Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Batubara merupakan salah satu sumber daya mineral yang penting di
Indonesia dan termasuk dalam golongan bahan tambang mineral organik yang
dieksploitasi untuk kebutuhan sumber energi dalam negeri dan ekspor
(Djajadiningrat, 1999 dalam Mindasari, 2007). Batubara mengandung berbagai
mineral dan unsur anorganik yang berbentuk ion terlarut dalam air rembesan dan
keberadaannya melimpah pada endapan batubara muda. Air rembesan ini
diindikasikan mengandung logam berat yang dapat mencemari badan perairan.
Pencemaran tambang batubara terhadap tanah bersifat tidak langsung. Perombakan
mineral dan bahan anorganik serta racun akan menimbulkan pencemaran air.
Dampak penambangan batubara lainnya berupa terjadinya pemadatan tanah oleh
alat– alat pertambangan dan erosi akibat pembukaan lahan (Keating, 2001).
Keberadaan industri penambangan menambah daftar penghasil limbah
yang tidak baik bagi lingkungan dan kesehatan mahkluk hidup baik limbah padat,
cair maupun gas.Limbah tersebut mengandung bahan kimia yang beracun dan
berbahaya (limbah B3) (Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kuantan
Singingi, 2006). Di Desa Pangkalan terdapat anak Sungai Pendulangan yang
bermuara pada daerah aliran Sungai Tiu. Sungai ini banyak digunakan untuk
aktivitas manusia seperti untuk mandi, cuci dan kakus (MCK).
Pada proses pencucian batubara akan menghasilkan air limbah yang diolah
pada suatu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Instalasi Pengolahan Air
Limbah yang dilakukan menggunakan senyawa dolomit sebagai adsorben dan
molekul penetral yang dapat mengurangi kandungan cemaran (Pb, Fe, nitrat dan
sulfida). Proses pengolahan air limbah dilakukan pada empat kolam penampungan
air limbah melalui proses pengaliran bertahap dengan masing-masing kolam yang
telah diberi dolomit. Setelah melalui kolam ke empat, air limbah akan dibuang ke
sungai. Secara fisik, air yang akan dibuang ke sungai tersebut terlihat lebih jernih
dan bersih, akan tetapi kandungan logam terlarut yang ada pada air limbah perlu
dianalisa untuk mengetahui kadarnya.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Ridinata (2012), kegiatan
pertambangan batubara yang terdapat di Desa Pangkalan Kuansing telah
menyebabkan terjadinya pencemaran di badan perairan Sungai Pendulangan yang
dijadikan sebagai tempat pembuangan akhir limbah. Kadar logam Pb dan Mn di
badan perairan sungai Pendulangan yaitu sebesar 0,0440 mg/L dan 0,1195 mg/L.
Kadar logam berat Pb dan Mn tersebut telah melebihi nilai ambang batas yang
ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengolahan

1
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, yaitu 0,0300 mg/L dan 0,1000
mg/L.
Hal ini dapat terjadi karena kurang baiknya sistem IPAL dalam mengurangi
kadar bahan pencemar terutama logam berat dari air limbah hasil pencucian
batubara. Pengurangan kadar logam berat pada sistem IPAL dilakukan dengan
penambahan dolomit di tiap kolam penampungan sebelum limbah dialirkan ke
sungai. Penambahan dolomit dilakukan dengan cara ditabur tanpa adanya proses
pengadukan terlebih dahulu. Sehingga proses pengurangan kadar bahan pencemar
oleh dolomit menjadi kurang optimal.
Proses perbaikan IPAL perlu dilakukan jika tingkat efisiensi pengurangan
ion Pb, Fe, nitrat dan sulfida rendah agar tidak menyebabkan termobilisasinya
logam-logam berat yang mungkin terlarut dalam kadar tinggi dan menggangu
kehidupan akuatik khususnya di sungai tempat pembuangan air limbah hasil dari
IPAL.
Kandungan Fe dan Pb yang tinggi dalam tanah maupun air akan
mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekosistem di lingkungan tersebut dan
memiliki potensi cemaran yang dapat menyebabkan penyakit terhadap manusia
yang berada di sekitar daerah cemaran. Kandungan anion sulfida yang terdapat
dalam air memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan senyawa sulfat sebagai
anion utama penyebab terjadinya air asam tambang melalui proses oksidasi. Proses
pengurangan kadar sulfida di dalam air diasumsikan dapat mengurangi potensi
terbentuknya air asam tambang.
Oleh karena itu, perlu dilakukan analisa kandungan logam berat (Fe dan Pb)
beserta nitrat dan sulfida pada inlet, kolam penampungan ke dua, outlet dan sumur
penduduk.
Untuk menganalisis kandungan yang terdapat dalam limbah dapat
dilakukan dengan beberapa metode yaitu dengan spektroskopi serapan atom,
spektroskopi emisi atom, dan spektroskopi fluoresensi. Namun, untuk menganalisis
kandungan logam berat metode yang paling tepat digunakan yaitu spektroskopi
atom.
Oleh karena itu, pada BAB II akan dipaparkan penjelasan dari jawaban
rumusan permasalahan yang ada.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian sebelumnya, rumusan masalah dari makalah ini.
1) Hal apa saja yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam
memilih metode dalam menganalisis kandungan limbah?
2) Apakah perbedaan spektroskopi atom dengan molekul?
3) Apakah metode yang paling efektif untul analisis limbah Fe dan Pb?

