Anda di halaman 1dari 42

1

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PAKAN

“Pengolahan Bahan Pakan Secara Fisik”

Oleh :

Kelas E

Kelompok 5

Sri Mulyani 200110150188

Maulani Ulil M 200110150189

Indah Permata Bena 200110150190

Sitka Erli 200110150239

Risqi Kelvin 200110150264

Yoga Muhammad Y 200110150269

LABORATORIUM NUTRISI TERNAK UNGGAS, NON RUMINANSIA

DAN INDUSTRI MAKANAN TERNAK

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

SUMEDANG

2017
DAFTAR ISI

BAB Halaman

KATA PENGANTAR .................................................................. i

DAFTAR ISI ................................................................................. ii

DAFTAR TABEL ......................................................................... vii

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................. viii

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ........................................................................ 1

1.2 Identifikasi Masalah ................................................................ 2

1.3 Maksud dan Tujuan ................................................................. 2

1.4 Waktu dan Tempat .................................................................. 3

II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Penggilingan Jagung .................................................................. 4

2.2 Densitas dan Penyaringan Jagung ............................................. 6

2.3 Pengeringan Jagung ................................................................... 8


III ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA

3.1 Penggilingan Jagung .................................................................. 11

3.2 Densitas dan Penyaringan Jagung .............................................. 12

3.3 Pengeringan Jagung ................................................................... 13

IV HASIL DAN DISKUSI

4.1 Hasil .......................................................................................... 15

4.2 Diskusi........................................................................................ 17

i
V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Keimpulan ................................................................................. 29

5.2 Saran .......................................................................................... 29

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................... 30

LAMPIRAN .................................................................................... 33

ii
I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Komoditas peternakan di Indonesia saat ini sudah mulai berkembang.

Perkembangan tersebut harus ditopang dengan manajemen ternak yang baik salah

satunya dalam pemberian pakan yang berkualitas. Pakan merupakan suatu bahan

yang dapat dimakan, disukai, dan dapat dicerna sebagian atau seluruhnya, dapat

diabsorbsi, bermanfaat bagi ternak dan tidak menganggu kesehatan ternak

tersebut.

Seiring dengan berjalannya waktu, populasi ternak semakin meningkat

yang berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah pakan yang harus tersedia.

Selain itu, untuk mencapai produktivitas ternak yang tinggi, selain kualitas

genetik harus baik, kualitas pakan pun harus baik. Akan tetapi, disisi lain jumlah

lahan untuk tanaman pakan semakin menurun seiring dengan bertambahnya

populasi manusia. Dan, masalah klasik yang dialami peternak dalam penyediaan

pakan dari segi musim adalah melimpahnya pakan di musim hujan dan

berkurangnya pakan di musim kemarau. Belum lagi kualitas dari pemanfaatan

bahan atau material dari ikutan produk pertanian / agroindustri masih terbilang

rendah karena belum semua kalangan mampu untuk mengolahnya menjadi bahan

pakan dengan kualitas baik. Karena itu, dibutuhkan pengolahan bahan pakan yang

baik untuk memenuhi kebutuhan pakan bagi meningkatnya populasi ternak dan

untuk meningkatkan produktivitas ternak.

Pengolahan pakan merupakan suatu kegiatan untuk mengubah pakan

tunggal atau campuran menjadi bahan pakan baru atau pakan olahan. Bahan

1
pakan baru yang dihasilkan dari proses pengolahan diharapkan mengalami

peningkatan kualitas. Proses pengolahan pakan ini mempunyai beberapa tujuan

diantaranya meningkatkan kualitas bahan, pengawetan, meningkatkan

palatabilitas, efesiensi pakan.

Pemilihan terhadap cara pengolahan yang tepat terhadap bahan pakan perlu

dilakukan sehingga pengolahan yang dilakukan akan benar-benar bermanfaat

meningkatkan kualitas nutrisinya. Pengolahan pakan dapat dilakukan dengan cara

mekanik, teknis, kimia, biologis bahkan campuran dari berbagai pengolahan.

Dengan latar belakang tersebut maka dibuatlah Laporan praktikum tentang

“Pengolahan Bahan Pakan secara Fisik”.

1.2 Identifikasi Masalah

1. Bagaimana pengolahan bahan pakan dengan cara penggilingan.

2. Bagaimana pengolahan bahan pakan dengan cara densitas dan

penyaringan.

3. Bagaimana pengolahan bahan pakan dengan cara pengeringan.

1.3 Maksud dan Tujuan

1. Untuk mengetahui pengolahan bahan pakan dengan cara penggilingan .

2. Untuk mengetahui pengolahan bahan pakan dengan densitas dan cara

penyaringan.

3. Untuk mengetahui pengolahan bahan pakan dengan cara pengeringan.

2
1.4 Waktu dan Tempat

1. Penggilingan jagung

Hari, tanggal : Selasa, 19 September 2017

Jam : 9.30 – 11.30 WIB

Tempat : Feedmill Fakultas peternakan, Universitas Padjadjaran.

2. Densitas dan Penyaringan Jagung

Hari, tanggal : Selasa, 26 September 2017

Jam : 9.30 –11.30

Tempat : Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas, Non Ruminansia

dan Industri Makanan Ternak Fakultas Peternakan,

Universitas Padjadjaran.

3. Pengeringan Jagung

Hari, tanggal : Selasa- Kamis, 3-6 Oktober 2017

Jam : 9.30 – 11.30

Tempat : Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas, Non Ruminansia

dan Industri Makanan Ternak Fakultas Peternakan,

Universitas Padjajaran.

3
II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penggilingan Jagung

Penggilingan terjadi didalam ruangan silindris oleh palu yang terpasang

pada sumbu.Sumbu beserta palu berputar dengan kecepatan tinggi sehingga

melumatkan bahan dimana putaran sumbu ditransfer dari putaran enjin. Kaktor-

faktor yang mempengaruhi Kemampuan Kerja Alat adalah Jenis bahan, Dimensi

alat (ukuran diameter silinder dan jumlah palu) , Diameter lubang saringan,
Ketrampilan Operator dan Kecepatan putaran mesin (rpm). (Sudigdo, 2003)

Penggilingan adalah salah satu cara untuk memecah dan memperkecil

partikel bahan sehingga volumenya menjadi lebih kecil untuk mempermudah

penyimpanan dan pengemasan ,serta diharapkan bisa meningkatkan daya guna dan

manfaat bahan. Dengan metode penggilingan diharapkan dapat dihasilkan bahan

awetan dan bahan baku untuk pengolahan pakan sehingga dapat mengatasi
ketersediaan pakan sampai akhir musim kemarau. (Sudigdo, 2003)

Penggilingan merupakan proses pengecilan ukuran dengan gaya mekanis

mmenjadi beberapa fraksi ukuran yang lebih kecil. Alat penggilingan yang

digunakan untuk menggiling bahan pakan menjadi berbentuk tepung dari serealia

terdiri dari alat pengghancur dan penggilas (grinder). Hasil penggilingan kemudian

diayak untuk memisahkan bagian kulit dan serat-seratnya. Hasil gilingan diayak

dan pengayakan bertingkat untuk mendapat berbagai tingkat hasil giling


(Rosmisari, 2006).

