Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Minuman ringan merupakan salah satu produk olahan dalam bentuk cair
yang mengandung bahan tambahan lainnya baik alami maupun sintetik yang
dikemas dalam kemasan siap untuk dikonsumsi yaitu minuman yang tidak
mengandung alkohol. Minuman ringan terdiri dari dua jenis, yaitu minuman ringan
dengan karbonasi (Carbonated Soft Drink) dan minuman ringan tanpa karbonasi
(Non Carbonated Soft Drink). Minuman ringan dengan karbonasi adalah minuman
yang dibuat dengan mengabsorpsikan karbondioksida ke dalam minuman ringan
tersebut (Sari, 2007).
Minuman ringan berkarbonasi bersifat asam, yang menyebabkan putusnya
ikatan logam dengan senyawa organik dan menyebabkan lepasnya logam timbal
yang berada pada kemasan minuman ke dalam minuman tersebut. Sifat asam pada
minuman ringan berkarbonasi tersebut berasal dari reaksi antara H2O dan CO2 yang
menghasilkan senyawa asam karbonat dan memberikan pengaruh keberadaan
logam timbal dalam minuman berkarbonasi yang lebih besar bila dibandingkan
dengan minuman ringan tidak berkarbonasi. Kami berhipotesis bahwa kadar
cemaran logam timbal dalam minuman ringan berkarbonasi lebih besar bila
dibandingkan dengan minuman ringan tidak berkarbonasi.
Minuman berkarbonasi telah terstandarisasi oleh Badan Standar Nasional
Indonesia (SNI) pada tahun 2009 dengan nomor SNI.7387:2009 yang menyebutkan
bahwa batas maksimal kandungan beberapa logam berat sebagai berikut: timbal
sebesar 0,2 mg/kg, timah sebesar 250 mg/kg, raksa 0,03 mg/kg, cadmium 0,2
mg/kg, dan cemaran arsen sebesar 0,1 mg/kg (SNI, 2009). Timbal adalah suatu
unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Pb dan nomor atom 82.
Lambangnya diambil dari bahasa latin Plumbum. Logam ini termasuk dalam
kelompok logam-logam golongan IV-A pada tabel periodik unsur kimia.
Mempunyai nomor atom 82 dengan bobot 207,2.
Logam timbal merupakan logam yang tahan korosi, mempunyai titik lebur
rendah sekitar 327,5 ºC, memiliki kerapatan yang besar, dan sebagai penghantar
listrik yang baik (Cahyadi, 2004). Timbal yang tercemar ke dalam bahan makanan
dan minuman dapat menimbulkan gejala-gejala seperti kram perut, kolik dan
biasanya diawali dengan sembelit, mual, muntah-muntah. Sedangkan akibat yang
lebih seperti sakit kepala, bingung atau pikiran kacau, sering pingsan dan koma.
Pada anak- anak nafsu makan berkurang, sakit perut dan muntah, bergerak terasa
kaku, kelemahan, tidak ingin bermain, peka terhadap rangsangan, sulit berbicara
dan gangguan pertumbuhan otak dan koma (Cahyadi, 2004).
Telah dilakukan penelitian terhadap kandungan logam tembaga, besi, timbal,
dan zink pada sampel minuman berkarbonasi kemasan botol menggunakan
Spektroskopi Serapan Atom. Penelitian ini menggunakan metode destruksi kering.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui konsentrasi maksimum timbal minuman
ringan berkarbonasi adalah 2,78 ppm, konsentrasi maksimum tembaga adalah

