Anda di halaman 1dari 20

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA

GANGGUAN PSIKOLOGIS(DEPRESI)

Disusun Oleh :
Kelompok II
(Kelas Sakura)

1. AMALIA SUKANTI (2016.042)


2. FARY SUTAMA (2016.050)
3. LISMAWATI (2016.059)
4. REZA HARDANY RUSLI (2016.066)
5. WAODENIRDAYANSURI (2016.073)
6. YUSTIKA ZAMRUDIN (2016.080)

AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KABUPATEN BUTON


TAHUN AKADEMIK
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penyusunan makalah dengan judul
Asuhan Keperawatan lansia gangguan psikologis (depresi) ini dapat terselesaikan.
Dalam penyusunan makalah ini kami banyak mendapat bantuan dari berbagai
pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh sebab itu, pada
kesempatan ini kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
sebab itu, saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan untuk
penyempurnaan pada tugas pembuatan berikutnya.
Semoga makalah ini dapat diterapkan sehingga berguna bagi mahasiswa
keperawatan secara umum, terutama mahasiswa AKPER Pemkab Buton pada
khususnya.

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i


KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................. 1
C. Tujuan ............................................................................................... 2
1. Tujuan Umum .............................................................................. 2
2. Tujuan Khusus ............................................................................. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Konsep Medis DEPRESI ................................................................... 3
1. Definisi ......................................................................................... 3
2. Etiologi ......................................................................................... 3
3. Klasifilasi ..................................................................................... 4
4. Manifestasi Klinis ........................................................................ 7
5. Penatalaksanaan Medis ................................................................ 8
B. Konsep Asuhan Keperawatan DEPRESI........................................... 10
1. Pengkajian .................................................................................... 10
2. Diagnosa Keperawatan ................................................................. 11
3. Intervensi Keperawatan ................................................................ 12
4. Implementasi Keperawatan .......................................................... 14
5. Evaluasi Keperawatan .................................................................. 14

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ....................................................................................... 16
B. Saran ................................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keberadaan usia lanjut ditandai dengan umur harapan hidup yang semakin
meningkat dari tahun ke tahun, hal tersebut membutuhkan upayapemeliharaan
serta peningkatan kesehatan dalam rangka mencapai masa tua yang sehat,
bahagia,berdaya guna dan produktif.
keberadaan usia lanjut ditandai dengan umur harapan hidup yang semakin
meningkat dari tahun ke tahun, hal tersebut membutuhkan upaya pemeliharaan
serta peningkatan kesehatan dalam rangka mencapai masa tua yang sehat,
bahagia, berdaya guna, dan produktif.proses menua yang dialami oleh lansia
menyebabkan mereka mengalami berbagai perasan sedih,cemas,kesepian, dan
mudah tersinggung dan depresi. Jika lansia mengaklami gangguan tersebut maka
kondisi tersebut dapat menggangu kegiatan sehari-hari lansia.mencegah dan
merawat lansia dengan masalah tersebut adalah hal yang sangat penting
dlamupaya mendorong lansia bahagia sejahtera di dalamkeluarga serta
masyarakat.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
penyusunan makalah ini adalah :
1. Bagaimanakah konsep medis DEPRESI, yang meliputi : definisi, etiologi, ,
manifestasi klinis, penatalaksanaan ?
2. Bagaimanakah konsep asuhan keperawatan DEPRESI, yang meliputi :
pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi ?

1
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan memperoleh informasi tentang konsep asuhan
keperawatan DEPRESI pada lansia.
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penulisan makalah ini adalah :
a. Mengetahui konsep medis depresi, yang meliputi : definisi, etiologi,,
manifestasi klinis, klasifikasi, penatalaksanaan.
b. Mengetahui konsep asuhan keperawatan depresi, yang meliputi :
pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, dan
evaluasi.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Medis DEPRESI


1. Definisi
Depresi adalah suatu kelainan alam perasaan berupa hilangnya minat
atau kesenangan dalam aktivitas-aktivitas yang biasa dan pada waktu yang
lampau (Townsend,1998:179). Rentang respon emosi individu dapat
berfluktuasi dalam rentang respon emosi dari adaptif sampai maladaptif.
Respon depresi merupakan emosi yang mal adaptif
Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai
komponen psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa -dan tidak
bahagia, serta komponen somatik: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa
dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun.
Depresi adalah suatu kesedihan atau perasaan duka yang
berkepanjangan dapat digunakan untuk menunjukan berbagai fenomena,
tanda, gejala, sindrom, keadaan emosional, reaksi penyakit/ klinik.(stuart dan
sundeer,1998)
Depresi merupakan gangguan alam perasaan yang berat dan
dimanifestasikan dengan gangguan fungsi social dan fungsi fisik yang hebat,
lama dan menetap pada individu yang bersangkutan.

