Anda di halaman 1dari 15

Kasus Pembelajaran IPA SD

Pak Sartono mengajar di kelas 6 SD Setiabakti. Suatu pagi, Pak Sartono masuk kelas dengan
membawa sebuah globe. Perhatian anak-anak tertuju kepada globe tersebut, namun Pak
Sartono hanya meletakkan globe itu di depan kelas.

Setelah mengucapkan salam dan menanyakan siapa yang tidak hadir, Pak Sartono
menyampaikan bahwa hari ini, dalam pelajaran IPA akan dibahas tata surya dengan topik
terjadinya siang dan malam. Pak Sartono juga menyampaikan bahwa setelah pelajaran usai,
anak-anak diharapkan dapat menjelaskan tentang terjadinya siang dan malam. Tanpa
memberi kesempatan bertanya, Pak Sartono melanjutkan pertanyaan.
Sambil berdiri di depan kelas, Pak Sartono menjelaskan terjadinya siang dan malam. Anak-
anak melihat ke Pak Sartono dengan muka penuh tanda tanya. Dengan lancar Pak Sartono
menjelaskan bahwa siang dan matam teoadi karena bumi berputar pada porosnya sendiri.
Anak-anak kelihatan mulai bosan, mereka seperti masih menunggu Pak Sartono
menggunakan globe yang dipajang di depan kelas, namun sampai penjelasan berakhir,
globe itu tidak pemah disentuh.
Setelah penjelasan selesai, Pak Sartono memberi kesempatan kepada anak-anak untuk
bertanya. Namun, tidak ada yang bertanya. Pak Sartono kemudian meminta anak-anak
mengeluarkan buku latihan, dan mcngerjakan soal yang terdiri dari 10 pertanyaan yang
ditulis di papan tulis.
Ketika anak-anak bekerja, Pak Sartono keluar kelas. Anak-anak kelihatan bingung karena
tidak mengerti bagaimana harus menjawab soal tersebut. Mereka akhimya membuka buku
IPA dan mencoba mencari jawabannya di sana. Namun, banyak anak yang malas membaca
sehingga mereka sama sekali tidak menjawab. Ketika Pak Sartono masuk kelas dan
bertanya apakah anak-anak sudah selesai mengerjakan soal tersebut, ia menjadi marah
karena temyata hanya 5 orang dari 30 orang anak yang selesai mengerjakan soal tersebut.
Anak yang lima orang tersebut hanya menyalin dari buku IPA, tanpa meyakini apakah
jawabannya benar atau salah, sedangkan anak-anak yang lain mengatakan tidak bisa
menjawab pertanyaan tersebut karena tidak mengerti. Pak Sartono terdiam, ia sangat
marah dan kecewa, tetapi mencoba menahan amarahnya. Ia meminta anak-anak
beristirahat. Pak Sartono tinggal sendiri di dalam kelas. Ia mencoba mengingat apa yang
terjadi di kelasnya.

Pertanyaan :
1. ldentifikasi empat peristiwa penting yang terjadi dalam kasus pembelajaran yang dikelola
oleh Pak Sartono, yang dapat mengakibatkan timbulnya masalah.
2. Jika Anda yang menjadi Pak Sartono, bagaimana cara Anda mengatasi masalah gagalnya
anak-anak menjawab pertanyaan Pak Sartono? Susunlah satu rencana perbaikan melalui
penelitian tindakan kelas (PTK). Rencana tersebut mencakup :
a. Identikasi masalah
b. Analisis Masalah (maksimal 4 butir).
c. Rumusan Masalah
d. Tujuan Perbaikan.
e. Langkah-langkah perbaikan
f. Untuk langkah-langkah perbaikan, kembangkan prosedur pembelajaran yang ditempuh
yang meliputi kegialan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

Rambu Jawaban
1. Peristiwa penting yang dapat mengakibatkan timbulnya masalah.
1) Pada awal pelajaran tidak ada tanya jawab tentang topik yang akan dibahas.
2) Topik yang akan dibahas tidak dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
3) Tidak menggunakan alat peraga misalnya globe, ketika menjelaskan hanya dipajang saja.
4) Tldak memberi contoh atau ilustrasi.
5) Tidak memeriksa pemahaman siswa setelah menjelaskan.
6) Tidak memberikan petunjuk yang jelas ketika siswa diberi latihan
7) Tldak melakukan pengelolaan kelas mlsalnya melakukan supervisi saat siswa mengerjakan
latihan
2. Rencana Perbalkan
ldentifikasi Masalah :
a. Pembelajaran Pak Sartono kurang berhasil
b. Hanya 5 dari 30 anak yang selesai mengeriakan soal, sisanya mengatakan tidak dapat
menjawab soal tersebut.