Metode penggiligan ada dua jenis yaitu metode basah dan metode kering,

metode basah dilakukan perendaman bahan terlebih dahulu sebelum digiling

sedangkan metode kering tidak dilakukan perendaman. Metode basah lebih

4
aplikatif dimasyarakt sedangkan metode kering lebih sering digunakan dalam
penggilingan skala besar (Suprapto, 1998).

Efisien penggunaan energy pada penggilingan kering lebih rendah

disbanding dengan penggilingan basah. Metode basah dapat memperkecil kerugian


akibat oksidasi bahan olah dan menghasilkan tekstur lebih halus (Haros dkk, 2003).

Menurut Pratomo dkk. (1982), penggilingan hasil pertanian terutama yang

berbentuk biji-bijian untuk dibuat tepung dapat dilakukan secara kecil-kecilan

(tradisional) yang dilakukan secara basah dan secara besar-besaran (menggunakan

mesin penggiling) yang dilakukan dengan proses kering. Tepung yang dihasilkan
dari proses kering lebih baik mutunya dan bisa langsung dikemas.

Wirakartakusumah dkk. (1992) menyebutkan bahwa sebelum dilakukan

proses penggilingan ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan yaitu,


varietas, kekerasan bahan, struktur mekanis dan kadar air bahan.

Pratomo dkk. (1982) menyatakan bahwa pada proses penggilingan kering

kadar air bahan sangat mempengaruhi terhadap kapasitas giling, rendemen hasil,

kenaikan temperatur hasil gilingan serta mutu tepung yang dihasilkan terutama
kehalusan tepung dan kadar air tepung yang dihasilkan.

Mesin Hammer mill

Berdasarkan kerja atau cara pembebanannya terhadap bahan yang akan


diproses, mesin pemecah dibagi dalam tiga golongan, yaitu mesin pemecah dengan

beban tekan, mesin pemecah dengan beban impact, dan mesin pemecah berputar.

Pada mesin pemecah dengan beban tekan, pecahnya bahan terjadi karena adanya

beban tekan yang diberikan oleh alat kepada bahan. Besamya beban tekan relatif

lebih besar dari pada kekuatan yang dimiliki bahan. Menurut cara pembebanannya,

ada dua jenis mesin pemecah dengan beban tekan, yaitu tekanan bolak-balik (jaw

5
crusher, gyratory crusher, dan disc crusher dan tekanan kontinu. Pada mesin

pemecah dengan beban impact, pecahnya bahan adalah akibat beban impact yang

ditimbulkan oleh tumbukan antara komponen mesin yang bergerak cepat dengan

bahan. Jenis-jenis mesin pemecah dengan beban impact di antaranya hammer

crusher; dual rotor impact breaker, vertical impact crusher dan rotary knife cutter.

Prinsip kerja mesin pemecah berputar adalah ruang pemecah berputar pada
sumbunya.

Untuk menentukan banyaknya alat penggiling jagung yang akan

dioperasikan dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah produksi jagung,

energi yang dibutuhkan dan yang tersedia untuk proses penggilingan, serta jumlah

produksi jagung tergiling yang diinginkan. Alat penggiling jagung ini dibuat untuk

meningkatkan nilai tambah jagung dan untuk mempertahankan serta meningkatkan


daya simpan jagung.

2.2 Densitas dan Penyaringan Jagung (Ukuran Partikel)

Densitas adalah salah satu analisis pakan yang sering dipakai dan

merupakan cara pengukuran yang sederhana. Analisis ini terutama dipakai pada

analisis zat cair namun dapat juga dipakai pada analisis bahan padat. Perubahaan

terkecil dalam volume pencampuran suatu komponen dan konsentrasi

berhubungan erat dengan densitas. Perubahan perunit densitas merupakan


perubahan yang besar dalam konsentrasi bahan (Pomeranz dan Meloan, 1971).

Dengan mengetahui kerapatan dari suatu bahan maka dapat diperhitungkan

secara tepat berapa banyak jumlah zat yang akan digunakan dan bentuk zat tersebut

apakah berupa padatan utuh atau serbuk. Selain itu dapat pula diketahui kandungan

minyak dari ekstrak lemak dalam kondisi spesifik. Dengan demikian dapat

6
dilakukan penghematan pengeluaran (low cost) karena perubahan pada densitas
juga mempengaruhi konsentrasi dari bahan tersebut.

Salah satu contoh dari pengaruh densitas adalah pembuatan pellet. Mc

Ellhiney (1994) menyatakan bahwa dua faktor yang mempengaruhi ketahanan

serta sifat pellet yaitu karakteristik bahan dan ukuran pertikel. Hal ini juga

diperkuat pendapat Balagopalan dkk. (1988) bahwa ukuran partikel yang kecil

akan menyebabkan pellet semakin kuat. Faktor lain yang mempengaruhi kekerasan

pellet adalah kadar kehalusan bahan pakan. Bahan campuran pakan yang halus

akan menyebabkan kekerasan pellet yang kuat. Faktor lain yang mempengaruhi
kekerasan pellet adalah kadar kehalusan bahan.

Sifat - sifat fisik partikel ditentukan oleh asal bahan dan proses

pengolahannya, salah satu sifat yang sangat penting dari pakan bentuk granula dan

tepung adalah ukuran partikel serta distribusi ukuran .Pengamatan sifat fisik

meliputi densitas, kekerasan, stabilitas pellet, berat jenis dan kadar air. Pengamatan

terhadap sifat fisik pellet merupakan bagian penting untuk mengetahi mutu pellet
yang dihasilkan.

Menurut Henderson (1976), bahwa kadar kehalusan bahan menunjukan

adanya keseragaman hasil penggilingan dan didefinisikan sebagai jumlah berat

yang ditahan diatas masing – masing saringan dibagi seratus. Pengujian densitas

dilakukan berdasarkan metode yang pernah dilakkan Murdinah (1989) yaitu

dengan mengukur tinggi dan diameter masing – masing pellet tersebut dan

menimbangnya dengaan menggunakan neraca analitik untuk mendapatkan angka

yang teliti. Densitas diperoleh dengan membagi berat pellet (gram) dengan volume
yang diperoleh melalui rumus sebagai berikut :

7
𝑀
𝐷= 𝑥1
𝑉
Keterangan :

D = densitas (gram / cm3)

M = berat sampel (gram)

V = volume (cm3)

Densitas digunakan untuk mengetahui kekompakan dan tekstur pakan.

tekstur pakan yang kompak akan tahan terhadap proses penekanan sehinggga

ikatan antara partikel penyusun pakan menjadi kuat dan tidak terisi rongga udara.

Analisis sifat fisik yaitu densitas merupakan salah satu bagian penting untuk
mengetahui pakan yang dihasilkan (Murdinah, 1989).

2.3 Pengeringan Singkong

Pengeringan merupakan operasi pengurangan kadar air bahan padat

sampai batas tertentu sehingga bahan tersebut bebas terhadapserangan

mikroorganisme, enzim, dan insekta yang merusak. Secaralebih luas, pengeringan

merupakan proses yang terjadi secarasimultan (serempak) antara perpindahan

panas dari udara pengeringan ke bahan yang dikeringkan dan terjadi penguapan

uapair dari bahan yang dikeringkan. Pengeringan dapat terjadi karenaadanya

perbedaan kelembapan (humidity) antara udara keringdengan bahan yang


dikeringkan (Wirakartakusumah, 1992).

