Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sekitar 60% lansia akan mengalami hipertensi setelah berusia 75 tahun. Kontrol

tekanan darah yang ketat pada pasien diabetes berhubungan dengan pencegahan

terjadinya hipertensi yang tak terkendali (Fatimah, 2010).

Hipertensi merupakan gejala yang paling sering ditemui pada orang lanjut usia

dan menjadi faktor risiko utama insiden penyakit kardiovaskular. Karenanya, kontrol

tekanan darah menjadi perawatan utama orang-orang lanjut usia. Jose Roesma, dari

divisi nefrologi ilmu penyakit dalam FKUI-RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

mengungkapkan bahwa pada orang tua umumnya terjadi hipertensi dengan sistolik

terisolasi yang berhubungan dengan hilangnya elastisitas arteri atau bagian dari

penuaan. Jenis yang demikian lebih sulit untuk diobati dibanding hipertensi esensial

atau pada pasien yang lebih muda. Obat-obat antihipertensi terbaru yang bekerja pada

sistem renin-angiotensin-aldosteron, misalnya Angiotensin-Converting Enzyme (ACE)

inhibitor dan angiotensin-receptor blocker memiliki potensi perbaikan kardiovaskular

pada orang tua akibat penurunan tekanan darah efektif (Gunawan, Lany, 2010).

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah bagamanakah asuhan

keperawatan pada lansia dengan gangguan system kardiovaskular (hipertensi) di ruang

Anggrek Rumah Sakit Umum Kota Kendari?

C. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Mengetahui asuhan keperawatan pada lansia dengan gangguan system

kardiovaskular (hipertensi).

1
2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui dan Fisiologi Sistem Kardiovaskuler

b. Mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan

c. Mengetahui asuhan keperawatan pada lansia dengan gangguan system

kardiovaskuler (hipertensi).

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Sistem Kardiovaskuler

1. Anatomi dan Fisiologi Sistem Kardiovaskuler

a. Jantung

Berukuran sekitar satu kepalan tangan dan terletak didalam dada, batas

kanannya terdapat pada sternum kanan dan apeksnya pada ruang intercostalis

kelima kiri pada linea midclavicular (Suyono, Slamet, 2009).

Hubungan jantung adalah:

1) Atas : pembuluh darah besar

2) Bawah : diafragma

3) Setiap sisi : paru

4) Belakang : aorta desendens, oesophagus, columna vertebralis (Suyono,

Slamet, 2009).

b. Arteri

Adalah tabung yang dilalui darah yang dialirkan pada jaringan dan organ.

Arteri terdiri dari lapisan dalam: lapisan yang licin, lapisan tengah jaringan

elastin/otot: aorta dan cabang-cabangnya besar memiliki laposan tengah yang

terdiri dari jaringan elastin (untuk menghantarkan darah untuk organ), arteri

yang lebih kecil memiliki lapisan tengah otot (mengatur jumlah darah yang

disampaikan pada suatu organ) (Suyono, Slamet, 2009).

Arteri merupakan struktur berdinding tebal yang mengangkut darah dari

jantung ke jaringan. Aorta diameternya sekitar 25mm(1 inci) memiliki banyak

sekali cabang yang pada gilirannya tebagi lagi menjadi pembuluh yang lebih

3
kecil yaitu arteri dan arteriol, yang berukuran 4mm (0,16 inci) saat mereka

mencapai jaringan. Arteriol mempunyai diameter yang lebih kecil kira-kira 30

µm (Suyono, Slamet, 2009).

Fungsi arteri menditribusikan darah teroksigenasi dari sisi kiri jantung ke

jaringan. Arteri ini mempunyai dinding yang kuat dan tebal tetapi sifatnya

elastic yang terdiri dari 3 lapisan yaitu :

1) Tunika intima. Lapisan yang paling dalam sekali berhubungan dengan

darah dan terdiri dari jaringan endotel.

2) Tunika Media. Lapisan tengah yang terdiri dari jaringan otot yang sifatnya

elastic dan termasuk otot polos

3) Tunika Eksterna/adventisia. Lapisan yang paling luar sekali terdiri dari

jaringan ikat gembur yang berguna menguatkan dinding arteri (Suyono,

Slamet, 2009).

c. Arteriol

Adalah pembuluh darah dengan dinding otot polos yang relatif tebal.

Otot dinding arteriol dapat berkontraksi. Kontraksi menyebabkan kontriksi

diameter pembuluh darah. Bila kontriksi bersifat lokal, suplai darah pada

jaringan/organ berkurang. Bila terdapat kontriksi umum, tekanan darah akan

meningkat (Suyono, Slamet, 2009).

d. Pembuluh darah utama dan kapiler

Pembuluh darah utama adalah pembuluh berdinding tipis yang berjalan

langsung dari arteriol ke venul. Kapiler adalah jaringan pembuluh darah kecil

yang membuka pembuluh darah utama (Soeparman dkk, 2007).

Kapiler merupakan pembuluh darah yang sangat halus. Dindingnya

terdiri dari suatu lapisan endotel. Diameternya kira-kira 0,008 mm. Fungsinya

4
mengambil hasil-hasil dari kelenjar, menyaring darah yang terdapat di ginjal,

menyerap zat makanan yang terdapat di usus, alat penghubung antara

pembuluh darah arteri dan vena (Soeparman dkk, 2007).

e. Sinusoid

Terdapat limpa, hepar, sumsum tulang dan kelenjar endokrin. Sinusoid

tiga sampai empat kali lebih besar dari pada kapiler dan sebagian dilapisi

dengan sel sistem retikulo-endotelial. Pada tempat adanya sinusoid, darah

mengalami kontak langsung dengan sel-sel dan pertukaran tidak terjadi

melalui ruang jaringan.

Saluran Limfe mengumpulkan, menyaring dan menyalurkan kembali

cairan limfe ke dalam darah yang ke luar melalui dinding kapiler halus untuk

membersihkan jaringan. Pembuluh limfe sebagai jaringan halus yang terdapat

di dalam berbagai organ, terutama dalam vili usus (Soeparman dkk, 2007).

f. Vena dan venul

Venul adalah vena kecil yang dibentuk gabungan kapiler. Vena dibentuk

oleh gabungan venul. Vena memiliki tiga dinding yang tidak berbatasan secara

sempurna satu sama lain (Gallo, 2008).