1
0,77 ppm, konsentrasi maksimum untuk besi adalah 13,41 ppm, sedangkan
konsentrasi maksimum untuk zink dan 2,06 ppm (Ofori, 2013).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ofori (2013), dapat
disimpulkan bahwa kadar logam Pb dalam minuman ringan berkarbonasi tidak
memenuhi standar nasional indonesia (SNI) yang menyatakan bahwa kandungan
logam timbal maksimum adalah 0,2 ppm. Kandungan timbal dalam minuman
berkarbonasi dimungkinkan berasal dari proses pembuatan, bahan baku, serta bahan
pengemas minuman tersebut. Pada saat mengolah bahan pembuat minuman
berkarbonasi, timbal yang digunakan untuk menyambung mesin produksi, timbal
kemungkinan terdistribusi ke seluruh bahan dan akan menjadi zat kontaminan
dalam minuman berkarbonasi. Bahan baku minuman ringan berkarbonasi yaitu gula
(sukrosa), berdasarkan penelitian dari Afifah (2012) dan SNI 3140.3:2010
menyatakan bahwa logam timbal juga terdapat dalam gula pasir sebesar 2 ppm.
Sehingga logam timbal yang berada dalam gula pasir akan tersebar ke seluruh bahan
yang ada. Untuk logam timbal yang berasal dari pengemas kaleng, dimungkinkan
berasal dari patrian yang digunakan untuk menyambung antarbagian kaleng saat
membuat tin can. Kandungan logam timbal dalam kemasan botol plastik dan botol
kaca dimungkinkan berasal dari proses pembuatannya yang dilakukan oleh mesin.
Spektroskopi merupakan suatu metode analisis kuantitatif yang
pengukurannya berdasarkan banyaknya radiasi yang dihasilkan atau yang diserap
oleh spesi atom atau molekul analit. Salah satu bagian dari spektroskopi adalah
Spektroskopi Serapan Atom (SSA), merupakan metode analisis unsur secara
kuantitatif yang pengukurannya berdasarkan penyerapan cahaya dengan panjang
gelombang tertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas (Skoog et. al., 2000).
Berdasarkan permasalahan tersebut, pada bab II akan dipaparkan penjelasan
mengenai prinsip kerja instrument spektroskopi serapan atom dalam menganalisis
kadar Pb serta instrument dan gangguan pada spektroskoi serapan atom.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian sebelumnya, rumusan masalah dari makalah ini.
1) Bagaimana Prinsip kerja instrumen spektroskopi serapan atom dalam
menganalisis kadar Pb?
2) Apakah saja instrumen dalam spektroskopi serapan atom?
3) Apakah saja gangguan-gangguan pada instrument spektroskopi serapan atom
dan bagaimana cara mengatasinya?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan makalah ini.
1) Mengetahui prinsip kerja dari instrument spektroskopi serapan atom dalam
menganalisis kadar Pb.
2) Mengetahui instrument dalam spektroskopi serapan atom.
3) Mengetahui gangguan-gangguan pada instrument spektroskopi serapan atom
dan cara untuk mengatasinya.
1.4 Manfaat
Manfaat yang ingin diperoleh dari penulisan makalah ini sebagai sarana
mengembangkan kemampuan daya kognitif dalam menganalisis permasalahan-

2
permasalahan yang terkait tentang intrumen spektroskopi serapan atom dalam
menganalisis kandungan kadar Pb serta kognitif dalam gangguan-gangguan pada
instrument spektroskopi serapan atom dan cara mengatasinya.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Spektroskopi serapan atom (atomic adsorption spectroscopy)


