Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Akhir- akhir ini topik “advokasi”begitu populer dan menjadi kata
yang sering diucapakan maupaun dimuat dalam surat kabar. Bahkan
dengan peran masyarakat yang lebih besar dalam perumusan kebijakan
public,kata ini menjadi jargon yang selalu muncul dimedia massa. Selain
itu akan disinggung mengenai penegertian dan tujuan advokasi dengan
minat khusus advokasi dalam promosi kesehatan. Dalam konteks ini
keduatopik tersebut dikaji dan dijelaskan kaitanya serta lebih jauh
diuraikan lebih dalam mengenai advokasi dalam promosi kesehatan.
Perkembanagan kesehatan masyarakat diera 80-an anatara lain
ditandai dengan adanya Ottawa Charter for Health Promation (Deklarasi
Ottawa , 1986) dimana berbagai ahli kesehatan masyarakat,ahli promosi
kesehatan serta bidang terkait ditingkat global, merumuskan Deklarasi
Ottawa.

B. Rumusan masalah
1. Apa pengertian komunikasi dan advokasi ?
2. Bagaimana perkembangan Sistem Informasi Kesehatan ?
3. Apa saja komponen Sistem Informasi Kesehatan ?
4. Untuk siapa saja manfaat Sistem Informasi Kesehatan di tujukan ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian umum dan pentingnya komunikasi dan
advokasi
2. Untuk memahami unsur dasar komunikasi dan advokasi
3. Untuk mengetahui pendekatan utama komunikasi dan advokasi
4. Untuk mengetahui mekanisme dan moetode komunikasi dan advokasi

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Komunikasi
1. Pengertian Komunikasi
Istilah komunikasi berasal dari kata Latin Communicare atau
Communis yang berarti sama atau menjadikan milik bersama. Kalau kita
berkomunikasi dengan orang lain, berarti kita berusaha agar apa yang
disampaikan kepada orang lain tersebut menjadi miliknya.

Komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang yang


mengandung arti/makna yang perlu dipahami bersama oleh pihak yang
terlibat dalam kegiatan komunikasi (Astrid).

Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian


pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (Roben.J.G).

Komunikasi adalah sebagai pemindahan informasi dan pengertian


dari satu orang ke orang lain (Davis, 1981).

Komunikasi (communicare, latin) artinya berbicara atau


menyampaikan pesan, informasi, pikiran, perasaan yang dilakukan
seseorang kepada yang lain dengan mengharapkan jawaban, tanggapan,
dari orang lain (Hohenberg : 1978).

2. Proses Komunikasi
Proses komunikasi adalah bagaimana sang komunikator
menyampaikan pesan kepada komunikannya, sehingga dapat dapat
menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan dengan
komunikatornya. Proses Komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan
komunikasi yag efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada
umumnya).
Proses Komunikasi, banyak melalui perkembangan. Pada
penjelasan ini, akan dijelaskan berbagai proses komunikasi melalui model-
model komunikasi itu sendiri :
1. Model Komunikasi Aristoteles
Aristoteles menerangkan tentang model komunikasi dalam
bukunya Rhetorica, bahwa setiap komunikasi akan berjalan jika
terdapat 3 unsur utama :
a. Pembicara, yaitu orang yang menyampaikan pesan

2
b. Apa yang akan dibicarakan (menyangkut Pesan nya itu
sendiri)
c. Penerima, orang yang menerima pesan tersebut.
2. Model Komunikasi David K.Berlo
Dalam model komunikasi David K.Berlo, diketahui bahwa
komunikasi terdiri dari 4 Proses Utama yaitu SMRC (Source,
Message, Channel, dan Receiver) lalu ditambah 3 Proses sekunder,
yaitu Feedback, Efek, dan Lingkungan.
Source (Sumber), Sumber adalah seseorang yang memberikan
pesan atau dalam komunikasi dapat disebut sebagai komunikator.
Walaupun sumber biasanya melibatkan individu, namun dalam hal
ini sumberjuga melibatkan banyak individu. Misalnya, dalam
organisasi, Partai, atau lembaga tertentu. Sumber juga sering
dikatakan sebagai source, sender, atau encoder.
Message (Pesan), pesan adalah isi dari komunikasi yang
memiliki nilai dan disampaikan oleh seseorang (komunikator). Pesan
bersifat menghibur, informatif, edukatif, persuasif, dan juga bisa
bersifat propaganda. Pesan disampaikan melalui 2 cara, yaitu Verbal
dan Nonverbal. Bisa melalui tatap muka atau melalui sebuah media
komunikasi. Pesan bisa dikatakan sebagai Message, Content, atau
Information

3. Bentuk-Bentuk Komunikasi
a. Komunikasi verbal
Komunikasi yang ada sangat beragam sekali, mempunyai aneka
bentuk tergantung dari sisi apa kita melihat komunikasi tersebut. Yang
termasuk dengan verbal adalah lisan, dengan demikian komunikasi verbal
adalah penyampaian tujuannya secara lisan. Proses penyampaian
informasi secara lisan ini yang biasa kita kenal dengan berbicara.
Dalam praktik sehari-hari penyampaian dan penerimaan pesan yang
menggunakan kata-kata, sering juga menggunakan tulisan.Meskipun
dalam bentuk tulisan tetapi bahasa yang dipakai adalah bahasa
lisan.Contoh konkritnya adalah apabila kita mengirim pesan melalui
telepon seluler (HP) atau yang kita kenal dengan SMS (short Message
Service).Bahasa yang kita gunakan adalah bahasa lisan.Kenyataannya
bahwa SMS tersebut mempunyai hubungan personal yang tinggi dan
dapat langsung memberikan umpan balik. Bahkan orang dapat
bertransaksi apa saja melalui SMA tersebut, seolah-olah kita berbicara
satu sama lain. Contoh lain misalnya media verbal : seperti bulletin,
pamleft, leaflet, dan sebagainya. Demikian juga dengan dokumen

3
organisasi lainnya yang diterbitkan secara berkala yang berisi masalah-
masalah yang berhubungan dengan organisasi, kemajuan-kemajuan yang
telah tercapai, PROTAP kerja, standar-standar, dan hal-hal lainnya yang
berhubungan dengan berbagai isu misalnya pengembangan SDM dan
sebagainya.

