Anda di halaman 1dari 18

ISI KANDUNGAN

KANDUNGAN KAJIAN

1.0 MAKSUD JUDI DAN DALIL PENGHARAMAN…………………………..2-3

2.0 CONTOH-CONTOH AMALAN BERJUDI DALAM


MASYARAKAT……………………………………………………………….3-4

3.0 FAKTOR KETAGIHAN AMALAN BERJUDI……………………………..4-6

4.0 KESAN AMALAN BERJUDI KEPADA DIRI DAN


MASYARAKAT………………………………………………………….…..6-10

5.0 LANGKAH-LANGKAH UNTUK MENGEKANG AMALAN


BERJUDI………………………………………………………………….…10-12

6.0 RUMUSAN……………………………………………………………………...13

7.0 SUMBER RUJUKAN…………………………………………………………..14

8.0 LAMPIRAN BORANG SOAL SELIDIK……………………………………..15

9.0 KERTAS SOALAN KES ………………………………………………………16

10.0 FORMAT………………………………………………………………………..17

1|Page
1.0 MAKSUD JUDI :

Perjudian ialah permainan yang melibatkan pertaruhan harta ataupun penaruhan"nilai". Judi juga
bermaksud mengambil risiko kewangan dalam usahamelipatgandakan wang di atas sesuatu yang
bertentangan dengan kemungkinan.Dalam perjudian, pihak yang kalah dalam permainan harus
membayar sejumlah nilaikepada pihak yang menang. Biasanya ia menghabiskan tempoh masa
yang singkat untuk mendapatkan hasil keputusan sama ada menang atau kalah. Terdapat
banyak jenis permainan yang boleh dianggap sebagai perjudian.

Dalil pengharaman: judi digandengkan dengan khamr, berkurban untuk berhala dan mengundi
nasib

Allah Ta’ala berfirman:

َ ‫ن ِرجْ سُ َو ْاْل َ ْز ََلمُ َو ْاْل َ ْن‬


‫صابُ َوا ْل َم ْيسِرُ ا ْل َخ ْمرُ ِإنَّ َما‬ ُْ ‫ع َم ُِل ِم‬
َ ‫ان‬
ُِ ‫ط‬ َّ ‫ون لَ َعلَّك ُْم فَاجْ تَنِبوهُ ال‬
َ ‫ش ْي‬ َُ ‫ت ْف ِلح‬
َ ‫ش ْي‬
‫طانُ ي ِريدُ ِإنَّ َما‬ ُْ َ ‫َاو ُةَ بَ ْينَكمُ يوقِ َُع أ‬
َّ ‫ن ال‬ َ ‫ضا َُء ا ْلعَد‬
َ ‫ِر ا ْل َخ ْم ُِر فِي َوا ْلبَ ْغ‬
ُِ ‫َن َويَصدَّك ُْم َوا ْل َم ْيس‬
ُْ ‫ّللا ِذك ُِْر ع‬
َُِّ
َّ ‫ون أ َ ْنت ُْم فَ َه ُْل ال‬
ُ‫ص ََل ُِة َوع َِن‬ َُ ‫م ْنتَه‬

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk)
berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah
perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al Maidah: 90).

Dalam ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala menggandengkan judi atau qimar dengan khamr, al
anshabdan al azlam. Ini adalah perkara-perkara yang tidak diragukan lagi keharamannya. Oleh
karena itu ini menjadi dalil haramnya judi.

Al khamru (khamr) sudah kita ketahui bersama, ia adalah minuman yang jika diminum oleh
seseorang maka akan membuatnya mabuk, lalu hilang akalnya, seluruhnya ataupun sebagiannya.

2|Page
Sehingga ia berbicara dan beraktifitas tanpa berpikir dan tanpa akal. Terkadang
membuatnya jatuh kepada zina, terkadang kepada pembunuhan, kadang kepada pembakaran,
terkadang menceraikan istrinya, dan semisal itu. Oleh karena itu syariat pun mengharamkannya.

Adapun al anshab (berkurban untuk berhala), itu haram melakukannya. Karena ia adalah sarana
untuk beribadah kepada berhala.

Sesuatu yang digandengkan dengan al anshab, khamr, dan al azlam, tidak ragu lagi ia haram
hukumnya dan besar dosanya.

