Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

FILSAFAT ILMU

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN TEKNOLOGI


KEJURUAN DI PROVINSI SULAWESI
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Sapto Haryoko,M.Pd
SELATAN

OLEH:
Muh. Faisal
SAMPUL
181052003010

PENDIDIKAN TEKNOLOGI KEJURUAN


PROGRAM PASCA SARJANA
KATA PENGANTAR
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2018
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT, yang senantiasa
melimpahkan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah
filsafat ilmu dengan tema “IMPLEMENTASI PENDIDIKAN TEKNOLOGI
KEJURUAN DI PROVINSI SULAWESI SELATAN”.

Adapun maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk
menyelesaikan tugas mata kuliah filsafat ilmu dan sebagai bahan referensi
pembelajaran bagi pembaca dan kami pribadi tentang implementasi pendidikan
teknologi kejuruan di provinsi sulawesi selatan.

Dalam kesempatan ini kami mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam membuat makalah ini.

Satu harapan yang kami inginkan semoga karya tulis ini dapat berguna
bagi pembaca dan kami juga berharap kritik dan saran dari pembaca atas segala
kekurangan dalam laporan hasil wawancara ini.

Makassar, 17 Oktober 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

SAMPUL .............................................................................................................. 1
KATA PENGANTAR ............................................................................................ 2
DAFTAR ISI ......................................................................................................... 3
BAB 1 PENDAHULUAN....................................................................................... 4
1.1 LATAR BELAKANG ............................................................................... 4
1.2 RUMUSAN MASALAH .......................................................................... 6
1.3 TUJUAN ................................................................................................ 6
BAB 2 PEMBAHASAN ......................................................................................... 7
2.1 kondisi riil penyelenggaraan PTK di Indonesia ...................................... 7
2.2 Perkembangan lapangan kerja ............................................................ 10
2.3 kesenjangan antara lapangan kerja dan tingkat lulusan SMK. ............. 12
BAB 3 KESIMPULAN ........................................................................................ 14
3.1 kesimpulan .......................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 15
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan


nasional, pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang
mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang keahlian
tertentu. Pendidikan kejuruan bertujuan mempersiapkan tenaga yang memiliki
keterampilan dan pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja
dan mampu mengembangkan potensi dalam dirinya dan mengadopsi dan
beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Memasuki era global, dunia pendidikan di Indonesia pada saat ini dan
yang akan datang masih menghadapi tantangan yang semakin berat serta
kompleks. Indonesia harus mampu bersaing dengan negara-negara lain, baik
dalam produk, pelayanan, maupun dalam penyiapan sumber daya manusia.
Pendidikan kejuruan sebagai salah satu sub sistem dalam sistem pendidikan
nasional diharapkan mampu mempersiapkan dan mengembangkan SDM
yang bisa bekerja secara profesional di bidangnya, sekaligus berdaya saing
dalam dunia kerja. Namun dalam perjalanannya pendidikan kejuruan tetaplah
dihadapkan pada segenap tantangan, diantaranya adalah perubahan
ketenagakerjaan yang begitu cepat, stigma negatif SMK yang masih melekat
sehingga menghambat kemajuan pendidikan kejuruan itu sendiri,
ketersediaan sarana dan prasarana, dan permasalahan-permasalahan lain
yang menuntut segera diatasi ditengah arus globalisasi ini. (Menyulamembun,
2016)

Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu provinsi yang sangat


strategis, yaitu sebagai centre point of Indonesia dan sebagai pintu gerbang
Kawasan Indonesia Timur (KTI). Oleh karena itu Provinsi Sulawesi Selatan
harus mempersiapkan diri menghadapi peran strategis itu di masa yang akan
datang. Salah satu persiapan tersebut adalah persiapan tenaga kerja
profesional dan terdidik untuk mengantisipasi kebutuhan tenaga kerja di masa
yang akan datang.

Salah satu institusi/lembaga yang berperan dalam hal tersebut, adalah


institusi pendidikan, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan. Perlu kajian yang
mendalam mengenai pendidikan kejuruan untuk menentukan road map (peta
jalan) pendidikan kejuruan. Beberapa permasalahan pendidikan menengah
kejuruan di Indonesia adalah relevansi, distribusi, kualitas dan kuantitas.