b. Komunikasi Non Verbal


Penyampaian pesan selain melalui lisan atau tulisan dapat juga
dilakukan dengan melalui cara berpakaian, waktu, tempat, isyarat
(gestures), gerak-gerik (movement), sesuatu barang, atau sesuatu yang
dapat menunjukkan suasana hati perasaan pada saat tertentu.
Contoh komunkasi non verbal :
1) Cara berpakaian
Orang yang sedang berkabung karena kematian
seseorang, biasanya akan berpakaian hitam-hitam atau
memasang tanda dengan kain hitam dilengan bajunya. Dengan
demikian kita menjadi tahu bahwa orang tersebut dalam
suasana berkabung. Atau seseorang yang biasanya berpakaian
biasa-biasa saja tiba-tiba berpakaian lengkap dengan jas atau
dasi, ini tentu juga suatu informasi bahwa yang bersangkutan
mungkin sedang dalam suasana yang lain misalnya akan
dilantik menjadi pejabat, akan menghadiri pesta atau pertemuan
yang penting dan sebagainya.
2) Waktu
Bunyi beduk atau lantunan suara adzan dimasjid atau
mushala memberikan informasi bahwa waktu shalat telah tiba.
Contoh lain adalah bunyi bel disekolah yang menunjukkan
bahwa waktu masuk kelas, istirahat atau pulang telah tiba.
3) Tempat
Pemimpin suatu pertemuan atau rapat biasanya duduk
didepanatau dikepala meja, tidak pernah dibelakang. Ini
menginformasikan bahwa yang bersangkutan adalah pemimpin
rapat atau pemimpin pertemuan yang biasanya orang penting
atau memiliki jabatan tertentu, ruang kerja kepala puskesmas
tentunya akan berbeda dengan ruang kerja juru imunisasi
demikian juga ruang kerja dan peralatannya. Demikian juga
instansi lain misalnya di kecamatan dan dikelurahan atau instasi
lainnya.
4) Isyarat

4
Audience disuatu seminar secara spontan bertepuk
tangan dengan riuh setelah mendengarkan paparan seorang
presenter yang mempresentasikan materinya dengan baik dan
menarik.Bertepuk tangan tersebut merupakan isyarat bahwa
audience puas terhadap paparan presentan tersebut. Sebaliknya
para peserta latih mulai menguap, atau keluar masuk kelas atau
ada yang berbisik-bisik satu dengan lainnya ketika peltih
memberikan materi/kuliah, ini juga suatu isyarat bahwa materi,
atau cara membawakan materi tersebut kurang berkenan di hati
peserta latih.

4. Jenis Jenis Komunikasi


Pada dasarnya komunikasi digunakan untuk menciptakan atau
meningkatkan aktifitas hubungan antara manusia atau kelompok
Jenis komunikasi terdiri dari Komunikasi Verbal mencakup aspek-aspek
berupa :
a. Vocabulary (perbendaharaan kata-kata). Komunikasi tidak akan
efektif bila pesan disampaikan dengan kata-kata yang tidak
dimengerti, karena itu olah kata menjadi penting dalam
berkomunikasi.
b. Racing (kecepatan). Komunikasi akan lebih efektif dan sukses bila
kecepatan bicara dapat diatur dengan baik, tidak terlalu cepat atau
terlalu lambat.
c. Intonasi suara: akan mempengaruhi arti pesan secara dramatik
sehingga pesan akan menjadi lain artinya bila diucapkan dengan
intonasi suara yang berbeda. Intonasi suara yang tidak proposional
merupakan hambatan dalam berkomunikasi.
d. Humor: dapat meningkatkan kehidupan yang bahagia. Dugan
(1989), memberikan catatan bahwa dengan tertawa dapat
membantu menghilangkan stress dan nyeri. Tertawa mempunyai
hubungan fisik dan psikis dan harus diingat bahwa humor adalah
merupakan satu-satunya selingan dalam berkomunikasi.
e. Singkat dan jelas. Komunikasi akan efektif bila disampaikan secara
singkat dan jelas, langsung pada pokok permasalahannya sehingga
lebih mudah dimengerti.
f. Timing (waktu yang tepat) adalah hal kritis yang perlu
diperhatikan karena berkomunikasi akan berarti bila seseorang
bersedia untuk berkomunikasi, artinya dapat menyediakan waktu
untuk mendengar atau memperhatikan apa yang disampaikan.

5
Komunikasi Non Verbal Komunikasi non verbal adalah
penyampaian pesan tanpa kata-kata dan komunikasi non verbal
memberikan arti pada komunikasi verbal.Yang termasuk komunikasi
non verbal :

a. Ekspresi wajah Wajah merupakan sumber yang kaya


dengan komunikasi, karena ekspresi wajah cerminan
suasana emosi seseorang.
b. Kontak mata, merupakan sinyal alamiah untuk
berkomunikasi. Dengan mengadakan kontak mata selama
berinterakasi atau tanya jawab berarti orang tersebut terlibat
dan menghargai lawan bicaranya dengan kemauan untuk
memperhatikan bukan sekedar mendengarkan. Melalui
kontak mata juga memberikan kesempatan pada orang lain
untuk mengobservasi yang lainnya
c. Sentuhan adalah bentuk komunikasi personal mengingat
sentuhan lebih bersifat spontan dari pada komunikasi
verbal. Beberapa pesan seperti perhatian yang sungguh-
sungguh, dukungan emosional, kasih sayang atau simpati
dapat dilakukan melalui sentuhan.
d. Postur tubuh dan gaya berjalan. Cara seseorang berjalan,
duduk, berdiri dan bergerak memperlihatkan ekspresi
dirinya. Postur tubuh dan gaya berjalan merefleksikan
emosi, konsep diri, dan tingkat kesehatannya.
e. Sound (Suara). Rintihan, menarik nafas panjang, tangisan
juga salah satu ungkapan perasaan dan pikiran seseorang
yang dapat dijadikan komunikasi. Bila dikombinasikan
dengan semua bentuk komunikasi non verbal lainnya
sampai desis atau suara dapat menjadi pesan yang sangat
jelas.
f. Gerak isyarat, adalah yang dapat mempertegas pembicaraan
. Menggunakan isyarat sebagai bagian total dari komunikasi
seperti mengetuk-ngetukan kaki atau mengerakkan tangan
selama berbicara menunjukkan seseorang dalam keadaan
stress bingung atau sebagai upaya untuk menghilangkan
stress.

