Anda di halaman 1dari 6

MODUL 3

Muhammad Nashrul Malik (13213104)


Asisten: Novita Hartono (13212099)
Tanggal Percobaan: 31/03/2016
EL3216-Praktikum Sistem Komunikasi
Laboratorium Komputer Teknik Elektro – Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB

Abstrak
Percobaan yang dilakukan pada praktikum ini adalah melakukan pengamatan terhadap pengaruh noise terhadap sinyal
dengan menggunakan singal to noise ratio (SNR) dan eye diagram. Selain itu juga dilakukan carrier acquisition dengan
menggunkan phased-locked loop (PLL). Hasil yang diperoleh pada percobaan ini adalah nilai SNR, pengaruh frekuensi
terhadap noise, serta cara mengunci frekuensi dari suatu sinyal dengan sebuah carrier.
Kata kunci: Eye diagram, phase-locked loop, signal to noise ratio.

1. DASAR TEORI
1.1. NI ELVIS
NI ELVIS merupakan singkatan dari National Instument Educational Laboratory Virtual
Instumentation Suite. NI ELVIS dapat diguanakan untuk memberikan pengalaman praktikum pada
laboratorium dengan menggunakan komputer. Alat-alat yang dapat digunakan seperti multimeter,
power supply, osiloskop, generator sinyal, dan adder. Berikut gambar dari NI ELVIS.

Gambar 1 - Gambar NI ELVIS

1.2. SIGNAL TO NOISE RATIO


Noise merupakan suatu sinyal gangguan yang timbul dari berbagai sumber. Salah satu sumber
gangguannya yaitu dari karakter piranti elektronik, noise atau biasa kita sebut derau ini bisa di sebut
noise alami. Noise atau derau disebabkan fluktansi sejumlah pembawa muatan akibat adanya
gangguan dari energi luar, pengaruhnya akan terlihat ketika sinyal yang di gunakan cukup lemah
sehingga mengganggu pengamatan. SNR yaitu perbandingan antara sinyal asli dengan sinyal
gangguan (noise). SNR digunakan untuk melihat kualitas sinyal, SNR yang besar menandakan kualitas
sinyal yang baik.
Untuk menghitung nilai dari SNR digunaka formula berikut.
𝑉𝑠𝑔𝑛𝑅𝑀𝑆
𝑆𝑁𝑅(𝑑𝐵) = 20 log ( )
𝑉𝑛𝑜𝑖𝑠𝑒𝑅𝑀𝑆
1.3. EYE DIAGRAM
Eye diagram merupakan indicator dari kualitas transmisi digital berkecepatan tinggi. Osiloskop
menghasilkan eye diagram dengan melakukan overlay sweep dari berbagai segmen yang berbeda dari
alrian data yang pancang yang di drive oleh master clock. Karena banyaknya overlay yang dilakukan,
maka diagram yang terlihat Nampak seperti mata sehingga disebut eye diagram.

Gambar 2 – Eye diagram untuk membantu menginterpretasikan sebuah sinyal dan menentukan waktu terbaik untuk melakukan pengukuran

1.4. PHASE-LOCKED LOOP


Phase-Locked Loop (PLL) adalah sebuah blok fungsi yang dapat digunakan untuk menghasilkan clock
berdasarkan referensi juga dari sebuah clock. PLL memiliki kelebihan dibandingkan osilator pada
umumnya. Sesuai dengan namanya, bahwa mekanisme di dalam sistem PLL akan berusaha untuk
selalu mengunci relasi antara gelombang referensi dengan gelombang keluaran yang dihasilkan. Sifat
“mengunci” menyebabkan sebarang sumber frekuensi memiliki ketelitian tinggi, misalnya 1 ppm
(0,1%), dengan PLL dapat dihasilkan sebarang frekuensi keluaran dengan ketelitian 1 ppm tadi. Sistem
PLL tersusun atas 4 blok utama yaitu blok pembanding fasa, tapis ikal rendah, osilator terkendali
tegangan dan pembagi frekuensi terprogram.

2. HASIL DAN ANALISIS

2.1 EKSPERIMENT 1 – SNR AND EYE DIAGRAM


2.1.A. Adding noise to a signal
-20 dB -6 dB 0 dB

Analisis: Dari hasil yang diperoleh, terlihat bahwa noise berhasil ditambahkan pada sinyal. Apabila,
kita bandingkan ketiga sinyal yang diperoleh, terlihat bahwa semakin besar noise, maka sinyal asli
semakin tidak terlihat, hal ini tentunya tidak diharapkan.
2.1.B. Band-Limiting the Noisy Signal
-20 dB -6 dB 0 dB

Analisis: Dari hasil yang diperoleh, terlihat bahwa sinyal kini lebih tahan terhadap noise, hal ini terlihat
dari penambahan noise dengan penguatan -20 dB dan -6 dB tidak begitu memberikan efek pada sinyal.
Hal ini dikarenakan adanya LPF yang menyaring noise dengan frekuensi besar. Akan tetapi untuk noise
dengan penguatan 0 dB efeknya masih sangat terasa dan menggangu sinya.