Prinsip dasar spektrofotometri serapan atom adalah interaksi antara radiasi
elektromagnetik dengan sampel.Spektrofotometri serapan atom merupakan metode
yang sangat tepat untuk analisis zat pada konsentrasi rendah. Teknik ini adalah
teknik yang paling umum dipakai untuk analisis unsur. Teknik ini didasarkan pada
emisi dan absorbasi dari uap atom. Instrumentasi dari metode spektrofotometri
serapan atom dipakai untuk menghasilkan uap atom dalam sampel.
Cara kerja spektroskopi serapan atom ini adalah berdasarkan atas penguapan
larutan sampel, kemudian logam yang terkandung didalamnya diubah menjadi
atom bebas. Alat yang dapat membuat atom-atom bebas dalam spektrofotometri
serapan atom adalah atomizer. Larutan unsur mula- mula terserap ke dalam
nebulizer (berfungsi untuk mengubah larutan aerosol yaitu butir-butiran cairan yang
sangat halus, yang terdispersi dalam udara), selanjutnya larutan diubah dalam
bentuk kabut (tetesan-tetesan yang amat halus dalam fasa gas atau aerosol) di dalam
spray chamber (berfungsi untuk membuat campuran yang homogen dari gas
oksidan dan bahan bakar aerosol. Kemudian dengan tambahan gas terjadilah
campuran yang homogen sesaat sebelum masuk ke dalam burner.
Atom tersebut mengapsorbsi radiasi dari sumber cahaya yang dipancarkan
dari lampu katoda (Hollow Cathode Lamp) yang mengandung unsur yang akan
ditentukan. Banyaknya penyerapan radiasi kemudian diukur pada panjang
gelombang tertentu menurut jenis logamnya.

Jika radiasi elektomagnetik dikenakan kepada suatu atom, maka akan terjadi
eksitasi elektron dari tingkat dasar ke tingkat tereksitasi Maka setiap panjang
gelombang memiliki energi spesifik untuk dapat tereksitasi ke tingkat yang
lebih tinggi. Besarnya energi dari tiap panjang gelombang dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan.
E = h .𝐶
𝛌
Keterangan E = Energi (Joule)
h = Tetapan Planck ( 6,63 . 10 -34 J.s)
C = Kecepatan Cahaya ( 3. 10 8 m/s), dan

4
λ = Panjang gelombang (nm)
Larutan sampel yang dikenai suatu nyala dan unsur-unsur didalam sampel
diubah menjadi uap atom sehingga nyala mengandung atom unsur-unsur yang
dianalisis. Beberapa atom akan tereksitasi secara termal oleh nyala, tetapi
kebanyakan atom tetap tinggal sebagai atom netral dalam keadaan dasar (ground
state). Atom-atom ground state ini kemudian menyerap radiasi yang diberikan oleh
sumber radiasi yang terbuat oleh unsur-unsur yang bersangkutan. Panjang
gelombang yang dihasilkan oleh sumber radiasi adalah sama dengan panjang
gelombang yang diabsorpsi oleh atom dalam nyala. Absorpsi mengikuti hukum
Lambert-Beer, yaitu absorbansi berbanding lurus dengan panjang nyala yang dilalui
sinar dan konsentrasi uap atom dalam nyala.
Kedua variabel ini sulit untuk ditentukan tetapi panjang nyala dapat dibuat
konstan sehingga absorbansi hanya berbanding langsung dengan konsentrasi analit
dalam larutan sampel. Teknik analisisnya yaitu kurva kalibrasi, standar tunggal dan
kurva adisi standar. Aspek kuantitatif dari metode spektrofotometri diterangkan
oleh hukum Lambert-Beer, yaitu:
A = ɛbc
Keterangan :
A = Absorbansi
ɛ = Absorptivitas molar (mol/L)
b = Panjang cuvet (cm)
c = Konsentrasi (M)
Absorptivitas molar (ɛ) dan absoptivitas (a) adalah suatu konstanta dan
nilainya sangat spesifik untuk jenis zat dan panjang gelombang tertentu, sedangkan
tebal media (sel) dalam prakteknya tetap. Dengan demikian absorbansi suatu
spesies akan merupakan fungsi linear dari konsentrasi, sehingga dengan mengukur
absorbansi suatu spesies konsentrasinya dapat ditentukan dengan
membandingkannya dengan konsentrasi larutan standar.
Metode spektroskopi atom ini sangat handal untuk menetukan konsentrasi
atom dalam sebuah sampel dalam skala kecil. Atom-atom logam sangat akurat jika
ditentukan konsentrasinya dengan spektroskopi atom. Namun, senyawa yang
membawa atom tidak diketahui strukturnya.
2.1.1 Prinsip kerja instrument spektroskopi serapan atom (atomic adsorption
spectroscopy) dalam menganalisis kadar timbal
Analisis suatu unsur logam dalam suatu sampel minuman berkarbonasi
dalam kemasan kaleng dengan menggunakan spektroskopi serapan atom (SSA),
perlu diberi perlakuan awal. Perlakuan awal sampel merupakan hal penting dalam
analisis unsur mikro yang menggunakan spektroskopi serapan atom karena
pemilihan metode perlakuan awal sampel sangat mempengaruhi hasil yang akan
didapatkan. Dalam menganalisis kadar suatu logam di dalam suatu sampel perlu
dilakukan pengenceran larutan sampel untuk menurunkan konsentrasi logam yang
tidak kita analisis pada tekanan yang tidak menyebabkan gangguan yang signifikan.
Pada tahap perlakuan awal sampel, bahan bahan organik yang ada dalam
sampel harus didestruksi terlebih dahuluu dengan 2 cara yaitu degan oksidasi basah

