Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Proses keperawatan merupakan metode ilmiah yang digunakan dalam memberi


asuhan keperawatan klien pada semua tatanan pelayanan kesehatan. Khususnya di
Indonesia, proses keperawatan merupakan pendekatan yang disepakati untuk
meningkatnkan mutu keperawatan. Namun, pada kenyataannya banyak perawat
merasa terbabani dalam melaksanakan dan mendokumentasikan asuhan keperawatan
dengan menggunakan proses keperwatan.

Melalui evaluasi dokumentasi keperawatan pada beberapa rumah sakit umum,


ditemukan bahwa kemampuan perawat menuliskan asuhan keperawatan dengan
menggunakan proses keperawatan yang memenuhi kriteria, rata-rata kurang dari 60%.

Proses keperawatan di rumah sakit jiwa, memiliki masalah yang sama dengan
rumah sakit umum. Hasil evaluasi terhadap dokumentasi keperawatan pada dua rumah
sakit jiwa yang besar, ditemukan kurang dari 40% yang memenuhi kriteria.

Proses keperawatan merupakan metode ilmiah dalam menjalankan asuhan


keperawatan dan penyelesaian masalah secara sistematis yang digunakan oleh perawat
serta peserta didik keperawatan. Penerapan proses keperawatan dapat meningkatkan
otonomi, percaya diri, cara berfikir logis, ilmiah dan sistematis, memperlihatkan
tanggung jawab dan tanggung gugat, serta pengembangan diri perawat. Di samping
itu, klien dapat merasakan mutu pelayanan keperawatan yang lebih baik dan berperan
aktif dalam perawatan diri, serta terhindar dari malpraktik.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi asuhan keperawatan?
2. Pengkajian keperawatan?
3. Diagnose keperawatan?
4. Perencanaan keperawatan?
5. Implementasi keperawatan?
6. Evaluasi keperawatan?
7. Asuhan keperawatan teori?
1
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi asuhan keperawatan
2. Untuk mengetahui tentang Pengkajian keperawatan
3. Untuk mengetahui tentang Diagnose keperawatan
4. Untuk mengetahui tentang Perencanaan keperawatan
5. Untuk mengetahui tentang Implementasi keperawatan
6. Untuk mengetahui tentang Evaluasi keperawatan
7. Untuk mengetahui tentang Asuhan keperawatan teori

D. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Sebagai bahan pembelajaran dan pengetahuan bagi mahasiswa tentanag konsep
Asuhan keperawatan sehingga dapat meningkatkan wawasan bagi mahasiswa.
2. Bagi Institusi
Sebagai pengetahuan atau sumber informasi bagi tenaga kesehatan tentang
konsep
Asuhan keperawatan
3. Bagi pembaca
Pembaca dapat mengetahui dan menguasai tentang konsep Asuhan
keperawatan

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Asuhan Keperawatan

Asuhan keperawatan adalah tindakan mandiri perawat profesional atau


ners melalui kerjasama yang bersifat kolaboratif baik dengan klien maupun tenaga
kesehatan lain dalam upaya memberikan asuhan keperawatan yang holistik sesuai
dengan wewenang dan tanggung jawabnya pada berbagai tatanan pelayanan,
termasuk praktik keperawatan individu dan berkelompok.

Praktek keperawatan profesional dengan ciri praktek yang didasari dengan


keterampilan intelektual, teknikal, interpersonal dapat dilaksanakan dengan menerapkan
suatu metode asuhan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Metode asuhan
untuk praktek profesional tersebut adalah proses keperawatan, suatu rangkaian asuhan
yang terdiri dari pengkajian, menyusun diagnosis keperawatan, perencanaan tindakan,
implementasi, dan evaluasi Metode pemberian asuhan keperawatan yang terorganisir dan
sitemik, berfokus pada respon yang unik dari individu atau kelompok individu terhadap
masalah kesehatan yang aktual dan potensial (Keliat, 2010).

B. Pengkajian
1. Pengertian Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu
proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk
mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien. Pengkajian yang akurat,
lengkap, sesuai dengan kenyataan, kebenaran data sangat penting dalam merumuskan
suatu diagnosa keperawatan dan memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan
respon individu sebagaimana yang telah ditentukan dalam standa praktik keperawatan
dari ANA (American Nurses Association) (Handayaningsih, 2007).
2. Tujuan
Yaitu mengumpulkan, mengorganisasikan, dan mencatat data-data yang
menjelaskan respon tubuh manusia yang diakibatkan oleh masalah kesehatan.
Pencatatan pengkajian keperawatan bertujuan mengidentifikasi kebutuhan unik klien
dan respon klien terhadap masalah/diagnosis keperawatan yang akan mempengaruhi
layanan keperawatan yang akan diberikan, mengonsolidasikan dan

3
mengorganisasikan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber ke dalam sumber
yang bersifat umum sehingga pola kesehatan klien dapat dievaluasi dan masalahnya
dapat teridentifikasi, menjamin adanya iformasi dasar yang berguna yang
memberikan referensi untuk mengukur perubahan kondisi klien, mengidentifikasi
karakteristik unik dari kondisi klien dan responnya yang mempengaruhi perencanaan
keperawatan dan tindakan keperawatan, menyajikan data yang cukup bagi kebutuhan
klien untuk tindakan keperawatan; menjadi dasar bagi pencatatan rencana
keperawatan yang efektif (Ali, 2009).
Merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan yang perlu
dilakukan perawat : mengkaji data dari klien dan keluarga tentang tanda-tanda dan
gejala serta faktor penyebab, memvalidasi data, mengelompokkan data dan
menetapkan masalah klien. Data yang didapat digolongkan menjadi dua :
a. Data subjektif, data yg disampaikan secara lisan, oleh klien dan keluarga, didapat
melalui Wawancara oleh perawat terhadap klien dan keluaga
b. Data objektif, data yang ditemukan secara nyata, melalui. Observasi/pemeriksan
langsung oleh perawat.

