Anda di halaman 1dari 11

KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA DENGAN PENERAPAN PMRI PADA MATERI KUBUS DAN BALOK DI SMP NEGERI 17 PALEMBANG

Puji Lestari 1 , Somakim 2 , dan Indaryanti 3

1 Program Studi Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sriwijaya Jl. Raya Palembang-Prabumulih KM.32 Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir 30662 2 Program Studi Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sriwijaya

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi kubus dan balok menggunakan penerapan pembelajaran PMRI. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan subjek penelitian siswa kelas VIII.1 SMP Negeri 17 Palembang yang berjumlah 31 orang. Proses pembelajaran berlangsung sesuai dengan karakteristik dan prinsip PMRI. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes tertulis yang terdiri dari tiga soal, wawancara dan observasi untuk memperoleh data tambahan. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa dengan penerapan PMRI di kelas VIII.1 SMP Negeri 17 Palembang adalah baik dengan rincian sebagai berikut : persentase siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah sangat baik adalah sebesar 6,45%; persentase siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah baik adalah sebesar 48,39 %; persentase siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah cukup adalah sebesar 45,16%; serta tidak ada yang memiliki kemampuan pemecahan masalah kurang dan sangat kurang. Kata kata kunci:kemampuan pemecahan masalah, kubus dan balok, PMRI

Abstract

This reaserch is aimed to obtain the description about student’ problem solving skill on cube and cuboid using PMRI learning approach. This research is qualitative research with the subject of research 31 students in SMPN 17 Palembang, grade VIII. Learning process accords to characteristic and principle based on PMRI. Techniques for collecting data are test which includes of three questions, observation and interview to obtain additional data. According to the result of research, it’s obtained problem solving skill with applying PMRI in grade VIII is high with this details :

persentage of students who have problem solving skill with category very high is 6,45%, persentage of students who have problem solving skill with category high is 48,39 %, then persentage of students who have problem solving skill with category medium is 45,16%, and there is not any student who have problem solving skill with category low and very low. Keywords : Problem solving, PMRI, cube and cuboid

diartikan sebagai suatu usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan guna mencapai suatu tujuan yang tidak begitu segera dapat dicapai. Pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dituntut kemampuan pemecahan masalah. Menurut Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi (SI) Mata Pelajaran, salah satu

1 Pendahuluan Dalam menghadapi tantangan dimasa depan, seseorang harus mampu memecahkan masalah. Membekali siswa dengan kemampuan pemecahan masalah merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran matematika. Kemampuan pemecahan masalah menurut Polya (1979),

tujuan pembelajaran matematika SMP adalah agar siswa mampu memecahkan masalah matematika yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh (Permendiknas, 2006). Standar Kompetensi Lulusan pada Kurikulum 2013, mengharapkan siswa menunjukkan sikap logis, kritis, analitis, cermat dan teliti, bertanggung jawab dan tidak mudah menyerah dalam memecahkan masalah (Permendikbud, 2013). Namun pada pembelajaran matematika konvensional, biasanya siswa pasif dalam pembelajaran di kelas. Siswa hanya duduk manis mendengarkan guru menjelaskan dan kemudian siswa diminta mengerjakan soal di depan kelas. Hal tersebut membuat lemahnya pemahaman konsep siswa tentang materi matematika khususnya dalam hal geometri, pemahaman ruang dan bentuk (Untung, 2008). Lemahnya pemahaman siswa tentang konsep bangun ruang dapat dilihat dari ketidakmampuan siswa mengenali balok dan kubus (Sunarsi, 2006). Berdasarkan penelitian Pradika (2012), siswa sulit memvisualisasikan bangun ruang sisi datar, terutama dalam memahami bentuk, unsur-unsur dan sifat bagun ruang sisi datar khususnya kubus dan balok. Hal ini dikarenakan pemahaman konsep siswa yang lemah, maka siswa juga tidak dapat memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan balok dan kubus. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan guru matematika kelas VIII SMP Negeri 17 Palembang, diperoleh informasi bahwa seringkali