Kehidupan manusia terus mengalami perubahan sebagai akibat dari


kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan inilah yang menuntut
manusia harus memperoleh pendidikan sehingga dapat dan harus menyesuaikan
dan mengantisipasi setiap perubahan yang terjadi, terlepas dari kebodohan dan
keterbelakangan dan menjadi manusia yang berkualitas. Upaya pemerintah dalam
meningkatkan sumber daya manusia telah dalam dituangkan dalam undang-
undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003.

Untuk menjawab tantangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dibutuhkan


kehalian dan keterampilan sumber daya manusia. Salah satu upaya yaitu
dikembangkannya suatu pendidikan kejuruan berdasarkan kompotensi yang
dipacu oleh kebutuhan pasar. Dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang
sistem pendidikan nasional, pendidikan kejuruan merupakan pendidikan
menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam
bidang keahlian tertentu. Pendidikan kejuruan bertujuan mempersiapkan tenaga
yang memiliki keterampilan dan pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan
dunia kerja dan mampu mengembangkan potensi dalam dirinya dan mengadopsi
dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Pendidikan kejuruan salah satu pendidikan vokasional merupakan


pendidikan yang berorientasi pada pekerjaan, karir, atau okupasi. Tuntutan dunia
kerja sangat erat kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang dapat berubah mengharuskan sistem perencanaan dengan
sistematis, menyeluruh, dan selalu berorientasi futuristic. Dalam hal ini maka
pendidikan kejuruan harus menekankan relevansi antara dunia pendidikan dan
dunia kerja, baik dalam negeri maupun di luar negeri agar dapat mempertahankan
dan memantapkan eksistensinya.

Melvin L. Barlow dalam artikelnya Foundation of Vocational Education dalam


American Vocational Journal (1967), menyampaikan pokok-pokok pikiran tentang
pendidikan vokasi atau kejuruan (vocational education). Ada 7 poin penting yang
dikemukakan, yaitu:

1) Vocational education is a national concern. Pendidikan vokasi adalah hal


penting yang merupakan kepedulian tingkat nasional.
2) Vocational education provides the common defense and promotes the general
welfare. Pendidikan vokasi yang efektif akan bermanfaat bagi pertahanan
negera (seperti dukungan pada saat kondisi perang), serta mendukung
peningkatan kesejahteraan ekonomi warga negara dan keluarganya.
3) Vocational preparation of youth and adults is a public school responsibility.
Sekolah publik memainkan peranan penting dalam menyiapkan generasi
muda dan juga warga dewasa untuk mempersiapkan pekerjaan mereka.
4) Vocational education requires a sound basic education. Pendidikan vokasi
memerlukan adanya fondasi dasar yang baik dan kuat dari jenjang sekolah
sebelumnya agar dapat sukses. Hal ini disebabkan makin tingginya teknologi
yang diapakai di berbagai bidang pekerjaan.
5) Vocational Education is planned and conducted in close cooperation with
business and Industri. Hal ini adalah fondasi penting keberhasilan pendidikan
vokasi, umumnya melalui komite penasihat (advisory committee) yang terdiri
dari kalangan bisnis dan industri.
6) Vocational education provide the skills and knowledge valuable in the labor
market. Materi pembelajaran ditentukan berdasar analisis kebutuhan pasar
kerja, dibutuhkan juga studi penempatan dan tindak lanjut terhadap para
lulusan agar diketahui bagaimana hasil program diterima, dimanfaatkan dan
dimodifikasi di pasar kerja.
7) Vocational education provides continuing education for youth and adults.
Pendidikan vokasi tidak hanya ada di sekolah, tetapi juga harus ada di industri
dan berbagai program vokasi untuk orang dewasa, hal ini berkontribusi nyata
meningkatkan tingkat intelegensia (industrial intelligence) tenaga kerja.
Permasalahan dalam pelatihan ulang (retraining) dan pembelajaran sepanjang
hayat adalah elemen penting yang membentuk pendidikan vokasi yang kuat
kejuruan.

