Anda di halaman 1dari 12

INDUKSI MATURASI OOSIT PADA IKAN NILEM (Osteochillus

vittatus)

Oleh :
Nama : Finna Fernanda Hapsari
NIM : B1A015122
Kelompok :4
Rombongan :I

LAPORAN PRAKTIKUM ENDOKRINOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULUAN

1.1 Tujuan

Tujuan praktikum induksi maturasi oosit ikan pada ikan nilem adalah
mengevaluasi pengaruh GnRH analog terhadap maturasi oosit ikan nilem.

1.2 Manfaat

Manfaat praktikum induksi maturasi oosit ikan pada ikan nilem adalah:
1. Mengetahui teknik induksi maturasi oosit menggunakan GnRH analog terhadap
ikan nilem.
2. Mengetahui lama waktu induksi GnRH analog yang optimal untuk maturasi oosit
ikan nilem.
II. MATERI DAN PROSEDUR KERJA

2.1 Materi

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah ikan nilem betina
matang kelamin, GnRH analog, dan larutan penjernih.
Alat yang digunakan adalah akuarium beserta aerasinya, mikroskop, kanula,
pipet transfer, botol sampel, cavity slide, dan tissue.

2.2 Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan dalam praktikum ini adalah:


a. Ikan diangkat dari akuarium dan ditimbang. GnRH analog disuntikkan dengan
dosis 0,5 ml/kg kemudian ikan dimasukkan kembali ke dalam akuarium.
b. Oosit ikan diambil dengan menggunakan kanula (feeding tube ukuran FR8 yang
disambungkan dengan spuit) pada jam ke 2, 4, 8, dan 10. Ujung kanula
dimasukkan ± 3 cm ke dalam lubang genital ikan. Pemantik spuit ditarik secara
perlahan hingga tampak oosit masuk ke dalam kanula. Selang kanula dilipat dan
dilepaskan dengan hati-hati agar oosit tidak tersedot ke dalam spuit.
c. Oosit dimasukkan ke dalam botol sampel yang berisi larutan penjernih sebanyak 1
ml dan dibiarkan selama 1 – 2 menit.
d. Oosit diambil menggunakan pipet transfer, diletakkan di atas cavity slide dan
diamati di bawah mikroskop untuk evaluasi posisi inti oosit.
e. Evaluasi posisi inti oosit dilakukan dengan cara oosit direndam dalam larutan
penjernih (Rotmann et al., 1991: dengan komposisi 6 bagian alkohol, 3 bagian
formalin, dan 1 bagian asam asetat glasial) selama 1-2 menit kemudian diamati di
bawah mikroskop.
f. Posisi inti oosit diamati dan dihitung berapa proporsi oosit dengan inti di tengah
(C = center), migrasi (M = migratory), di tepi (P = perifery), dan tanpa inti
(GVBD = germinal vesicle break down).
g. Hasil pengamatan didokumentasikan dan dicatat.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Tabel 3.1.1 Hasil Observasi dan Perhitungan Kelompok 4 Rombongan I


Perlakuan C (%) M (%) P (%) GVBD (%)
2/3 20 30 50 0
K/3 10 90 0 0
Keterangan:
C : center
M : migratory
P : perifery
GVBD : germinal vesicle break down

Tabel 3.1.2 Hasil Observasi dan Perhitungan Rombongan I dan II


Romb. Kelompok Perlakuan C (%) M (%) P (%) GVBD (%)
K/1 40 60 0 0
1 2/1 20 80 0 0
8/1 0 0 10 90
K/2 60 40 0 0
2
I 8/2 0 0 30 70
2/2 20 50 30 0
3
8/3 0 10 40 50
2/3 20 30 50 0
4
K/3 10 90 0 0
K/1 27 63 0 10
1 4/1 30 20 30 20
10/1 0 0 0 100
K/2 10 60 10 20
II 2 4/2 0 60 10 30
10/2 0 0 0 100
K/2 0 10 20 70
3 4/3 10 0 0 90
10/3 0 0 10 90
Keterangan perlakuan:
Huruf atau angka pertama : K, kontrol; 2, 2 jam; 4, 4 jam; 8, 8 jam; 10, 10 jam
Angka kedua (ulangan) : 1, sirip ekor tidak dipotong; 2, sirip ekor atas
dipotong; 3, sirip ekor bawah dipotong
Tabel 3.1.3 Hasil Observasi dan Perhitungan Keseluruhan
Total Fase oosit U1 (%) U2 (%) U3 (%) ∑ (%)
Kontrol C 40 60 10 110/3=36,67
jam 13.00 M 60 40 90 190/3=63,3
P 0 0 0 0
G 0 0 0 0
Kontrol C 27 10 0 37/3=12,3
jam 15.00 M 63 60 10 133/3=44,3
P 0 10 20 30/3=10
G 10 20 70 100/3=33,3
2 jam C 20 20 20 60/3=20
M 80 50 30 160/3=53,3
P 0 30 50 80/3=26,67
G 0 0 0 0
4 jam C 30 0 10 40/3=13,3
M 20 60 0 80/3=26,7
P 30 10 0 40/3=13,3
G 20 30 90 140/3=46,7
8 jam C 0 0 0 0
M 0 0 10 10/3=3,3
P 10 30 40 80/3=26,67
G 90 70 50 210/3=70
10 jam C 0 0 0 0
M 0 0 0 0
P 0 0 10 10/3=3,3
G 100 100 90 290/3=46,7

