Anda di halaman 1dari 28

PROPOSAL PENELITIAN

“PEMBENTUKAN MINERAL STRUVITE


MENGGUNAKAN REAKTOR SEKAT SECARA
SINAMBUNG”

Disusun Oleh:

1. Moch. Agus Musyafa’ 1531010177


2. Monica Layyina Huda 1531010199

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA
TIMUR
SURABAYA
2018
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

DAFTAR ISI

Daftar Isi......................................................................................................... 2

Daftar Gambar ................................................................................................ 4

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 5

I.1 Latar Belakang .............................................................................. 5

I.2 Tujuan Penelitian .......................................................................... 6

I.3 Manfaat Penelitian ........................................................................ 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... 7

II.1 Secara Umum .............................................................................. 7

II.2 Mekanisme Presipitasi Struvite ................................................... 9

II.3 Faktor Yang Mempengaruhi Terbentuknya Mineral Struvite ..... 11

II.4 Bahan-bahan Penyusun Struvite .................................................. 12

II.5 Kristalisasi ................................................................................... 14

II.6 Kristalisasi Struvite...................................................................... 16

II.7 Landasan Teori ............................................................................ 18

II.8 Pengujian SEM ............................................................................ 21

II.9 Pengujian XRD ............................................................................ 22

II.10 Hipotesa ..................................................................................... 22

BAB III METODOLOGI PENELITIAN....................................................... 23

III.1 Bahan Yang digunakan .............................................................. 23

III.2 Rangkaian Alat ........................................................................... 23

III.3 Variabel ...................................................................................... 24

III.3.a Variabel Bebas ......................................................................... 24

III.3.b Variabel Tetap ......................................................................... 24

III.4 Prosedur Penelitian ..................................................................... 24

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 2
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

III.4.1 Persiapan Alat ......................................................................... 24

III.4.2 Persiapan Bahan Baku ............................................................. 24

Daftar Pustaka ................................................................................................ 27

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 3
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Mineral Magnesium Ammonium Phospate ................................. 8


Gambar 2.2 Sistem reactor kristalisasi dari Le Corre (2007) dan
Suzuki (2007) ................................................................................ 19
Gambar 2.3 Sistem Reaktor kristalisasi dari (a) Ali dan Schneider (2008)
dan(b) Rahman dkk (2011) ........................................................... 20
Gambar 2.4 reaktor kristalisasi yang terbuat dari silinder gelas ...................... 20

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 4
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

BAB I
PENDAHULUAN
II.1 Latar Belakang
Struvite (atau MAP) adalah sejenis kristal alami yang mengandung
magnesium, ammonium, dan fosfat. (Elisabeth, 2000). Proses pembentukan
struvite dengan mereaksikan Mg2+ , NH4+, PO43- sesuai dengan reaksi umum yang
ditunjukkan dalam Pers. (1). Reaksi pembentukan struvite kristal terjadi apabila
konsentrasi magnesium, ammonium dan fosfor dalam larutan melebihi solubility
product (Ksp). (Ariyanto dkk, 2015)
Mg2+ + NH4+ + PO43- + 6H2O →MgNH4PO4.6H2O (struvite) (1)
Struvite memiliki kekerasan Morhs 1,5 sampai 2 dan memiliki berat jenis
rendah 1,7. Hal ini sedikit larut dalam kondisi netral dan basa, tetapi mudah larut
dalam asam. Kelarutan suatu zat didefinisikan sebagai kemampuan zat untuk larut
dalam zat lain. Struvite pertama kali dijelaskan dari sistem saluran pembuangan
abad pertengahan di Hamburg Jerman pada tahun 1845 dan dinamai geografi dan
geologi Heinrich Christian Gottfried von Struve.
Dalam suatu industri, struvite terdapat pada kerak pipa yang dapat
menghambat proses industri. Pada pipa tersebut dapat terbentuk kerak karena pipa
tersebut sering dilalu fluida panas.Alat tersebut adalah steam, boiler, heat
exchanger, dan banyak jenis alat yang lain. Kebanyakan alat ini terbuat dari bahan
yang dapat menghantarkan panas namun alat-alat yang digunakan untuk proses
pemanasan jika tidak dirawat dengan baik akan menimbulkan masalah pada
proses produksi hal ini dapat memperlambat kinerja pabrik. (Lisanti,2011)
(akbar, 2013)
Menurut (Xian-Yuan, 2010) menyebutkan bahwa kristal struvite dapat
juga dibentuk pada proses pengomposan secara aerobik dengan bahan dasar
sampah daun. Penelitian tersebut terdiri dari 4 reaktor, yaitu K3PO4+MgSO4,
K2PO4+MgSO4, K3PO4+MgSO4 dan reaktor kontrol. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa reactor kontrol dengan penambahan Mg dan P dapat
menghasilkan kristal struvite.
(Triyono,2015)

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 5
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

