Anda di halaman 1dari 10

NOTULENSI KAJIAN

Jenis rapat : Konsolidasi KM IPB


Notulen : Aisyah Yuliani
Tempat : Lobby SC KM IPB
Tanggal : Minggu,17 Desember 2017
Moderator : Sayyid Al-Bahr
Waktu rencana : 16.30 -21.00 Waktu aktual : 17.00 –22.18
Presensi :
No Nama Instansi
1 Adli Saputra DPM Fema
2 Dini Wahyu Fitrianasari Himagizi
3 Nasuha Yazu H. Himaiko
4 Imzar Rohmaisyah DPM Faperta
5 Bambang Tri Daxoko BEM KM
6 Fajar Gustian R BEM Faperta
7 Alief Yuda A.P. BEM Faperta
8 Syahlan Faluthi BEM PPKU
9 M. Azman BEM PPKU
10 M. Fathan Alfikri BEM SB
11 Rakriyan Wishal GSB
12 Syaiciro BEM KM
13 Farhan Hibatullah DPM PPKU
14 Bilfan Hipotesa
15 Bayu BEM Vokasi
16 Almy BEM Vokasi
17 Bayu Suharianto BEM Vokasi
18 Fathia Rosa BEM Vokasi
19 Gilang Restu P. BEM Vokasi
20 Ray Gunawan H. BEM Vokasi
21 Warja Surya DPM Faperta
22 Syaeful Anwar BEM SB
23 Luslyeuan BEM FKH
24 Arif Yahya BEM FKH
25 M. Arif Ilyanto SES-C
26 Fadies Ammar Z. BEM FKH
27 M. Farhan CREBS
28 M. Hidayatullah BEM FPIK
29 Isnainiyah H HIPMA
30 Syifa Khaerani BKIM
32 Najmi F. BKIM
33 Adini Mustika BKIM
34 Uswatun Khasanah BKIM
35 Nindy Auliana BEM FMIPA
36 Muji Nupriansah BEM FPIK
37 M. Farhan Hibatullah DPM PPKU
38 Iwan Perala BEM Fahutan
39 Falaah KM
40 Aulia Rahman REESA
41 Reyna Nadhya U. COM@
42 Ahmad Fanny BEM Vokasi
44 Amandita Lintang R. Fahutan
45 Sahara Faperta
46 Muslimatul RDN DPM Fahutan
47 Susilo Adhi FEM
48 A Ilhamsyah FEM
49 Moch. Dandi BEM Vokasi
50 Ermas I. L. KM
51 Sitti Khofifah Ar. R KM
52 Auval KM
53 Fuad R KM
54 Jundy Arief KM
55 Aisyah Yuliani KM
Agenda konsolidasi :
1. Pembukaan
2. Pemaparan Pembicara
3. Diskusi
Pembicara :
1. Sekretaris Jenderal MPM KM IPB 2017/2018 Irfan Dary
2. Presiden Mahasiswa BEM KM IPB 2017/2018 Qudsyi Ainul Fawaid
Hasil konsolidasi
Pembukaan : Pembukaan dilakukan pada pukul 17.00 dengan dilanjutkan tilawah
dan pelantunan lagu indonenesia raya, hymne IPB, dan totalitas perjuangan.

Pemaparan Pembicara :
Irfan Dary :
Kewajiban dalam membuat peraturan menteri riset,teknologi,dan
pendidikan tinggi tentang organisasi kemahasiswaan tidak ada. Sehingga
berbagai kajian yang dilakukan sebelumnya tidak ada. Pun akan adanya
draf permenristekdikti ini menuai berbagai reaksi dari mahasiswa. Ada
yang menolak dan menginginkan pengembalian peraturan kembali ke
keputusan mendikbud walau belum disahkan. Beberapa bias dalam
menolak karena belum adanya kajian mendalam terhadap draf tersebut.
Namun beberapa mahasiswa lainnya melakukan penolakan terhadap
beberapa pasal terkhusus pasal yang membatasi arah gerak mahasiswa.

