Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan
dan pembentukan involukrum (Pembentukan tulang baru disekeliling jaringan tulang mati).
Infeksi disebabkan oleh penyebaran hematogen (melalui darah) dari fukos infeksi di tempat lain

( misalnya : tonsil yang terinfeksi, lepuh, gigi terinfeksi, infeksi saluran nafas). Osteomielitis akibat
penyebaran hematogen biasanya terjadi di tempat di mana terdapat trauma atau di mana
terdapat resistensi rendah, kemungkinan akibat trauma subklinis (tak jelas).

Infeksi dapat berhubungan dengan penyebaran infeksi jaringan lunak (misalnya : ulkus
dekubitus yang terinfeksi atau ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang ( misalnya :
fraktur terbuka, cedera traumatic seperti luka tembak, pembedahantulang).

Pasien yang beresiko tinggi mengalami Osteomielitis adalah mereka yang nutrisinya buruk,
lansia, kegemukan, atau penderita diabetes mellitus. Selain itu, pasien yang menderita artitis
rheumatoid, telah di rawat lama di rumah sakit, mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang,
menjalani pembedahan sendi sebelum operasi sekarang, atau sedang mengalami sepsis rentan,
begitu pula yang menjalani pembedahan ortopedi lama, mengalami infeksi luka mengeluarkan
pus, mengalami nefrosis insisi margial atau dehidrasi luka, atau memerlukan evakuasi hematoma
pascaoperasi.

1
1. 2. Tujuan Penulisan

a. Tujuan Umum

Secara umum makalah ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan
osteomielitis

b. Tujuan Khusus

1. Menjelaskan definisi dari osteomielitis

2. Menjelaskan etiologi dari osteomielitis

3. Menjelaskan patifisiologi dari osteomielitis

4. Menjelaskan manifestasi klinis dan pengobatan dari osteomielitis

5. Menjelaskan komplikasi dari osteomielitis

6. Menjelaskan asuhan keperawatan dari osteomielitis

2
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1. Definisi

Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan daripada infeksi
jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya
tekanan jaringan dan pembentukan involukrum (pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan
tulang mati). Osteomielitis dapat menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi kualitas
hidup atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas. (Brunner, suddarth. (2001). Beberapa ahli
memberikan defenisi terhadap osteomyelitis sebagai berkut :

a. Osteomyelitis adalah infeksi Bone marrow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh
staphylococcus aureus dan kadang-kadang Haemophylus influensae (Depkes RI, 1995).

b. Osteomyelitis adalah infeksi tulang (Carpenito, 1990).

c. Osteomyelitis adalah suatu infeksi yang disebarkan oleh darah yang disebabkan oleh
staphylococcus (Henderson, 1997).

2.2. Anotomi dan Fisiologi

Pada umumnya penyusun tulang diseluruh tubuh kita semuanya berasal dari
material yang sama. Dari luar ke dalam kita akan dapat menemukan lapisan-lapisan berikut ini:

a. Periosteum

Pada lapisan pertama kita akan bertemu dengan yang namanya periosteum. Periosteum
merupakan selaput luar tulang yang tipis. Periosteum mengandung osteoblas (sel pembentuk
jaringan tulang), jaringan ikat dan pembuluh darah. Periosteum merupakan tempat melekatnya
otot-otot rangka (skelet) ke tulang dan berperan dalam memberikan nutrisi, pertumbuhan dan
reparasi tulang rusak.

b. Tulang Kompak (Compact Bone)

Pada lapisan kedua ini kita akan bertemu dengan tulang kompak. Tulang ini teksturnya halus
dan sangat kuat. Tulang kompak memiliki sedikit rongga dan lebih banyak mengandung kapur
(Calsium Phosfat dan Calsium Carbonat) sehingga tulang menjadi padat dan kuat. Kandungan

3
tulang manusia dewasa lebih banyak mengandung kapur dibandingkan dengan anak-anak
maupun bayi. Bayi dan anak-anak memiliki tulang yang lebih banyak mengandung serat-serat
sehingga lebih lentur. Tulang kompak paling banyak ditemukan pada tulang kaki dan tulang
tangan.

c. Tulang Spongiosa (Spongy Bone)