Dalam penelitian (Zhilong Ye, 2014) disebutkan bahwa struvite cenderung


membentuk kristal berbentuk jarum atau batang. Dalam proses kristalisasi struvite
seringkali mengesampingkan gumpalan yang dihasilkan oleh struvite. Metode
yang dikembangkan untuk menganalisa karakteristik dari gumpalan struvite
menggunakan fractal geometri dan efek dari parameter operasional gumpalan
struvite telah dievaluasi.
Menurut (Yu-Jen Shih, 2016) , kristalisasi struvite dalam reaktor fluidized
bed dilakukan untuk mengelola limbah sintetis yang mengandung fosfat. Dibawah
kondisi yang optimal (pH 9,5, rasio molar Mg/N/P = 1,3/4/1, dosis feed struvite
(53-297 µm) = 30 g L-1, total flow rate = 12 ml menit-1, reflux = 120 ml menit-1),
penghilangan fosfat dan rasio kristalisasi adalah 95,8 % dan 93,5%.
Pada penelitian ini kami mengembangkan penelitian tentang struvite yang
sudah ada untuk diambil kandungan fosfornya sebagai bahan baku pembuatan
pupuk yang sesuai dengan standar SNI dan menggunakan reaktor sekat untuk
memperoleh kristal struvite dengan proses secara continue.
I.2 Tujuan penelitian
Memperoleh kristal struvite menggunakan reaktor sekat dengan mengatur
pH, suhu operasi serta kecepatan udara dengan konsentrasi bahan baku dengan
proses secara continue.
I.3 Manfaat Penelitian
1. Membuka wawasan tentang penggunaan reaktor sekat untuk memperoleh
kristal struvite.
2. Mengetahui kecepatan udara, pH, dan suhu yang terbaik untuk karakterisasi
pada mineral struvite.

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 6
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Secara Umum
Struvite adalah kristal putih secara kimia dikenal dengan magnesium
amonium fosfor hexahydrate (MgNH4PO4.6H2O). Proses pembentukan struvite
adalah dengan mereaksikan Mg2+, NH4, dan PO43- . Reaksi pembentukan kristal
struvite terjadi apabila konsentrasi magnesium, amonium dan fosfor dalam larutan
melebihi solubility product (Ksp). Struvite memberikan beberapa manfaat
dibandingkan dengan bentuk kristal yang lain. (i) Nutrisi dilepaskan pada tingkat
yang lebih lambat dibandingkan dengan pupuk lainnya, (ii) kotoran pada struvite
yang dipulihkan adalah dua atau tiga kali lipat lebih rendah dari pupuk fosfat pada
umumnya, (iii) nutrisi penting (P, N, dan Mg) berbentuk kristal dalam bentuk
yang bersamaan. Pada urin manusia terdapat kandungan fosfor yang dapat
dijadikan struvite (Barbosa, 2016). Selain itu, struvite juga dapat ditemukan pada
limbah garam (bittern). Pada limbah garam mengandung bahan pengotor seperti
kotoran (tanah liat), Magnesium (Mg), Kalsium (Ca), Kalium (K), dan Sulfat
(SO4) serta impuritis lainnya. (Iswahyudi, 2013).
Didalam tubuh kita juga dapat membentuk struvite yang dapat merugikan
kita. Dalam tubuh, struvite dapat terbentuk secara alami pada proses terbentuknya
urin. Bahkan struvite yang mengendap pada tubuh kita dapat mengakibatkan suatu
penyakit yaitu penyakit batu ginjal. Tetapi ternyata kandungan dalam struvite ini
dapat berguna sekali bagi tumbuhan hidup. Struvite dapat digunakan sebagai
pupuk yang dapat membantu menyuburkan tanaman (Hao,2008).
Dalam suatu industri struvite sering ditemukan pada pipa yang biasa kita
sebut dengan kerak. Pembentukan magnesium amonium phospat, kerak pada pipa
terindikasi mengandung senyawa magnesium amonioum phospat. Alat industri
yang mudah berkerak adalah boiler atau steam yang mana alat tersebut sering
dialiri udara panas. Kerak pada pipa dapat menggangu proses berjalannnya suatu
industri. Kerak pada pipa dapat menghambat laju aliran udara maupun air didalam

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 7
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

pipa. Oleh karena itu kerak pada pipa ini pasti dibuang pada proses industri
(Lisanti,2011).
Mineral MAP atau struvite memiliki tipe struktur yang berbeda-beda dan
dapat dikenali menggunakan XRD (X-ray Diffraction). Penelitian Rachman et al.,
(2011) menjelaskan bahwa mineral MAP berbentuk tidak beraturan. Penelitian
tersebut dilakukan untuk recovery kristal struvite pada limbah cair peternakan
babi. Magnesium dengan molar rasio 1,0 molar ditambahkan orthofosfat (OP) dan
laju aerasi 0,73 L/min. Penelitian yang dilakukan oleh Ali, (2007) menyatakan
bahwa mineral MAP atau struvite berbentuk tidak beraturan. Struktur mineral
MAP atau struvite dapat dilihat pada Gambar 2.1 (Nurani,2015)

Gambar 2.1. Mineral MAP (Doyle dan Parsons, 2002)


Struvite memiliki sifat seperti berikut :
 Struvite adalah magnesium amonium fosfat hexahydrate dengan
rumus molekul MgNH4PO4.6H2O .
 Mempunyai wujud asli berupa bubuk kristal berwarna putih tetapi bisa
juga muncul sebagai kristal yang sangat besar, kristal kecil, dadih
besar atau agar-agar.
 Mempunyai spesifik gravity sebesar 1,7
 Mudah larut dalam pH asam dan sulit larut dalam pH basa.

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 8
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

