Anda di halaman 1dari 19

Materi inisiasi 1

TEORI PERILAKU KONSUMEN

Ilmu Ekonomi Mikro merupakan bagian dari lmu Ekonomi umum. Oleh karena
itu menjadi lebih baik apabila para mahsiswa telah memahami ilmu ekonomi secara
umum sebelum mempelajari Teori ekonomi mikrro. Yang menjadi masalah adalah
beberapa program studi di UT tidak memasukkan matakuliah pengantar ilmu ekonomi
umum dalam silabus kurikulumnya. Padahal banyak diantara mahasiswa UT (terutama
input dari SMA IPA) banyak yang belum mengenal ilmu ekonomi, sehingga agak
kesulitan ketika mempelajari ekonomi makro maupun mikro. Oleh karena itu pada
bagian awal dari tutorial ini penulis memaparkan sekilas tentang ilmu ekonomi,
barangkali dapat menambah pengetahuan para mahasiswa.
Ilmu ekonomi diperlukan oleh manusia karena begitu banyaknya /tak
terbatasnya kebutuhan manusia, sementara sumber daya yang tersedia sangat terbatas/
langka. Kelangkaan yang dimaksud berkaitan dengan harga bukan jumlah. Air
walaupun jumlahnya banyak tetapi apabila cara mendapatkannya harus dengan
pengorbanan / dengan cara membeli apalagi dengan harga mahal, maka bisa disebut
barang ekonomi/barang langka, seperti air minum dalam kemasan yang telah diberi
merk. Sedangkan barang yang cara memperolehnya / menikmatinya tanpa memerlukan
pengorbanan berupa hilangnya kenikmatan yang dapat diperoleh dari barang lain
disebut barang bebas, yang jumlahnya tentu sangat sedikit.
Sekarang ini dapat dikatakan bahwa sebagian besar barang didunia ini merupakan
barang langka, baik berupa sumber daya maupun produknya. Oleh karena itu
dikembangkan konsep pilihan yang memungkinkan memilih berbagai alternative yang
tersedia.
Manusia dalam memilih memiliki dua keadaan, yaitu adanya kesempatan dari
barang maupun jasa yang tersedia untuk bisa dipilih, dan yang kedua adalah adanya
preferensi yang merupakan daftar keinginan / selera manusia yang dapat disusun secara
berjenjang mulai paling tingi sampai paling rendah secara subjektif sesuai selera
masing-masing indifidu/kelompok.

Apabila menghendaki konsumsi akan barang, seseorang tentu memerluan


sejumlah biaya, yang dalam hal ini dikenal dengan biaya alternative atau biaya
oportunitas. Maksudnya adalah apabila seseorang ingin tambahan barang A, maka ia
akan dapat memperoleh tambahan barang A (⌂A) apabila ia mau mengorbankan
sejumlah barang B (yang berarti barang B berkurang). Terjadi demikian karena sumber
dana atau gaji seseorang tersebut besarnya tetap sehingga seseorang harus pandai
mengalokasian dananya untuk barang A dan B tersebut.
Cara memperoleh barang yang dikehendakitentu melalui jual beli, yang berarti
ada yang ingin membeli (digambarkan dengan kurva perimtaan), dan ada yang
menawarkan barang (digambarkan dengan kurna penawaran). Terbentuk pasar apabila
terjadi pertemuan antara kurva permintaan dengan penawaran, seperti pada gambar di
bawah.

harga (P) S

surplus

P1 (excess supply)

E
Po

P2
(Excess demand)

defisit D

0 Q1 Q2 Q0 Q3 Quantitas (Q)

Gambar 1 : Keseimbangan pasar


Dari gambar 2 di atas dapat dijelaskan, bahwa skedul pembeli dan penjual
berlawanan, maka di pasar dapat terjadi tawar menawar sehingga tercapai kecocokan
harga barang yang diperjual belikan. Kecocokan harga tersebut ditunjukkan oleh
pertemuan kurva permintaan dan penewaran di titik E, yang disebut titik keseimbangan
pasar (equilibrium) . yakni pada harga OPo dengan jumalh yang dijual atau dibeli
sebanyak OQo.
Pada suatu saat pembeli ingin harga lebih murah, misal seharga OP2. Pada harga
tersebut penjual hanya mau melepaskan barang sebesar OQ1, sebaliknya pembeli
menginginkan sebanyan OQ3, akibatnya terjadi kekurangan barang sebanyak OQ3 –
OQ1 = Q1Q3. Devisit sebesar Q1Q3 ini disebut kelebihan permintan (Excess
demand).
Kurva yang bergerak dari kiri bawah ke kanan atas ( S warna merah)
menunjukan kurva penawaran produsen, yang merupakan skedul dari berbagai jumlah
barang yang ingin dan dapt dijual oleh produsen pada berbagai tingkat harga. Pada
suatu saat penjual ingin menjual barang lebih tinggi dari biasanya, misal OP1. Maka
hanya sedikit pembeli yang mau bayar setinggi itu yakni sebanyak OQ2, sebaliknya
banyak penjual yang suka harga tersebut sehingga jumlah yang ditwarkan mencapai
OQ3. Akibatnya terjadi kelebihan penawaran sebanyak
OQ3 – OQ2 = Q2Q3. Kelebihan penawaran ini disebut excess suplly.
Kondisi Excess demand maupun excess suplly. Merupakan ketidak seimbangan pasar.
Secara otomatis nantinya ada kekuatan yang mendorong kearah keseimbangan pasar
sehingga akan bertemu di titik E lagi.
Dalam hal produksi dikenal hukum biaya yang semakin meningkat,
maksudnya adalah dengan sumber dana yang besarnya tetap, produsen tidak bisa
menukar gantikan sumber daya modal dengan missal tenga kerja secara sempurna, yang
mengakibatkan produksi tidak optimal. Artinya ada sisa dana yang tidak bisa digunakan
karena kombinasi factor produksi yang tidak tepat, sehingga produksi juga tidak
optimal.
Demikian pula dalam hal produksi, masyarakat juga dihadapkan pada pilihan.
Y