siswa kesulitan menyelesaikan soal yang menuntut kemampuan pemecahan masalah. Selain itu guru juga mengaku kesulitan bagaimana membantu pemahaman konsep siswa materi kubus dan balok untuk dapat membantu mengasah kemampuan pemecahan masalah siswa. Text book yang digunakan pada proses pembelajaran juga kurang memuat soal-soal berbasis pemecahan masalah. Rendahnya kemampuan pemahaman siswa pada soal yang diberikan dapat dilihat dari hasil ulangan harian dan mid semester tentang pengerjaan soal berbentuk pemecahan masalah. Mengingat pentingnya kemampuan pemecahan masalah pada pembelajaran matematika, maka diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang menunjang kemampuan tersebut. Indonesia mengembangkan suatu pendekatan yang diadopsi dan sukses diterapkan di negara Belanda, yaitu PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia) yang digagas sekelompok pendidik matematika di Indonesia. Pendekatan PMRI merupakan pendekatan dalam pembelajaran matematika yang memandang matematika sebagai suatu aktivitas manusia. Tiga prinsip dalam PMRI yaitu : penemuan kembali secara terbimbing, proses matematisasi progresif, pengembangan model oleh siswa (Gravemeijer, 1994). Sedangkan lima karakteristik dalam PMRI yaitu : penggunaan konteks sebagai starting point pembelajaran, penggunaan model, kontribusi siswa, interaktivitas dan keterkaitan (Zulkardi, 2010). Karakter utama PMRI ini termasuk dalam KTSP matematika sekolah pada semua kelas menganjurkan pada setiap kesempatan

pembelajaran matematika agar dimulai dengan masalah yang kontekstual atau situasi yang pernah dialami siswa (Zulkardi dan Putri, 2006). Beberapa penelitian yang mendukung alasan peneliti untuk melakukan penelitian yaitu Wahyuni (2016) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan PMRI efektif meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. Menurut Muchlis (2012) kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang belajar dengan pendekatan PMRI lebih baik secara signifikan dan pembelajaran PMRI telah melatih siswa untuk menyelesaikan masalah tidak rutin. Selain itu, Pramesti (2010) menegaskan bahwa pembelajaran dengan penerapan PMRI dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi kubus dan balok. Hal tersebut menunjukkan bahwa penerapan pendekatan PMRI berpengaruh positif pada pemecahan masalah matematika karena prinsip dan karakteristik dari PMRI berfokus pada suatu masalah nyata yang harus dipecahkan. Pada penelitian ini indikator kemampuan pemecahan masalah yang digunakan ialah memahami masalah, menyusun rencana pemecahan masalah, melaksanakan strategi penyelesaian, menafsirkan solusi yang diperoleh.

2 Metode Penelitian 2.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dengan pembelajaran berbasis PMRI pada

materi kubus dan balok di SMP Negeri 17 Palembang.

2.2 Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini adalah kemampuan pemecahan masalah matematika pada

materi kubus dan balok.

2.3 Definisi Operasional Variabel

Kemampuan pemecahan masalah matematika ialah kemampuan dalam mencari solusi dari permasalahan yang berkaitan dengan matematika. Kemampuan tersebut dinilai menggunakan skor

yang diperoleh siswa melalui soal tes dan penilaiannya yang mengacu pada indikator kemampuan pemecahan masalah.

2.4 Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII.1 di SMP Negeri 17 Palembang. Kelas VIII.1 dipilih peneliti yang bertindak sebagai pengajar karena peneliti pernah melakukan kegiatan P4 di kelas tersebut selama 2 bulan, sehingga pengajar

ialah orang yang dekat dengan siswa.

2.5 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2015/2016 di kelas VIII.1 SMP Negeri 17 Palembang.

2.6 Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian ini terdiri dari 3 tahap, yaitu

tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap pelaporan. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan melalui tes tertulis, observasi dan wawancara. Soal tes evaluasi dibuat berdasarkan kisi-kisi soal dan disesuaikan dengan indikator pada kemampuan pemecahan masalah matematika yang

telah ditentukan. Rubrik penskoran dibuat untuk

menilai langkah-langkah siswa dalam menjawab

soal tes evaluasi. Soal tes yang telah dibuat

dikonsultasikan kepada dosen pembimbing,

divalidasi oleh validator dan guru mata pelajaran,

kemudian diujicobakan pada beberapa siswa.