5. Membangun Komunikasi Yang Efektif


1. Strategi membangun komunikasi yang efektif

6
Komunikasi yang efektif dapat terjadi apabila pesan yang dikirim
oleh komunikator dapat di terima dengan baik dalam arti kata
menyenangkan, actual, nyata oleh si penerima.Kemudian penerima
menyampaikan kembali bahwa pesan telah diterima dengan baik atau
benar.Dalam hal ini terjadi komunikasi dua arah atau komunikasi timbal
balik. Agar terjadi komunikasi yang efektif, maka perlu diperhatikan hal-
hal sebagai berikut :
a. Mengetahui siapa mitra bicara
Dalam mengetahui kita harus menyadari benar dengan
siapa kita berbicara, apakah dengan pak camat, dengan pak
lurah dengan bidan desa, dengan tokoh masyarakat, atau
dengan kader.Kenapa kita harus mengetahui dengan siapa kita
berbicara?Karena dengan mengetahui audience, kita harus
cerdas dalam memilih kata-kata yang digunakan dalam
menyampaikan informasi buah pikiran kita.Kita harus
memakai bahasa yang sesuai dan mudah dipahami oleh
audience kita.
Selain itu pengetahuan mitra bicara kita juga harus
diperhatikan informasi yang ingin kita sampaikan mungkin
bukan merupakan hal yang baru bagi mitra kita, tetapi kalau
penyampainya menggunakan istilah-istilah yang tidak
dipahami oleh mitra kita, informasi atau gagasan yang kita
sampaikan bisa saja tidak dipahami oleh mitra. Dengan
memperhatian mitra bicara kita akan dapat menyesuaikan diri
dalam berkomunikasi dengannya.
b. Mengetahui apa tujuan komunikasi
Cara kita menyampaikan informasi sangat tergantung
kepada tujuan kita berkomunikasi, misalnya :
1) Fasilitator pemberdayaan masyarakat dibidang
kesehatan ingin menyampaikan informasi mengenai
pelatihan bagi bidan desa di kecamatan A, jika
tujuannya hanya menyampaikan informasi maka
komuniaski dapat dilakukan dengan membuat
pengumuman atau surat edaran.
2) Jalan pedesaan dikecamatan A pada waktu musim
hujan menjadi becek dan licin, sehingga menyulitkan
mobil puskemas keliling masuk kedesa, terutama
dalam pembinaan POSKESDES. Untuk itu maka
jalan pedesaan perlu diperbaiki dan dibuat selokan air
sehingga jalan tidak terendam dan licin pada musim

7
hujan. Fasilitator akan mengusulkan kepada pak
camat agar diintruksikan kepada seluruh kepala
desan/lurah agar warga memperbaiki jalan dan
lingkungan. Bila tujuannya seperti ini tentu
pendekatannya bukan dengan surat tapi melalui
advokasi.
3) Bidan desa diinstruksikan oleh pak camat untuk apel
setiap haru senin pagi dikecamatan, bila hal ini terjadi
maka kemungkinan kegiatan poskesdes akan
terganggu kerana setiap senin ada kegiatan posyandu,
padahal jarak dari desa kekeacamat sebagaian besar
harus ditempuh lebih dari 2 jam pulang pergi, untuk
kasus seperti ini tentunya yang paling cocok adalah
melaui negosiasi.
4) Mengetahui dalam konteks apa komunikasi
dilakukan.
5) Dalam berkomunikasi maka kita perlu
mempertimbangkan keadaan atau lingkungan saat kita
berkomunikasi. Bahasa dan informasi yang
disampaikan harus sesuai dengan keadaan dan
lingkungan dimana komunikasi itu terjadi. Bisa saja
kita menggunakan bahasa dan informais yang jelas
dan tepat tetapi karena konteksnya tidak tepat, rekasi
yang kita peroleh tidak sesuai dengan diharapkan.
6) Mempertimbangkan penggunaan kata hemat :
 Kita harus hemat dalam mengelola anggaran
poskesdes.
 Menurut hemat saya, bidan desa sebaiknya tinggal
didesa dimana poskesdes berada.
 Penggunaan kata hemat pada kedua kalimat
tersebut konteksnya pasti berbeda satu sama lain.
c. Mengetahui kultul
Dalam berkomunikasi harus diingat peribahasa “dimana
bumi dipijak, disitu langit dijunjung” artinya bahwa dalam
komunikasi kita harus memperhatikan dan menyesuaikan diri
dengan budaya atau habit atau kebiasaan orang atau
masyarakat setempat. Misalnya berbicara sambil menunjuk
sesuatu dengan telunjuk kepada orang yang lebih tua atau lebih
tinggi kedudukannya di daerah Jawa Barat atau Jawa Tengah
busa dianggap kurang sopan atau kurang ajar walaupun

8
mungkin didaerah lain itu biasa saja. Dengan demikian maka
tidak terjadi salah tafsir yang mengakibatkan kegagalan
komunikasi.
d. Mengetahui bahasa
Dalam berkomunikasi seyogyanya kita memahami
bahasa mitra kita, hal ini tidak berarti kita harus memahami
semua bahasa dari mitra bicara.oleh karena ada kata-kata yang
menurut etnis tertentu merupakan hal yang lumrah tapi
menurut etnis lain merupakan hal yang tabu untuk dikatakan
atau mempunyai arti yang berbeda. Misalnya ucapan “nangka
tok” menurut bahasa sunda berarti “nagka saja” tapi menurut
orang jawa ini tentu lain artinya.

2. Komunikasi verbal yang efektif


Komunikasi akan efektif bila pesan yang disampikan pemberi
pesan diterima okeh penerima pesan sesuai dengan maksud penyampai
pesan dan menimnulkan saling pengertian. Dalam komunikasi verbal atau
berbicara yang didengar adalah suara yang diucapkan melalui kata-kata
yang keluar dari mulut.Suara-suara itu harus mempunyai makna sehingga
maksud dari berbicara itu dapat dimengerti.
Komunikasi dapat dikatakan efektif apabila :
a. Pesan diterima dan dimengerti sebagaimana yang dimaksu
oleh sipengirim.
b. Pesan disetujun oleh penerima dan ditindak lanjuti dengan
perbuatan yang dikehendaki oleh pengirim.
c. Tidak ada hambatan untum melakukan apa yang seharusnya
dilakukan untuk menindaklajuti pesan yang dikirim.

Ciri-ciri komunikasi verbal yang efektif :


a. Langsung (to the point, tidak ragu menyampaikan pesan).
b. Asertif (tidak takut mengatakan apa yang diinginkan dan
mengapa).
c. Ramah dan bersahabat.
d. Jelas (hal yang disampaikan mudah dimengerti).
e. Terbuka (tidak ada pesan dan makna tersembunyi).
f. Secara lisan (menggunakan kata-kata untuk menyampaikan
gagasan dengan jelas).
g. Dua arah (seimbang antara berbicara dan mendengarkan).
h. Responsive (memperhatikan keperluan dan pandangan
orang lain).