2. Etiologi
Etiologi dari depresi pada lansia terdiri dari: faktor psikologik, biologik, dan
genetik. Pada sebagian besar kasus, ketiga faktor ini saling berinteraksi.
a. Faktor Psikososial
Menurut teori psikoanalitik dan psikodinamik Freud (1917) cit Kaplan
dan Sadock (1997) mengungkapkan bahwa depresi disebabkan karena
kehilangan obyek cinta kemudian individu mengadakan introyeksi yang
ambivalen dari aspek cinta tersebut. Menurut model Cognitif Behavioural
Beck (1974) cit Kaplan dan Sadock (1997), depresi terjadi karena
pandangan yang negatif terhadap diri sendiri, interprestasi yang negatif

3
terhadap pengalaman hidup dan harapan pengalaman hidup dan harapan
yang negatif untuk masa depan.

b. Faktor Biologik
1) Disregulasi biogenik amin
Beberapa peneliti melaporkan bahwa pada penderita depresi terdapat
abnormalitas metabolitas biogenik amin (5- hydroxy indolacetic acid,
homouanilic acid, 3-methoxy-4 hydroxy phenylglycol). Hal ini
menunjukkan adanya disregulasi biogenic amin, serotonin, dan
norepineprin yang merupakan nurotransmiter paling terkait dengan
patofisiologi depresi.
2) Disreguloasi Neuroendokrin
Hipotalamus merupakan pusat pengatur aksis neuroendokrin. Organ
ini menerima input neuron yang mengandung neurotransmister
biologik amin. Pada pasien depresi ditemukan adanya disregulasi
neuroendokrin. Disregulasi ini terjadi akibat kelainan fungsi neuron
yang mengandung biogenik ami (Amir, 1998).

c. Faktor Genetik
Faktor genetik memiliki kontribusi dalam terjadinya depresi. Berdasarkan
studi lapangan, studi anak kembar, dan anak angkat, serta studi linkage
terbukti adanya faktor genetik dan depresi.

3. Klasifikasi
Penggolongan depresi dapat dibedakan (Wilkinson,1995:18 - 26):
a. Menurut gejalanya
1) Depresi neurotic
Depresi neurotik biasanya terjadi setelah mengalami peristiwa yang
menyedihkan tetapi yang jauh lebih berat daripada biasanya.
Penderitanya seringkali dipenuhi trauma emosional yang mendahului
penyakit misalnya kehilangan orang yang dicintai, pekerjaan, milik
berharga, atau seorang kekasih. Orang yang menderita depresi

4
neurotik bisa merasa gelisah, cemas dan sekaligus merasa depresi.
Mereka menderita hipokondria atau ketakutan yang abnormal seperti
agrofobia tetapi mereka tidak menderita delusi atau halusinasi.
2) Depresi psikotik
Secara tegas istilah 'psikotik' harus dipakai untuk penyakit depresi
yang berkaitan dengan delusi dan halusinasi atau keduanya.
3) Psikosis depresi manic
Depresi manik biasanya merupakan penyakit yang kambuh kembali
disertai gangguan suasana hati yang berat. Orang yang mengalami
gangguan ini menunjukkan gabungan depresi dan rasa cemas tetapi
kadang-kadang hal ini dapat diganti dengan perasaan gembira, gairah,
dan aktivitas secara berlebihan gambaran ini disebut 'mania'.
4) Pemisahan diantara keduanya
Para dokter membedakan antara depresi neurotik dan psikotik tidak
hanya berdasarkan gejala lain yang ada dan seberapa terganggunya
perilaku orang tersebut.

b. Menurut Penyebabnya
1) Depresi reaktif
Pada depresi reaktif, gejalanya diperkirakan akibat stres luar seperti
kehilangan seseorang atau kehilangan pekerjaan.
2) Depresi endogenus
Pada depresi endogenous, gejalanya terjadi tanpa dipengaruhi oleh
faktor lain.
3) Depresi primer dan sekunder
Tujuan penggolongan ini adalah untuk memisahkan depresi yang
disebabkan penyakit fisik atau psiatrik atau kecanduan obat atau
alkohol (depresi 'sekunder') dengan depresi yang tidak mempunyai
penyebab-penyebab ini (depresi 'primer'). Penggolongan ini lebih
banyak digunakan untuk penelitian tujuan perawatan.

