, ST., MT

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

2018

i
COVER i

DAFTAR ISI ii

A. PENDAHULUAN 1

B. CAPAIAN PEMBELAJARAN 2

C. URAIAN MATERI 3
1. Dasar Hukum K-3 Pertambangan 5
2. Elemen Pemerintah dalam pengelolaan K3 pertambangan 7
3. Elemen Perusahaan dalam pengelolaan K3 pertambangan 7
4. Elemen Pengawasan Pertambangan 8
5. Implementasi K3 pertambangan 9
6. Sistem Manajemen K3 di pertambangan 20

D. RANGKUMAN 22

G. DAFTAR PUSTAKA 23

ii
A. PENDAHULUAN
Kegiatan atau aktivitas dalam industri pertambangan tidak bisa pungkiri adanya risiko
terjadinya kecelakaan kerja, karena didalam aktivitasnya pertambangan menggunakan
padat modal dan padat teknologi. Dengan kesadaran akan terjadinya kecelakaan kerja
tersebut industri pertambangan harus menyiapkan tenaga ahli K3 yang bertanggung
jawab atas keselamatan para pekerjanya. Pada prinsipnya kecelakaan kerja dapat terjadi
dikarenakan oleh kondisi yang tidak aman serta kegiatan atau aktivitas yang tidak aman.
Tabel 3.1: Contoh-contoh risiko yang timbul akibat tambang
terhadap pekerja tambang dan masyarakat

RISIKO BAHAYA TAMBANG PEKERJA MASYARAKAT


TAMBANG
Kebakaran tambang  
Jatuhnya permukaan tanah—tambang terbuka atau bawah 
tanah
Ledakan/kebakaran/kehilangan ban 
Kehilangan kendali kendaraan  
Kehilangan kendali peledak  
Ledakan bawah tanah 
Pekerjaan manual, tersandung, terpeleset atau terjatuh 
Arus masuk yang tiba-tiba 
Luapan yang tiba-tiba 
Kehilangan kendali pada bendungan  
tailing (tailing dam)
Isu kesehatan
• Debu pada atmosfer  
• Emisi gas buang mesin diesel 
• Zat berbahaya—gas, asap, zat padat  
atau cair
• Kebisingan  
• Lingkungan termal 
• Radiasi ionisasi & non-ionisasi 

Pertambangan merupakan industri yang berisiko tinggi dengan sejumlah risiko


operasional yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan. Pihak yang paling
rentan terhadap risiko tersebut adalah para pekerja tambang, namun demikian beberapa
risiko pertambangan juga dapat berdampak pada kesehatan dan keselamatan penduduk
yang tinggal di sekitar kawasan tambang. Daftar sejumlah bahaya tambang ditunjukkan
pada Tabel 3.1 dan lebih dari setengahnya dapat mempengaruhi orang-orang yang

1
tinggal di daerah sekitar tambang. Sebagai contoh, kebakaran tambang dapat
membahayakan kesehatan dan keselamatan para pekerja serta orang-orang yang tinggal
di dekat tambang tersebut. Sebaliknya, peristiwa aliran bawah tanah yang menyebabkan
masuknya aliran air ke dalam kawasan pekerjaan tambang secara tiba-tiba secara umum
hanya akan membahayakan keselamatan para pekerja tambang. Undang-undang
kesehatan dan keselamatan kerja (K3) pertambangan mewajibkan dilakukannya
identifikasi atas seluruh risiko bahaya yang dapat diprediksi tersebut dan mengontrolnya
hingga ke tingkat yang dapat diterima.

B. CAPAIAN PEMBELAJARAN
1. Mampu memahami aspek keamanan, keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan
pada industri pertambangan
2. Mampu menerapkan keamanan, keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan
dalam pekerjaannya pada industri pertambangan

1. Sub Capaian Pembelajaran


a. Sub Capaian Pembelajaran mampu memahami aspek keamanan, keselamatan,
kesehatan kerja dan lingkungan pada industri pertambangan
- Mampu memahami Dasar Hukum K-3 Pertambangan
- Mampu memahami Elemen Pemerintah dalam pengelolaan K3 pertambangan
- Mampu memahami Elemen Perusahaan dalam pengelolaan K3 pertambangan
- Mampu memahami Elemen Pengawasan Pertambangan

b. Sub Capaian Pembelajaran mampu menerapkan keamanan, keselamatan, kesehatan


kerja dan lingkungan dalam pekerjaannya pada industri pertambangan
- Mampun mengimplementasikan Keamanan Kerja dalam pekerjaannya pada
industri pertambangan
- Mampun mengimplementasikan Keselamatan Kerja dalam pekerjaannya pada
industri pertambangan
- Mampun mengimplementasikan Kesehatan Kerja dalam pekerjaannya pada
industri pertambangan

2
- Mampun memahami Lingkungan Kerja dalam pekerjaannya pada industri
pertambangan
- Mampun menerapkan sistem manajemen K3 dalam pekerjaannya pada industri
pertambangan
- Mampun memhami Kelayakan Sarana, Prasarana dan Instalasi Peralatan
Pertambangan dalam pekerjaannya pada industri pertambangan.