Pengeringan adalah pemisahan air dari bahan yang mengandung air dalam

jumlah kecil dengan mengalirkan udaramelalui bahan. Pengeringan adalah

mengeluarkan ataumenghilangkan sebagian air dari suatu bahan pangan dengan

caramenguapkan sebagian air yang terkandung dalam bahan pangandengan

menggunakan energi panas. Penghilangan kadar air dengantingkat kadar air yang
sangat rendah mendekati kondisi “bone dry”(Suharto, 1998).

8
Pengeringan merupakan metode untuk mengeluarkan ataumenghilangkan

sebagian air dari suatu bahan dengan caramenguapkannya hingga kadar air

keseimbangan dengan kondisiudara normal atau kadar air yang setara dengan nilai

aktifitas air yang aman dari kerusakan mikrobiologis, enzimatis dan


kimiawi(Wirakartakusumah, 1992).

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kecepatan Pengeringan

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan pengeringan terdiri dari dua


bagian yaitu :

1. Faktor Internal.
a. Sifat bahan

Sifat bahan yang dikeringkan merupakan faktor utama yangmempengaruhi

kecepatan pengeringan. Jika dua bahan pangan dengan ukuran dan bentuk yang

sama dikeringkan pada kondisi yang sama, kedua potongan tersebut akan

kehilangan air dengan kecepatan yang sama pada awal pengeringan.

Jika kadar air dinyatakan dalam gram air per gram bahan kering, maka

kecepatan pengeringan bahan A sekitar dua kali kecepatan pengeringan bahan B

karena kadar padatan bahan A sekitar setengah kali kadar padatan bahan B

(Wirakartakusumah, 1992).

b. Ukuran Bahan

Kecepatan pengeringan lempengan basah yang tipis berbanding terbalik

dengan kuadrat ketebalannya, jadi jika potongan bahan pangan dengan tebal satu

pertiga dari semula dikeringkanakan mengalami pengeringan yang sama dengan

kecepatan sembilan kali kecepatan asalnya (Wirakartakusumah, 1992). Peristiwa

ini terjadi pada kondisi dimana resistensi internal terhadap pergerakan air jauh

lebih besar daripada resistensi permukaan terhadap penguapan. Oleh karena itu

9
waktu pengeringan dapat dipersingkat dengan pengurangan ukuran bahan yang

dikeringkan. Keadaan ini diterapkan pada spray drying dimana diameter partikel

atau penyemprotan hanya beberapa micron (Wirakartakusumah, 1992).

c. Faktor eksternal.

Laju pengeringan bahan seperti halnya pada penguapan dari permukaan air

tergantung kecepatan udara yang melewati bahan. Pengaruh perbedaan kecepatan

sangat nyata pada kecepatan udara beberapa ratus kaki per menit. Peningkatan

kecepatan udara padakisaran 1000 kaki per menit kecil sekali pengaruhnya
terhadap laju pengeringan (Wirakartakusumah, 1992).

10
III

ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA

3.1 Penggilingan Jagung

3.1.1 Alat

1. Hammer mill, berfungsi sebagai alat untuk menggiling bahan pakan.

2. Screen ukuran 5,berfungsi untuk menyaring bahan pakan yang digiling

berukuran 5 mm.

3. Wadah, berfungsi untuk menampung bahan pakan yag telah digiling.

4. Timbangan digital portable , berfungsi untuk menimbang bahan pakan.

3.1.2 Bahan

1. Butiran jagung 5 kg, sebagai bahan pakan yang akan digiling.

3.1.3 Prosedur Kerja

1. Menyiapkan sampel bahan pakan jagung sebanyak 5 Kg.

2. Menyiapkan screen 5 dan memasangkannya pada alat Hammer mill.

3. Memasukkan sampel jagung ke dalam mesin dengan kondisi katup tertutup.

4. Menyalakan mesin, kemudian membuka katup dan menyalakan stopwatch.

5. Menunggu jagung halus dan mematikan stopwatch.

6. Menimbang jagung halus yang dihasilkan.

7. Menghitung waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh jagung halus

(Kg/jam)

11
3.2 Densitas dan Penyaringan Jagung

3.2.1 Alat

1. Saringan nomor 10 (2 mm), nomor 14 (1,41 mm), nomor 18 (1 mm), dan

nomor 30 (0,59 mm), berfungsi untuk menyaring jagung yang telah

digiling.

2. Wadah penampung, untuk menampung jagung.

3. Timbangan, untuk menimbang berat jagung ketika penyaringan dan

mengukur densitas.

4. Penggaris, untuk mengukur jarak antara tabung silinder ke lantai ketika

melakukan pengukuran densitas.

5. Terpal, berfungsi sebagai alas ketika melakukan pengukuran densitas agar

jagung yang terjatuh tidak bercecer kemana-mana.

6. Plastik, sebagai wadah jagung yang lolos dari setiap nomor saringan.

7. Tabung silinder, wadah yang diisi jagung yang kemdian dijatuhkan.

3.2.2 Bahan

1. Jagung yang telah digiling

3.2.3 Prosedur Kerja

a. Densitas

1) Mengukur jari-jari dan tinggi tabung.

2) Memasukkan jagung yang telah digiling ke dalam tabung hingga penuh lalu

diratakan.

3) Menjatuhkan tabung dengan ketinggian 15 cm sebanyak dua kali.

4) Mengukur tinggi jagung yang tersisa di dalam tabung.

5) Menimbang berat jagung.

6) Gunakan rumus densitas.

12
b. Persentase Ukuran Partikel

1) Mengambil jagung 1 kg/kelompok.

2) Menyaring jagung halus pada saringan nomor 10.

3) Menimbang jagung yang tidak lolos saringan nomor 10.

4) Menyaring kembali jagung sisa saringan nomor 10 dengan saringan nomor

14, nomor 18, dan nomor 30.

5) Menimbang sisa jagung yang tidak lolos saringan 30.

6) Menghitung persentasi dari setiap saringan.

3.3 Pengeringan Singkong

3.3.1 Alat

1. Trashbag, sebagai alas untuk menjemur

2. Pisau, berfungsi untuk memotong objek

3. Penggaris, berfungsi untuk mengukur objek

3.3.2 Bahan

1. Singkong 2 Kg, sebagai bahan

3.3.3 Prosedur Kerja

1. Menimbang singkong sebanyak 2 Kg, lalu dibagi menjadi 2 bagian (masing-

masing sekitar 1 kg).

2. Mengupas kulit singkong, lalu menimbang kulit singkong per bagian

3. Memotong daging singkong dengan ketebalan 1 cm dan 1.5 cm, lalu

timbang masing-masing ukran.