N .U

.K

.R
.T
.U.U
.T

o M Qx

Gambar 2. Kurva kemungkinan produksi atau Production Possibility Curve (PPC)


Gambar 2 di atas bisa sedikit menjelaskan bagaimana masyakat harus menentukan
pilihan kombinasi produksi barang X dan barang Y dengan sumber daya yang
terbatas. Besarnya sumber daya ditunjukan oleh kurva lengkung MN.
Apabila masyarakat berproduksi pada Titik T, hal ini menunjukkan pilihan yang tidak
tepat sebab kombinasi hasil produksi X dan Y belum optimal karena belum
menggunakan semua sumber daya yang tersedia. Masyarakat harus menaikan
produksinya baik barang X maupun Y sampai seluruh sumber daya yang tersedia
terpakai. Missal berproduksi di titik K atau R.
Sebaliknya masyarakat tidak mungkin berproduksi di titik U, yang berada diluar
kurva MN atau di luar kemampuan berproduksi karena sumber daya tidak mencukupi.
Selanjutnya masyarakat bisa berproduksi di titik U, apabila ada penambahan sumber
daya missal masuknya teknologi baru. Bergesernya titik R dan K ke tiik U berarti
terjadi penambahan output, yang nantinya bisa disebut sebagai pertumbuhan ekonomi.
Ilmu Ekonomi diangap sebagai disiplin ilmu tersendiri sejak tahun 1776, yakni sejak
ditulisnya buku An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations
oleh Adam Smith yang selanjutnya diangap sebagai bapak ilmu ekonomi.
Dari Adam Smith kemudian dikembangkan oleh ilmuawan-ilmuawan lainya
seperti Thomas R Malthus, David Ricardo dan John Stuart Mill, yang selanjutnya
disebut sebagai ahli ekonomi klasik. Dari kelompok inilah kemudian muncul teori
ekonomi mikro. yang memiliki paham ekonomi melalui mekanisme pasar
Pada sisi lain muncul ekonom baru John Maynard Keynes yang menulis buku
General Theory of Employmen, Interest and Money pada tahun 1930 yang
merupakan dasar ilmu ekonomi makro. Era ini kemudian disebut sebagai ekonomi
Keynes yang juga merupakan dasar ekonomi modern, yang menganggap perekonomian
perlu ada campur tangan pemerintah. Lebih lanjut ilmu ini dikembangkan kelompok
post keynesian, monitarism, maupun rational expectation.
Secara umum ilmu ekonomi dibagi ke dalam dua cabang utama, yaitu mikro
ekonomi dan makro ekonomi. Mikro ekonomi akan mencakup pembahasan mengenai
perilaku ekonomi dalam konteks individu. Misalnya mengenai keputusan-keputusan
unit terkecil seperti konsumen, pekerja, buruh, pemilik modal, entitas bisnis maupun
sebuah perusahaan. Demikian pula membahas interaksi antara konsumen dengan
perusahaan untuk membentuk pasar dan industri. Sebaliknya makro ekonomi mencakup
pembahsan ekonomi secara agregat yang banyak sekali terkait dengan negara.
Dalam ilmu ekonomi sering digunakan istilah trade-Off. Yaitu suatu kondisi
yang tidak sdapat terjadi secara bersamaan,, dan jika kejadian yang satu terjadi, maka
kejadian yang lain tidak akan mungkin terjadi.
Contoh beberapa trade-off. Terjadi pada:
1. Konsumen. Konsumnen ini memiliki pendapatan yang terbatas, padahal mereka
memeiliki keinginan yang tak terbatas. Oleh karena itu dengan preferensi masing-
masing konsumen berusahan memaksimumkan kesejahteraannya, misal dengan
membeli barang tertentu sangat banayk, dan membeli barang lain hanya sedikit.
Ingat bahwa berlaku istilah terade off, yakni barang satu akan meniadakjan barang
lain. Sehingga konsumen harus pandai memilih barang sesuai pendapatannya.
2. Pekerja. Mereka sering dihadapkan pada trade-off saat memilih pekerjaan. Misal
apakah memilih pekerjaan yang memiliki resiko tinggi tetapi karier cepat naik, atau
memilih bekerja di perusahaan yang resikonya rendah tetapi karier lambat., dsb