2
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan makalah ini.
1) Mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan
dalam memilih metode dalam menganalisis kandungan limbah.
2) Mengetahui perbedaan spektroskopi atom dengan molekul.
3) Mengetahui metode yang paling efektif untul analisis limbah Fe dan Pb.
1.4 Manfaat
Manfaat yang ingin diperoleh dari penulisan makalah ini
1. Bagi Penulis dan Peneliti Lain
Sebagai sarana mengembangkan kemampuan daya kognitif dalam
menganalisis permasalahan-permasalahan yang terkait tentang metode
dalam menganalisis kandungan limbah serta kognitif dalam pemahaman
spektroskopi atom dan molekul
2. Bagi Masyarakat
Sebagai bahan dan sumber informasi yang akurat dan aktual dalam
pengambilan keputusan terhadap isu-isu penanganan limbah
3. Bagi Pemerintah
Karya tulis ini dapat menjadi masukan dalam membantu mengatasi
permasalahan lingkungan terkait limbah pabrik. Selain itu juga dalam rangka
merumuskan langkah menuju kesejahteraan masyarakat dan
memformulasikan langkah sosialisasinya kepada masyarakat agar tercipta
masyarakat yang damai, makmur dan sentosa.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Hal-hal yang Diperhatikan dan Dipertimbangkan dalam Memilih Metode


untuk Menganalisis Kandungan Limbah
Penanganan limbah yang baik akan menjamin kenyamanan bagi semua
orang. Dipandang dari sudut sanitasi, penanganan limbah yang baik akan :
 Menjamin tempat tinggal / tempat kerja yang bersih
 Mencegah timbulnya pencemaran lingkungan
 Mencegah berkembangbiaknya hama penyakit dan vektor penyakit
Usaha untuk mengurangi dan menanggulangi pencemaran lingkungan
meliputi 2 cara pokok, yaitu:
1. Pengendalian non teknis, yaitu suatu usaha untuk mengurangi
pencemaran lingkungan dengan cara menciptakan peraturan perundang-
undangan yang dapat merencanakan, mengatur, mengawasi segala
bentuk kegiatan industri dan bersifat mengikat sehingga dapat memberi
sanksi hukum pagi pelanggarnya.
2. Pengendalian teknis, yaitu suatu usaha untuk mengurangi pencemaran
lingkungan dengan cara-cara yang berkaitan dengan proses produksi
seperti perlu tidaknya mengganti proses, mengganti sumber energi/bahan
bakar, instalasi pengolah limbah atau menambah alat yang lebih modern
/canggih. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah :
 Mengutamakan keselamatan manusia
 Teknologinya harus sudah dikuasai dengan baik
 Secara teknis dan ekonomis dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam penapisan pengolahan limbah sebelum cara pengolahanya yang
perlu diperhatikan adalah Karakteristik air limbah karena hal ini akan
menentukan bagaimana cara pemilihan metode Pengolahan air limbah yang
tepat dan tidak berbahaya lagi bagi lingkungan, karakter yang menentukan
metode pengolahan limbah ini ada 3 yaitu:
1. Karakteristik fisik, Pengolahan ini terutama ditujukan untuk air limbah
yang tidak larut (bersifat tersuspensi), atau dengan kata lain buangan
cair yang mengandung padatan, sehingga menggunakan metode ini
untuk pemisahan.
2. Karakteristik kimiawi. Pengolahan secara kimia adalah proses
pengolahan yang menggunakan bahan kimia untuk mengurangi
konsentrasi zat pencemar dalam air limbah. Proses ini menggunakan
reaksi kimia untuk mengubah air limbah yang berbahaya menjadi

