Anda di halaman 1dari 3

Hasil Pengamatan Pembakuan KMnO4

V awal V akhir V penggunaan Vrata-rata

Titrasi ke I 50 ml 25.4 ml 24,6 ml

24,6 ml

Titrasi ke II 44.6 ml 20 ml 24,6 ml

V KMnO4 (mL) [KMnO4] (N) V H2C2O4 (mL) [H2C2O4] (N)

24,68 0,1030 25 0,1014

24,52 0,1030 25 0,1014

2. Dalam praktikum ini zat yang akan dititar adalah KMnO4 yang bersifat
oksidator.Larutan KMnO4 dijadikan sebagai larutan baku sekunder karena KMnO4 bersifat
tidak stabil terhadap cahaya, Karena kalium permanganate akan terurai menjadi mangan oksida
apabila terkena sinar matahari. Hal ini akan berpengaruh pada titik akhir titrasi, yang seharusnya
berwarna merah sangat muda menjadi agak kecoklatan dan reaksi berjalan lebih cepat dari yang
seharusnya. sesuai dengan ciri ciri larutan baku sekunder yaitu ...... maka dari itu Pereaksi
kalium permanganat perlu dibakukan terlebih dahulu.
3.Lalu analit yang digunakan dalam percobaan ini adalah asam oksalat yang bersifat
reduktor. Larutan H2C2O4 dijadikan sebagai larutan baku primer karena asam oksalat
bersifat ...........

4. Pemasangan buret pada statif dan kelm harus lurus supaya ketika proses pembacaan
skala volume akan teliti. Sebelum proses titrasi buret yang akan diisi larutan baku sekunder
kmno4 dibilas terleboh dahulu menggunakan kmno4 yang bertujuan agar tidak
terkontaminasi zat lain selain kmno4 , mencegah terjebaknya udara dalam buret, dan
menghindari kesalaan perhitungan sehingga titrasi akan berlangsung akurat. setelah itu baru
masukan larutan kalium permanganat sebanyak 50 ml.

5. Pada saat asam oksalat akan dititrasi oleh kmno4 , tidak menggunakan indikator
karena KMnO4 memiliki sifat autoindikator (reagen yang berfungsi sebagai penandan titik
akhir titrasi). tidak dibutuhkan indikator karena perubahan warna dari tidak berwarna menjadi
merah muda menunjukan titik akhir suatu titrasi warna yang diperoleh pun harus sudah dalam
keadaan tetap, artinya saat melakukan pengadukan, warna merah muda yang muncul tidak
hilang, hal ini menunjukan titik kestabilan. Bisa menjadi sautu autoindikator dengan melepas
mn2+ yang menyebabkan perubahan warna dan mengalami reduksi.

6. asam oksalat yang telah dibuat dimasukkan ke dalam 2 tabung erlenmeyer masing
masing 25 ml dengan menggunakan pipet volume 25 ml dan ditambahkan h2so4 karena
h2so4 bersifat eksoterm (melepas panas) yang bisa mempercepat reaksi dalam kata lain
bertindak sebagai katalisator. Selain itu titrasi permanganometri harus dalam suasana asam
kuat sehingga MnO4- tereduksi menjadi Mn2+ maka dari itu digunakan H2SO4 sebagai
pengasamnya. Hal ini dilakukan karena jika tidak berada dalam suasana asam kuat maka
perubahan warna KMnO4 tidak akan terlihat. Volume H2SO4 yang digunakan hanya 15 ml
karena kadar H2SO4 sudah sangat pekat yaitu 4N. Karena H2SO4 bersifat keras dan
berbahaya jika terhirup dan jika terkena kulit, maka pengambilannya dengan menggunakan
gelas ukur. Dalam reaksi ini H2SO4 hanya berfungsi sebagai pengasam sehingga H2SO4
tidak ikut bereaksi, maka keakuratan volume H2SO4 tidak mempengaruhi hasil titrasi.

Larutan ini kemudian harus dipanaskan pad suhu yang tepat yaitu 70-80 ˚C berfungsi
agar KMnO4 dapat mengoksidasi H2C2O4 (asam oksalat), agar reaksinya berlangsung dengan
cepat,sehingga volume kmno4 yang dihasilkan lebih banyak dan normalitas akan terlampau
rendah. Pemanasan pada suhu melebihi 80 ˚C akan menyebabkan KMnO4 pecah menjadi
KO2 dan MnO2, merusak asam oksalat dan terurai menjadi CO2 dan H2O sehingga hasil
akhir akan lebih kecil. sehingga volume kmno4 yang dihasilkan lebih sedikit dan
normalitasnya akan terlampau tinggi. PEMANASAN PADA SUHU dibawah 70°C-80°C
maka reaksi akan berjalan lambat dan akan mengubah MnO4- menjadi MnO2 yang berupa
endapan cokelat sehingga titik akhir titrasi susah untuk dilihat.

7. prose titrasi dilakukan duplo supaya hasil yang didapat presisi(berkelanjutan), dan
nilai yang didapat akurat (mendekati nilai sebenarnya).

8.