Demikian dalam pembahasan ilmu ekonomi dikebnal istilah asumsi. Asumsi sering
diartikan sebagai anggapan. Dalam memeplajari ilmu ekonomi tidak terhindarkan
dari istilah asumsi. Dengan asumsi maka mempelajari ilmu ekonimi menjadi tidak
terlalu sulit.
Misal ada asumsi ceteris paribus, yang maksudnya hal-hal lain dianggap konstan.
1.1 TEORI PERILAKU KONSUMEN
Di pasar ada satu kekuatan yang sangat kuat dalam mempengaruhi
permintaan barang atau jasa yaitu perilaku konsumen yang ada dalam pasar. Oleh
karena itu jika ingin melihat kekuatan yang ada di pasar, harus mengetahui terlebih
dahulu perilaku konsumennya. Di dalam mempelajari teori perilaku konsumen ada
dua pendekatan yaitu:
1. Pendekatan kardinal atau sering disebut teori nilai subjektif (subjective value
theory), dan
2. Pendekatan ordinal atau sering disebut dengan analisis kurva indiferen
(indifference curve analysis).
Pendekatan kardinal dikembangkan pada tahun 1880-an oleh tiga ahli ekonomi yang
bekerja secara sendiri-sendiri yaitu: William Stanley Jevons dari Inggris, Karl Manger
dari Austria dan Leon Walras dari Perancis.
Dalam mempelajari perilaku konsumen, ada dua pendekatan yang biasa
digunakan. Pertama adalah pendekatan kardinal atau lazim disebut dengan teori nilai
subyektif (subjective value theory), sedangkan pendekatan yang kedua adalah
pendekatan ordinal atau dikenal dengan analisis kurva indiferen (indifference
curve analysis).
Pendekatan kardinal dikembangkan pada tahun 1880-an oleh tiga ahli
ekonomi yang bekerja secara sendiri-sendiri yaitu: William Stanley Jevons dari Inggris,
Karl Manger dari Austria dan Leon Walras dari Perancis. Pendekatan ini menyatakan
bahwa utilitas adalah kepuasan yang diperoleh konsumen dari pemakaian barang dan
jasa yang dinyatakan dalam angka kardinal. Utilitas menurut pendekatan ini terdiri dari
utilitas marginal (marginal utility) dan utilitas total (total utility).
Utilitas marginal didefinisikan sebagai perubahan utilitas total yang disebabkan oleh
adanya perubahan konsumsi suatu barang sebanyak satu unit per-satuan waktu
tertentu. Jika utilitas total menyangkut kepuasan menyeluruh dari penggunaan
beberapa barang, maka utilitas marginal menyangkut perubahan kepuasan akibat
kelebihan penggunaan barang tertentu.
Pada kasus utilitas marginal untuk jenis barang yang tidak ada kaitannya dengan
penggunaannya (non related good) maka kepuasan terhadap suatu barang tidak akan
terpenuhi jika kita menggantinya dengan barang lain. Contohnya, kita ingin membeli
baju, namun karena sesuatu hal kita akhirnya membeli sepatu, sehingga tingkat
kepuasan kita tidak terpenuhi. Pada dasarnya semakin banyak jumlah barang yang
dikonsumsi pada waktu tertentu maka akan semakin besar tingkat kepuasaan totalnya,
namun dalam mengkonsumsi barang dan jasa, seorang konsumen dibatasi oleh
tingkat kepuasan konsumsinya. Jika konsumsi suatu barang terus ditambah, namun
pada batas tertentu penambahan ini tidak akan meningkatkan kepuasan lagi, tetapi
justru akan menurun, sehingga dapat dikatakan bahwa pada batas tertentu
tingkat kepuasan konsumen akan mengalami titik jenuh. Ini dikenal sebagai
konsep guna batas yang semakin berkurang concept of diminishing marginal utility,
artinya kenaikan daya guna total utilitas marginal yang semakin berkurang.
Untuk mempermudah pembahasan tadi, kita dapat menggunakan analisis grafik seperti
pada gambar berikut ini :

Gambar 1
Kurva Guna Total

Guna

E
C Total Utility
D
B
X
A

Jika semakin banyak jumlah barang X yang dikonsumsi maka guna batasnya (total
utility) semakin berkurang, seperti yang ditunjukkan oleh titik ADCE. Mula-mula
konsumsi berada di titik A, kemudian naik ke C dan mencapai titik puncak di titik E.
Pada titik ini tercapai kepuasan maksimum. Setelah mencapai puncak, tingkat kepuasan
kemudian menurun, sesuai dengan konsep kenaikan daya guna total utilitas marginal
yang semakin berkurang.

Ada beberapa asumsi yang digunakan untuk menurunkan grafik kurva


permintaan konsumen dengan pendekatan kardinal, yaitu :
1. perilaku konsumen adalah rasional, artinya pada tingkat pendapatan, harga
barang dan kondisi dan selera tertentu, konsumen akan berusaha
memaksimumkan konsumsinya
2. konsumen dapat mengukur tingkat kepuasannya secara kardinal dan besarnya
kepuasan marjinal dari suatu barang semakin lama semakin kecil, dan
3. fungsi total kepuasan konsumen merupakan penjumlahan dari fungsi kepuasan
barang-barang yang dikonsumsinya.