Vena merupakan pembuluh darah yang membawa darah dari bagian atau

alat-alat tubuh masuk ke dalam jantung. Vena yang ukurannya besar seperti

vena kava dan vena pulmonalis. Vena ini juga mempunyai cabang yang lebih

kecil disebut venolus yang selanjutnya menjadi kapiler. Fungsi vena

membawa darah kotor kecuali vena pulmonalis, mempunyai dinding tipis,

mempunyai katup-katup sepanjang jalan yang mengarah ke jantung (Gallo,

2008).

5
2. Pengaruh Proses Penuaan Terhadap Sistem Kardiovaskuler

a. Penuaan normal

Dengan meningkatnya usia, jantung dan pembuluh darah mengalami

perubhan bik struktur maupun fungsional. Secara umum perubahan yang

disebabkan oleh penuaan berlangsung lambat dan dengan awitan yang tidak

disadari. Penurunan yang terjadi berangsur - angsur ini sering terjadi ditandai

dengan penurunan tingkat aktivitas, yang mengakibatkan penurunan kebutuhn

darah teroksidasi. Namun perubahan yang menyertai penurunan kebutuhan

darah yang teroksidasi. Namun, perubahan yang menyertai penuaan ini

menjadi lebih jelas ketika sistem ditekan untuk meningkatkan keluarnya dalam

memenuhi peningkatan kebutuhan tubuh. Perubahan normal akibat penuaan

pada sistem kardiovaskuler dirangkum pada tabel 14-1 (Gallo, 2008).

Tabel 14-1 Perubahan Normal Pada Sitem Kardiovaskuler Akibat Penuaan

Perubahan normal yang


Implikasi Klinis
Berhubungan dengan Penuaan
Ventrikel kiri menebal Penurunan kekuatan kontraksi
Katup jantung menebal dan Gangguan aliran darah melalui katup
membentuk penonjolan
Jumlah sel pacamaker menurun Umum terjadi disritmi
Artikel menjadi kaku dan tidak Penumpulan respons baroreseptor
lurus pada kondisi dilatasi
Penurunan respon terhadap panas dan
dingin
Vena mengalami dilatasi, katup – Edema pada ekstremitas bwah dengan
katup menjadi tidak kompeten penumpukan darah

b. Perubahan Struktur

Biasanya, ukuran jantung seseorang tetap proposional dengan berat

badan. Adanya suatu hipertropi atau atrofi yang terlihat jelas berarti tidak

normal, tetapi hal tersebut lebih merupakan tanda dari penyakit jantung.

6
Ukuran ruang – ruang jantung tidak berubah dengan penuaan. Ketebalan

dinding ventrikel kiri cenderung sedikit meningkat dengan penuaan karena

adanya peningkatan densitas kolagen danm hilangnya fungsi serat – serat

elastis. Oleh karena itu, penuaan pada jantung menjadi kurang mampu untuk

distensi, dengan kekuataan kontraksi yang kurang efektif (Soeparman dkk,

2007).

Area permukaan didalam jantung yang telah mengalami aliran darah

dengan tekanan tinggi, seperti pada katup aorta dan katup mitral, mengalami

penebalan dan terbentuknya penonjolan sepanjang garis katup.

Kekakuaan pada bagian dasar pangkal aorta mengalami pembukaan

katup secara lengkap sehingga menyebabkan obstruksi parsial terhadap aliran

darah selama denyut sistol. Tidk sempurnanya pengosongan ventrikel dapat

terjadi selama waktu peningkatan denyut jantung (misal demam, stres, dan

olahraga) dan gangguan arteri koronel dan sirkulasi sistemik (Gallo, 2008).

Perubahan struktur memengaruhi konduksi sistem jantung melalui

peningkatan jumlah jaringan jumlah jaringan fibrosa dan jaringan ikat. Jumlah

total sel – sel pacemaker mengalami penurunan seiring bertambahnya usia;

oleh karena itu, hanya sekitar 10% jumlah yang ditemukaan pada usia dewasa

muda yang masih terdapat pada usia 75 tahun. Berkas his kehilangan serta

konduksi yang membawa implus ke ventrikel. Selain itu, penebalan pada

jaringan slstis dan retikuler dengan infiltrsi lemak terjadi pad daerah nodus

sinotrial.

Dengan bertambahnya usia, sistem aorta dan arteri perifer menjadi kaku

dan tidak lurus. Perubahan ini terjadi akibat peningkatan serat kolgen dan

hilangnya serat elastis dalam lapisan medial arteri. Lapisan intima arteri

7
menebal dengan peningkatan deposit kalsium. Proses perubahan yang

berhubungan dengan penuaan ini meningkatkan kekakuaan dan ketebalaan

yang disebut dengan arteriosklerosis. Sebagai suatu mekanisme kompensasi,

aorta dan arteri besr lain secara progresif mengalami dilatasi untuk menerima

lebih banyak volume darah. Vena menjadi meregang dan mengalami dilatasi

dalam cara yang hampir sama. Katup – katup vena menjadi tidak kompeten

atau gagal untuk menutup secara sempurna (Gallo, 2008).

c. Perubahan Fungsi

Curah jantung pada saat beristirahat tetap stabil atau sedikit menurun

seiring bertambahnya usia, dan denyut jantung istirahat juga menurun. Karena

miokardium mengalami penebalan dan kurang dapat direnggakan, dengan

katup-katup yang lebih kaku, peningkatan waktu pengisian diastolik dan

peningkatan tekanan pengisian diastolik diperlukan untuk mempertahankan

preload yang adekuat. Jantung yang mengalami penuaan juga lebih

bergantung pada kontraksi atrium, atau volume darah yang diberikan pada

ventrikel sebagai hasil dari kontraksi atrial yang terkoordinasi. Dua kondisi

yang menempatkan lansia pada resiko untuk mengalami tidak adekuatnya

curah jantung adalah takikardia, yang disebabkan oleh pemendekan waktu

pengisian ventrikel, dan vibrilasi atrial yang disebabakan oleh hilangnya

kontraksi atrial (Fatimah, 2010).