C. URAIAN MATERI
Indonesia memiliki berbagai sektor industri yang salah satunya yaitu pertambangan.
Pertambangan memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan nasional.
Pertambangan memberikan peran yang sangat signifikan dalam perekonomian nasional, baik
dalam sektor fiscal, moneter, maupun sektor riil. Peran pertambangan terlihat jelas dimana
pertambangan menjadi salah satu sumber penerimaan negara; berkontribusi dalam
pembangaunan daerah, baik dalam bentuk dana bagi hasil maupun program community
development atau coorporate social responsibility; memberikan nilai surplus dalam neraca
perdagangan; meningkatkan investasi; memberikan efek berantai yang positif terhadap
ketenagakerjaan; menjadi salah satu faktor dominan dalam menentukan Indeks Harga Saham
Gabungan; dan menjadi salah satu sumber energy dan bahan baku domestik.

Salah satu karakteristik industri pertambangan adalah padat modal, padat teknologi dan
memiliki risiko yang besar. Oleh karena itu, dalam rangka menjamin kelancaran operasi,
menghindari terjadinya kecelakaan kerja, kejadian berbahaya dan penyakit akibat kerja maka
diperlukan implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada kegiatan
pertambangan.

Terjadinya kecelakaan kerja tentu saja menjadikan masalah yang besar bagi kelangsungan
suatu usaha. Kerugian yang diderita tidak hanya berupa kerugian materi yang cukup besar
namun lebih dari itu adalah timbulnya korban jiwa yang tidak sedikit jumlahnya. Kehilangan
sumber daya manusia ini merupakan kerugian yang sangat besar karena manusia adalah satu-
satunya sumber daya yang tidak dapat digantikan oleh teknologi apapun.

3
Upaya pencegahan dan pengendalian bahaya kerja yang dapat menyebabkan terjadinya
kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat dilakukan dengan penerapan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja di tempat kerja. Secara keilmuan K3, didefinisikan sebagai ilmu dan
penerapan teknologi tentang pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Dari
aspek hukum K3 merupakan kumpulan peraturan perundang-undangan yang mengatur
tentang perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.

Melalui peraturan yang jelas dan sanksi yang tegas, perlindungan K3 dapat ditegakkan, untuk
itu diperlukan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang K3. Bahkan ditingkat
internasionalpun telah disepakati adanya konvensi-konvensi yang mengatur tentang K3
secara universal sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, baik yang
dikeluarkan oleh organisasi dunia seperti ILO, WHO, maupun tingkat regional.

Ditinjau dari aspek ekonomis, dengan menerapkan K3, maka tingkat kecelakaan akan
menurun, sehingga kompensasi terhadap kecelakaan juga menurun, dan biaya tenaga kerja
dapat berkurang. Sejalan dengan itu, K3 yang efektif akan dapat meningkatkan produktivitas
kerja sehingga dapat meningkatkan hasil produksi. Hal ini pada gilirannya kemudian dapat
mendorong semua tempat kerja/industri maupun tempat-tempat umum merasakan perlunya
dan memiliki budaya K3 untuk diterapkan disetiap tempat dan waktu, sehingga K3 menjadi
salah satu budaya industrial.

Dengan melaksanakan K3 akan terwujud perlindungan terhadap tenaga kerja dari risiko
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang dapat terjadi pada waktu melakukan
pekerjaan di tempat kerja. Dengan dilaksanakannya perlindungan K3, diharapkan akan
tercipta tempat kerja yang aman, nyaman, sehat dan tenaga kerja yang produktif, sehingga
akan meningkatkan produktivitas kerja dan produktivitas perusahaan. Dengan demikian K3
sangat besar peranannya dalam upaya meningkatkan produktivitas perusahaan, terutama
dapat mencegah korban manusia. Oleh karena itu, kami membahas tentang Kesehatan dan
Keselamatan Kerja di salah satu industri yaitu industri pertambangan batubara yang
merupakan industri besar diwilayah Indonesia.

4
1. Dasar Hukum K-3 Pertambangan
Pemerintah sudah mengeluarkan Undang-Undang yang mengatur mengenai K3, Undang-
Undang yang mengatur K3 adalah sebagai berikut :

a. Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamtan Kerja


Undang-Undang ini mengatur dengan jelas tentang kewajiban pemimpin tempat kerja dan
pekerja dalam melaksanakan keselamatan kerja.

b. Undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.


Undang-undang ini menyatakan bahwa secara khusus perusahaan berkewajiban
memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental dan kemampuan fisik pekerja yang baru
maupun yang akan dipindahkan ketempat kerja baru. sesuai dengan sifat-sifat pekerja yang
diberikan kepada pekerja, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala. Dan sebaliknya para
pekerja juga berkewajiban memakai Alat Pelindung Diri (APD) dengan tepat dan benar serta
mematuhi semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan. Undang-undang
No. 23 Tahun 1992 pasal 23 Tentang Kesehatan Kerja juga menekankan pentingnya
kesehatan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat dan aman tanpa
membahayakan diri sendri dan masyarakat sekelilingnya hingga memperoleh produktivitas
kerja yang optimal. Karena itu, kesehatan kerja meliputi pelayanan kesehatan kerja,
pencegah penyakit akibat kerja dan syarat kesehatan kerja.