Namun pendekatan kardinal ini jarang dipakai dalam analisis ekonomi karena
memiliki dua kelemahan yang mendasar, yakni: pertama, kepuasan diukur secara
kardinal (mutlak), padahal hal ini sulit dipenuhi. Kedua, kepuasan marginal dari
konsumen tidak sama. Semakin banyak orang memiliki uang, nilai kepuasan marginalnya
semakin lama semakin berkurang. Misalnya Rp 50.000,- bagi orang kaya nilai
subyektifnya tidak sama dengan Rp 50.000,- bagi orang miskin.

Pendekatan Ordinal (Kurva Indiferen)

Dalam pendekatan ini seorang konsumen tidak perlu menyatakan tingkat utilitas
yang ia peroleh dari set komoditi tertentu dengan unit kardinal. Anggapan yang
diperlukan hanyalah setiap konsumen dapat membedakan dari sekian banyak set
komoditi yang tersedia, set komoditi mana yang memberikan utilitas lebih tinggi, sama
atau lebih rendah tanpa harus menyatakan berapa lebih tinggi atau lebih rendahnya.
Jadi dalam pendekatan ini setiap unit konsumen hanyalah dituntut dapat
membedakan dari semua set komoditi yang ia hadapi, set mana yang lebih dipilih, set
mana yang lebih tidak dipilih, dan set mana yang sama saja relatif dibandingkan
dengan set-set komoditi yang lain. Dengan kata lain setiap unit konsumen harus
dapat menentukan daftar urutan preferensi (order of preference) komoditi yang
ada.

Syarat-syarat berikut harus dipenuhi (agar aturan yang dipakai selalu


bersesuaian) dalam membuat daftar urutan preferensi
1. Untuk dua set komoditi, misalnya A dan B, bila A memberi kepuasan yang lebih
besar dibanding B maka A harus dipilih dan bukan B (A is prefered to B); dan
begitu juga sebaliknya. Bila antara A dan B memberi kepuasan yang sama,
maka konsumen sama saja dapat memilih A dan B (A and B are indifferent).
2. Bila harus A dipilih dan bukan B, sedang B harus dipilih dan bukan C, maka A
harus dipilih dan bukan C. Jadi dalam menentukan preferensi, berlaku
hubungan yang bersifat transitif.
3. Bila set komoditi A terdiri dari unsur-unsur yang sama dengan B, sedangkan untuk
setiap unsurnya set A lebih besar dari B (A is srictly larger than A) maka A harus
dipilih dan bukan B. Tetapi bila hanya sebagian unsur-unsur saja yang lebih besar
sedang unsur-unsur yang lain lebih kecil atau sama, maka tidak dapat dikatakan
begitu saja bahwa A harus dipilih dan bukan B.

Misalnya hanya ada dua barang konsumsi, yaitu X (= beras) dan Y (= kain).
Preferensi seorang konsumen terhadap kedua barang tersebut digambarkan seperti
dalam Tabel 1. Menurut aturan penentuan preferensi, maka set komoditi A harus
lebih dipilih dibandingkan dengan set-set yang lain (set A terdiri dari jumlah X dan
Y yang kedua-duanya lebih besar dibanding dengan set-set yang lain). Set komoditi
B dianggap memberi kepuasan yang sama dengan set C. Dalam hal ini, konsumen
bersedia menerima Y dalam jumlah yang lebih sedikit, bila ia mendapatkan jumlah
X yang lebih besar sebagai gantinya. Set komoditi C lebih dipilih dibandingkan
dengan set komoditi D (set D terdiri dari X dan Y yang
kedua-duanya lebih sedikit dibanding set C). Set D, E, dan F dianggap ketiga-
tiganya sama saja (indifferent). Akhirnya E lebih dipilih oleh konsumen dibanding
dengan G, karena set G terdiri dari jumlah X yang sedikit dan Y sama. 4 Lihat
Tabel 1 dibawah ini.
Tabel 1
Daftar Urutan dari Berbagai Set Komoditi
Set Jumlah X Jumlah Y Kedudukan
(kg) (meter) Dalam Urutan*)
A 55 25 10
B 50 23 8
C 40 29 8
D 35 25 5
E 25 30 5
F 18 40 5
G 20 30 3

Keterangan:
*) = Kedudukan dalam urutan (rank order) ini dinyatakan dalam angka-angka
ordinal. Jadi urutan-urutan seperti dalam tabel ini sama saja artinya dengan
urutan angka-angka 100, 90, 90, 70, 70, 70 dan 60. Tetapi tidak sama artinya
dengan urutan angka-angka 30, 25, 20, 17, 15, 13, dan 10.

