Anda di halaman 1dari 20

1.

Ketidakefektifan Pemeliharaan Kesehatan

00099 Ketidakefektifan Pemeliharaan Kesehatan

Domain 1 :Promosi Kesehatan

Kelas 2 :Manajemen Kesehatan

NOC

Prevensi Primer

KODE
Domain 4 pengetahuan tentang kesehatan kelas pengetahuan tentang
kesehatan
1805 Pengetahuan : perilaku kesehatan
1823 Pengetahuan : promosi kesehatan

Domain 7 kesehatan komunitas kelas perlindungan kesehatan komunitas


2808 Keefektifan program komunitas

Prevensi Sekunder

KODE
Domain 3 kesehatan psikososial kelas adaptasi psikososial
1300 Penerimaan : Status Kesehatan

Domain 4 pengetahuan tentang kesehatan & perilaku


1602 Perilaku Promosi Kesehatan
1634 Perilaku Skrinning Kesehatan

Prevensi Tersier

KODE
Domain 4 pengetahuan tentang kesehatan & perilaku kelas kepercayaan
tentang kesehatan
1701 Kepercayaan mengenai kesehatan : merasakan kemampuan melakukan

NIC

Prevensi primer

KODE
Domain 3 perilaku kesehatan kelas pendidikan pasien
5604 Pengajaran : kelompok
5510 Pendidikan kesehatan
5540 Peningkatan kesiapan pembelajaran

Prevensi sekunder

KODE
Domain 3 perilaku kelas pendidikan pasien
5604 Pengajaran : Kelompok

Domain 7 komunitas kelas peningkatan kesehatan komunitas


8500 Pengembangan Kesehatan Komunitas

Prevensi tersier

KODE
Domain 3 prilaku kelas bantuan koping
5430 Dukungan kelompok
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Diagnosa Tujuan Evaluasi Penanggung
No Strategi Intervensi Waktu
Keperawatan Umum Khusus Kriteria Struktur Standar Jawab
1 Ketidakefektif Setelah Setelah 1. Pendi 1.1 Penyebaran Respon Ketua 1.1 80% Senin, Mahasiswa
an dilakukan dilakukan dikan leaflet verbal panitia masyarakat 28
pemeliharan kegiatan kegiatan selama keseha tentang pokjakes RT 04 RW Novem
1 minggu tan pemeliharaan 20
kesehatan selama 1 berkoordi ber
diharapkan : Health kesehatan Kelurahan
minggu 1. Meningkatn promo lingkungan : nasi Sri Meranti 2016
diharapka ya tion a. Pentingnya dengan Kecamatan pukul
n masalah pengetahuan menjaga wakil Rumbai 15.00-
pemelihar masyarakat kebersihan koordinat mampu 17.00
aan dan b. Perilaku or menyebutka WIB
kesehatan keluarga membuan pokjakes n bentuk
mengenai g sampah pemeliharaa
pada bidangP
pemeliharaa sembaran n kesehatan
masyarak n kesehatan gan HBS yang terjadi
at tidak tentang c. Dampak dimasyaraka
terjadi kesehatan yang di t
lingkungan timbulka 1.2 80% leaflet
dan n dari tersebar di
penyakit- lingkung masyarakat
penyakit an yang
yang akan tidak
berpotensi bersih
timbul

2. Meningkatn 2. FGD 2.1 Pembentukan 1.1 80% tokoh


ya (Focus kelompok masyarakat
kesadaran Group kerja dan kader
dan Disscu kesehatan yang ada
motivasi ssion)/ bersama Respon mampu
keluarga Proses tokoh afektif menyebutkan
dan kelom masyaraka : dan masalah
masyarakat pok a. Penentua pemeliharaan
psikomot
untuk n jadwal kesehatan
berperilaku dan or yang terjadi di
hidup sehat lokasi masyarakat
gotong
royong
3. Partne b. Alat alat 3.1 80%
rship yang Respon masyarakat
perlu afektif mampu
dibawa dan menyebutka
dalam kognitif n tindakan
kegiatan apa yang
gotong harus
royong dilakukan
ketika salah
satu anggota
3.1 Fasilitasi keluarga
keluarga atau yang
masyarakat mengalami
untuk masalah
membawa kesehatan
anggota
4. Empo keluarga 4.1 80%
werme dengan masyarakat
nt masalah Respon mengikuti
kesehatan ke psikomot gotong
pelayanan or royong
kesehatan
dasar
5. Interve terdekat 80% masyarakat
nsi mengikuti
kepera pemeriksaan
watan 4.1 Adakan kerja kesehatan yang
profesi bakti sekali diadakan
onal dalam
sebulan