4. Menjemur daging singkong yang telah diirisdi atas trashbag dengan posisi

melintang dan terkena cahaya matahari

5. Melakukan pengambilan data setiap pukul 07.00 dan 15.30 selama tiga hari

berturu-turut

13
6. Membuat perhitungan pengurangan kadar air setiap pemgecekan (dalam

bentuk %) lalu membuat grafik laju penurunan kadar air

14
IV

HASIL DAN DISKUSI

4.1. Hasil Pengamatan

4.1.1. Penggilingan jagung

Berdasarkan percobaan penggilingan pada 5 kg jgung didapatkan hasil sebagai

berikut :

Berat awal jagung (A) : 5 kg

Waktu penggilingan (t) : 1 menit 44 derik = 1,73 menit

Produktivitas mesin : 173,41kg/jam

Berat akhir jagung (B) : 4,580 kg

Berat jagung yang terbuang : 0,42 kg

Menghitung produktivits mesin


𝐴
Produktivitas mesin = × 60(𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
𝑡

4.1.2. Densitas dan penyaringan jagung

Berdasarkan percobaan densitas dan penyaringan pada tepung jagung dan


dedak didapatkan hasil ebagai berikut :

Tabel1.Data Hasil Pengayakan Tepung Jagung

Ukuran Berat Tak % Tak % yang lolos Densitas

Screen Lolos Lolos

10 47 gram 4,7% 95,3%

14 494 gram 49,4% 45,9%


657,41 kg/m3
18 188 gram 18,8% 27,1%

30 127gram 12,7% 13,8%

15
Data setiap kelompok:

Kel Produktivita Tidak lolos saringan (%) Lolos Total Densitas

as mesin 10 14 18 30 saringan Penyaringa (kg/m3)

(kg/jam) 30 (%) n (%)


Screen 5

1 111,1 6,3 42,3 18,2 13,3 18,3 98,4 650

3 411 13,4 49,9 12,7 10,9 12,8 99,7 615,57

5 173,41 4,7 49,4 18,8 12,7 13,8 99,4 657,41

7 338,05 13,5 49,4 14,7 9,6 12,8 100 714,21


Screen 2

2 83,1 0 1,9 25,8 32,5 39 99,2 738,4

4 68,18 0,1 1,9 19,9 36,6 41,3 99,8 651,738

6 82,87 0 1,6 21,3 32,8 43,1 98,8 703,49

8 79,65 0 1,5 19,2 33,3 44,8 98,8 705,91

4.1.3. Pengeringan singkong

1. Data Berat Singkong

Berat 1 cm 1.5 cm

Awal 1016 g 1036 g

Kulit 162 g 181 g

Daging 805 g 876

16
2. Data Kadar Air

1 cm 1.5 cm kulit
Suhu
Hari Ke 07.00 15.30 07.00 15.30 07.00 15.30

(%) (˚C)

1 67 55.77 67 60.81 66 47.34 20

2 49.53 37.21 56.22 45.97 36.93 22.51 29

3 33.47 31.31 42.22 39.54 20.97 20.20 29

4 29.81 37.48 20.01 20

4.2 Diskusi

4.2.1 Penggilingan Jagung

Penggilingan dilakukan untuk mendapatkan ukuran bahan pakan yang lebih

kecil. Keuntungan lain dari penggilingan ini adalah bahan baku akan menjadi

mudah ditangani dan mempermudah proses pencampuran bahan pakan (Koch,

1996).Menurut Koch (1996), terdapat 2 metode pemecahan bahan baku utama,

yaitu dengan menggunakanHammer Mill dan Roller Mill, walaupun sebenarnya


masih terdapat metode lainnya, antara lain Burr Mill (Disk Mill)..

Pada praktikum kali ini, di sediakannya biji jagung yang akan digiling

menjadi ukuran yang lebih kecil atau halus. Sama halnya dengan Agustina (2005)

yang menyatakan proses penggilingan merupakan salah satu proses penyeragaman

ukuran partikel melalui penggunaan screen untuk mengurangi ukuran partikel

menjadi lebih halus. Bahan baku yang berbentuk butiran (kasar) yaitu jagung,

digiling dengan menggunakan mesin hammer mill dengan ukuran screen yang

berbeda.

17
Penggunaan screen akan menentukan besarnya ukuran partikel bahan

pakan hasil penggilingan. Terdapat 2 ukuran screen pada pelaksanaan praktikum,

yaitu screen 2 dengan ukuran 2 mm, dan screen 5 dengan ukuran 5 mm. Pada

proses penggilingan, diamati dan dihitung waktu penggilingan untuk 5 kg biji

jagung hingga menjadi serbuk halus (mesh), serta dihitung produktivitas mesin

tersebut.

Berdasarkan hasil percobaan pada 5 kg jagung (screen 5) yang telah

digiling menggunakan hammer mill selama 1,73 menit didapatkan berat akhir

jagung sebesar 4,580 kg. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat 0,42 kg jagung yang

terbuang dalam proses penggilingan jagung tersebut. Meskipun berat jagung yang

jatuh tersebut tidak mempengaruhi produktivitas mesin hammer mill akan tetapi

hal tersebut berpengaruh terhadap hasil akhir dari tepung jagung yang diperoleh.

Penyebab jagung yang terbuang diantaranya saat memasukkan jagung ke dalam

mesin terlalu penuh sehingga terdapat beberapa butir jagung yang jatuh akibat

adanya getaran dari mensin yang sedang menyala. Selain itu penyebab lainnya

adalah saat memasukkan hasil penggilingan ke dalam karung, karung yang

digunakan untuk menampung hasil penggilingan kurang menutup sehingga


terdapat beberapa gram yang tidak tertampung.

Sehingga hal-hal yang harus diperhatikan pada proses penggilingan, yaitu

saat memasukkan sampel, membuka katup, dan karung penampung hasil

penggilingan. Pemasukkan sampel butiran jagung pada alat, sebaiknya dilakukan

dengan sedikit demi sedikit hingga bahan habis. Sampel yang terlalu banyak dan

terlalu cepat dimasukkan ke mesin ketika mesin belum selesai menggiling sampel

sebelumnya, akan menghambat kerja mesin sehingga waktu giling semakin lama.

Untuk karung penampung, diikat dan disambungkan dengan kuat ke bagian output

18
mesin, agar tidak ada hasil gilingan yang terbuang Sementara itu menurut Sudigdo

(2000) Jenis bahan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap

kemampuan kerja alat selain ketrampilan operator, kecepatan putaran mesin (rpm),

ukuran alat dan diameter lubang saringan, serta keuntungan penggunaan

Penggiling Tipe Palu (Hammer mill) adalah hampir semua jenis bahan pakan bisa

digiling, benda asing dalam ruang giling tidak mempengaruhi kemampuan giling
dan konstruksi alat sederhana. .

Penggunaan screen akan menentukan besarnya ukuran partikel bahan pakan

hasil penggilingan. Terdapat 2 ukuran screen pada pelaksanaan praktikum, yaitu

screen 5 dengan ukuran 5 mm, dan screen 2 dengan ukuran 2 mm. Pada proses

penggilingan, diamati dan dihitung waktu penggilingan untuk 5 kg jagung butir


hingga menjadi serbuk halus (mesh), serta dihitung produktivitas mesin tersebut.