5
(wet oxidation) dan pengabuan kering (dry ashing). Fungsi dari destruksi adalah
untuk memutuskan ikatan antara senyawa organic dengan logam yang akan
dianalisis. Untuk menentukan unsur-unsur dalam sampel dapat dianalisis dengan
alat nyala SSA untuk logam Pb. Dalam menentukan kandungan kadar logam Pb
dalam minuman berkarbonasi dapat menggunakan SSA nyala, yaitu asetilen
sebagai bahan bakar dan udara sebagai oksidan. Alat spektroskopi Serapan Atom
terlebih dahulu harus dioptimasi untuk memperoleh hasil analisis yang baik dan
sempurna. Kondisi optimasi analisis logam Pb dengan metode nyala spektroskopi
Serapan Atom dilakukan agar diperoleh populasi atom pada tingkat dasar yang
paling banyak dalam nyala api yang dilewati oleh radiasi dimana larutan sampel
dilewatkan pada nyala sehingga terbentuk uap atom yang akan dianalisis dan akan
menyerap radiasi khas untuk atom-atom tersebut dari sinar yang dihasilkan HCL
kemudian berubah ke keadaan eksitasi. Semakin banyak atom pada keadaam dasar,
maka radiasi- radiasi yang diserap akan semakin banyak, pada kondisi optimum
akan diperoleh serapan maksimal. Penentuan kandungan Logam Timbal dalam
minuman kaleng berkarbonasi dilakukan pada panjang gelombang tertentu.
Panjang gelombang ini merupakan panjang gelombang paling kuat menyerap garis
untuk transisi elektronik dari tingkat dasar ke tingkat eksitasi. Bila atom pada
tingkat energi dasar (ground state) diberi energy yang sesuai, maka energi
tersebut akan diserap dan atom-atom tersebut akan tereksitasi ke tingkat energi
yang lebih tinggi (exited state), atom tidak stabil sehingga akan kembali ke tingkat
energi dasar dengan melepas sejumlah energi dalam bentuk sinar panjang
gelombang optimum untuk Timbal (Pb). Kemudian sinar yang dihasilkan akan
masuk kedalam detector dan absorbansi sampel akan terbaca dalam system
pembacaan alat.
Dalam metode nyala Spektroskopi serapan atom, larutan sampel yang
dianalisis harus memenuhi ketentuan bahwa larutan sampel harus berada pada
matrik yang identic dengan larutan standar.

2.2. Instrument spektroskopi serapan atom (atomic adsorption spectroscopy)


Instrumentasi standar sebuah spektrometri aserapan atom terdiri dari atomisator,
sumber cahaya dengan pemotongnya (chopper), monokromator, detektor, dan
pembaca sekaligus pengolah data.