1.2 Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang di atas, ada beberapa rumusan masalah yang akan di
bahas pada bab selanjutnya, yaitu :

a) Bagaimana kondisi riil penyelenggaraan Pendidikan Teknologi Kejuruan?


b) Perkembangan lapangan kerja (perusahaan dan unit kerja) serta jumlah
lulusan pencari kerja dalam 1 tahun terakhir?
c) Bagaimana tingkat kesenjangan antara lapangan kerja dan tingkat lulusan
SMK?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu :

a) Untuk mengetahui bagaimana kondisi riil penyelenggaraan Pendidikan


Teknologi Kejuruan.
b) Untuk mengetahui b) Perkembangan lapangan kerja (perusahaan dan
unit kerja) serta jumlah lulusan pencari kerja dalam 1 tahun terakhir.
c) Apa kesenjangan antara lapangan kerja dan tingkat lulusan SMK.
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Kondisi Riil Penyelenggaraan PTK Di Indonesia

Kondisi riil penyelenggaraan Pendidikan Teknologi Kejuruan (PTK) bidang


keahlian di SMK untuk memenuhi kebutuhan industri akan tenaga kerja di suatu
daerah provinsi atau kabupaten/kota khususnya Provinsi Sulawesi Selatan
memperoleh gambaran penyerapan tenaga kerja lulusan SMK untuk industri dapat
diidentifikasi spektrum pasar kerja sebagai rujukan dalam penetapan program
keahlian di SMK. Bagi pemerintah pusat atau depdiknas adalah kebijakan
pendidikan yang berkaitan dengan pengembangan jumlah SMK dan bidang
keahlian yang diperlukan untuk menyongsong akan kebutuhan tenaga kerja yang
akan datang mampu memberikan gambaran tentang identifikasi lapangan kerja,
jumlah tenaga kerja, bidang keahlian yang perlu disiapkan, kualifikasi tenaga kerja
oleh pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota di seluruh
Indonesia.

Sekolah kejuruan di Sulawesi Selatan juga tidak terlepas dari berbagai


macam permasalahan. Permasalahan ini timbul diakibatkan oleh tidak sinkronnya
antara harapan dan kenyataan, terjadi gabungan antara existing condition dengan
expected condition. Data statistik, menunjukkan banyak siswa sekolah menengah
kejuruan (SMK) pada tahun 2006 dan 2007 sebesar 63.165 orang dan menjadi
68.756 dan78.168 pada tahun setelahnya. Tentunya alumni sebanyak ini
harapannya akan terserap di dunia kerja. Akan tetapi menurut data secara
nasional, (Kohort siswa SMK 2010-2014, DIT.PSMK) menunjukkan bahwa
serapan tenaga yang berasal dari sekolah kejuruan hanya 50% pada tahun 2010,
meskipun pada tahun-tahun berikutnya diharapkan meningkat. Kondisi serapan
tenaga kerja oleh industri di Sulawesi Selatan tidak jauh berbeda dengan kondisi
rata-rata nasional, bahkan kemungkinan di bawahnya. Hal ini berarti bahwa hampir
setengah dari lulusan sekolah kejuruan tidak mendapat kerja. Walaupun ada yang
lanjut studi, akan tetapi jumlah ini tidak signifikan jumlahnya.

Ketimpangan antara jumlah tenaga kerja dan lulusan pendidikan kejuruan di


Sulawesi Selatan juga dapat dilihat pada data BPS (2017). Jumlah tenaga kerja
yang terserap pada industri pada tahun 2006 sebesar 40.775 orang dan hanya
meningkat sedikit pada tahun berikutnya yaitu 46.069 orang, tetapi turun pada
tahun 2008 menjadi 44.440 orang. Dari data ini, beberapa asumsi yang dapat
ditarik antara lain; (1) data BPS tersebut tidak merinci tingkat pendidikan tenaga
kerja tersebut. Jika diasumsikan bahwa tingkat pendidikan tenaga kerja tersebut
berasal perguruan tinggi, diploma, SMK dan SMA, maka dapat dipastikan bahwa
tenaga kerja yang berasal dari pendidikan kejuruan kurang dari jumlah tersebut.

Secara umum kompetensi yang dimiliki SMK sudah sesuai dengan


kompetensi yang diharapkan dunia kerja. Adanya kesenjangan kompetensi yang
dimiliki lulusan SMK dengan yang dibutuhkan Dunia Usaha/Dunia Industri dapat
diatasi dengan berbagai upaya misalnya industri memberikan kontribusi
riil bagi pengembangan SMK melalui pemberian kesempatan magang/PKL;
sharing fasilitas; sharing pendanaan. Contoh

a. Lulusan SMK bidang keahlian Teknik komputer jaringan memberikan


sumbangan cukup signifikan terhadap pembuatan laptop dari Indonesia.
b. Lulusan SMK bidang keahlian Teknologi memberikan sumbangan
cukup signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), terdapat
indikasi bahwa setiap penambahan jumlah siswa SMK total sebesar 1 persen
akan meningkatkan PDRB sebesar 0,058 persen.