9
i. Nyambung (menginterpretasu pesan dan kebutuhan orang
lain dengan tepat).
j. Jujur (mengungkapkan gagasan, perasaan dan kebutuhan
yang sesungguhnya).

Ciri-ciri komuniaksi verbal yang tidak efektif :


a. Tidak langsung )bertele-tele).
b. Pasif (malu, tetutup).
c. Antagonistis (marah-marah, agresif atau bernada
kebencian).
d. Kriptis (pesan atau maksud yang sesungguhnya tidak
pernah diungkapkan secara terbuka).
e. Satu arah (lebih banyak berbicara dari pada mendengarkan).
f. Tidak responsive (sedikit/tidak ada minat terhadao
pandangan atau kebutuhan orang lain).
g. Tidak nyambung (respond dan kebutuhan orang lain
disalahartikan dan salah interprestasikan).
h. Tidak terus terang (perasaan , gagasan dan keputusan
diungkapkan secara tidak jujur).

3. Keterampilan berbicara
Pada dasarnya keterampilan betbicara dapat dipelajari dan
ditingkatkandengan berlatih agar mampu berbicara secara efektif maka
dalam tiap komunikasi baik informal maupun formal, beberapa teknik
dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan efektivitas berbicara sebagai
berikut :
a. Percaya diri.
b. Ucapkan kata-kata dengan jelas dan perlahan-lahan.
c. Bicara dengan wajar.
d. Atur irama dan tekanan suara dan jangan monoton.
e. Tarik nafas dalamdalam 2 atau 3 kali untuk mengurangi
ketegangan.
f. Hindari sindrom : ehm, ah, au,barangkali, mungkin, anu , apa
dan lain-lain.
g. Membaca paragraph yang dianggap penting dari teks tulisan.
h. Siapkan air minum.

4. Komunikasi non vernal yang efektif


Komunikasi non verbal adalah proses pertukaran pesan/makna
melalui bebagai cara selain kata-kata, yaitu bahasa tubuh, ekpsresi muka,

10
tatapan, sentuhan tampilan vocal suara (volume, intonasi, irama, dan
sebagainya), baju yang dipakai, penggunaan ruangan, dan lain-lain.
Dalam komunikasi pertukaran makna verbal dan non verbal saling
melengkapi, saling mempengaruhi dan tidak terpisahkan satu sama lain.
Komunikasi interpersonal selalu menyangkut pesan verbal dan non
verbal. Suatu kata yang sama diekspresikan dengan berbeda emosi yang
berbeda akan bermakna berbeda

6. Hambatan Komunikasi
1. Hambatan Teknis
Keterbatasan fasilitas dan peralatan komunikasi. Dari sisi teknologi,
semakin berkurang dengan adanya temuan baru dibidang kemajuan
teknologi komunikasi dan informasi, sehingga saluran komunikasi dapat
diandalkan dan efesien sebagai media komunikasi.Menurut dalam
bukunya, 1976, Cruden dan Sherman Personel Management jenis
hambatan teknis dari komunikasi :
 Tidak adanya rencana atau prosedur kerja yang jelas
 Kurangnya informasi atau penjelasan
 Kurangnya ketrampilan membaca
 Pemilihan media (saluran) yang kurang tepat.
2. Hambatan Semantik
Gangguan semantik menjadi hambatan dalam proses penyampaian
pengertian atau secara secara efektif. Definisi semantik sebagai studi
idea atas pengertian, yang diungkapkan lewat bahasa. Kata-kata
membantu proses pertukaran timbal balik arti dan pengertian
(komunikator dan komunikan), tetapi seringkali proses penafsirannya
keliru. Tidak adanya hubungan antara Simbol (kata) dan apa yang
disimbolkan (arti atau penafsiran), dapat mengakibatkan kata yang
dipakai ditafsirkan sangat berbeda dari apa yang dimaksudkan
sebenarnya. Untuk menghindari mis komunikasi semacam ini, seorang
komunikator harus memilih kata-kata yang tepat sesuai dengan
karakteristik komunikannya, dan melihat kemungkinan penafsiran
terhadap kata-kata yang dipakainya.
3. Hambatan Manusiawi
Terjadi karena adanya faktor, emosi dan prasangka pribadi, persepsi,
kecakapan atau ketidakcakapan, kemampuan atau ketidakmampuan alat-
alat pancaindera seseorang, dll.
Menurut Cruden dan Sherman :
a. Hambatan yang berasal dari perbedaan individual
manusia. Perbedaan persepsi, perbedaan umur, perbedaan keadaan

11
emosi, ketrampilan mendengarkan, perbedaan status, pencairan
informasi, penyaringan informasi
b. Hambatan yang ditimbulkan oleh iklim psikologis dalam
organisasi. Suasana iklim kerja dapat mempengaruhi sikap dan
perilaku staf dan efektifitas komunikasi organisasi.

7. Mengatasi Kendala Komunikasi


Beberapa solusi yang dapat ditawarkan dalam mengatasi
kendala-kendala yang muncul dalam proses komunikasi organisasi
antara lain :
a. Hubungan Antar Persona
Menciptakan hubungan intim yang dimiliki
dengan orang-orang lain dalam tingkat pribadi, antar
teman, sesama sebaya ataupun dengan atasan, biasanya
disebut hubungan antar persona. Suatu anailisis khusus
tentang hubungan antar pesona menyatakan bahwa kita
akan berhasil menciptakan komunikasi dalam organisasi
bila melakukan hal-hal berikut ini :
1. Menjaga kontak pribadi yang akrab tanpa
menumbuhkan perasaan bermusuhan
2. Menetapkan dan menegaskan identitas kita
dalam hubungan dengan orang lain tanpa
membesar-besarkan ketidaksepakatan.
3. Menyampaikan informasi kepada oranglain
tanpa menimbulkan kebingunngan,
kesalahpahaman, penyimpangan, atau
perubahan lainnya yang disengaja
4. Terlibat dalam pemecahan masalah yang
terbuka tanpa menimbulkan sikap mbertahan
atau menghentikan proses
5. Membantu orang-orang lainnya untuk
mengembangkan gaya hubungan persona dan
antar pesona yang efektif
6. Ikut serta dalam interaksi social informal tanpa
terlibat dalam muslihat
b. Hubungan Posisional
Hubungan posisional ditentukan dengan pendekatan
struktur dan tugas-tugas fungsional anggota organisasi.
Menurut Koontz dan O’Donnel (1968) untuk mengatasi
kesalahan umum yang merintangi kinerja efektif dan efisien