Struvite itu sendiri dapat terpengaruh dengan berbagai parameter berikut


ini :
 Semakin meningkatnya pH, konsentrasi dari kandungan P juga
meningkat, sedangkan konsentrasi dari Mg2+ dan NH4+ menurun.
Peristiwa ini menghasilkan pH yang optimum dari pembentukan
kristal struvite.
 Rentang pH untuk pengendapan struvite bekisar antara pH 7 hingga
11.
 pH minimum untuk kelarutan struvite adalah sekitar pH 9 untuk
kondisi yang ditentukan pada pengolahan limbah, kelarutan minimum
untuk struvite menunjukkan potensi yang maksimal untuk
pembentukannya.
(Elisabeth, 2000)
II.2 Mekanisme Presipitasi Struvite
Struvite terbentuk melalui proses pengendapan yang melibatkan proses
fisik-kimia membentuk endapan yang dapat dipisahkan dari larutan. Struvite
memiliki struktur kristal yang bisa diidentifikasi melalui sinar X. Terbentuknya
struvite melalui dua tahap, yaitu nukleasi dan pertumbuhan. Nukleasi terjadi
ketika ion-ion pembentuk struvite bereaksi membentuk inti endapan. Selanjutnya
inti kristal yang terbentuk akan tumbuh sampai mencapai kondisi kesetimbangan
(Doyle and Person, 2002). Presipitat ini bisa terbentuk ketika konsentrasi
magnesium, ammonium, dan phospat melebihi kelarutan produk yang dihasilkan,
yang dinyatakan dengan nilai Ksp (tetapan hasil kali kelarutan). Doyle and
Persons (2002), melaporkan hasil reviewnya dari beberapa peneliti bahwa nilai
Ksp struvite berkisar 5.5x10-14 sampai 4.36x10-13, (pKsp=13.26-12.6). Sedangkan
Day and Underwood (1986), melaporkan nilai Ksp ammonium magnesium
phospat adalah 3x10-13 (pKsp) = 12.5). Doyle and Parsons (2002) menjelaskan
bahwa perbedaan dari pKsp mineral struvite disebabkan dari aktivitas dan molar
dari ion yang terkandung.
Pada perkembangan presipitasi struvite banyak diterapkan untuk mengolah
limbah yang dominan mengandung ammonium atau phospat, seperti pada lindi,

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 9
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

air limbah industri penyedap rasa, limbah industri kulit, dan limbah industri pakan
ternak, limbah pertanian. Presipitasi struvite bisa juga diterapkan pada air limbah
semi konduktor (Kim et ak., 2005, Warmadhewanti and Liu, 2009)
Presipitasi struvite dikontrol oleh pH, tingkat kejenuhan, dan keberadaan
ion-ion dalam larutan seperti kalsium (Doyle and Persons, 2002). Pada
pembentukan kristal struvite dari lindi, dibutuhkan molar ratio [Mg2+] : [NH4-]:
[PO43-] yang sama (Demirer et al., 2005). Sumber ion phospat bisa berasal dari
:Na2HPO4, 12H2O, H3PO dan Ca(H2PO4)2.H2O
Reaksi kimia sebagai berikut :
Mg2+ + NH4+ + PO43- +6 H2O → MgNH4PO4.6H2O (struvite)
(Triyono, 2015)
Presipitasi struvite biasanya ditemukan pada area dengan turbulensi tinggi,
turbulensi ini melepaskan karbondioksida dan menaikkan pH. Data termodinamik
dari literatur menunjukkan bahwa sejumlah senyawa Mg2+ akan mengendap dari
larutan yang mengandung ion NH4+, dan PO43-: MAP,magnesium hydrogen
phosphatetrihydrate atau newberyite (MgHPO4•3H2O), trimagnesium phosphate
dalam bentuk Mg3(PO4)2•22H2O danMg3(PO4)2•8H2O (bobierrite). Presipitasi
struvite terjadi pada pH netral atau lebih. Kristal struvite memiliki struktur
orthorhombic yang membedakandandapatdiidentifikasi oleh SEM.
(Nurani, 2015)
Karakteristik dari struvite adalah (Much and Barr,2001):
 kristal putih yang mengandung molekul magnesium, ammonium, dan
phospat dengan senyawa kimia (MgNH4PO4.6H2O)
 struktur kristal adalah orthorombic yang berbeda-beda dengan NH4 terikat
pada ujung-ujung kristal dengan ikatan hidrogen.
 Mempunyai spesific gravity 1.7.
 Mempunyai berat molekul 245
 Kelarutan sangat tergantung pH
Keberadaan struvite pertama kali ditemukan pada instalasi pengolahan
limbah sekitar pada tahun 1963. Struvite tersebut menjadi masalah sendiri pada
pengolahan limbah dan banyak ditemukan di berbagai lokasi pengolahan yang

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 10
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

mempunyai turbulensi tinggi, seperti belokan pipa, valve, pompa dan separator
(Stratful et al., 2004). Doyle adn Persons (2001) menyatakan bahwa scaling yang
disebabkan oleh kehadiran struvite dalam memperkecil luas efektif dari pipa
sampai mencapai 60%, sehingga diperlukan pemebersihan pipa secara berkala.
Pembersihan struvite pada tempat-tempat tersebut sangat sulit, dan membutuhkan
biaya yang mahal. Selain itu pembersihan juga harus menhentikan operasional
pengolahan yang sedang berlangsung. Metode pembersihan bisa dilakukan secara
manual, atau menggunakan acid washing, jet washing dan thermal washing.
Li et al., (1999) menyatakan bahwa penggunaan MgCl2. 6H2O
memberikan efisiensi tinggi pada penyisian ammonium, tetapi memberikan
salinitas yang tinggi limbah, dimana salinitas tersebut akan memnganggu mikroba
pada proses biologis. MgSO4, lebih sering digunakan daripada MgO dengan
alasan harganya murah dan memerlukan waktu reaksi lebih pendek. (Di laconi et
al.,2009)
(Triyono, 2015)
II.3 Faktor Yang Mempengaruhi Terbentuknya Mineral Struvite
a. Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman atau pH merupakan faktor penting dalam pembentukan
struvite. Nilai pH akan mempengaruhi kelarutan struvite dan sifat
termodinamikanya (Ronteltap et al., 2007). Reaksi presipitasi struvite sangat
tergantung pada pH. Presipitasi struvite biasanya terjadi pada kondisi basa dengan
pH antara 6,5 –10 (Bowers, 2004). Aerasi pada air limbah dapat menaikkan pH
dan mendekati pH dimana struvite akan terbentuk (Wang, 2003). Peningkatan pH
dengan aerasi juga dapat mengurangi penggunaan bahan kimia untuk mencapai
presipitasi optimum. Kehadiran komponen ion yang tepat tergantung pada pH dan
diperlukan untuk reaksi presipitasi (Benjamin, 2002). Nilai pH selain berpengaruh
terhadap pembentukan endapan struvite, juga berpengaruh terhadap
kesetimbangan fosfat dan amonium.
b. Kecepatan Lamanya Pengadukan
Kecepatan dan lamanya pengadukan juga merupakan faktor penting dalam
pembentukan struvite. Meskipun pH dan rasio molar tepat, presipitasi dapat