Jantung yang masih muda memenuhi peningkatan kebutuhan terhadap

darah yang teroksiginasi dengan cara meningkatkan denyut jantung sebagai

respon terhadap meningkatkan kadar katekolamin. Walaupun penelitian

menunjukan bahwa lansia tidak mengalami pengurangan kadar katekolamin,

respon mereka terhadap mediator kimia ini mengalami penumpulan. Pada

8
lansia fenomena ini terungkap melalui hilangnya respon denyut jantung

terhadap latihan atau stress. Prinsip mekanisme yang digunakan oleh jantung

yang mengalami penuaan untuk meningkatkan curah jantung adalah dengan

meningkatkan volume akhir diastolik, yang meningkatan volume sekuncup

(dikenal sebagai hukum starling). Jika waktu pengisian diastolik tidak

memadai (seperti pada takikardia) atau ventrikel menjadi terlalu distensi

(seperti pada keadaan gagal jantung) mekanisme in dapat gagal. Gejala-gejala

sesak nafas (dispnea) dan kelientikan terjadi ketika jantung tidak dapat

memberikan suplai darah yang mengadnung oksigen secara adekuat pada

tubuh untuk memenuhi kebutuhan atau ketika jantung tidk dapat secara efektif

mengeluarkan produk sampah metabolic (Brunner & Suddarth, 2002).

Irama jantung yang tidak sesuai dan koordiansi aktivitas fisik yang

mengendalikan siklus kardial menjadi distrismik dan tidak terkoordiasni

dengan bertambahnya usia. Kehilangnya sel pacemaker dan infiltrasi lemak

kedalam jaringan konduktif menghasilkan distritmia atrial dan ventrikular.

Sinus distritmia, seperti sick sinus sindrome dan sinus badikardia, adalah hal

yang sering terjadi dan dapat menimbulkan rasa pusing, jatuh, palpitasi atau

perubahan staus mental.

Prinsip perubahan fungsional terkait usia yang dihubungkan dengan

pembuluh darah secara progesif meningkatan tekanan sistolik. American Heart

Association merekomendasikan bahwa nilai sistolik 160mmHg dianggap

sebagai normal teringgi untuk lansia. Tidak ada perubahan dalam tekanan

diastolik adalah normal. Kemungkinan diakibatkan oleh kekauan pembuluh

darah atau karena selama bertahun-tahun menerima aliran darah bertekanan

tinggi, baroreseptor yang terletak di arkus aorta dan sisnus karotis menjadi

9
tumpul atau kurang sensitif. Penumpulan ini menjyebabkan masalah yang

berhubungan hipotensi ortostatik karena hal tersebut membuat pembuluh

darah tidak mampu untuk melakukan vasokontriksi sebgai respon terhadp

perubahan posisi yang cepat.

3. Hipertensi pada lansia

a. Definisi

Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana

tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada

populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan

tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer,2001) dalam (Ma’rifatul Lilik Azizah,

2011).

Menurut WHO ( 1978 ), tekanan darah sama dengan atau diatas 160 / 95

mmHg dinyatakan sebagai hipertensi (Gunawan, Lany, 2010).

b. Etiologi

Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya

perubahan – perubahan pada :

1) Elastisitas dinding aorta menurun

2) Katub jantung menebal dan menjadi kaku Kemampuan jantung memompa

darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun kemampuan

jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan

volumenya.

3) Kehilangan elastisitas pembuluh darah Hal ini terjadi karenakurangnya

efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi Meningkatnya resistensi

pembuluh darah perifer Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan

pasti penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor

10
yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah

sebagai berikut (Brunner & Suddarth, 2002) :

a) Faktor keturunan

Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan

lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah

penderita hipertensi (Gunawan, Lany, 2010).

Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah:

i) Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat )

ii) Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan )

iii) Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih )

b) Kebiasaan hidup

Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah :

Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr )

c) Kegemukan atau makan berlebihan

d) Stress

e) Merokok

f) Minum alcohol

g) Minum obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin )

4) Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah

a) Ginjal

b) Glomerulonefritis

c) Pielonefritis

d) Nekrosis tubular akut

e) Tumor

f) Vascular

11
g) Aterosklerosis

h) Hiperplasia

i) Trombosis

j) Aneurisma

k) Emboli kolestrol

l) Vaskulitis

m) Kelainan endokrin

n) DM

o) Hipertiroidisme

p) Hipotiroidisme

q) Saraf

r) Stroke

s) Ensepalitis

t) SGB

u) Obat – obatan

v) Kontrasepsi oral

w) Kortikosteroid (Brunner & Suddarth, 2002).

c. Patofisiologi

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah

terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini

bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan

keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen.

Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke

bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron

preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca

12
ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin

mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan

dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang

vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin,

meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi

(Brunner & Suddarth, 2002).

Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh

darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang,

mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi

epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi

kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor

pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal,

menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I

yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang

pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini

menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan

peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan

keadaan hipertensi(Brunner & Suddarth, 2002).

Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural

dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan

tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi

aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi

otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan

distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri

besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang

13
dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang

jantung dan peningkatan tahanan perifer (Brunner & Suddarth, 2002).

Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi

palsu” disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh

cuff sphygmomanometer (Suwarsa, 2006).

Pathway

14
d. Tanda dan Gejala

1) Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :

a) Tidak ada gejala

Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan

peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter

yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah

terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur (Arif, 2013).

b) Gejala yang lazim

Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi

meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan

gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari

pertolongan medis (Arif, 2013).

Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang

menderita hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala, pusing Lemas, kelelahan,

Sesak nafas, Gelisah, Mual Muntah, Epistaksis, Kesadaran menurun (Arif,

2013).

e. Pemeriksaan Penunjang

1) Hemoglobin / hematokrit

Untuk mengkaji hubungan dari sel – sel terhadap volume cairan ( viskositas)

dan dapat mengindikasikan factor – factor resiko seperti hiperkoagulabilitas,

anemia. BUN : memberikan informasi tentang perfusi ginjal (Stanley dkk,

2006).

a) Glukosa

Hiperglikemi ( diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi ) dapat

diakibatkan oleh peningkatan katekolamin ( meningkatkan hipertensi )

15
b) Kalium serum

c) Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama (

penyebab ) atau menjadi efek samping terapi diuretik.

d) Kalsium serum

Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi

e) Kolesterol dan trigliserid serum

Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya

pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler )

f) Pemeriksaan tiroid

Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi

g) Kadar aldosteron urin/serum

Untuk mengkaji aldosteronisme primer ( penyebab )

h) Urinalisa

Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau

adanya diabetes.

i) Asam urat

Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi

j) Steroid urin

Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme

k) IVP

l) Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim

ginjal, batu ginjal / ureter

m) Foto dada

Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran jantung

16
n) CT scan

Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati

o) EKG

Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan

konduksi, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini

penyakit jantung hipertensi

f. Penatalaksanaan

Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan

mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan

pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.

Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi (Ma’rifatul Lilik Azizah, 2011):

1) Terapi tanpa Obat

Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan

sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa

obat ini meliputi :

a) Diet

Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :

i) Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr

ii) Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh

iii) Penurunan berat badan

iv) Penurunan asupan etanol

v) Menghentikan merokok

vi) Latihan Fisik

b) Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan

untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat

17
prinsip yaitu Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari,

jogging, bersepeda, berenang dan lain-lain

2) Edukasi Psikologis

Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi :

3) Tehnik Biofeedback

Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada

subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek

dianggap tidak normal.

Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik

seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan psikologis seperti

kecemasan dan ketegangan.

4) Tehnik relaksasi

Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk

mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita

untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks

5) Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan )

Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien

tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat

mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

6) Terapi dengan Obat

Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja

tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar

penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu

dilakukan seumur hidup penderita (Ma’rifatul Lilik Azizah, 2011).

18
B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

a. Riwayat Kesehatan/Keperawatan

1) Keluhan Utama :

a) Nyeri dada

b) Sesak nafas

c) Edema

2) Riwayat Kesehatan :

Digunakan untuk mengumpulkan data tentang kebiasaan yang

mencerminkan refleksi perubahan dan sirkulasi oksigen.

a) Nyeri : lokasi, durasi, awal pencetus, kwalitas, kuantitas, faktor yang

memperberat/memperingan, tipe nyeri.

b) Integritas neurovaskuler : mengalami panas, mati rasa, dan perasaan

geli.

c) Status pernafasan : sukar bernafas, nafas pendek, orthopnoe,

paroxysmal nocturnal dyspnoe dan efek latihan pada pernafasan.

d) Ganngguan sirkulasi : peningkatan berat badan, perdarahan, pasien

sudah lelah.

3) Riwayat kesehatan sebelumnya : penyekit yang pernah diderita, obat-obat

yang digunakan dan potensial penyakit keturunan.

a) Kebiasaan pasien : diet, latihan, merokok dan minuman.

4) Riwayat Perkembangan :

Struktur system kardiovaskuler berubah sesuai usia.

a) Efek perkembangan fisik denyut jantung.

b) Produksi zat dalam darah.

19
c) Tekanan darah.

5) Riwayat Sosial :

a) Cara hidup pasien.

b) Latar belakang pendidikan

c) Sumber-sumber ekonomi.

d) Agama

e) Kebudayaan dan etnik.

6) Riwayat Psikologis :

Informasi tentang status psikologis penting untuk mengembangkan

rencana asuhan keperawatan.

a) Mengidentifikasi stress/sumber stress.

b) Mengidentifikasi cara koping, mekanisme dan sumber-sumber coping

(Ibrahim, 2010).

b. Pengkajian Fisik

1) Jantung

Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan fisik umum dan khusus pada

jantung. Sebelum melakukan pemeriksaan fisik khusus pada jantung, maka

penting terlebih dahulu melihat pasien secara keseluruhan/keadaan umum

termasuk mengukur tekanan darah, denyut nadi, suhu badan dan frekuensi

pernafasan.

Keadaan umum secara keseluruhan yang perlu dilihat adalah :

a) Bentuk tubuh gemuk/kurus

b) Anemis

c) Sianosis

d) Sesak nafas

20
e) Keringat dingin

f) Muka sembab

g) Oedem kelopak mata

h) Asites

i) Bengkak tungkai/pergelangan kaki

j) Clubbing ujung jari-jari tangan

Pada pasien khususnya penyakit jantung amat penting melakukan

pemeriksaan nadi adalah :

a) Kecepatan/menit

b) Kuat/lemah (besar/kecil)

c) Teratur atau tidak

d) Isi setiap denyut sama kuat atau tidak.

Inspeksi

a) Lihat dan perhatikan impuls dari iktus kordis

i. Mudah terlihat pada pasien yang kurus dan tidak terlihat pada

pasien yang gemuk atau emfisema pulmonum.

ii. Yang perlu diperhatikan adalah Titik Impuls Maksimum (Point

of Maximum Impulse). Normalnya berada pada ruang

intercostals V pada garis midklavikular kiri.

iii. Apabila impuls maksimum ini bergeser ke kiri berarti ada

pembesaran jantung kiri atau jantung terdorong atau tertarik

kekiri (Nugroho W. 2010).

b) Toraks/dada

Pasien berbaring dengan dasar yang rata. Pada bentuk dada “Veussure

Cardiac” dinding totaks di bagian jantung menonjolm menandakan

21
penyekit jantung congenital. Benjolan ini dapat dipastikan dengan

perabaan. Vena Jugularis Eksterna (dileher kiri dan kanan)

Teknik pemeriksaan :

i. Posisi pasien setengah duduk dengan kemiringan ± 45º

ii. Leher diluruskan dan kepala menoleh sedikit kekiri pemeriksa di

kanan pasien

iii. Perhatikan vena jugularis eksterna yang terletak di leher ;

apakah terisi penuh/sebagian, di mana batas atasnya bergerak

naik turun.

iv. Dalam keadaan normal vena jugularis eksterna tersebut

kosong/kolaps.

v. Vena jugularis yang terisi dapat disebabkan oleh :

(1) Payah jantung kanan (dengan atau tanpa jantung kiri).

(2) Tekanan intra toraks yang meninggi.

(3) Tamponade jantung.

(4) Tumor mediastinum yang menekan vena cava superior.

Palpasi

Palpasi dapat mengetahui dan mengenal ukuran jantung dan denyut

jantung. Point of Maximum Impuls dipalpasi untuk mengetahui getaran

yang terjadi ketika darah mengalir melalui katup yang menyempit atau

mengalami gangguan (Stanley dkk, 2006).

Dengan posisi pasien tetap terlentang kita raba iktus kordis yang kita amati

pada inspeksi. Perabaan dilakukan dengan 2 jari (telunjuk dan jari tengah)

atau dengan telapak tangan.

a) Yang perlu dinilai adalah :

22
i. Lebar impuls iktus kordis

ii. Kekuatan angkatnya

iii. Normal lebar iktus kordis tidak melebihi 2 jari. Selain itu perlu

pula dirasakan (dengan telapak tangan) :

(1) Bising jantung yang keras (thrill)

(2) Apakah bising sistolik atau diastolic

(3) Bunyi murmur

(4) Friction rub (gesekan pericardium dengan pleura)

(5) Iktus kordis yang kuat dan melebar tanda dari

pembesaran/hipertropi otot jantung akibat latihan/atlit,

hipertensi,

(6) hipertiroid atau kelainan katup jantung.