5.1 Lakukan Respon


pemeriksaan afektif
kesehatan dan
pada
psikomot
masyarakat
(Asam Urat, or
Tekanan
darah, Respon
Kolesterol, verbal
Gula Darah)
dan
psikomot
or
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dibahas mengenai analisis dari masing-masing tahapan proses

asuhan keperawatan komunitas yang telah dilakukan pada praktik keperawatan komunitas

yang telah dilakukan pada praktik keperawatan komunitas di wilayah RT 04 RW 20

Kelurahan Sri Meranti Kecamatan Rumbai Pekanbaru. Dalam analisis ini akan ditampilkan

gambaran umum proses kegiatan, faktor pendukung, faktor penghambat dan rencana tindak

lanjut. Praktik asuhan keperawatan komunitas dilaksanakan dari tanggal 14 November- 3

Desember 2016 berdasarkan Plan Of Action (POA) yang telah disusun bersama Kelompok

Kerja Kesehatan (POKJAKES) dan bersama masyarakat di wilayah RT 04 RW 20 Kelurahan

Sri Meranti Kecamatan Rumbai Pekanbaru.

A. TAHAP PERSIAPAN

Tujuan praktik keperawatan komunitas adalah membantu pelayanan kesehatan di

komunitas dan memberdayakan masyarakat (Community Empowerment) dalam

mengidentifikasikan dan menanggulangi masalah kesehatan yang ada di komunitas.

Sebagai tahap awal dari pelaksanaan praktik profesi di komunitas, terdapat beberapa hal

yang telah dilakukan yaitu administrasi, persiapan lokasi praktek lapangan, izin

pemakaian lokasi praktik, izin dan koordinasi dari pihak Kecamatan, Puskesmas, dan

pihak Kelurahan dan pembuatan kuesioner serta Winshield Survey untuk pendataan.

Hal-hal mendukung pada tahap ini yaitu adanya lerjasaam yang baik antar anggota

kelompok, pemberian informasi, arahan dan bimbingan dari pembimbing akademik, dana

awal dari mahasiswa, kemudahan wilayah untuk dijangkau, transportasi lancar serta

aparat Kecamatan, Kelurahan, RW, RT yang mudah dihubungi. Pada tahap ini mahasiswa

menemukan wilayah yang cukup luas dengan jumlah penduduk ±75 KK, dengan sifat
masyarakat yang heterogen, sebagian besar penduduk memliki pendidikan rendah dengan

tingkat perekonomian warga menengah kebawah.

Pada tahap ini mahasiswa mendapat dukungan antara lain lintas-lintas sektoral seperti

adanya dukungan dari pihak Kecamatan, Kelurahan, RW, dan RT setempat. Mahasiswa

juga mendapat dukungan dari lintas program antara lain dari pihak Puskesmas

Umbansari. Namun, ditemukan adanya faktor pengahambat dilapangan pada awal praktik

dikomunitas yaitu belum tersosialisasinya program kegiatan praktik CCSA 2 keperawatan

komunitas mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) STIKes Payung Negeri

Pekanbaru di masyarakat sehingga berpengaruh terhadap kelancaran tahap persiapan.

Berdasarkan uraian diatas diperlukan rencana tindak lanjut bagi seluruh pihak yang

mendukung untuk membantu tersosialisasinya keberadaan mahasiswa praktik CCSA 2

keperawatan komunitas di lingkungan yang bersangkutan.

B. TAHAP PENGKAJIAN

Pada tahap pengakajian telah dilakukan dengan berbagai metode pengumpulan data

yang dimulai dengan Windshield survey, penyusunan kuisioner/angket, penyebaran

kuesioner, observasi dan wawancara. Hal ini sesuai dengan teori Neuman yang

dimodifikasi oleh Mc. Farley dan Anderson (2000), yaitu model Community as Partner,

yang melihat masyarakat dalam suatu wilayah sebagai core atau inti dan pengkajian yang

harus kita lakukan pada masyarakat tersebut secara sistematis dan ilmiah. Mc. Farley dan

Anderson (2000), juga berpendapat bahwa 8 subsistem yang berpengaruh dikomunitas

yaitu lingkungan fisik, pelayanan sosial dan kesehatan, ekonomi, transportasi, keamanan,

politik, pemerintah, komunitas, pendidikan, dan rekreasi.