Perhitungan produktivitas mesin dilakukan untuk mengetahui kemampuan

mesin menghasilkan output per jam-nya. Untuk produktivitas mesin, didapatkan


hasil 173,41 kg/jam,

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐽𝑎𝑔𝑢𝑛𝑔 𝑆𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑑𝑖𝑔𝑖𝑙𝑖𝑛𝑔


Produktivitas Mesin (Kg/Jam) = × 60(𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
𝑙𝑎𝑚𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑔𝑖𝑙𝑖𝑛𝑔𝑎𝑛
5
= 1,73 × 60(𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)

=173,41 kg/jam

Hasil ini terpaut jauh dengan produktivitas mesin yang

menggunakan screen 2. Sebagai contoh kelompok 2 yaitu 68,18 kg/jam.

Produktivitas mesin yang didapat hampir 3x lipat dari hasil yang didapat dengan

penggunaan screen 2. Hasil ini dipengaruhi oleh ukuran screen. Apabila

ukuran screen kecil (screen 2), maka waktu giling akan semakin lama,

19
sehingga output yang dihasilkan dalam 1 jam mesin berjalan juga akan menjadi
sedikit.

Data kelompok menunjukkan meskipun perlakuan sama akan tetapi hasil

yang diperoleh begitu beragam seperti pada kelompok 1,3,5, dan 7 yang

melakukan penggilingan dengan screen 5 memilki hsil yang sangat beragam yaitu

111,1, 411, 173,41, dan 338,05 secara berturut-turut. Hal ini disebabkan karena

adanya perbedaan orang yang mengerjakan praktikum tersebut sehingga dapat

terjadi eror di setiap perhitungan.

Berdasarkan hasil percobaan pada 5 kg jagung (screen 5) yang telah digiling

menggunakan hammer mill selama 1,73 menit didapatkan berat akhir jagung

sebesar 4,580 kg. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat 0,42 kg jagung yang

terbuang dalam proses penggilingan jagung tersebut. Meskipun berat jagung yang

jatuh tersebut tidak mempengaruhi produktivitas mesin hammer mill akan tetapi

hal tersebut berpengaruh terhadap hasil akhir dari tepung jagung yang diperoleh.

Penyebab jagung yang terbuang diantaranya saat memasukkan jagung ke dalam

mesin terlalu penuh sehingga terdapat beberapa butir jagung yang jatuh akibat

adanya getaran dari mensin yang sedang menyala. Selain itu penyebab lainnya

adalah saat memasukkan hasil penggilingan ke dalam karung, karung yang

digunakan untuk menampung hasil penggilingan kurang menutup sehingga

terdapat beberapa gram yang tidak tertampung.

Sehingga hal-hal yang harus diperhatikan pada proses penggilingan, yaitu

pemasukkan sampel, pembukaan katup, dan karung penampung hasil

penggilingan. Pemasukkan sampel butiran jagung pada alat, sebaiknya dilakukan

dengan sedikit demi sedikit hingga bahan habis. Sampel yang terlalu banyak dan

terlalu cepat dimasukkan ke mesin ketika mesin belum selesai menggiling sampel

20
sebelumnya, akan menghambat kerja mesin sehingga waktu giling semakin lama.

Untuk karung penampung, diikat dan disambungkan dengan kuat ke bagian output

mesin, agar tidak ada hasil gilingan yang terbuang Sementara itu menurut Sudigdo

(2000) Jenis bahan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap

kemampuan kerja alat selain ketrampilan operator, kecepatan putaran mesin (rpm),

ukuran alat dan diameter lubang saringan, serta keuntungan penggunaan

Penggiling Type Palu (Hammer mill)adalah hampir semua jenis bahan pakan bisa

digiling, benda asing dalam ruang giling tidak mempengaruhi kemampuan giling
dan konstruksi alat sederhana. .

Perhitungan produktivitas mesin dilakukan untuk mengetahui kemampuan

mesin menghasilkan output per jam-nya. Untuk produktivitas mesin, didapatkan

hasil 173,41 kg/jam. Menurut Rifki Zulkarnain dkk (2014), kapasitas standar

hammer mill sekitar 100kg/jam dengan Dimensi (pxlxt) 800x400x1200mm, dan

Sistem hammer dengan 12 pisau. Jadi produktivitas mesin dapat dipengaruhi oleh

dimensi mesin, sistem hammer dan perlakuan praktikum yang baik.

4.2.2 Densitas dan Penyaringan (Ukuran Partikel) Jagung

Penyaringan adalah suatu proses pemisahan bahan berdasarkan ukuran

lubang kawat yang terdapat pada ayakan, bahan yang lebih kecil dari ukuran

mesh/lubang akan masuk, sedangkan yang berukuran besar akan tertahan pada

permukaan kawat ayakan. Setiap fraksi tersebut menjadi lebih seragam dalam

ukurannya dibandingkan campuran aslinya. Screen adalah suatu permukan yang

terdiri dari sejumlah lubang-lubang yang berukuran sama. Permukaan tersebuat

dapat berbentuk bidang datar (horizontal atau miring), atau dapat juga berbentuk

silinder. Screen yang berbentuk datar yang mempunyai kapasitas kecil disebut juga
ayakan/pengayak (sieve)(Fellows, 1990).

21
Berdasarkan hasil pengamatan percobaan pengayakan ini berat jagung

yang tidak lolos pada ukuran mesh 10 adalah sebesar 0,047 kg, ukuran mesh 14

sebesar 0.494 kg, ukuran mesh 18 sebesr 0.181 kg, ukuran mesh 30 sebesar 0,123

kg dengan densitas sebesar 654,41 kg/m3. Pada proses pengayakan, bahan dibagi

menjadi bahan kasar yang tertinggal di bagian atas, dan bahan yang lebih halus

yang lolos melalui ayakan (aliran bawah). Bahan yang tertinggal hanyalah partikel

yang lebih besar daripada lubang ayakan. Sedangkan bahan yang lolos, berukuran

lebih kecil dari lubang ayakan tersebut (Bernasconi; 1995). Hal tersebut berarti

terdapat sebanyak 0,047 kg tepung jagung yang berukuran lebih dari 2mm, 0,494

kg tepung jagung yang berukuran lebih dari 1,41 mm, 0,181 kg yang berukuran
lebih dari 1mm, dan 0,047 kg yang

Menurut besar ukurannya. Mc Cabe dkk (1993) mengatakan bahwa

penyaringan (screening) adalah metode untuk memisahkan partikel menurut

ukuran semata-mata. Dalam proses pengayakan yang dilakukan di industri, zat

padat dijatuhkan atau dilemparkan ke permukaan pengayak. Partikel yang di

bawah ukuran atau yang kecil (undersize) atau halusan (finess), lolos melewati

bukaan ayak, sedang yang di atas ukuran atau yang besar (oversize) tidak lolos.

Bahan digoyangkan atau digerakkan di atas saringan halus atau kain penyaringan,

sehingga partikel yang lebih kecil dari ukuran lubang saringan dapat lolos di bawah
pengaruh gaya gravitasi.