5
c. Menurut arah penyakit
1) Depresi tersembunyi
Diagnosa depresi tersembunyi (atau atipikal) kadang-kadang dibuat
bilamana depresi dianggap mendasari gangguan fisik dan mental yang
tidak dapat diterangkan, misalnya rasa sakit yang lama tanpa sebab
yang nyata atau hipokondria atau sebaliknya perilaku yang tidak dapat
diterangkan seperti wanita lanjut usia yang suka mengutil.
2) Berduka
Proses kesedihan itu wajar dan merupakan reaksi yang diperlukan
terhadap suatu kehilangan. Proses ini membuat orang yang kehilangan
itu mampu menerima kenyataan tersebut, mengalami rasa sakit akibat
kesedihan yang menimpa, menderita putusnya hubungan dengan orang
yang dicintai dan penyesuaian kembali.
3) Depresi pascalahir
Banyak wanita kadang-kadang mengalami periode gangguan
emosional dalam 10 hari pertama setelah melahirkan bayi ketika emosi
mereka masih labil dan mereka merasa sedih dan suka menangis.
Seringkali hal itu berlangsung selama satu atau dua hari kemudian
berlalu.
4) Depresi dan manula
Usia tua merupakan saat meningkatnya kerentanan terhadap depresi.
Namun, kadang-kadang depresi pada manula ditutupi oleh penyakit
fisik dan cacat tubuh seperti penglihatan atau pendengaran yang
terganggu. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mengingat
kemungkinan terjadinya penyakit depresi pada orang tua.

6
4. Manifestasi klinis
Frank J.Bruno (cit. Samsyddin, 2006) mengemukakan bahwa ada
beberapa tanda dan gejala depresi, yakni:
a. Secara umum tidak pernah merasa senang dalam hidup ini. Tantangan
yang ada, proyek, hobi, atau rekreasi tidak memberikan kesenangan.
b. Distorsi dalam perilaku makan. Orang yang mengalami depresi tingkat
sedang cenderung untuk makan secara berlebihan, namun berbeda jika
kondisinya telah parah seseorang cenderung akan kehilangan gairah
makan.
c. Gangguan tidur. Tergantung pada tiap orang dan berbagai macam faktor
penentu, sebagian orang depresi sulit tidur,. Tetapi dilain pihak banyak
orang yang mengalami depresi justru terlalu banyak tidur.
d. Gangguan dalam aktivitas normal seseorang. Seseorang yang mengalami
depresi mungkin akan mencoba melakukan lebih dari kemampuannya
dalam setiap usaha untuk mengkomunikasikan idenya.
e. Kurang Energi. Orang yang mengalami depresi cenderung untuk
mengatakan atau merasa lelah.
f. Keyakinan bahwa seseorang mempunyai hidup yang tidak berguna, tidak
efektif. Orang itu tidak mempunyai rasa percaya diri.
g. Kapasitas menurun untuk bisa berfikir dengan jernih dan untuk
memecahkan masalah secara efektif. Orang yang mengalami depresi
merasa kesulitan untuk memfokuskan perhatiannya pada sebuah masalah
untuk jangka waktu tertentu.
h. Perilaku merusak diri tidak langsung. Contohnya: penyalahgunaan
alkohol/narkoba, nikotin, dan obat-obat lainnya. Makan berlebihan,
terutama kalau seseorang mempunyai masalah kesehatan seperti misalnya
menjadi gemuk, diabetes, hypogliycemia, atau diabetes, bisa juga
diidentifikasi sebagai salah satu jenis perilaku merusak diri sendiri secara
tidak langsung.
i. Mempunyai pemikiran ingin bunuh diri. (tentu saja, bunuh diri yang
sebenarnya, merupakan perilaku merusak diri sendiri secara langsung.