Pada tahap pengakjian ini telah dilakukan kegiatan antara lain penyebaran kuesioner

pada ±75 KK, sekaligus observasi dan wawancara dengan masyarakat pada tanggal
15&16 November 2016 data yang sudah diperoleh kemudian ditabulasi dan dianalisis

serta dirumuskan masalah yang telah disepakati bersama dengan masyarakat pada saat

LKMM 1 (Loka Karya Mini Masayrakat) pada tanggal 3Desember 2016.

Proses pengkajian yang telah dilakukan pada masyarakat telah memberikan informasi

sehingga diketahui masalah atau ancaman kesehatan yang ada dimasyarakat. Hal ini

sesuai dengan pendapat Stanhope & Landcaster (2004), dimana pada saat pengkajian

komunitas perlu adanya persiapan serta pengkajian komunitas sehingga didapatkan suatu

masalah.

Faktor pendukung pada tahap ini adalah masyarakat berpartisipasi aktif dalam

memberikan informasi saat dilakukan wawancara dan adanya dukungan dari pemuka

masyarakat baik ketua kelompok, ketua RT, ketua RW dan tokoh masyarakat serta tokoh

agama di wilayah RT 04 RW 20 Kelurahan Sri Meranti Kecamatan Rumbai Pekanbaru.

Selain itu, pada proses pengkajian mahasiswa mendapat dukungan melalui kerjasama

yang baik pada lintas program (Puskesmas) dan lintas sektoral (Kelurahan, RW, dan RT).

Faktor penghambat adalah sebagian masyarakat heterogen dimana mayoritas masyarakat

bekerja sebagai buruh dan wiraswasta yang mobilitas cukup tinggi sehinggan sulit

ditemui pada sinag hari dan juga beberapa masyarakat yang beranggapan bahwa

pelaksanaan sepenuhnya tanggung jawab mahasiswa. Berdasarkan kendala yang

ditemukan diperlukan rencana tindak lanjut yaitu dukungan penuh dari pihak RT dan

warga setempat berupa sosialisasi dan motivasi bagi seluruh masyarakat untuk berperan

aktif dalam kegiatan yang dilakukan mahasiswa.

Berdasarkan hasil Windshield Survey dan tabulasi didapatkan dua masalah kesehatan

di RT 04 yaitu :

a. Perilaku kesehatan cenderung beresiko di wilayah RT 04 RW 20 Kelurahan Sri

Meranti Kecamatan Rumbai Pekanbaru.


b. Ketidakeefektifan pemeliharaan kesehatan di wilayah RT 04 RW 20 Kelurahan Sri

Meranti Kecamatan Rumbai Pekanbaru.

C. TAHAP DIAGNOSIS KEPERAWATAN

Menurut NANDA dalam Potter dan Perry (2005), diagnosis keperawatan adalah

penilaian klinis terhadap respon individu, keluarga dan masyarakat terhadap masalah

kesehatan dan proses kehidupan aktual atau potensial. Diagnosis keperawatan komunitas

merupakan tahapan perumusan masalah kesehatan yang ditemukan, yang terdiri dari tiga

jenis diagnosis yang bersifat resiko, aktual, potensial. Diagnosis aktual adalah diagnosis

keperawatan yang masalahnya benar-benar terjadi. Diagnosis resiko adalah diagnosis

keperawatan yang masalahnya belum terjadi tetapi telah ditemukan data-data yang

mendukung untuk timbulnya maslaha. Sedangkan diagnosa potensial adalah diagnose

keperawatan yang mengacu kepada peningkatan derajat kesehatan.