Berat bahan sebelum dilakukan proses pengayakan yaitu sebanyak 1 kg,

tetapi setelah proses dilakukan berat bahan menjadi 994 gram, maka telah terjadi

adanya penyusutan bahan sebanyak 6 gram. Banyak faktor yang dapat

menyebabkan penyusutan bahan salah satunya adalah faktor lingkungan misalnya

tertiup udara atau angin karena dari bahan tersebut berbentuk serbuk atau tepung

22
sehingga mudah tertiup. Dan pada proses pengayakan misalnya pada pembersihan

tepung dari setiap mesh masih banyak yang tertinggal (Fellows, 1988).

Berdasarkan data yang telah terhimpun dari 8 kelompok praktikum, terdapat

perbedaan yang sangat nyata antara jagung yang digiling menggunakan screen 5

dengan jagung yang digiling menggunakan screen 2. Perbedaan yang nyata itu

dapat dilihat dari persentase jagung yang tidak lolos pada saringan no.10 dan

saringan no. 14. Persentase jagung giling screen 2 yang tidak lolos pada saringan

no.10 dapat mencapai 0 % hal ini berarti bahwa ukuran seluruh partikel jagung

tersebut lebih kecil dari 2 mm, sementara persentase jagung giling screen 5 yang

tidak lolos saringan 10 sangat bervariasi mulai dari 4,7% hingga 13,5 % hal ini

berarti bahwa terdapat ukuran partikel jagung sebanyak persentase tersebut yang

lebih besar dari 2 mm. Perbedaan persentase pada masing-masing screen dapat

disebabkan oleh beberapa hal diantaranya sifat alamiah partikel, bentuk partikel,

frekuensi dan jumlah penggerkan, dan metode yng digunakan untuk mencegah

penutupan lubang saringan oleh partikel. Frekuensi dan banyaknya banyaknya

jagung yang diayak dalam saringan mempengaruhi persentase ukuran partikel. Hal

ini sesuai dengan pernyataan Earle (1969) yaitu laju penembusan saringan

tergantung kepada beberapa faktor, terutama sifat alamiah partikel dan bentuk

partikel, frekuensi dan jumlah penggerakan, metode yang digunakan untuk

mencegah perlekatan partikel atau penutupan lubang saringan oleh partikel dan

gaya tegang serta sifat alamiah alat bahan penyaring.

Pada praktikum kali ini, kami melakukan perhitungan densitas tepung

jagung dengan tabung silinder, penggaris dan alat timbang. Didapatkan hasil tinggi

tabung sebesar 11cm, jari- jari tabung sebesar 5,5cm, berat tepung jagung sebanyak

650 gr dan tapung jagung dimasukan kedalam tabung silinder. Lalu tabung tersebut

23
djatuhkan dari ketinggian 15cm sebanyak dua kali dan hasil nya didapatkan

penurunan tinggi tepung sebesar 0,6 cm yang artinya setelah dijatuhkan dua kali

tinggi tepung tersebut menjadi 10,4 cm pada tabung silinder. Setelah itu

menghitung densitas dan diperoleh hasil yaitu sebesar 657,41 kg/m3 dengan rumus:

 Densitas = Massa / Volume

= 650 gr / π r2 t

= 650/ 3,14 . 5,52 . 10,4

= 552 / 988,728
= 0,65741 gr/cm3 = 657,41 kg/m3

Densitas jagung yang telah digiling tergantung dari volume jagung tersebut.

Secara kualitatif kualitas butiran jagung dapat diuji dengan menggunakan bulk

density ataupun uji apung. Bulk density butiran jagung yang baik adalah 636,6

g/liter, sedangkan untuk jagung giling yang baik berkisar antara 701.8 – 722,9

g/liter (Tim Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, 2012). Sementara

densitas jagung giling pada praktikum kali ini adalah sebesar 657, 41 kg/m 3 atau

setara dengan 657,41 g/liter. Terdapat perbedaan yang cukup jauh antara densitas

jagung giling yang tertulis dalam literatur dengan densitas jagung giling yang

dihitung saat praktikum salah satu penyebabnya adalah saat memasukkan jagung

ke dalam silinder jagung yang masuk dipadatkan dengan menggunakan tangan

sehingga ketika menjatuhkan silinder yang berisi jagung ke lantai banyak jagung

yang berserakan hal itulah yang menyebabkan hasil densitas jagung giling saat

praktikum lebih rendah dari literatur. Berdasarkan data kelompok, besaran densitas

yang paling mendekati literatur adalah densitas kelompok 6 dan 7 yaitu sebesar

703,49 kg/m3 dan 714,21 kg/m3, sementara densitas kelompok 2 berada diatas

24
litertur yaitu sebesar 738,4 kg/m3, densitas kelompok 1,3,5, dan 4 berada dibawah

angka literatur.

Secara kualitatif kualitas butiran jagung dapat diuji dengan menggunakan

bulk density ataupun uji apung. Bulk density butiran jagung yang baik adalah 636,6

g/liter, sedangkan untuk jagung giling yang baik berkisar antara 701.8 – 722,9

g/liter (Tim Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, 2012). Sementara

densitas jagung giling pada praktikum kali ini adalah sebesar 657, 41 kg/m 3 atau

setara dengan 657,41 g/liter. Terdapat perbedaan yang cukup jauh antara densitas

jagung giling yang tertulis dalam literatur dengan densitas jagung giling yang

dihitung saat praktikum salah satu penyebabnya adalah saat memasukkan jagung

ke dalam silinder jagung yang masuk dipadatkan dengan menggunakan tangan

sehingga ketika menjatuhkan silinder yang berisi jagung ke lantai banyak jagung

yang berserakan hal itulah yang menyebabkan hasil densitas jagung giling saat
praktikum lebih rendah dari literatur.

4.2.3 Pengeringan Singkong

Proses pengeringan yang dilakukan adalah suatu metode untuk

menghilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan cara menguapkan air tersebut

dengan menggunakan energi panas (Winarno, 1984). Pada proses pengeringan ini

bertujuan mengurangi kadar air bahan sampai batas di mana perkembangan

mikroorganisme dan kegiatan enzim yang dapat menyebabkan pembusukan

terhambat terhenti. Dengan demikian bahan yang dikeringkan dapat mempunyai

waktu simpan yang lama. Hal ini sesuai dengan pendapat Hall (1957) yang

menyatakan bahwa proses pengeringan adalah proses pengambilan atau penurunan

kadar air sampai batas tertentu sehingga dapat menghambat laju kerusakan biji-

bijian akibat aktivitas biologik dan kimia sebelum bahan diolah atau digunakan.

25
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penurunan kadar air yang terbesar

terjadi pada kulit kemudian dilanjutkan dengan potongan singkong berukuran 1

cm, hingga yang mengalami penurusan kadar air yang terkecil yaitu potongan

singkong berukuran 1.5 cm. Jika dilihat dari tingkatan penurunan kadar air

tersebut, maka hal yang sangat mempengaruhi penurunan kadar air tersebut adalah

ukuran bahan yang dikeringkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Maryati, 1992

dikutip dalam Taib Gunarif, 1988 menyatakan untuk berhasilnya suatu usaha hasil

pengolahan pertanian dengan pengeringan, salah satu yang harus diperhatikan

adalah luas permukaan bahan. Sebelum proses pengeringan dimulai, bahan

dipotong-potong/reduksi ukuran untuk mempercepat pengeringan. Hal ini

disebabkan bertambahnya luas ukuran bahan permukaan sehingga kontak antara

bahan dengan medium pemanas lebih besar. Pemotongan juga berakibat jarak yang

ditempuh oleh air dari bahan untuk keluar menjadi lebih kecil. Hal ini mempercepat

proses pengeringan suatu bahan.