Pada lapisan ketiga ada yang disebut dengan tulang spongiosa. Sesuai dengan namanya
tulang spongiosa memiliki banyak rongga. Rongga tersebut diisi oleh sumsum merah yang dapat
memproduksi sel-sel darah. Tulang spongiosa terdiri dari kisi-kisi tipis tulang yang disebut
trabekula. Tulang ini terdiri atas batang yang halus atau selubung yang halus yaitu trabekula (L.
Singkatan dari trabs = sebuah balok) yang bercabang dan saling memotong ke berbagai arah
untuk membentuk jala-jala seperti spons dari spikula tulang, yang rongga-rongganya diisi oleh
sumsum tulang. Pars spongiosa merupakan jaringan tulang yang berongga seperti spon (busa).
Rongga tersebut diisi oleh sumsum merah yang dapat memproduksi sel-sel darah. Tulang
spongiosa terdiri dari kisi-kisi tipis tulang yang disebut trabekula.

d. Sumsum Tulang (Bone Marrow)

Lapisan terakhir yang kita temukan dan yang paling dalam adalah sumsum tulang. Sumsum
tulang wujudnya seperti jelly yang kental. Sumsum tulang ini dilindungi oleh tulang spongiosa
seperti yang telah dijelaskan dibagian tulang spongiosa. Sumsum tulang berperan penting dalam
tubuh kita karena berfungsi memproduksi sel-sel darah yang ada dalam tubuh.

2.3. Klasifikasi

1. Osteomielitis Primer.

Penyebarannya secara hematogen dimana mikroorganisme berasal dari focus ditempat lain
dan beredar melalui sirkulasi darah.

2. Osteomielitis Sekunder.

Terjadi akibat penyebaran kuman dari sekitarnya akibat dari bisul, luka fraktur dan
sebagainya.

Berdasarkan lama infeksi, osteomielitis terbagi menjadi 3, yaitu:

1. steomielitis akut

4
Yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 2 minggu sejak infeksi pertama atau sejak penyakit
pendahulu timbul. Osteomielitis akut ini biasanya terjadi pada anak-anak dari pada orang dewasa
dan biasanya terjadi sebagai komplikasi dari infeksi di dalam darah. (osteomielitis
hematogen) Osteomielitis akut terbagi menjadi 2, yaitu:

a) Osteomielitis hematogen

Merupakan infeksi yang penyebarannya berasal dari darah. Osteomielitis hematogen akut
biasanya disebabkan oleh penyebaran bakteri darah dari daerah yang jauh. Kondisi ini
biasanya terjadi pada anak-anak. Lokasi yang sering terinfeksi biasa merupakan daerah yang
tumbuh dengan cepat dan metafisis menyebabkan thrombosis dan nekrosis local serta
pertumbuhan bakteri pada tulang itu sendiri. Osteomielitis hematogen akut mempunyai
perkembangan klinis dan onset yang lambat.

b) Osteomielitis direk

Disebabkan oleh kontak langsung dengan jaringan atau bakteri akibat trauma atau
pembedahan. Osteomielitis direk adalah infeksi tulang sekunder akibat inokulasi bakteri
yang menyebabkan oleh trauma, yang menyebar dari focus infeksi atau sepsis setelah
prosedur pembedahan. Manifestasi klinis dari osteomielitis direk lebih terlokasasi dan
melibatkan banyak jenis organisme.

2. Osteomielitis sub-akut

Yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 1-2 bulan sejak infeksi pertama atau sejak penyakit
pendahulu timbul.

3. Osteomielitis kronis

Yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 2 bulan atau lebih sejak infeksi pertama atau sejak
penyakit pendahulu timbul. Osteomielitis sub-akut dan kronis biasanya terjadi pada orang
dewasa dan biasanya terjadi karena ada luka atau trauma (osteomielitis kontangiosa), misalnya
osteomielitis yang terjadi pada tulang yang fraktur.

Osteomyelitis menurut penyebabnya adalah osteomyelitis biogenik yang paling sering :

1. Staphylococcus (orang dewasa)

2. Streplococcus (anak-anak)

3. Pneumococcus dan Gonococcus

5
2.4. Etiologi

1. Bakteri

Menurut Joyce & Hawks (2005), penyebab osteomyelitis adalah Staphylococcus


aureus (70% - 80%), selain itu juga bisa disebabkan oleh Escherichia coli, Pseudomonas,
Klebsiella, Salmonella, dan Proteus.