7
5. Penatalaksanaan
a. Terapi fisik
1) Obat
Secara umum, semua obat antidepresan sama efektivitasnya.
Pemilihan jenis antidepresan ditentukan oleh pengalaman klinikus dan
pengenalan terhadap berbagai jenis antidepresan. Biasanya
pengobatan dimulai dengan dosis separuh dosis dewasa, lalu
dinaikkan perlahan-lahan sampai ada perbaikan gejala.
2) Terapi Elektrokonvulsif (ECT)
Untuk pasien depresi yang tidak bisa makan dan minum, berniat
bunuh diri atau retardasi hebat maka ECT merupakan pilihan terapi
yang efektif dan aman. ECT diberikan 1- 2 kali seminggu pada pasien
rawat nginap, unilateral untuk mengurangi confusion/memory
problem. Terapi ECT diberikan sampai ada perbaikan mood (sekitar 5
- 10 kali), dilanjutkan dengan anti depresan untuk mencegah
kekambuhan.

b. Terapi Psikologik
1) Psikoterapi
Psikoterapi individual maupun kelompok paling efektif jika dilakukan
bersama-sama dengan pemberian antidepresan. Baik pendekatan
psikodinamik maupun kognitif behaviour sama keberhasilannya.
Meskipun mekanisme psikoterapi tidak sepenuhnya dimengerti,
namun kecocokan antara pasien dan terapis dalam proses terapeutik
akan meredakan gejala dan membuat pasien lebih nyaman, lebih
mampu mengatasi persoalannya serta lebih percaya diri.
2) Terapi kognitif
Terapi kognitif - perilaku bertujuan mengubah pola pikir pasien yang
selalu negatif (persepsi diri, masa depan, dunia, diri tak berguna, tak
mampu dan sebagainya) ke arah pola pikir yang netral atau positif.
Ternyata pasien usia lanjut dengan depresi dapat menerima metode ini
meskipun penjelasan harus diberikan secara singkat dan terfokus.

8
Melalui latihan-latihan, tugas-tugas dan aktivitas tertentu terapi
kognitif bertujuan mengubah perilaku dan pola pikir.
3) Terapi keluarga
Problem keluarga dapat berperan dalam perkembangan penyakit
depresi, sehingga dukungan terhadap keluarga pasien sangat penting.
Proses penuaan mengubah dinamika keluarga, ada perubahan posisi
dari dominan menjadi dependen pada orang usia lanjut. Tujuan terapi
terhadap keluarga pasien yang depresi adalah untuk meredakan
perasaan frustasi dan putus asa, mengubah dan memperbaiki sikap /
struktur dalam keluarga yang menghambat proses penyembuhan
pasien.
4) Penanganan Ansietas (Relaksasi)
Teknik yang umum dipergunakan adalah program relaksasi progresif
baik secara langsung dengan instruktur (psikolog atau terapis
okupasional) atau melalui tape recorder. Teknik ini dapat dilakukan
dalam praktek umum sehari-hari. Untuk menguasai teknik ini
diperlukan kursus singkat terapi relaksasi.

9
B. Konsep Asuhan Keperawatan DEPRESI
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan
merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari
berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status
kesehatan klien. Pengkajian dilakukan dengan cara berurutan, perawat harus
mengetahui data aktual apa yang diperoleh, faktor resiko yang penting,
keadaan yang potensial mengancam pasien dan lain-lain (Nursalam, 2001).
Data yang perlu dikaji pada pasien depresi dapat berupa :
a. Lakukan anamese langsung teerhadap klien atau keluarga:
1) Identitas diri klien
2) Struktur keluarga : Genoogram
3) Riwayat Keluarga
4) Riwayat Penyakit Klien
Kaji ulang riwayat klien dan pemeriksaan fisik untuk adanya tanda dan
gejala karakteristik yang berkaitan dengan gangguan tertentu yang
didiagnosis.
1) Kaji adanya depresi.
2) Singkirkan kemungkinan adanya depresi dengan scrining yang tepat,
seperti geriatric depresion scale.
3) Ajukan pertanyaan-pertanyaan pengkajian keperawatan
4) Wawancarai klien, pemberi asuhan atau keluarga.

b. Lakukan observasi langsung terhadap :


1) Perilaku.
a) Bagaimana kemampuan klien mengurus diri sendiri dan
melakukan aktivitas hidup sehari-hari?
b) Apakah klien menunjukkan perilaku yang tidak dapat diterima
secara sosial?
c) Apakah klien sering mengluyur danmondar¬mandir?
d) Apakah ia menunjukkan sundown sindrom atau
perseveration phenomena?

