Anda di halaman 1dari 6

59

BAB VI

PEMBAHASAN

6.1 Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian, penilaian dimensi menujukkan bahwa

persentase rata-rata dimensi penampilan pelayanan (tangible) adalah 84,42%. Dari

dimensi ini yang mempunyai penilaian yang paling tinggi adalah penampilan dan

pelayanan kader posyandu yang bersikap menarik dan menyenangkan yaitu

sebesar 89,23%. Hal ini didukung oleh pendapat Soeroso (2003) dalam Zuhrina

Aidha (2010) yang menyatakan bahwa penampilan tenaga kesehatan termasuk

menjamin mutu pelayanan. Walaupun penampilan tidak sepenuhnya

mencerminkan kemampuan tetapi penampilan dapat mempengaruhi dalam

membina saling percaya dengan klien. Sedangkan penilaian yang paling kecil

adalah mengenai penyuluhan secara rutin sebesar 81,03%. Rendahnya tingkat

partisipasi ibu dalam kegiatan posyandu disebabkan oleh kurangnya kesadaran ibu

akan pentingnya posyandu, sebagai akibat dari tidak maksimalnya pokok kegiatan

posyandu terutama penyuluhan. Seharusnya kader dapat memberikan informasi

untuk meningkatkan pengetahuan ibu, sehingga ibu dapat berperilaku sesuai

dengan pengetahuannya, yakni bersedia untuk rutin berpartisipasi dalam kegiatan

posyandu. Langkah untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan

posyandu, terutama ibu dapat dilakukan melalui metode persuasi dan edukasi,

yakni partisipasi yang didasari pada kesadaran. Metode ini sukar ditumbuhkan

dan akan membutuhkan waktu lama tetapi apabila tercapai hasilnya, masyarakat

akan mempunyai rasa memiliki dan rasa memelihara. Seperti yang disampaikan

Wahyono (2010), Salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah kunjungan ke

59
60

posyandu adalah minat ibu. Minat ibu datang ke posyandu untuk memeriksakan

bayinya sangat dipengaruhi oleh keadaan ibu. Agar anak dapat tumbuh dan

berkembang secara optimal, anak memerlukan system pendukung yang terpenting

yaitu ibu. Dengan demikian pemahaman dan kesadaran ibu-ibu untuk

memanfaatkan posyandu sangatlah penting.

Berdasarkan hasil penelitian penilaian dimensi kehandalan pelayanan

menunjukkan bahwa persentase rata-rata dimensi kehandalan pelayanan

(reliability) adalah 85,51%. Dari dimensi ini yang mempunyai penilaian paling

tinggi adalah jadwal pelaksanaan Posyandu tepat waktu (88,72%) dan penilaian

yang paling kecil adalah petugas penimbangan memberikan pelayanan dengan

cepat, tepat dan lancar atau ketelitian petugas Posyandu dalam penimbangan balita

(82,82%). Ketidaktelitian kader dalam membaca berat badan anak bisa

menyebabkan berat badan menjadi berkurang, hal ini akan berpengaruh pada

penempatan titik berat pada grafik KMS dan lebih lanjut akan mempengaruhi

penentuan status gizi balita (Sagala,2005). Menurut Muninjaya (2015), dari kelima

dimensi mutu pelayanan, reliability dipersepsi paling penting oleh para pengguna jasa

pelayanan kesehatan. Karena sifat produk jasa yang non standardized output, dan

produknya juga sangat tergantung dari aktivitas manusia pada saat berlangsungnya

interaksi, maka pengguna akan sulit menuntut output yang konsisten. Oleh karena itu

untuk mempertahankan atau meningkatkan reliability layanan kesehatan, pihak

manajemen puncak perlu membangun budaya kerja bermutu yaitu corporate culture of

no mistake yang diterapkan mulai dari pimpinan puncak sampai ke front line staff.