Analisis Masalah
a. Guru tidak menggunakan alat peraga
b. Penjelasan terlampau abstrak
c. Tidak ada tanya jawab, baik pada kegiatan awal, maupun kegiatan inti
d. Siswa hanya menjadi pendengar pasif
e. Topik tidak dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari
f. Tidak memeriksa pemahaman siswa
g. Tldak memberikan petunjuk sebelum siswa berlatih
h. Tidak memantau kegiatan yang dilakukan siswa ketika berlatih

Rumusan Maralah
Bagaimana cara meningkatkan pemahaman siswa terhadap topik tata surya datam hal ini
terjadinya siang dan matam melalui :
a. Penggunaan alat peraga, atau
b. Diskusi kelompok, atau
c. Metode demonstrasi, atau
d. Eksperimen

Tujuan Perbaikan
Meningkalkan kinerja guru sehingga meningkatkan pemahaman siswa terhadap topik tata
surya melalui :
a. Penggunaan alat peraga, atau
b. Diskusi kelompok, atau
c. Metode demonstrasi, atau
d. Eksperimen

Langkah Kegiatan Perbaikan


Kegiatan Awal :
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran
b. Menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan
c. Apersepsi : mengajukan pertanyaan, mengaitkan materi dengan pelajaran sebelumnya
atau pengalaman siswa sehari-hari
d. Memberikan pre-test
Kegiatan Inti :
a. Dengan bantuan anak, guru mendemonstrasikan terjadinya siang dan malam dengan
menggunakan globe dan lampu senter.
b. Selama peragaan, guru melakukan tanya jawab (untuk mengonkretkan terjadinya siang
dan malam, serta mengaktifkan anak)
Atau
a. Guru membagi siswa dalam kelompok dan menjelaskan yang harus dilaksanakan.
b. Secara berkelompok, anak-anak memperagakan terjadinya siang dan malam dengan
menggunakan bola dan lampu senter yang dibawa oleh masing-masing kelompok (untuk
memantapkan pemahaman siswa, atau melatih kerja sama.
c. Setiap kelompok memberi laporan tentang hasil kerja kelompoknya (untuk berbagi
pengalaman dengan kelompok lain)
Kegiatan Penutup :
a. Memberikan tes tertulis dan membahas hasil tes dan memberikan balikan, atau
b. Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan materi yang telah dibahas, atau
c. Siswa dengan bimbingan guru membuat rangkuman materi yang telah dibahas.

Soal:
Ibu Pratiwi mengajar di kelas 1 SD. Suatu hari, Ibu Pratiwi membacakan sebuah cerita.
Anak-anak mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Setelah selesai membacakan cerita
tersebut, Bu Pratiwi bertanya kepada anak-anak.

Bu Pratiwi: “Siapa nama anak yang pintar dalam cerita tadi?”


Anak-anak menjawab serentak: “Dewi”.

Bu Pratiwi: “ Bagus sekali anak-anak, sekarang coba tulis nama Dewi di buku masing-
masing”.

Semua anak segera menulis. Bu Pratiwi berkeliling mengamati anak-anak menulis. Setelah
semua anak kelihatan selesai menulis, Bu Pratiwi meminta seorang anak maju ke depan
untuk menuliskan kata dewi di papan tulis.

Bu Pratiwi: “Siapa yang tulisannya sama dengan yang di papan tulis?”

Semua anak mengangkat tangan. Bu Pratiwi melanjutkan pertanyaan.

Bu Pratiwi: “Dewi tinggal di mana anak-anak? Yang menjawab, angkat tangan”

Semua anak mengangkat tangan. Bu Dewi menunjuk seorang anak.


Tika: “Di desa, Bu”.

Dari jawaban ini, Bu Pratiwi mengajak anak-anak bercerita tentang jenis-jenis tumbuhan
yang ada di desa, tentang sawah, tentang penerangan yang digunakan orang-orang di desa,
tentang jual beli di pasar desa, dan tentang sungai yang airnya sangat jernih dengan ikan-
ikan yang berenang hilir mudik. Cerita itu menjadi menarik karena Bu Pratiwi juga
membawa gambar-gambar yan menarik tentang desa, yang dipajangnya di papan tulis.