Observasi dilakukan melihat pelaksanaan PMRI

pada proses pembelajaran. Untuk mengobservasi

aktivitas yang dilakukan guru, observer akan

memberi tanda check list pada kolom “Ya” atau

“Tidak” untuk setiap kegiatan pembelajaran yang

memunculkan karakteristik PMRI sesuai dengan

penilaian observer. Untuk mengobservasi kegiatan

siswa, observer memberi tanda check list pada

kolom dangan nama siswa disetiap kelompok.

Wawancara digunakan untuk mendukung hasil

tes kemampuan pemecahan masalah matematika

terhadap soal kubus dan balok pada pembelajaran

PMRI. Subjek dipilih berdasarkan kategori

kemampuan siswa setelah mengerjakan soal tes .

Setelah dilakukan tes untuk mengukur

kemampuan pemecahan masalah matematis siswa

didapatlah skor untuk masing-masing siswa.

Kemudian nilai siswa ditentukan berdasarkan

kategori pemecahan masalah matematis siswa.

Tabel 1. Kategori Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa

Nilai

Kategori

90-100

Sangat Baik

70-89

Baik

50-69

Cukup

41-49

Kurang

0-40

Sangat Kurang

3 Hasil dan pembahasan

Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 7

Maret 2016 hingga 16 Maret 2016 di kelas VIII

SMP Negeri 17 Palembang. Penelitian

dilaksanakan sebanyak 4 pertemuan dengan tiga

pertemuan untuk kegiatan pembelajaran dan satu

pertemuan terakhir untuk tes kemampuan

pemecahan masalah siswa.

Pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan

prinsip dan karakter pada PMRI.

Data mengenai kemampuan pemecahan

masalah matematika siswa diperoleh dari hasil tes

dengan menggunakan soal tipe pemecahan

masalah. Tes dilaksanakan pada pertemuan

keempat tanggal 16 Maret 2016, dengan jumlah

(Modifikasi Arikunto, 2011)

siswa yang hadir 31 siswa. Terdapat seorang

siswa yang tidak hadir dikarenakan sakit. Tes

dikerjakan oleh siswa secara individu dan

penskoran dilakukan berdasarkan rubrik

penskoran yang telah dibuat. Tiap soal terdiri dari

4 indikator pemecahan msalah. Skor maksimal

yang diperoleh dari tiap soal adalah 15, jadi skor

maksimal yang dapat diperoleh tiap siswa ialah

45.

Setelah peneliti melakukan penilaian pada

seluruh siswa peneliti mengkategorikan siswa

berdasarkan kategori kemampuan pemecahan

masalah matematis siswa. Setelah dipisahkan

berdasarkan kategori, barulah peneliti membuat

persentase dari tiap kategori sehingga didapatlah

kategori kemampuan pemecahan masalah siswa.

Tabel 2. Kategori Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa

Nilai

Kategori

Frekuensi

Presentase

90-100

Sangat Baik

2

6,45%

70-89

Baik

16

48,39%

50-69

Cukup

13

45,16%

 

Total

31

100%

Dari Tabel 2, dapat dilihat bahwa frekuensi

terbanyak adalah sisw dengan kategori

kemampuan pemecahan masalah “baik”.

Kemudian untuk melihat persentase kemunculan

indikator kemampuan pemecahan masalah dari

jawaban siswa terhadap soal tes dapat dilihat pada

Tabel 3 di bawah ini :

Tabel 3. Persentase Kemunculan Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah

Matematis Siswa pada Soal Tes

No.