12
individu dalam organisasi yang disebabkan ketidaklancaran
proses komunikasi di organisasi adalah:
 Merencanakan penempatan / pengaturan jabatan
secara benar
Sebagian dari kegagalan untuk
merencanakan dengan benar lebih banyak terletak
pada pengaturan orang-orang dari jabatan yang
diberikan dari atasan sehingga pada akhirnya
terjadi kegagalan dalam komunikasi horizontal dan
vertikal yang ada dalam organisasi.
 Berusaha menjernihkan hubungan
Kegagalan untuk menjernihkan
hubungan organisasi menimbulkan kecemburuan,
percekcokan, ketidakamanan, ketidakefisienan,dan
pelepasan tanggung jawab lebih banyak dari
kesalahan lainnya dalam pengorganisasian. Untuk
itu perlu adanya individu yang dapat menjadi
jembatan untuk mencairkan situasi kebekuan
komunikasi horizontal dan vertikal antar sesama
rekan dan antara bawahan – atasan..
c. Hubungan berurutan
Informasi disampaikan ke seluruh organisasi formal
oleh suatu proses; dalam proses ini orang dipuncak hierarki
mengirimkan pesan ; kepada orang kedua yangkemudian
mengirimkannya lagi kepada orang ketiga. Reproduksi pesan
orang pertama menjadi pesan orang kedua, dan reproduksi
pesan orang kedua menjadi pesan orang ketiga. Tokoh kunci
dalam sistem ini adalah pengulang pesan (relayor).

B. ADVOKASI
1. Pengertian Advokasi Kesehatan
Advokasi Istilah advokasi mulai digunakan oleh World Health
Organization (WHO) pada tahun 1984, sebagai salah satu strategi global
promosi kesehatan. WHO merumuskan bahwa dalam mewujudkan visi dan
misi promosi kesehatan secara efektif menggunakan 3 strategi pokok yakni
advokasi, dukungan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Advokasi
menurut LBH Malang adalah usaha sistematis secara bertahap
(inkremental) dan terorganisir yang dilakukan oleh kelompok atau
organisasi profesi untuk menyuarakan aspirasi anggota, serta usaha
mempengaruhi pembuat kebijakan publik untuk membuat kebijakan yang

13
berpihak kepada kelompok tersebut, sekaligus mengawal penerapan
kebijakan agar berjalan efektif.
Menurut Foss & Foss et al (1980); Toulmin (1981) advokasi adalah
upaya persuasif yang mencangkup kegiatan penyadaran, rasionalisasi,
argumentasi, dan rekomendasi tindak lanjut mengenai sesuatu (Hadi
Pratomo dalam Notoatmodjo, 2005). Advokasi adalah usaha
mempengaruhi kebijakan publik melalui bermacam-macam bentuk
komunikasi persuasif (John Hopkins School for Public Health). WHO
(1989) seperti dikutip UNFPA dan BKKBN (2002) mengungkapkan bahwa
“Advocacy is a cpmbination on individual and social action design to gain
political comitment, policy support, social acceptence and system support
for particular health goal programe”. Jadi dapat disumpulkan bahwa
advokasi adalah kombinasi kegiatan individu dan social yang dirancang
untuk memperoleh komitmen politis, dukungan kebijakan, penerimaan
sosial dan sistem yang mendukung tujuan atau program kesehatan tertentu.
Kata kunci dalam advokasi adalah “valid information” (untuk input), “free
choice”, atau “persuasive”. Ringkasnya advokasi dapat diartikan
sebagai upaya atau proses untuk memperoleh komitmen, yang dilakukan
secara persuasive untuk mempengaruhi kebijakan public dengan
menggunakan informasi yang akurat dan tepat.
Advokasi Kesehatan adalah advokasi yang dilakukan untuk
memperolehkomitmen atau dukungan dalam bidang kesehatan, atau
yang mendukungpengembangan lingkungan dan perilaku sehat
(Depkes, 2007). Kaitan antarapromosi kesehatan dengan advokasi
adalah menurut Anderson dalam Baum (2002),promosi kesehatan
merupakan kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi
yangberhubungan dengan bidang organisasi, politik, dan ekonomi yang
direkayasa untukmemfasilitasi adaptasi perilaku dan lingkungan untuk
memperbaiki kesehatan. Jadipromosi kesehatan bukan hanya perubahan
perilaku melainkan juga perubahanlingkungan, karena lingkungan
diciptakan oleh keputusan yang dibuat individu,organisasi atau
pemerintah, mereka yang peduli terhadap kesehatan
ataukesejahteraan individu dan masyarakat (promotor kesehatan), perlu
terlibat ataumempengaruhi pembuatan keputusan tersebut.
2. Tujuan Advokasi
Menurut Departemen Kesehatan RI (2007), tujuan advokasi kesehatan
adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Umum
Diperolehnya komitmen dan dukungan dalam upaya kesehatan,
baik berupakebijakan, tenaga, dana, sarana, kemudahan,

14
keikutsertaan dalam kegiatan,maupun berbagai bentuk lainnya
sesuai keadaan dan usaha.
2. Tujuan Khusus
1. Adanya pemahaman atau pengenalan atau kesadaran.
2. Adanya ketertarikan atau peminatan atau tanpa penolakan.
3. Adanya kemauan atau kepedulian atau kesanggupan untuk
membantu dan menerima perubahan
4. Adanya tindakan/ perbuatan/ kegiatan nyata (yang
diperlukan)
5. Adanya kelanjutan kegiatan (kesinambungan kegiatan)
3. Dukungan Masyarakat (Social Acceptance)
Dukungan masyarakat berarti diterimanya suatu
program oleh masyarakat. Suatu program kesehatan apa
pun hendaknya memperolehdukungan dari sasaran utama
program tersebut, yakni masyarakat, terutamatokoh masyarakat.
Oleh sebab itu apabila suatu program telah
mendapatkomitmen dan dukungan kebijakan, maka
langkah selanjutnya adalahmemperoleh dukungan masyarakat.
Untuk sosialisasi program ini, para petugastingkat operasional
atau local, misalnya petugas dinas kesehatan kabupaten
danpuskesmas, mempunyai peranan yang sangat penting.
Oleh sebab itu parapetugas tersebut juga mempunyai
kemampuan advokasi. Untuk petugaskesehatan tingkat
distrik, sasaran advokasi adalak kepala distrik,
parlemandistrik, pejabat lintas sektoral di tingkat distrik dan
sebagainya. Sedangkansasaran advokasi petugas puskesmas
adalah kepala wilayah kecamatan, pejabatlintas sektoral
tingkat subdistrik, para tokoh masyarakat setempat,
dansebagainya.
4. Dukungan Sistem (System Support)
Agar suatu program berjalan dengan baik, perlu
adanya sistem,mekanisme, atau prosedur kerja yang jelas yang
mendukungya. Oleh sebab itusistem kerja atau organisasi
kerja yang melibatkan kesehatan perludikembangkan.
Mengingat bahwa masalah kesehatan merupakan dampak
dariberbagai sektor, maka program untuk pemecahannya atau
penanggulangannyapun harus bersama-sama dengan sektor lain.
Dengan kata lain, semua sektorpembangunan yang mempunyai
dampak terhadap kesehatan, harusmemasukkan atau
mempunyai unit atau sistem yang menangani

15
masalahkesehatan di dalam struktur organisasinya. Unit ini secara
internal menangani7masalah kesehatan yang dihadapi oleh
karyawan, dan secara eksternalmengatasi dampak institusi
tersebut terhadap kesehatan masyarakat.