2.1.C. Determine SNR


Signal Noise (-20 dB) Signal + Noise (-20 dB)

Signal Noise (0 dB) Signal + Noise (0 dB)

Parameter -20 dB 0 dB
Singal Voltage 1,569 V
Noise Voltage 38,11 mV 308,5 mV
SNR 41,17 5,08
SNR (dB) 32,29 14,11
Signal + Noise Voltage 1,578 V 1,576 V
Alternate SNR 38,33 5,11
Alternate SNR (dB) 31,67 14,17
Analisis: Dari hasil yang diperoleh, terlihat bahwa semakin besar nilai SNR, semakin baik sinyal yang
dihasilkan. Begitu pula sebaliknya, semakin kecil SNR makan semakin buruk sinyal.

2.1.D. Eye Diagram


Berikut hasil eye diagram pada frekuensi 2 kHz.
-20 dB -6 dB 0 dB

Analisis: Terlihat bahwa semakin besar noise yang diberikan maka SNR akan semakin kecil dan time
variation dari zero crossing semakin besar. Kedua hal tersebut menunjukkan bahwa semakin besar
noise yang diberikan maka sinyal yang diperoleh akan semakin buruk.
Pada prebandingan eye diagram -6dB pada frekuensi 2 kHz dan 4 kHz diperoleh hasil berikut.
2 kHz 4 kHz

Analisis: Dari hasil terlihat bahwa pada frekunsi 4 kHz garis semakin tebal, hal tersebut menyebabkan
SNR mengecil dan time variation dari zero crossing membesar. Hal ini menunjukkan bahwa semakin
besar frekunsi noise, maka semakin besar pula nilai distorsi yang dihasilkan.
2.2 EKSPERIMENT 2 – CARRIER ACQUISITION USING THE PHASE-LOCKED LOOP
2.2.A. Generating a 100% modulated signal
Verifikasi 8,33 kHz Setting 4 Vpp Hasil AM

Analisis: Dari grafik yang diperoleh, terhiat bahwa hasil bentuk sinyal message (hijau) memiliki bentuk
yang sama dengan sinyal message (biru), dengan demikian modulasi AM sudah dilakukan dengan
benar.

2.2.B. Acquiring the carrier using the phase-lock loop


Sinyal Awal Locked Generator 99kHz

Analisis: Pada mulanya sinyal generator dan carrier memiliki frekunsi yang berbeda. Lalu, setelah
adder module B dikurangi sampai sekitar arah jam 9 maka frekuensi generator dan carrier sama, hal
tersebut menunjukkan frekuensi telah terkunci. Kemudian ketika output generator diubah ke frekuensi
99 kHz frekuensi masih terkunci pada nilai 100 kHz, hal ini membuktikan bahwa PLL telah terkunci.
Mencari nilai minimum.
Generator 82 kHz Sinyal
Mencari nilai maksimum
Generator 116 kHz Sinyal

Lower lock frequency Higest lock frequency


82 kHz 116 kHz

Analisis: Pada percobaan ini diperoleh nilai frekuensi terendah adalah 82 kHz dan nilai frekuensi
tertinggi 116 kHz sehingg jangkauan frekuensi yang dapat dikunci adalah 82 kHz – 116 kHz.
Penguncian frekuensi ini sangat penting karena pada umumnya suatu frekunsi tidaklah sama persis
dengan nilai yang dinginkan, oleh sebab itulah dilakukan PLL.

3. KESIMPULAN
 Semakin besar noise maka distorsi semakin besar.
 SNR merupakan perbandingan sinyal asli dengan noise.
 Semakin besar nilai SNR, semakin baik mula sinyal yang diperoleh.
 Eye diagaram dapat digunakan untuk melihat seberapa besar SNR dan juga time variation dari zero
crossing.
 Semakin besar frekunsi noise, semakin besar pula distorsi yang dihasilkan.
 Untuk mendapatkan frekuensi yang sama dengan referensi digunakan PLL.
 Sinyal PLL yang diperoleh pada percobaan ini berada pada rentang 82 kHz -116 kHz.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Mauludi Husni, Emir, Petunjuk Praktikum Sistem Komunikasi, Sekolah Teknik Elektro dan
Informatika, Bandung. 2016.
[2] http://dastelkom.blogspot.co.id/2014/10/snr-signal-noise-ratio.html, diakses pada tanggal 5
April 2016 pukul 4.29.
[3] http://www.edn.com/design/test-and-measurement/4389368/Eye-Diagram-Basics-Reading-
and-applying-eye-diagrams, diakses pada tanggal 5 April 2016 puku 4.36.
[4] http://elektronika-dasar.web.id/definisi-dan-prinsip-kerja-phase-locked-loop-pll-pada-motor-
dc, diakses pada tanggal 5 April 2016 puku 4.58.