Anda di halaman 1dari 16

ARUS LISTRIK

D
I
S
U
S
U
N

Oleh

KELOMPOK 4

AISYAH NIM. 8176175001


DEWI RATNA P.SITEPU NIM. 8176175004
NAIMAH HASANAH NIM. 8176175010

Kelas : S-2 PEND. FISIKA Reg. A 2017


M.Kuliah : ELEKTRODINAMIKA

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat dan rahmat–Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah “Arus Listrik’’.
Dalam penyusunan makalah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada
Bapak Dr. Karya Sinulingga, M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah
Elektrodinamika yang telah membimbing dalam pembuatan makalah ini. Penulis
juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam penyusunan makalah
ini. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca
sangat diharapkan untuk perbaikan makalah ini. Akhirnya penulis berharap
semoga makalah ini dapat bermanfaaat bagi pembaca.

Medan, Oktober 2018


Penulis,

Kelompok 4

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI ...........................................................................................................2

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ..................................................................................................3
1.2. Rumusan Masalah .............................................................................................3
1.3. Tujuan ...............................................................................................................3

BAB II. PEMBAHASAN


2.1. Arus Listrik dan rapat fluks ..............................................................................4
2.2. Resistensi, Konduktansi, Resivitas, Konduktivitas...........................................8
2.3. Hukum Ohm ......................................................................................................9
2.4. Hukum Ohm pada suatu titik dan rapat arus ...................................................11

BAB III. KESIMPULAN


3.1. Kesimpulan .................................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA........................................................................... ................15

2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya, rangkaian listrik adalah sarana untuk menghantarkan
energi dari satu tempat ke tempat yang lain. Sewaktu partikel bermuatan bergerak
didalam sebuah rangkaian, maka energi potensial listrik dipindahkan dari sebuah
sumber ke alat tempat energi tersebut disimpan atau dikonversi ke dalam bentuk
energi lain. Dari sudut pandang teknologi, rangkaian listrik berguna karena
memungkinkan energi untuk dipindahkan tanpa ada bagian – bagian yang
bergerak selain partikel yang bermuatan itu.Rangkaian listrik menjadi jantung
bagi alat – alat elektronik seperti TV ataupun sistem distribusi daya rumah tangga
dan industri.
Panas adalah energi yang di transfer dari satu benda ke benda lain karena
beda temperatur. Terkadang sesuatu yang dialiri listrik akan menimbulkan panas
Oleh karena itu kita akan mempelajari arus listrik yang dapat menghasilkan panas
karena semua alat yang menggunakan listrik pasti menghasilkan panas sehingga
ada kapasitas panas dari alat tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana Arus listrik dan rapat fluks ?
2. Bagaimana Resistansi dan Konduktansi, Resivitas dan Konduktivitas?
3. Apa itu Hukum Ohm ?
4. Bagaimana Hukum Ohm pada suatu titik dan Rapat Arus ?
5. Bagaimana Daya dan Hukum Joule pada arus listrik ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui Arus listrik dan rapat fluks
2. Untuk mengetahui Resistansi dan Konduktansi, Resivitas dan Konduktivitas
3. Untuk mengetahui Hukum Ohm
4. Untuk mengetahui Hukum Ohm pada suatu titik dan Rapat Arus
5. Untuk mengetahui Daya dan Hukum Joule pada arus listrik

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Arus Listrik


Kita semua tentu paham bahwa arus listrik terjadi karena adanya aliran
elektron dimana setiap elektron mempunyai muatan yang besarnya sama. Arus
listrik adalah banyaknya muatan listrik yang disebabkan dari pergerakan elektron-
elektron, mengalir melalui suatu titik dalam sirkuit listrik tiap satuan waktu. Arus
listrik dapat diukur dalam satuan Coulomb/detik atau Ampere.Jika kita
mempunyai benda bermuatan negatif berarti benda tersebut mempunyai kelebihan
elektron.Derajat termuatinya benda tersebut diukur dengan jumlah kelebihan
elektron yang ada.Muatan sebuah elektron, sering dinyatakan dengan simbul q
atau e, dinyatakan dengan satuan coulomb, yaitu sebesar.