3. Sasaran dan Pelaku Advokasi Kesehatan


Sasaran advokasi kesehatan adalah berbagai pihak diharapkan
memberikan dukungan terhadap upaya kesehatan, khususnya : para
pengambil keputusan dan penentu kebijakan di pemerintahan, lembaga
perwakilan rakyat, para mitra di kalangan pengusaha/ swasta, badan
penyandang dana, kalangan media massa, organisasi profesi, organisasi
kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, tokoh-tokoh berpengaruh
dan tenar, dan kelompok-kelompok potensial lainnya di masyarakat.
Mereka itu bukan hanya yang potensial pendukung, tetapi juga yang
menentang atau yang upayanya berlawanan atau merugikan kesehatan
(misalnya : Industri rokok).
Pelaku advokasi diharapkan siapa saja yang peduli terhadap upaya
kesehatan, dan memandang perlu adanya mitra untuk mendukung upaya
tersebut.
Mereka itu diharapkan : memahami permasalahan kesehatan,
mempunyai kemampuan advokasi khususnya melakukan pendekatan
persuasif, dapat dipercaya (credible), dan sedapat mungkin dihormati atau
setidaknya tidak tercela khususnya di depan kelompok sasaran.
Mereka itu juga dapat berasal dari kalangan pemerintah, swasta,
Perguruan Tinggi, Organisasi profesi, Organisasi berbasis
masyarakat/agama, LSM, tokoh berpengaruh, dll.

4. Prinsip-Prinsip Advokasi
Advokasi tidak hanya sekedar melakukan lobby politik, tetapi
mencakup kegiatan persuasif, memberikan semangat dan bahkan sampai
memberikan tekanan (pressure) kepada para pemimpin institusi. Advokasi
tidak hanya dilakukan individu, tetapi juga oleh kelompok atau organisasi,
maupun masyarakat..Advokasi terdiri atas sejumlah tindakan yang
dirancang untuk menarik perhatian masyarakat pada suatu isu dan
mengontrol para pengambil kebijakan untuk mencari solusinya. Advokasi
juga berisi aktivitas-aktivitas legal dan politisi yang dapat mempengaruhi
bentuk dan praktek penerapan hukum.

5. Unsur Dasar Advokasi

16
Penetapan tujuan advokasi, Sering sekali masalah kesehatan
masyarakat sangat kompleks,banyak faktor dan saling berpengaruh. Agar
upaya advokasi dapat berhasil tujuan,advokasi perlu dibuat lebih spesifik.
a. Pemanfaatan data dan riset untuk advokasi, Adanya data dan
riset untuk pendukung sangaat penting agar keputusan dibuat
berdasarkan informasi yang tepat dan benar.
b. Identifikasi khalayak sasaran advokasi, Bila isu dan tujuan telah
disusun,upaya advokasi telah disususn,upaya advokasi harus
ditunjukan bagi kelompok yang dapat membuat keputusan dan
idealnya ditujukan bagi orang yang berpengaruh dalam
pembuatan keputusan,misalnya staf,penasihat,orang tua yang
berpengaruh,media masa dan masyarakat.
c. Pengembangan dan penyampaian pesan advokasi, Khalayak
sasaran berbeda bereaksi tidak sama atas pesan yang berbeda.
Seorang tokoh politik mungkin termotivasi kalau dia
mengetahui bahwa banyak dari konstituen yang diwakilinya
peduli terhadap masalah tertentu.
d. Membangun koalisi, Sering kali kekuatan sebuah advokasi
dipengaruhi oleh jumlah orang atau organisasi yang mendukung
advokasi tersebut. Hal ini sangat penting dimana situasi
dinegara tertentu sedang membangun masyarakat demokratis
dan advokasi merupakan suatu hal yang relatif baru.
e. Membuat persentasi yang persuasif, Kesempatan untuk
mempengaruhu khalayak sasaran kunci sering sekali terbatas
waktunya.
f. Penggalangan dana untuk advokasi, Semua kegiatan termasuk
upaya advokasi memerlukan dana.
g. Evaluasi upaya advokasi, Untuk menjadi atvokator yang
tangguh diperlukan unpan balik berkelanjutan serta evaluasi atas
upaya advokasi yang telah dilakukan.

6. Kegiatan – Kegiatan Advokasi


Adapun kegiatan-kegiatan advokasi antara lain :
a. Lobi politik (Political Lobying), Lobi adalah berbincang-bincang secara
informal dengan para pejabat untuk mennginformasikan dan membahas
masalah dan program kesehatan yang akan dilaksanakan. Tahap
pertama pada lobi ini adalah tenaga kesehatan atau bidan
menyampaikan keseriusan masalah kesehatan yang dihadapi di wilayah
kerjanya, dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Kemudian
disampaikan alternatif yang terbaik untuk memecahkan atau

17
menanggulangi masalah tersebut. Dalam lobi ini perlu dibawa atau
ditunjukkna data yang akurat tentang masalah kesehatan tersebut
kepada pejabat yang bersangkutan.
b. Seminar dan Presentasi, Seminar dan presentasi yang dihadiri oleh para
pejabat lintas program dan lintas sektoral. Petugas kesehatan
menyajikan masalah kesehatan di wilayah kerjanya lengkap dengan
data dan ilustarsi yang menarik serta rencana program pemecahannya.
Kemudian masalh tersebut dibahas bersama-sama yang pada akhirnya
diharapkan akan diperoleh komitmen atau dukungan tterhadap program
yang akan dilaksanakan tersebut.
c. Media Advokasi, media (media advocasy) adalah melakukan kegiatan
advokasi dengan menggunakan media khususnya media massa baik
melalui media cetak maupun media elektronik. Permasalahan kesehatan
yang dialami disajikan baik dalam bentuk lisan, artikel, berita, diskusi,
penyampaian pendapat dan lainnya. Media mempunyai kemampuan
yang kuat untuk membentuk opini publik yang dapat memepengaruhi
bahkan merupakan tekanan terhadap para penentu kebijakan dan para
pengambil keputusan.
d. Perkumpulan (asosiasi), peminat Asosiasi atau perkumpulan orang-
orang yang mempunyai minat atau keterkaitan terhadap masalah
tertentu atau perkumpulan profesi adalah merupakan bentuk kegiatan
advokasi.