Gambar 3.1 Oosit dengan perlakuan kontrol dan ulangan ke-3


Gambar 3.2 Oosit dengan perlakuan 2 jam dan ulangan ke-3
3.2 Pembahasan

Menurut Woynarovich dan Horvath (1980), perkembangan telur pada ikan


secara umum dibagi atas beberapa tahap, yaitu:
1. Oogonia
Sel-sel telur primitif (ovagonium atau oogonia) ukurannya sangat kecil,
diameternya 8-12 µm, nukleus 6-8 µm. Sel-sel ini akan membelah secara mitosis
menjadi berlipat ganda jumlahnya.
2. Oosit primer
Pelepasan hormon gonadotropin teradi pada tahap ini, yang dicirikan dengan
bertambahnya ukuran nukleus dan jumlah nukleolus. Sel-sel telur tumbuh
menjadi ukuran 12-20 µm, nukleus berukuran 12-17 µm, dan folikel mulai
terbentuk melingkari sel telur sebanyak satu lapis. Sel telur yang telah dilengkapi
dengan folikel ini disebut juga dengan oosit primer. Proses yang terjadi pada
tahap ini antara lain duplikasi kromosom menjadi 4n di dalam nukleus, meiosis I
oosit sekunder menjadi 2n dalam nukleus, dan pembentukan polar body I dalam
sitoplasma.
3. Oosit sekunder
Sel telur berkembang membesar mencapai ukuran 40-200 µm dan tertutup oleh
folikel. Awal dari tahap ini ditandai dengan periode akumulasi nutrisi dalam
telur yang sedang berkembang yaitu dengan terbentuknya vesikel. Selanjutnya,
vesikel kuning telur ini akan membentuk kortikal alveoli yang berisi butir-butir
korteks. Lapisan folikel sudah dua lapis, jumlah nukleolus dalam nukleus mulai
bertambah. Vakuola dan partikel kuning telur belum ada.
4. Vitellogenesis I
Produksi dan akumulasi kuning telur dimulai pada tahap ini. Proses ini disebut
vitellogenesis. Selanjutnya, telur berkembang sampai mencapai ukuran 200-350
µm, nukleus 80-150 µm. Partikel kuning telur yang mengandung lipoprotein
mulai terbentuk dalam sitoplasma, jumlah vakuola juga bertambah.
5. Vitellogenesis II
Tahap ini merupakan phase vitellogenesis kedua. Pertikel kuning telur berpindah
ke pinggiran dan menyebar diantara vakuola. Telur mencapai ukuran 350-500 µm
dan nukleus 150-180 µm.
6. Vitellogenesis III
Selama tahap ini lempengan kuning telur mendorong lipoid drop ke arah
pinggiran sel dimana dua lingkaran mulai terbentuk. Vakuola berjejer di
pinggiran sel telur. Vakuola dan partikel kuning telur menempati seluruh
sitoplasma. Nukleus masih berada di tengah-tengah sel telur. Nukleolus berada
dipinggiran. Ukuran sel telur 600-900 µm, dan nukleus 150-180 µm.
7. Ovum
Tahap ini merupakan akhir dari proses vitellogenesis dan telur mencapai ukuran
900-1000 µm, nukleus mencapai ukuran 200 µm. Nukleolus berpindah menjauhi
membran nukleus ke pusat nukleus. Pada tahap ini nukleus bergerak menuju
mikropil dan mukropil mulai terbentuk dan berkembang. Membran nukleolus
tidak nampak lagi dan terjadi pembelahan miosis kedua yang membentuk polar
bodi ke II.
Berdasarkan praktikum, kelompok kami mendapatkan perlakuan kontrol dan
2 jam. Pada perlakuan kontrol kelompok kami, 90 % oosit pada fase migratory dan
10 % oosit pada fase center. Sedangkan, hasil rombongan dengan perlakuan yang
sama, yaitu 20 % oosit fase center, 53,3 % oosit fase migratory, dan 26,67 % oosit
fase perifery. Jika dibandingkan, keduanya sama-sama memiliki presentase oosit
terbanyak pada fase migratory.
Lama waktu induksi yang digunakan adalah 2, 4, 8, dan 10 jam. Hal tersebut
dilakukan untuk membandingkan waktu optimal yang dapat mempengaruhi induksi
GnRH analog terhadap maturasi oosit. Terbukti terdapat perbedaan tingkat maturasi
oosit berdasarkan waktu induksi yang berbeda. Menurut pernyataan Grave et al.
(2005), kematangan oosit pada ikan setidaknya akan membutuhkan waktu selama 8-
10 jam. Oosit yang baik dan siap untuk dibuahi akan mengalami migrasi pada
intinya, semakin lama waktu pengamatan maka inti dari oosit tersebut akan semakin
menjauhi bagian tengah oosit dan menuju bagian tepi oosit sehingga nantinya inti
tersebut tidak akan terlihat lagi. Presentase letak inti center akan semakin berkurang
dan diikuti dengan pertambahan presentase inti perifer, kemudian inti oosit akan
melebur.