Masih terdapat penambahan Program Keahlian yang dibutuhkan


masyarakat industri baik industri pengolahan atau lainnya yaitu program keahlian
peningkatan daya listrik kapasitas medium teknik sensor berbagai bidang industri,
teknik telemetri untuk menjembatani tidak adanya sumber daya permanen
dan kemudahan pantauan, bodi otomotif, tebu rakyat, tebu industri, budidaya ikan,
bawal reklamasi, bekas lahan tambang di SMK masih relevan dibina dan
dikembangan. Jika dikaji lebih lanjut maka permasalahan pendidikan kejuruan
digambarkan sebagai berikut:

1. Relevansi

Relevansi adalah sinkronisasi atau kecocokan antara kempetensi yang


dibutuhkan oleh dunia kerja dengan kompetensi yang dihasilkan oleh dunia
pendidikan baik dari segi bidang studi maupun kurikulum yang diterapkan. Data
Dit. PSMK menunjukkan jumlah siswa SMK pada tahun 2006/2007, 2007/2008,
dan 2008/2009 berturut-turut sebesar 63.165 orang, 68.756 orang, dan 78.168
orang. Meskipun data tersebut tidak merinci jenis SMK tersebut (teknologi atau
bisnis) dan bidang keahlian, hampir bisa dipastikan bahwa yang banyak adalah
bidang studi klasik, BELMO (Bangunan, Elektronika, Listrik, Mesin dan Otomotif),
meskipun saat ini telah berkembang pesat program Teknologi Informasi dan
Komunikasi. Adapun bidang studi lain relative tidak terlalu banyak. Jika tidak ada
inovasi, maka bidang studi ini akan mengalami kejenuhan.

Selain itu, jenis industri yang tingkat penyerapan tenaga kerja paling banyak
adalah jenis industri makanan dan minuman, yaitu sebanyak 21.992 orang pada
tahun 2007, menyusul industri furniture dan industri pengolahan lainnya sebanyak
1.187 orang, industri barang galian bukan logam sebesar 9.708 orang, dan industri
kayu, barang barang dari kayu (bukan meubel) sebesar 8.023 orang. Sedangkan
industri-industri lainnya serapan tenaga kerjanya di bawah 1000 orang. Jika
melihat dari sisi penyerapan dunia kerja nampak jelas bahwa program studi yang
dikembangkan pada sekolah kejuruan belum mendukung arah berkembangnya
industri. Seharusnya pengembangan sekolah kejuruan juga diarahkan pada sektor
dimana industri tersebut berkembang pesat. Jika dianalisis lebih jauh,
industri/perusahaan yang berkembang di Sulawesi Selatan lebih banyak pada
industri pengolahan hasil bumi/sumber daya alam, belum beranjak pada industri
teknologi tinggi (data BPS, 2010). Industri teknologi tinggi seperti dalam daftar
klasifikasi industri belum tersentuh oleh data BPS dan penyerapan tenaga kerja
pada sektor tersebut tidak banyak.

Sedangkan pengembangan sekolah kejuruan justru lebih mengarah pada


program studi teknologi tinggi. Para pendiri SMK lebih cenderung mengembangan
program studi yang sudah dikenal di masyarakat dibandingkan mengembangkan
sekolah kejuruan yang dibutuhkan oleh industri lokal. Nampak jelas bahwa
pendirian sekolah kejuruan tidak melalui analisis pasar yang memadai.

2. Distribusi

Keberadaan sekolah kejuruan masih terkonsentrasi pada kota-kota besar.


Jika dilihat dari skala nasional maka konsentrasi sekolah kejuruan masih tertinggi
di Pulau Jawa dan skala Provinsi Sulawesi Selatan masih didominasi oleh Kota
Makassar (data, BPS 2010) sebanyak 81 SMK, menyusul kabupaten Toraja Utara
sebanyak 20 dan Kabupaten Tana Toraja sebanyak 18 SMK. Sedangkan daerah
lainnya pada umumnya hanya di bawah 10 SMK, bahkan Kabupaten Luwu Timur
hanya 2 buah SMK padahal kabupaten ini termasuk kabupaten pemekaran yang
berlembang pesat karena ditunjang oleh Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang
memadai.