3|Page
2.0 CONTOH AMALAN BERJUDI DALAM MASYARAKAT

Pertama, perjudian di kasino yang terdiri dari Roulette, Blackjack, Baccarat, Creps, Keno,
Tombola, Super Ping-pong, Lotto Fair, Satan, Paykyu, Slot Machine (Jackpot),Ji Si Kie,Big Six
Wheel, Chuc a Luck, Lempar paser / bulu ayam pada sasaran atau papan yang berputar (Paseran).
Pachinko, Poker, Twenty One, Hwa Hwe serta Kiu-Kiu. Kedua, perjudian di tempat keramaian
yang terdiri dari lempar paser / bulu ayam pada sasaran atau papan yang berputar (Paseran), lempar
gelang, lempar uang (Coin), kim, pancingan, menembak sasaran yang tidak berputar, lempar bola,
adu ayam, adu sapi, adu kerbau, adu domba/kambing, pacu kuda, karapan sapi, pacu anjing, kailai,
mayong/macak dan erek-erek. Ketiga, perjudian yang dikaitkan dengan kebiasaan yang terdiri dari
adu ayam, adu sapi, adu kerbau, pacu kuda, karapan sapi, adu domba/kambing.

Jika kita perhatikan perjudian yang berkembang dimasyarakat bias dibedakan berdasarkan
alat / sarananya. Yaitu ada yang menggunakan hewan, kartu, mesin ketangkasan, bola, video,
internet dan berbagai jenis permainan olah raga. Selain yang tercantum dalam Peraturan
Pemerintah tersebut diatas, masih banyak perjudian yang berkembang di masyarakat. Semisal “adu
doro”, yaitu judi dengan mengadu burung merpati. Dimana pemenangnya ditentukan oleh peserta
yang merpatinya atau merpati yang dijagokannya mencapai finish paling awal. Yang paling marak
biasanya saat piala dunia bola atau lain-lain lagi. Baik di kampung, kantor dan cafe, baik tua
maupun muda, sibuk bertaruh dengan menjagokan tim kesukaan masing-masing. Bahkan bermain
caturpun kadang dijadikan judi. Sehingga benar kata orang “kalau orang berotak judi, segala hal
dapat dijadikan sarana berjudi”. Pada umumnya masyarakat Indonesia berjudi dengan
menggunakan kartu remi, domino, rolet dan dadu. Namun yang paling marak adalah judi togel
(toto gelap). Yaitu dengan cara menebak dua angka atau lebih. Bila tebakannya tepat maka
sipembeli mendapatkan hadiah beberapa ratus atau ribu kali lipat dari jumlah uang yang
dipertaruhkan.

4|Page
3.0 FAKTOR KETAGIHAN AMALAN BERJUDI

Bahwa perilaku berjudi memiliki banyak kesan sampingan yang merugikan bagi si penjudi
mahupun keluarganya mungkin sudah sangat banyak benjudi. Anehnya tetap saja mereka menjadi
sulit untuk meninggalkan perilaku berjudi jika sudah terlanjur mencobanya. Dari berbagai hasil
penelitian lintas budaya yang telah dilakukan para ahli diperoleh 8 faktor yang amat berpengaruh
dalam memberikan kontribusi pada perilaku berjudi. 8 faktor tersebut adalah:

1. Faktor Ekonomi

Bagi masyarakat dengan status ekonomi yang rendah perjudian seringkali dianggap sebagai suatu sarana
untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Tidaklah mengherankan jika pada masa undian SDSB di Indonesia
zaman baru yang lalu, peminatnya justru lebih banyak dari kalangan masyarakat ekonomi rendah seperti
tukang beca, buruh, atau pedagang kecil. Dengan modal yang sangat kecil mereka berharap mendapatkan
keuntungan yang besar atau menjadi kaya dengan senang tanpa usaha.

2. Faktor Sosial

Kondisi sosial masyarakat yang menerima perilaku berjudi juga berperan besar terhadap tumbuhnya
perilaku tersebut dalam komuniti.kerana masyarakat sekeliling perlulah bersosial dengan social yang sihat
dengan menasihati orang sekeliling tentang bahaya berjudi

3. Faktor Situasi

Situasi yang boleh dikategorikan sebagai pemicu perilaku berjudi, diantaranya adalah tekanan dari rakan
sebaya /kelompok atau lingkungan untuk berjudi. Tekanan kelompok membuat seorang penjudi merasa
tidak enak jika tidak mengikuti apa yang diinginkan oleh kelompoknya.