q = 1,6 . 10-19 Coulomb

Besarnya hantaran pada kawat tersebut hanya tergantung pada adanya


elektron bebas (dari elektron valensi), karena muatan inti dan elektron pada
lintasan dalam terikat erat pada struktur kristal. Pada dasarnya dalam kawat
penghantar terdapat aliran elektron dalam jumlah yang sangat besar, jika jumlah
elektron yang bergerak ke kanan dan ke kiri sama besar maka seolah-olah tidak
terjadi apa-apa. Namun jika ujung sebelah kanan kawat menarik elektron
sedangkan ujung sebelah kiri melepaskannya maka akan terjadi aliran elektron ke
kanan (tapi ingat, dalam hal ini disepakati bahwa arah arus ke kiri). Aliran
elektron inilah yang selanjutnya disebut arus listrik.

Aliran Arus Listrik

4
Besarnya arus listrik diukur dengan satuan banyaknya elektron per detik, namun
demikian ini bukan satuan yang praktis karena harganya terlalu kecil. Satuan yang
dipakai adalah ampere, dimana :

𝑑𝑞
𝑖=
𝑑𝑡
1 Ampere = 1 coulomb/detik Contoh di bawah ini menggambarkan besarnya arus
listrik (ukuran konsumsi arus listrik dan kemampuan memberikan arus listrik)
dalam beberapa peralatan:
Stasiun pembangkit ………. 1000 A
Starter mobil ………………. 100 A
Bola lampu ………………... 1 A
Radio kecil ………………... 10 mA
Jam tangan ……………..…. 1 mA
2.1.1 Kerapatan Arus Listrik (Current Density)
Rapat arus (current density) adalah aliran muatan pada suatu luas
penampang tertentu di suatu titik penghantar. Dalam SI, rapat arus memiliki
satuan Ampere per meter persegi (A/m2).

𝐼 = ∫ 𝐽. 𝑑𝐴

Dimana I adalah arus pada penghantar, vektor J adalah rapat arus yang memiliki
arah sama dengan kecepatan gerak muatan jika muatannya positif dan berlawan

5
arah jika muatannya negatif, dan dA adalah vektor luas elemen yang tegak lurus
terhadap elemen. Jika arus listrik seragam sepanjang permukaan dan sejajar
dengan dA maka J juga seragam dan sejajar terhadap dA sehingga persamaan
menjadi:

𝐼 = ∫ 𝐽. 𝑑𝐴 = 𝐽 ∫ 𝑑𝐴 = 𝐽 𝐴

Maka:
𝐼
𝐽=
𝐴
di mana A adalah luas penampang total dan J adalah rapat arus dalam satuan
A/m2.
2.1.2. Kerapatan Fluks Listrik
Fluks listrik didefinisikan sebagai jumlah garis gaya yang menembus
permukaan yang saling tegak lurus. Dengan demikian muatan satu coulomb
menimbulkan fluks listrik satu coulomb. Jika fluks adalah besaran skalar, maka
kerapatan fluks listrik adalah medan vektor. Gambar di bawah ini memperlihatkan
distribusi muatan ruang kerapatan muatan yang ditutupi oleh permukaan A. maka
untuk elemen kecil da, kita memperoleh differensial fluks yang menembus da
sebagai berikut :

𝑎̅𝑛 𝐵̅

𝜽
̅ 𝑑̅𝑎
𝑑∅ = 𝐸.

̅ 𝑛̅𝑑̅𝑎
= 𝐸.
𝝆

𝜃 = 𝐸. 𝑑𝑎 cos 𝜃

Ini karena E tidak selalu dalam arah normal terhadap permukaan dan misalkan
adalah sudut antara dengan normal permukaan dan adalah vektor elemen
permukaan yang mempunyai arah (normal).