Sumber radiasi
Sumber radiasi yang digunakan dalam spektroskopi serapan atom adalah lampu
katode (Hollow Cathode lamp). Lampu ini terdiri dari suatu katoda dan anoda yang
terletak dalam suatu silinder gelas berongga yang terbuat dari kuarsa. Katodanya

6
terbuat dari logam yang akan dianalisis. Silinder gelas berisi suatu gas lembam pada
tekanan rendah. Ketika diberikan potensial listrik maka muatan positif ion gas akan
menumbuk katoda sehingga terjadi pemancaran spectrum garis logam.

Monokromator dan system optik


Berkas cahaya dari Hallow Cathode Lamp akan dilewatkan melalui celah
sempit dan difokuskan menggunakan cermin menuju monokromator.
Monokromator dalam instrument spektroskopi serapan atom digunakan untuk
memisahkan, mengisolasi, mengontrol intensitas,energy yang akan diteruskan ke
detektor dan memilih panjang gelombang yang digunakan untuk memisahkan
radiasi dan kontinyu yang disebut chopper. Monokromator yang biasa digunakan
yaitu monokromator difraksi grating.
Detektor
Energi yang diteruskan harus diubah kedalamm bentuk sunyal listrik untuk
kemudian diperkuat dan diukur oleh suatu system pemprosesan data. Proses
pengubahan ini dalam spektroskopi serapan atom dilakukan oleh detector. Detektor
merupakan alat yang digunakan untuk mengubah energy cahaya menjadi energy
listrik yang memberikan sinyal listrik berhubungan dengan radiasi yang diserap
oleh permukaan yang peka. Detektor juga digunakan untuk menangkap cahaya.
Detektor yang biasa digunakan adalah detector photomultiplier tube
Detektor Photomutiplier digunakan untuk menangkap cahaya atau sinar yang
diteruskan. Detektor ini sering digunakan, namun dalam beberapa unsur diperlukan
detektor yang lebih sensitif lagi. Multiplier dynodes mengatur tegangan yang
diperlukan untuk detektor ini. Detektor ini terdiri dari katoda yang dilapisi senyawa
yang bersifat peka cahaya dan suatu anoda yang mampu mengumpulkan electron.
Ketika foton menumbuk katoda maka electron akan dipancarkan dan bergerak
menuju anoda, antara katoda dan anoda terdapat dinoda-noda yang mampu
menggandakan electron, sehingga intensitas electron yang sampai menuju anoda
dapat dibaca sebagai sinyal listrik.
Amplifier
Amplifier digunakan untuk memperkuat hasil sinar optik yang diperoleh
sehingga mudah untuk dibaca, dimana didalam spektroskopi serapan atom ini akan
diubah menjadi absorpbansi.

2.3. Gangguan – gangguan pada instrumen spectroskopi serapan atom


Spektroskopi serapan atom sangat sensitive sifatnya, sinyal dari
sekumpulan atom diperhatikan perubahannya, maka dalam proses untuk
mendapatkan informasi mengenai atom yang bersangkutan harus bebas dari
gangguan. Gangguan-gangguan akan tampak pada gangguan spectral maupun