4. Faktor pasaran sukan judi

Sementara pemasaran yang dilakukan oleh para pemasaran perjudian dengan selalu mempamerkan para
penjudi yang berhasil menang memberikan kesan kepada penjudi yang lain bahawa kemenangan dalam
perjudian adalah suatu yang biasa, mudah dan dapat terjadi pada siapa saja (padahal kenyataannya
kemungkinan menang sangatlah kecil).

5. Faktor Media

5|Page
Peranan media massa seperti television dan film yang menonjolkan keahlian para penjudi yang “seolah-
olah” dapat mengubah setiap peluang menjadi kemenangan atau mengagung-agungkan sosok sang penjudi,
juga mendorong individu untuk mencuba permainan judi.

6. Faktor Belajar

Sangatlah masuk akal jika faktor belajar memiliki kesan yang besar terhadap perilaku berjudi, terutama
menyangkut keinginan untuk terus berjudi. Apa yang pernah dipelajari dan menghasilkan sesuatu dengan
senang akan terus tersimpan dalam pikiran seseorang. Inilah yang berada dalam teori belajar disebut
sebagai Reinforcement Theory yang mengatakan bahwa perilaku tertentu akan cenderung
diperkuat/diulangi bila mana diikuti oleh pemberian hadiah/sesuatu yang menyenangkan.

7. Faktor Persepsi tentang Kemenangan

Persepsi yang dimaksudkan disini adalah persepsi pelaku dalam membuat keputusan terhadap peluang
menang yang akan diperolehnya jika ia melakukan perjudian. Para penjudi yang sulit meninggalkan
perjudian biasanya cenderung memiliki persepsi yang keliru tentang kemungkinan untuk menang. Mereka
pada umumnya merasa sangat yakin akan kemenangan yang akan diperolehnya, walaupun pada
kenyataannya peluang tersebut amatlah kecil karena keyakinan yang ada hanyalah suatu ilusi yang
diperoleh dari cenderung peluang berdasarkan sesuatu situasi atau kejadian yang tidak menentu dan sangat
subjektif. Dalam benak mereka selalu tertanam pikiran: “kalau sekarang belum menang pasti di kesempatan
berikutnya akan menang, begitu seterusnya”.

8. Faktor Persepsi terhadap Kehebatan berjudi

Penjudi yang merasa dirinya sangat menonjol dalam salah satu atau beberapa jenis permainan judi
akan cenderung menganggap bahwa keberhasilan/kemenangan dalam permainan judi adalah
karena kehebatan yang dimilikinya. Mereka menilai kehebatan yang dimiliki akan membuat
mereka mampu mengendalikan berbagai situasi untuk mencapai kemenangan (illusion of control).
Mereka seringkali tidak dapat membezakan mana kemenangan yang diperoleh karena kehebatan
dan mana yang hanya kebetulan semata. Bagi mereka kekalahan dalam perjudian tidak pernah
dihitung sebagai kekalahan tetapi dianggap sebagai “hampir menang”, sehingga mereka terus
memburu kemenangan yang menurut mereka pasti akan didapatkan.

6|Page
4.0 KESAN AMALAN BERJUDI KEPADA DIRI DAN MASYARAKAT

Judi adalah antara amalan termasuk dalam dosa besar kerana ia dikaitkan dengan amalan syaitan.
Tegahan berjudi kerana perbuatan itu mendatangkan banyak keburukan bukan saja kepada orang
yang suka berjudi, juga mereka yang rapat dengannya. Pengharaman judi jelas dinyatakan dalam
firman Allah yang bermaksud: “Wahai orang beriman! Sesungguhnya arak, judi, penyembahan
berhala dan bertilik nasib adalah najis (haram) dan ia daripada perbuatan syaitan.” (Surah al-
Maidah, ayat 90). Firman Allah lagi yang bermaksud: “Mereka bertanya kepadamu (wahai
Muhammad) mengenai arak dan judi. Katakanlah kepada kedua-duanya ada dosa besar (mudarat)
dan ada pula beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa kedua-duanya adalah lebih besar daripada
manfaatnya.” (Surah al-Baqarah, ayat 219). Gila judi juga mendorong seseorang melakukan
perbuatan menyalahi syariat agama dan lebih teruk lagi, akibat judi menyebabkan seseorang itu
berpaling daripada Allah seterusnya melupakan tanggungjawab kepada penciptanya. Allah
berfirman yang bermaksud: “Sesungguhnya syaitan itu hanyalah bermaksud mahu menimbulkan
permusuhan dan kebencian antara kamu dengan sebab arak dan judi dan mahu memalingkan kamu
daripada mengingati Allah dan mengerjakan sembahyang. Oleh itu mahukah kamu berhenti
(daripada melakukannya).” (Surah al-Maidah, ayat 91).