Perkusi

Dengan posisi pasien tetap berbaring/terlentang kita lakukan pemeriksaan

perkusi. Tujuannya adalah untuk menentukan batas jantung (batas atas

kanan kiri). Teknik perkusi menuntut penguasaan teknik dan pengalaman,

diperlukan keterampilan khusus. Pemeriksa harus mengetahui tentang apa

yang disebut sonor, redup dan timpani (Nugroho W. 2010).

Auskultasi

Pemeriksaan auskultasi untuk menentukan denyut jantung, irama jantung,

bunyi jantung, murmur dan gesekan (rub). Bunyi jantung perlu dinilai

kualitas dan frekuensinya. Bunyi jantung merupakan refleksi dari

membuka dan menutupnya katup dan terdengar di titik spesifik dari

dinding dada.

23
a) Bunyi jantung I (S1) dihasilkan oleh penutupan katup atrioventrikuler

(mitral dan trikuspidalis).

b) Bunyi jantung II (S2) disebabkan oleh penutupan katup semilunar

(aorta dan pulmonal).

c) Bunyi jantung III (S3) merupakan pantulan vibrasi ventrikuler

dihasilkan oleh pengisian ventrikel ketika diastole dan mengikuti S2.

d) Bunyi jantung IV (S4) disebabkan oleh tahanan untuk mengisi

ventrikel pada diastole yang lambat karena meningkatnya tekanan

diastole ventrikel atau lemahnya penggelembungan ventrikel.

Bunyi bising jantung disebabkan oleh pembukaan dan penutupan katup

jantung yang tidak sempurna. Yang perlu diperhatikan pada setiap bising

jantung adalah (Kushariyadi, 2010) :

a) Apakah bising sistolik atau diastolic atau kedua-duanya.

b) Kenyaringan (keras-lemah) bising.

c) Lokasi bising (yang maksimal).

d) Penyebaran bising.

Adapun derajat kenyaringan bising jantung dipengaruhi oleh :

a) Kecepatan aliran darah yang melalui katup.

b) Derajat kelainan/gangguan katup.

c) Tebal tipisnya dinding toraks.

d) Ada tidaknya emfisema paru.

Tingkat kenyaringan bising jantung meliputi :

a) Tingkat I : sangat lemah, terdengar pada ruangan amat sunyi.

b) Tingkat II : lemah, dapat didengar dengan ketelitian.

c) Tingkat III : nyaring, segera dapat terdengar/mudah didengar.

24
d) Tingkat IV : amat nyaring tanpa thrill.

e) Tingkat V : amat nyaring dengan thrill (getaran teraba)

f) Tingkat VI : dapat didengar tanpa stetoskop.

Murmur adalah bunyi hasil vibrasi dalam jantung dan pembuluh darah

besar disebabkan oleh bertambahnya turbulensi aliran. Pada murmur dapat

ditentukan :

a) Lokasi : daerah tertentu/menyebar

b) Waktu : setiap saat, ketika sistolik/diastolic.

c) Intensitas :

i. Tingkat 1 : sangat redup.

ii. Tingkat 2 : redup

iii. Tingkat 3 : agak keras

iv. Tingkat 4 : keras

v. Tingkat 5 : sangat keras

vi. Tingkat 6 : kemungkinan paling keras.

d) Puncak : kecepatan aliran darah melalui katup dapat berupa rendah,

medium dan tinggi.

e) Kualitas : mengalir, bersiul, keras/kasar, musical, gaduh atau serak.

f) Gesekan (rub) adalah bunyi yang dihasilkan oleh parietal dan visceral

oleh perikarditis. Bunyi kasar, intensitas, durasi dan lokasi tergantung

posisi klien (Ma’rifatul Lilik Azizah, 2011).

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul adalah :

a. Resiko penurunan cardiac output b/d adanya kelainan structural jantung.

25
b. Intolerans aktivitas b/d ketidakseimbangan pemenuhan O2 terhadap

kebutuhan tubuh.

c. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d oksigenasi tidak adekuat,

kebutuhan nutrisis jaringan tubuh, isolasi social.

d. Resiko infeksi b/d keadaan umum tidak adekuat (Kushariyadi, 2010).

3. Rencana Intervensi

a. Resiko penurunan cardiac output b/d adanya kelainan structural jantung.


Tujuan: penurunan cardiac output tidak terjadi.

Kriteria hasil: tanda vital dalam batas yang dapat diterima, bebas gejala gagal

jantung, melaporkan penurunan episode dispnea, ikut serta dalam aktifitas

yang mengurangi beban kerja jantung, urine output adekuat: 0,5 – 2 ml/kgBB.

Rencana intervensi dan rasional:

Intervensi Rasional
- Kaji frekuensi nadi, RR, TD - Memonitor adanya perubahan sirkulasi
secara teratur setiap 4 jam. jantung sedini mungkin.
- Catat bunyi jantung. - Mengetahui adanya perubahan irama
- Kaji perubahan warna kulit jantung.
terhadap sianosis dan pucat. - Pucat menunjukkan adanya penurunan
- Pantau intake dan output perfusi perifer terhadap tidak adekuatnya
setiap 24 jam. curah jantung. Sianosis terjadi sebagai
- Batasi aktifitas secara adekuat. akibat adanya obstruksi aliran darah pada
- Berikan kondisi psikologis ventrikel.
lingkungan yang tenang. - Ginjal berespon untuk menurunkna curah
jantung dengan menahan produksi cairan
dan natrium.
- Istirahat memadai diperlukan untuk
memperbaiki efisiensi kontraksi jantung
dan menurunkan komsumsi O2 dan kerja
berlebihan.
- Stres emosi menghasilkan vasokontriksi
yang meningkatkan TD dan
meningkatkan kerja jantung.

26
b. Intoleransaktivitas b/d ketidakseimbangan pemenuhan O2 terhadap
kebutuhan tubuh.

Tujuan : Pasien akan menunjukkan keseimbangan energi yang adekuat.