Qudsyi Ainul Fawaid :

- Draf belum disahkan tapi memunculkan problematika di mahasiswa


- Penyusunan draf disusun oleh 11 orang,direktur kemahasiswaan
universitas di indonesia, dengan ketuai oleh arman nefi dari universitas
indonesia
- Latar belakang bagaimana draf kemenristekdikti muncul
o Usia permen kemendibud sudah 20 tahun, sudah tidak relevan
o Ormawa adalah otonomi universitas, lebih lanjut dijelaskan
distatuta univ
o Permen kemendikbud sudah tidak dipakai lagi
- Draf permen melangkahi peraturan perundang-undangan
- Bem km dan ukm di ipb tidak bisa dikatakan sejajar karena beda lini, di
draf permen ristek dikti bem km dan ukm akan disejajarkan
- Draf banyak yang mengandung larangan yang belum jelas tujuannya
- Semua bentuk kegiatan kemahasiswaan harus disetujui oleh pimpinan
tertinggi perguruan tinggi, yang sebelumnya dalam bentuk mengetahui
berubah jadi disetujui
- Dalam draf terlalu dijelaskan teknis, bukan dipaparkan secara umum,
alasannya untuk pemudahan alokasi dana
- Draf menggugurkan keputusan mendikbud No. 155/U/1998
- Draf belum diketahui oleh menristekdikti karena sifat pembuatannya dari
down to top
- Draf dianggap berasal dari mahasiswa dengan perwakilan ditmawa sebagai
representasi mahasiswa

Dari seluruh perwakilan mahasiswa dibahas dari segala sisi, contohnya periode
pengurusan, budaya pergantian kepengurusan berbeda beda, tidak mungkin di
samakan. Penyampaian pasal pasal seolah olah menseragamkan ormawa di semua
univ

- Ada kecacatan pada draf,alasan menggugurkan permendikbud karena


dianggap tidak relevan digantikan dengan draf dianggap tidak masuk akal
- Banyak kampus besar tidak diundang, awalnya ipb hampir tidak diundang

Solusi;

Permen kemendikbud yang rancu diubah bagian pasal tersebut, bukan


dibuat baru dengan dengan mengubah semua permen dikbud.

Sayyid Al-Bahr :

Kejadian tentang ormawa mirip dengan azas tunggal pancasila zaman orba

- Ormawa ada bukan untuk diatur atur pemerintah tetapi ormawa hadir
untuk menjawab dan menjadi solusi bagi mahasiswa
- Pasal sangat mengatur spesifik, sehingga sulit untuk mengatur organisasi
sendiri.
- Tidak ada landasan yang jelas untuk penyusunan draf kemenristekdikti
- Mahasiswa ditantang untuk memberikan inspirasi sehingga seharusnya
mahasiswa berupaya merekomendasikan suatu draf yang berasal murni
dari mahasiswa

Diskusi :
Menimbang :

1. Qudsyi
- Poin “b”pada draf kemenristekdikti dimasukan dalam draf rekomendasi.
- Poin “a” pada kepmendikbud 155/U/1998 dimasukan dalam draf
rekomendasi.
- Poin “c” pada kepmendikbud 155/U/1998 dimasukan dalam draf
rekomendasi.
- Permasalahan diksi yang tidak tepat dan multitafsir perlu ditinjau kembali.

2. Falaah
- tentang keberadaan majelis wali amanat (MWA). Keluarga Mahasiswa
tetap harus menjadi bagian MWA.
- ada kemungkinan pemberian pandangan subjektif terhadap keharmonisan
hubungan antarperguruan tinggi (poin C draf kepmenristekdikti).

3. Irfan Dary
- kita lihat kemendikbud berawal dari kebutuhan mahasiswa, baru ke
ormawa
permen baru berawal dari kebutuhan perguruan tinggi bukan kebutuhan
mahasiswa (poin C draf kepmenristekdikti).
- point c Kepmendikbud 155/U/1998 perlu dipertahankan.
- point d draf kepmenristekdikti baru harus ada perubahan diksi, diksi
“perubahan sesuai dengan masa mendatang” memberikan peluang untuk
pengubahan lagi di masa depan.