c. Undang-undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenaga Kerjaan


Undang-undang ini mengatur mengenai segala hal yang berhubungan dengan
ketenagakerjaan mulai dari upah kerja, jam kerja, cuti sampai dengan keselamatan dan
kesahatan kerja. Sebagai penjabaran dan kelengkapan Undang-undang tersebut, pemerintah
juga mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) dan Keputusan Presiden terkait
penyelenggaraan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), diantaranya adalah :
1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 11 Tahun 1979 tentang Keselamatan
Kerja Pada Pemurnian dan Pengolahan Minyak dan Gas Bumi
2. Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran ,
Penyimpanan, dan Pengguna Pestisida

5
3. Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 1973 tentang Pengaturan dan Pengawasan
Keselamatan Kerja di Bidang Pertambangan
4. Keputusan Presiden No. 22 Tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul Akibat
Hubungan Kerja
Undang - Undang Dasar 1945 mengisyaratkan hak setiap warga negara atas pekerjaan dan
penghasilan yang layak bagi kemanusiaan. Pekerjaan baru dapat disebut memenuhi
kelayakan bagi kemanusiaan, apabila keselamatan tenaga kerja sebagai pelaksananya
terjamin. Cidera, cacat, penyakit, kematian dan lain-lain sebagai akibat kecelakaan dalam
melakukan pekerjaan bertentangan dengan dasar kemanusiaan. Maka dari itu, atas dasar
landasan UUD 1945 lahir Undang - Undang dan ketentuan-ketentuan pelaksanaannya dalam
Keselamatan Kerja.

Pengelolaan K3 pertambangan dilakukan secara menyeluruh baik oleh pemerintah maupun


oleh perusahaan. Pengelolaan tersebut didasarkan pada peraturan sebagai berikut:
1. UU No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara
2. UU No.32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah
3. UU No. 27 tahun 2003 tentang Panas bumi
4. UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
5. UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
6. PP No. 59 Tahun 2007 tentang Kegiatan Usaha Panas Bumi
7. PP No.38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,
Pemprov dan Pemkab/Kota
8. PP No.19 Tahun 1973 tentang Pengaturan dan Pengawasan K3 di Bidang
Pertambangan
9. Permen No.06.P Tahun 1991 tentang Pemeriksaan Keselamatan Kerja atas Instalasi,
Peralatan dan Teknik Migas dan Panas Bumi
10. Permen No.02 P. Tahun 1990 tentang Keselamatan Kerja Panas Bumi
11. Kepmen No.555.K Tahun 1995 tentang K3 Pertambangan Umum
12. Kepmen.No.2555.K Tahun 1993 tentang PIT Pertambangan Umum.

2. Elemen Pemerintah dalam pengelolaan K3 pertambangan

6
Elemen pemerintah dalam pengelolaan K3 pertambangan terdiri atas:
1. Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang/Inspektur Tambang.
Adalah Kepala dari Pelaksana Inpeksi Tambang / Inspektur Tambang dalam hal ini
dijabat oleh Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral, Batubara dan Panas Bumi, Kepala
Dinas ESDM di Provinsi dan Kabupaten/Kota.
2. Pelaksana Inspeksi Tambang (PIT) / Inspektur Tambang (IT) PIT.
Adalah aparat pengawas pelaksanaan peraturan K3 di lingkungan pertambangan umum
(Pasal 1, Kepmen No. 555.K Tahun 1995) baik di Pusat maupun Daerah. IT adalah
Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak untuk
melakukan inspeksi tambang (Pasal 1, Keputusan Bersama Menteri ESDM dan Kepala
BKN No. 1247 K/70/MEM/2002 dan No. 17 Tahun 2002) baik di Pusat maupun Daerah.
3. Buku Tambang.
Adalah buku catatan yang memuat larangan, perintah dan petunjuk PIT yang wajib
dilaksanakan Kepala Teknik Tambang (KTT) (Pasal 1, Kepmen No.555. K Tahun 1995).

3. Elemen Perusahaan dalam pengelolaan K3 pertambangan


Sedangkan elemen perusahaan dalam pengelolaan K3 pertambangan terdiri atas:
a. Kepala Teknik Tambang (KTT)
Adalah seseorang yang jabatannya tertinggi di Job Site untuk memimpin dan
bertanggung jawab atas terlaksananya serta ditaatinya peraturan perundang-undangan K3
pada suatu kegiatan usaha pertambangan di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya
(Pasal 1, Kepmen No. 555.K Tahun 1995).
b. Organisasi dan Personil K3
c. Program K3
d. Anggaran dan Biaya
e. Dokumen dan laporan K3

4. Elemen Pengawasan Pertambangan


Berdasarkan Pasal 140 Ayat 1, UU No. 4 Tahun 2009, pengawasan pertambangan mineral
dan batubara menjadi tanggung jawab menteri dimana menteri melakukan pengawasan
terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan yang dilaksanakan oleh

7
pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.
Pengawasan tersebut meliputi administarasi/tata laksana; operasional; kompetensi aparatur;
dan pelaksanaan program pengelolaan usaha pertambangan.