4
kurang berbahaya. Proses yang termasuk dalam pengolahan secara
kimia adalah netralisasi, presipitasi, khlorinasi, koagulasi dan flokulasi.
Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk
menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid),
logam-logam berat, senyawa phospor dan zat organik beracun, dengan
membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. Pengolahan
secara kimia dapat memperoleh efisiensi yang tinggi akan tetapi biaya
menjadi mahal karena memerlukan bahan kimia
3. Karakteristik bakteriologis. Semua polutan air yang biodegradable dapat
diolah secara biologis, sebagai pengolahan sekunder, pengolahan secara
biologis dipandang sebagai pengolahan yang paling murah dan efisien.
Pengolahan air limbah secara biologis, antra lain bertujuan untuk
menghilangkan bahan organik, anorganik, amoniak, dan posfat dengan
bantuan mikroorganisme

PENANGANAN LIMBAH PADAT


Limbah padat dapat dihasilkan dari industri, rumah tangga, rumah sakit,
hotel, pusat perdagangan/restoran maupun pertanian atau
peternakan. Penanganan limbah padat melalui beberapa tahapan, yaitu :
 Penampungan dalam bak sampah
 Pengumpulan sampah
 Pengangkutan
 Pembuangan di TPA.
Sampah yang sudah berada di TPA akan mengalami berbagai macam
perlakuan, seperti menjadi bahan makanan bagi sapi / ternak yang digembala di
TPA, di sortir oleh pemulung, atau diolah menjadi pupuk kompos.
Berikut ini beberapa metode penanganan limbah organik padat :
1. Composting,
yaitu penanganan limbah organik menjadi kompos yang bisa
dimanfaatkan sebagai pupuk melalui proses fermentasi. Bahan baku untuk
membuat kompos adalah sampah kering maupun hijau dari sisa tanaman,
sisa makanan, kotoran hewan, sisa bahan makanan dll. Dalam proses
pembuatan kompos ini bahan baku akan mengalami dekomposisi /
penguraian oleh mikroorganisme.
2. Gas Bio,
yaitu pengubahan sampah organik yang berasal dari tinja manusia maupun
kotoran hewan menjadi gas yang dapat berfungsi sebagai bahan bakar
alternatif. Kandungan gas bio antara lain metana ( CH4) dalam komposisi
yang terbanyak, karbondioksida ( CO2 ), Nitrogen ( N2 ), Karbonmonoksida

5
( CO ), Oksigen (O2), dan hidrogen sulfida (H2S). Gas metana murni adalah
gas tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa. Supaya efektif, proses
pengubahan ini harus pada tingkat kelembaban yang sesuai, suhu tetap dan
pH netral.
3. Makanan ternak ( Hog Feeding )
adalah pengolahan sampah organik menjadi makanan ternak. Agar sampah
organik dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak harus dipilih dan
dibersihkan terlebih dulu agar tidak tercampur dengan sampah yang
mengandung logam berat atau bahan-bahan yang membahayakan kesehatan
ternak.

Berikut ini beberapa metode penanganan limbah anorganik padat :


1. Empat R ( 4 R = replace, reduce, recycle dan reuse )
 Replace yaitu usaha mengurangi pencemaran dengan menggunakan
barang-barang yangramah lingkungan. Contohnya memanfaatkan daun
daripada plastik sebagai pembungkus, menggunakan MTBE daripada
TEL untuk anti knocking pada mesin, tidak menggunakan CFC sebagai
pendingin dan lain-lain.
 Reduce yaitu usaha mengurangi pencemaran lingkungan dengan
meminimalkan produksi sampah. Contohnya membawa tas belanja
sendiri yang besar dari pada banyak kantong plastik, membeli kemasan
isi ulang rinso, pelembut pakaian, minyak goreng dan lain-lain daripada
membeli botol setiap kali habis, membeli bahan-bahan makanan atau
keperluan lain dalam kemasan besar daripada yang kecil-kecil.
 Recycle yaitu usaha mengurangi pencemaran lingkungan dengan
mendaur ulang sampah melalui penanganan dan teknologi khusus.
Proses daur ulang biasanya dilakukan oleh pabrik/industri untuk dibuat
menjadi produk lain yang bisa dimanfaatkan. Dalam hal ini pemulung
berjasa sekaligus mendapatkan keuntungan karena dengan memilah
sampah yang bisa didaur ulang bisa mendapat penghasilan.Misalnya
plastik-plastik bekas bisa didaur ulang menjadi ember, gantungan baju,
pot tanaman dll.
 Reuse yaitu usaha mengurangi pencemaran lingkungan dengan cara
menggunakan dan memanfaatkan kembali barang-barang yang
seharusnya sudah dibuang. Misalnya memanfaatkan botol/kaleng bekas
sebagai wadah, memanfaatkan kain perca menjadi keset, memanfaatkan
kemasan plastik menjadi kantong belanja atau tas, dan lain-lain.