Bagian-bagian pengkajian:
1) Identitas klien
Meliputi nama, umur, alamat, pekerjaan, tanggal dirawat, tanggal
pengkajian, no RM, ruang rawat, sumber informasi, alasan masuk.
2) Keluhan utama / alasan masuk
Singkat dan jelas, 2 atau 3 kata yang merupakan keluhan yang membuat
pasien meminta bantuan kesehatan. Jika pengkajian dilakukan setelah beberapa
hari pasien MRS maka keluhan utama diisi dengan keluhan yang dirasakan saat
pengkajian. Misalnya: keluhan utama pada pasien dengan gangguan sistem
pernafasan: sesak nafas, batuk.
3) Faktor predisposisi(riwayat penyakit lalu)
Penyakit berat yang pernah diderita : akut, kronis atau fraktur ( semua riwayat
penyakit yang pernah di derita, operasi ).
Obat-obat yang biasa dikonsumsi : obat dengan resep atau dengan bebas atau
herbal ( sebutkan jenis dan kegunaannya)
Kebiasaan berobat : pelayanan kesehatan dan non tenaga kesehatan.
Alergi ( makanan, minuman, obat, udara, debu, hewan) sebutkan :
Kebiasaan merokok, minuman(penambah energy, suplemen
4
makanan/minuman,alkohol), makanan siap saji.
4) Faktor Presipitasi(riwayat penyakit sekarang)
Provokatif Qualitas Regio Skala Time ( analisis gejala keluhan utama
yang meliputi awitan, waktu, durasi, karakteristik, tingkat keparahan, lokasi,
faktor pencetus, gejala yang berhubungan dengan keluhan utama, dan faktor
yang menurunkan keparahan). Merupakan penjelasan dari permulaan klien
merasakan keluhan sampai di bawa ke pelayanan kesehatan. Jika pengkajian
dilakukan beberapa hari setelah pasien rawat inap, maka riwayat penyakit
sekarang ditulis dari permulaan pasien merasakan keluhan sampai kita
melakukan pengkajian.
5) Riwayat Kesehatan Keluarga
Penyakit yang dialami satu anggota keluarga, bila merupakan penyakit
keturunan, mengkaji 3 generasi ke atas. Mencangkup setiap kelainan genetic
keluarga (HT, DM) /penyakit dengan kecenderungan keluarga (cancer), penyakit
menular ( TBC,Hepatitis, HIV/AIDS ), gangguan psikiatrik ( skizofrenia ) dan
penyalah gunaan obat. Genogram :Genogram dituliskan dalam 3 generasi keatas.
6) Riwayat Kesehatan Lingkungan
Khusus untuk penyakit infeksi/ penyakit yang disebabkan oleh kondisi
lingkungan. Identifikasi lingkungan rumah/ keluarga, pekerjaan atau hobi klien (
yang berhubungan dengan penyakit klien ), fokuskan pada adanya paparan yang
menyebabkan penyakit tersebut (debu, asbestosis, silica atau zat racun lainnya)
tanyakan keadaan lingkungan klien, lingkungan yang penuh (crowded) resiko
peningkatan infeksi pada saluran pernafasan seperti TBC, Virus dll.

7) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan adalah proses inspeksi tubuh dan sistem tubuh guna
menentukan ada/tidaknya penyakit yang didasarkan pada hasil pemeriksaan fisik
dan laboratorium. Cara pendekatan sistematis yang dapat digunakan perawat
dalam melakukan pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan dari ujung rambut
sampai ujung kaki (head to toe) dan pendekatan sistem tubuh (review of system).
Pemeriksaan fisik dilakukan dengan menggunakan empat metode, yakni
inspeksi, auskultasi, perkusi, dan palpasi.

Tanda-tanda Vital, TB dan BB, Suhu : ……°C (SUHU. axial, rectal,


oral) N : …. x/menit ( NADI. teratur, tidak teratur, kuat, lemah) TD :
…../…..mmHg (lengan kiri, lengan kanan, berbaring, duduk) RR : ….x/menit
5
(regular/ irregular) TB : … cm BB : …. Kg ( cara menghitung berat badan
ideal : TB -100 ( ± 10% dari hasil ).
a) Inspeksi.
Secara sederhana, inspeksi didefinisikan sebagai kegiatan melihat
atau memperhatikan secara seksama status kesehatan klien.
b) Auskultasi.
Auskultasi adalah langkah pemeriksaan fisik dengan menggunakan
stetoskop yang memungkinkan pemeriksa mendengar bunyi keluar dari
rongga tubuh pasien. Auskultasi dilakukan untuk mendapatkan data tentang
kondisi jantung, paru, dan saluran pencernaan.
c) Perkusi.
Perkusi atau periksa ketuk adalah jenis pemeriksaan fisik dengan
cara mengetuk secara pelan jari tengah menggunakan jari yang lain untuk
menentukan posisi, ukuran, dan konsistensi struktur suatu organ tubuh.
d) Palpasi.
Palpasi atau periksa raba adalah jenis pemeriksaan fisik dengan cara
meraba atau merasakan kulit klien untuk mengetahui struktur yang ada
dibawah kulit
8) Status mental
Dalam dunia psikologi dan psikiatri, dikenal istilah status mental. Status
mental adalah keadaan yang menggambarkan alam pikiran, sikap, perilaku,
ucapan, proses pemikiran, persepsi, dan kognisi pasien. Segala sesuatu tentang
status mental ini secara umum digunakan untuk penegakan diagnosis dan
tatalaksana gangguan jiwa. Cara memperoleh status mental ini ialah dengan
pemeriksaan status mental.
9) Mekanisme koping
Mekanisme koping adalah suatu pola untuk menahan ketegangan yang
mengancam dirinya (pertahanan diri/maladaptif) atau untuk menyelesaikan
masalah yang dihadapi (mekanisme koping/adaptif). Adanya masalah-masalah
yang mengancam pribadi dan kehidupan akan memunculkan reaksi adaptif atau
maladaptif, dimana masalah tersebut akan memunculkan kecemasan pada
individu. Pada kecemasan ringan, maka mekanisme koping yang dipergunakan
masih dalam taraf normal atau adaptif/positif. Ketika kecemasan menjadi
kecemasan sedang atau lebih/hebat, maka kecemasan tersebut seringkali
dihadapi dengan 2 tipe mekanimse koping yaitu reaksi atas orientasi tugas
6
(menyelesaikan masalah) dan mekanisme pertahanan ego (tanpa kesadaran dan
pemikiran yang tidak rasional/maladaptif/negatif).