Menteri dapat melimpahkan kepada Gubernur untuk melakukan pengawasan terhadap


penyelenggaraan kewenangan pengelolaan di bidang usaha pertambangan sebagaimana
dimaksud ayat (1) yang dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota (Pasal 140 Ayat 2).
Menteri, Gubernur dan Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya melakukan
pengawasan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan yang dilakukan oleh pemegang
IUP, IPR atau IUPK (Pasal 140 Ayat 3). Berdasarkan Pasal 141 Ayat 1, hal yang menjadi
aspek pengawasan adalah:
a. teknis pertambangan,
b. pemasaran,
c. keuangan,
d. pengelolaan data mineral dan batubara,
e. konservasi sumber daya mineral dan batubara,
f. keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan,
g. keselamatan operasi pertambangan,
h. pengelolaan lingkungan hidup, reklamasi dan pasca tambang,
i. pemanfaatan barang, jasa, teknologi dan kemampuan rekayasa dan rancang bangun
dalam negeri,
j. pengembangan tenaga kerja teknis pertambangan,
k. pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat,
l. penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan,
m. kegiatan-kegiatan lain di bidang kegiatan usaha pertambangan yang menyangkut
kepentingan umum,
n. pengelolaan IUP atau IUPK, dan
o. jumlah, jenis, dan mutu hasil usaha pertambangan.

Pengawasan terhadap huruf a, huruf e, huruf f, huruf g, huruf h, dan huruf l dilakukan oleh
Inspektur Tambang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Pasal 141 Ayat
2).

8
5. Implementasi K3 pertambangan

1. Pengawasan K3 dan Keselamatan Operasi Pertambangan Pengawasan K3


Pertambangan.
Dilaksanakan dengan tujuan menghindari kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Ruang
lingkup K3 pertambangan meliputi:
1. Keselamatan kerja,
Yang dimaksud keselamatan kerja antara lain berupa:
a. Manajemen risiko,
b. Program keselamatan kerja,
c. Pelatihan dan pendidikan keselamatan kerja,
d. Administrasi keselamatan kerja,
e. Manajemen keadaan darurat,
f. Inspeksi dan Audit keselamatan kerja,
g. Pencegahan dan penyelidikan kecelakaan.

2. Kesehatan kerja,
Yang dimaksud kesehatan kerja antara lain berupa:
a. Program kesehatan kerja
b. Pemeriksaan kesehatan pekerja,
c. Pencegahan penyakit akibat kerja,
d. Diagnosis dan pemeriksaan penyakit akibat kerja
e. Hiegiene dan sanitasi,
f. Pengelolaan makanan, minuman dan gizi kerja,
g. Ergonomis.

3. Lingkungan Kerja,
Yang dimaksud kesehatan kerja antara lain berupa:
a. Pengendalian debu,

9
b. Pengendalian kebisingan,
c. Pengendalian getaran,
d. Pencahayaan,
e. Kualitas udara kerja (kuantitas dan kualitas)
f. Pengendalian radiasi
g. House keeping.

4. Sistem Manajemen K3.


Sedangkan pengawasan Keselamatan Operasi Pertambangan dilaksanakan dengan tujuan
menciptakan kegiatan operasi pertambangan yang aman dan selamat. Ruang lingkup
Keselamatan Operasi Pertambangan meliputi:
a. Evaluasi laporan hasil kajian,
b. Pemenuhan standardisasi instalasi,
c. Pengamanan instalasi,
d. Kelayakan sarana, prasarana dan instalasi peralatan pertambangan
e. Kompetensi tenaga teknik.

Pelaksanaan pengawasan K3 dan keselamatan operasi pertambangan dilaksanakan dalam


bentuk:
a. Pengawasan Administratif Pengawasan administratif meliputi:
1. Bahan peledak (Format IVi / Rekomendasi)
2. Laporan kecelakaan (Format IIIi; Vi; Vii; VIIi; VIIIi; IXi)
3. Peralatan (dokumen untuk perijinan)
4. Persetujuan (dokumen kajian, tinggi jenjang, ventilasi, penyanggaan, dan lain-lain)
5. Laporan pelaksanaan program K3 (Triwulan)
6. Rencana Kerja Tahunan Teknis dan Lingkungan (RKTTL)

b. Pengawasan Operasional / Lapangan Pengawasan operasional / lapangan meliputi:


1. Inspeksi Keselamatan dan Kesehatan Kerja Inspeksi dilaksanakan oleh PIT/IT dengan
berkoordinasi dengan pengawas pusat dan daerah berdasarkan prosedur tetap dan KTT

10
diposisikan sebagai mitra. Contoh objek yang diinspeksi antara lain area
penambangan, haul road, perbengkelan, pabrik, pengolahan, pelabuhan, fasilitas dan
instalasi lainnya.
2. Pemeriksaan / Penyelidikan Kecelakaan
3. Pemeriksaan / Penyelidikan Kejadian Berbahaya
4. Pengujian Kelayakan Sarana dan Peralatan
5. Pengujian Kondisi Lingkungan Kerja
Pelaksanaan pengawasan K3 dan keselamatan operasi pertambangan bukan hanya dilakukan
oleh pemerintah pusat, tetapi juga dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi (Dekonsentrasi)
dan Pemerintah Kabupaten/Kota (Desentralisasi).