6
2. Insenerator
Alat yang digunakan untuk membakar sampah secara terkendali pada suhu
tinggi. Insenerator efisien karena sanggup mengurangi volume sampah
hingga 80 %. Residunya berupa abu sekitar 5 – 10 % dari total volume
sampah yang dibakar dan dapat digunakan sebagai penimbun tanah.
Kekurangan alat ini adalah mahal dan tidak bisa memusnahkan
sampah logam.
3. Sanitary Landfill
Metode penanganan limbah padat dengan cara membuangnya pada area
tertentu.
Ada tiga metode sanitary landfill, yaitu :
 Metode galian parit (trenc method), sampah dibuang ke dalam galian
parit yang memanjang. Tanah bekas galian digunakan untuk menutup
parit. Sampah yang ditimbun dipadatkan dan diratakan. Setelah parit
penuh, dibuatlah parit baru di sebelah parit yang telah penuh tersebut.
 Metode area, sampah dibuang di atas tanah yang rendah, rawa, atau
lereng kemudian ditutupi dengan tanah yang diperoleh ditempat itu.
 Metode ramp, merupakan gabungan dari metode galian parit dan
metode area. Pada area yang rendah, tanah digali lalu sampah ditimbun
tanah setiap hari dengan ketebalan 15 cm, setelah stabil lokasi tesebut
diratakan dan digunakan sebagai jalur hijau (pertamanan), lapangan
olah raga, tempat rekreasi dll.
4. Penghancuran sampah (pulverisation)
Proses pengolahan sampah anorganik padat dengan cara
menghancurkannya di dalam mobil sampah yang dilengkapi dengan alat
pelumat sampah sehingga sampah hancur menjadi potongan-potongan kecil
yang dapat dimanfaatkan untuk menimbun tanah yang cekung atau letaknya
rendah.
5. Pengepresan sampah ( reduction mode)
Proses pengolahan sampah dengan cara mengepres sampah tesebut menjadi
padat dan ringkas sehingga tidak memakan banyak tempat.

Penanganan Limbah cair


Sekitar 80% air yang digunakan manusia untuk aktivitasnya akan
dibuang lagi dalam bentuk air yang sudah tercemar, baik itu limbah industri
maupun limbah rumah tangga. Untuk itu diperlukan penanganan limbah dengan
baik agar air buangan ini tidak menjadi polutan. Tujuan pengaturan pengolahan
limbah cair ini adalah

7
 Untuk mencegah pengotoran air permukaan (sungai, waduk, danau, rawa
dll)
 Untuk melindungi biota dalam tanah dan perairan
 Untuk mencegah berkembangbiaknya bibit penyakit dan vektor penyakit
seperti nyamuk, kecoa, lalat dll.
 Untuk menghindari pemandangan dan bau yang tidak sedap

Metode pengolahan limbah cair, meliputi beberapa cara :


1. Dillution (pengenceran)
Air limbah dibuang ke sungai, danau, rawa atau laut agar mengalami
pengenceran dan konsentrasi polutannya menjadi rendah atau hilang. Cara ini
dapat mencemari lingkungan bila limbah tersebut mengandung bakteri
patogen, larva, telur cacing atau bibit penyakit yang lain. Cara ini boleh
dilakukan dengan syarat bahwa air sungai, waduk atau rawa tersebut tidak
dimanfaatkan untuk keperluan lain, volume airnya banyak sehingga
pengenceran bisa 30 -40 kalinya, air tersebut harus mengalir.
2. Sumur resapan
Sumur yang digunakan untuk tempat penampungan air limbah yang telah
mengalami pengolahan dari sistem lain. Air tinggal mengalami peresapan ke
dalam tanah, dan sumur dibuat pada tanah porous, diameter 1 – 2,5 m dan
kedalaman 2,5 m. Sumur ini bisa dimanfaatkan 6 – 10 tahun.
3. Septic tank
Metode terbaik untuk mengelola air limbah walaupun biayanya mahal, rumit
dan memerlukan tanah yang luas. Septic tank memiliki 4 bagian ruang untuk
tahap-tahap pengolahan, yaitu :
a. Ruang pembusukan, air kotor akan bertahan 1-3 hari dan akan
mengalami proses pembusukan sehingga menghasilkan gas, cairan dan
lumpur (sludge)
b. Ruang lumpur, merupakan ruang empat penampungan hasil proses
pembusukan yang berupa lumpur. Bila penuh lumpur dapat dipompa
keluar
c. Dosing chamber, didalamnya terdapat siphon McDonald yang
berfungsi sebagai pengatur kecepatan air yang akan dialirkan ke bidang
resapan agar merata
d. Bidang resapan, bidang yang menyerap cairan keluar dari dosing
chamber serta menyaring bakteri patogen maupun mikroorganisme yang
lain. Panjang minimal resapan ini adalah 10 m dibuat pada tanah porous.