Untuk memberi gambaran yang lebih jelas mengenai sifat hubungan antara
komoditi dan tingkat
utilitas yang dinyatakan dalam angka ordinal ini, akan diberikan contoh sebagai
berikut:

Misalkan Amat mengkonsumsikan barang X dan Y, utilitas yang diperoleh dari


dua barang tersebut dapat dinyatakan dalam suatu fungsi utilitas sebagai berikut.
U = XY

Artinya, tingkat utilitas yang diperoleh Amat adalah merupakan hasil perkalian
antara jumlah X dan jumlah Y yang dikonsumsi. Amat akan mendapatkan 100 unit
utilitas dari mengkonsumsi 10 unit X dan 10 unit Y. Ia juga akan
mendapatkan 100 unit utilitas dari mengkonsumsi 20 unit X dan 5 unit Y atau 100 unit
X dan 1 unit Y. Dari ketiga macam set komoditi X dan Y ini Amat dalam keadaan
indiferen. Meskipun demikian, Amat jelas akan memilih salah satu dari ketiga set
tersebut bila dibandingkan dengan set komoditi yang terdiri dari 5 unit X dan 5 unit
Y. Karena berdasarkan fungsi tersebut di atas, set komoditi ini hanya menghasilkan 25
unit utilitas, lebih rendah dibandingkan dengan utilitas yang diperoleh dari salah satu
ketiga set tersebut.
Dalam hal ini, karena fungsi utilitas (fungsi yang menunjukkan hubungan antara
utilitas dan set komoditi yang dikonsumsikan) dinyatakan dalam pengertian ordinal,
maka sebenarnya konsumen tersebut mempunyai beberapa bentuk fungsi utilitas
yang lain. Fungsi-fungsi yang lain tersebut misalnya.
V = (XY)2
Fungsi utilitas ini menggambarkan urutan preferensi (preference ranking) yang
tertentu dari Amat terhadap barang X dan Y. Set komoditi yang terdiri dari 10 unit
X dan 10 unit Y memberikan 10.000 unit utilitas. Begitu juga mengenai set-set
komoditi X dan Y yang lain, misalnya 5X dan 20Y atau 100X dan 1Y. Dengan
menggunakan fungsi utilitas yang kedua ini, hal yang perlu diperhatikan adalah
bahwa dari ketiga set komoditi tersebut konsumen juga dalam keadaan
indiferen. Jadi kedua fungsi utilitas tersebut di atas (U dan V) menunjukkan
bahwa Amat berada dalam keadaan indiferen di antara ketiga set komoditi
tersebut. Tetapi dalam hal ini V menunjukkan preference-ranking yang lebih
tinggi dibandingkan dengan U (V menunjukkan preference-ranking 10.000 sedang U
hanya 100). Di sini tidak diperlukan untuk mengatakan berapa perbedaan lebih tinggi V
terhadap U, karena dalam pengertian ordinal selisih perbedaan angka tidak penting
untuk diketahui (immaterial).
Fungsi utilitas ini dapat dilukiskan ke dalam sebuah grafik. Karena dalam
fungsi utilitas ini ada tiga variabel yaitu barang X, barang Y dan tingkat utilitas,
maka bentuk grafiknya berdimensi tiga dan sering disebut dengan bidang utilitas
(utility surface). Gambar 2. menunjukkan bidang guna OXZY. Bila konsumen
mengkonsumsi X sebanyak OX1 dan Y sebanyak OY1 per unit, waktu tertentu,
maka utilitas yang diperolehnya adalah PP . Sama halnya, bila konsumen
mengkonsumsi OX2 dan OY2, per unit waktu tertentu, maka utilitas total yang
diperolehnya sebesar QQ .
Gambar 2
Bidang Utilitas

Dengan tingkat konsumsi X tetap sebesar OX1, sedang jumlah Y berubah-


ubah, maka kurva EPRD menunjukkan utilitas total yang diperoleh konsumen pada
berbagai kombinasi tersebut. Bila jumlah Y yang dikonsumsi sebanyak OY1, maka
utilitas totalnya PP , jika konsumsi sebanyak OY2 maka utilitas totalnya RR (RR
lebih besar dari PP ), begitu seterusnya. Bila jumlah X yang dikonsumsi tetap
sebesar OX2 per unit waktu tertentu, maka kurva FSQC menunjukkan utilitas
total yang diperoleh konsumen pada berbagai tingkat Y. Dengan jumlah Y sebesar
OY, maka utilitas total yang diperoleh konsumen sebesar SS , dan dengan jumlah
sebesar OY2 (OY2 lebih banyak dari OY1), maka utilitas total diperoleh konsumen
sebesar QQ (QQ lebih besar dari SS ). Analisis yang sama dapat diterapkan juga
untuk tingkat konsumsi Y yang tetap per unit waktu tertentu dengan berbagai
tingkat konsumsi X. Kurva GPSA menunjukkan utilitas total yang diperoleh
konsumen dengan tingkat konsumsi Y tetap sebesar OY dan berbagai tingkat X.
Sama halnya, kurva HRQB menunjukkan tingkat utilitas total, bila jumlah konsumsi
Y tetap sebesar OY2 dan berbagai jumlah X per unit waktu tertentu.
Bidang utilitas seperti dibicarakan di atas sangat membantu dalam mempelajari
konsep garis utilitas yang sama besar (constant utility countour) atau yang sering
disebut juga kurva indiferen. Kurva ini merupakan basis dari teori perilaku
konsumen yang modern (ordinal). Konsep ini dapat dijelaskan dengan
menggunakan Gambar 3.