Dalam merumuskan 2 (dua) diagnosa keperawatan utama, mahasiswa tidak

menemukan hambatan yang berarti, hal ini disebabkan karena adanya kerja sama

mahasiswa dengan masyarakat. Faktor pendukung dalam merumuskan diagnosa

keperawatan komunitas yaitun adanya dukungan dari yokoh masyarakat, dan tokoh

agama, dan masyarakat RT 04 RW 20 yang merasakan adanya masalah kesehatan

tersebut. Rencana tindak lanjut dari diagnosa keperawatan yang telah dirumuskan

bersama dengan masyarakat yaitu penyusunan rencana keperawatan komunitas yang

secara umum dilakukan di LKMM 1 dan selanjutnya disusun kembali dalam kelompok

kecil bersama POKJAKES yang bersangkutan.

Diagnosis keperawatan “Perilaku Kesehatan Cenderung Beresiko di wilayah RT 04

RW 20 Kelurahan Sri Meranti Kecamatan Rumbai” akan dilakukan intervensi pada waktu
yang khusus oleh mahasiswa pada praktik CCSA 2. Pelaksanaan intervensi tersebut akan

dilaksanakan pada tanggal 25 November 2016 dan 27 November 2016.

D. TAHAP INTERVENSI KEPERAWATAN

Setelah dirumuskan diagnosis keperawatan komunitas masyarakat di wilayah RT 04

RW 20 Kelurahan Sri Meranti Kecamatan Rumbai, maka langkah selanjutnya

merumuskan Plan of Action (POA) untuk mengatasi masalah kesehatan bersama

masyarakat dan anggota POKJAKES. POA tersebut di paparkan melalui Loka Karya

Mini Masyarakat 1 (LKMM 1) dan di sepakati oleh masyarakat.

Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Stanhope (2004), maka terlebih dahulu

dibentuklah organisasi POKJAKES. Untuk pengembangan rencana yang strategis perlu

adanya penjelasan tentang bentuk-bentuk yang akan dilakukan, adanya peralatan untuk

mendukung kegiatan dan peran serta masyarakat. Menurut Mc. Farley & Anderson

(2002), strategi intervensi terdiri dari promosi kesehatan, pelayanan dan kegiatan

kelompok dan pemberdayaan masyarakat. Pelaksanaan rencana kegiatan di fokuskan pada

kegiatan promosi kegiatan, pencegahan penyakit tanpa mengabaikan kegiatan kuratif dan

rehabilitative. Penyusunan rencana ini sesuai dengan model keperawatan komunitas

menurut Betty Neuman yaitu pendekatan intervensi primer, sekunder dan rehabilitative.

Faktor pendukung dalam pelaksanaan intervensi keperawatan adalah masyarakat

menyadari bahwa masalah kesehatan yang ditemukan serta dirumuskan oleh mahasiswa

adalah hal yang nyata dan dirasakan oleh masyarakat. Selain itu, faktor pendukung

lainnya yaitu adanya kerja sama yang baik dengan lintas program (Puskesmas) dan lintas

sektoral (Kecamatan, Kelurahan, RW dan RT) yang selalu mendukung pelaksanaan

kegiatan di masyarakat RW 20 Kelurahan Sri Meranti Kecamatan Rumbai Kota

Pekanbaru.
Faktor penghambat yang ditemukan mahasiswa dalam pelaksanaan yaitu sulitnya

mengumpulkan masyarakat dalam waktuyang bersamaan karena pekerjaan dan kesibukan

yang berbeda dari masing-masing keluarga. Rencana tindak lanjut pada tahap intervensi

ini yaitu akan dilakukan implementasi sesuai dengan rencana keperawatan komunitas

yang telah disepakati bersama mayrakat dengan melakukan kerja sama lintas program dan

lintas sektoral sesuai dengan Plan of Action (POA).

E. TAHAP IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Setelah disusun perencanaan yang telah disepakati dengan masyarakat, maka

dilakukan implementasi dari rencana keperawatan dari rencana keperawatan tersebut.

Pelaksanaan kegiatan dilaksanakn selama 2 minggu dengan dukungan penuh dari tokoh

masyarakat dan tokoh agama serta partisipasi aktif masyarakat. Menurut Mc. Farley dan

Anderson (2002), dijelaskan bahwa dalam melakukan suatu tindakan perlu adanya

perumusan strategi untuk kegiatan agar tindakan yang dilakukan mencapai suatu tujuan

yang telah ditetapkan.