Indikator

Persentase

1 Mengidentifikasi masalah

90,32%

2 Merencanakan penyelesaian masalah

89,96%

3 Melaksanakan penyelesaian masalah

68,54%

4 Menafsirkan solusi sesuai permasalahan awal

42,74%

Penelitian tentang kemampuan pemecahan

masalah matematis siswa menggunakan

pendekatan pembelajaran PMRI bertujuan untuk

mengetahui kemampuan pemecahan masalah

matematis siswa kelas VIII.1 di SMP Negeri 17

Palembang yang ditunjukkan melalui soal tes

yang diberikan ketika materi kubus dan balok

selesai diajarkan.

Pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan

prinsip-prinsip pada pendekatan PMRI yaitu :

Penemuan kembali terbimbing melalui

matematisasi; Fenomenologi didaktis;

Mengembangkan model-model sendiri, dan juga

karakteristik pada PMRI yaitu : Menggunakan

masalah kontekstual; Menggunakan model;

Menghargai ragam jawaban dan kontribusi siswa;

Interaktivitas; Keterkaitan dengan topik

pembelajaran lainnya.

Selama proses pembelajaran, guru

menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk

membantu jalannya proses pembelajaran. LKS

yang digunakan didesain dan disesuaikan dengan

langkah-langkah pada PMRI.

Saat proses pembelajaran, siswa diberikan

permasalahan yang kontekstual kemudian siswa

dalam kelompok bekerjasama untuk

menyelesaikan permasalahan yang diberikan.

Sejalan dengan pendapat Wulandari (2008),

dengan diberikannya permasalahan kontekstual,

siswa diarahkan untuk menemukan pengetahuan

matematika dengan memecahkan masalah. Pada

awal pembelajaran guru mengingatkan siswa

materi penunjang yang telah mereka pelajari di jenjang pendidikan sebelumnya. Setelah itu guru mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Putri (2011) yang menyatakan bahwa melalui pengetahuan sebelumnya yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, maka belajar siswa akan bermakna. Dalam setiap pembelajaran menggunakan pendekatan PMRI, guru sebagai fasilitator membagi siswa dalam beberapa kelompok. Dalam kelompok tersebut, siswa saling berdiskusi untuk menentukan penyelesaian dari permasalahan yang diberikan pada LKS. Sesuai dengan karateristik PMRI yang dijabarkan oleh Zulkardi (2005), agar siswa dapat mengkonstruksi pengetahuannya maka siswa perlu berdiskusi dan mengajukan argumentasi dalam menyelesaikan masalah. Selama proses pembelajaran, guru berkeliling kelas memberikan bimbingan kepada kelompok/siswa yang mengalami kesulitan. Hal ini sejalan dengan prinsip pada PMRI yaitu penemuan kembali terbimbing. Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok kecil, maka guru memilih satu kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok kecil kedalam diskusi kelas. Sejalan dengan langkah- langkah pembelajaran matematika dengan PMRI yang dijelaskan oleh Soejadi (2007). Setelah itu guru menawarkan setiap kelompok untuk mengemukakan tanggapan tentang hasil pemikiran yang disajikan temannya di depan kelas. Terdapat beberapa jawaban yang berbeda, namun guru menghargai ragam jawaban siswa

tersbut sebelum mengambil kesepakatan kelas tentang penyelesaian yang paling tepat. Hal ini sesuai dengan pemaparan karakteristik PMRI oleh Zulkardi (2005) yaitu dalam pembelajaran siswalah yang aktif mengkonstruksi sendiri pengetahuannya karena karena kontribusi siswa yang diharapkan pada proses belajar dan mengajar. Siswa yang mendapatkan nilai sangat baik merupakan siswa yang terlibat aktif dalam proses pembelajaran dengan penerapan PMRI. Salah satu siswa dengan kategori sangat baik, berinisial IF telah mampu untuk memahami masalah, menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan penyelesaian sesuai rencana dan menarik kesimpulan sesuai permasalahan awal dengan tepat. Salah satu siswa dengan kategori kemampuan kurang yaitu FH merupakan siswa yang tidak terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Ketika menyelesaikan permasalahan pada LKS, siswa FH kesulitan untuk mengerjakannya. Selain itu, rata-rata siswa dapat menuliskan dengan tepat informasi yang diketahui dan ditanyakan soal sesuai pada indikator memahami permasalahan. Hal tersebut karena siswa dapat memahami permasalahan pada soal yang diberikan. Hal ini sejalan dengan hasil pada LKS, hampir seluruh siswa mampu menuliskan langkah memahami masalah. Kemunculan indikator merencanakan penyelesaian masalah lebih rendah dibandingkan indikator memahami masalah. Kemampuan siswa dalam merencanakan penyelesaian masalah