Gambar 3
Bidang Utilitas Dengan Utilitas Konstan

Gambar 3 adalah sebuah bidang utilitas OXZY seperti halnya Gambar 2. Bila
konsumen mengkonsumsi barang X sebanyak OX1 per unit waktu tertentu dan Y
sebanyak OY3, maka utilitas total yang diperolehnya sebesar RR’. Bila jumlah X
yang dikonsumsi lebih banyak lagi, misalnya sebesar OX2, dengan tingkat Y yang
sama, maka utilitas total yang diperoleh akan lebih besar. Dalam hal ini satu hal yang
perlu diperhatikan ialah adanya kemungkinan barang konsumsi yang satu diganti
(substituted) oleh konsumsi yang lain sebegitu rupa, sehingga utilitas total yang
diperolehnya tetap sama. Misalnya, jumlah X sebanyak X1X2 unit dapat menggantikan
Y sebanyak Y3Y2 tanpa mengubah tingkat utilitas yang diperoleh konsumen, karena P
dan R mempunyai tingkat utilitas yang sama. Bila tingkat konsumsi sebesar OX1
dan OY3, maka utilitas total yang diperoleh konsumen
sebesar RR . Jika tingkat konsumsi sebesar OX2 dan OY2 menghasilkan utilitas
total sebesar PP =RR . Begitu pula tingkat konsumsi OX3 dan OY1 juga
menghasilkan utilitas total sebesar SS =PP =RR .

Dengan kata lain, bila kita mengiris bidang utilitas pada tingkat RR =PP =SS
dan menentukan semua kombinasi X dan Y, maka akan didapatkan suatu tingkat
utilitas total yang sama besarnya. Kombinasi-kombinasi tersebut ditunjukkan oleh
garis patah-patah R P S dalam grafik dua salib sumbu X-Y. Karena semua kombinasi
yang terletak pada garis R P S menghasilkan tingkat utilitas total yang sama, maka ini
berarti bahwa dalam semua kombinasi tersebut konsumen indiferen. Begitu juga
halnya, semua kombinasi X dan Y yang terletak pada garis patah-patah T Q V
menghasilkan utilitas total yang sama (TT =QQ =VV ). Jadi konsumen dalam
berbagai tingkat kombinasi X dan Y pada garis tersebut juga berada dalam keadaan
indeferen. Tetapi konsumen tidak berada dalam keadaan indiferen di antara
kombinasi-kombinasi X dan Y yang terletak pada R’P’S’ dan T Q V . Semua
kombinasi yang terletak pada garis T Q V lebih dipilih dibanding dengan kombinasi-
kombinasi yang terletak pada garis R P S , karena semua kombinasi yang terletak
pada garis T Q V memberikan utilitas total yang lebih besar dibandingkan dengan
kombinasi-kombinasi yang berada pada garis R P S
(misalnya, TT lebih besar dari RR ). disebut dengan kurva indiferen.
Garis-garis seperti R P S dan T Q V itu
Kurva indiferen (indifference curve)
adalah kurva yang menghubungkan titik-titik kombinasi (a set of combination)
dari sejumlah barang tertentu yang menghasilkan tingkat utilitas total sama
kepada konsumen atau dengan mana konsumen berada dalam keadaan indeferen.

Gambar 4 menunjukkan seberkas kurva indiferen, sering disebut juga dengan peta
indiferen (indifference map).

Gambar 2.9.
Peta Kurva Indiferen
Kurva indiferen I menggambarkan semua kombinasi X dan Y yang
menghasilkan utilitas yang sama yaitu sebesar 10 unit utilitas. Begitu juga kurva-
kurva indiferen II, III, dan IV masing-masing menggambarkan semua kombinasi X
dan Y yang menghasilkan tingkat utilitas total 19, 26, dan 30. Tingkat utilitas total
yang diberikan kepada masing-masing kurva indiferen adalah dalam pengertian
ordinal, pengertian angka itu sendiri sebenarnya bersifat immaterial. Tingkat
utilitas 10, 19, 26, dan 30 sama saja artinya dengan angka-angka 100, 190, 270, dan
340, atau satu set angka apa saja pun yang bersifat klimaks (angka yang menaik
misalnya 1, 2, 5, dan 7). Jadi, hal yang perlu diperhatikan dalam konsep kurva
indiferen ini adalah pengertian bahwa semua set yang terletak pada kurva indiferen
yang sama berarti menunjukkan tingkat utilitas yang sama. Dan semua set yang
terletak pada kurva indiferen di atasnya (yang semakin jauh dari titik 0) akan lebih
dipilih, karena memberi tingkat utilitas yang lebih besar.