Permusuhan mudah tercetus di kalangan kaki judi. Pihak yang menanggung kerugian
sering memandang serong kepada pihak yang menang. Banyak kemenangan biasanya diperoleh
secara penipuan dan mengambil kesempatan di atas kelemahan pihak lawan. Biarpun ada pihak
mendakwa perjudian dikendalikan syarikat berlesen adil dan terhindar daripada penipuan,
hakikatnya keburukan sebenar perjudian masih ada. Islam mengharamkan semua bentuk judi tidak
kira memiliki lesen perniagaan atau diadakan secara haram. Sebenarnya tidak ada syarikat
pengendalian perjudian menanggung kerugian sebaliknya, pelanggan atau kaki judi yang berterus-
terusan menanggung kerugian. Bilangan mereka mendapat keuntungan daripada perjudian amat
sedikit dan tidak memadai jumlah yang dihabiskan selama ini. Wang hasil perjudian adalah haram
dan tiada keberkatan. Sesiapa memiliki wang judi tidak kekal lama. Masyarakat menyebutnya
‘wang panas’ yang tidak dapat disimpan lama. Orang menang judi bersikap boros, menghadapi
malapetaka dan kesusahan menyebabkan wang itu habis dibelanjakan. Malah, ada menjadi gila

7|Page
atau hilang ingatan selepas menang besar dalam perjudian. Semua itu adalah pembalasan Allah
kepada kaki judi di dunia ini lagi. Orang suka berjudi tidak akan melihat perkara lain lebih penting
dalam hidup mereka selain berjudi. Mereka sanggup mengalami keretakan rumah tangga dan
membiarkan orang disayangi menderita kerananya. Malah, orang berjudi ramai terbabit dengan
amalan syirik apabila mempercayai bomoh ekor, bertapa dan memuja keramat. Oleh itu, aktiviti
perjudian bukan saja merugikan dalam bentuk kewangan, juga melahirkan masyarakat malas dan
kuat berangan-angan. Pakar psikologi dan sosiologi bukan Islam turut sepakat mengatakan judi
banyak mendatangkan keburukan daripada kebaikan. Mereka ketagih judi merasakan dirinya
mendapat keuntungan, sedangkan hal sebaliknya dialami. Sebab itu Islam mengharamkan segala
bentuk permainan yang mempunyai unsur judi biarpun dalam bentuk mana ia diadakan. Sesuatu
yang mendatangkan keburukan adalah ditegah sama sekali dilakukan oleh umat Islam. Firman
Allah yang bermaksud: “Dan jangan kamu mencampakkan diri kamu dalam kebinasaan.” (Surah
al-Baqarah, ayat 195).

Paling membimbangkan hampir 60 peratus daripada jumlah kes keganasan rumah


tangga yang dilaporkan berlaku membabitkan anggota keluarga terdekat mangsa, terutama suami
mangsa. Pengarah Jabatan Siasatan Jenayah (JSJ) Bukit Aman, Datuk Christopher Wan Soo Kee,
berkata sejak beberapa tahun kebelakangan ini, tidak kurang 3,000 kes penderaan dilaporkan
berlaku di seluruh negara membabitkan wanita sebagai mangsa. Bagaimanapun, jumlah itu
dianggap kecil berbanding jumlah sebenar kes penderaan yang berlaku kerana ramai wanita tidak

berani tampil membuat aduan polis mengenai kejadian terbabit. Berdasarkan statistik,
katanya sepanjang tempoh sembilan bulan pertama tahun ini, sejumlah 2,441 kes penderaan
wanita dilaporkan berbanding 3,101 pada 2004 dan 3,093 pada 2005. “Daripada 3,093 kes yang
dilaporkan berlaku pada tahun lalu, Selangor mencatatkan jumlah tertinggi dengan 845 kes diikuti
Kedah (338); Johor (320); Pulau Pinang (272); Negeri Sembilan (253) dan Sarawak (234,” katanya
kepada pemberita selepas Majlis Pelancaran Poster Keganasan Terhadap Wanita kepada Polis
Diraja Malaysia (PDRM) bersama Jawatankuasa Pertubuhan Bantuan Wanita (WAO), di sini,
semalam.