7
berkurang atau bertambahnya intensitas sinyal dari intensitas yang diberikan atom
sendiri. Ada beberapa jenis gangguan pada spektroskopi serapan atom, yaitu
gangguan sinyal, gangguan spectral dan gangguan kimia.
2.3.1 Ganggguan Sinyal
Gangguan sinyal terjadi jika sinyal pengotor overlap atau tumpang tindih
atau sinyal analit dan pengotor tersebut tidak dapat dipisahkan oleh monokromator
alat.
2.3.2 Gangguan Spektral
Gangguan spectral merupakan interferensi yang disebabkan adanya hasil
pembakaran yang memberikan serapan lebar sehingga menutupi sebagian serapan
analit atau karena adanya hasil pembakaran yang berupa partikel dan
menghamburkan radiasi. Keduanya menurunkan intensitas radiasi yang diteruskan
dan tertanggkap detektor, hal ini menyebabkan kesalahan analitis. Jika gangguan
berasal dari bahan bakar maka serapannya dapat diukur saat pengukuran blanko dan
hasilnya nanti digunakan sebagai koreksi sebagai koreksi diukur, namun cara ini
digunakan spectrometer sinar ganda (double beem spektrometer). Jika sumber
hamburan radiasi berasal dari matriks sampel sehingga intensitas radiasi yang akan
ditangkap detektor jauh berkurang dari intensitas yang seharusnya di tangkap
karena analit.maka hal ini akan menyebabkan kesalahan pada absorbansi dan
perhitungan konsentrasi.
Gangguan spectral berasal dari hamburan tambahan akibat atomisasi yang
sering dijumai pada sampel yang mengandung logam-logam Ti, Zr dan w. dimana
logam-logam ini akan membentuk oksidanya dalam nyala yang jika dimensinya
lebih besar dari panjang gelombang cahaya yang masuk makan akan tampak
sebagai turbiditas dan penghmbutran cahaya secra signifikan. Gangguan ini dapat
dihindari dengan mengganti temperature dan perbandingan bahan bakar serta
oksida.
Ada beberapa cara untuk mengatasi gangguan spectral:
a. Metode koreksi dua garis( two line correction methode)
Metode ini digunakan dengan menghadirkan rujukan yang berasal dari
sumber sinar, kemudian serapannya dekat dengan serapan analit namun tidak boleh
tumpang tindih. Dengan demikian penurunan intensitas dari serapan rujukan yang
teramati berasal dari hamburan karena matriks yang dating dari sampel. Penurunan
intensitas ini digunakan untuk mengoreksi garis serapan sampel. Namun kesulitan
dari metode ini adalah menemukan garis serapan rujukan.
b. Metode koreksi sumber cahaya kontinyu sepanjang daerah ultraviolet
(continuous source correction methode)
Pada metode ini lampu yang sering digunakan yaitu lampu hydrogen atau
lamu deuterium. Kekuatan berkas cahaya dari lamyu rujukan dan lamou katode
akan dibandingkan sebagai ganti perbandingan antar berkas cahaya dari sampel dan
berkas cahaya dari blanko. Adapun lebar celah akan dibuat lebar sehingga bagian
dari radiasi kontinyu yang diseran sampel dakan diabaikan. Dengan demikian,
penuruna intensitas yang terjadi hanya disebabkan oleh hamburan nyala.

8
c. Metode koreksi dengan efek Zeeman(Zeeman effect correction methode)
Metode ini dimanfaatkan untuk memecah garis analit menjadi dua
komponen. Kompenen pertama akan dipindahkan oleh yang lain dengan menaikkan
panjanggelombang sedikit demi sedikit( sekitar 0,01nm). Kedua komponen juga
dipolarisasi 90 derajat terhadap yag lain, dengan demikina komponen yang
dipindahkan dapat dipisahkan dari puncak serapan. Koreksi dari hamburan dan
serapan background dapat dialakuakn. Efek Zeeman daoat diperkuat dengan
memberikan medan magnet kepada atomisator dan sumber cahaya.
2.3.3 Gangguan Kimia
Gangguan kimia ini disebabkan oleh adanya proses kimia yang terjadi pada
saat atomisasi yang dapat menuupi karakter serapan dari analit. Gangguan kimia
terjadi karena adanya proses kimia yang terjadi pada nyala yang berada dalam
keadaaan setimbang seperti pada proses pembentukan senyawa baru,yang lebih
tidak volatile, reaksi disosiasi, dan proses ionisasi. Gangguan ini dapat diatasi
dengan cara kimia yaitu dengan meminimalkan penyebab gangguan dengan cara
mengatur kondisi reaksi maupun memberikan pereaksi baru atau dapat dikurangi
dengan menaikkan temperature nyala atau memberikan pereaksi yang akan menarik
pengganggu dan membebaskan analisis dari gangguan.