Sifat-sifat Khusus Kurva Indiferen

Kurva indiferen mempunyai empat ciri khusus:


1) Kurva indiferen mempunyai nilai kemiringan negatif (negatively sloped) atau paling
tidak pernah mempunyai nilai kemiringan positif. Pada umumnya kurva
indiferensi berbentuk dari kiri atas ke kanan bawah pada bidang komoditi dua
dimensi X-Y. Tetapi untuk beberapa kasus komoditi kurva indiferen berbentuk
garis horisontal atau vertikal. Sifat kurva indiferen seperti ini merefleksikan
adanya anggapan no. c dalam teori preferensi konsumen, yaitu set komoditi yang
strictly larger akan lebih dipilih konsumen dibanding dengan set komoditi yang
lebih kecil.
2) Kurva indiferen melewati semua titik-titik yang ada dalam bidang komoditi X-Y.
Sifat kedua ini merefleksikan anggapan no. a dalam teori preferensi, yaitu
konsumen dianggap dapat membedakan untuk setiap dua set komoditi mana yang
lebih dipilih dan mana yang indiferen. Ini berarti setiap set komoditi selalu
dihubungkan dengan tingkat utilitas yang tertentu besarnya.
3) Kurva indiferen tidak mungkin berpotongan antara yang satu dengan yang lain.
Sifat ini dijelaskan dengan menggunakan Gambar 5. Dalam gambar ini kurva
indiferen I dan II berpotongan di titik kombinasi P. Menurut definisi set komoditi P
memberikan tingkat utilitas yang sama dengan R (karena terletak pada satu kurva
indiferen II). Begitu juga pada P dan Q, konsumen berada dalam keadaan
indiferen. Dengan mendasarkan pada anggapan no. b teori preferensi konsumen,
maka R seharusnya juga indiferen terhadap Q. (sifat hubungan transitif).
Gambar 5
Kurva Indiferen Tidak Dapat Saling Berpotongan
Padahal berdasarkan anggapan no. c dari teori preferensi, R seharusnya lebih dipilih
dibanding dengan Q (karena R terdiri dari X dan Y dalam jumlah yang lebih
banyak dibanding Q). Jadi, berdasarkan anggapan teori preferensi konsumen
maka dua atau lebih kurva indiferen tidak mungkin berpotongan satu sama lain.
4) Kurva indiferen berbentuk cembung ke arah titik 0. Sifat ini disebabkan
karena marjinal kemampuan komoditi X untuk menggantikan Y (marginal rate
of substitution of X for Y = MRSx y) semakin menurun dengan semakin banyaknya
barang X.
Substitusi satu barang dengan barang lain dapat terjadi pada kurva
indiferensi yang sama. Perhatikan gambar berikut ini, kurva indiferen
ditunjukkan oleh kurva I. Konsumen berbeda antara set R1 mengandung OX1
barang X dan OY1 unit Y, dan set P mengandung OX2 > OX1 unit X dan OY2
< OY1 unit Y. Konsumen ingin mensubstitusikan X1X2 unit X untuk Y1Y2 unit Y,
tingkat substitusi X terhadap Y adalah

Rasio ini mengukur jumlah rata-rata unit Y konsumen yang ingin menambahkan
unit X. Dengan kata lain, rasio yang mengukur jumlah Y yang harus dikorbankan
untuk mendapatkan per unit X, jika konsumen ingin mendapatkan kepuasan pada
tingkat yang lain. Marginal Rate of Substitution: Marginal rate of subsitution of X for Y
mengukur jumlah unit barang Y yang harus dikorbankan per unit
barang X yang ditambah untuk mempertahankan tingkat kepuasan yang sama bagi
konsumen. MRSXY di setiap titik pada kurva indiferen tertentu ditunjukkan oleh nilai
kemiringan (slope) pada titik tersebut. Pengertian ini hanya berlaku untuk
pergeseran sepanjang satu kurva indiferen.
Gambar 6

MRSXY Makin Menurun


Perhatikan Gambar 2.11, I adalah kurva indiferen berbentuk cembung arah
titik nol yang menunjukkan bahwa MRSx-y semakin menurun karena X
disubstitusikan dengan Y di sepanjang kurva indiferen, sedangkan P, Q dan R
menunjukkan tiga set X dan Y yang berada pada kurva indiferen tersebut. Pada
sumbu horisontal diukur OX1 = X1X2 = X2X3. Misalkan ada pergerakan dari
titik P ke titik Q. Bila titik P letaknya sangat berdekatan dengan titik Q, atau dengan
pengertian lain jumlah X1X2 adalah sangat kecil sekali, maka MRSX for Y di titik Q
adalah:

Begitu juga halnya, pergerakan dari titik Q ke R, besarnya MRSX for Y di titik
R adalah:

Karena X1X2 = X2X3, lihat Gambar 6 sangat jelas, bahwa Y1Y2 lebih besar
dari Y2Y3, maka ini berarti MRSX for Y di titik R lebih kecil dibandingkan di
titik Q. Hal ini sebenarnya juga nampak pada semakin kecilnya nilai kemiringan
(slope) dari garis singgung di titik P, Q, dan R. Kecenderungan
bentuk kurva indiferen seperti ini sering secara intuitif dibenarkan, dalam arti
semakin banyak barang X dimiliki/dikonsumsi seseorang maka tambahan nilai secara
subjektif dari barang tersebut akan semakin berkurang. Begitu pula
sebaliknya. Jadi, dengan semakin sedikitnya jumlah X, maka akan semakin
besar jumlah Y yang harus ditambahkan untuk mengkompensasikan konsumen
karena semakin berkurangnya X tadi. Sebagai contoh, bila konsumen mempunyai
1.000 liter air bersih per unit waktu tertentu, maka konsumen tersebut dengan senang
hati menukarkan 10 liter air miliknya, untuk sepotong roti. Tetapi jika seandainya
konsumen tersebut hanya mempunyai 10 liter air bersih per unit waktu yang sama,
maka besar sekali kemungkinannya ia sangat enggan untuk menukar air miliknya,
meskipun hanya sejumlah 1 liter untuk roti tersebut.