8|Page
BERITA HARIAN 14/6/2014 – RUGI RM300,000 KALAH JUDI INTERNET

Headline: Rugi RM300,000 kalah judi internet

Publication: BH
Date of publication: Jun 14, 2014
Section heading: Main Section
Page number: 008
Byline / Author: Oleh Wan Noor Hayati Wan Alias

Kuala Lumpur: Seorang ahli perniagaan yang mahu mendapatkan modal perniagaan, kerugian RM300,000 akibat

kalah dalam perjudian internet.

Ali (bukan nama sebenar) berusia 40 tahun mula terjebak dengan kegiatan perjudian internet pada awal tahun ini

akibat terdesak untuk mendapatkan modal perniagaan.

“Syarikat saya berjaya mendapatkan kontrak bernilai

jutaan ringgit, namun modal untuk menjalankan

perniagaan itu tidak mencukupi.

“Cara paling cepat dan mudah ialah dengan berjudi dan

saya harap sangat menang pertaruhan sehingga ratusan

ribu untuk menampung keperluan perniagaan saya itu

nanti.

“Malangnya, selepas mula berjudi hampir setiap hari saya


kerugian ribuan ringgit. Teruskan berjudi

“Saya teruskan juga akibat pengaruh daripada pihak premis


perjudian yang meyakinkan saya akan menang besar jika
nilai wang pertaruhan besar.

“Saya kemudian ditawarkan khidmat ceti kafe siber dan


mula meminjam bermula daripada RM50,000 hinggalah
mencecah ratusan ribu.

“Saya gagal menjelaskan pinjaman dalam waktu ditetapkan menyebabkan hutang saya terus bertambah,” katanya
kepada BH.

9|Page
Ali antara ratusan orang, termasuk golongan profesional dan kakitangan kerajaan yang dikatakan kerugian beratus
ribu ringgit akibat gila judi internet yang disediakan kafe siber.

Berikutan kerugian yang dialami, akhirnya Ali terpaksa menjual perniagaannya, diisytihar bankrap dan keluarganya
porak-peranda setelah dua bulan diabaikan selepas gian berjudi.

“Judi menyebabkan saya kehilangan segala-galanya dan saya percaya ramai lagi yang tertipu dengan pertaruhan
merugikan ini seperti saya,” katanya.

Ali adalah antara 60 orang yang meminta bantuan khidmat nasihat daripada Persatuan Pengguna Islam Malaysia
(PPIM) bagi menyelesaikan masalah hutangnya dengan ceti kafe siber berkenaan pada Mac lalu.

CONTOH DARI MEDIA SOSIAL 1

CONTOH DARI MEDIA SOSIAL 2

10 | P a g e
5.0 LANGKAH-LANGKAH UNTUK MENGEKANG AMALAN BERJUDI

Bagaimanakah kita mahu mengatasi masalah ini? Kita sebagai masyarakat yang berfikiran waras
patut memikirkan cara-cara yang yan berkesan untuk menangani penyakit yang melanda pada
masa ini. Penyakit judi ini sangat merbahaya dan boleh mengancam negara dan seterusnya kita
tidak lagi berada di landasan yang betul. Kita boleh mengikut contoh seperti yang digariskan oleh
Hasan Al-Banna, sebagai “pembersihan” kepada gejala ini.