Pertanyaan:

1. Dilihat dari topik-topik yang dicakup dalam pembelajaran di atas, model


pembelajaran apa yang diterapkan oleh Bu Pratiwi? Jelaskan secara singkat 3 (tiga)
karakteristik model pembelajaran tersebut.
2. Apakah model pembelajaran tersebut sesuai untuk anak kelas I? Dukung jawaban
Anda dengan 3 (tiga) alasan yang terkait dengan perkembangan anak dan teori
belajar.waban Soal TAP S1 PGSD UT

CONTOH JAWABAN:
1. Model pembelajaran yang diterapkan oleh Bu Pratiwi adalah model pembelajaran
terpadu. 3 (tiga) karakteristik model pembelajaran terpadu adalah sebagai berikut:

 Berpusat pada siswa (student centered). Pada dasarnya pembelajaran terpadu


merupakan suatu sistem pembelajaran yang memberikan keleluasaan kepada siswa
baik secara individu maupun secara kelompok. Siswa aktif mencari, menggali, dan
menemukan konsep serta prinsip-prinsip dari suatu pengetahuan yang harus
dikuasainya sesuai dengan tingkat perkembangan mereka.
 Menekankan pembentukan pemahaman dan kebermaknaan. Pembelajaran terpadu
mengkaji suatu fenomena dari berbagai macam aspek yang membentuk semacam
jalinan antarskemata yang dimiliki oleh siswa, sehingga akan berdampak pada
kebermaknaan dari materi yang dipelajari siswa. Hasil nyata yang didapat dari
segala konsep yang diperoleh dan keterkaitannya dengan konsep-konsep lain yang
dipelajari, dan mengakibatkan kegiatan belajar menjadi lebih bermakna. Dengan ini,
dapat diharapkan kemampuan siswa untuk menerapkan perolehan belajaranya
pada pemecahan masalah-masalah nyata dalam kehidupannya.
 Belajar melaui proses pengalaman langsung. Pada pembelajaran terpadu siswa
diprogramkan untuk terlibat secara langsung pada konsep dan prinsip yang
dipelajari dan memungkinkan siswa belajar dengan melakukan kegiatan secara
langsung, sehingga siswa akan memahami hasil belajarnya sesuai dengan fakta dan
peristiwa yang mereka alami, bukan sekedar informasi dari gurunya. Guru lebih
banyak bertindak sebagai fasilitator yang membimbing ke arah tujuan yang ingin
dicapai. Sedangkan siswa, berperan sebagaipencari fakta dan informasi untuk
mengembangkan pengetahuannya
 Lebih memperhatikan proses daripada hasil semata. Pada pembelajaran terpadu
dikembangkan pendekatan penemuan terbimbing (discovery inquiry) yang
melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Pembelajaran terpadu
dilaksanakan dengan mempertimbangkan minat dan kemampuan siswa sehingga
memungkinkan siswa untuk terus-menerus termotivasi untuk belajar.
 Sarat dengan muatan keterkaitan. Pembelajaran terpadu memusatkan perhatian
pada pengamatan dan pengkajian suatu gejala atau peristiwa dari beberapa mata
pelajaran sekaligus, tidak dari sudut pandangnya yang terkotak-kotak sehingga
memungkinkan siswa untuk memahami suatu fenomena pembelajaran dari segala
sisi, yang pada gilirannya nanti akan membuat siswa lebih arif dan bijak dalam
menyikapi dan menghadapi kejadian yang ada.
 Bersifat fleksibel. Pembelajaran terpadu bersifat luwes (fleksibel), dimana guru
dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang
lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan
dimana sekolah dan siswa berada.

2. Ya, model pembelajaran terpadu sesuai untuk anak kelas 1 SD, karena 3 alasan berikut:

 Sesuai dengan cara belajar anak. Anak yang duduk di kelas awal SD dalah anak yang
berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini merupakan masa perkembangan
yang sangat penting dan sering disebut periode emas (the golden years). Siswa pada
usia seperti anak kelas 1 SD masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan,
satu keterpaduan (berpikir holistik) dan memahami hubungan antar konsep secara
sederhana. Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki struktur kognitif
yang disebut schemata, yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil
pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang
objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan
konsep yang sudah ada dalam pikirannya) dan proses akomodasi (proses
memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Belajar
dimaknai sebagai proses interaksi anak dengan lingkungannya.
 Sesuai dengan tahap perkembangan intelektual anak yang berada pada tahap
operasi konkret. Anak-anak belajar dari hal-hal konkret, yakni yang dapat dilihat,
dapat didengar, dapat diraba, dapat dirasa, dan dapat dibaui. Proses pembelajaran
masih bergantung pada objek-objek konkret dan pengalaman yang dialami mereka
secara langsung, di mana hal ini sesuai dengan falsafah belajar bermakna
(meaningful learning). Pembelajaran terpadu mengakomodasi kebutuhan anak
untuk belajar dari hal-hal yang konkret sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ibu
Pratiwi. Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru
pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
Kebermaknaan belajar menghasilkan pemahaman yang utuh sehingga konsep yang
telah dipelajari akan dipahami dengan baik dan tak mudah dilupakan.
 Saat proses belajar melalui pembelajaran terpadu, setiap anak, termasuk anak kelas
1 SD, tidak sekedar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi juga
berupa kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman
yang lebih utuh. Ini juga sejalan dengan falsafah konstruktivisme yang menyatakan
bahwa anak mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan objek,
fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer
begitu saja dari seorang guru kepada anak.