Berdasarkan hasil penelitian pada penilaian persentase rata-rata dimensi

daya tanggap pelayanan (responsiveness) adalah 84%. Dari dimensi ini yang

60
61

mempunyai penilaian yang paling tinggi adalah petugas posyandu cepat tanggap

memberikan informasi hasil penimbangan balita sebesar 86,92%. penilaian yang

paling kecil adalah tindakan cepat petugas Posyandu ketika pengguna Posyandu

membutuhkan jasanya sebesar 81,03%. Hasil penelitian Joeharno, dkk (2008)

dalam Banjarnahor (2008) yang dikutip dalam Zuhrina Aidha (2010) melaporkan

bahwa terdapat hubungan ketanggapan petugas terhadap perwujudan dan mutu

pelayanan yang cukup memberi indikasi bahwa berbagai upaya peningkatan

kemampuan kerja dan respon semangat kerja kepada petugas perlu mendapat

perhatian dengan melakukan pelatihan dalam pelayanan yang disesuaikan dengan

kebutuhan masyarakat guna meningkatkan mutu pelayanan.

Berdasarkan hasil penelitian pada penilaian persentase rata-rata dimensi

jaminan pelayanan (assurance) adalah 85,23%. Dari dimensi ini yang mempunyai

penilaian yang paling tinggi adalah pengetahuan dan kemampuan petugas

pendaftaran sebesar 86,92%. sedangkan penilaian yang paling kecil adalah

pengetahuan dan kemampuan petugas dalam memberikan penyuluhan dalam

pelayanan posyandu sebesar 83,85%. Menurut Kusumawardani (2012) dengan

adanya kegiatan penyuluhan sangat berperan dalam peningkatan pengetahuan dan

kemampuan seseorang melalui teknik praktik belajar atau instruksi dengan tujuan

mengubah atau mempengaruhi sikap dan praktik manusia sehingga dapat

berpartisipasi dalam kegiatan yang diharapkan.

Berdasarkan hasil penelitian persentase rata-rata dimensi perhatian

pelayanan (emphaty) sebesar 85,74%. Dari dimensi ini yang mempunyai penilaian

yang paling tinggi adalah petugas Posyandu memberikan kemudahan, perhatian

serta tidak membeda-bedakan kepada setiap pengunjung yaitu sebesar 87,69% dan

61
62

penilaian paling kecil adalah petugas petugas pengisian KMS memberikan

kemudahan dan perhatian serta tidak membeda-bedakan kepada setiap

pengunjung sebesar 83,85%. Hasil penelitian Zuhrina Aidha (2010) menyatakan

petugas dan kader posyandu bersikap baik menangani keluhan dan pencapaiannya

sebesar 100%. Sejalan dengan pendapat Hendriyani dalam Ahmad Baequni

(2009) yaitu dengan perhatian, komunikasi dan kesabaran petugas maka pengguna

layanan akan merasa tenang sehingga dapat menarik minat pengguna layanan

memanfaatkan kembali adalah pelayanan yang memiliki perhatian yang tinggi,

yaitu kemampuan petugas dalam berkomunikasi, kemampuan petugas dalam

memahami keinginan dan kebutuhan pasien, kemampuan petugas dalam

mengatasi keluhan pasien dan petugas bersifat sabar.

Berdasarkan hasil yang didapat pada penelitian ini bahwa ada hubungan

antara dimensi mutu pelayanan kesehatan dengan tingkat kepuasan ibu balita

pengguna posyandu di puskesmas Pujon kabupaten Malang. Hal ini ditunjukkan

dari hasil uji spearman dan didapatkan P value (0,000) <0,05.

Hasil analisis korelasi spearman diperoleh koefisien korelasi positif yaitu

sebesar 0,640 dengan P = 0,000. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada hubungan

yang signifikan dalam kategori kuat antara dimensi mutu pelayanan kesehatan dengan

tingkat kepuasan ibu balita pengguna Posyandu dan semakin tinggi dimensi mutu

pelayanan kesehatan yang diberikan Posyandu, maka akan semakin tinggi tingkat

kepuasan penggunanya.