10
2) Afek
a) Apakah kilen menunjukkan ansietas?
b) Labilitas emosi?
c) Depresi atau apatis?
d) lritabilitas?
e) Curiga?
f) Tidak berdaya?
g) Frustasi?

3) Respon kognitif
a) Bagaimana tingakat orientasi klien?
b) Apakah klien mengalamikehilangan ingatan tentang hal¬hal yang
baru saja atau yang sudah lamaterjadi?
c) Sulit mengatasi masalah, mengorganisasikan atau mengabstrakan?
d) Kurang mampu membuat penilaian?
e) Terbukti mengalami afasia, agnosia, atau,apraksia?

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon
individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan atau proses
kehidupan yang aktual atau potensial, sebagai dasar seleksi intervensi
keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan
kewenangan perawat (NANDA International, 2012).
a) Mencederai diri berhubungan dengan depresi.
b) Gangguan alam perasaan: depresi berhubungan dengan koping
maladaptif.

11
3. Intervensi Keperawatan
Perencanaan adalah proses kegiatan mental yang memberi pedoman atau
pengarahan secara tertulis kepada perawat atau anggota tim kesehatan lainnya
tentang intervensi/tindakan keperawatan yang akan dilakukan kepada pasien.
Rencana keperawatan merupakan rencana tindakan keperawatan tertulis yang
menggambarkan masalah kesehatan pasien, hasil yang akan diharapkan,
tindakan-tindakan keperawatan dan kemajuan pasien secara spesifik.
Intervensi keperawatan merupakan bagian dari fase pengorganisasian
dalam proses keperawatan sebagai pedoman untuk mengarahkan tindakan
keperawatan dalam usaha membantu, meringankan, memecahkan masalah
atau untuk memenuhi kebutuhan klien (Nursalam, 2001).

Adapun intervensi keperawatan pada pasien DEPRESI, berupa :

Intervensi Keperawatan Pasien lansia(depresi)


Diagnosa Tujuan dan Rencana Asuhan Keperawatan
No
Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi Rasional

1. Mencederai diri Tujuan ; 1. Bina hubungan 1. hubungan saling


berhubungan dengan saling percaya percaya dapat
KH :
depresi. dengan lansia. mempermudah
1. Lansia dapat
2. Lakukan interaksi dalam mencari
mengungkapkan
dengan pasien data-data tentang
perasaanya.
sesering mungkin lansia.
2. Lansia tampak
dengan sikap 2. Dengan sikap sabar
lebih bahagia.
empati dan dan empati lansia
3. Lansia sudah bisa
Dengarkan akan merasa lebih
tersenyum ikhlas.
pemyataan pasien diperhatikan dan
dengan sikap berguna.
sabar empati dan 3. Meminimalkan
lebih banyak terjadinya perilaku
memakai bahasa mencederai diri
non verbal.
Misalnya:
memberikan

12
sentuhan,
anggukan.
3. Pantau dengan
seksama resiko
bunuh
diri/melukai diri
sendiri. Jauhkan
dan simpan alat-
alat yang dapat
digunakan olch
pasien untuk
mencederai
dirinya/orang lain,
ditempat yang
aman dan
terkunci.
2. Gangguan alam Tujuan : 1. Kaji dan 1. Lansia tidak
perasaan: depresi manfaatkan merasa sendiri
KH :
berhubungan dengan sumber-sumber 2. Prinsip 5 benar
1. Klien dapat
koping maladaptif. ekstemal individu dapat
meningkatkan
(orang-orang memaksimalkan
harga diri
terdekat, tim fungsi obat secara
2. Klien dapat
pelayanan efektif
menggunakan
kesehatan, 3. Lansia merasa
dukungan sosial
kelompok dirinya lebih
3. Klien dapat
pendukung, berharga
menggunakan obat
agama yang 4. Untuk memberi
dengan benar dan
dianut). pemahaman
tepat
2. Bantu kepada lansia
menggunakan tentang obat
obat dengan
prinsip 5 benar
(benar pasien,
obat, dosis, cara,
waktu).
3. Beri
reinforcement
positif bila

13
menggunakan
obat dengan benar
4. Diskusikan
tentang obat
(nama, dosis,
frekuensi, efek
dan efek samping
minum obat).

4. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan tahap ketika perawat mengaplikasikan atau
melaksanakan rencana asuhan keperawatan kedalam bentuk intervensi
keperawatan guna membantu klien mencapai tujuan yang telah ditetapkan
(Nursalam, 2001).
Pada tahap pelaksanaan ini kita benar-benar siap untuk melaksanakan
intervensi keperawatan dan aktivitas-aktivitas keperawatan yang telah
dituliskan dalam rencana keperawatan pasien. Dalam kata lain dapat disebut
bahwa pelaksanaan adalah peletakan suatu rencana menjadi tindakan yang
mencakup :
a. Penulisan dan pengumpulan data lanjutan
b. Pelaksanaan intervensi keperawatan
c. Pendokumentasian tindakan keperawatan
d. Pemberian laporan/mengkomunikasikan status kesehatan pasien dan
respon pasien terhadap intervensi keperawatan

5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah kegiatan yang terus menerus dilakukan untuk
menentukan apakah rencana keperawatan efektif dan bagaimana rencana
keperawatan dilanjutkan, merevisi rencana atau menghentikan rencana
keperawatan (Nursalam, 2001).
Dalam evaluasi pencapaian tujuan ini terdapat 3 (tiga) alternatif yang
dapat digunakan perawat untuk memutuskan/menilai sejauh mana tujuan
yang telah ditetapkan dalam rencana keperawatan tercapai, yaitu :

14
a. Tujuan tercapai.
b. Tujuan sebagian tercapai.
c. Tujuan tidak tercapai.

Evaluasi dibagi menjadi 2 (dua) tipe, yaitu :


a. Evaluasi Proses (Formatif)
Evaluasi ini menggambarkan hasil observasi dan analisis perawat
terhadap respon klien segera stelah tindakan. Evaluasi formatif dilakukan
secara terus menerus sampai tujuan yang telah ditentukan tercapai.
b. Evaluasi Hasil (sumatif)
Evaluasi yang dilakukan setelah semua aktivitas proses keperawatan
selesai dilakukan. Menggambarkan rekapitulasi dan kesimpulan dari
observasi dan analisis status kesehatan klien sesuai dengan kerangka
waktu yang ditetapkan. Evaluasi sumatif bertujuan menjelaskan
perkembangan kondisi klien dengan menilai dan memonitor apakah
tujuan telah tercapai.
Evaluasi pencapaian tujuan memberikan umpan balik yang penting bagi
perawat untuk mendokumentasikan kemajuan pencapaian tujuan atau
evaluasi dapat menggunakan kartu/format bagan SOAP (Subyektif, Obyektif,
Analisis dan Perencanaan).
Evaluasi keperawatan yang diharapkan pada pasien ispa harus sesuai
dengan rencana tujuan yang telah ditetapkan yaitu :
a. Nyeri (akut) yamg dirasakan berkurang
b. Risiko tinggi terhadap infeksi dapat teratasi
c. Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
mencukupi
d. Ketakutan/ansietas dapat teratasi

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Menurut organisasi kesehatan adalah usia pertengahan (midlle age) kelompok
usia45-70 tahun usia lanjut (elders) antara 60-70 tahun usia tua (old) antara 75-
90thn usia dangat tua(very old) diatas 90 tahun.
Menurut prof koesmoto setyonegoro lanjut usia adalah orang yg berumur 65
tahun keatas.World Health Organization (WHO)
Faktor-faktor yang mempengaruhi tua adalah herediter, nutrisi, status kesehatan,
pengalaman hidup, lingkungan, stres.

B. Saran
Asuhan keperawatan pada lansia haruslah diakukan secara profesional dan
komprehensip, yaitu dengan memandang pada aspek boi-psiko-sosial-spiritual
pada lansia. Aspek psikologis pada lansia merupakan aspek yang tak kala penting
dari aspek yang lain, olehnya itu pelaksanaan asuhan keperawataan lansia dengan
gangguan psikososial harus dilakukan dengan sebaik-baiknya demi terciptanya
lansia yang sehat jasmani dan rohani.

16
DAFTAR PUSTAKA

https://.scribd.com/document/40447044/asuhan-keperawatan-lansia-dengan-depresi

https://pinkersya.wordpress.com/2012/11/24/askep-lansia-dengan-gangguan-

psikologis-depresi/

http://www.academia.edu/14546510/ASUHAN_KEPERAWATAN_LANSIA_DEN

GAN_DPRESI

17