4. Ermas
- konsolidasi km ipb harus taktis
- alasan mahasiswa umum untuk datang belum ngena
- pembatasan kegiatan mahasiswa ada kaitannya dengan fokus pemerintah
lebih ke arah infrastruktur , alokasi pendidikan tetap
- anggaran ipb semakin kecil
- universitas dituntun mencari pendapatan sendiri dengan adanya ptn-bh
- anggaran yang terbatas memaksa pemerintah membuat penyamarataan
tentang kegiatan kemahasiswaan sehingga (.....pembicaraan terputus)

5. Syaeful
- setuju dengan point dengan diksi hubungan harmonis “organisasi
kemahasiswaan antar perguruan tinggi”(setelah diubah). Ini memudahkan
dan menguatkan saat ormawa ingin membuat aliansi antar kampus (poin
C)

Pasal 1 : sepakat dengan draf kepmenristekdikti

Pasal 2 :

1. Qudsyi
- Pasal dua dirubah dengan menggabungkan kedua nya menjadi ‘’
Organisasi Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi diselenggarakan dengan
berdasarkan prinsip dari , oleh dan untuk mahasiswa dengan memberikan
peranan dan keluasan lebih besar pada mahasiswa dengan berazaskan
pancasila dan uud 1945’’

Pasal 3 : sepakat dengan draf kepmenristekdikti

Pasal 4 : sepakat dengan draf kepmenristekdikti

Pasal 5 :

1. Qudsyi
- Harus ada point “penyampaian dan menyalurkan aspirasi mahasiswa”
yang sebelumnya ada di 1998.
- Ayat 5 (...kewirausahaan) terlalu spesifik, sehingga tidak relevan untuk di
terapkan di semua organisasi Mahasiswa

Pasal 6 : sepakat dengan draf kepmenristekdikti

Pasal 7 :

1. Falaah
- Ayat 5 ; ada dua tafsiran, hanya pelantikan atau membentuk dari awal,
dengan artikata pimpinan membuat formatur Ormawa.
2. Syaeful
- Dengan adanya ayat 5 akan menghambat lebih lama lagi ketika salah satu
organisasi kemahsiswaan baru (contoh : Ormawa di Sekolah Bisnis) ingin
membuat himpro, dibandingkan ketika membuat BEM dan DPMyang
berdasarkan inisiasi mahasiswa SB.

3. Qudsyi
- ayat 1,3 , 5 terlalu memiliki kekuasaan yang kuat, seharusnya pimpinan
perguruan tinggi hanya berupa garis koordinasi . Perlu diubah dengan
adanya penambahan “penyesuaian peraturan univ”.
4. Falaah
- Dengan adanya pasal ini pimpinan perguruan tinggi memiliki andil
absolut terhadap pembentukan dan pembubaran sebuah Ormawa. (ayat 5)
5. Irfan Dary
- Penetapkan oleh perguruan tinggi perlu adanya acuan sk yg jelas
- Sudah ada aturan ttg pembentukan ormawa,
- Simpulan ; Ayat 1 dihapus, digantikan dengan pasal 7 ayat 2 1998

Pasal 8 :

1. Qudsyi
- Penetapan pembentukan oleh Pimpinan perguruan tinggi dikembalikan
lagi kepada mahasiswa dengan pimpinan perguruan tinggi bersifat
koordinasi (ayat 1)
- Ayat 1 dihapus, ayat 2 dimasukan ke pasal 7 sebagai ayat 5
2. Falaah
- Dengan adanya pasal ini pimpinan perguruan tinggi memiliki andil
absolut yan besar terhadap pembentukan dan berindikasi juga pada
pembubaran sebuah ormawa (ayat 1)

Pasal 9 :

1. Ermas
- aliansi himpro dan ormawa terlihat akan di setarakan dan dibentuk
ormawa antar perguruan tinggi.
- alokasi dana telihat akan diberikan kepada aliansi yang sesuai dengan
pemerintah.
- sanki perlu disiasati dengan rektor.
- teman teman himpro seharusnya lebih banyak angkat suara pada pasal 9
ini. (Ayat 2)
2. Jundy
- ada kelemahan yang merugikan ormawa dibagian sanksi
- tidak semua kampus punya statuta sehingga seharusnya penyikapan ini
lebih universal umum.
3. Sayyid Al-Bahr
- jika ada aliansi yang tidak terdaftar sehingga disebut organisasi ilegal
maka tidak akan mendapatkan hak dan kewajibannya sehingga
berimplikasi pada tidak adanya sanksi pula. (Ayat 2)
4. Falaah
- aliansi ilegal akan pasti dibubarkan (Ayat 2)
- semua organisasi kemahasiswaan akan di atur dirjen, sehingga semua yang
dianggap berbeda visi dengan dirjen akan dianggap illegal lalu di
bubarkan, ini bentuk pengekangan organisasi mahasiswa.
5. Qudsyi
- posisi dirjen tidak jelas ketika ia menjadi pembina organisasi. Maka yang
seharusnya menjadi pembina adalah pimpinan ditmawa bidang
kemahasiswaan setempat. (ayat 2) (Berdasarkan Draf Kemenristekdikti)