8
4. Riol (parit)
Menampung semua air kotor dari rumah, perusahaan maupun
lingkungan. Apabila riol inidigunakan juga untuk menampung air hujan disebut
combined system. Sedang bila penampung hujannya dipisahkan maka disebut
separated system. Air kotor pada riol mengalami proses pengolahan sebagai
berikut :
a) Penyaringan (screening), menyaring benda-benda yan mengapung di
air
b) Pengendapan (sedimentation), air limbah dialirkan ke dalam bak besar
secara perlahan supaya lumpur dan pasir mengendap.
c) Proses biologi (biologycal proccess), menggunakan mikroorganisme
untuk menguraikan senyawa organic
d) Saringan pasir (sand filter)
e) Desinfeksi (desinfection), menggunakan kaporit untuk membunuh
kuman
f) Dillution (pengenceran), mengurangi konsentrasi polutan dengan
membuangnya di sungai / laut.

2.2 Perbedaan Spektroskopi Atom dan Spektroskopi Molekul


Spektroskopi molekular adalah teknik yang digunakan untuk
mengidentifikasi senyawa organik dan anorganik dalam spesi molekular.
Spektroskopi molekuler berdasarkan atas radiasi ultraviolet, sinar tampak, dan
infrared. Spektroskopi molekular banyak digunakan untuk identifikasi dari
banyak spesies organik, anorganik, maupun biokimia.
Spektroskopi atomik adalah teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi
unsur organik dan anorganik dalam spesi atom. Spektroskopi atomik digunakan
untuk penentuan kualitatif dan kuantitatif dari sekitar 70 elemen. Ciri khas
spektroskopi atomik adalah bahwa dalam spektroskopi atomik, sampel harus
diatomkan terlebih dahulu.
2.2.1 perbedaan spektroskopi molekul dan spektroskopi atom
Spektroskopi Molekul Spektroskopi Atom
Spesi Molekul Atom
Spektroskopi Flame AAS, flame AFS,
Metode Ultraviolet/visible dan flame AES, elektrotermal
spektroskopi inframerah. AAS, elektrotermal AFS.
Suhu tinggi karena
diperlukan untuk proses
Temperatur Suhu rendah
atomasi (pelepasan ikatan
kimia)

9
Fase padat, gas, cair Fase gas
Bentuk sampel

Perbedaan lain antara spektroskopi atomik dengan spektroskopi molekuler


terletak pada spektrumnya. Spektrum spektroskopi atomik jauh lebih tipis dari
spektrum spektroskopi molekuler karena pada spektroskopi atomik hanya ada
getaran elektronik dan tidak ada getaran vibrasional.

2.3 Metode yang Paling Efektif untuk Analisis Limbah Fe dan Pb


Prinsip dasar spektrofotometri serapan atom adalah interaksi antara radiasi
elektromagnetik dengan sampel. Spektrofotometri serapan atom merupakan
metode yang sangat tepat untuk analisis zat pada konsentrasi rendah. Teknik
ini adalah teknik yang paling umum dipakai untuk analisis unsur. Teknik ini
didasarkan pada emisi dan absorbasi dari uap atom. Instrumentasi dari metode
spektrofotometri serapan atom dipakai untuk menghasilkan uap atom dalam
sampel.
Cara kerja spektroskopi serapan atom ini adalah berdasarkan atas
penguapan larutan sampel, kemudian logam yang terkandung didalamnya
diubah menjadi atom bebas. Alat yang dapat membuat atom-atom bebas
dalam spektrofotometri serapan atom adalah atomizer. Larutan unsur mula-
mula terserap ke dalam nebulizer (berfungsi untuk mengubah larutan aerosol
yaitu butir-butiran cairan yang sangat halus, yang terdispersi dalam udara),