2. Pengujian Perlatan K3 dan Keselamatan Operasi Pertambangan


a. Pengujian kelayakan peralatan, sarana dan instalasi Pengujian peralatan sarana dan
instalasi meliputi:
1. Sistem Ventilasi,
2. Sistem Penyanggaan,
3. Kestabilan Lereng,
4. Gudang Bahan Peledak
5. Penimbunan Bahan Bakar Cair
6. Kapal Keruk
7. Kapal Isap
8. Alat Angkut Orang, Barang, dan Material
9. Alat Angkat
10. Bejana Bertekanan
11. Instalasi Pipa
12. Pressure Safety Valve
13. Peralatan Listrik

b. Pengujian/penilaian kompetensi Pengujian/penilaian kompetensi meliputi;


1. Penilaian kompetensi calon Kepala Teknik Tambang
2. Pengujian kompetensi Juru Ledak

11
3. Pengujian Kompetensi Juru Ukur
4. Pengujian Kompetensi Pengawas Operasional (POP; POM; POU)
5. Pengujian Kompetensi Juru Las (bekerja sama dengan pihak ke-3)
6. Pengujian Kompetensi Operator alat angkat (bekerja sama dengan pihak ke-3)

3. Perangkat Perlatan K3 dan Keselamatan Operasi Pertambangan


1. Peralatan pelindung Kepala
Walaupun setiap pekerja diharuskan memakai pelindung kepala (helmet), tetapi kadang‐
kadang mereka melalaikannya. Pemakaian pelindung kepala sangat diperlukan bagi para
pekerja konstruksi, pekerja galangan kapal, pekerja penebang pohon, pertambangan dan
industri. Helm diklasifikasikan menjadi dua, yaitu: helm yang mempunyai bagian pinggir
seluruh lingkaran dan yang kedua adalah helmet dengan pinggir hanya pada bagian
depannya. Dari kedua klasifikasi tersebut masih dibagi dalam empat kelas, yaitu:
• Kelas A, yaitu helm untuk keperluan umum. Helmet ini hanya mempunyai tahanan
kelistrikan yang rendah.
• Kelas B, yaitu helm untuk jenis pekerjaan dengan resiko terkena tegangan listrik yang besar
(mempunyai tahanan terhadap tegangan yang tinggi), atau helmet ini tahan terhadap
tegangan listrik yang tinggi.
• Kelas C adalah metallic helm, dipakai untuk pekerja yang bekerja dengan kondisi kerja
yang panas, seperti pada pengecoran logam atau pada dapur‐dapur pembakaran.
• Kelas D adalah helm dengan daya tahan yang kecil terhadap api, sehingga harus dihindari
dari percikan api.

Gambar 3.1. Pelindung Kepala

Alat pelindung rambut berfungsi agar rambut bisa ditutupi secara sempurna, sehingga

12
kecelakaan kerja akibat terbelitnya rambut pada bagian‐bagian mesin yang berputar dapat
dihindari. Alat pelindung rambut atau penutup rambut yang banyak dipakai adalah sorban,
jala rambut dan penutup kepala yang dapat menutup secara sempurna. Pemakaian jaring
rambut kurang aman apabila pekerja tersebut bekerja pada daerah di mana percikan api
sering terjadi. Syarat penutup kepala adalah:
a. Tahan terhadap bahan kimia.
b. Tahan panas.
c. Nyaman dipakai.
d. Tahan terhadap pukulan.
e. Ringan dan kuat.
f. Berwarna menarik.
g. Mempunyai ventilasi apabila tidak untuk perlindungan terhadap debu.

2. Peralatan pelindung kebisingan


Kegunaan peralatan pelindung kebisingan adalah untuk melindungi telinga dari kebisingan
yang berlebihan, sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada sistem pendengaran pekerja.
Standar kebisingan yang diizinkan adalah 90 desibel menurut undang‐undang keselamatan
kerja kesehatan kerja, oleh sebab itu kebisingan yang dihasilkan oleh suatu proses produksi
di dalam industri harus selalu diukur dan diusahakan kurang dari standar yang telah
ditentukan agar tidak menyebabkan kerusakan pada pendengar para pekerja.

Gambar 3.2. Pelindung Kebisingan

13
Alat perlindungan kebisingan ada dua jenis, yaitu yang dimasukkan ke dalam lubang telinga
dan yang satunya adalah jenis yang menutup seluruh telinga.

a. Jenis alat yang dimasukkan ke lubang telinga


Jenis peralatan ini pemasangan dimasukkan ke dalam lubang telinga dan model serta
ukurannya bermacam‐macam. Bahan yang digunakan untuk membuka peralatan ini
adalah plastic yang lunak/lembut, karet yang lembut, lilin dan kain. Karet dan plastik yang
lembut adalah jenis bahan yang sangat terkenal untuk pembuatan alat ini, karena ia mudah
dibersihkan, murah harganya dan memberikan bentuk serta warna sangat bagus atau
menarik. Kain adalah bahan yang jelek untuk perlindungan terhadap kebisingan, sebab ia
sangat rendah daya hambatnya terhadap kebisingan. Penutup telinga dari bahan karet dan
plastik yang lembut sangat efektif dalam pemakaiannya, sebab dalam pemasangannya
sangat mudah yaitu hanya menekankan ke lubang telinga dan ia akan menutup lubang
telinga secara sempurna, tanpa ada kebocoran.
b. Jenis pelindung kebisingan yang menutup telinga
Bentuk peralatan ini dapat menutup seluruh telinga, sehingga akan diperoleh
keseimbangan pendengaran antara telinga kanan dan telinga kiri. Untuk menghasilkan
perlindungan kebisingan yang efektif, maka bentuk, ukuran, bahan penyekat, jenis pegas
dari penutup telinga ini harus benarbenar dipilih secara baik, sehingga si pemakai merasa
nyaman.