6
Kerapatan fluks listrik tergantung pada media dimana muatan ditempatkan (ruang
bebas). Misalkan medan vektor (E) didefinisikan oleh :
1. Fluks Listrik ɸ yang kita ketahui secara singkatnya adalah Medan
listrik yang melalui sebuah permukaan tertutup. Sedangkan Muatan
yang terjadi diluar permukaan tertutup tidak berpengaruh pada fluks
listrik.
2. Arah Fluks listrik yang berlaku adalah tergantung pada tanda muatan
netto.
3. Untuk menghitung fluks listrik ɸ dalam keadaan menembus bidang
tegak lurus dapat didefinisikan dengan pernyataan 1:
1. ɸE = E.A
dengan:
Φ = fluks listrik (N m2/C)
E = medan listrik
A = luasan (m2 )
Sedangkan pernyataan 2 dalam keadaan yag berlainan (Tidak dalam keadaan
menembus bidang tegak lurus) dapat dinyatakan dengan pernyataan sebagai
berikut:
2. [ɸE = E.A Cos sudut ɵ]

Dengan θ adalah sudut antara arah E dan arah normal bidang n. Arah normal
bidang adalah arah yang tegaklurus terhadap bidang, lihat gambar dibawah:

7
Jumlah garis gaya yang menembus luasan ini disebut fluks listrik dan disimbolkan
sebagai ). Fluks listrik yang tegak lurus melewati luasan A adalah:
∅ = 𝐸. 𝐴
∅ = 𝐸 𝐴 cos 𝜃
Sehingga jika :
1. arah medan listrik tegak lurus bidang maka F = E . A
2. arah medan listrik sejajar dengan bidang maka F = 0
3. arah medan listrik membentuk sudut θ, maka F = E. A cos θ
Contoh soal :
Medan listrik homogen sebesar 20 N / C menembus bidang yang luasnya 40 cm2.
Tentukan jika bidangnya :
 membentuk sudut 60o dengan medan listrik
 sejajar medan listrik
 tegak lurus medan listrik
Jadi dalam konteks kejadian seperti simulasi diatas,maka muncul yang
namanya pernyataan Hukum Gauss, yang mana ada pernyataan untuk
menghitung fluks listrik dalam keadaan menembus bidang lurus dan dalam
keadaan tidak menembus bidang lurus, sebagaimana dengan pernyataan diatas.
Jadi, Fluks listrik FE adalah ukuran aliran medan listrik yang melalui sebuah
permukaan tertutup.
karena medan listrik ini berbanding lurus dengan jumlah garis gaya per luas
satuan, maka fluks ini akan berbanding lurus dengan jumlah garis gaya medan
yang melewati luasan tersebut.
maka :
Φ = E .n A = E A cos θ = En A

2.2 Resistansi dan Konduktansi


Resistansi (dalam hukum Ohm ditulis dengan simbol R) adalah tahanan
dari suatu bahan konduktor untuk menghambat aliran arus listrik. Setiap logam
yang digunakan sebagai penghantar mempunyai karakteristik hambatan yang
berbeda.

8
Resistansi atau hambatan listrik berbanding terbalik dengan konduktansi
atau hantaran. Jika resistansi merupakan nilai seberapa besar menghambat arus
listrik, maka konduktansi merupakan nilai seberapa besar menghantarkan arus
listrik. Dengan prinsip ini dapat dirumuskan bahwa besarnya konduktasi
berbanding terbalik dengan resistansi. Satuan konduktansi dinyatakan dalam
siemens (S) dan ditulis dengan simbol G.
𝑉 𝐼 1
Jika 𝑅 = 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝐺 = 𝑗𝑎𝑑𝑖 𝐺 = 𝑅
𝐼 𝑉