10
selanjutnya larutan diubah dalam bentuk kabut (tetesan-tetesan yang amat halus
dalam fasa gas atau aerosol) di dalam spray chamber (berfungsi untuk membuat
campuran yang homogen dari gas oksidan dan bahan bakar aerosol.
Kemudian dengan tambahan gas terjadilah campuran yang homogen
sesaat sebelum masuk ke dalam burner.
Atom tersebut mengapsorbsi radiasi dari sumber cahaya yang
dipancarkan dari lampu katoda (Hollow Cathode Lamp) yang mengandung
unsur yang akan ditentukan. Banyaknya penyerapan radiasi kemudian diukur
pada panjang gelombang tertentu menurut jenis logamnya.

Jika radiasi elektomagnetik dikenakan kepada suatu atom, maka akan terjadi
eksitasi elektron dari tingkat dasar ke tingkat tereksitasi Maka setiap panjang
gelombang memiliki energi spesifik untuk dapat tereksitasi ke tingkat
yang lebih tinggi. Besarnya energi dari tiap panjang gelombang dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan
E = h .𝐶
𝛌

Keterangan E = Energi (Joule)


h = Tetapan Planck ( 6,63 . 10 -34 J.s)
C = Kecepatan Cahaya ( 3. 10 8 m/s), dan
λ = Panjang gelombang (nm)
Larutan sampel yang dikenai suatu nyala dan unsur-unsur didalam
sampel diubah menjadi uap atom sehingga nyala mengandung atom unsur-
unsur yang dianalisis. Beberapa atom akan tereksitasi secara termal oleh nyala,
tetapi kebanyakan atom tetap tinggal sebagai atom netral dalam keadaan dasar
(ground state). Atom-atom ground state ini kemudian menyerap radiasi yang
diberikan oleh sumber radiasi yang terbuat oleh unsur-unsur yang
bersangkutan. Panjang gelombang yang dihasilkan oleh sumber radiasi adalah
sama dengan panjang gelombang yang diabsorpsi oleh atom dalam nyala.

11
Absorpsi mengikuti hukum Lambert-Beer, yaitu absorbansi berbanding lurus
dengan panjang nyala yang dilalui sinar dan konsentrasi uap atom dalam nyala.
Kedua variabel ini sulit untuk ditentukan tetapi panjang nyala dapat
dibuat konstan sehingga absorbansi hanya berbanding langsung dengan
konsentrasi analit dalam larutan sampel. Teknik analisisnya yaitu kurva
kalibrasi, standar tunggal dan kurva adisi standar. Aspek kuantitatif dari
metode spektrofotometri diterangkan oleh hukum Lambert-Beer, yaitu:
A = ɛbc
Keterangan :
A = Absorbansi
ɛ = Absorptivitas molar (mol/L)
b = Panjang cuvet (cm)
c = Konsentrasi (M)
Absorptivitas molar (ɛ) dan absoptivitas (a) adalah suatu konstanta dan
nilainya sangat spesifik untuk jenis zat dan panjang gelombang tertentu,
sedangkan tebal media (sel) dalam prakteknya tetap. Dengan demikian absorbansi
suatu spesies akan merupakan fungsi linear dari konsentrasi, sehingga dengan
mengukur absorbansi suatu spesies konsentrasinya dapat ditentukan dengan
membandingkannya dengan konsentrasi larutan standar.
Metode spektroskopi atom ini sangat handal untuk menetukan konsentrasi
atom dalam sebuah sampel dalam skala kecil. Atom-atom logam sangat akurat
jika ditentukan konsentrasinya dengan spektroskopi atom. Namun, senyawa yang
membawa atom tidak diketahui strukturnya.
Instrumentasi standar sebuah spektrometri atom umumnya terdiri dari
atomisator, sumber cahaya dengan pemotongnya (chopper), monokromator,
detektor, dan pembaca sekaligus pengolah data.

1. Sumber radiasi
Sumber radiasi spektroskopi serapan atom adalah Hallow Cathode
Lamp (HCL). Setiap pengukuran dengan spektroskopi serapan atom kita
harus menggunakan Hallow Cathode Lamp khusus. Misalnya, dalam

12
menentukan konsentrasi besi dari suatu sampel maka kita harus menggunakan
Hallow Cathode Lamp khusus. Hallow Cathode akan memancar energy
radiasi yang sesuai dengan energy yang diperlukan untuk transisi electron
atom. Hallow Cathode Lamp terdiri dari katoda cekung yang silindris yang
terbuat dari unsur dama dengan yang akan dianalisis dan anoda yang terbuat
dari tungsten. Dengan pemberian tegangan pada arus tertentu, logam mulai
memijar dan atom – atom logam katodanya akan teruapkan. Atom akan
tereksitasi kemudian mengemisikan radiasi pada panjang gelombang tertentu.