9
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
1) Pada tahap perlakuan awal sampel, bahan bahan organik yang ada dalam sampel
harus didestruksi terlebih dahulu dengan 2 cara yaitu degan oksidasi basah (wet
oxidation) dan pengabuan kering (dry ashing). Dalam menentukan kandungan
kadar logam Pb dalam minuman berkarbonasi dapat menggunakan SSA nyala, yaitu
asetilen sebagai bahan bakar dan udara sebagai oksidan. Kondisi optimasi analisis
logam Pb dengan metode nyala spektroskopi Serapan Atom dilakukan agar
diperoleh populasi atom pada tingkat dasar yang paling banyak dalam nyala api
yang dilewati oleh radiasi dimana larutan sampel dilewatkan pada nyala sehingga
terbentuk uap atom yang akan dianalisis dan akan menyerap radiasi khas untuk
atom-atom tersebut dari sinar yang dihasilkan HCL kemudian berubah ke keadaan
eksitasi. Semakin banyak atom pada keadaam dasar, maka radiasi- radiasi yang
diserap akan semakin banyak, pada kondisi optimum akan diperoleh serapan
maksimal. Penentuan kandungan Logam Timbal dalam minuman kaleng
berkarbonasi dilakukan pada panjang gelombang tertentu. Panjang gelombang ini
merupakan panjang gelombang paling kuat menyerap garis untuk transisi
elektronik dari tingkat dasar ke tingkat eksitasi. Bila atom pada tingkat energi
dasar (ground state) diberi energy yang sesuai, maka energi tersebut akan diserap
dan atom-atom tersebut akan tereksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi
(exited state), atom tidak stabil sehingga akan kembali ke tingkat energi dasar
dengan melepas sejumlah energi dalam bentuk sinar panjang gelombang optimum
untuk Timbal (Pb). Kemudian sinar yang dihasilkan akan masuk kedalam detector
dan absorbansi sampel akan terbaca dalam system pembacaan alat.
2) Intrumentasi dari spektroskopi serapan atom antara lain sumber radiasi (lampu
hallow katoda), monokromator dan sistem optik, detector dan amplifier.
3) a. Gangguan Sinyal
b. Gangguan spectral, penanganannya dengan metode koreksi dua garis, metode
koreksi sumber cahaya kontinyu sepanjang daerah ultraviolet, dan metode
koreksi dengan metode Zeeman.
c. Gangguan Kimia, penangannya dengan dilakukan dengan cara kimia.

10
DAFTAR PUSTAKA

Afifah, N., 2012, Penentuan Logam Timbal (Pb) dalam Gula Pasir Menggunakan
Destruksi Micriwave Dengan Variasi Suhu dan Waktu Secara Spektroskopi
Serapan Atom (SSA), Skripsi, Jurusan Kimia Fakultas Sains Dan Teknologi,
UIN Malang.
Cahyadi, W. 2004, Bahaya Pencemaran Timbal Pada Makanan dan Minuman,
Bandung: Fakultas Tehnik Unpas Departemen Farmasi Pascasarjana ITB.
Khopkar, S.M.,1990, Konsep Dasar Kimia Analitik Edisi kedua, UI Press, Jakarta.
Ofori, H. dkk, 2013, Heavy Metal Analysis of Fruit Juice and Soft Drink Bought
From Retail Market in Accra, Ghana.
Sari, D.F, 2007, Evaluasi Bahan Minuman Karbonasi, Ahli Madya, Surakarta:
Universitas Sebelas Maret.
Skoog. D. A., Donald M. West, F. James Holler, Stanley R. Crouch, 2000.
Fundamentals of Analytical Chemistry. Hardcover: 992 pages, USA:
Brooks Cole Publisher.
Standar Nasional Indonesia No. 3547-1-2009 Tentang Cemaran Logam Berat
dalam Makanan Kemasan.
W. Surjani, 2013. Pengantar Kimia Analitik Modern. FMIPA Universitas Negeri
Malang.

11