Berdasarkan data hasil penelitian, diantara lima dimensi mutu pelayanan

kesehatan (Tangible, Reliability, Responsiveness, Assurance, dan Emphaty)

didapatkan bahwa responsiveness mempunyai nilai koefesien korelasi paling

62
63

tinggi dari kelima dimensi tersebut dengan kategori koefisien korelasi yang kuat,

yaitu sebesar 0,623. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan petugas posyandu

sangat berpengaruh terhadap tingkat kepuasan terutama dalam memberikan jasa

pelayanan kesehatan yang cepat, tanggap, dan efisien dalam menangani pasien.

Jumlah pasien atau pengguna posyandu yang datang untuk mendapatkan pelayanan

di posyandu akan menurun drastis apabila hal di atas tidak dilakukan oleh petugas

posyandu. Kepercayaan pasien terhadap posyandu juga akan menurun, sehingga

konsumen akan beralih ketempat lain yang lebih mengutamakan kepuasan

konsumen. Petugas posyandu di wilayah kerja puskesmas Pujon sudah cepat

tanggap dalam melayani masalah pasien serta memberikan informasi dengan jelas

dan mudah dimengerti. Namun hal ini tetap harus ditingkatkan dalam rangka

mempertahankan dan meningkatkan tingkat kepuasan.

Keempat dimensi lainnya (tangible, reliability, assurance, dan emphaty)

mempunyai koefesien korelasi dalam kategori sedang dan titik yang paling rendah

yaitu reliability dengan koefesien korelasi sebesar 0,453. Hal ini menunjukkan

bahwa hubungannya dengan tingkat kepuasan paling rendah diantara dimensi

lainnya. Berdasarkan hasil observasi di lapangan, prosedur penerimaan balita

dilakukan dengan mudah karena ketika balita datang maka petugas langsung

melayani penimbangan balita dan mencatat hasil penimbangan balita. Begitupun

dengan jadwal pelaksanaan posyandu dilaksanakan tepat waktu karena posyandu

sudah memiliki jadwal tetap pelaksanaan posyandu yang berdasarkan hari dan

minggu sehingga baik kader dan pengguna posyandu mengetahui jadwal

pelaksanaan posyandu.

63
64

Dari pembahasan mengenai hubungan antara mutu pelayanan kesehatan

dengan tingkat kepuasan ibu balita maka dapat dinyatakan bahwa hipotesis penelitian

ini, Ho ditolak atau H1 diterima, yaitu ada hubungan yang positif antara mutu

pelayanan kesehatan dengan tingkat kepuasan ibu balita pengguna posyandu.

Dengan demikian semakin baik mutu pelayanan kesehatan yang ada di posyandu

puskesmas Pujon kabupaten Malang, maka akan semakin tinggi pula tingkat

kepuasan dari ibu balita yang berkunjung di posyandu puskesmas Pujon

kabupaten Malang. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan dan diterapkan

dalam menetapkan kebijakan kebijakan pelayanan kesehatan di posyandu guna

meningkatkan mutu pelayanan posyandu dan kepuasan ibu balita yang

menggunakan jasa posyandu khususnya Puskesmas Pujon kabupaten Malang.

Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa mutu pelayanan berhubungan

signifikan terhadap kepuasan pelanggan mengandung pengertian perlunya pihak

posyandu untuk menerapkan mutu pelayanan ini. Posyandu yang mampu

memenuhi semua dimensi mutu pelayanan akan memberikan tingkat kepuasan

yang tinggi kepada pengguna posyandu. Berdasarkan data puskesmas Pujon,

angka keberhasilan posyandu (N/D) pada bulan Februari 2016 yaitu 71%. Hal ini

menunjukkan bahwa mutu pelayanan harus ditingkatkan terutama dalam hal

meningkatkan status gizi balitanya.

Pada penelitian ini, peneliti menyadari bahwa terdapat kelemahan yaitu

terdapat bias pada saat pengisian kuesioner. Peneliti hanya memberikan kuesioner

pada ibu balita yang hadir pada kegiatan posyandu, sedangkan ibu balita yang

tidak hadir pada kegiatan posyandu tidak mendapatkan kuesioner.

64