7. Langkah-langkah advokasi
a. Mendefinisikan isu strategi
Untuk melakukan advokasi, langkah pertama yang harus
dilakukan adalah menetapkan atau mendefinisikan isu-isu strategis di
suatu wilayah ,penetapan isu ini sangat peenting sebagai dasar untuk
melakukan kebijakan Sebagai contoh,isu strategisdibidang
pembangunan berwawasan ligkungan adalah sebgaia berikut :
- Perilakupekerja PT Y belum sesuai dengan perilaku sehat yang
lebih dikenaldengan paralgma sehat, mereka yang
mengkonsumsi rokok, makanan berkadar lemak tinggi , malas
minum air putih
- Tambang emas rakyat menggunakan merkuri dan membuang
limbahnya diwilayah sekitarnya padahal merkuri adalah logam
yang beracun bagi kehidupan masyarakat disekitar

Setelah diterapkanisu-isu strategis, kemudian dialkukan


invertarisasi pemangku kepnetingan, dan kemudian ditetapkan kegiatan-

18
kegiatan advokasi yang perlu dilakukan sebagai contoh, dapat dilihat pada
tabel di bawah ini :

No Isu Pemangku kepentingan Kegiatan advokasi


1 Kurangnya PEMDA ,  Peningkatan kebijakan
pengetahuan DINKES,DINAS tentang PHBS
masyarakat PENDIDIKAN, TP  Peningkatan ekspos
tentang PHBS PKK, LSM, media massa tentang
ORSOSMAS, PHBS
TOGA/TOMA, MEDIA  Peningkatan peraturan
MASSA perundang-
undanganterkait dengan
penerapan PHBS
2 Meningkatnya PEMDA ,  Peningkatan kebijakan
perokok DINKES,DINAS tentang kawasan tanpa
dikalangan PENDIDIKAN, asap rokok
remaja di PRAMUKA , LSM,  Peningkatan expose
kab/kota x ORSOSMAS, media massa tentang
TOGA/TOMA, MEDIA bahaya merokok
MASSA  Peningkatan peraturan
perundang-undangan
terkait dengan penerapan
budaya tidak merokok

Kerangka isu pilihan

NILAI (P)
No KRITERIA UNTUK MEMILIH ISU
1 2 3
1 Isu yang mempengaruhi banyak orang
2 Isu yang mempengaruhi terhadap program kesehatan
3 Isu dengan misi/mandat organisasi
4 Isu dengantujuan pembangunan berwawasan kesehatan
5 Isu dapat dipertanggung jawabkan dengan intervensi
advokasi
6 Isu dapat memobilisasi para mitra/pemangku kepentingan
TOTAL NILAI

b. menentukan tujuan advokasi


tujuan adalah suatu pernyataan tentang suatu keadaan yang akan
dicapai pada masa tertentu. Dalam menetapkan tujuan advokasi lebih

19
diarahkan pada perubaha perilaku untuk menyakinkan para penentu
kebijakan yang berkaitan dengan isu-isu yang telah ditetapkan, oleh
karena itu, dalam menetapkan harus didahulukan dengan pertanyaan’
siapayang diharapkan mencapa seberapa banyak dalam kondisi apa,
berapa lama, dan dimana ?
jadi secaraumum dapat dikatakan tujuan advokasi adalah :
 Realistis , bukan angan-angan
 Jelas dan dapat diukur
 Isu yang akan disampaikan
 Siapa sasaran yang akan di advokasi
 Seberapa banyak perubahan yang diharapkan

Tujuan umum :
Meningkatkan kawasan tanpa rokok ditempat kerja dari 50%
menjadi 70%sampai tahun 2014 di kabupaten bandung

c. Mengembangkan pesan advokasi


Pesan adalah terjeamahan advokasi ke dalam ungkapan atau
kata yang sesuai untuk khalayak sasaranMengembangkan pesan
advokasi diperlukan kemampuan perpaduan antara ilmu pengetahuan
dan seni. Pesan advokasi mengajukan fakta dan data akurat. Juga
diharuskan mampu untuk membangkitkan emosi dan kemampuan seni
untuk mempengaruhi para penetu kebijakan.
1) Efektivitas pesan(sevenC’s for effetive communication)
Suatu pesan advokasi dapat dikatakan efektif dan kreatif jika
memenuhi tujuh kriteria sebagai berikut :
 Command attention
Kembangkan suatu isu atau atau ide yang
merefleksikan desain suatu pesan. Bila terlalu banyak ide
akan membingungkan penentu kebijakan, sehingga mudah
dilupakan
 Clarify the message
Buatlah pesan advokasi yang mudah, sederhana ,
danjelas pesan yang efektif harus memberikan harus
memberikan informasi yang relevan dan baru bagi penentu
kebijakan. Sebab bila diremehkan oleh mereka secara
otomatis pesan tersebut gagal
 Create trust
Pesan advokasi dapat dipercaya dengan menyajikan
data dan fakta yang akurat

20
 Consistency
Pesan advokasi harus konsisten, artinya sampaikan
suatu pesan utama di media apa sajaa secara terus menerus,
baik mellaui pertemun , tatp muka, ataupun melalui media
 Cather to the heart and head
Pesan advokasi haris bisa menyentuh akal dan rasa.
Komunikasi yang efektif tidak hanya memberikan alasan
tehknis , tetapi harus menyentu nilai-nilai emosi dan
membangkitkan kebutuhan yang nyata
 Call to action
Pesan advokasi harus dapat mendorong penetu
kebijakan untuk bertindak atau berbuat sesuatu. Kebijakan
kawasan tanpa rokk yang dikeluarkan oleh pemimpin
perusahaan, merupakan suatu tindakan nyata untuk
menerapkan kawasan tanp rokok bagi karyawan di tempat
kerja.
 Pesan advokasi
- Merupakan pernyataan yang singkat, padat dan
bersifat membujuk.
- Berhubungan dengan tujuan anda dan
menyimpulkan apa yang ingin anda capai
- Bertujuan untuk menciptakan aksi yang anda
inginkan untuk dilakukan oleh pendengar pesan
anda
 Gaya pesan advokasi
- Seruan : emosional VS rasional
- Seruan : positif VS negatif
- Seruan : masa VS individu
- Kesimpulan tertutup VS kesimpulan terbuka
 Pengemasan pesan
- Presentasi dalah kunci untuk menyampaikan pesan
- Sebuah presentasi yang berhasil adalah presentasi
yang menarik didukung oleh fakta yang sahih dan
tampilan yang menarik
- Pengemasan mencakup cetakan, materi audiovisual.
- Dukungan kemasan dengan ilustrasi sederhana,
grafik dan foto
2) Pengemasan materi bagi kelompok sasaran berbeda

Pesan bagi pembuat keputusan

21
1. Masalah
Pesan bagi mitra dan sekutu
2. Ukuran isu
3. Dampak
Pesan bagi keluarga yang bertahan/menolak

Pesan bagi masyarakat

d. Penggalangan sumber daya termasuk dana.