Kasus A
Pak Purwadi adalah seorang guru kelas 4 di sebuah SD yang terletak di daerah
pegunungan. Dalam mata pelajaran matematika tentang pecahan, Pak Purwadi
menjelaskan cara menjumlahkan pecahan dengan memberi contoh di papan tulis. Salah
satu penjelasannya adalah sebagai berikut:
Pak Purwadi:
"Perhatikan anak-anak, kalau kita menjumlahkan pecahan, penyebutnya harus disamakan
terlebih dahulu, kemudian pembilangnya dijumlahkan. Perhatikan contoh berikut: 1/2 +
1/4 = 2/4 + 1/4 = 3/4. Perhatikan lagi contoh ini: 1/2 + 1/3 = 3/6 + 2/6 = 5/6. Jadi yang
dijumlahnya adalah pembilangnya, sedangkan penyebutnya tetap. Mengerti anak-anak?"

Anak-anak diam, mungkin mereka bingung.

Pak Purwadi:
Pasti sudah jelas, kan. Nah sekarang coba kerjakan soal-soal ini."
Pak Purwadi menulis 5 soal di papan tulis dan anak-anak mengeluarkan buku latihan.
Secara berangsur-angsur mereka mulai mengerjakan soal, namun sebagian besar anak
ribut karena tidak tahu bagaimana cara mengerjakannya. Hanya beberapa anak yang
tampak mengerjakan soal, yang lain hanya menulis soal, dan ada pula yang bertengkar
dengan temannya. Selama anak-anak bekerja Pak Purwadi duduk di depan kelas sambil
membaca.

Setelah selesai, anak-anak diminta saling bertukar hasil pekerjaannya. Pak Purwadi
meminta seorang anak menuliskan jawabannya di papan tulis. Tetapi karena jawaban itu
salah, Pak Purwadi lalu menuliskan semua jawaban di papan tulis. Kemudian anak-anak
diminta memeriksa pekerjaan temannya, dan mencocokkan dengan jawaban di papan tulis.
Alangkah kecewanya Pak Purwadi ketika mengetahui bahwa dari 30 anak, hanya seorang
yang benar semua, sedangkan seorang lagi benar 3 soal, dan yang lainnya salah semua.

Pertanyaan Kasus A

1. Identifikasi 3 kelemahan pembelajaran yang dilakukan Pak Purwadi dalam kasus di


atas. Berikan alasan mengapa itu anda anggap sebagai kelemahan. (skor 6).
2. Jika anda yang menjadi Pak Purwadi, jelaskan langkah-langkah pembelajaran yang
akan anda tempuh untuk mengajarkan pecahan dengan penyebut yang berbeda.
Beri alasan mengapa langkah-langkah itu yang anda tempuh. (skor 15)
JAWABAN SOAL TAP S1 PGSD -UT KASUS A (Pak Purwadi)
1. Tiga (3) kelemahan pembelajaran Pak Purwadi adalah:

 Pak Purwadi tidak menjelaskan bagaimana menyelesaikan soal secara bertahap,


misalnya pada kasus tersebut tampak Pak Purwadi sama sekali tidak menjelaskan
bagaimana caranya untuk menyamakan penyebut bilangan pecahan. Penjelasannya
terlalu singkat sehingga tidak jelas. Padahal penjelasan yang runtut, jelas dan logis
selangkah demi selangkah diperlukan untuk membuat siswa mudah memahami
penjumlahan pecahan tersebut.
 Pak Purwadi tidak mengecek pemahaman siswanya dengan baik. Ia hanya
menanyakan "Mengerti anak-anak?". Pertanyaan model ini tidak dapat mengecek
pemahaman siswa. Seharusnya ia menanyakan langkah-langkah menjumlahkan
pecahan secara langsung, misalnya dengan menanyakan, "Mengapa penyebut pada
langkah penjumlahan pecahan itu diubah menjadi 4 dan 6?" dan sebagainya.
Pertanyaan langsung mengarah ke materi pelajaran, bukan menanyakan apakah
anak mengerti atau tidak saja.
 Pak Purwadi tidak membimbing siswa, setelah memberikan 5 soal latihan, alih-alih
berkeliling memberikan bantuan pada siswa yang membutuhkan, ia malah duduk di
depan kelas (di kursinya) sambil membaca.
 Ketika salah seorang anak diminta menuliskan jawabannya di papan tulis, Pak
Purwadi tidak meminta tanggapan dari siswa lain. Hal ini merupakan sebuah
kelemahan pembelajaran, padahal apabila Pak Purwadi memanfaatkannya menjadi
bahan diskusi dan kesempatan untuk menjelaskan kembali materi terkait soal
tersebut maka pembelajaran akan dapat menjadi lebih baik.