2. Virus

3. Jamur

4. Mikroorganisme lain (Smeltzer, Suzanne C, 2002).

5. Infeksi dari jaringan lunak di dekatnya

Osteomyelitis dapat berhubungan dengan penyebaran infeksi jaringan lunak Infeksi pada
jaringan lunak di sekitar tulang bisa menyebar ke tulang setelah beberapa hari atau minggu.
Infeksi jaringan lunak bisa timbul di daerah yang mengalami kerusakan karena cedera, terapi
penyinaran atau kanker, atau ulkus di kulit yang disebabkan oleh jeleknya pasokan
darah (misalnya ulkus dekubitus yang terinfeksi).

Osteomyelitis dapat timbul akut atau kronik. Bentuk akut dicirikan dengan
adanya awitan demam sistemik maupun manifestasi lokal yang berjalan dengan cepat.
Osteomyelitis kronik adalah akibat dari osteomielitis akut yang tidak ditangani dengan baik.
Osteomyelitis kronis akan mempengaruhi kualitas hidup atau mengakibatkan kehilangan
ekstremitas. Luka tusuk pada jaringan lunak atau tulang akibat gigitan hewan, manusia atau
penyuntikan intramuskular dapat menyebabkan osteomyelitis eksogen. Osteomyelitis akut
biasanya disebabkan oleh bakteri, maupun virus, jamur, dan mikroorganisme lain.

Pasien yang beresiko tinggi mengalami osteomielitis adalah mereka yang nutrisinya buruk,
lansia, kegemukan, atau penderita diabetes mellitus. Selain itu, pasien yang menderita
artritis rheumatoid, telah di rawat lama di rumah sakit, menjalani pembedahan ortopedi,
mengalami infeksi luka mengeluarkan pus, juga beresiko mengalami osteomyelitis.

6
2.5. Patofisiologi

Menurut Smeltzer, Suzanne (2001), Staphylococcus aureus merupakan penyebab terbesar


infeksi tulang. Organisme patogenik lainnya yang sering dijumpai pada osteomielitis meliputi
Haemophylus influenza, bakteri colli, salmonella thyposa, proteus, pseudomonas. Terdapat
peningkatan insiden infeksi resisten penisilin, nosokomial, gram negative dan anaerobic. Awitan
osteomilitis setelah pembedahan ortopedi dapat terjadi dalam 3 bulan pertama ( akut fulminan
stadium 1 ) dan sering berhubungan dengan penumpukan hematoma atau infeksi superficial.
Infeksi awitan lambat ( stadium 2 ) terjadi antara 4 – 24 bulan setelah pembedahan.
Osteomielitis awitan lama ( stadium 3 ) biasanya akibat penebaran hematogen dan terjadi 2
tahun atau lebih setelah pembedahan.

Respons inisial tahap infeksi adalah salah satu dari inflamasi, peningkatan faskularisasi dan
edema, setelah 2 atau 3 hari, thrombosis pada pembuluh darah terjadi pada tempat tersebut,
mengakibatkan iskemia dengan nekrosis tulang sehubungan dengan peningkatan tekanan
jaringan dan medulla. Infeksi kemudian berkembang ke kavitas medularis dan ke bawah
periosteum dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi disekitarnya. Kecuali bila proses
infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan terbentuk abses tulang. Pada perjalanan
alamiahnya, abses dapat keluar spontan, namun yang lebih sering harus dilakukan insisi dan
drainase oleh ahli bedah. Abses yang terbentuk dalam dindingnya terbentuk daerah jaringan
mati, namun seperti pada rongga abses pada umumnya, jaringan tulang mati ( sequestrum )
tidak mudah mencair dan mengalir ke luar. Rongga tidak dapat mengempis dan menyembuh,
seperti yang terjadi pada jaringan lunak. Terjadi pertumbuhan luka baru ( involukrum ) dan
mengelilingi sequestrum. Jadi meskipun tampak terjadi proses penyembuhan namun
sequestrum infeksius kronis yang tetap rentan mengeluarkan abses kambuhan sepanjang hidup
pasien. Dinamakan osteomielitis tipe kronik.

2.6. Manifestasi klinis

a. Fase akut

Fase sejak infeksi sampai 10-15 hari. Makin panas tinggi, nyeri tulang dekat sendi, tidak
dapat menggerakan anggota tubuh.

b. Fase kronik

Rasa sakit tidak begitu berat, anggota yang terkena merah dan bengkak dengan pus yang
selalu mengalir keluar dari sinus atau mengalami periode berulang nyeri, inflamasi, dan

7
pengeluaran pus. Infeksi derajat rendah dapat terjadi pada jaringan parut akibat kurangnya
asupan darah.