terlihat dari rumus/pola apa yang hendak siswa tuliskan setelah siswa memahami soal. Persentase ini terbilang baik karena sebagian besar siswa dapat menuliskan dengan tepat rumus/pola yang akan digunakan untuk menyelesaikan permasalahan pada soal. Ketika kegiatan pembelajaran, siswa mengerjakan dengan tepat langkah merencanakan penyelesaian dengan menuliskan rumus yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan pada LKS, sehingga siswa dapat mengaplikasikan langkah tersebut ketika mengerjakan soal tes. Kemunculan indikator melaksanakan penyelesaian masalah ternyata lebih rendah dibandingkan indikator sebelumnya. Pada indikator ini siswa sangat dituntut untuk teliti dalam melaksanakan penyelesaian sesuai apa yang telah mereka rencanakan sebelumnya. Kesalahan dalam perhitungan menjadi penyebab masih rendahnya indikator ini. Masih ada beberapa siswa yang kurang tepat dalam menyelesaikan permasalahan dikarenakan siswa kurang tepat memahami masalah dan kurang tepat dalam menentukan rumus/pola yang hendak digunakan dalam menyelesaikan masalah. Pada indikator menafsirkan solusi sesuai permasalahan awal merupakan perolehan terendah dari keempat indikator. Kebanyakan siswa setelah selesai menuliskan penyelesaian, mereka tidak menafsirkan penyelesaian sesuai permasalahan awal. Sehingga solusi yang siswa dapatkan tidak menjawab permasalahan pada soal. Selama proses pembelajaran berlangsung, langkah menafsirkan solusi dengan cara menuliskan kesimpulan pada

Lembar Kerja telah diajarkan oleh guru. Namun bagi beberapa siswa langkah tersebut masih asing sehingga siswa merasa jawaban yang ia berikan hanya sebatas angka, tidak kembali pada permasalahan awal soal. Dari hasil wawancara dengan ketiga siswa subjek wawancara, pembelajaran yang telah dilaksanakan pada pertemuan pertama hingga ketiga telah membantu mereka dalam menyelesaikan soal. Mereka dapat menggunakan langkah-langkah pada saat pembelajaran ketika menjawab soal tes. Hal ini juga sejalan dengan pendapat Ibrahim dan Nur (2011). Namun masih terdapat 41,93% siswa dengan kemampuan cukup dalam memecahkan masalah matematis, yaitu dengan rentang nilai 50-69. Peneliti melihat beberapa kendala dalam proses pembelajaran yang mengakibatkan kurang maksimalnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, antara lain sebagai berikut :

Konteks yang terdapat pada LKS I merupakan konteks kamuflase dan tidak terdapat kalimat yang mengaitkan antara permasalahan dengan gambar. Hal tersebut mengakibatkan beberapa kelompok siswa yang masih kesulitan memahami persoalan pada LKS I. Hal tersebut berdampak pada beberapa siswa yang tidak dapat memahami permasalahan pada soal tes kemampuan pemecahan masalah. Siswa mengalami kesulitan memahami soal bentuk soal cerita sehingga melakukan kesalahan dalam memvisualkan bangun datar ke dalam bentuk sketsa/model. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pradika dan