2. Pada materi penjumlahan pecahan tersebut, jika saya menjadi Pak Purwadi maka
langkah-langkah yang akan saya lakukan adalah sebagai berikut:
KEGIATAN PENDAHULUAN

 Melakukan apersepsi
 Memberikan motivasi
 Menyampaikan tujuan pembelajaran

KEGIATAN INTI

 Memberikan sebuah contoh soal tentang penjumlahan pecahan yang memiliki


penyebut yang berbeda, misal 1/4 + 1/2
 Menyajikan langkah-langkah demi langkah cara menyelesaikan contoh soal tersebut
secara runtut, rinci, jelas, dan logis kepada siswa.
 Memberikan sebuah contoh soal lagi, misal 1/3 + 1/4
 Meminta siswa untuk berpartisipasi secara bergantian untuk menyelesaikan soal
tersebut selangkah demi selangkah, sembari mengecek pemahaman setiap siswa.
 Membantu siswa yang mengalami kesulitan pada langkah-langkah yang dilakukan
untuk menyelesaikan soal tersebut.
 Memberi sebuah contoh soal lagi, misalnya 1/2 + 1/5.
 Kembali meminta siswa mengerjakan soal tersebut, kali ini secara berpasangan
dengan teman sebangku mereka (teman yang duduk berdekatan) masing-masing.
 Meminta siswa mengecek hasil pekerjaan mereka dengan membandingkannya
dengan hasil pekerjaan pasangan lainnya.
 Meminta mereka mendiskusikan apabila terdapat perbedaan jawaban, sembari guru
memberikan bimbingan bila diperlukan.
 Memberikan soal latihan sebanyak 5 buah contoh soal untuk dikerjakan.
 Mengecek jawaban siswa dengan meminta beberapa orang menuliskan jawaban
mereka masing-masing di papan tulis.
 memfasilitasi diskusi kelas apabila terdapat perbedaan-perbedaan jawaban siswa.

PENUTUP

 Mengajak siswa merefleksi dan menyimpulkan pembelajaran yang telah diikuti.


 Memberikan tugas rumah (PR) dan meminta siswa belajar untuk materi pada
pertemuan berikutnya.

Kasus B (Contoh Soal TAP S1 PGSD UT - Universitas Terbuka Program Pendas)

Bu Lince mengajar di kelas 1 SD Sekarharum yang terletak di ibukota sebuah kecamatan.


Suatu hari Bu Lince mengajak anak-anak berbincang-bincang mengenai sayur-sayuran
yang banyak dijual di pasar. Anak-anak diminta menyebutkan sayur yang paling disukainya
dan menuliskannya di buku masing-masing. Anak-anak kelihatan gembira dan berlomba
menyebutkan dan menuliskan sayur yang disukainya. Pada akhir perbincangan Bu Lince
meminta seorang anak menuliskan nama sayur yang sudah disebutkan, sedangkan anak-
anak lain mencocokkan pekerjaannya dengan tulisan di papan.

Setelah selesai anak-anak diminta membuat kalimat dengan menggunakan kata-kata yang
ditulis di papan tulis.
Bu Lince:
"Anak-anak, lihat kata-kata ini. Ini nama sayur-sayuran. Baca baik-baik, buat kalimat
dengan kata-kata itu ya."
Anak-ank menjawab serentak:
"Ya, Bu."

Kemudian Bu Lince pergi ke mejanya dan memperhatikan apa yang dilakukan anak-anak.
Karena tak seorangpun yang mulai bekerja, Bu Lince kelihatan tidak sabar.

"Cepat bekerja, dan angkat tangan jika sudah punya kalimat." kata Bu Lince dengan suara
keras. Anak-anak kelihatan bingung, namun Bu Lince diam saja dan tetap duduk di
kursinya. Perhatian anak-anak menjadi berkurang, bahkan ada yang mulai mengantuk, dan
sebagian mulai bermain-main. Mendengar suara gaduh, Bu Lince dengan keras menyuruh
anak-anak diam dan menunjuk seorang anak untuk membacakan kalimatnya. Anak yang
ditunjuk diam karena tidak punya kalimat yang akan dibacakan. Bu Lince memanggil
kembali dengan suara keras agar semua anak membuat kalimat.
Pertanyaan Kasus B