3. Pelindung mata
Luka pada mata dapat diakibatkan adanya bahan atau beram yang masuk ke mata akibat
pekerjaan pemotongan bahan, percikan bunga api sewaktu pengelasan, debu‐debu, radiasi
dari sinar ultraviolet dan lainnya. Kecelakaan pada mata dapat mengakibatkan cacat seumur
hidup, di mana tidak dapat berfungsi lagi atau dengan kata lain orang menjadi buta. Dalam
suatu survei diperoleh data bahwa kecelakaan kerja atau luka pada diakibatkan oleh:
a. Obyek atau bahan yang mengenai mata (pecahan logam, beram‐beram, pecahan batu
gerinda, paku, percikan bunga api dan lain sebagainya).
b. Debu dari penggerindaan.
c. Karat.

14
d. Sinar atau cahaya.
e. Gas beracun atau asap beracun.

Gambar 3.3. Pelindung Mata

Jenis kaca mata yang banyak digunakan dalam industri adalah:


a. Kaca mata untuk pekerjaan dengan bahan kimia.
b. Kaca mata las.
Kaca mata las terdiri dari dua jenis dan mempunyai bermacam‐macam bentuk. Jenis
yang umum digunakan untuk adalah kaca mata las untuk pengelasan listrik dan kaca
mata yang digunakan untuk pengelasan asetilen. Bentuk kaca mata las asetilen dan
kaca mata untuk las listrik adalah bisa sama, tetapi lensa yang dipasang adalah tidak
sama. Hal tersebut dikarenakan sinar yang dihasilkan oleh api las listrik lebih tajam
dibandingkan sinar yang dihasilkan oleh api las asetilen. Perbedaannya hanya pada
warna lensanya. Selain bentuk kaca mata pada pengelasan listrik disediakan khusus
peralatan untuk melindungi muka dan mata dari sinar api las listrik yang dikenal
dengan masker las.

4. Pelindung muka
Banyak jenis peralatan dibuat untuk melindungi muka para pekerja. Biasanya alat tersebut
juga berfungsi sebagai pelindung kepala dan leher sekaligus. Alat tersebut berfungsi
melindungi kepala dari benturan, melindungi muka dari cairan bahan kimia, logam panas
dan percikan bunga api dan luka lainnya yang akan terjadi pada kepala, leher dan muka
pekerja.

15
Gambar 3.4. Pelindung Muka

Bahan untuk melindungi muka biasanya dari plastik transparan, sehingga masih dapat tetap
melihat kegiatan yang dilakukan. Jenis alat pelindung kepala dan muka seperti babbiting
helm (helm dari bahan babbit), yang dapat melindungi kepala dan muka dari percikan logam
panas dan radiasi panas. Bentuk helmet dilengkapi dengan jendela dan penutup dagu serta
penutup rambut. Peralatan lain yang digunakan untuk melindungi muka adalah masker las.
Jenis peralatan ini digunakan untuk melindungi mata dan muka dari percikan api las dan
percikan logam cair hasil pengelasan. Pada jendela kacanya dilengkapi dengan lensa
tambahan untuk menjaga agar lensa yang gelap tidak akan rusak kena panas/percikan api las
dan percikan logam cair hasil pengelasan.

5. Pelindung Tangan
Jari‐jari tangan merupakan bagian tubuh yang sering kali mengalami luka akibat kerja,
seperti: terpotong oleh pisau, luka terbakar karena memegang benda panas, tergores oleh
permukaan benda kerja yang tidak halus dan masih banyak lagi bentuk luka lainnya. Untuk
itu tangan dan jari‐jari sangat perlu dilindungi dengan baik, karena semua pekerjaan
seluruhnya dikerjakan dengan menggunakan tangan.

16
Gambar 3.5. Pelindung Tangan

Alat pelindung tangan yang biasa digunakan adalah:


a. Sarung tangan dari bahan asbes, digunakan untuk melindungi tangan dari panas. Jenis
sarung tangan ini fleksibel sehingga sangat enak dipakainya.
b. Sarung tangan dari bahan kulit, digunakan untuk melindungi tangan dari percikan api
atau keadaan benda kerja yang tidak terlalu panas, beram‐beram dan benda kerja yang
kasar permukaannya. Biasanya sarung tangan dari bahan kulit ini dipakai pada
pekerjaan‐pekerjaan berat. Sarung tangan dari bahan kulit ini dipakai untuk pengerjaan
pengelasan.
c. Sarung tangan berbahan karet,digunakan oleh pekerja bagian kelistrikan.
d. Sarung tangan yang terbuat dari bahan campuran karet, neoprene dan vinyl, digunakan
untuk pekerjaan pengangkutan bahan‐bahan kimia. Sedangkan sarung tangan dari
bahan neoprene dan vinyl digunakan untuk pengangkutan bahan‐bahan minyak atau
petroleum.
e. Metal mesh gloves, sarung tangan jenis ini digunakan oleh pekerja yang selalu bekerja
menggunakan pisau dan benda-benda tajam lainnya. Dengan pemakaian sarung tangan
ini bahaya luka akibat pisau dan benda tajam lainnya bisa dihindari.
f. Sarung tangan dari bahan cotton digunakan untuk melindungi tangan dari debu dan
kotoran. Di samping sarung tangan ada bahan lain yang dapat melindungi kulit tangan
dan kulit lengan dari luka pedih, yaitu sejenis cream. Cream ini dioleskan pada tangan
dan lengan agar kulit terhindar dari bahan‐bahan yang dapat melukai kulit.