Jumlah perusahaan yang terdata oleh BPS di kabupaten/kota (kecuali Kota


Makassar), yang terbanyak adalah di Kabupaten Wajo dengan 10.494
perusahaan, kabupaten Selayar sebanyak 7.091 perusahaan, kabupaten
Bantaeng, Gowa dan Sidrap sekitar 3.000 perusahaan. Hal ini jelas tidak sesuai
dengan jumlah SMK yang ada kabupaten tersebut. Sebagai contoh, kabupaten
Wajo hanya memiliki 7 buah sekolah SMK dengan jumlah siswa hanya 1.781
orang. Kabupaten Selayar hanya memiliki 4 SMK dengan jumlah siswa 1.131.
Padahal kedua kabupaten tersebut menempati peringkat atas banyaknya
perusahaan yang beroperasi.

3. Kualitas

Kualitas alumni sekolah kejuruan diukur dengan beberapa indikator, antara


lain: beberapa lama mereka menunggu untuk mendapatkan pekerjaan pertama
dan atau pekerjaan relevan, seberapa tinggi penghargaan yang diberikan oleh
pengguna dalam bentuk gaji pertama dan sebagainya. Kualitas alumni pastinya
dipengaruhi oleh berbagai macam faktor mulai dari kualitas input (siswa yang
diterima), tenaga pengajar, proses pembelajaran dan proses asimilasi dengan
pihak industri (praktek kerja industri).

Peningkatan kompetensi profesional tenaga pengajar seharusnya juga


menjadi hal yang penting. Secara berkala seharusnya dilakukan pelatihan-
pelatihan workshop-workshop yang bertujuan untuk meng-update pengetahuan
para tenaga pengajar agar mampu memberi pengetahuan terkini pada anak didik.
4. Kuantitas

Kelihatanya dari segi kuantitas terlihat bahwa jumlah sekolah kejuruan


sangat memadai dalam menyediakan tenaga kerja. Akan tetapi program
studi/kompetensi yang diharapkan menopang perkembangan industri didaerah
Sulawesi Selatan masih rendah. Sesuai dengan data BPS (2010) terlihat bahwa
kebutuhan akan tenaga kerja masih sangat banyak. Ditambah lagi jika
diasumsikan bahwa pertumbuhan industri pada masa masa akan datang makin
pesat. Banyak jenis industri yang belum terdata oleh BPS yang kemungkinan
besar akan berkembang di Sulawesi Selatan seiring dengan perkembangan
kebutuhan masyarakat. Tentunya hal ini akan membutuhkan tenaga kerja yang
banyak. Seperti diketahui bahwa pendidikan kejuruan merupakan institusi utama
penyedia tenaga kerja yang handal.

Tuntutan pengelolaan pada pendidikan kejuruan harus sesuai dengan


kebijakan link and match, yaitu perubahan dari pola lama yang cenderung
berbentuk pendidikan demi pendidikan ke suatu yang lebih terang, jelas dan
konkrit menjadi pendidikan kejuruan sebagai program pengembangan sumber
daya manusia. Dimensi pembaharuan yang diturunkan dari kebijakan link and
match, yaitu perubahan dari pendekatan Supply Driven ke Demand Driven.
Dengan deman driven ini mengharapkan dunia usaha dan dunia industri atau
dunia kerja lebih berperan di dalam menentukan, mendorong dan menggerakkan
pendidikan kejuruan, karena mereka adalah pihak yang lebih berkepentingan dari
sudut kebutuhan tenaga kerja. Dalam pelaksanaannya, dunia kerja ikut berperan
serta karena proses pendidikan itu sendiri lebih dominan dalam menentukan
kualitas tamatannya, serta dalam evaluasi hasil pendidikan itupun dunia kerja ikut
menentukan supaya hasil pendidikan kejuruan itu terjamin dan terukur dengan
ukuran dunia kerja.