Kriteria hasil: Pasien dapat mengikuti aktifitas sesuai kemampuan, istirahat

tidur tercukupi.

Rencana intervensi dan rasional :

Intervensi Rasional

- Ikuti pola istirahat pasien, - Menghindari gangguan pada istirahat tidur


hindari pemberian intervensi pasien sehingga kebutuhan energi dapat
pada saat istirahat. dibatasi untuk aktifitas lain yang lebih
- Lakukan perawatan dengan penting.
cepat, hindari pengeluaran - Meningkatkan kebutuhan istirahat pasien
energi berlebih dari pasien. dan menghemat energi paisen.
- Bantu pasien memilih kegiatan - Menghindarkan psien dari kegiatna yang
yang tidak melelahkan. melelahkan dan meningkatkan beban kerja
- Hindari perubahan suhu jantung.
lingkungan yang mendadak. - Perubahan suhu lingkungna yang
- Kurangi kecemasan pasien mendadak merangsang kebutuhan akan
dengan memberi penjelasan oksigen yang meningkat.
yang dibutuhkan pasien dan - Kecemasan meningkatkan respon
keluarga. psikologis yang merangsang peningkatan
- Respon perubahan keadaan kortisol dan meningkatkan suplai O2.
psikologis pasien (menangis, - Stres dan kecemasan berpengaruh
murung dll) dengan baik. terhadap kebutuhan O2 jaringan.

c. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d oksigenasi tidak adekuat,


kebutuhan nutrisis jaringan tubuh, isolasi social.

Tujuan: Pertumbuhan dan perembangan dapat mengikuti kurca tumbuh

kembang sesuai dengan usia.

Kriteria hasil: Pasien dapat mengikuti tahap pertumbuhan dan perkembangan

yang sesuia dengan usia, pasien terbebas dari isolasi social.

Rencana intervensi dan rasional :

Intervensi Rasional
- Sediakan kebutuhan nutrisi - Menunjang kebutuhan nutrisi pada masa
adekuat. pertumbuhan dan perkembangan serta

27
- Monitor BB/TB, buat catatan meningkatkan daya tahan tubuh.
khusus sebagai monitor. - Sebagai monitor terhadap keadaan
- Kolaborasi intake Fe dalam pertumbuhan dan keadaan gizi pasien
nutrisi. selama dirawat.
- Mencegah terjadinya anemia sedini
mungkin sebagi akibat penurunan kardiak
output.

d. Resiko infeksi b/d keadaan umum tidak adekuat.

Tujuan : Infeksi tidak terjadi.

Kriteria hasil: Bebas dari tanda – tanda infeksi.

Rencana intervensi dan rasional :

Intervensi Rasional
- Kaji tanda vital dan tanda – - Memonitor gejala dan tanda infeksi sedini
tanda infeksi umum lainnya. mungkin.
- Hindari kontak dengan sumber - Menghindarkan pasien dari kemungkinan
infeksi. terkena infeksi dari sumber yang dapat
- Sediakan waktu istirahat yang dihindari.
adekuat. - Istirahat adekuat membantu meningkatkan
- Sediakan kebutuhan nutrisi keadaan umum pasien.
yang adekuat sesuai kebutuhan. - Nutrisi adekuat menunjang daya tahan
tubuh pasien yang optimal.

28
BAB III

PEMBAHASAN

Simulasi Kasus

A. Pengkajian

1. Identitas Klien

Nama Klien : Ny. S.

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 69 th.

Agama : Islam

Status Marital : Menikah 2 kali, tapi tidak dikaruniai anak.

Pendidikan Terakhir : SD

Pekerjaan :-

Alamat : Benu-benua

2. Status Kesehatan Saat ini

Ibu S mengeluh pusing sejak pagi. Sakit kepalanya berdenyut-denyut. Pusing

semakin dirasakan jika Ibu S berjalan dan berkurang jika istirahat. Kadang Ibu S

merasakan ada yang kaku di lehernya. Ibu S mengatakan kurang paham mengenai

penyakit hipertensi

3. Riwayat Kesehatan Dahulu

Ibu S mengatakan beberapa tahun yang lalu pernah mengalami sakit jantung dan

berobat ke rumah sakit.

4. Riwayat Kesehatan Keluarga

Ibu S mengatakan di keluarganya tidak ada yang menderita penyakit gula. Ibu S

mengatakan ayahnya menderita penyakit tekanan darah tinggi.

29
5. Pemeriksaan Tanda-tanda Vital

Tekanan darah : 160/110 mmHg

Nadi : 84 kali/menit

Suhu : 36.6 oC

Respirasi : 20 kali/menit

Berat badan : 40 kg

6. Pemeriksaan Fisik

a. Keadaan umum

Keadaan Ibu S tampak sedikit lemah. Ketika berjalan tampak memegangi

penghuni panti lainnya agar tidak jatuh.

b. Kepala, wajah, mata, leher

1) Kepala tampak bulat, tidak ada lesi dan benjolan, rambut tampak beruban

2) Sklera tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis, pupil isokor

3) Tidak teraba ada pembesaran kelenjar getah bening

4) Hidung tampak simetris, tidak tampak ada cairan berlebih

c. Sistem pernapasan

Bentuk thorax normal, tidak tampak ada retraksi intercostal, vocal premitus

merata di semua lapang paru, perkusi terdengar sonor, auskultasi terdengar

vesicular

d. Sistem kardiovaskuler

Auskultasi tidak terdengar murmur e. Sistem urinaria Ibu S BAK 2-3 kali sehari,

tidak sakit saat BAK dan lancar.

30
e. Sistem muskulosceletal

Kedua kaki Ibu S tampak sejajar dan sama besar dan panjang. Tidak tampak

adanya kifosis dan scoliosis. Kemampuan mengubah posisi baik, kekuatan otot

tangan pada saat meremas agak lemah.

f. Sistem syaraf pusat

1) Nervus I (Olfactorius) : Ibu S dapat membedakan bau dari minyak kayu putih

dan minyak wangi/parfum.

2) Nervus II (Opticus) : Ibu S sudah tidak dapat melihat jauh tulisan, orang dan

benda-benda yang kecil, tapi Ibu S tidak menggunakan bantuan kacamata.

3) Nervus III, IV, V (Oculomotoris, Trochlearis, Abdusen)

4) Nervus V (Trigeminus) : Sensasi sensorik kulit wajah klien baik, dapat

merasakan goresan kapas pada pipi kanan.