1. Bandingkan suasana kelas yang diuraikan pada paragraf 1 dan paragraf selanjutnya,
ditinjau dari segi guru, murid, dan kegiatan (skor 6).
2. Pendekatan pembelajaran mana yang sebaiknya diterapkan oleh Bu Lince ketika
mengajar tentang sayur-sayuran untuk anak-anak kelas 1? Berikan alasan, mengapa
pendekatan tersebut yang anda anggap sesuai. (skor 3).
3. Kembangkan topik sayur-sayuran yang akan anda sajikan dengan pendekatan yang
anda sebut pada nomor 2 (skor 5)

==========

JAWABAN SOAL KASUS TAP S1 PGSD UT KASUS B (BU LINCE)

1. Pada Paragraf 1, tampak Bu Lince dan semua siswa sangat menikmati


pembelajaran yang dilaksanakan. Hal ini terlihat dari bagaimana Bu Lince dengan
bagusnya mengajak siswa-siswa tersebut untuk berbincang-bincang mengenai
sayur-sayuran yang dijual dipasar dan sayuran mana yang paling mereka sukai.
Dengan baik sekali Bu Lince melakukan pembelajaran di bagian awal. Anak-
anakpun dengan mudah mengikutinya dengan senang dan gembira. Berbeda dengan
paragraf berikutnya, ketika Bu Lince mulai meminta anak-anak kelas 1 itu untuk
membuat kalimat dari kata-kata yang telah ditulis mereka di buku catatan masing-
masing. Tentu saja pelajaran berikutnya ini lebih rumit dibanding sesi pertama yang
hanya meminta mereka menuliskan sayuran yang disukai. Lebih-lebih anak-anak
tidak diberikan contoh atau cara bagaimana membuat dan menulis kalimat yang
berhubungan dengan sayur-sayuran tersebut, dan tanpa pembimbingan sama
sekali. Anak-anak menjadi bingung, ribut, dan frustasi.

2. Pendekatan yang sebaiknya digunakan oleh Bu Lince untuk anak-anak kelas 1 ini
adalah pembelajaran terpadu (tematik), karena pemikiran anak-anak kelas 1 masih
bersifat holistik. Selain itu pembelajaran tematik membuat siswa lebih aktif (terlibat
aktif dalam pembelajaran), fleksibel dan sesuai dengan minat dan perkembangan
siswa.

3. Apabila kita mengajarkan pembelajaran tematik di kelas 1 dengan tema sayur-


sayuran, maka tema ini dapat dikembangkan untuk membelajarkan siswa pada
berbagai mata pelajaran yang terkait dengan tema itu, misalnya: untuk mata
pelajaran bahasa, siswa dapat diminta menuliskan jenis-jenis sayuran yang biasa
mereka jumpai di pasar, untuk mata pelajaran IPA siswa dapat diajak untuk
mengenal bagian-bagian tumbuhan yang digunakan sebagai sayuran seperti daun,
batang, bunga, buah, atau umbi. Pada mata pelajaran PKn misalnya, guru dapat
mengajarkan perilaku jujur dalam kegiatan jual beli di pasar, serta untuk pelajaran
Penjaskes, bahwa untuk tumbuh sehat, kita membutuhkan zat-zat bergizi berupa
vitamin yang terdapat dalam sayur-sayuran yang kita konsumsi.
Bu Ratri adalah guru kelas 5 di SD Harapan B. Beliau adalah guru yang menyenangkan dan
kreatif, terutama pada saat menjelaskan pelajaran matematika. Ibu Ratri sering
menggunakan alat peraga yang menarik dalam menjelaskan materi untuk menumbuhkan
kreatifitas siswa dalam memahami konsep matematika.

Pada pertemuan yang lalu Ibu Ratri telah menjelaskan berbagai jenis bangun termasuk
kubus. Pada kesempatan ini Bu Ratri melanjutkan dengan volume kubus. Di dalam kelas
tersedia papan tulis berkotak-kotak dengan ukuran kotak kecilnya 1cm x 1cm. Untuk
menjelaskan volume kubus, Ibu Ratri membawa alat peraga kubus yang terbuat dari karton
bekas.

Kegiatan diawali dengang presensi dan tanya jawab yang terkait dengan materi di waktu
yang lalu. Kemudian Ibu Ratri bertanya "adakah siswa yang ingin menjelaskan volume
kubus?" Ali menjawab dengan spontan. "Saya bu, volume kubus yaitu sisi x sisi x sisi."
contohnya kubus yang sisinya 2cm berarti volume kubusnya adalah 8 cm. Saya membaca
saja di buku bu guru, tapi benarkah begitu?.