17
6. Pelindung kaki
Sepatu kerja atau pelindung kaki yang harus digunakan pada bengkel kerja mesin, harus
memenuhi persyaratan tertentu, yaitu: harus dapat melindungi kaki pekerja dari luka
kejatuhan benda kerja, terkena beram, benda panas/pijar, bahan‐bahan kimia yang berbahaya
dan kecelakaan yang mungkin timbul dan menyebabkan luka bagi pekerja.

Gambar 3.6. Pelindung Kaki

Konstruksi sepatu kerja bengkel kerja mesin adalah pada bagian ujung sepatu dipasang atau
dilapisi dengan pelat baja, agar mampu menahan benda yang jatuh menimpa kaki. Dengan
adanya penahan tersebut, maka kaki tidak mengalami luka. Bagian alasnya harus cukup kuat
dan tidak mudah tergelincir. Bahan yang umumdipakai dalam pembuatan sepatu kerja adalah
kulit yang di samak. Khusus untuk pekerja bidang kelistrikan, maka bahan pembuat sepatu
hendaknya dipilih bahan non konduktor.

7. Pelindung tubuh
Pelindung tubuh atau dikenal dengan nama apron digunakan untuk melindungi tubuh bagian
depan yaitu dari leher sampai kaki dari berbagai kemungkinan luka, seperti terkena radiasi
panas, percikan bunga api dan percikan beram dan lainnya. Bahan untuk membuat apron ini
dari asbes dan kulit yang telah di samak. Apron yang terbuat dari asbes biasanya diperkaya
dengan kawat‐kawat halus, agar apron tersebut dapat menahan benturan-benturan ringan dan
alat‐alat yang tajam.

18
Gambar 3.7. Pelindung Tubuh

Gambar 3.8. Baju Kerja


8. Baju kerja
Baju kerja atau pakaian kerja yang khusus dibuat untuk digunakan bekerja di dalam bengkel
atau laboratorium biasanya harus cukup kuat dan bentuknya harus sesuai dengan jenis
pekerjaan yang dikerjakan. Baju harus dapat melindungi pekerja dari luka akibat beram,
serpihan benda kerja, goresan‐goresan dan panas. Pakaian harus benar‐benar ter‐ikat atau pas
dengan pemakainya. Dalam bekerja, baju terkancing secara sempurna, sehingga tidak ada
bagian‐bagian anggota badan yang terbuka atau tidak terlindungi.

19
6. Sistem Manajemen K3 di pertambangan
Manajemen Resiko Pertambangan adalah suatu proses interaksi yang digunakan oleh
perusahaan pertambangan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menanggulangi
bahaya di tempat kerja guna mengurangi resiko bahaya seperti kebakaran, ledakan, tertimbun
longsoran tanah, gas beracun, suhu yang ekstrem,dll. Jadi, manajemen resiko merupakan
suatu alat yang bila digunakan secara benar akan menghasilkan lingkungan kerja yang
aman,bebas dari ancaman bahaya di tempat kerja.

Adapun Faktor Resiko yang sering dijumpai pada Perusahaan Pertambangan adalah sebagai
berikut :
1. Ledakan
Ledakan dapat menimbulkan tekanan udara yang sangat tinggi disertai dengan nyala api.
Setelah itu akan diikuti dengan kepulan asap yang berwarna hitam. Ledakan merambat pada
lobang turbulensi udara akan semakin dahsyat dan dapat menimbulkan kerusakan yang fatal
2. Longsor
Longsor di pertambangan biasanya berasal dari gempa bumi, ledakan yang terjadi di dalam
tambang,serta kondisi tanah yang rentan mengalami longsor. Hal ini bisa juga disebabkan
oleh tidak adanya pengaturan pembuatan terowongan untuk tambang.
3. Kebakaran
Bila akumulasi gas-gas yang tertahan dalam terowongan tambang bawah tanah mengalami
suatu getaran hebat, yang diakibatkan oleh berbagai hal, seperti gerakan roda-roda mesin,
tiupan angin dari kompresor dan sejenisnya, sehingga gas itu terangkat ke udara
(beterbangan) dan kemudian membentuk awan gas dalam kondisi batas ledak (explosive
limit) dan ketika itu ada sulutan api, maka akan terjadi ledakan yang diiringi oleh kebakaran.

Pengelolaan Risiko menempati peran penting dalam organisasi kami karena fungsi ini
mendorong budaya risiko yang disiplin dan menciptakan transparansi dengan menyediakan
dasar manajemen yang baik untuk menetapkan profil risiko yang sesuai. Manajemen Risiko
bersifat instrumental dalam memastikan pendekatan yang bijaksana dan cerdas terhadap
pengambilan risiko yang dengan demikian akan menyeimbangkan risiko dan hasil serta
mengoptimalkan alokasi modal di seluruh korporat. Selain itu, melalui budaya manajemen

20
risiko proaktif dan penggunaan sarana kuantitatif dan kualitatif yang modern, kami berupaya
meminimalkan potensi terhadap kemungkinan risiko yang tidak diharapkan dalam
operasional.