2.7. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan darah

Sel darah putih meningkat sampai 30.000 L gr/dl disertai peningkatan laju endap darah.

2. Pemeriksaan titer antibody – anti staphylococcus

Pemeriksaan kultur darah untuk menentukan bakteri (50% positif) dan diikuti dengan
uji sensitivitas

3. Pemeriksaan feses

Pemeriksaan feses untuk kultur dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh

bakteri salmonella.

4. Pemeriksaan biopsy tulang.

Merupakan proses pengambilan contoh tissue tulang yang akan digunakan untuk
serangkaian tes.

5. Pemeriksaan ultra sound.

Yaitu pemeriksaan yang dapat memperlihatkan adannya efusi pada sendi.

6. Pemeriksaan radiologis

Pemeriksaan photo polos dalam 10 hari pertama tidak ditemukan kelainan radiologik.
Setelah 2 minggu akan terlihat berupa refraksi tulang yang bersifat difus dan kerusakan
tulang dan pembentukan tulang yang baru.

7. Pemeriksaan tambahan :

a. Bone scan : dapat dilakukan pada minggu pertama

b. MRI : jika terdapat fokus gelap pada T1 dan fokus yang terang pada T2, maka
kemungkinan besar adalah osteomielitis.

8
2.8. Penatalaksanaan medis

a. Istirahat dan pemberian Analgetik untuk menghilangkan nyeri

b. Pemberian cairan intravena dan transfusi darah jika diperlukan

c. Istirahat local dengan traksi atau bidai

d. Pemberian antibiotik sesuai dengan penyebab

e. Drainase bedah

2.9. Komplikasi

1. Dini :

a. Kekakuan yang permanen pada persendian terdekat (jarang terjadi)

b. Abses yang masuk ke kulit dan tidak mau sembuh sampai tulang yang mendasarinya
sembuh

c. Atritis septik

2. Lanjut :

a. Osteomielitis kronik ditandai oleh nyeri hebat rekalsitran, dan penurunan fungsi tubuh
yang terkena.

b. Fraktur patologis

c. Kontraktur sendi

d. Gangguan pertumbuhan

9
2.10. Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Osteomylitis

2.10.1 Pengkajian

1. Identitas Pasien

a. Nama

b. Umur

c. Agama

d. Jenis kelamin

e. Alamat

f. Suku bangsa

g. Pekerjaan

h. Pendidikan

i. Status

2. Identitas penanggung jawab

a. Nama

b. Umur

c. Agama

d. Jenis kelamin

e. Alamat

f. Suku/bangsa

g. Pekerjaan

h. Pendidikan

i. Status

j. Hubungan dengan klien

10
2. Riwayat Kesehatan

a. Riwayat Kesehatan Sekarang

Kaji adanya riwayat trauma fraktur terbuka, riwayat operasi tulang dengan pemasangan
fiksasi internal dan fiksasi eksternal dan pada osteomielitis kronis penting ditanyakan apakah
pernah mengalami osteomielitis akut yang tidak diberi perawatan adekuat sehingga
memungkinkan terjadinya supurasi tulang.

b. Riwayat Kesehatan Dahulu

Ada riwayat infeksi tulang, biasanya pada daeah vertebra torako-lumbal yang terjadi akibat
torakosentesis atau prosedur urologis. Dapat ditemukan adanya riwayat diabetes melitus,
malnutrisi, adiksi obat-obatan, atau pengobatan imunosupresif.

c. Pemeriksaan Fisik

1) Keadaan Umum

a). Tingkat kesadaran (apatis, sopor, koma, gelisah, kompos mentis yang bergantung pada
keadaan klien).

b). Kesakitan atau keadaan penyakit (akut, kronis, ringan, sedang, dan paa kasus
osteomielitis biasanya akut)

c). Tanda-tanda vital tidak normal

2) Sistem Pernafasan

Pada inspeksi, didapatkan bahwa klien osteomielitis tidak mengalami kelainan


pernafasan. Pada palpasi toraks, ditemukan taktil fremitus seimbang kanan dan kiri. Pada
auskultasi, tidak didapatkan suara nafas tambahan.