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 11
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

berhenti sebelum mencapai kesetimbangan karena buruknya kristalisasi atau


terbentuk endapan amorf terlebih dahulu, mengakibatkan peningkatan kelarutan
(Wang et al., 2003).
c. Rasio molar
Rasio molar memiliki dampak besar terhadap komposisi presipitat struvite.
Sedangkan kelebihan magnesium akan menurunkan kemurnian struvite
(Demeestere et al., 2001). Penambahan magnesium yang berlebih dapat
meningkatkan removal efisiensi proses, tetapi juga dapat menurunkan kemurnian
struvite yang terbentuk (Wang et al., 2006; Warmadewanthi dan Liu, 2009a).
Konsentrasi NH4-N juga sangat berpengaruh pada pengendapan struvite. Adanya
NH4 yang berlebih dalam larutan akan meningkatkan presipitasi mineral MAP
(Warmadhewanti dan Liu, 2009a)
(Nuraini,2015)
II.4 Bahan-bahan Penyusun Struvite
a. Magnesium Klorida (MgCl2.6H2O)
1. Massa molar : 203,3027 g/mol
2. Spesific grafity : 1,56
Persen
Siaambol Elemen Berat Atom Atom
Massa
aMg Magnesium 24,3050 1 11,9551%
Cl Chlorine 35,453 2 34,8771%
H Hdrogen 1,00794 12 5,9494%
O Oxygen 15,99994 6 47,2185%
(Perry, 1976)
b. Ammonium Fosfat (NH4OH)
Amonia adalah larutan gas amoniak (NH3) dalam air., berbau khas
menusuk hidung. Kelarutan gas amoniak dalam air sangat besar yaitu
1,145 l/l air pada suhu 0 oC dan tekanan 1 atmosfer, gas ini juga larut
dalam alkohol dan eter.
a. Bentuk : Cairan
b. Warna : tak berwarna

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 12
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

c. Bau : ammonia atau bau yang kuat


d. pH : 13,6
e. Density : 0.89
f. Formula molekul : NH4OH
g. Berat molekul : 35,04
(Ihsan,2016)
c. Asam Fosfat (H3PO4)
Asam fosfat, juga dikenal sebagai asam ortofosfat atau fosfat
(V)asam, adalah mineral anorganik) asam memiliki rumus kimia H3PO4.
Ortofosfatasam molekul dapat menggabungkan dengan diri mereka sendiri
untuk membentuk berbagai senyawa yang juga disebut sebagai asam
fosfat, namun dengan cara yang lebih umum. Asam fosfat panjang juga
dapat merujuk pada kimia atau pereaksi yang terdiri dari asam fosfat,
biasanya asam ortofosfat.
1. Penampilan: cairan tak berwarna tak berbau
2. Melting point: 21 oC (murni)
3. Titik didih: 158 oC (murni)
4. Berat jenis uap air: 3,4
5. Tekanan uap: 2,2 mm Hg di 20 oC
6. Spesifik gravitasi: 1,685 (Putra, 2013).
d. Kalium Hidroksida (KOH)
Dalam percobaan kami, KOH berfungsi sebagai pemberi suasana
basa untuk terbentuknya struvite
Sifat Fisika :
 Rumus molekul : KOH
 Berat molekul : 56,10564 gr/mol
 Titik lebur : 360°C
 Titik didih : 1320oC
 Densitas : 2,044 gr/cm 3
 Kristal : -114,96 kj/kmol
 Kapasitas panas °C : 0,75 J/kmol

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 13
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

 Kelarutan (air) : 1109 g/L


 Bentuk : Padat tetapi dapat dibentuk menjadi
butir,stick, gumpalan dan serpih.
 Warna : Tidak berwarna (putih)
 Bau : Tak Berbau
 Kelarutan : larut dalam alkohol,gliserol, larut dalam eter,
cairan Amonia
Sifat Kimia
 Termasuk dalam golongan basa kuat
 Reaktivitas: Hidroskopis, menyerap karbondioksida
 Korosi : Dapat merusak logam-logam
 Bereaksi dengan CO2 di udara membentuk K2CO3 dan air
 Bereaksi dengan asam membentuk garam
 Bereaksi dengan Al2O3 membentuk AlO2- yang larut dalam air
 Bereaksi dengan halida (X) menghasilkan KOX dan asam halida
 Bereaksi dengan trigliserida membentuk sabun dan gliserol
 Bereaksi dengan ester membentuk garam dan senyawa alcohol
(Ramdani,2017)

II.5 Kristalisasi
Proses kristalisasi struvite yang terkendali adalah teknologi yang bisa
diaplikasikan untuk menghilangkan fosfor dari sidestreams. Tiga komponen
magnesium, amonium, dan fosfat adalah bahan utama yang ada didalam struvite.
Kotoran manusia dan binatang, dan pupuk kandang adalah dua sumber utama dari
fosfor dimana fosfor bisa di recycle.
Proses kristalisasi adalah proses pembentukan kristal padat dari suatu
larutan induk yang homogen. Proses ini adalah salah satu teknik pemisahan padat-
cair yang sangat penting dalam industri, karena dapat menghasilkan produk
hingga 100%. Contoh untuk proses kristalisasi yaitu gula pasir, kristal pupuk,
lemak, protein, pati, garam, dll. Prinsip pada pembentukan kristal ada 2, yaitu