C. Diagnosa Keperawatan
1. Pengertian Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis mengenai pengalaman/respon
individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan yang aktual atau
potensial. Diagnosis keperawatan memberi dasar pemilihan intervensi keperawatan
untuk mencapai hasil akhir sehingga perawat menjadi akuntabel (NANDA (North
American Nursing Dianosis Association), 2012)
Merupakan suatu pernyataan masalah keperawatan. Klien yang mencakup baik
respon sehat adaptif atau maladaptif serta stressor yang menunjang (Stuart &
Sundeen, 2013)
Penetapan Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan. : Penilaian atau
kesimpulan yang diambil dari pengkajian : Masalah kesehatan aktual atau potensial
yang mampu diatasi oleh perawat berdasarkan pendidikan dan pengalamannya :
identifikasi atau penilaian terhadap pola respon klien baik aktual maupun potensial (
stuart, 2013).
Menurut Asmadi (2008) diagnosa keperawatan ada tiga tipe yaitu :
1. Diagnosa keperawatan aktual, yaitu diagnosa keperawatan yang menjelaskan
masalah kesehatan yang nyata terjadi saat ini dan benar-benar faktual, sesuai
dengan data klinis yang diperoleh.
2. Diagnosa keperawatan risiko, yaitu diagnosa keperawatan yang menjelaskan
masalah kesehatan yang berpeluang besar akan terjadi jika tidak dilakukan
tindakan keperawatan. Pada diagnosa ini masalah belum ada secara pasti, namun
etiologi penunjangnya sudah ada.
3. Diagnosa keperawatan potensial, yaitu diagnosa keperawatan yang menjelaskan
tetang keadaan sejahtera (wellness), yakni ketika klien memiliki potensi untuk
lebih meningkatkan derajat kesehatanya dan belum ada data maladaptif atau
paparan terhadap masalah kesehatan sebelumnya.
2. Tujuan Diagnosa Keperawatan
a) Masalah/adanya respon klien terhadap status kesehatan atau penyakit.
b) Faktor‐faktor yang menunjang atau menyebabkan suatu masalah.
c) Kemampuan klien untuk mencegah atau menyelesaikan masalah.

7
D. Perencanaan
1. Pengertian Perencanaan

Perencanaan ini adalah membuat prioritas urutan diagnosa keperawatan,


merumuskan tujuan, merumuskan kriteria evaluasi, dan merumuskan intervensi
keperawatan.

Rencana tindakan keperawatan terdiri dari 3 aspek yaitu : tujuan umum, tujuan
khusus, kriteria evaluasi dan rencana . Tujuan umum : hasil tindakan berupa
kemampuan akhir yang hendak tindakan keperawatan. Tujuan khusus : tujuan dicapai
(jika serangkaian tujuan khusus telah tercapai) jangka pendek sampai dengan tujuan
jangka panjang tercapai. Rumusan tujuan khusus berupa pernyataan kemampuan
pasien mengatasi masalah.

Kriteria evaluasi : perubahan perilaku yang “observable” untuk setiap pencapai


tujuan khusus. Bentuk rumusan : tanda dan gejala tercapainya masing-
masing Tindakan tujuan khusus keperawatan: serangkaian tindakan yang harus
dilaksanakan oleh perawat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Setiap tujuan
khusus dicapai dengan satu atau lebih tindakan keperawatan. Tindakan keperawatan
durumuskan dalam bentuk kalimat perintah

Untuk menetapkan tujuan umum dan khusus, perawat perlu memiliki


kemampuan

Rencana tindakan keperawatan berfikir kritis dan bekerja sama dengan klien
dan keluarga Merupakan serangkaian tindakan yang dapat mencapai tiap tujuan
khusus. Perawat dapat Rencana tindakan keperawatan memberikan alasan ilmiah
mengapa tindakan tersebut diberikan. disusun berdasarkan standar asuhan
keperawatan. Jiwa Indonesia (Depkes, 2008), berupa tindakan konseling, pendidikan
kesehatan, perawatan mandiri/ADL, tindakan kolaborasi.

E. Implementasi
1. Pengertian Implementasi

Implementasi adalah tahap ketika perawat mengaplikasikan asuhan


keperawatan ke dalam bentuk intervensi keperawatan guna membantu klien mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Kemampuan yang harus dimiliki perawat pada tahap

8
implementasi adalah kemampuan komunikasi yang efektif, kemampuan untuk
menciptakan hubungan saling percaya dan saling bantu, kemampuan melakukan
teknik psikomotor, kemampuan melakukan observasi sistematis, kemampuan
memberikan pendidikan kesehatan, kemampuan advokasi, dan kemampuan evaluasi
(Asmadi, 2008)

Intervensi keperawatan berlangsung dalam tiga tahap. Fase pertama merupakan


fase persiapan yang mencakup pegetahuan tentang validasi rencana, implementasi
rencana, persiapan klien dan keluarga. Fase kedua merupakan puncak implementasi
keperawatan yang berorientasi pada tujuan. Pada fase ini, perawat menyimpulkan data
yang dihubungkan dengan reaksi klien. Fase ketiga merupakan terminasi perawat-
klien setelah implementasi keperawatan selesai dilakukan (Asmadi, 2008)

Tindakan keperawatan (implementasi) dilakukan berdasarkan rencana yang


telah dibuat. Tindakan keperawatan yang telah dibuat dan dilakukan sesuai dengan
kebutuhan dan kondisi klien saat ini. Perawat bekerja sama dengan klien, keluarga, tim
kesehatan lain dalam melakukan tindakan keperawatan (Stuart, 2013)

F. Evaluasi
1. Pengertian Evaluasi

Evaluasi adalah suatu proses penilaian berkesinambungan tentang pengaruh


intervensi keperawatan dan program pengobatan terhadap status kesehatan klien dan
hasil kesehatan yang diharapkan (Stuat, 2013).

Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan


perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir yang teramati dan
tujuan atau kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi dilakukan
secara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya. Jika
hasil evaluasi menunjukan tercapainya tujuan dan kriteria hasil, klien bisa keluar dari
siklus proses keperawatan. Jika sebaliknya, klien akan masuk kembali ke dalam siklus
tersebut mulai dari pengkajian ulang (reassessment) (Asmadi, 2008).
2. Tujuan Evaluasi

a. Untuk menentukan perkembangan kesehatan klien


b. Untuk menilai efektifitas, efisiensi dan produktifitas asuhan keperawatan yang
diberikan
c. Untuk menilai pelaksanaan asuhan keperawatan
9
d. Sebagai umpan balik untuk memperbaiki atau menyusun siklus baru dalam proses
keperawatan
e. Menunjang tanggung gugat dan tanggung jawab dalam pelaksanaan keperawatan

3. SOAP, API, TAK


a) SOAP
S: Respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah
dilaksanakan
O: Respon objektif klien terhadap tindakan keperawatan.yang telah
dilaksanakan
A: Analisa terhadap data subjektif daan objektif untuk menyimpulkan apakah
masalah masih ada atau telah teratasi atau muncul masalah baru
P: Perencanaan tindak lanjut berdasarkan hasil analisa respon klien

b) Analisis Proses Interaksi (Api)


1. Definisi
Analisis proses interaksi (API) adalah suatu alat kerja yang dipakai
oleh perawat untuk memahami interaksi yang terjadi antara perawat
dengan pasien. API ini adalah merupakan alat untuk mengevaluasi
pelaksanaan tindakan keperawatan yang telah direncanakan dalam
Laporan Pendahuluan Strategi Pelaksanaan (LPSP). Pada LPSP, perawat
sudah merencanakan berbagai pertanyaan untuk mengkaji atau bahkan
melaksanakan intervensi keperawatan. Sementara itu, pelaksanaan
kegiatan ini ditulis dalam analisis proses interaksi.
Beberapa komponen yang harus ditulis dalam API adalah
komunikasi verbal, komunikasi nonverbal perawat dan pasien, analisis
berpusat pada perawat, dan analisis berpusat pada pasien. Setelah itu,
berikan alasan perawat melakukan tindakan berupa komunikasi verbal dan
nonverbal di atas, serta temukan masalah pasien dari apa yang terjadi
dengan pasien selama wawancara. Jelaskan alasan rasional teknik
terapeutik yang dilakukan oleh perawat. Dengan demikian, API adalah
merupakan alat evaluasi dari kemampuan terapeutik perawat.

10
2. Tujuan

a. Meningkatkan keterampilan komunikasi.

b. Meningkatkan kepekaan perawat terhadap kebutuhan pasien.

c. Mempermudah perkembangan dan perubahan pendekatan perawat.

d. Memberi dasar pembelajaran, yang berarti bahwa API merupakan alat


untuk mengkaji kemampuan perawat dalam berinteraksi dengan
pasien dan menjadi data bagi pembimbing klinik atau supervisor
untuk memberi arahan.

e. Membantu perawat dalam penerapan proses keperawatan.

CONTOH ANALISIS PROSES INTERAKSI

Inisial Pasien : ……… Nama Mahasiswa : ………….

Status interaksi perawat-pasien : ……… Tanggal : ………….

Lingkungan : ……… Waktu : ………….

Deskripsi Pasien : …………… Tempat : ………….

……………..

Tujuan Interaksi : ……………………

Komunikasi Komunikasi Analisis Berpusat pada Analisis Berpusat pada Rasional


verbal Nonverbal Perawat Pasien

P: P:

K: K:

K:

P:

11
Kesan perawat:

Petunjuk Pengisian analisis Proses interaksi

1. Inisial pasien Tulis inisial bukan nama lengkap.

2. Status interaksi Pertemuan keberapa dengan pasien atau pada fase apa saat
berhubungan dengan pasien.

3. Lingkungan Tempat interaksi, situasi tempat interaksi, serta posisi perawat dan pasien.

4. Deskripsi pasien Penampilan umum pasien.

5. Tujuan Tujuan yang akan dicapai dalam interaksi saat itu. Tujuan ini berpusat pada
pasien dan terkait dengan proses keperawatan pasien.

6. Komunikasi verbal Ucapan verbal perawat dan pasien (apa yang diucapkan oleh
perawat dan apa yang didengar pasien).

7. Komunikasi nonverbal Sikap, gerakan, arah/pandangan mata, serta ekspresi wajah


pasien dan perawat pada saat bicara atau pada saat mendengar

8. Analisis berpusat pada perawat Analisis bisa terdiri atas komponen sebagai berikut.

a. Perasaan sendiri Waspada terhadap respons perasaan sendiri, apa dan mengapa
perasaan itu bisa muncul. Bagaimana perasaan perawat dipengaruhi oleh pasien.

b. Tingkah laku nonverbal Kenali dan analisis tingkah laku nonverbal diri sendiri.

c. Isi pembicaraan yang muncul dan terselubung Kenali dengan menggunakan teknik
komunikasi.

d. Tujuan interaksi

a) Perawat berperan sebagai apa? Pasien sebagai apa?

b) Apa anggapan perawat terhadap kejadian yang ada?

c) Bagaimana seharusnya mereka berinteraksi?

d) Bagaimana pengaruh proses interaksi pada mereka?

e) Apakah ada yang perlu diubah? Jika perlu mengapa?

12
f) Apakah interaksi ini mempengaruhi tujuan dan renacana interaksi yang akan
datang?

e. Mengubah intervensi Setelah perawat mendiskusikan komunikasinya, ajukan


perubahan intervensi yang mungkin lebih efektif dan gunakan teori yang
mendukung.

9. Analisis berpusat pada pasien Analisis bisa terdiri atas komponen sebagai berikut.

a. Tingkah laku nonverbal: kenali dan analisis tingkah laku nonverbal pasien.

b. Isi pembicaraan yang muncul dan terselubung.

c. Perasaan pasien

a) Temukan dan cari arti tingkah laku pasien.

b) Identifikasi dan diskusikan keadaan perasaan pasien.

c) Ketahui perasaan pasien dipengaruhi oleh perawat.

d. Kebutuhan pasien Cari kebutuhan pasien dengan menggunakan data dari interaksi
yang baru terjadi, interaksi sebelumnya, riwayat pasien, dan teori.