Selain itu menurut Budiarto (2011), kecepatan pengeringan lempengan

bahan basah yang tipis akan berbanding terbalik dengan kuadrat ketebalannya. Jadi

kecepatan pengeringan potongan bahan yang mempunyai ketebalan satu pertiga

dari semula adalah sembilan kali kecepatan pengeringan potongan asal. Oleh

karena itu lama pengeringan dapat dipersingkat dengan pengurangan ukuran bahan

yang dikeringkan.

Pengeringan yang dilakukan pada praktikum dilakukan secara alami.

Pengeringan alami ini dilakukan dengan penyinaran matahari langsung atau di

daerah yang ternaung dimana pengeringan dilakukan dengan udara kering panas.

Maka pada pengeringan singkong ini sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan.

Jika dilihat dari tabel pengamatan, suhu lingkungan pada setiap harinya berubah-

26
ubah. Pada proses pengeringan selama praktikum, sering terjadinya hujan dan suhu

berubah tiba-tiba mengakibatkan penurunan kadar air yang tidak stabil.

Menurut Nickerson dan Ronsivalli (1980), bahwa buah-buahan kering hanya

dihasilkan di daerah dimana keadaan cuaca mendukung seperti temperatur yang

relatif tinggi, kelembaban relatif rendah, dan sedikit atau bahkan tidak ada curah

hujan. Maka kadar air singkong hasil pengeringan dari praktikum belum benar-

benar habis.

Bahan singkong yang dikeringkan juga dipengaruhi oleh udara di sekitar

lingkungan tempat pengeringan. Selain suhu yang panas, kecepatan udara dapat

menjadi indikator yang mempengaruhi hasil pengeringan dari singkong tersebut.

Menurut Wirakartakusumah (1992), peningkatan kecepatan udara pada kisaran

1000 kaki per menit kecil sekali pengaruhnya terhadap laju pengeringan. Pada

proses pengeringan singkong disimpan di tempat yang kurang memiliki kecepatan

aliran udara maka hal ini menyebabkan lambatnya proses pengeringan. Hal ini

sesuai dengan Maryati (1992), apabila aliran udara disekitar tempat pengeringan

berjalan dengan baik, proses pengeringan akan semakin cepat, yaitu mudah dan

semakin cepat uap air terbawa dan teruapkan. Tetapi apabila aliran udara tersebut

tidak berjalan dan terhambat, uap air dari bahan akan lama teruapkan sehingga akan

menghambat laju pengeringan.

Kurva laju pengeringan dalam periode laju pengeringan menurun berbeda-

beda tergantung pada ketebalan bahan. Pengendalian laju pengeringan merupakan

bagian optimasi proses dalam usaha mengendalikan mutu hasil pengeringan. Laju

pengeringan yang terlalu cepat pada bahan pangan dengan laju pengeringan

menurun, menyebabkan kerusakan fisik dan kimia pada bahan pakan. Terjadinya

case hardening adalah bentuk kerusakan secara fisik akibat dari laju pengeringan

27
yang kurang terkontrol. Hal ini disebabkan terjadinya kecepatan difusi dalam

bahan pangan menuju permukaan tidak dapat mengimbangi kecepatan penguapan

air di permukaan bahan (Afrianti, 2008).

Pada pengeringan, walaupun secara fisik atau kimia masih terdapat molekul-

molekul air terikat, air ini tidak dapat dipergunakan untuk kepentingan mikroba.

Maka dengan demikian pula enzim tidak mungkin aktif pada bahan yang

dikeringkan, karena reaksi biokimia memerlukan air sebagai medianya. Jadi pada

pengeringan diusahakan bahwa kadar air yang tertinggal tidak memungkinkan

enzim dalam mikroba menjadi aktif, sehingga bahan pakan yang dikeringkan dapat

disimpan lebih lama (Maryati, 1992).

Menurut Fellows (2000), suhu tinggi akan mengakibatkan perubahan yang

kompleks pada zat di permukaan bahan pakan, sehingga terbentuk kulit yang keras.

Perubahan tersebut terjadi secara kimiawi dan fisik. Aroma yang ada pada

singkong terlihat semakin berubah siring berlangusngnya pengeringan bahkan jika

waktu pengeringan lebih lama maka semakin lama aroma singkong semakin

menghilang. Hal ini dikarenakan ada senyawa-senyawa yang volatil pada suhu

yang tinggi sehingga pada beberapa jam kemudian semakin lama akan semakin

menghilang aromanya.

Selain aroma yang mengilang maka tekstur pada singkong semakin lama pun

semakin menciut. Hal ini disebabkan oleh adanya kandungan air dalam singkong

tersebut yang lama-lama akan menguap hingga pada akhirnya bentuk darisingkong

pun berubah menjadi keriput karena kandungan air didalamnya semakin sedikit

(Yuni, 2010).

28
V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

1. Penggilingan jagung dilakukan untuk memecah atau memperkecil partikel

jagung dengan menggunakan alat Hammer mill.

2. Densitas dan Penyaringan jagung berguna untuk mengetahui volume

kepadatan suatu bahan dan untuk mengetahui tekstur pakan. Pengolahan

dengan cara ini menggunakan penyaringan dengan berbagai ukuran.


3. Pengeringan singkong berguna untuk mengetahui laju penurunan kadar air

serta untuk mengetahui kadar air akhir singkong.

5.2 SARAN

Praktikum pengolahan bahan pakan secara fisik semoga dapat bermanfaat

bagi para praktikan. Saran dari praktikum yang dilakukan, praktikan harus lebih

memahami tahapan praktikum dan alat- alat yang disediakan selama praktikum juga

harus tersedia dengan baik dan cukup.

29
DAFTAR PUSTAKA

Afrianti, L.H. 2008. Teknologi Pengawetan Pangan. Bandung: Penerbit Alfabtea.

Balagopalan, C. G. Padmaja, S. K. Nanda and S. N. Moorthy. 1988. Cassava in Food,

Feed and Industry. IRC Press. Florida.

Budiarto, Rachmawan. 2011. Kebijakan Energi : Menuju Sistem Energi yang

Berkelanjutan. Yogyakarta: Samudera Biru.

Earle, R. L. 1996. Satuan Operasi dalam Pengolahan Pangan. Bogor : PT Sastra


Hudaya.

Fellows, J.P. 2000. Food Processing Technology: Principles and Practice. 2nd Ed.

Cambridge, England: Woodhead Publ, Lim.

Hall, C.W. 1957. Drying from Farm Crops. Michigan: Eduart Brothers Co.

Haros, M, O. E. Perez, and C.M. Rosell.2003. Effect of steping corn with lactic acid

on starch properties. Ceral Chemistry 81(1): 10-14.

Henderson, S. M. 1976. Agriculture Process Engineering. The AVI Publishing

Company, Inc. New York.

Koch, K. 1996. Hammer mills and roller mills. MF-2048 Feed Manufacturing,

Department of Grain Science and Industry, Kansas State University. 8 pp.