2.2 Perkembangan Lapangan Kerja (perusahaan dan unit kerja) Serta


Jumlah Lulusan Pencari Kerja Dalam 1 Tahun Terakhir

Berbicara tentang perkembangan lapangan kerja dan jumlah pencari kerja


tidak pernah lepas dengan yang Namanya pengangguran. Berdasarkan data
Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah angkatan kerja pada Agustus 2017 meningkat
2,62 juta orang menjadi 128,06 juta orang dibanding posisi Agustus 2016.
Sementara penduduk angkatan kerja yang bekerja meningkat 2,61 juta orang
menjadi 121,02. Sementara jumlah pengangguran bertambah 10 ribu orang
menjadi 7,04 juta orang atau 5,5 persen dari total angkatan kerja.

Berdasarkan tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan, Tingkat


Pengangguran Terbuka (TPT) adalah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Pada Agustus 2017, pengangguran dengan lulusan SMK sebesar 11,41 persen,
naik dari posisi Agustus 2016. Di urutan kedua adalah lulusan Sekolah Menengah
Atas (SMA) dengan tingkat pengangguran sebesar 8,29 persen sementara di
posisi ketiga adalah lulusan Diploma (I/II/III) yang mencapai 6,88 persen.
Tingginya angka pengangguran dengan lulusan SMK dan SMA mengindikasikan
bahwa penawaran kerja yang ada tidak terserap oleh dua kelompok tingkat
pendidikan tersebut. Sedangkan angka pengangguran yang berpendidikan
Sekolah Dasar (SD) ke bawah justru rendah karena mereka mau menerima
pekerjaan apa saja/tidak memilih-milih pekerjaan.

Sumber : databoks.katadata.co.id

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat ekonomi


Sulawesi Selatan pada tahun 2017 tumbuh 7,23 persen dan berada di peringkat 2
nasional di bawah provinsi Maluku Utara. Dipaparkan Kabid Neraca Wilayah dan
Analisis Statistik BPS Sulsel, Didik Nursetyohadi, pertanian masih menjadi
tumpuan ekonomi Sulawesi Selatan.

“Selama 2017, lapangan usaha pertanian kehutanan, perikanan dapat


menciptakan nilai tambah Rp 95,9 triliun. Berkontribusi 22,89 persen dan tumbuh
5,34 persen dibandingkan tahun sebelumnya," kata Didik.Menanggapi
pertumbuhan ekonomi Sulsel tersebut, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas,
Dr Anas Makatutu SE mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Sulsel
seharusnya dibarengi dengan angka kesenjangan dan kemiskinan yang rendah”.
Kalau hanya melihat pertumbuhan ekonomi, ini luar biasa. Pertanyaanya,
seharusnya kalau pertumbuhan ekonomi tinggi, angka kemiskinan harus turun,
kesenjangan atau gini ratio juga turun, supaya pertumbuhan ekonomi benar-benar
dinikmati masyarakat,"

Ia mengatakan, kesenjangan atau gini ratio di Sulsel menjadi masalah yang


harus diselesaikan, meskipun pertumbuhan ekonomi terus membaik. "Di Sulsel
ada sesikit kendala di situ. Menurut saya, kalau mau lebih sempurna lagi, idelanya
pertumbuhan ekonomi tinggi, angka gini ratio dan kesenjangan semakin kecil, dan
penduduk miskin rendah. Jadi masih ada sedikit masalah," ungkapnya. Tak hanya
soal kesenjangan, ia juga menyoroti pemerataan di seluruh kabupaten di Sulsel
yang dianggap belum merata. "Sulsel itu ada 24 kabupaten kota, pertanyaannya
juga apakah pertumbuhan ekonomi Sulsel yang tinggi ini berasal dari kontribusi
semua kabupaten ini. Ada kabupaten yang sumbangsihnya sangat besar,
misalnya Makassar yang sampai 9 persen, tapi ada juga yang rendah. Berarti
pemerataannya juga masih kurang, dan ini yang harus jadi perhatian," katanya.

"Jadi sekarang, harus diperhatikan adalah apa penyebab kesenjangan di


Sulsel ini. Rupanya, persoalannya adalah karena investasi di Sulsel sebagian
besar masih yang padat modal, bukan padat karya. Ini membuat kesempatan kerja
masyarakat kurang," sambung dia.

Menurut dia, mestinya idi Sulsel harus lebih banyak mendorong investasi
yang padat karya supaya bisa menyerap banyak tenaga kerja, income pendapatan
meningkat, dan akhirnya konsumsi akan meningkat, dan kemisinan berkurang
karena pendapatan bertambah.