10. Rasional Merupakan sintesis dan terapan teori pada proses interpersonal. Berikan
alasan teoretis intervensi Anda, tunjukkan peningkatan kemampuan dalam
mendiskusikan tingkah laku pasien dengan teori psikodinamika, teori adaptasi, dan
teori lainnya. Gunakan teori komunikasi, komunikasi terapeutik, teori interpersonal,
dan berbagai teknik komunikasi terapeutik.

c) TAK
TAK orientas realitas menurut Purwaningsih dan Karlina (2009) adalah
pendekatan untuk mengorientasikan klien terhadap situasi nyata (realitas).
Tujuan TAK orientasi realitas
Tujuan umum TAK orientasi realitas adalah klien mampu mengenali
orang, tempat, dan waktu dan tujuan khususnya (Keliat dan Akemat, 2005)
adalah:
a. Klien mampu mengenal tempat ia berada dan pernah berada.
b. Klien mampu mengenal waktu dengan tepat.

13
c. Klien dapat mengenal diri sendiri dan orang-orang disekitarnya dengan
tepat.

14
G. Askep Teori

PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

Setiap melakukan pengkajian, tulis tempat klienm dirawat dan tanggal dirawat

I. IDENTITAS
1. Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak dengan klien
tentang nama, perawat, nama klien,panggilan perawat, tujuan, waktu, tempat
peremuan, topic yang akan dibicarakan.
2. Usia dan NO.RM lihat RM
3. Alamat
4. Pekerjaan
5. Mahasiswa menuliskan sumber data/informasi
II. ALASAN MASUK
Tanyakan pada klien/keluarga
1. Apa yang menyebabkan klien/keluarga dating keruah sakit saat ini?
2. Bagaimana gambran gejala tersebut?
III. FAKTOR PREDISPOSISI
1. Tanyakan riwayat timbulnya gejala gangguan saat ini
2. Tanyakan penyebab munculnya gejala tersebut\
3. Apa saja yang sudah dilakukan keluarga oleh keluargan mengatasi masalah ini ?
4. Bagaimana hasilnya?
IV. FAKTOR PREDISPOSISI
 RIWAYAT PENYAKIT MASA LALU
1. Tanyakan kepada klien/keluarga apakah klien pernah mengalami gangguan
jiwa dimasa lalu, bila ya beri tanda 3 pada kotak ya dan bila tidak beri tanda 3
pada kotaktidak
2. Apabila pada point 1 ya, maka tanyakan bagaimana hasil pengobatan
sebelumnya. Apakah dia dapat beradaptasi dimasyarakat tanpa ada gejala-
gejala gangguan jiwa maka diberi tanda 3 pada kotak berhasil. Apabila dia
dapat beradaptasi tapi masih ada gejala-gejala sisa maka diberi tanda 3 pada
kotak kurang berhasil. Apabila tidak ada kemajuan atau gejala-gejala
bertambah atau menetap maka diberi tanda 3 pada kotak tidak berhasil
3. Tanyakan apakah klien pernah mengalami gangguan fisik atau penyakit
termasuk gangguan pertumbuhan dan perkembangan
15
 RIWAYAT PSIKOSOSIAL
1. Tanyakan pada klien apakah klien pernah melakukan dan atau mengalami dan
atau menyaksikan penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan,
kekerasan dari keluarga dan tindakan kriminal. Diberi tanda 3 sesuai dengan
penjelasan klien atau keluarga apakah klien sebagai pelaku dan atau korban,
dan atau saksi, maka diberi tanda 4 pada kotak pertama. Isi usia saat kejadian
pada kotak ke 2. Jika klien pernah mengalami pelaku dan jelas tentang
kejadian yang dialami klien.
2. Tanyakan pengalaman masalalu lain yang tidak menyenanagkan baik bio,
psiko,sosial, cultural,sprritual seperti (kegagala, kehilan atau
perpisahan,kematian,trauma selama tumbuh kembang) yang pernah dialami
klien pada masalalu.
3. Bagaimana kesan kepribadian klien?
 RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
1. Tanyakan pada kilen/keluarga apapakha ada anggotakeluarga lainnya yang
mengalami gangguan jiwa, jika ada beri tanda 3 pada kotak ya dan jika tidak
beri tanda 3 pada kotak tidak. Apabila ada anggota keluarga lain yang
mengalami gamgguan jiwa maka tanyakan bagaimana hubungan klien dengan
anggoata keluarga terdekat tanyaka apa gejala yang dialami serta riwayat
pengobatan dan perawatan yang pernah diberikan pada anggoata keluarga
tersebui. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data
V. STATUS MENTAL
Beri tanda 3 pada kotak sesuai dengan keadaan klien boleh lebih dari satu :
1. Penampilan
data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat/ keluarga
a. Penampilan tidak rapi jika dari ujung rambut sampai ujung kaki ada
yang tidak rapi.
Misalnya: rambut acak acakan, kancing baju tidak tepat,
resleting tidak di kunci, baju terbalik , baju tidak dig anti ganti.
b. Penggunaan pakaian tidak sesuai. Misalnya: pakaian dalam di pakai
diluar baju
c. Cara pakaian tidak seperti biasanya jika penggunaan pakaian tidak
tepat(waktu, tempat identitas,situasi/kondisi
d. Jelaskan hal hal yang di tampilkan klien dan kondisi lain yang tidak
tercantum
16
e. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data
2. Kesadaran
 Kuantitatif atau penurunan kesadaran
a. Komposmentis :sadarkan diri.
b. Apatis: individu mulai mengantuk acuh tak acuh terhadap
rangsangan, yang masuk, diperlukan rangsangan yang kuat untuk
menarik perhatian.
c. Somnolensia: jelas sudah mengantuk, diperlukan rangsangan yang
kuat lagi untuk menarik perhatian.
d. Spoor: ingatan, orientasi dan pertimbangan sudah hilang.
e. Subkoma dan koma: tidak ada respon terhadap rangsangan yang
keras.
 Kualitatif
a. Tidak berubah: mampu mengadakan hubungan dan pembatasan
dengan lingkungannya dengan dirinya (sesuai dengan kenyataan)
b. Berubah: tidak mampu mengadakan hubungan dan pembatasan
dengan lingkungannya dan dirinya pada taraf tidak sesuai dengan
kenyataan
c. Gangguan tidur: dapat berubah insomnia somnambulisme,
nightmare, narkolepsi.
d. Meninggi: keadaan dengan respon yang meninggi terhadap rangsang
seperti suara terasa lebih keras warna terlihat lebih tenang dan lain-
lain.
e. Hipnosa: kedaran yang sengaja diubah menurun/meneyempit.
f. Disosiasi: tidak laku/kejadian yang memisahkan dirinya secara
psikologi dengan kesadarannya, contoh: transfuge dan lain-lain.
3. Orientasi waktu, tempat dan orang jelas
data objektif dan subjektif terkait hal-hak diatas masalah keperawatan
sesuai dengan data/
4. Aktivitas motorik’
Data ini didapat kan melalui hasil observasi perawat atau keluarga
 Kelambatan
a. Hipokinesa, hipoaktivitas: gerakan atau aktivitas yang berkurang
b. Substupor katatonik: reaksi terhadap lingkungan sangat berkurang
gerakan dan aktiivitas menjadi lambat
17
c. Katalepsi: mempertahankan secara kaku posisi badan tertentu juga bila
hendak diubah orang lain.
d. Flesibilitas serea: mempertahankan posisi yang dibuat orang lain.
 Peningkatan
a. Hiperkinesa, hiperaktivitas: gerakan atau aktivitas yang berlebihan.
b. Gaduh gelisah katonik: aktivitas motorik yang tidak bertujuan
yang berkali kali seakan tidak dipengaruhi rangsangan luar.
c. Tik: gerakan infolunter sekejab dan berkali-kali mengenal
sekelompok oto yang relative kecil
d. Gimace: gerakan otot muka yang berubah ubah yang tidak dapat
dikontrol.
e. Tremor: jari-jari yang tampak gemetar ketika klien menjujurkan
tangan.
f. Tempulsif: kegiatan yang dilakukan berulang ulang, seperti
berulang kali mencuci tangan dan mencuci muka, mandi,
mengeringkan badan.
g. Mersm: gerakan steretipe dan testrisi (seperti berupa sandiwara
h. Ekhopraksia : meniru gerakan orang lain pada saat dilihatnya.
i. Verbegasi : berkali-kali mengucapkan sebuah kata yang tidak
tercantum.
j. Jelaskan aktivitas yang ditampilkan klien dan kondisi lain yang
tidak tercantum. Masalah keperawatan ditulis sesuai data.
5. Afek- emosi
Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat atau keluarga