5) Nervus VII (Facialis) : Ibu S dapat, menggerakan alis dan mengerutkan dahi

6) Nervus VIII (Vestibulococlear) : Fungsi keseimbangan baik

7) Nervus IX, X (Glasopharingeus, Vagus) : Reflek menelan baik

8) Nervus XI (Accesorius) : Ibu S dapat menggerakkan kedua bahunya dan

menggerakkan kepalanya

9) Nervus XII : Ibu S dapat berbicara dengan jelas dan lidah berfungsi baik

g. Sistem endokrin Ibu S mengatakan tidak mempunyai penyakit gula dan gondok.

h. Sistem reproduksi Ibu S mengatakan belum menikah

i. Sistem integument Kulit tampak keriput, warna kulit sawo matang, tidak tampak

ada lesi, elastisitas kulit berkuang.

7. Pengkajian Psikososial & Spiritual

31
a. Psikososial Ibu S mengatakan dapat bersosialisasi dengan penghuni panti

lainnya, karena dengan bersosialisasi dapat membina hubungan yang baik

dengan orang lain. Status emosi Ibu S stabil dan kooperatif saat diajak bicara.

b. Spiritual Ibu S mengatakan selalu menjalankan ibadah sholat lima waktu. Ibu S

memasrahkan semuanya pada Allah SWT.

8. Pengkajian Fungsional Klien

a. Katz index

No Kegiatan Mandiri Bantuan Sebagian Bantuan Penuh


.
1. Mandi √
2. Berpakaian √
3. Ke Kamar Kecil √
4. Berpindah Tempat √
5. BAK/BAB √
6. Makan/Minum √

Ibu S dapat beraktivitas secara mandiri tanpa pengawasan, pengarahan, atau

bantuan aktif dari orang lain.

b. Barthel index

No. Kegiatan Dengan Bantuan Mandiri


1. Makan/Minum 0 10
2. Berpindah dari kursi roda ke tempat 0 15
tidur/sebaliknya
3. Kebersihan diri (cuci muka, gosok gigi, 0 5
menyisir rambut)
4 Keluara masuk kamar mandi (menyeka 0 10
tubuh, menyiram, mencuci baju)
5. Mandi 0 15
6. Jalan-jalan di permukaan datar 0 5
7. Naik turun tangga 0 10
8. Memakai baju 0 10
9. Kontrol BAK 0 10
10. Kontrol BAB 0 10
Jumlah 0 100

Keterangan: Jumlah skor 100 = mandiri Jumlah skor 50-95 = ketergantungan

sebagian Jumlah skor kurang dari 45 = ketergantungan total

32
ANALISA DATA

No. Data Senjang Kemungkinan Penyebab Masalah


1. DS : Arteri besar kehilangan Nyeri Kepala
- Ibu S mengatakan kelenturannya dan menjadi kaku,
sakit kepala Pembuluh darah tidak dapat
- Sakit kepalanya mengembang, Pembuluh darah
berdenyut-denyut menjadi sempit, Peningkatan
- Kadang Ibu S tekanan darah, Peningkatan
merasakan ada yang tekanan vaskular serebral, Nyeri
kaku di kuduknya. kepala
DO :
- Ibu S tampak sering
memegangi kepalanya
- TD :160/110 mmHg
- Nadi : 84 x/menit
- Suhu : 36.6 oC
- Respirasi : 20 x/menit
2. DS : Hipertensi, Kurang terpapar Kurang
- Ibu S mengatakan informasi tentang hipertensi, pengetahuan
kurang tahu mengenai Kurang pengetahuan tentang tentang
penyakit hipertensi hipertensi hipertensi

DO :
- Ibu S tampak sering
bertanya tentang
penyakit tekanan
darah tinggi

33
B. Diagnosa Keperawatan

RUMUSAN
NO DATA DOMAIN KODE DIAGNOSIS SASARAN
KEPERAWATAN
1 DS : Domain 12 : 00132 Nyeri Akut Individu
- Ibu S mengatakan Rasa Nyaman
sakit kepala
- Sakit kepalanya
berdenyut-denyut
- Kadang Ibu S
merasakan ada
yang kaku di
kuduknya.
DO :
- Ibu S tampak
sering memegangi
kepalanya
- TD :160/110
mmHg
- Nadi : 84 x/menit
- Suhu : 36.6 oC
- Respirasi : 20
x/menit

2 DS : Domain 5 : 00126 Kurangnya Individu


- Ibu S mengatakan Persepsi/Kognisi pengetahuan
kurang tahu
mengenai penyakit
hipertensi
DO :
- Ibu S tampak
sering bertanya
tentang penyakit
tekanan darah
tinggi

34
C. Rencana Intervensi Keperawatan

DIAGNOSA
DATA NOC NIC
KEPERAWATAN
Data Pendukung Masalah
Kode Diagnosis Kode Hasil Kode Intervensi
Kesehatan
DS : 00132 Nyeri Akut 0414 Status cardiopulmonary 1380 Kompres hangat
0401 Status sirkulasi 1400 Manajemen nyeri
- Ibu S mengatakan 0406 Perfusi jaringan serebral 2210 Pemberian Analgesik
sakit kepala 0802 Tanda-tanda vital 2550 Meningatkan perfusi serebral
- Sakit kepalanya 1605 Kontrol Nyeri 6482 Manajemen lingkungan :
berdenyut-denyut 1601 Perilaku kepatuhan kenyamanan
- Kadang Ibu S 3107 Manajemen penyakit hipertensi 6040 Terapi relaksasi
merasakan ada yang 3016 Kepuasan klien : manajemen nyeri
kaku di kuduknya.
DO :
- Ibu S tampak sering
memegangi kepalanya
- TD :160/110 mmHg
- Nadi : 84 x/menit
- Suhu : 36.6 oC
- Respirasi : 20 x/menit

35
DIAGNOSA
DATA NOC NIC
KEPERAWATAN
Data Pendukung Masalah
Kode Diagnosis Kode Hasil Kode Intervensi
Kesehatan
DS : 00126 Kurangnya 1803 Pengetahuan : Proses penyakit 5602 Pendidikan kesehatan : proses
pengetahuan 1830 Pengetahuan manajemen penyakit penyakit
- Ibu S mengatakan kardiovaskular
kurang tahu mengenai 1837 Pengetahuan : manajemen
penyakit hipertensi hipertensi
DO : 1806 Pengetahuan : sumber daya
- Ibu S tampak sering kesehatan
bertanya tentang 1805 Pengetahuan : perilaku sehat
penyakit tekanan darah 1823 Pengetahuan : promosi kesehatan
tinggi