Yang pertama, membentuk peribadi. Seseorang insan perlulah membentuk peribadinya


dahulu serta menyucikan hatinya. Individu itu perlulah memperkuatkan dirinya agar tidak
mudah tertewas dengan pujukan syaitan dengan melakukan amal-amal yang dituntut Allah
dan menjaga nafsunya. Kita sendiri hendaklah beramal dan membuat kebaikan, sebelum
menyuruh orang lain. Kesedaran dan keinsafan itu mestilah datang dari diri sendiri, dan
bukannya mengikut orang lain. Rasulullah S.a.w bersabda: ” Janganlah ada seorang di
antara kalian yang suka mengikut-ikut dan berkata: aku mengikuti orang lain, jika orang
lain berbuat baik dan aku berbuat baik dan jika mereka berbuat buruk aku pun berbuat
buruk. Akan tetapi hendaknya kalian dapat menempatkan diri kalian, apabila orang lain
berbuat baik hendaklah kalian pun berbuat baik, tetapi apabila mereka berbuat buruk
hendaklah kalian menjauhi perbuatan buruk mereka.” (Hadith riwayat At-Tirmizi).
Begitulah maksudnya, dengan berbuat baik dan menjauhi perbuatan mungka sesungguhnya
kita dapat menyucikan diri kita dan mengislah diri kepada yang lebih baik. Jika kita apat
membersihkan jiwa kita, kita tidak akan mudah terpengaruh dengan ketiga penyakit di atas.
Kita juga hendaklah menjauhi rakan yang cuba mempengaruhi kita kearah yang tidak baik.

Kedua, membentuk keluarga. Selepas membentuk diri, kita hendaklah membentuk seluruh
keluarga kita, agar berada di atas landasan Islam, dan menjauhi perkara-perkara yang
dilarang oleh Islam. Pembentukan keluarga yang menamalkan seluruh prinsip Islam dan
ajarannya dapat melahirkan generasi insan yang saleh wa musleh. Seterusnya mengislah
masyarakat. Sebagai seorang mukmin, kita adalah bersaudara dengan mukmin yang lain.
Jika seorang mukmin melihat kemungkaran yang dlakukan oleh saudaranya yang lain,
mereka hendaklah sama-sama mebetulkan kesilapan tersebut. Jika saudaranya bertindak
melampaui batasan, hendaklah dia segera menahannya. Mreka hendaklah saling tolong
11 | P a g e
menolong agar tidak menganiayai diri sendiri dan juga saudaranya yang lain. Rasulullah
s.a.w penah menegaskan: ” Bantulah saudaramu, baik dia zalim mahupun mazlum
(dizalimi). Seorang sahabat bertanya: “Apabila mazlum (dizalimi) aku membantunya,
tetapi bagaimana membantunya jika dia zalim?” Rasulullah S.a.w menjelaskan: “Engkau
harus menahannya dari membuat zalim, itulah cara membantunya.”(Hadith Riwayat
Bukhari).

Ketiga, membebaskan negara dan membentuk kerajaan. Ketika hendak memilih


memimpin, pilihlah pemimpin yang boleh memimpin negara mengikut ajaran Islam yang
betul, dan membebaskan negara dari unsur-unsur yang boleh menghancurkan umat.
Penyakit judi dan rasuah sangat membahayakan umat. Para pemimpin negara di peringkat
tertinggi perlulah mengislah diri mereka terlebih dahulu daripada gejala ini, kerana sikap
pepimpin yang baik akan dicontohi oleh masyarakat. Sesungguhnya judi dan rasuah adalah
parasit yang boleh membunuh jiwa umat Islam. Dosanya pula sangat besar di sisi Allah.

Yang terakhir, mendekatkan diri kita dengan Allah S.W.T. Kita haruslah, banyakkan
beribadah dan membaca kitab suci akan membuatkan hati lebih tenang dan juga boleh
menghindarkan perkara-perkara buruk yang membuatkan kita membuat perkara buruk
seperti judi. Bukan itu sahaja, dengan cara ini kita juga boleh menambahkan keimanan kita.
Apabila kita dapat mendekatkan diri kita dengan Allah S.W.T insya allah Allah dapat
membantu kita daripada golongan-golongan judi ataupun perkara yang buruk.

12 | P a g e
6.0 RUMUSAN

Sesungguhnya,kajian ini telah memberikan banyak kesan positif kepada diri saya. Melalui kajian
kes ini, saya telah mengetahui tentang definisi judi dan pengharaman judi serta jenis-jenis judi
yang ada di setiap kawasan muka bumi ini. Kajian ini juga memberi maklumat tentang punca-
punca berlakunya ketagihan seseorang itu berjudi seperti tertarik perhatian dengan iklan-iklan
yang berada di luar atau pun didalam media sosial, untuk menghilangkan stress dan menjadikan
sebagai tempat berseronok untuk meluang masa tersebut.