3) Sistem Kardiovaskuler

Pada inspeksi, tidak tampak iktus jantung. Palpasi menunjukkan nadi meningkat, iktus
tidak teraba. Pada auskultasi, didapatkan suara S1 dan S2 tunggal, tidak ada murmur.

11
4) Sistem Muskuloskeletal

Adanya osteomielitis kronis dengan proses supurasi di tulang dan osteomielitis yang
menginfeksi sendi akan mengganggu fungsi motorik klien. Kerusakan integritas jaringan
pada kulit karena adanya luka disertai dengan pengeluaran pus atau cairan bening berbau
khas.

5) Tingkat kesadaran

Tingkat kesadaran biasanya kompos metis.

6) Sistem perkemihan

Pengkajian keadaan urine meliputi warna, jumlah, karakteristik, dan berat jenis. Biasanya
klien osteomielitis tidak mengalami kelainan pada sitem ini.

7) Pola nutrisi dan metabolisme

Evaluasi terhadap pola nutrisi klien dapat menentukan penyebab masalah


muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat. Masalah
nyeri pada osteomielitis menyebabkan klien kadang mual atau muntah sehingga
pemenuhan nutrisi berkurang.

2.10.2. Daftar Diagnosa

1) Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan pembengkakan

2) Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan nyeri, alat imobilisasi dan keterbatasan
menahan beban berat badan.

3) Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi

4) Resiko terhadap perluasan infeksi berhubungan dengan pembentukan abses tulang

5) Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri dan gangguan rasa nyaman

6) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri dan ketakutan dalam bergerak

7) Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi penyakit dan


pengobatan.

12
2.10.3. Intervensi

a). Diagnosa I

: Nyeri akut b.d inflamasi dan pembengkakan

- Tujuan:

Setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri dapat berkurang, pasien dapat tenang dan
keadaan umum cukup baik

- Kriteria Hasil:
1. Klien mengungkapakan nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang
2. Klien tidak menyeringai kesakitan
3. TTV dalam batasan normal
4. Intensitas nyeri berkurang (skala nyeri berkurang 1-10)
5. Menunjukkan rileks, istirahat tidur, peningkatan aktivitas dengan cepat

- Intervensi:

1. Selidiki keluhan nyeri, perhatikan lokasi, itensitas nyeri, dan skala

2. Anjurkan pasien untuk melaporkan nyeri segera saat mulai

- Rasional : Intervensi dini pada kontrol nyeri memudahkan pemulihan otot dengan
menurunkan tegangan otot

3. Pantau tanda-tanda vital

- Rasional : Respon autonomik meliputi, perubahan pada TD, nadi, RR, yang berhubungan
dengan penghilangan nyeri

4. Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien serta keluarganya

- Rasional : Dengan sebab dan akibat nyeri diharapkan klien berpartisipasi dalam
perawatan untuk mengurangi nyeri

5. Anjurkan istirahat selama fase akut

- Rasional : Mengurangi nyeri yang diperberat oleh gerakan

13
6. Anjurkan teknik distruksi dan relaksasi

- Rasional : Menurunkan tegangan otot, meningkatkan relaksasi, dan meningkatkan rasa


kontrol dan kemampuan koping.

7. Berikan situasi lingkungan yang kondusif

- Rasional : Memberikan dukungan (fisik, emosional, meningkatkan rasa kontrol, dan


kemampuan koping.

8. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian tindakan 1. Nyeri insisi bermakna pada
pasca operasi awal diperberat oleh gerakan.

- Rasional : Menghilangkan atau mengurangi keluhan nyeri klien.

b). Diagnosa II

: Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan nyeri, alat imobilisasi dan keterbatasan
menahan beban berat badan.

- Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, Gangguan mobilitas fisik dapat berkurang.
- Kriteria hasil :
1. Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin
2. Mempertahankan posisi fungsional
3. Meningkatkan / fungsi yang sakit
4. Menunjukkna teknik mampu melakukan aktivitas
- Intervensi :
1. Pertahankan tirah baring dalam posisi yang di programkan
- Rasional : Agar gangguan mobilitas fisik dapat berkurang
2. Tinggikan ekstremitas yang sakit, instruksikan klien / bantu dalam latihan rentang gerak
pada ekstremitas yang sakit dan tak sakit
- Rasional : Dapat meringankan masalah gangguan mobilitas fisik yang dialami klien
3. Beri penyanggah pada ekstremitas yang sakit pada saat bergerak
- Rasional : Dapat meringankan masalah gangguan mobilitas yang dialami klien