Tristanti (2014). Kesulitan tersebut terjadi karena ketika proses pembelajaran terdapat beberapa siswa yang bergantung pada teman sekelompok dalam menyelesaikan permasalahan pada LKS. Hal tersebut berakibat ketika menyelesaikan soal tes, siswa tersebut kesulitan mengerjakan secara individual. Kesalahan dalam menghitung/mengkalkulasi angka. Ketelitian merupakan salah satu faktor penting dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Terdapat beberapa siswa yang telah dapat memahami soal dengan baik, memvisualisasikan bangun ruang dengan tepat namun melakukan kesalahan dalam proses pengitungan. Hal tersebut mengakibatkan berkurangnya skor yang diperoleh. Langkah-langkah yang terdapat pada LKS masih asing bagi siswa. Langkah-langkah pengerjaan pada LKS tersebut disesuaikan dengan pembelajaran menggunakan pendekatan PMRI dan juga langkah-langkah penyelesaian soal pemecahan masalah. Terdapat kelompok yang mengalami kesulitan dalam penarikan kesimpulan sehingga kurang tepat dalam mengintepretasi penyelesaian. Metode yang digunakan selama pembelajaran dengan pendekatan PMRI ialah metode belajar secara berkelompok. Meski sangat efektif untuk menumbuhkan interaktivitas antar siswa dan antara siswa dengan guru, namun terdapat pula kekurangannya. Kekurangan menggunakan metode tersebut ialah terdapat beberapa siswa dalam kelompok yang bergantung terhadap jawaban teman lainnya. Disamping itu dalam

mengkoordinasikan kelas waktu yang diperlukan dengan cara berkelompok lebih banyak dibandingkan metode konvensional. Hal tersebut menyebabkan siswa tidak sempat mengerjakan latihan individual dam menjadikan latihan tersebut sebagai pekerjaan rumah. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian oleh Larasati

(2005).

Berdasarkan hasil dari wawancara dengan siswa berkemampuan “cukup” pada kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, jarangnya diberikan soal latihan atau siswa itu sendiri jarang mengerjakan soal pemecahan masalah menjadi salah satu faktor rendahnya kemampuan pemecahan masalah yang dimiliki siswa tersebut. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Nuroniah (2013) bahwa ketrampilan yang rendah dalam menyelesaikan masalah matematika akan mengakibatkan kesalahan dalam pengerjaan soal pemecahan masalah matematis.

4 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian di kelas VIII.1 SMP Negeri 17 Palembang, diperoleh hasil bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada pembelajaran matematika PMRI adalah terkategori baik, sehingga langkah-langkah pembelajaran menggunakan PMRI dapat diaplikasikan ketika mengerjakan soal pemecahan masalah. Persentase yang diperoleh dari hasil tes adalah sebagai berikut : persentase siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah matematis dengan kategori sangat baik sebanyak 6,45%, persentase siswa yang memiliki

kemampuan pemecahan masalah matematis dengan kategori baik 48,39%, persentase siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah matematis dengan kategori cukup 45,16%, serta tidak terdapat siswa kategori kemampuan pemecahan masalah matematis kurang serta sangat kurang. Dari hasil penelitian yang diperoleh, maka peneliti menyarankan:

1. Bagi siswa, agar dapat lebih mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematis dengan cara sering berlatih mengerjakan soal kemampuan pemecahan masalah.

2. Bagi guru, agar dapat lebih mengkoordinasi kelas pada saat penerapan PMRI agar waktu pada proses pembelajaran lebih efisien. Membiasakan siswa untuk menyelesaikan soal pemecahan masalah supaya meningkatkan ketrampilan siswa dalam menyelesaikan masalah.

3. Bagi peneliti lain, agar dapat memilih konteks yang lebih real bagi siswa pada LKS berbasis PMRI dalam proses pembelajaran.

Ucapan terima kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Somakim, M.Pd. dan Dra. Indaryanti, M.Pd. sebagai pembimbing dalam penelitian ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Prof. Sofendi, M.A., Ph.D., Dekan FKIP Unsri, Dr. Ismet, S.Pd., M.Si., Ketua Jurusan Pendidikan MIPA, Dra. Cecil Hiltrimartin, M.Si., Ketua Program Studi

Pendidikan Matematika yang telah memberikan kemudahan dalam pengurusan administrasi selama penelitian ini. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Prof.Dr.Ratu Ilma Indra Putri, M.Si, Dr. Cecil Hiltrimartin, M.Si dan Dr. Budi Santoso, M.Si, sebagai anggota penguji yang telah memberikan sejumlah saran untuk perbaikan penelitian ini. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada seluruh dosen Program Studi Pendidikan Matematika yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan bimbingan selama perkuliahan.