Pengendalian risiko diperlukan untuk mengamankan pekerja dari bahaya yang ada di tempat
kerja sesuai dengan persyaratan kerja Peran penilaian risiko dalam kegiatan pengelolaan
diterima dengan baik di banyak industri. Pendekatan ini ditandai dengan empat tahap proses
pengelolaan risiko manajemen risiko adalah sebagai berikut :
1. Identifikasi risiko adalah mengidentifikasi bahaya dan situasi yang berpotensi
menimbulkan bahaya atau kerugian (kadang-kadang disebut ‘kejadian yang tidak
diinginkan’).
2. Analisis resiko adalah menganalisis besarnya risiko yang mungkin timbul dari
peristiwa yang tidak diinginkan.
3. Pengendalian risiko ialah memutuskan langkah yang tepat untuk mengurangi atau
mengendalikan risiko yang tidak dapat diterima.
4. Menerapkan dan memelihara kontrol tindakan adalah menerapkan kontrol dan
memastikan mereka efektif.
Manajemen resiko pertambangan dimulai dengan melaksanakan identifikasi bahaya untuk
mengetahui faktor dan potensi bahaya yang ada yang hasilnya nanti sebagai bahan untuk
dianalisa, pelaksanaan identifikasi bahaya dimulai dengan membuat Standart Operational
Procedure (SOP). Kemudian sebagai langkah analisa dilakukanlah observasi dan inspeksi.
Setelah dianalisa,tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan adalah evaluasi resiko untuk
menilai seberapa besar tingkat resikonya yang selanjutnya untuk dilakukan kontrol atau
pengendalian resiko. Kegiatan pengendalian resiko ini ditandai dengan menyediakan alat
deteksi, penyediaan APD, pemasangan rambu-rambu dan penunjukan personel yang
bertanggung jawab sebagai pengawas. Setelah dilakukan pengendalian resiko untuk tindakan
pengawasan adalah dengan melakukan monitoring dan peninjauan ulang bahaya atau resiko.

Secara umum manfaat Manajemen Resiko pada perusahaan pertambangan adalah sebagai
berikut :
1. Menimalkan kerugian yang lebih besar

21
2. Meningkatkan kepercayaan pelanggan dan pemerintah kepada perusahaan
3. Meningkatkan kepercayaan karyawan kepada perusahaan

Guna menghindari berbagai kecelakaan kerja pada tambang bawah tanah, terutama dalam
bentuk ledakan gas perlu dilakukan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan ledakan ini
harus dilakukan oleh segenap pihak yang terkait dengan pekerjaan pada tambang bawah
tanah tersebut.

D. RANGKUMAN
Kecelakaan kerja tambang adalah suatu kejadian yang tidak diinginkan atau tidak
dikehendaki yang benar-benar terjadi dan membuat cidera pekerja tambang atau orang yang
diizinkan di tambang oleh KTT (Kepala Teknik Tambang) sebagai akibat kegiatan
pertambangan pada jam kerja tambang dan pada wilayah pertambangan.

Peran K3 sebagai suatu sistem program yang dibuat bagi pekerja maupun pengusaha,
kesehatan dan keselamatan kerja atau K3 diharapkan dapat menjadi upaya preventif terhadap
timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja dalam lingkungan kerja.
Pelaksanaan K3 diawali dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan
kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja, dan tindakan antisipatif bila terjadi hal
demikian.

Manajemen Resiko Pertambangan adalah suatu proses interaksi yang digunakan oleh
perusahaan pertambangan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menanggulangi
bahaya di tempat kerja guna mengurangi resiko bahaya seperti kebakaran, ledakan, tertimbun
longsoran tanah, gas beracun, suhu yang ekstrem, dll. Jadi, manajemen resiko merupakan
suatu alat yang bila digunakan secara benar akan menghasilkan lingkungan kerja yang aman,
bebas dari ancaman bahaya di tempat kerja. Pentingnya kebutuhan pengelolaan K3 dalam
bentuk manajemen yang sistematis dan mendasar agar dapat terintegrasi dengan manajemen
perusahaan yang lain. Integrasi tersebut diawali dengan kebijakan dari perusahaan untuk
mengelola K3 dengan menerapkan suatu Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (SMK3).

22
F. DAFTAR PUSTAKA

1. http://waridnurdiansyah.blogspot.co.id/2010/02/keselamatan-dan-kesehatan-kerja-
k3.html
2. http://kurniawan-w10.blogspot.co.id/2012/03/keselamatan-dan-kesehatan-
kerja.html
3. http://miningengineeringscience.blogspot.co.id/2015/02/contoh-soal-soal-dan-
jawaban-ujian.html
4. https://evynurhidayah.wordpress.com/2012/06/01/kesehatan-dan-keselamatan-
kerja-di-pertambangan/
5. https://sumbermaju.weebly.com/home/sistem-manajemen-k3-di-pertambanga

23