36
D. Implementasi

No. Diagnosa Tgl Intervensi Hasil


1 Nyeri akut 14 - Kompres hangat S:
Desember - Manajemen nyeri - Klien mengatakan rasa sakit di kepalanya sudah
2017 - Pemberian Analgesik mulai berkurang
- Meningatkan perfusi serebral - Klien mengatakan lehernya sudah tidak terlalu
- Manajemen lingkungan : kenyamanan tegang lagi
- Terapi relaksasi O:
- Status cardiopulmonary
- Status sirkulasi
- Perfusi jaringan serebral
- Tanda-tanda vital
- Kontrol Nyeri
- Perilaku kepatuhan
- Manajemen penyakit hipertensi
- Kepuasan klien : manajemen nyeri
2 Kurangnya pengetahuan 15 - Pendidikan kesehatan : proses S:
Desember penyakit - Klien mengatakan sudah mulai memahami
2017 tentang hipertensi yang dideritanya
- Klien mengatakan bila mengalami gejala yang
serupa lagi akan segera berobat ke rumah sakit
O:
- Pengetahuan : Proses penyakit
- Pengetahuan manajemen penyakit kardiovaskular
- Pengetahuan : manajemen hipertensi
- Pengetahuan : sumber daya kesehatan
- Pengetahuan : perilaku sehat
- Pengetahuan : promosi kesehatan

37
E. Evaluasi

No. Diagnosa Tgl Evaluasi


1 Nyeri akut 14 Desember 2017 S:
- Klien mengatakan rasa sakit di kepalanya sudah mulai berkurang
- Klien mengatakan lehernya sudah tidak terlalu tegang lagi
O:
- Status cardiopulmonary
- Status sirkulasi
- Perfusi jaringan serebral
- Tanda-tanda vital
- Kontrol Nyeri
- Perilaku kepatuhan
- Manajemen penyakit hipertensi
- Kepuasan klien : manajemen nyeri
A: Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
2 Kurangnya pengetahuan 15 Desember 2017 S:
- Klien mengatakan sudah mulai memahami tentang hipertensi yang dideritanya
- Klien mengatakan bila mengalami gejala yang serupa lagi akan segera berobat ke
rumah sakit
O:
- Pengetahuan : Proses penyakit
- Pengetahuan manajemen penyakit kardiovaskular
- Pengetahuan : manajemen hipertensi
- Pengetahuan : sumber daya kesehatan
- Pengetahuan : perilaku sehat
- Pengetahuan : promosi kesehatan
A: Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan

38
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dengan meningkatnya usia, jantung dan pembuluh darah mengalami

perubahan baik struktur maupun fungsional. Penurunan yang terjadi berangsur -

angsur ini sering terjadi ditandai dengan penurunan tingkat aktivitas, yang

mengakibatkan penurunan kebutuhan darah teroksidasi. Namun perubahan yang

menyertai penurunan kebutuhan darah yang teroksidasi. Namun, perubahan yang

menyertai penuaan ini menjadi lebih jelas ketika sistem ditekan untuk meningkatkan

keluarnya dalam memenuhi peningkatan kebutuhan tubuh. Penurunan fungsi system

kardiovaskular ini diikuti dengan munculnya penyakit pada masa lansia. Seperti

hipertensi, PJK, dan sebagainya. Sehingga untuk penanganan diperlukan langkah

yang tepat pada masa lansia. Mengingat fungsi organ tubuh yang sudah menurun.

Asuhan keperawatan yang diberikan pada lansia dengan fungsi

kardiovaskular yang menurun perlu lebih cermat untuk dilaksanakan. Respon dari

lansia tersebut semasa perawatan harus diperhatikan sehingga bila muncul gejala

atau keluhan baru cepat segera ditangani. Pelaksanaan asuhan keperawatan yang

berkembang saat ini adalah menggunakan NANDA sebagai dasar dalam penegakkan

diagnose keperawatan dan menggunakan NIC dan NOC sebagai dasar dalam

melaksanakan intervensi keperawatan serta mengukur output yang diharapkan dalam

proses pemberian asuhan keperawatan.

Pada pelaksanaan asuhan keperawatan gerontik pada Ny. S dengan gangguan

system kardiovaskular (hipertensi), pada proses pengkajian klien mengatakan sakit

kepala terasa nyut-nyut dan tegang pada kuduknya. Klien juga mengatakan kurang

39
memahami tentang penyakitnya. Berdasarkan diagnose dari NANDA diperoleh

diagnose Nyeri Akut dan Kurangnya pengetahuan. Pada proses penyusunan rencana

intervensi keperawatan menggunakan NIC dan NOC. Pada proses implementasi

klien mengatakan sudah memahami tentang penyakitnya dan segera berobat bila

gejala serupa dirasakan kembali. Klien juga mengatakan sakit kepala sudah mulai

berkurang dan leher sudah tidak terlalu tegang lagi.

B. Saran

Adapun saran yang dapat disampaikan dalam makalah ini adalah sebagai

berikut.

1. Kepada profesi keperawatan sebagai garda terdpan dalam pemberian pelayanan

kesehatan, agar lebih meningkatkan kemampuan serta lebih cermat dalam

memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien, terutama pada pasien lansia

yang memiliki penurunan fungsi organ. Karena bisa saja terjadi asuhan

keperawatan yang diberikan tidak optimal pada pasien yang dikarenakan

penurunan fungsi organ ini.

2. Kepada keluarga dari Lansia, diharapkan agar lebih sigap dan tanggap bila timbul

gejala-gejala yang lain dalam proses pengobatan dan perawatan pada lansia.

Keluarga diharapkan lebih memahami kondisi lansia dan kooperatif dalam

pelaksanaan proses pengobatan dan perawatannya.

3. Kepada Instansi kesehatan, klien Lansia merupakan klien dengan resiko yang

tinggi. Dimana dalam proses pelayanan kesehatan, gejala penyakit yang timbul

bisa saja berbeda dengan gejala penyakit ketika ia masuk ke rumah sakit atau

puskesmas. Sehingga pelayanan yang profesional dan optimal perlu dilakukan

untuk mengurangi resiko yang tidak diinginkan.

40