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 14
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

kondisi lewat jenuh untuk suatu larutan seperti larutan garam atau larutan gula dan
kondisi lewat dingin untuk suatu cairan atau lelehan seperti air atau lemak. Untuk
membentuk kristal, fase cairan (liquid) harus melewati kondisi kesetimbangan dan
menjadi kondisi lewat jenuh (untuk larutan) atau kondisi lewat dingin (untuk
lelehan). Kondisi tersebut dapat tercapai melalui pendinginan dibawah titik leleh
suatu komponen (misalnya air) atau melalui penambahan sehingga dicapai kondisi
lewat jenuh (misalnya garam dan gula).
Tahapan kristalisasi ada 3, yaitu :
 Supersaturated state, kondisi dimana larutan sudah dalam keadaan
lewat jenuh.
 Nucleation, yaitu pembentukan inti kristal dari larutan jenuh tersebut.
 Growth, yaitu pertumbuhan atau perkembangan molekul kristal dari
fase nucleation hingga mencapai kondisi seimbang (equilibrium state).
Ketika suatu cairan atau larutan telah jenuh, terdapat termodinamika yang
mendorong kristalisasi. Molekul-molekul cenderung membentuk kristal karena
pada bentuk kristal, energi sistem mencapai minimum. Selama nukleasi atau
pembentukan inti kristal, molekul dalam wujud cair mengatur diri kembali dan
membentuk matriks kristal.
Setelah kondisi supersaturated dicapai, langkah pertama adalah membentuk
inti kristal primer, yang akan merangsang pembentukan kristal. Untuk membentuk
inti kristal primer, jika dibuat dari larutan induk, maka beda konsentrasi larutan
lewat jenuh dengan konsentrasi jenuh sebagai driving force proses kristalisasi
harus dibuat besar (membutuhkan energi yang sangat besar), tetapi tidak efisien
jika digunakan dalam skala industri.
Beberapa parameter yang mempengaruhi terbentuknya inti kristal, yaitu :
 Kondisi lewat dingin larutan, semakin dingin waktu induksi akan
semakin pendek (waktu yang diperlukan sampau inti kristal terbentuk).
 Suhu, penurunan suhu akan menginduksi pembentukan kristal secara
cepat.
 Sumber inti kristal, inti yang terbentuk pada pembentukan tipe
heterogen memiliki kecenderungan mempercepat kristalisasi

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 15
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

 Viskositas, ketika viskositas meningkat akibat menurunnya suhu dan


meningkatnya konsentrasi larutan, proses pembentukan inti kristal akan
terbatasi. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya pergerakan molekul
pembentuk inti kristal dan terhambatnya perpindahan panas sebagai
energi pembentukan inti kristal.
 Kecepatan pendinginan, pendinginan yang cepat akan menghasilkan
inti kristal yang lebih banyak dibandingkan dengan kecepatan
pendinginan yang lambat.
 Kecepatan pengadukan, proses pengadukan mampu meningkatkan laju
pembentukan inti kristal. Pengadukan menyebabkan perpindahan massa
dan perpindahan panas berjalan lebih efisien.
 Bahan tambahan dan pengotor, bahan-bahan tambahan dapat berperan
untuk membantu atau menghambat pembentukan inti kristal.
 Densitas massa kristal, jumlah kristal yang terdapat dalam satu unit
volume yang terdapat dalam larutan akan berpengaruh pada tingkat
pertumbuhan setiap kristal.
(Shinta, 2012)

II.6 Kristalisasi Struvite


Kristal merupakan padatan yang memiliki molekul atom dan ion
penyusunnya dengan pola tertentu. Kristal dapat terbentuk dengan berbagai
macam bentuk dengan mempertahankan jumlah muka dan sudut antar muka yang
sama. Tahapan-tahapan pengkristalan adalah:
1. Nukleasi
Nukleasi merupakan proses terbentuknya inti kristal baru. Nukleasi dibagi
menjadi dua jenis sesuai pembetukannya yaitu nukleasi primer dan nukleasi
sekunder. Nukleasi primer terjadi pada kondisi belum terdapat kandungan
kristal. Nukleasi sekunder terjadi karena induksi dari kristal yang sudah
terkandung dalam larutan induk. Nukleasi sekunder dapat disebabkan adanya
kontak sesama patikel atau tumbukan kristal dengan benda lainnya.

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 16
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