Bu Ratri tersenyum " Benar, wah berarti kalian sudah pintar semua, baiklah sekarang
kalian kerjakan soal-soal ini, ibu beri waktu sampai waktu istirahat tiba. Tetapi sebelumnya
ibu punya soal, ada kubus sisinya 3 cm, berapa volumenya? Tanya Bu Ratri.

Setelah beberapa saat anak berbisik-bisik, ada siswa yang menjawab "saya bu, 27" Benar,
nah sekarang semua mengerjakan soal. Selanjutnya siswa mengerjakan soal, ditinggal guru.
Tampak beberapa siswa kebingungan.

Pertanyaan!

1. Identifikasikan 2 kebaikan dan kelemahan pembelajaran yang dilakukan oleh Bu


Ratri dalam pembelajaran.
2. Identifikasi proses pembelajaran Ibu Ratri dikaitkan dengan setiap tahapan belajar
Van Hiele.
3. Alat peraga apa yang sebaiknya digunakan?
4. Susunlah rencana perbaikan dan pembelajaran dari situasi pembelajaran diatas
menurut pendapat anda!

JAWABAN
1. Alternatif jawaban, kebaikan yang dilakukan Ibu Ratri pada pembelajaran matematika di
kelasnya yaitu:

 Guru melakukan kegiatan apersepsi dengan baik (sesuai dengan pendapat David
Ausubel, bahwa pembelajaran yang bermakna jika pembelajaran menghubungkan
hal-hal yang dipelajari siswa dengan konsep yang telah dibahasnya)
 Guru melakukan pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswa, hal ini sesuai
dengan pendapat Robert J H, bahwa anak usia SD memiliki karakteristik bermain,
bergerak, senang belajar dalam kelompok, melakukan dan memperagakan sesuatu
secara langsung.
 Ibu Ratri menggunakan alat peraga konkret.
 Guru membangkitkan motivasi siswa.
 Guru memberi penguatan.
 Guru melibatkan siswa dalam pembelajaran.
 Guru melakukan presensi dengan baik.

Alternatif jawaban kelemahan yang dilakukan Ibu Ratri pada pembelajaran matematika di
kelasnya yaitu guru belum menypaikan tujuan pembelajaran:

 Guru kurang menjabarkan secara gamblang cara menghitung volume kubus dengan
cara yang sederhana.
 Guru tidak mengadakan evaluasi pada akhir pembelajaran.
 Guru langsung membenarkan jawaban siswa sebelum mengecek jawaban dalam
proses pembelajaran.
 Guru belum memanfaatkan papan kotak yang tersedia.
 Guru belum menanyakan kepada siswa tentang hal-hal yang belum jelas.

2. Kaitan proses pembelajaran dengan teori Van Hiele;

a. Tahap pengenalan
Guru telah mengenalkan bentuk kubus dengan benda konkret, pada pertemuan
sebelumnya juga telah disinggung bangun kubus.

b. Tahap analisis
Guru telah menjembatani pemahaman konsep dengan pertanyaan-pertanyaan volume
kubus.

c. Tahap Deduksi
Siswa mampu menarik kesimpulan dari hasil pembelajaran.

d. Tahap akurasi
Karena siswa telah berdiskusi tentang volume kubus, berarti siswa menyadari jika
pemahaman konsep tidak dikuasai berarti tidak dapat menghitung volume kubus, berarti
pula menyadari pentingnya belajar volume kubus.

3. Alat Peraga Yang Dipakai

 Kubus terbuat dari karton bekas


 Kubus KIT
 Kerangka kubus dari besi
 Benda-benda berbentuk kubus.
Kasus pembelajaran IPA kelas V SD

Bu Is akan mengajarkan IPA dengan topik pernapasan pada manusia, di kelas V SD. Ia
mempersiapkan media berupa gambar organ pernapasan dan model organ pernapasan dan
model organ pernapasan manusia. Ia juga mempersiapkan LKS tentang nama – nama organ
pernapasan manusia.

Sebelum mengajar, Bu Is memberikan apersepsi bahwa salah satu ciri makhluk hidup
adalah bernapas. Bu Is juga menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai yaitu
tentang macam/nama organ pernapasan manusia dan fungsi masing–masing organ
tersebut. Setelah itu, Bu Is memulai mengajar materi tentang organ pernapasan. Ia
menyuruh semua murid menarik napas untuk membuktikan bahwa manusia bernapas dan
untuk mengetahui dimana letak organ – organ pernapasan tersebut. Bu Is memasang organ
pernapasan manusia di papan tulis, dan tanya jawab tentang nama – nama organ
pernapasan manusia. Setelah itu Bu Is memberikan LKS sebagai latihan secara
berkelompok. Siswa melaporkan hasil diskusinya dan kelompok lain menanggapinya.