2.3 Kesenjangan Antara Lapangan Kerja Dan Tingkat Lulusan SMK.

Perkembangan dunia pendidikan, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan


(SMK) saat ini semakin diminati masyarakat.Namun demikian masih banyak
kesenjangan antara lulusan SMK dengan tingkat ketersediaan di pasar kerja
karena peningkatan jumlah lulusan tak sebanding dengan pertumbuhan lapangan
kerja yang sesuai dengan keahlian mereka.

Banyaknya peminat yang masuk SMK ini dibuktikan, bahwa masyarakat


kelas menengah ke bawah kebanyakan memilih sekolah SMK untuk
anaknya dengan harapan, setelah tamat langsung bisa kerja.

Perubahan struktur kesempatan kerja, juga adanya kesenjangan


kompetensi yang menyebabkan ketidaksesuaian antara supply dan demand.
Adanya kesenjangan kompetensi merupakan akibat langsung dari perencanaan
pendidikan yg tidak berorientasi pada realita yg terjadi di masyarakat.

Pendidikan dijadikan sebagai mesin ilmu pengetahuan dan teknologi,


cenderung lepas dari konteks kebutuhan masyarakat. Ini menyebabkan
ketidakseimbangan dalam bursa kerja, lulusan pendidikan tertentu banyak tidak
dibutuhkan di pasar kerja. ”Sebagai contoh bidang keahlian bisnis manajemen
yang menurut data dalam buku revitalisasi SMK sudah jenuh, maka tidak boleh
membuka lagi untuk program itu,”

Mensinergikan kemampuan semua warga sekolah (steakholders), antara


Imtaq dan Iptek sesuai rencana kerja jangka menengah (RKJM) dengan mengacu
kepada 8 standar. ”Standar itu di antaranya standar proses, standar isi, standar
kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana
dan prasarana, standar pembiayaan, standar pengelolaan, standar penilaian”.
Menutut Muhlis, tantangan yang dihadapi SMKN 4 PANGKAJENE saat ini
adalah makin tingginya perubahan teknologi dan komunikasi yang ada di dunia
kerja. Sehingga menuntut sistem kegiatan belajar mengajar yang cepat
beradaptasi dengan kurikulum tahun 2013. ”Sehingga tamatan SMKN 4
PANGKAJENE mampu menguasai ilmu kekinian atau zaman now,” katanya.

Soal kompetensi guru-guru SMKN 4 PANGKAJENE, menurut Muhlics harus


mengacu standar akademisi dan profesi guru vokasi (kejuruan). Sehingga setiap
guru harus mengikuti diklat secara berkala, baik yang diselenggarakan pemerintah
maupun pihak dunia usaha atau industri yg mengacu kepada 9 kualifikasi Standar
Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang dikeluarkan Depnaker.

”Menurut saya, pendidikan di Indonesia perlu pembenahan secara


mendasar, perencanaan yang matang, yang sanggup menjawab tantangan
perubahan di masa mendatang untuk Indonesia tercinta lebih baik, bermartabat,
bersaing dan menjadi pemenang dalam persaingan dunia internasional,”
BAB 3
KESIMPULAN
3.1 kesimpulan

Melihat presentase data diatas yang diambil dari berbagai sumber,


menunjukkan bahwa proyeksi pendidikan teknologi dan kejuruan belumlah
mencapai apa yang telah ditargetkan oleh pemerintah dalam hal ini adalah dinas
pendidikan sulawesi selatan bahwa pendidikan vokasi atau kejuruan menargetkan
jumlah sekolah SMK sampai pada 60-70% dibandingkan dengan sekolah
menengah Umum 30-40%.

Dan, untuk menghasilkan lulusan yang siap pakai, mandiri atau mampu
berwirausaha SMK perlu melakukan usaha-usaha baik dibidang pengembangan
kurikulum, tenaga kependidikan, dengan menyertakan DUDI dalam kegiatan
sekolah. Pihak DUDI menyarankan agar SMK menambah guru yang sesuai
dengan bidangnya dan perlu meningkatkan kompetensi dan wawasan agar sesuai
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan dengan
bidang keahlian yang diampunya.