2. Pertumbuhan kristal
Pertumbuhan kristal merupakan proses terjadinya pembesaran ukuran
kristal. Tahapan pertumbuhan kristal yaitu proses difusi dan proses tahap reaksi
orde satu. Proses difusi terjadi perpindahan fase molekul solut yaitu dari cair ke
permukaan padat. Proses orde satu terjadi penyusunan pada molekul solut dalam
geometri kristal.
Proses nukleasi dan pertumbuhan kristal berlangsung secara simultan.
Selain itu, masing-masing proses tersebut berupaya untuk mengontrol distribusi
ukuran kristal yang dihasilkan. Keadaan tersebut disebabkan nukleasi
supersaturasi memiliki orde lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan kristal.
Kristal struvite merupakan kristal putih yang dibentuk dengan adanya magnesium,
ammonium, dan fosfor pada fraksi molar yang sama (MgNH4PO4.6H2O).
Pembentukan kristal struvite merupakan fenomena yang umum pada proses
anaerobik. (Xian et al., 2010).
Pengendapan kristal struvite disebabkan beberapa faktor seperti pH,
konsentrasi Mg2+, PO43-, dan NH4+. Magnesium klorida (MgCl2.6H2O) merupakan
zat pengendap atau presipitat yang baik untuk pembentukan struvite karena zat
tersebut mudah larut meskipun salinitas produk meningkat yang dapat
menghambat aktivitasi mikroorganisme. MgO dan Mg(OH)2 direkomendasikan
sebagai presipitan.
Kristal struvite memiliki perilaku yang berbeda pada temperatur tinggi
dengan air berlebih. Ketika kristal struvite dipanaskan pada temperature tinggi
(<100 oC) dengan air berlebih selama 24 jam, ammonia akan hilang secara
bertahap dan berubah menjadi bobierrite. Kristal struvite pada air berlebih
mengakibatkan hilangnya lima molekul air dan diubah menjadi monohydrate,
dittmarite. Berdasarkan kaitannya pemanfaatan pupuk, dittamarite mempunyai
P2O5 lebih desar (45.7%) atau P (19.9%) dibandingkan kristal struvite (28.9% atau
9.8%). (Bhuiyan et al., 2008).
PO43-selalu ditambahkan pada pembentukan asam orthophosporic dan
garam fosfat. Pada pembentukan struvite, diketahui bahwa total nitrogen hilang
dapat dikurangi dari 35% menjadi 12% menggunakan Mg(OH)2 dan H3PO4

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 17
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

sebagai garam suplemen selama pengomposan (Wang et al.,2013). Seperti proses


kristalisasi lainnya, pengendapan kristal struvite tergantung pada kejenuhan.
Sementara itu, tingkat kejenuhan dipengaruhi oleh konsentrasi presipitasi, pH
larutan, dan kekuatan ionik (Rahman et al., 2013).
II.7Landasan Teori

Berbagai penelitian tentang pembentukn kristal struvite telah banyak


dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Pada penelitian (Ariyanto, 2014) disebutkan
bahwa waktu pembentukan kristal struvite sangat dipengaruhi oleh parameter fisik
kimia, seperti pH larutan, tingkat supersaturasi, pengadukan, ukuran kristal, suhu,
dan adanya ion-ion pengganggu dalam larutan. Pengadukan menjadi salah satu
aspek yang penting dalam proses kristalisasi, karena peningkatan kecepatan
pengadukan akan mempengaruhi cepatnya reaksi pembentukan kristal yang terjadi
dalam sistem, meningkatkan ukuran partikel, kecepatan pengendapan. Proses
kristalisasi menggunakan reaktor berpengaduk juga tidak menguntungkan karena
kristal yang terbentuk kurang halus karena kristal terpecah oleh daun pengaduk
saat proses pengadukan dilakukan.
Nilai pH sangat berpengaruh dalam menentukan efisiensi proses
dikarenakan pada range pH diatas 10 tidak hanya membentuk kristal magnesium
ammonium phospat tetapi juga membentuk mineral lain seperti Bobierrite
(Mg3(PO4)2.8H2O) dan Brucite (Mg(OH)2) yang akan terbentuk pada range pH
11-12. Kelarutan unsur phospat akan menurun dengan signifikan pada range pH
7-10. ( Ika,2009). Battistoni (1998) memberikan rentang pH 7 hingga 9,
sementara Munch (2000) memberikan rentang pH 7 hingga 11 (Masduqi dkk,
2003).
Magnesium (Mg) adalah ion penyusun yang penting bagi pembentukan
struvite kristal. Oleh karena itu, ion Mg juga dapat mempengaruhi tingkat
kejenuhan larutan dan meningkatkan proses reaksi pembentukan struvite kristal.
Dalam banyak kasus pembentukan struvite, penambahan ion Mg diperlukan untuk
mempercepat reaksi pembentukan yang secara teori perbandingan molar rasio
reaktan Mg:N:P adalah 1:1:1. Konsentrasi ion Mg yang tinggi dapat
meningkatkan reaksi penyisihan PO4 dari larutan. Perbandingan molar reaktan

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 18
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

PO4 dan Mg ion adalah salah satu parameter yang dapat berpengaruh terhadap
proses pembentukan struvite kristal. (Ariyanto dkk, 2015)
Le Corre dkk. (2007) merancang reaktor kristalisasi skala pilot reaktor
umpan kontinyu dari larutan sintetis. Reaktor dilengkapi dengan dua rangkaian
saringan (mesh) terbuat dari stainless steel konsentris yang dicelupkan pada
reaktor di bagian atas. Diperoleh bahwa, dengan menggabungkan dua mesh
tersebut dapat mengakumulasi struvite dengan laju 7,6 g/m2-jam pada kondisi
optimum. Suzuki dkk. (2007) membuat reaktor aliran kontinyu dengan tiga
lapisan kawat jala stainless steel untuk menyediakan zona aerasi dan
pengendapan. Dari penelitian ini dipeloleh struvite sebanyak 65 kg selama 70 hari
operasi dengan laju influent sebesar 5,3 m3/hari. Gambar 2a dan 2b
memperlihatkan model reaktor dari Le Corre dan Suzuki.