Selain itu juga, saya dapat mengenal pasti kesan-kesan buruk kepada nasib diri penjudi
seperti menjadi malas untuk bekerja, boleh menimbulkan permusuhan kepada masyarakat,
menyebabkan kelalaian terhadap melaksanakan perkara yang wajib, pergaduhan antara keluarga
dan mudah untuk berlakunya kes jenayah seperti mencuri dan membunuh. Seterusnya, saya juga
dapat berfikir yang lebih baik untuk mencadangkan langkah-langkah mengatasi amalan kes judi
ini. Seperti cadangan yang telah saya fikir ialah menguatkuasaan untuk menyerbu tempat perjudian
yang tersembunyi dan menyekat iklan-iklan judi yang berada dalam internet serta pengharaman
untuk membuka tempat berjudi.

Kesimpulannya, walaupun masih ada sekelompok perniagaan judi yang bersembunyi di


pusat-pusat hiburan. Kita mestilah mengambil berat untuk keselamatan negara kita juga . Oleh
yang demikian kita seharusnya membuat kem dan kaunseling kepada para pelajar ataupun kepada
semua orang supaya tidak terjebak dengan kes judi ini. Dengan ini, negara kita akan menjadi
harmoni apabila tiada perjudiaan di dalam dunia ini.

13 | P a g e
7.0 SUMBER RUJUKAN

1. https://dppbtr.wordpress.com/2010/07/06/judi-dan-kesannya-kepada-masyarakat/

2. https://hildadamayanti48.wordpress.com/2012/09/15/pengertian-berjudi-dalam-islam-dan-
jenis-berjudi/

3. http://ww1.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2011&dt=1115&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bic
ara_Agama&pg=ba_02.htm

4. http://www.utusan.com.my/berita/nasional/khutbah-jawi-sentuh-kesan-buruk-judi-1.35830

5. https://mas888yes.com/my/news/42236/jenis--jenis-permainan-judi-yang-sering-dimainkanbr

6. http://ilhamyp06.blogspot.my/2011/05/menghindari-perilaku-tercela-berjudi.html

7. https://oursite116e11.wordpress.com/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-perilaku-berjudi/

8. http://pengajianam2u.forumotion.net/t46-definisi-faktor-kesan-langkah-dan-contoh-perjudian

14 | P a g e
LAMPIRAN

15 | P a g e
16 | P a g e
KOLEJ VOKASIONAL SEPANG

KURSUS PENGAJIAN ISLAM


MPU 2312
_________________________________________________________________________

GARIS PANDUAN PENYEDIAN LAPORAN KAJIAN KES.

A. FORMAT PENULISAN LAPORAN KAJIAN KES.

1. MUKA HADAPAN.
LOGO
KURSUS
TAJUK
NAMA / NO KP / ANGKA GILIRAN / PROGRAM / KUMPULAN
2. PENDAHULUAN / ABSTAK
3. ISI KANDUNGAN
4. TAJUK
5. OBJEKTIF DAN METOD
6. KANDUNGAN KAJIAN
7. RUMUSAN
8. RUJUKAN
9. LAMPIRAN : BORANG SOAL SELIDIK (10 HELAI) , FORMAT LAPORAN KAJIAN KES
, TAJUK TUGASAN DAN FORMAT PEMARKAHAN.

B. SAIZ KERTAS : MENGGUNAKAN KERTAS A4 PUTIH SAHAJA DAN DICETAK


PORTRAIT
C. MUKA SURAT : PENJURU BAWAH SEBELAH KANAN.
D. TULISAN DAN SAIZ : TIMES NEW ROMAN SAIZ 12 , JARAK DI ANTARA BARIS 1.5 DAN
SETIAP BAB HENDAKLAH DIMULAKAN DENGAN MUKA SURAT
BARU.

FORMAT PEMARKAHAN.

BIL ITEM MARKAH

1 MUKA HADAPAN. 1

2 PENDAHULUAN / ABSTAK 5

3 ISI KANDUNGAN 2

4 TAJUK 2

5 OBJEKTIF DAN METOD 3

6 KANDUNGAN KAJIAN : 5 isi X 15 markah = 75

7 RUMUSAN 10

8 RUJUKAN 2

JUMLAH 100

17 | P a g e
18 | P a g e