Sumber
radiasi lain yang sering
dipakai adalah “Electrodless Discharge Lamp” lampu ini mempunyai prinsip
kerja hamper sama dengan Hallow Cathode Lamp (Lampu katode cekung)
tetapi mempunyai output radiasi lebih tinggi dan biasanya digunakan analisis
unsur unsur As dan Se, karena lampu HCL untuk unsur-unsur ini mempunyai
signal yang lemah dan tidak stabil.

2. Sumber Atomisasi
Sumber atomisasi dibagi menjadi dua yaitu sistem nyala dan sistem
tanpa nyala. Kebanyakan instrument sumber atomisasinya adalah nyala dan
sampel diubah dalam bentuk larutan. Sampel masuk ke nyala dalam bentuk
aerosol.

13
Aerosol biasa dihasilkan oleh nebulizer (pengabut) yang dihubungkan
ke nyala oleh ruang penyemprot (chamber spray). Jenis nyala yang digunakan
secara luas untuk pengukuran analitik adalah udara- asetilen dan nitrous
oksida-asetilen. Dengan kedua jenis nyala ini, kondisi analisis yang sesuai
untuk kebanyakan analit dapat ditentukan dengan menggunakan metode-
metode emisi, absorbsi dan juga fluorosensi.
a. Nyala Udara Asetilen
Biasanya digunakan untuk analisis Spektroskopi serapan Atom.
Temperature nyalanya yang lebih rendah mendorong terbentuknya atom
netral yang kaya bahan bakar pembentukan oksida dari banyak unsur dapat
diminimalkan
b. Nitrous Oksida- asetilen
Biasanya digunakan untuk penentuan unsur-unsur yang mudah
membentuk oksida dan sulit terurai. Hal ini disebabkan karena temperature
nyala yang dihasilkan relative tinggi. Unsur-unsur tersebut adalah Al, B
Mo, Si, So, Ti, V dan W.
Prinsip dari spektroskopi serapan atom dikenakakn kesuatu nyala dan unsur-
unsur didalam sampel yang diubah menjadi uap atom sehingga nyala
mengandung atom unsur-unsur yang akan dianalisis. Beberapa diantara atom
akan tereksitasi secara termal oleh nyala, tetapi kebanyakan atom tetap tinggal
sebagai atom netral dalam keadaan dasar (ground state). Atom atom ground state
ini kemudian menyerap radiasi yang diberikan oleh sumber radiasi yang terbuat
dari unsur-unsur yang bersangkutan. Panjang gelombang yang dihasilkan oleh
sumber radiasi adalah sama dengan panjang gelombang yang diabsorpsi oleh
atom dalam nyala.
3. Monokromator
Monokromator merupakan alat yang berfungsi untuk memisahkan radiasi yang
tidak diperlukan dari spectrum radiasi lain yang dihasilkan oleh Hallow Cathode
Lamp, untuk memisahkan dan memilih panjang gelombang yang digunakan untuk
memisahkan radiasi dan kontinyu yang disebut chopper.
4. Detektor
Detektor merupakan alat yang digunakan untuk mengubah energy cahaya
menjadi energy listrik yang memberikan sinyal listrik berhubungan dengan radiasi
yang diserap oleh permukaan yang peka. Detektor juga digunakan untuk
menangkap cahaya.
Detektor Photomutiplier digunakan untuk menangkap cahaya atau sinar yang
diteruskan. Detektor ini sering digunakan, namun dalam beberapa unsur diperlukan
detektor yang lebih sensitif lagi. Multiplier dynodes mengatur tegangan yang
diperlukan untuk detektor ini.