(a) (b)

Gambar 2.2 . (a) Sistem Reaktor Kristalisasi dari Le Corre (2007) dan (b)
Suzuki(2007)

Ali dan Schneider (2008) merancang reaktor batch yang dilengkapi


dengan pengendali suhu dan umpan secara otomatis. Volume reaktor adalah 44
liter terbuat dari bahan perspex (lembaran akrilik). Sistem pengendali digunakan
untuk mengendalikan pH apabila turun di bawah set point. Dua unit dosing pump
dioperasikan berdasarkan signal output dari pengendali pH. Rahman dkk. (2011)

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 19
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

mendesain suatu reaktor kontinyu yang terbuat dari plexiglas (volume 12,3 liter).
Influent limbah dan larutan MgCl2 diumpankan ke dalam zona reaksi dimana
udara dimasukkan pada laju 0,73 liter/menit. Sistem ini menghasilkan kristal putih
dengan ukuran tidak beraturan dengan unjuk kerja penyisihan PO4 sebesar 93%
dan ammonia sebesar 31%. Gambar 3a memperlihatkan rancangan model
reaktor kristalisasi dari Ali dan Schneider dan Gambar 3b rancangan dari
Rahman dkk

(a) (b)

Gambar 2.3 . (a) Sistem Reaktor Kristalisasi Ali dan Schneider (2008) dan (b)
Rahman dkk. (2011)

Hunik dkk. (2013a, b) membuat merancang reaktor kristalisasi yang terbuat


dari silinder gelas yang dilengkapi dengan jaket pemanas/pendingin. Peralatan
dilengkapi dengan draft-tube dan tiga pengaduk jenis paddle (Gambar 2.5). Bahan
PO4, Mg, dan NH4 ditambahkan dengan ratio 1:1:1 dan 1:1,2:1 dalam berbagai
nilai pH serta suhu tetap. Matynia dkk. (2013) melaporkan bahwa kristal struvite
dihasilkan secara sukses pada operasi kontinyu di dalam kristalizer jet-pump.

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 20
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

Gambar 2.4 . Reaktor Kristalisasi yang Terbuat Dari Silinder Gelas dari Hunik
dkk. (2013)

Pada penelitian yang kami lakukan, kristal struvite yang akan dibentuk
berasal dari limbah sintetik yang kami buat sendiri yang terdiri dari MgCl2 ,
NH4OH, H3PO4 dan menggunakan KOH sebagai pemberi suasana basa. Penelitian
yang kami lakukan ini menggunakan reaktor sekat dengan proses yang berjalan
secara kontinu. Reaktor direncanakan dengan volume 498,75 mL tinggi 50 cm
dengan diamater luar 5 cm ; diameter dalam 2.5 cm. Reaktor yang digunakan
terdiri dari beberapa bagian. Bagian atas reaktor terdapat 3 lubang setiap lubang
diberi selang sebagai jalan keluar dan jalan masuk larutan dan udara. Lubang
pertama untuk jalan masuknya larutan MAP , lubang kedua sebagai jalan
masuknya larutan KOH dan lubang ketiga sebgai lubang overflow larutan. Pada
bagian atas terdapat tempat untuk tangki penampung larutan yang akan masuk
dalam reaktor yaitu tangki penampung MAP dan tangki penampung KOH, pada
bagian samping kiri reaktor terdapat tangki penampung larutan overflow. Pada
bagian bawah terdapat 3 lubang yang mana lubang pertama untuk jalan masuknya
udara , yang kedua untuk jalan keluarnya larutan cuplikan. Reaktor sekat ini
dilengkapi dengan sekat yang berfungsi sebagai pengaduk yang berada didalam
reaktor dan dibantu oleh udara yang masuk yang diperoleh dari tabung stabilizer
yang dilengkapi dengan regulator rate udara yang disambungkan oleh selang serta
terdapat kompresor untuk mengisi tekanan udara yang ada dalam tabung stabilizer

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 21
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

yang dilengkapi dengan barometer. Prinsip dari reaktor sekat ini menggunakan
aliran counter-current, yaitu feed masuk melalui lubang bagian atas, sedangkan
udara sebagai pengaduk melewati lubang bagian bawah.. Hasil yang didapat
dianalisadengan menggunakan metode XRD Rietveld analisa ini dilakukan untuk
karakterisasi material dari kristal. Sedangkan komposisi unsur dari kristal
dilakukan dengan menggunakan metode SEM dilengkapi oleh EDX. Hasil kristal
yang diharapkan lebih halus dan seragam sehingga kristal yang dihasilkan lebih
mudah untuk diproses lebih lanjut khususnya untuk bahan baku pupuk granul.
II.8 Pengujian SEM
Scanning Electron Microscope (SEM) merupakan mikroskop elektron
yang menggambar permukaan spesimen dengan melakukan pemindaian
menggunakan sinar eletron berenergi tinggi dalam scan dan pola raster yang
menghasilkan ukuran yang detailnya kurang dari 1 nm. Proses SEM dimulai saat
elektron berinteraksi dengan atom-atom sehingga spesimen menghasilkan sinyal
yang mengandung informasi tentang topografi permukaan spesimen, komposisi,
dan karakteristik lainnya seperti konduktivitas listrik. Karena berkas elektron
sangat sempit, gambar SEM memiliki kedalaman yang dapat menghasilkan
tampilan karakteristik tiga-dimensi yang berguna untuk mengetahui struktur
permukaan spesimen. SEM memungkinkan beberapa perbesaran, dari sekitar 10
kali sampai lebih dari 500.000 kali perbesaran, atau sekitar 250 kali kemampuan
perbesaran mikroskop optik (Nugroho Y dan Dr Bayuseno, 2012).
II.9 Pengujian XRD
Uji XRD (X-Ray Diffractometer) adalah alat karakteristik untuk
identifikasi struktur kristal, persentase dan tingkat kristalinitas suatu rendemen
(Handayani, 2007). Hasil pengukuran XRD berupa grafik pola difraksi. Selain itu
diberikan pula nilai sudut difraksi (2 theta), nilai jarak antar kisi (d) serta intesitas
relatif dari puncak-puncak difraksi dalam persen.
(Depari, 2016)

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 22
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

II.10 Hipotesa

Dalam penelitian kami menggunakan reaktor sekat, diharapkan dengan


menggunakan rekator ini bentuk mineral struvite sesuai dengan bentuk kristal
yang ada pada umumnya berbentuk orthorombik.