McEllhiney, R. R. 1994. Feed Manufacturing Industry 4th Ed. American Feed Industry

Association Inc. Arlington.

Murdinah. 1989. Studi Stabilitas Dalam Air dan Daya Pikat Pakan Udang Bentuk

Pelet. Tesis Program Pascasarjana IPB. Bogor.

30
Nickerson, J.T.R., dan L.J. Ronsilvalli. 1980. Ellementary Food Science. Second

Edition. The AVI Publishing Company. Inc., Wesport Connecticut. USA.

Pomeranz dan Meloan. 1971. Food Analysis : Teori and Practice. The AVI Publishing.

Co, Inc, Wesport. Connecticut

Praptiningsih, Yulia. Dkk. 1999. Petunjuk Praktikum Teknologi Pengolahan. Jurusan


THP FTP UNEJ : Jember

Pratomo, M., A.K. Irwanto dan D. Pakpahan. 1982. Alat dan Mesin Pertanian 2.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Pendidikan Menengah


Keguruan, Jakarta.

Rosmisary, A. 2006. Review : Tepung jagung komposit, pembuatan dan

pengolahanya. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Inovatif Pascapanen

Pengembangan Pertanian. BPPPT, Bogor.

Sudigdo, J. Nulik, P. Th. Fernandes, Ati Rubiati. 2003. Uji Kerja Alat Penggiling Type

Palu (Hammer Mill) dengan beberapa Jenis Bahan Pakan sebagai Bahan

Uji. Balai Pengujian Teknologi Pertanian (BPTP). Nusa Tenggara Tengah.

Sudigdo. 2000. Uji Kerja Alat Penggiling Putak Type Palu dengan Model Palu Yang
Berbeda. Tesis SI. Fakultas Pertanian UKAW: Kupang.

Suprapto.1998. Bertanam Jagung. Cetakan ke 18. Penebar Swadaya, Jakarta.

Taib, Gunarif., Gunmbira Said., dan Sutedja Wiraatmadja. 1988. Operasi Pengeringan

pada Pengolahan Hasil Pertanian. Jakarta: PT. Mediyatama Perkasa.

Tim Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB. 2012.
Pengetahuan Bahan Makanan Ternak. CV Nutri Sejahtera: Bogor.

Winarno, F.G. 1984. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka.

31
Wirakartakusumah, A, Subarna, M. Arpah, Dahrulsyah dan S.Y. Budiwati. 1992.

Peralatan dan Unit Proses Industri Pangan. Pusat Antar Universitas


Pangan dan Gizi, IPB, Bogor.

Zulkarnain, R., dkk. 2014. Perancangan mesin hammer mill penghancur bongkol

jagung dengan kapasitas 100kg/jam sebagai pakan ternak. Fakultas Teknik,


Universitas Muria: Kudus

32
LAMPIRAN

1. Perhitungan
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐽𝑎𝑔𝑢𝑛𝑔 𝑆𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑑𝑖𝑔𝑖𝑙𝑖𝑛𝑔
Produktivitas Mesin (Kg/Jam) = × 60(𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
𝑙𝑎𝑚𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑔𝑖𝑙𝑖𝑛𝑔𝑎𝑛
5
= 1,73 × 60(𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)

=173,41 kg/jam

Densitas = Massa / Volume

= 650 gr / π r2 t

= 650/ 3,14 . 5,52 . 10,4

= 552 / 988,728

= 0,65741 gr/cm3 = 657,41 kg/m3

Perhitungan pengeringan singkong

𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙 − 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟


𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐴𝑖𝑟 = × 𝐾𝐴%
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙

1 cm

Selasa 805 − 670


67% − ( × 67%) 55.77%
805
Sore

Rabu 670 − 595


55.77% − ( × 55.77%) 49.53%
670
Pagi

Rabu 595 − 447


49.53% − ( × 49.53%) 37.21%
595
Sore

33
Kamis 447 − 402
37.21% − ( × 37.21%) 33.47%
442
Pagi

Kamis 402 − 376


33.47% − ( × 33.47%) 31.31%
402
Sore

Jumat 376 − 358


31.31% − ( × 31.31%) 29.81%
376
Pagi

1.5 cm

Selasa 876 − 795


67% − ( × 67%) 60.81%
876
Sore

Rabu 795 − 735


60.81% − ( × 60.81%) 56.22%
795
Pagi

Rabu 735 − 601


56.22% − ( × 56.22%) 45.97%
735
Sore

Kamis 601 − 552


45.97% − ( × 45.97%) 42.22%
601
Pagi

Kamis 522 − 517


42.22% − ( × 42.22%) 39.54%
522
Sore

Jumat 517 − 490


39.54% − ( × 39.54%) 37.48%
517
Pagi

Kulit

Selasa 343 − 246


66% − ( × 66%) 47.34%
343
Sore

Rabu 246 − 192


47.34% − ( × 47.34%) 36.93%
246
Pagi

34
Rabu 192 − 117
36.93% − ( × 36.93%) 22.51%
192
Sore

Kamis 117 − 109


22.51% − ( × 22.51%) 20.97%
117
Pagi

Kamis 109 − 105


20.97% − ( × 20.97%) 20.20%
109
Sore

Jumat 105 − 104


20.20% − ( × 20.20%) 20.01%
105
Pagi

Grafik Produkrivitas mesin

Produktivitas Mesin (kg/jam)


800
700
600
500
400
300
200
100
0
Kelompok 1 Kelompok 3 Kelompok 5 Kelompok 7 Kelompok 2 Kelompok 4 Kelompok 6 Kelompok 8

Produktivitas Mesin Screen 5 (kg/jam) Produktivitas Mesin Screen 2 (kg/jam)

35
Grafik Densitas dan Penyaringan

Penyaringan Screen 5
120
100
80
60
40
20
0
Kelompok 1 Kelompok 3 Kelompok 5 Kelompok 7

Tidak Lolos Saringan 10 (%) Tidak Lolos Saringan 14 (%)


Tidak Lolos Saringan 18 (%) Tidak Lolos Saringan 30 (%)
Lolos Saringan 30 (%) Total Penyaringan (%)

Penyaringan Screen 2
150

100

50

0
Kelompok 1 Kelompok 3 Kelompok 5 Kelompok 7

Tidak Lolos Saringan 10 (%) Tidak Lolos Saringan 14 (%)


Tidak Lolos Saringan 18 (%) Tidak Lolos Saringan 30 (%)
Lolos Saringan 30 (%) Total Penyaringan (%)

36
Densitas (kg/m2)
750

700

650

600

550
Kelompok 1 Kelompok 3 Kelompok 5 Kelompok 7 Kelompok 2 Kelompok 4 Kelompok 6 Kelompok 8
Densitas Screen 2 Densitas Screen 5

Grafik Laju Penurunan Kadar Air

Laju Penurunan Kadar Air


80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
07.00' 15.30' 07.00' 15.30' 07.00' 15.30' 07.00'
1.5 cm 67% 61% 56% 46% 42% 40% 37%
1 cm 67% 56% 50% 37% 33% 31% 30%
Kulit 66% 47% 37% 23% 21% 20% 20%

1.5 cm 1 cm Kulit

37
38
39