Daftar Pustaka

1. Ibrahim, M, & Nur, M. (2011). Pengajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya: Unesa University Press.

2. Larasati, R. (2005). Analisis Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Dan Pengaruhnya TerhadapUpaya Peningkatan Hasil Belajar Akuntansi Dalam Pokok Bahasan Pencatatan Transaksi Perusahaan Dagang Mata Pelajaran Akuntansi pada Siswa Kelas IISemester I SMU Negeri 7 Purworejo. Skripsi. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

3. Muchlis, E. E. (2013). Pengaruh Pendekatan Pendidikan Matematika Indonesia (PMRI) Terhadap Perkembangan Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Kelas II SD Kartika 1.10 Padang. Jurnal Exacta. 10(2):

136-139.

4. Nuroniah, M. (2013). Analisis Kesalahan Dalam Menyelesaikan Soal Pemecahan Masalah Dengan Taksonomi Solo. Jurnal Pendidikan Matematika UNS. 2(2).

5. Permendikbud. (2013). Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta:Permendikbud.

6. Permendiknias. (2006). Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta:Permendiknas.

7. Polya, G. (1979). How To Solve It: A New Aspect of Mathematical Method. New Jersey:

Princeton University Press.

8. Pradika, L. E & Murwaningtyas, E. (2012). Analisis Kesalahan Siswa Kelas VIII I Smp N 1 Karanganyar Dalam Mengerjakan Soal pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Datar Serta Upaya Remidiasinya Dengan Media Bantu Program CABRI 3D. Prosiding Seminar Nasional Matematika Pendidkan Matematika, 10 November 2012: 538-546.

9. Pramesti, S. L. D. (2013). Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia Dengan Asesmen Bernuansa PISA Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa SMP. Seminar Nasional Evaluasi Pendidikan.

10. Putri, R. I. I. (2011). Improving Mathematics Comunication Ability of Students in Grade 2 Thriugh PMRI Approach. Prosiding, International Seminar and the Fourth National Conference on Mathematics Education, Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta.

11. Soedjadi, R. (2007). Inti Dasar Dasar Pendidikan Matematika Realistik Indonesia. Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 1 nomor 2. 12. Sunarsih, A. (2009). Analisis Kesalahan dalam Menyelesaikan Soal pada Materi Luas Permukaan serta Volume Prisma dan Limas pada Siswa Kelas VIII Semester Genap SMP Negeri 2 Karanganyar. Skripsi. Surakarta:

Universitas Sebelas Maret. 13. Tristanti, F. (2014). Analisis Kesalahan dalam Menyelesaikan Soal Cerita Menurut Polya Pokok Bahasan Volume Kubus dan Balok pada Siswa Kelas V SDN 2 Blambang Banyuwangi Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2013/2014. Skripsi. Jember: FKIP Universitas Jember. 14. Untung, T.S. (2008). Permasalahan Geometri Ruang dan Alternatif Pemecahannya. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematik:

Yogyakarta. 15. Wahyuni, R. (2016). Upaya Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa dengan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia. Jurnal Pendidikan Matematika STKIP Garut. 8(1): 41-48. 16. Wardhani, S. (2008). Pembelajaran Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika di SMP. Yogyakarta: PPPPTK. 17. Zulkardi. (2005). How To Design Mathematics Lesson Based On The Realistic Approach.

Tersedia:http//www.geocities.com/ratuilma/r me.html. [15 oktober 2015 [online].

18. Zulkardi dan Putri, R. I.

(2010).

Pengembangan Blog Support untuk Membantu Siswa dan Guru Matematika Indonesia Belajar Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Diakses dari

di

Diakses pada 16 Maret 2016. 19. Zulkardi dan Putri, R. I. I. (2006). Mendesain Sendiri Soal Kontekstual Matematika. Prosiding in Konferensi Nasional Matematika ke 13 (pp. 1-7). Semarang:

Indonesia.