Strategi yang digunakan oleh mahasiswa sesuai dengan teori yaitu promosi kesehatan,

pelayanan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan kelompok kerja. Berikut ini akan di

uraikan dan di anlisa kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan dalam upaya menyelesaikan

masalah kesehatan di masyarakat :

1. Perilaku Kesehatan Cenderung Beresiko di wilayah RT 04 RW 20 Kelurahan Sri

Meranti Kcamatan Rumbai Pekanbaru

Implementasi :

a. Pendidikan Kesehatan Tentang Risiko DBD dan Penanganannya

menggunakan Lavitrap
Kegiatan ini dilaksanakan pada hari 25 November 2016 dan 27 November 2016

Kelurahan Sri Meranti Kecamatan Rumbai Pekanbaru dengan sasaran seluruh

warga RT 04. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memotivasi dan

meningkatkan pengetahuan warga tentang risiko DBD dan Penanganannya

menggunakan Lavitrap.

1) Analisis SWOT

a) Strength (Kekuatan)

Disediakannya waktu dan tempat oleh masyrakat di rumah masyarakat

pada pukul 15.00 WIB untuk menyampaikan informasi tentang kesehatan

pentingnya mencegah DBD dan penggunaan lavitrap. Seluruh warga yang

hadir tampak antusias dan kooperatif dalam kegiatan penyuluhan, hal ini

ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan.

b) Weakness (Kelemahan)

Penyuluhan yang diadakan tidak tepat waktu karena teralu lama menunggu

warga yang datang.

c) Opportunity (Peluang)

i) Adanya tokoh masyarakat yang berkesempatan hadir dalam

kegiatan ini

ii) Adanya kader pokja serta tokoh masyarakat dalam penyuluhan

d) Treat (Ancaman)

Keadaan masyarakat yang heterogen (bermacam-macam) dan

kesibukan masyarakat sehingga menyebabkan kurangnya kesadaran akan

pentingnya upaya pencegahan DBD dengan lavitrap.


2) Rencana Tindak Lanjut

Ketua dan anggota kelompok kerja kesehatan (POKJAKES) dapat

memotivasi masyarakat dan pencegahannya dengan lavitrap khusunya IRT

untuk berpartisipasi dalam penyuluhan tentangpenyakit DBD dan pembuatan

lavitrap.

b. Pendidikan Kesehatan Tentang PHBS : Perilaku Membuang Sampah

Sembarangan

Kegiatan penyuluhan tentang perilaku membuang sampah sembarangan

dilaksanakan pada hari Jum’at dan Minggu tanggal 25 dan 27 November 2016 di

RT 04 RW 20 Kelurahan Sri Meranti Kecamatan Rumbai Pekanbaru. Adapun

tujuan pelaksanaan kegiatan ini diharapkan meningkatnya kesadaran masyarakat

untuk tidak membuang smpah sembarangan

1) Analisis SWOT

a) Strength (Kekuatan)

Tersedianya waktu dan tempat oleh masyarakat untuk menyampaikan

infromasi tentang perilaku membuang sampah sembarangan, masyarakat

tampah antusias dan kooperatif dalam kegiatan penyuluhan tersebut,

ditandai dengan adanya feedback yang baik dari masyarakat dengan

mahasiswa CCSA 2 STIKes Payung Negeri Pekanbaru.

b) Weakness (Kelemahan)

Masyarakat datang tidak tepat pada waktu yang telah ditetapkan.

Masyarakt malu untuk memulai bertanya pada saat sesi Tanya jawab,

ditandai dengan masyarakat berdiskusi tentang msalah lingkungannya

antar sesama warga sehingga forum terlihat ribut.


c) Opportunity (Peluang)

Adanya keterlibatan ketua RT 04, ketua RW 20 dan tokoh masyarakat

serta POKJAKES dalam penyuluhan perilaku membuang sampah

sembarangan.

d) Treat (Ancaman)

Keadaan masyarakat yang heterogen dan kesibukan maysrakat

sehingga menyebabkan kurangnya kesadaran masyarakat tentang

pentingnya menjaga kesehatan lingkungan terutama dalam segi

pembuangan sampah.