a. Adekuat : afek emosi yang sesuai dengan stimulus yang ada


b. Inadekuat : emosi yang tidak sesuai atau bertentangan dengan stimulus
yang ada
c. Datar / dangkal : tidak ada perubahan roman muka pada saat ada stimulus
yang menyenangkan dan menyedihkan.
d. Tumpul : hanya bereaksi bila ada stimulus emosi yang kuat
e. Labil : emosi yang cepat berubah-ubah.
f. Anhedonia: ketidak mampuan merasakan kesenangan
g. Kesepian: mersakan dirinya dtinggalkan
h. Eforia: merasa gembira yang berlebihan

18
i. Ambivalensi: afek emosi yang berlawanan timbul bersama sama terhadap
seseorang, obyek atau sesuatu hal.
j. Apati: berkurangnya afek emosi terhadap sesuatu atau semua hal di sertai
rasa terpencil dan tidak perduli
k. Marah: sudah jelas
l. Depresif atau sedih: seperti perasaan susah, tak berguna, gagal, putus asa
dsb
m. Cemas: perasaan kawatir yang tidak jelas objeknya, sebutkan tingkatnya
n. Jelaskan hal hal yang tidak tercantum
o. Masalah keperawatan di tulis sesuai dengan data
6. presepsi
a. apakah ada halusinasi? Kalau ada jenis apa?
b. apakah ada ilusi ? kalau ada deskripsikan.
 Jenis-jenis halusinasi sudah jelas
 Jelaskan isi halusinasi, frekuensi gejala yang tampak pada saat klien
berhalusinasi
 Masalah keperawatan sesuai data
c. apakah ada depersonalisasi : perasaan aneh tentang dirinya atau perasaan
bahwa pribadinya tidak seperti biasanya tidak menurut kenyataan.
d. derealisasi : perasaan aneh tentang lingkungannya dan tidak menurut
kenyataan
Jelaskan hal hal yang tidak tercantup
Masalah keperawatan di tulis sesuai dengan data
7. proses pikir
Data diperoleh dari observasi pada saat wawancara
a. koheren : kalimat atau pembicaraan dapat dipahami dengan baik
b. inkoheren : kalimat tidak terbentuk, pembicaraan sulit dipahami
c. sirkumstansial : pembicaraan yang terbelit-belit tapi sampai tujuan
pembicaraan
d. tangensial : pembicaraan yang terbelit-belit tapi tidak sampai pada
tujuan
e. esosiasi longgar : pembicaraan tak ada hubungan satu kalimat dengan
kalimat lainnya, dan klien tidak menyadarinya

19
f. flight of ideas : pembicaraan yang melompat dari satu topik ke topik
lainnya masih ada hubungan yang tidak logis dan tidak sampai pada
tujuan
g. bloking : pembicaraan terhenti tiba-tiba tanda gangguan eksternal
kemudia dilanjutkan kembali
h. perseferasi : berulang-ulang menceritakan suatu ide, tem secara
berlebihan
i. logorea : pembicaraan cepat tidak terkontrol
j. neulogisme : membentuk kata- kata baru yang tidak dipahami oleh
umum
k. irelevensi : ucapan yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaan
atau dengan hal yang sedang dibicarakan.
8. memori
Data diperoleh melalui wawancara

a. Gangguan daya ingat jangka panjang : tidak dapat mengingat kejadian


yang terjadi lebih dari 1 bulan.
b. Gangguan daya ingta jangka pendek : tidak dapat mengingat kejadian
yang terjadi dalam minggu terakhir
c. Gangguan daya ingat saat ini : tidak dapat mengingat kejadian yang baru
saja terjadi.
d. Amnesia : sebutkan macamnya amnesia retrograde atau anterograde.
e. Paramnesia : ingatan yang keliru karena distorsi pemanggilan kembali :
 De javu : seperti sudah pernah melihat sesuatu tapi sebenarnya belum
 Jamais vu : seperti belum pernah melihat sesuatu tapi sebenarnya sudah
 Konfabulasi : secara tidak sadar mengisi lubang lubang dalam ingatannya
dengan cerita yang tidak sesuai dengan kenyataan
 Fasse reconnaissance : pengenalan kembali yang keliru, merasa bahwa
itu benar tetapi sesungguhnya tidak benar
f. Hipermnesia : penahanan dalam ingatan dan pemanggilan kembali yang
berlebihan.
9. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Data diperoleh melalui wawancara