Pasal 10 :

1. Irfan Dary
- bab 6 (Pasal 10) dan bab 7 (Pasal 11) baiknya dihapuskan.
- harus ada naskah yang di berikan kepada ketua ormawa pada konsol
selanjutnya dipertimbangkan setuju atau tidaknya.
- Simpulan : Pasal 10 diganti dengan Pasal 9 Kepmendikbud 155/U/1998.

Pasal 11 : Dihapus dari Draf Kemenristekdikti

Pasal 12 :

1. Qudsyi
- berdasarkan forum waktu itu, banyak perguruan tinggi lain yang menolak
karena beberapa kampus memiliki bentuk singgungan dengan ekstra
kampus.
- harus ada penjelasan konkrit tentang politik praktis. (Berdasarkan Draf
Kemenristekdikti)
- Simpulan : adanya penghapusan ayat 6 dan ayat 7 karena ditakutkannya
ada penafsiran subyektif tentang hal yang “tidak sesuai dengan visi misi
perguruan tinggi” (ayat 6) (contoh : aksi menggunakan almamater bisa jadi
pelarangan) dan “kekerasan psikis” (ayat 7). (Berdasarkan Draf
Kemenristekdikti)

Pasal 13 :

1. Falaah
- Diksi pemimpin perguruan tinggi apakah harus perlu diganti atau
bagaimana? (ayat 1) (Berdasarkan Draf Kemenristekdikti)
2. Qudsy
- Setiap kegiatan jika dipertanggungjawabkan kepada rektor terlalu
memberatkan, tentang pertanggung jawaban sebaiknya rektor
mendelegasikan org (ayat 1) (Berdasarkan Draf Kemenristekdikti)
- Simpulan : Ayat 1 diganti menjadi “Setiap kegiatan Kemahasiswaan di
Perguruan Tinggi perlu diketahui dan dipertanggungjawabkan kepada
Pemimpin Perguruan Tinggi.” (Berdasarkan Draf Kemenristekdikti)
- Ayat 2 dan 3 dihapuskan. (Berdasarkan Draf Kemenristekdikti)

Pasal 14 : Sesuai dengan draf Kemenristekdikti

Pasal 15 : Sesuai dengan draf Kemenristekdikti

Pasal 16 : Sesuai dengan draf Kemenristekdikti

Pasal 17 : Sesuai dengan draf Kemenristekdikti

Saran Tambahan :

1. Falaah
- Konsolidasi selanjutnya membahas tentang fiksasi pemutusan draf.
2. Bambang
- Konsolidasi perlu secepatnya
3. Muji
- perlu dilakukan konsolidasi jilid selanjutnya
- jika ada konsolidasi jilid selanjutnya perlu di jelaskan urgensi dari permen
ini
4. syaiful
- perlu pencerdasan ormawa sebelum konsolidasi jilid 2
5. jundy
- perubahan setiap poin akan disertai dengan alasan pengubahan
6. Irfan Dary
- jika ada pasal yang membuat tidak pleksible atau membatasi cukup
dihapus saja
- aliansi sebenarnya berawal dari keiinginan beraliansi dari masing masing
ormawa khususnya himpro sehingga tidak perlu ada pembina
7. Bayu
- kurang menyarankan adanya pembina aliansi vokasi
8. Syaeful
- berikan ormawa waktu untuk membahas secara lebih rinci 2- 3 hari
9. Aulia Rahman
- hapuskan pasal yang menyulitkan.
- isu taktis harus lebih ditanggapi, sangat membuang waktu ketika
menunggu semua ormawa yang belum punya staf.
- cukup tentukan bagian yang mempersulit lalu hapus, jika diterima atau
diubah tinggal ditambahkan agak membuang waktu jika dikembalikan lagi
ke himpro dsb lalu dikembalikan ke forum baru di usulkan ke
kemenristekdikti.