2) Rencana Tindak Lanjut

Ketua masyarakat, dan mahasiswa CCSA 2 serta kelompok kerja

kesehatan (POKJAKES) dapat memotivasi masyarakat dalam kegiatan

pemeliharaan kesehatan lingkungan dengan cara tidak membuang sampah

sembarangan dan didapat kesepakatan bersama akan dilakukan gotong royong

di TPS RW 20 RT 04.
BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pengkajian (pengumpulan data melalui kuesioner, observasi dan metode wawancara

dengan masyarakat setempat serta winshields survey) dilakukan terhadap 54 KK yang ada

di RT 04 RW 20 Kelurahan Sri Meranti Kecamatan Rumbai Pekanbaru oleh mahasiswa

praktik profesi ners keperwatan komunitas STIKes Payung Negeri Pekanbaru.

Ruang lingkup pengkajian terhadap masyarakat dilakukan sesuai dengan masalah

yang didapat. Pengkajian menggunakan kuesioner yang dilakukan dengan metode door to

door ( rumah kerumah ). Pengkajian meliputi lingkungan rumah, air bersih, prilaku hidup

dan sehat dan sebagainya. Selain data diatas dikumpulkan pula data melalui wawancara

Ketua RT 04 RW 20 dan masyarakat setempat.

Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan data diatas tersebut dapat ditarik

beberapa permasalahn kesehatan komunitas di RT 04 RW 20 Kelurahan Sri Meranti

Kecamatan Rumbai yaitu :

1. Prilaku Kesehatan Cendrung Berisiko diwilayah RT 04 RW 20 Kelurahan Sri Meranti

Kecamatan Rumbai

2. Ketidakefektifan Pemeliharaan Kesehatan di wilayah RT 04 RW 20 Kelururahan Sri

Meranti Kecamatan Rumbai

Setelah ditemui masalah kesehatan komunitas maka disusunlah suatu rencana

keperawatan komunitas sekaligus membentuk kelompok kerja kesehatan untuk membantu

mengatasi masalah-masalah tersebut. Adapun POKJAKES ini terdiri dari 6 sasaran

kelompok kerja kesehatan yaitu: Sub. Bid Dana Sehat, Sub. Bid KADARZI dan PHBS,

Sub.Bid pelayanan Kesehatan Dasar, Sub. Bid Surveilens, Sub. Bid UKBM, Sub. Bid

KGD dan Bencana.


Kegiatan ini dilakukan untuk memperdayakan dan meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat masyarakat khususnya untuk masyarakat RT 04 Rw 20 Kelurahan Sri Meranti

Kecamatan Rumbai.

Berdasarkan yang tercantum dalam Planing of Action (POA) maka mahasiswa

bersama POKJAKES melakukan implementasi keperawatan meliputi:

1. Penyuluhan Kesehatan:

a. Penyuluhan kesehatan tentang (PHBS) risiko DBD dan pembuatan lavitrap serta

penyebaran leaflet.

b. Penyuluhan kesehatan (PHBS) prilaku pembuangan sampah sembarangan sampah

serta penyebaran leaflet.

2. Pemberian Intervensi Keperawatan Profesional tentang efektif.

Setiap selesai kegiatan implementasi keperawatan komunitas mahasiswa melakukan

evaluasi (terlampir dalam lampiran kegiatan) dan secara umum evaluasi dari

implementasi keperawatn komunitas yang telah dilakukan oleh mahasiswa bersama

POKJAKES.

1. Evaluasi

a. Evaluasi Struktur

1) Masyarakat yang diundang hadir ditempat yang telah ditentukan dengan

kehadiran sebagian besar dari masyarakat yang mengikuti kegiatan tepat waktu,

tetap ada juga masyarakat yang terlambatdalam mengikuti kegiatan yang

diadakan.

2) Tempat yang dilakukan untuk pelaksanaan kegiatan sesuai yang direncanakan.

3) Alat-alat atau perlengkapan serta media yang dibutuhkan untuk melalukan setiap

kegiatantersedia sesuai rencana.


4) Peran dari setiap mahasiswa telah sesuai dengan iuran tugas yang telah

direncanakan dan dapat dilaksanakan dengan baik sesuai dengan diharapan.