a. Mudah dialihkan : Perhatian klien mudah berganti dan' satu obyek Ice
obyek lain
20
b. Tidak mampu berkonsentasi : Klien selalu minta agar pertanyaan
diulang/ tidak dapat menjelaskan kembali pemblcaraan
c. Tidak mampu berhitung : Tidak dapat melakukan penambahan /
pengurangan pada benda-benda nyata
10. kemampuan penilaian
a. Ganguuan kemampuan penilaian ringan : dapat mengambil keputusan
yang sederhana dengan bantuan orang lain. Contoh: berikan kesempatan
pada klien untuk memilih mandi dulu sebelum makan atau makan dulu
sebelum mandi. Jika diberi penjelasan, klien dapat mengambil keputusan.
b. Gangguan kemampuan penilaian bermakna : tidak mampu mengambil
keputusan walau dibantu orang lain. Contoh : berikan kesempatan pada
klien untuk memilih mandi dulu sebelum mandi. Jika diberi penjelasan
klien tidak mampu mengambil keputusan.
11. daya tilik diri / insight
Data diperoleh dari wawancara

a. Mengingkari penyakit yang diderita : tidak menyadari gejala penyakit


(perubahan fisik, emosi) pada dirinya dan tidak merasa tidak perlu
pertolongan.
b. Menyalahkan hal hal diluar dirinya : menyalahkan orang lain atau
lingkungan yang menyebabkan saat ini.
12. Interaksi selama wawanara
Data ini didapatkankan melalui hasil wawancara dan observasi
perawat/ keluarga

a. Bemusuhan, tidak kooperatif, mudah tersinggung sudah jelas


b. Kontak mata kurang : tidak mau menatap lawan bicara
c. Defensif : selalu berusaha mempertahankan pendapat dan kebenaran
dirinya
d. Curiga : menunjukkan sikap/perasaan tidak percaya pada orang lain .
VI. FISIK
Pengkajian fisik difokuskan pada sistem fungsi organ :

1. Ukur dan observasi tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan klien.
2. Ukur tinggi badan dan berat badan klien.
3. Tanyakan apakah, berat badan naik atau turun dan beri tanda 3 sesuai hasil.

21
4. Tanyakan kepada klien / keluarga, apakah ada keluhan tisik yang dirasakan oleh klien,
bila ada beri tanda 3 di kotak ya dan bila tidak beri tanda 3 pada kotak tidak.
5. Kaji/Iakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut sistem dan fungsi organ dan jelaskan
sesuai dengan keluhan yang ada.
6. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data yang ada
VII. PSIKOSOSIAL
1. Konsep diri
a. Citra tubuh :
 Tanyakan persepsi kllen terhadap tubuhnya, bagian tubuh yang disukai dan tidak
disukai
b. Identitas diri, tanyakan tentang:
 Status dan posisi Mien sebelum dirawat
 Kepuasan klien temadap status dan posisinya (sekolah, mmpat kerja, kelompok
 Kepuasan Mien sebagai Iaki-laki / perempuan )
c. Peran : Tanyakan,
 Tugas/peran yang dienban dalam keluarga/kelompok masyarakat
 Kemampuan klien dalam melaksanakan tugas/ peran tersebut
d. Ideal diri: Tanyakan
 Harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas/ peran
 Harapan klien terhadap lingkungan (keluarga, sekolah, tempat kerja, masyarakat)
 Harapan then temadap penyahtnya
e. harga diri: Tanyakan
 Hubungan klien dengan orang lain sesuai dengan kondisi no. 2a, b, c, d,
 Penilaian penghargaan orang lain terhadap diri dan kehidupannya
f. Masalah kepermtan dituls sesuai dengan data
2. Genogram
a. Buatlah genogram minimal tiga generasi yang dapat menggambarkan hubungan klien
dan keluarga, contoh:

22
: Perempuan : Pisah

: Laki-laki : Stillbirth/ Aborsi

: Cerai : Konflik

: Meninggal : Sangat dekat

: Perkawinan : Dekat

: Klien : Distant/ berjarak

: Proyeksi
45
: Umur

: Cut off/ menghindar

3. Hubungan social
a. Tanyakan pada klien siapa orang terdejat dalam kehidupannya, tempat mengadu,
tempat bicara, minta bantuan atau sokongan
b. Tanyakan pada klien kelompok apa saja yang diikuti dala masyarakat
c. Tanyakan pada klien sejauh mana ia terlibat dalam kelompok dimasyarakat
d. Masalah keperawatan ditulis seesuai dengan data
4. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan : tanyakan tentang,
 Pandangan dan keyakinan, terhadap gangguan jiwa sesuai dengan norma
budaya dan agama yang dianut
 Pandangan masyarakat setempat tentang gangguan jiwa
b. Kegiatan ibadah : tanyakan,
 Kegiatan ibadah dirumah secara individu dan kelompok
 Pendapat klien/keluarga tentang kegiatan ibadah
23
c. Masalah keperawatan ditulis dengan data
VIII. AKTIFITAS SEHARI HARI (ADL)
1. Makan
a. Observasi dan tanyakan tentang : frekuensi, jumlah, variasi, macam (suka atau
tidak suka atau pantan) dan cara makan
b. Observasi kemampuan klien dalam menyiapkan dan membersihkan alat makan
2. BAB/BAK
a. Observasi kemampuan klien untuk BAB/BAK
 Pergi menggunakan dan membersihkan WC
 Membersihkan diri dan merapikan pakaian
3. Mandi
a. Observasi dan tanyakan tentang frekuensi, cara mandi, menyikat gigi, cuci rambut,
gunting kuku, cukur (kumis, jenggit dan rambut)
b. Observasi kebersihan tubuh dan bau badan
4. Berpakaian
a. Observasi kemampuan klien dalam mengambil, memilih dan mengenakan pakaina
dan alas kaki
b. Observasi penampilan dan dandanan klien
c. Tanyakan dan observasi frekuensi ganti pakaian
d. nilai kemampuan yang harus dimiliki klien : mengambil, memilih danmengenakan
pakaian
5. istirahat dan tidur
a. observasi dan tanyakan tentang :
 Lama dan waktu tidur siang/malam
 Persiapan sebelum tidur seperti: menyikat gigi, cuci kaki dan
berdoa
 Aktivitas sesudah tidur seperti : merapikan tempat tidur/cuci muka
dan menyikat gigi
6. penggunaan obat
a. observasi dan tanyakan pada pasien dan keluarga tentang:
 Penggunaan obat : frekuensi, jenis, dosis, waktu dan cara
pemberian
 Reaksi obat
7. pemeliharaan kesehatan
a. tanyakan pada klien dan keluarga tentang:
24
 Apa, bagaimana, kapan dan kemana perawat lanjut
 Siapa saja sistem pendukung yang dimiliki
(keluarga, teman, institusi dan lembaga pelayana
kesehatan) dan cara penggunaannya
8. aktivitas didalam rumah
a. tenyakan kemempuan klien dalam :
 Merencankan, mengolah dan menyajikan makanan
 Merapikan rumah (kamar tidur, dapur, menyapu, mengepel)
 Mencuci pakaian sendiri
 Mengatur kebutuhan biaya sehari-hari
9. aktivitas diluar rumah:
a. Tanyakan kemampuan klien:
 Belanja untuk keperluan sehari-hari
 Dalam melakukan perjalanan seni mandiri dengan berjalan kaki,
menggunakan kendaraan pribadi, kendaraan umum.
 Aktivitas lain yang dilakukan diluar rumah(bayar listrik,
telepon, air, kantor pos, dan bank)
Jelaskan data terkait
Masalah keoerawatan ditulis sesuai data
IX. MEKANISME KOPING
Data didapat melalui wawancara pada klien atau keluarga. Beri tanda 3 pada kotak
koping yang dimiliki klien, baik adaptif maupun mal adaptif.
X. MASALAH-MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN
Data didapat melalui wawacara pada klien atau keluarganya. Pada tiap masalah
yang dimiliki klien beri uraian spesifik, singkat dan jelas
XI. PENGETAHUAN
Data didapatkan melalui wawancara pada klien. Pada tiap item yang dimiliki
oleh klien simpulkan dalam masala.
XII. ASPEK MEDIK
Tuliskan diagnosa medik klien yang telah dirumuskan oleh dokter dan perawat.
Tuliskan obat-obatan klien saat ini, baik obat fisik, psikofarma, dan terapi lain.
XIII. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN
1. Tuliskan semua masalah disertai data pendukung, yaitu subjektif dan data
objektif
2. Buat pohon masalah dari data yang telah dirumuskan
25
XIV. ANALISA DATA
Tulis cara pengelompokkan data subjektif dan objektif serta masalah yang ada
XV. POHON MASALAH
XVI. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN
Rumuskan diagnosis dengan rumusan P (permasalahan) dan E (etiologi)berdasarkan
pohon masalah. Urutkan diagnosis sesuai dengan prioritas.
Pada akhir pengkajian, tulis tempat dan tanggal pengkajian serta tanda tangan dan nama
jelas mahasiswa.

26
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Proses keperawatan metode ilmiah dalam menjalankan asuhan keperawatan dan
penyelesaian masalah secara sistimatis yang digunakan oleh perawat dan peserta didik
keperawatan dapat meningkatkan otonomi; percaya diri; cara berpikir yang logis, ilmiah
dan sistimatis;memperlihatkan tanggung jawab dan tanggung gugat serta pengembangan
diri perawat. Disamping itu klien dapat merasakan mutu pelayanan keperawatan yang
lebih baik dan berperan serta aktif dalam perawatan diri, serta terhindar dari malpraktek.
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan.
Pengkajian merefleksikan isi, proses dan informasi yang berhubungan dengan kondisi
biologis, psikologis, sosial, dan spritual klien. Alat pengkajian dan petunjuk pengisian
yang disediakan akan memudahkan perawat dalam pengumpulan data secara akurat dan
sistimatik.
Diagnosa keperawatan didasarkan pada rumusan masalah/kebutuhan yang yang
berpedoman pada rumusan penggolongan diaknosa NANDA. Hubungan permasalahan
dan itiologi dipermudah dengan menggunakan pohon masalah. Rumusan diagnosa dibagi
menjadi aktual, resiko tinggi dalam masalah kolaborasi.
Rencana tindakan keperawatan terdiri atas tujuan umum,tujuan khusus yang
diikuti dengan serangkaian tindakan keperawatan untuk mencapainya. Untuk peserta
didik perawat umumnya ditambahkan dengan kriteria hasil dan rasional tindakan.
Implementasi tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan dan
kondisi klien saat itu serta kemampuan perawat yang akan melaksanakan tindakan.
Evaluasi keperawatan merupakan proses yang berkelanjutan untuk menilai
dampak tindakan keperawatan pada klien yang dikaitkan dengan hasil yang diharapkan.
Kesan negatif terhadap proses keperawatan perlu dijadikan tantangan. Dengan
upaya yang konsisten d alam menjalankan proses keperawatan diharapkan perawat
akhirnya memahami dan membudayakan penggunaan proses keperawatan. Hal ini dapat
dicapai dengan melakukan program pelatihan dan supervisi langsung pada penerapan
proses keperawatan jiwa dirumah sakit jiwa.

B. Saran
Demikian isi makalah ini, kami sangat menyadari bahwa makalah ini masih jauh
dari kata sempurna dan banyak kekurangan baik dari segi bentuk maupun materi yang
27
kami uraikan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari para pembaca untuk perbaikan makalah selanjutnya

28
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi.2008.Konsep Dasar Keperawatan.Jakarta:EGC

Depkes RI. 2008. Buku Standar Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Penerapan Standar Asuhan
Keperawatan pada Kasus di RSJ dan RS Ketergantungan Obat. Jakarta.

Keliat, Budi Anna,dkk.2010.Proses Keparawatan Kesehatan Jiwa. Ed.2.Jakarta:EGC

Stuart, Gall W.2013.Buku Saku Keperawatan Jiwa.Jakarta:EGC

Suliswati.2009.Konsep Dasar Keperawatn Kesehatan Jiwa.Jakarta:EGC

Stuart, G. W. dan Sundeen S. J. 2008. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 3. Jakarta : ECG.

29