2.2 PERMINTAAN PERORANGAN DAN PERMINTAAN PASAR

Permintaan

Permintaan terhadap barang dan jasa dapat dibedakan menjadi 2, yaitu


permintaan yang dilakukan oleh individu/perorangan tertentu dan permintaan yang
dilakukan oleh semua orang di pasar. Oleh sebab itu dalam analisis perlu dibedakan
antara kurva permintaan perseorangan dan kurva permintaan pasar. Kurva permintaan
pasar diperoleh dengan menjumlahkan kurva permintaan berbagai individu

Hukum Permintaan

“Semakin rendah harga suatu barang, maka makin banyak jumlah barang yang
diminta dan sebaliknya semakin tinggi harga suatu barang, maka jumlah yang diminta
berkurang”
Hukum permintaan adalah suatu peraturan yang harus diikuti dalam perdagangan
valas, bersama dengan Hukum penawaran, kedua hukum ini akan membentuk “trend”.
ilustrasi sebagai berikut :

Jika permintaan akan mata uang USD naik, maka nilai dari mata uang USD akan
naik, dan jika permintaannya turun, maka nilai mata uang USD juga turun. Inilah dasar
dari sebuah trend dalam perdagangan valas. Suatu nilai mata uang naik dikarenakan
banyaknya permintaan atas mata uang yang bersangkutan. Jadi jika trend sedang naik
(permintaan tinggi), yang anda perlu lakukan adalah melakukan posisi long (buy)
mengikuti arus yang sedang ada.
Berdasarkan jumlah konsumennya,Berdasarkan jumlah konsumennya, permintaan
dibedakan atas dua macam : permintaan dibedakan atas dua macam :

a. Permintaan Perorangan
Permintaan Perseorangan adalah permintaan sejumlah barang dan jasa pada waktu dan
tingkat harga tertentu.
kurva permintaan perorangan oleh suatu komuditi dapat diperoleh dari informasi
mengenai selera mereka untuk semua barang serta dari keterbatasan anggaran mereka
seperti :
-perubahan harga
-perubahan pendapat
-substitusi dan komplemen
-barang normal vs barang inferior
-dampak perubahan harga pada jumlah permintaan atas suatu barang

b. Permintaan Pasar
Permintaan Pasar adalah permintaan terhadap sesuatu barang di pasar pada
waktu dan harga tertentu yang dilakukan oleh sekelompok konsumen.
Permintaan (Demand) adalalah jumlah barang dan jasa yang akan dibeli pada berbagai
tingkat harga, waktu dan pada suatu tempat tertentu. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi permintaan, antara lain :

1) Harga Barang
2) Pendapatan Masyarakat
3) Selera Masyarakat
4) Kualitas barang yang bersangkutan
5) Harga barang lain yang berkaitan
6) Waktu
7) Jumlah Penduduk
8) Ramalan Masa Yang akan datang

Elastisitas Permintaan
Elastisitas permintaan merupakaan sejauh mana kepekaan atau tanggapan
terhadap jumlah barang yang diminta jika terjadi perubahan harga baik harga barang tsb
ataupun harga barang lain dan perubahan pendapatan konsumen
macam-macam elastisias permintaan harga :
a) elastis
b) inelastis
c) elastisitas tunggal
d) elastisitas tak terhingga
e) inelastisitas sempurna

Hukum Penawaran
Penawaran Pasar dan Kurva Penawaran Pasar, adalah keinginan dan kemampuan
penjual menawarkan/ memproduksi sejumlah barang pada berbagai tingkat harga.
Hukum Penawaran, hubungan antara jumlah barang yang ditawarkan terhadap
perubahan harga adalah searah, ceteris paribus.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran; Biaya produksi, tingkat persaingan,
teknologi, ekspektasi pasar dan faktor non ekonomi yang lain.
Hukum Penawaran dan Kurva Penawaran
Kita ambil contoh dari hidup kita sehari - hari. Misalkan kita adalah produsen /
pabrik dari baju yang dijual di pasar. Hukum penawaran mengisyaratkan bahwa saat
harga dari baju tersebut naik di pasaran, maka kita memproduksi lebih banyak baju agar
mendapatkan keuntungan. Dengan kata lain misalnya baju kita adalah baju lebaran, saat
harga baju tersebut meningkat maka akan semakin banyak toko yang menawarkan baju
tersebut karena berharap bisa meraup untung yang lumayan.

Jenis-Jenis Penawaran
 Penawaran Individu
Penawaran individu adalah jumlah barang dan/atau jasa yang ditawarkan
seorang penjual atau produsen pada waktu, tempat dan satuan harga tertentu.
 Penawaran Pasar
Penawaran pasar adalah jumlah barang dan/atau jasa yang ditawarkan
sekelompok penjual atau beberapa orang produsen pada waktu, tempat dan satuan harga
tertentu.