Besar tahanan pada suatu konduktor dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu :
 Luas penampang
 Panjang penghantar
 Jenis bahan
 Temperatur
Jadi Luas penampang dan panjang konduktor yang sama, nilai tahanannya
bisa berbeda jika bahan dan tahanan jenisnya berbeda.
Luas penampang konduktor yang kecil mempunyai tahanan yang lebih
besar dibanding konduktor dengan penampang yang lebih besar. Konduktor yang
lebih panjang mempunyai tahanan yang lebih besar dibanding dengan konduktor
yang pendek meskipun luas penampangnya sama. Konduktor dengan temperatur
yang tinggi mempunyai nilai tahanan yang lebih besar dibanding dengan
konduktor dengan temperatur yang rendah. Penyataan ini tertuang dalam
hukum Pouillet yang ditemukan oleh Claude Pouillet, seorang fisikawan asal
negara Prancis.
𝑙
𝑅= 𝜌
𝐴

2.3 Resistivitas dan konduktivitas


Bahan konduktor yang baik adalah bahan yang mudah mengalirkan arus
listrik, umumnya terdiri dari logam dan air. Kemampuan suatu bahan untuk
menghantarkan arus listrik ditunjukkan oleh besarnya harga konduktivitas listrik
atau daya hantar listrik bahan tersebeut (𝜎 = 𝑠𝑖𝑔𝑚𝑎, 𝑀ℎ𝑜/𝑚). Konduktivitas
listrik berbagai bahan konduktor dalam satuan Mho/m. konduktivitas listrik

9
berbagai bahan konduktor dalam satuan Ohm/m ditunjukkan pada tebel berikut.
(Mho = Ohm-1)
Tabel 1. Konduktivitas Listrik (𝜎)

Nama Bahan Konduktivitas (𝝈) 𝑴𝒉𝒐/m


Air suling 4
Karbon 3 x 104
Grafit 106
Besi tuang 106
Merkuri (Hg, Air raksa) 106
Nichrome 105
Timah Putih 5 x 106
Timah hitam 9 x 106
Seng 1,7 x 106
Kebalikan dari harga konduktivitas listrik suatu bahan adalah resitivitas atau
hambatan jenis, dengan simbol 𝜌 (rho). Bahan konduktor memilik resistivitas
yang rendah.
1
𝜌= 𝑂ℎ𝑚 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
σ
Untuk bahan konduktor, restivitasnya berbanding lurus dengan suhu. Tetapi pada
suhu mendekati titik nol absolut (0 K), resistivitas bahan konduktor juga
mendekati nol. Hubungan resistivitas ρ dengan suhu absolut T dtunjukkan oleh
persamaan dibawah ini.
𝜌 = 𝜌0 (1 + 𝛼 (𝑇 − 𝑇0 ) )

Keterangan:
ρ = resistivitas pada suhu T (Kelvin)
ρ0 = resistivitas pada suhu referensi (biasanya 20oC atau 293,16 K)
T0 = suhu referensi
α = koefisien suhu hambatan listrik
Hambatan listrik suatu bahan juga berbanding lurus dengan suhu.

10
𝑅𝑇 = 𝑅0 (1 + 𝛼 (𝑇 − 𝑇0 ) )
Keterangan:
R0 = hambatan pada suhu T0 K,
RT = hambatan pada suhu T K,
α =koefisien suhu hambatan listrik
Koefisien suhu hambatan listrik (α) untuk beberapa jenis konduktor dan
resistivitas listriknya (ρ) dimuat pada Tabel 2
Tabel 2. Koefisien suhu hambatan listrik (α) dan resistivitas bahan logam.