14
5. Amplifier
Amplifier digunakan untuk memperkuat hasil sinar optik yang diperoleh
sehingga mudah untuk dibaca, dimana didalam spektroskopi serapan atom ini akan
diubah menjadi absorpbansi.
2.3.1. Penentuan kandungan timbal dan besi dalam limbah
Analisis suatu unsur logam dalam suatu sampel dengan menggunakan
spektroskopi serapan atom (SSA), suatu sampel diubah menjadi larutan
kemudian ikatan Pb dan Fe dipecah dengan unsur-unsur organic dalam suatu
sampel. Perlakuan awal sampel merupakan hal penting dalam analisis unsur
mikro yang menggunakan spektroskopi serapan atom karena pemilihan metode
perlakuan awal sampel sangat mempengaruhi hasil yang akan didapatkan.
Dalam menganalisis konsentrasi suatu logam didalam suatu sampel perlu
dilakukan pengenceran larutan sampel untuk menurunkan konsentrasi logam
yang tidak kita analisis pada tekanan yang tidak menyebabkan gangguan yang
signifikan.
Pada tahap perlakuan awal sampel, bahan bahan organic yang ada dalam
sampel harus didestruksi terlebih dahuluu dengan 2 cara yaitu degan oksidasi
basah (wet oxidation) dan pengabuan kering (dry ashing). Fungsi dari destruksi
adalah untuk memutuskan ikatan antara senyawa organic dengan logam yang
akan dianalisis. Untuk menentukan unsur-unsur dengan konsentrasi yang
rendah biasanya digunakan destruksi basah..kemudian sampel dapat dianalisis
dengan alat nyala SSA untuk logam Pb dan Fe. Dalam menentukan kandungan
logam Pb dan Fe dalam limbah dapat menggunakan SSA nyala, yaitu asetilen
sebagai bahan bakar dan udara sebagai oksidan. Larutan sampel dilewatkan
pada nyala sehingga terbentuk uap atom yang akan dianalisis dan akan
menyerap radiasi sinar yang dihasilkan HCL, sinar akan melalui monokromator
untuk memilih panjang gelombang kemudian masuk kedalam detector dan
absorbansi sampel akan terbaca dalam system pembacaan alat. Dalam metode
nyala SSA, larutan sampel yang dianalisis harus memenuhi ketentuan bahwa
larutan sampe; harus berada pada matrik yang identic dengan larutan standar.
Metode spektroskopi serapan atom ini efektif selektif dan sensitive
untuk menganalisis logam. Ini disebabkan karena kecepatan analisisnya,
ketelitian, tidak memerlukan pemisahan pendahuluan, serta relatif murah
dengan pengerjaan yang sederhana. Oleh karenanya, Spektrofotometri Serapan
Atom ini cocok dipergunakan untuk menentukan konsentrasi logam Timbal
(Pb) dan Besi (Fe) dalam Limbah.

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
1) Hal yang perlu diperhatikan dalam memilih metode untuk menganalisis
kandungan limbah yang pertama harus memperhatikan karakteristik fisik,
karakteristik kimiawi, dan karakteristik bakteriologis. Dengan memperhatikan
ketiga aspek tersebut maka dapat dilakukan metode tertentru untuk menganalis
kandungan limbah dan penanganannya yang tepat.
2) Perbedaan daspektroskopi atom dengan molekul yaitu Spektrum spektroskopi
atomik jauh lebih tipis dari spektrum spektroskopi molekuler karena pada
spektroskopi atomik hanya ada getaran elektronik dan tidak ada getaran
vibrasional
3) Metode yang paling efektif untuk menganalisis kandungan Pb dan Fe dalam
limbah yaitu metode spektroskopi serapan atom karena kecepatan dan ketelitian
efektif, selektif dan sensitif dalam mengenalisis logam. Selain itu tidak
memerlukan pemisahan terdahulu serta relative murah dengan pengerjaan yang
sederhana.

16
DAFTAR PUSTAKA

Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kuantan Singingi. 2008. Pemberian Kuasa
Pertambangan Eksplorasi kepada PT. Tri Bakti Sarimas. Pemerintah Kabupaten
Kuantan Singingi.
Keating, M. 2001. Environmental Impact of Coal Mining. Boston.
Khopkar, S.M.,1990, Konsep Dasar Kimia Analitik Edisi kedua, UI Press, Jakarta.
Mindasari, L. 2007. Dampak kegiatan pertambangan batubara PT. Tambang
Batubara Bukit Asam (PT. BA) (PERSERO) Tbk- Unit Produksi Ombilin (UPO)
dan tambang batubara tanpa izin (PETI) terhadap kualitas air sungai Ombilin
Sawahlunto. Skripsi. IPB, Bogor.
Ridinata, A. 2012. Analisis kontribusi logam (Pb, Mn), nitrat dan sulfat dari limbah
tambang batubara pada badan air sungai Pendulangan Desa Pangkalan
Kuansing. Skripsi. Jurusan Kimia FMIPA-UR, Pekanbaru.
W. Surjani, 2013. Pengantar Kimia Analitik Modern. FMIPA Universitas Negeri
Malang.

17