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 23
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

III.1 Bahan Yang Digunakan


1. MgCl2.6H2O
2. H3PO4
3. NH4OH
4. Aquadest
5. KOH
III.2 Rangkaian Alat

Keterangan :
a. Tangki penampung MAP h. Pemanas air
b. Tangki penampung KOH i. Pompa air
c. Valve pengatur laju MAP j. Rotameter
d. Valve pengatur laju KOH k. Tangki penampung endapan
e. Sekat l. Pemanas jaket
f. Thermometer m. Tangki penampung larutan
g. Tangki penampung larutan overflow
keluar

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 24
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

III.3 Variabel
a. Variabel Tetap :
Konsentrasi KOH :1N
Konsentrasi (Mg:NH4:PO43-) : 1:1:1 mol L-1
b. Variabel Bebas :
Suhu : 20, 30,40 oC
pH : 8,9,10
Rate Udara : 0.25 , 0.5 , 0.75 , 1 , 1.25 ml menit-1

III.4 Prosedur Penelitian


1. Persiapan
Membuat larutan MAP dengan perbandingan konsentrasi
Mg:NH4:PO4 = 1:1:1 dan membuat larutan KOH 1N terlebih dahulu.
Lalu menyusun rangkaian alat seperti yang telah dilampirkan dalam
gambar rangkaian alat.
2. Percobaan
Isi reaktor sekat dengan MAP hingga mencapai ketinggian ¾ dari
reaktor serta KOH untuk mengontrol pH larutan dan nyalakan kompor
dengan pengaturan suhu 20, 25,30, 50,60oC serta nyalakan kompresor
untuk mengalirkan udara ke dalam reaktor, atur rate udara menjadi
0,25;0,5;0,75;1;1,25 ml/menit. Buka kran pada selang tangki MAP dan
KOH dengan perbandingan 1:2. Tampung hasil campuran MAP dan
KOH dan ukur pH larutan campuran MAP dan KOH hingga mencapai
pH 8,9,10. Setelah tercapai pH yang di inginkan , tunggu selama 5
menit dan proses dihentikan. Kemudian tampung hasilnya dan saring
menggunakan kertas saring. Keringkan endapan struvite pada suhu
ruangan selama 48 jam dan catat berat endapan. Setelah itu, lakukan
analisa terhadap endapan tersebut.

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 25
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

III.5 Diagram Alir

Buka kran udara sebesar 0.25 , 0.5 , 0.75 , 1 ,


1.25 ml/menit

Setelah warna larutan dalam reaktro terlihat


Masukkan KOH sedikit demi sedikit sedikit keruh, buka kran pada selang
penampung, cek pH larutan yang ditampung

Mengisi MAP pada reaktor sekat hingga ¾ dari Setelah pH sudah sesuai, tunggu selama 5 menit,
volume reaktor setelah itu proses dihentikan

Saring hasil tampungan menggunakan kertas


Atur suhu sebesar 20, 30, 40 oC
saring, keringkan endapan selama 48 jam

Mengisi MAP dan KOH pada wadah bagian atas Analisa hasil endapan

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 26
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

KALIBRASI RATE MAP

1. Ambil MAP (MgNH4PO4), masukkan ke dalam wadah yang telah


disiapkan.
2. Buka kran pada tanda nomor 1, kemudian ukur volume MAP yang keluar
dengan menggunakan gelas ukur selama 1 menit.
3. Lalu ulangi percobaan tersebut sebanyak 5 kali.
4. Setelah itu cari rata – rata dari 5 kali pecobaan tersebut.
5. Sehingga diperoleh data rate (Q) dengan satuan ml menit-1.
6. kemudian ulangi percobaan sampai tanda kelima

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 27
Proposal Penelitian “Pembentukan Mineral Struvite Menggunakan Reaktor
Sekat Secara Sinambung”

DAFTAR PUSTAKA

Ariyanto dkk. 2015. Penyisihan PO4 Dalam Air Limbah Rumah Sakit Untuk
Produksi Pupuk Struvite, Palembang. Universitas Muhammadiyah

Barbosa G sonia,2016. A design of experiments to assess phosphorous removal


and crystal propertiesin struvite precipitation of source separated urine using
different Mg sources
Depari. 2016. Recoveri Ammonium Dari Limbah Cair Industri Pupuk Urea Untuk
Produksi Slow Release Fertilizer. Banda Aceh:Universitas Stiah Kuala.
Aceh. Universitas Syiah Kuala

Elisabeth, dkk. 2000. Controlled Struvite Crystallisation For Removing


Phosphorus From Anaerobic DigesterSidestreams

Iswahyudi,dkk. 2013. Pengolahan limbah garam (bittern)menjadi struvite dengan


pengontrol pH

Lisanti. 2011. ”steam and boiler”. (online)


(http://methanefermentation.blogspot.co.id/2011/03/steam-n-boiler.html)
diakses pada tanggal 06 september 2015

Masduqi dkk. 2003. Penyisihan Fosfat Dengan Proses KristalisasiDalam Reaktor


Terfluidisasi MenggunakanMedia Pasir Silika

Nurani. 2015. Pengaruh Ph, Rasio Molar, JenisPresipitan, Dan Ion Pengganggu
DalamRecovery Amonium Dan Fosfat PadaLimbah Cair Pt Petrokimia
Gresik DenganMetode Presipitasi Struvite

Yu-Jen Shih. 2016. Recovery of phosphorus from synthetic wastewaters by


struvite crystallization in afluidized-bed reactor: Effects of pH, phosphate
concentration and coexisting ions

Zhilong Ye. 2014. Numerical Simulation Of Flow Hydrodynamics Of Struvite


Pellets In a Liquid–Solid Fluidized Bed

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur 28