14
4. Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas
- Rasional : Agar klien tidak banyak melakukan gerakan yang dapat membahayakan
5. Berikan dorongan pada klien untuk melakukan AKS dalam lingkup keterbatasan dan beri
bantuan sesuai kebutuhan
- Rasional : Mengurangi terjadinya penyimpangan – penyimpangan yang dapat terjadi
6. Ubah posisi secara periodik
- Rasional : Mengurangi gangguan mobilitas fisik
7. Fisioterapi / aoakulasi terapi
- Rasional : Mengurangi gangguan mobilitas fisik

c) Diagnosa III

: Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi.

- Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, pasien daoat mendemonstrasikan bebas dari


hipertermia.

- Kriteria Hasil:
1. Pasien tidak mengalami dehidrasi lebih lanjut
2. Suhu tubuh normal
3. Tidak mual

- intervensi :

1. Pantau TTV:

i.Suhu tubuh setiap 2 jam


ii.Warna kulit
iii.TD, nadi dan pernapasan
iv.Hidrasi (turgor dan kelembapan kulit)

- Rasional : Memberikan dasar untuk mengetahui kondisi pasien.

15
2. Lepaskan pakaian yang berlebihan

- Rasional : Pakaian yang tidak berlebihan dapat mengurahi peningkatan suhu tubuh dan
dapat memberikan rasa nyaman pada pasien

3. Lakukan kompres dingin atau kantong es untuk menurunkan kenaikan suhu tubuh.

- Rasional : Menurunkan panas melalui proses konduksi serta evaporasi, dan meningkatkan
kenyaman pasien.

4. Motivasi asupan cairan

- Rasional : Memperbaiki kehilangan cairan akibat perspirasi serta febris dan meningkatkan
tingkat kenyamanan pasien.

5. Berikan obat antipiretik sesuai dengan anjuran

- Rasional : Antipiretik membantu mengontrol peningkatan suhu tubuh

d) Diagnosa IV

: Resiko terhadap perluasan infeksi berhubungan dengan pembentukan abses tulang.

- Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, tidak terjadi pesiko perluasan infeksi yang dialami.

- Kriteria Hasil:

Mencapai waktu penyembuhan

- intervensi :

1. Pertahankan system kateter steril; berikan perawatan kateter regular dengan sabun dan air,
berikan salep antibiotic disekitar sisi kateter.

- rasional : Mencegah pemasukan bakteri dari infeksi/ sepsis lanjut.

2. Ambulasi dengan kantung drainase dependen.

- Rasional : Menghindari refleks balik urine, yang dapat memasukkan bakteri kedalam
kandung kemih.

16
3. Awasi tanda vital, perhatikan demam ringan, menggigil, nadi dan pernapasan cepat, gelisah,
peka, disorientasi.

- Rasional : Pasien yang mengalami sistoskopi/ TUR prostate beresiko untuk syok bedah/
septic sehubungan dengan manipulasi/ instrumentasi.

4. Observasi drainase dari luka, sekitar kateter suprapubik.

- Rasional : Adanya drain, insisi suprapubik meningkatkan resiko untuk infeksi, yang
diindikasikan dengan eritema, drainase purulen.

5. Ganti balutan dengan sering (insisi supra/ retropublik dan perineal), pembersihan dan
pengeringan kulit sepanjang waktu

- Rasional : Balutan basah menyebabkan kulit iritasi dan memberikan media untuk
pertumbuhan bakteri, peningkatan resiko infeksi luka.

6. Berikan antibiotic sesuai indikasi

- Rasional : Mungkin diberikan secara profilaktik sehubungan dengan peningkatan resiko


infeksi pada prostatektomi.

e). Diagnosa V

: Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri dan gangguan rasa nyaman

- Tujuan:

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, pola tidur pasien kembali normal

- Kriteria Hasil:
1. Jumlah jam tidur tidak terganggu
2. Insomnia berkurang
3. Adanya kepuasan tidur
4. Pasien menunjukkan kesejahteraan fisik dan psikologi

17
- intervensi :

1. Tentukan kebiasaan tidur yang biasanya dan perubahan yang terjadi

- Rasional : Mengkaji perlunya dan mengidentifikasi intervensi yang tepat

2. Dorong beberapa aktifitas fisik pada siang hari, jamin pasien berhenti beraktifitas
beberapa jam sebelum tidur

- Rasional : Aktivitas siang hari dapat membantu pasien menggunakan energi dan siap
untuk tidur malam hari

3. Instruksikan tindakan relaksasi

- Rasional : Membantu menginduksi tidur

4. Berikan sedatif, hipnotik sesuai indikasi

- Rasional : Mungkin diberikan untuk membantu pasien tidur atau istirahat selama periode
transisi dari rumah ke lingkungan baru

f). Diagnosa VI

: Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri dan ketakutan dalam bergerak.