Untuk menambah pemahaman siswa, Bu Is menunjukkan model organ pernapasan


manusia. Hal ini juga bertujuan membuat siswa lebih tertarik untuk mengetahui siswa
lebih tertarik untuk mengetahui letak dan fungsi organ pernapasan manusia. Sambil
menunjukkan pada model, Bu Is mengadakan tanya jawab tentang fungsi masing-masing
organ pernafasan pada manusia.
Setelah itu Bu Is mengadakan evaluasi, dan setelah dikoreksi, Bu Is tidak menyangka
bahwa hasilnya tidak memuaskan. Hasil nilai murid yang mencapai 75 ke atas hanya 10
orang dari 30 siswa. Bu Is merenung, mengapa target tidak tercapai, padahal dia
menargetkan 75 % siswa mendapat nilai 75 ke atas ?
1. Mengidentifikasi masalah yang penting

1. Bu Is mengajarkan materi IPA dengan topik organ pernapasan manusia kelas V SD.
2. Media yang digunakan adalah gambar dan model organ pernapasan manusia.
3. LKS yang berisi gambar organ pernapasan manusia dan siswa disuruh untuk
menjelaskan nama.
4. Mengadakan apersepsi dengan menyatakan bahwa salah satu ciri makhluk hidup
adalah bernapas.
5. Menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu supaya siswa – siswa mengetahui tentang
nama – nama organ pernapasan manusia dan fungsinya.
6. Metode yang dipakai demonstrasi, tanya jawab, penugasan, diskusi, ceramah.
7. Setelah hasil ulangan diperiksa ternyata hanya ada 10 orang siswa yang nilainya 75
ke atas dari 30 orang siswa.
2. Bu Is sudah merencanakan dan melaksanakan pembelajaran dengan baik, ternyata
hasilnya kurang memuaskan.

3. Analisis penyebab masalah

a. Bu Is terlalu banyak menggunakan metode, sehingga dalam pelaksanaan

masing – masing metode kurang tuntas.

b. Bu Is tidak memberikan pemantapan materi dan kesimpulan di akhir

kegiatan belajar mengajar.

c. Bu Is kurang menguasai materi

4. Alternatif pemecahan masalah

1. Seharusnya dalam proses belajar mengajar, Bu Is tidak terlalu banyak menggunakan


metode, karena hal itu justru membuat proses pemahaman konsep menjadi tidak
mantap. Pilih beberapa metode saja yang dianggap paling tepat untuk mengajarkan
materi tersebut.
2. Pada akhir proses belajar mengajar, seharusnya Bu Is memberikan pemantapan dan
kesimpulan, supaya siswa lebih paham terhadap materi yang diajarkan.
3. Sebelum mengajar seharusnya Bu Is sudah menguasai materi sehingga dalam
pelaksanaannya berjalan dengan lancar, jelas, dan agar yang disampaikan mudah di
serap oleh siswa.
5. Pemecahan masalah

Jika diamati lebih dalam, kasus yang muncul dalam pembelajaran Bu Is adalah karena
kurang menguasai materi. Padahal salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang
guru adalah kompetensi professional. Artinya ia harus memiliki pengetahuan yang luas
serta dalam dari bidang studi yang akan diajarkan serta penguasaan metodologis dalam
arti memiliki pengetahuan konsep teoritik, mampu memiliki metode yang tepat serta
mampu menggunakan berbagai metode dalam PBM. Guru juga harus memiliki
pengetahuan luas tentang landasan kependidikan dan pemahaman terhadap murid.

Hal ini juga seperti yang dikemukakan oleh Robert W. Richey ( 1974 ) bahwa ciri – ciri
profesionalisasi jabatan guru salah satunya adalah para guru di tuntut memiliki
pemahaman serta ketrampilan yang tinggi dalam hal bahan pengajar, metode, anak didik
dan landasan kependidikan.
Johnson ( 1980 ) menjabarkan cakupan kemampuan professional guru diantaranya adalah
penguasaan materi pelajaran yang etrdiri atas penguasaan bahan yang harus diajarkan dan
konsep-konsep dasar keilmuan dari bahan yang diajarkannya.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penguasaan materi bagi seorang guru adalah
mutlak adanya. Jadi untuk mengatasi kasus tersebut di atas, hal yang paling penting yang
harus dikerjakan adalah peningkatan kompetensi guru dengan cara rajin membaca,
menerapkan dan mengembangkan ilmunya. Dengan langkah seperti ini, diharapkan dapat
meningkatkan kualitas guru yang berimbas pada peningkatan prestasi siswa. Jadi kasus di
atas tidak akan terulang kembali.