Berdasarkan praktikum, hasil perlakuan kontrol jam 13.00, yaitu 36,67 %
oosit pada fase center dan 63,3 % oosit pada fase migratory. Sedangkan, hasil
perlakuan kontrol jam 15.00 adalah 12,3 % oosit pada fase center, 44,3 % oosit pada
fase migratory, 10 % oosit pada fase perifery, dan 33,3 % oosit pada fase germinal
vesicle break down. Jika dibandingkan, keduanya sama-sama memiliki presentase
oosit terbanyak pada fase migratory.
Berdasarkan praktikum, hasil perlakuan 2 jam, yaitu 20 % oosit pada fase
center, 53,3 % oosit pada fase migratory, dan 26,7 % oosit pada fase perifery.
Sedangkan, hasil perlakuan 4 jam adalah 13,3 % oosit pada fase center, 26,7 % oosit
pada fase migratory, 13,3 % oosit pada fase perifery, dan 46,7 % oosit pada fase
germinal vesicle break down. Jika dibandingkan, keduanya sama-sama memiliki
presentase oosit terbanyak pada fase migratory.
Berdasarkan praktikum, hasil perlakuan 8 jam, yaitu 3,3 % oosit pada fase
migratory, 26,7 % oosit pada fase perifery, dan 70 % oosit pada fase germinal vesicle
break down. Sedangkan, hasil perlakuan 10 jam adalah 3,3 % oosit pada fase perifery
dan 46,7 % oosit pada fase germinal vesicle break down. Jika dibandingkan,
keduanya sama-sama memiliki presentase oosit terbanyak pada fase germinal vesicle
break down. Hasil yang diperoleh tersebut sesuai dengan pernyataan Grave et al.
(2005), yang menyatakan bahwa kematangan oosit pada ikan setidaknya akan
membutuhkan waktu selama 8-10 jam. Oosit yang baik dan siap untuk dibuahi akan
mengalami migrasi pada intinya, semakin lama waktu pengamatan maka inti dari
oosit tersebut akan semakin menjauhi bagian tengah oosit dan menuju bagian tepi
oosit sehingga nantinya inti tersebut tidak akan terlihat lagi. Presentase letak inti
center akan semakin berkurang dan diikuti dengan pertambahan presentase inti
perifer, kemudian inti oosit akan melebur.
Perbedaan ukuran pertama kali ikan matang gonad dipengaruhi oleh dua
faktor, yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam meliputi perbedaan spesies,
umur dan ukuran, serta fungsi fisiologis individu; sedangkan faktor luar antara lain
suhu, arus, dan adanya individu yang berjenis kelamin berbeda di tempat berpijah
yang sama (Novitriana et al., 2004). Faktor internal dalam induk yang juga sangat
mempengaruhi perkembangan gonad adalah hormon. Salah satu hormon yang
berperan penting dalam perkembangan gonad ikan adalah estradiol. Pada hewan
ovipar termasuk ikan, estradiol mengontrol proses vitellogenesis pada hepar (Santo et
al., 2014).
Praktikum ini menggunakan GnRH analog (ovaprim). Menurut I’tishom
(2008), dosis 0.5 ml/kg/bb dan 0.6 ml/kg/bb merupakan dosis yang optimal untuk
merangsang terjadinya germinal vesicle break down pada ikan nilem (Osteochilus
vittatus). Semakin tinggi jumlah ovaprim yang diberikan menyebabkan makin
singkat waktu tercapainya germinal vesicle break down. Hal ini disebabkan semakin
tinggi dosis ovaprim yang diberikan maka gonadotropin yang dilepaskan oleh
kelenjar pituitari juga semakin meningkat. Meningkatnya gonadotropin ini akan
merangsang proses preovulasi dan ovulasi ikan mas. Menurut Sukendi et al. (2016),
GnRH analog dalam hal ini ovaprim akan merangsang hipofisis untuk melepaskan
gonadotropin, yang pada kondisi alami sekresi gonadotropin dihambat oleh dopamin,
sehingga ketika antagonis dopamin dicegah dengan peran dopamin akan dihentikan
dan peningkatan sekresi gonadotropin. Gonadotropin yang dihasilkan akan menuju
ke gonad dan akan mempercepat pematangan oosit dan kemudian ovulasi akan
terjadi. Menurut Redding dan Patino (1993), aktivitas biologis ovaprim menyerupai
GnRH yang dihasilkan oleh hipotalamus. Akibat aksi hormon gonadotropin,
germinal vesicle yang mulanya berada di tengah kemudian menuju ke tepi dekat
mikrofil dan saat sebelum ovulasi terjadi, inti melebur tetapi materi genetiknya tidak
berubah. Menurut de Valming (1983), germinal vesicle break down biasanya terjadi
karena adanya rangsangan steroid.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa


pematangan oosit ikan dapat dipengaruhi oleh GnRH analog (ovaprim) yang
diinduksikan, semakin lama waktu induksi maka pematangan oosit akan semakin
cepat, ditandai dengan adanya oosit germinal vesicle break down yang menandakan
oosit siap untuk difertilisasi.

4.2 Saran

Saran untuk praktikum ini adalah tidak ada.


DAFTAR REFERENSI

de Vlaming, V., 1983. Oocyte Development Patterns and Hormonal Involvements


Among Teleosts. In : Rankin, J. C., Pitcher, T. J. and Duggan, R. T. (eds).
1983. Controle Process in Fish Physiology. Australia: Croom Helm.
Australia.

Grave, T. & Madison, V. G., 1993. Selection of Immature Oocyte for Development
Potention In Vitro. Animal Reproduction Science, Volume 27, pp. 1-9.

I’tishom, R., 2008. Pengaruh sGnRHa + Domperidon dengan Dosis Pemberian yang
Berbeda terhadap Ovulasi Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) Strain Punten.
Jurnal Ilmiah Perikanan, 3(1), pp. 9-16.

Novitriana, R., Ernawati, Y. & Rahardjo, M. F., 2004. Aspek Pemijahan Ikan Petek
Leiognathus equulus, Forsskal 1775 (Fam. Leiognathidae) di Pesisir
Mayangan Subang, Jawa Barat. Jurnal Iktiologi Indonesia, 4(1), pp. 7-13.

Redding, J. M. & Patino, R., 1993. Reproductive physiology, in, The Physiology of
Fishes. Boca Raton: CRC Press

Santo, A. P., Susilo, U. & Wijayanti, G. E., 2014. Perkembangan Oosit Induk
Osteochilus hasselti C.V. yang diberi Hormon Estradiol-17β dan Pakan
dengan Kadar Protein Berbeda. Scripta Biologica, 1(2), pp. 33-42.

Sukendi, Thamrin & Putra, R. M., 2016. The Improvement of Ovulation Stimulation
and Egg Quality of Pawas Fish (Osteochillus hasselti CV) for Artificial
Spawning Requirements in Seed Production. International Journal of Applied
Environmental Sciences, 11(5), pp. 1173-1181.

Woynarovich, E., Horvath, L., 1980. The Artificial Propagation of Warm Water
Finfish. FAO Fisheries Technical Paper No. 201. FIR/T 201.