- Tujuan:

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, pasien menunjukkan peningkatan toleransi


terhadap aktifitas.

- Kriteria Hasil:
1. Menurunnya keluhan terhadap kelemahan dan kelelahan dalam melakukan aktifitas.
2. Berkurangnya nyeri
- intervensi :

1. Jelaskan aktivitas dan faktor yang dapat meningkatkan kebutuhan oksigen

- Rasional : Merokok, suhu ekstrim dan stress menyebabkan vasokonstruksi pembuluh


garah dan peningkatan beban jantung

2. Buat jadwal aktifitas harian, tingkatkan secara bertahap

- Rasional : Mencegah penggunaan energi berlebihan

18
3. Kaji respon abdomen setelah beraktivitas

- Rasional : Respon abdomen melipuit nadi, tekanan darah, dan pernapasan yang
meningkat

4. Berikan kompres air hangat

- Rasional : Kompres air hangat dapat mengurangi rasa nyeri

5. Beri waktu istirahat yang cukup

- Rasional : Meningkatkan daya tahan pasien, mencegah keletihan

g). Diagnosa VII

: Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi penyakit dan pengobatan.

- Tujuan:

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, pasien dapat mendemonstrasikan hilangnya


ansietas dan memberikan informasi tentang proses penyakit, program pengobatan.

- Kriteria Hasil:
1. Ekspresi wajah relaks
2. Cemas dan rasa takut hilang atau berkurang

- intervensi :

1. Jelaskan tujuan pengobatan pada pasien

- Rasional : Mengorientasi program pengobatan. Membantu menyadarkan klien untuk


memperoleh kontrol

2. Kaji patologi masalah individu.

- Rasional : Informasi menurunkan takut karena ketidaktahuan. Memberika pengetahuan


dasar untuk pemahaman kondisi dinamik

19
3. Kaji ulang tanda / gejala yang memerlukan evaluasi medik cepat,contoh nyeri dada tiba-
tiba, dispnea, distres pernapasan lanjut.

- Rasional : Berulangnya pneumotorak/hemotorak memerlukan intervensi medik untuk


mencegah / menurunkan potensial komplikasi.

4. Kaji ulang praktik kesehatan yang baik, istirahat.

- Rasional : Mempertahanan kesehatan umum meningkatkan penyembuhan dan dapat


mencegah kekambuhan

5. Gunakan obat sedatif sesuai dengan anjuran

- Rasional : Banyak pasien yang membutuhkan obat penenang untuk mengontrol


ansietasnya

20
BAB 3

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan daripada infeksi
jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya
tekanan jaringan dan pembentukan involukrum (pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan
tulang mati). Osteomielitis dapat menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi kualitas
hidup atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas. (Brunner, suddarth. (2001). Staphylococcus
aureus hemolitikus (koagulasi positif) sebanyak 90% dan jarang oleh streptococcus hemolitikus.
Haemophylus influenza (50%) pada anak-anak dibawah umur 4 tahun. Organism yang lain
seperti : bakteri coli, salmonella thyposa dan sebagainya. Proses spesifik (M.Tuberculosa).
Penyebaran hematogen dari pusat infeksi jauh (tonsilitis, bisul atau jerawat, ISPA).

3.2. Saran

Diharapkan mampu menambah wawasan dan pengetahuan bagi semua mahasiswa tentang
asuhan keperawatan pada pasien pada pasien dengan osteomielitis

21
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.

Doenges, E. Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.

Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta: EGC

Prince, Sylvia Anderson. 1999. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi. 4. Jakarta:

EGC

http://nurse87.wordpress.com/2012/05/09/askep-osteomielitis/

Diakses pada tanggal 22 Agustus pukul 17:00

http://juwandi18.blogspot.co.id/2015/01/asuhan-keperawatan-pada-pasien.html

Diakses pada tanggal 22 Agustus pukul 20:00

22