Bahan Α (oC-1;K-1) ρ (Ohm-meter)


Alumunium 0,0039 2,63 x 10-8

Kuningan 0,0020 7 – 8 x 10-8


Konstantan 2 x 10-6 3,5 x10-8
Tembaga 0,00393 1,72 x 10-8
Manganin 0,00000 4,4 x 10-7
Nichrome 0,0004 10-6
Perak 0,0038 1,47 x 10-8
Tungsten 0,0045 5,51 x 10-8

Relativitas bahan pada Tabel 2 diukur pada suhu 20oC. Bahan-bahan


seperti manganin, konstantan, dan nichrome yang nilai koefisien suhu hambatan
listriknya sangat rendah banyak dipergunakan pada peralatan instrumentasi yang
memerlukan ketelitian dan presisi tinggi misalnya pada galvometer atau ammeter
analog.

2.4 Hukum Ohm

Hubungan antara tegangan, kuat arus dan hambatan dari suatu konduktor
dapat diterangkan berdasarkan hukum OHM.

Dalam suatu rantai aliran listrik, kuat arus berbanding lurus dengan beda
potensial antara kedua ujung-ujungnya dan berbanding terbalik dengan besarnya
hambatan kawat konduktor tersebut.

11
Hambatan kawat konduktor biasanya dituliskan sebagai “R”.

V A  VB
i
R
I = kuat arus
VA - VB = beda potensial titik A dan titik B
R = hambatan

Menghitung Resistor Seri


Pada rangkaian beberapa resistor yang disusun seri, maka dapat diperoleh
nilai resistor totalnya dengan menjumlah semua resistor yang disusun seri
tersebut. Hal ini mengacu pada pengertian bahwa nilai kuat arus disemua titik
pada rangkaian seri selalu sama.

Menghitung Resistor Paralel


Pada rangkaian beberapa resistor yang disusun secara paralel, perhitungan nilai
resistor totalnya mengacu pada pengertian bahwa besar kuat arus yang masuk ke
percabangan sama dengan besar kuat arus yang keluar dari percabangan (I in = I

12
out). Dengan mengacu pada perhitungan Hukum Ohm maka dapat diperoleh
rumus sebagai berikut.

13
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Bahan elektrik adalah suatu material yang dapat dialiri ataupun
mengalirkan arus listrik.
2. Bahan konduktor, isolator, semikonduktor dan dielektrik merupan
bagian dari bahan elektrik.
3. Konduktor adalah bahan yang dapat dengan mudah menghantarkan arus
listrik sehingga konduktor sering disebut juga penghantar listrik yang
baik.
4. Isolator listrik adalah bahan yang tidak bisa atau sulit melakukan
perpindahan muatan listrik
5. Semikonduktor yaitu bahan-bahan yang bukan merupakan konduktor
dan bukan isolator.
6. Semikonduktor dibagi menjadi dua yaitu semikonduktor intrinsik dan
semikonduktor ekstrinsik
7. Dielektrik adalah suatu bahan yang memiliki daya hantar arus yang
sangat kecil atau bahkan hampir tidak ada.

14
DAFTAR PUSTAKA
Ghartsen Christian, Listrik Magnet Dan Optik. Jakarta: Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa

Hertanti, Erina. 2014. Elektro – 4 (power point).Jakarta : Erlangga

Malvino. 1985. Aproksimasi Rangkaian Semikonduktor Pengantar


Transistor dan Rangkain Terpadu (Edisi Keempat
Terjemahan).Jakarta : Erlangga

Robi, Ramdhani. 2012. Semikonduktor (Pdf). Malang: Universitas Negeri


Malang

Smallman, R. E dan R. J. Bishop.2000. Metalurgi Fisik Modern dan


Rekayasa Material (Edisi Keenam).Jakarta : Erlangga

Vlack Lawrence H. Van. 2001. Elemen-elemen Ilmu dan Rekayasa


Material. Jakarta : Erlangga Chapter II. Pdf

https://id.wikipedia.org/wiki/Isolator_listrik

http://www.slideshare.net/Renha2jk/tugas-makalah-isolator

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Jumadi,%20M.Pd.,%20
Dr./Bah an%20Semikonduktor.pdf

http://elhanif.staff.fkip.uns.ac.id/files/2012/11/8.KRISTAL_SEMIKOND
UKTOR.pdf

15