Pihak sekolah harus bisa lebih kereatif dalam mengembangkan kurikulum


SMK yang bisa singkron dengan Industri dan bisa melakukan kerjasama dengan
industri dalam hal penyadian bahan/ peralatan indutri Pihak pemerintah/
pengambil kebijakan melakukan intervensi terhadap industry agar pihak industry
bisa lebih maksimal dalam hal kerjasama dengan sekolah menengah kejuruan.

Dari data diatas menunjukkan bahwa perkembangan SMK baik tenga


pengajar maupun peserta didik sejalan dengan perkembangan industry, jika
industry berkurang di tiap wilayah daerah maka semakin kecil pertumbuhan SMK
pada wilayah tersebut. Maka untuk memajukan sekolah menengah kejuruan harus
ditopang dengan kemajuan industry. Dan tenaga pendidik yang propesional pada
bidangnya sangat dibutuhkan juga karena untuk mendaftar saja ke salah satu
perusahaan atau industry yang ada harus memiliki pengalaman kerja pada
bidangnya. Permasalahan klasik SMK tetap harus diatasi adalah distribusi,
relevansi, kualitas dan kuantitas. Road map Dit. PSMK juag mengisyaratkan
bahwa pada tahun 2014 persentase SMK dan SMA adalah 67% berbanding 33%.
Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi perkembangan tenaga kerja dan
industri di masa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA

Academia. Filsafat Pendidikan Kejuruan.pdf. https://www.academia.edu


/30901736/Filsafat_Pendidikan_Kejuruan.pdf?auto=download. Diakses
pada tanggal 26 September 2018

Calhoun, C.C dan Finch A.V. 1982. Vocational Education: Conceptand Operations.
Belmount California: Wads Worth Publishing Company.

Dakwah Digital. 2014. Landasan Filosofis, Teoritis Dan Yuridis.


https://dakwahdigital.blogspot.com /2014/08/landasan-filosofis-teoritis-dan-
yuridis.html Diakses pada tanggal 26 September 2018

Ghufron, Muh. 2017. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta : Kalimedia

Tilaar, H.A.R dan Riant Nugroho. 2008. Kebijakan pendidikan: Pengantar untuk
memahami kebijakan pendidikan dan kebijakan pendidikan sebagai
kebijakan publik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

M. Irfan Islamy. 2009. Prinsip-prinsip perumusan kebijaksanaan negara. Jakarta:


Bina Aksara.

Majid, Ismal. 2012. Landasan filosofi dan yuridis pendidikan teknologi kejuruan.
https://ismailmajid.wordpress.com/2012/10/08/landasan-filosofi-dan-yuridis-
pendidikan-teknologi-kejuruan/. Diakses pada tanggal 28 September 2018

Mangun, Tatang. 2009. Filosofi fasar penelitian tindakan kelas.


https://tatangmanguny.wordpress.com/2009/08/22/filosofi-dasar-penelitian-
tindakan-kelas/. Diakses pada tanggal 28 September 2018

Marwa. 2017. Tugas Filsafat Ilmu. http://marwalimbung.blogspot.com/2017/02/


tugas-filsafat-ilmu.html. Diakses pada tanggal 27 september 2018

Miller, Melvin D. 1985. Prinsiples and a Philosophy for Vocational Education.


National Center for Research in Vocational Education. Ohio: State University

Muslimin. 2017. Landasan Filosofi, Yuridis Dan Implementasi Pendidikan


Teknologi Kejuruan (PTK). http://musliminptk2016.blogspot.com/2017/02
/landasan-filosofi-yuridisdan.html. Diakses pada tanggal 27 September 2018

Raiarsa. 2013. Pendidikan Kejuruan di Indonesia. http://raiarsa.blogspot.co.id


/2013/01/pendidikan-kejuruan-di-indonesia.html. Diakses pada 26
September 2018

Sahabat Netizen. 2017. Makalah Landasan Filosofi, Yuridis, Dan Implementasi


PTK. http://sahabatnetizen.blogspot.com/2017/01/makalah-landasan-
filosofi-yuridis-dan.html. Diakses pada tanggal 27 September 2018

Setiawan, Edy. 2015. Filosofi Dan Perspektik Pendidikan Teknologi Kejuruan.


http://wacana.siap.web.id/2015/03/filosofi-dan-perspektik-pendidikan-
teknologi-kejuruan.html#.W665e07u6r4. Diakses pada tanggal 27
September 2018