5) Pengurus dan anggota POKJAKES terlibat dalam setiap kegiatan.

b. Evaluasi Proses

1) Masyarakat mendukung setiap kegiatan yang dilakukan oleh setiap mahasiswa

bersama POKJAKES dengan rata-rata undangan hadir adalah 75%

2) Masyarakat yang hadir sangat antusias dan berperan aktif selama kegiatan

berlangsung.

c. Evaluasi akhir

1) POKJAKES ikut terlibat aktif selama acara

2) Peserta aktif dalam mengikuti kegiatan baik penyuluhan maupunkegiatan lain

yang dilakukan oleh mahasiswa ddan mampu mengulang kembali apa yang

telah dijelaskan oleh mahasiswa.

3) Dari semua rencana keperawatan komunitas hanya satu kegiatan yang tidak

dapat dilaksanakan, yaitu lomba balita sehat dikarenakan tidak adanya indikator

dari puskesmas.

B. SARAN

Berdasarkan kesimpulan dapat diatas dapat diajukan beberapa saran yang dapat

menunjang perbaikan-perbaikan yang positif pada kemudian hari yaitu:

1. Dinas Kesehatan

Pada pihak dinas kesehatan agar lebih berpartisipasi dalammeningkatkan

derajatkeshatan di Riau khsusnya Kota Pekanbaru melalui program-program yang

menunjang kegiatan tersebut. Selain itu hendaknyaDinas Kesahatan dapat langsung

turun kemasyarakat untuk melihat langsung masalah-masalah kesehatan yang ada

dimasyarakat.
2. Kecamatan dan Kelurahan

Diharapkan dari pihak dan Kelurahan dan kecamatan selalu mendukung dan

berpartisipasi pada setiap kegiatan yang dilakukan Dinas kesehatan, puskesmas ddan

masyarakat dalam melakukan program-program yang dapat meningkatkan derajat

kesehatan.

3. Puskesmas

Kepala pihak Puskesmas Umban Sari wilayah RT 04 RW 20di bidang

kesehatan diharapkan dapat membantu POKJAKES dalam meningkatkan derajat

kesehatan masyarakat RT 04 RW 20 Kelurahan Sri Meranti Kecamatan Rumbai

Pekanbaru. Diharapkan pula kepada puskesmas yang telah aktif dalam menjalankan

program promotif dan preventif pada masyarakat dari pada kuratif sehingga fungsi

dasar puskesmas tidak hilang.

4. Kader Puskesmas

Diharapkan pihak kader posyandu dapat bekerja sama dengan pihak

POKJAKES khususnya unit POKJA kesehatan lingkungan (KESLING) dalam

melaksanakan program-program yang meningkatkan upaya kesehatn lingkungan.

5. Mahasiswa Profersi Ners Keperawatan STIKes Payung Negeri Pekanbaru

Diharapkan kepada mahasiswa yang menjalani praktik profesi ners

keperawatn komunitas dapat lebih meningkatkan kerja sama antar kelompok dan

dapat bekerjasama dengan pihak-pihak lain sehingga kegiatan dapat dilakukan dan

terselesaikan dengan sukses dan berhasil.

6. Institusi Pendidikan

Diharpakan dapat meningkatkan fasilitas-fasilitas yang dapat menunjang

kegiatan praktik keperawatan komunitas misalnya, penyediaan saran dan prasarana

yang dapat mendukung dalam kelancaran praktik keperawatan komunitas seperti


laptop, LCD, Screen, dan TOA dan dapat mempertahankan dan meningkatkan lagi

keterlibatannya baik bimbingan dan arahan sehingga banyak membantu mahasiswa di

lapangan.
DAFTAR PUSTAKA

Anderson, E (2006). Buku Ajar Keperawatan Komunitas : Teori dan Parktik Keperawatan,
Jakarta :EGC

Brunner & Suddart (2008). Asuhan Keperawatan Medical Bedah Jilid 2 Vol3 Ed. 2 Jakarta :
EGC

Gloria, dkk. (2016). Nursing Interventions Classification (NIC) Ed.6, UK : Elsevier

Herdman, T. Heather. (2015). Nanda International Inc. diagonosis keperawatan : defenisi &
klasifikasi 2015-2017 Ed.10. Jakarta : EGC

Mooerhead, dkk. (2016). Nursing Outcomes Classification (NOC) Ed.5, UK : Elsevier

Perry, p. (2005). Fundamental Keperawatan, Volume 2. Jakarta : EGC

Pusat Kesehatan Kerja Depkes RI (2006). Pedoman Upaya Kesehatan Kerja. Jakarta :
Salemba Medika