Kenali dan coba dapatkan sumber daya (uang, tenaga ,keahlian,
jejaring dan perlengkapan lainnya) untuk melaksanakan kampanye advokasi.
e. Mengembangkan rencana kerja
Pelaksanaan rencana kegiatan advokasi sesuai dengan identitas
kegiatan,tugas pokok dan fungsi dari para pelaksana, jangka waktu, serta
sumber daya, POA yang di butuhkan.

8. Cara melakukan advokasi


1. Analisa pemangku kepentingan (stakeholder)

Analisis pemangku kepentingan diperlukan karena sangat


penting peranannya dalam pengembangan rencana advokasi
selanjutnya. Dalam analisa tersebut, setiap pemangku kepentingan
ptensial di jajagi siapa dan seberapa besar peranannya dalam issu yang
akan di advokasi. Contoh analisis pemangku kepentingan :

a. Pengambil keputusan
Hal yang perlu diidentifikasi adalah :
 Siapa, jumlah, lokasi dan jenis kelamin
 Pengetahuan tentang masalah atau issu advokasi
 Saluran untuk mencapai pengambil keputusan
 Seberapa jauh pengaruhnya terhadap issu advokasi
 Apakah mendukung atau menentang masalah/issu
advokasi dan alasannya
b. Sekutu/Mitra/Teman
Hal yang perlu di identifikasi adalah :
 Siapa, jumlah, lokasi dan jenis kelamin
 Pengetahuan tentang masalah atau issu advokasi
 Jejaring kerja dan besarnya kelompok
c. Pendekatan
Pendekatan merupakan kunci advokasi
- Melibatkan para pemimpin / pengambil keputusan
- Menjalin kemitraan

22
- Memobilisasi kolompok peduli
2. Lobi politik
Merupakan suatu teknik advokasi yang bertujuan untuk
menyampaikan kebijakan public melalui pertemuan, telepon resmi,
surat, intervensi media, dan lain – lain. Lobi politik seringkali
diarahkan kepada sekelompok pemimpin politik.
Hal – hal yang harus diingat :
 Akan efektif bila terdapat kebutuhan bersamam yang
spesifik dari sistem legislatif
 Identifikasi anggota parlemen kunci yang anda ingin raih,
jadikan mereka sebagai individu atau komunis yang
berhubungan dengan pokok persoalan
 Bertindaklah secara terfokus, tetapkan hanaya pada satu
pokok persoalan untuk tiap – tiap komunikasi
 Cari tahu posisi anggota parlemen dan latar belakangnya
 Buatlah hubungan pribadi, jika anda memiliki teman atau
kolega yang akrab dengan anggota parlemen tersebut,
beritahu dia mengenai hal ini
 Sampaikan kebenaran, memberikan informasi yang salah
akan berakibat sebaliknya
 Melobi membutuhkan kesenambungan, kadang – kadang
melebihi waktu yang telah ditentukan
3. Petisi
 Merupakan pernyataan tertulis dan resmi untuk menyampaikan isu
masalah yang sedang hangat diperbincangkan
 Mewakili suatu pandangan kolektif dan tidak hanya individu dan
kelompok tertentu
 Merupakan pernyataan yang singkat dan jelas atas isu
permasalahan dan tindakan apa yang perlu dilakukan diikuti
dengan nama dan alamat dari sejumlah individu yang mendukung
petisi tersebut

9. Argumentasi Untuk Advokasi


Berhasil atau tidaknya advokasi dipengaruhi oleh kuat atau
tidaknya persiapan argumentasi. Argumentasi diperluka untuk dapat
menyakinkan para oemnentu kebijaksanaan atau para oembuat keputusan
sehingga mereka memberikan dukungan baik kebijakan, fasilitas, mauun
dana terhadap program yang ditawarkan. Beberapa hal yang dapat
memperkuat argumentasi dalam melakukan kegiatan advokasi :

23
a. Menyakinkan (Credible). Program yang dijukan harus
menyakinkan para penentu kebijakan atau para pembuat
keputusan. Agar program tersebut menyakinkan harus didukung
data dan sumber yang dapat dipercaya. Program yang diajukan
harus didasari dengan permasalahan yang utama dan faktual
sesuai dengan yang ditemukan di lapangan serta penting untuk
segera ditangani. Survei adalah metode yang cepat dan tepat
untuk memperoleh data yang akurat sebagai dasar untuk
menyusun program.
b. Layak (Feasible). Program yang diajukan baik secara teknik,
politik maupun ekonomi dimaungkinkan atau layak. Layak
secara teknik (feasible) artinya program tersebut dapat
dilaksnakan, tenaga kesehatan atau bidan mempunyai
kemampuan yang cukup, sarana dan prasarana pendukung
tersedia. Layak secara politik artinya program tersebut tidak
akan membawa dampak politik pada masyarakat. Sedangkan
layak secara ekonomii artinya didukung oleh dana yang cukup,
dan masyarakat mampu membayarnya.
c. Relevan (Relevant). Program kerja yang diajukan paling tidak
harus mencakup 2 kriteria yakni memenuhi kebutuhan
masyarakat dan benar-benar dapat memecahkan masalah yang
terjadi di masyarakat.
d. Penting (Urgent). Program yang diajukan harus memiliki
tingkat urgensi yang tinggi dan harus segera dilaksanakan. Oleh
sebab itu program alternatif yang diajukan adalah yang paling
baik di antara alternatif-alternatif yang lain.
e. Prioritas Tinggi (High Priority). Program yag diajukan harus
mempunyai prioritas yang tinggi. Agar para pembuat keputusan
atau penentu kebijakan menilai bahwa program tersebut
mempunyai prioritas yang tinggi diperlukan analisis yang
cermat,, baik terhadap masalahnya sendiri maupun terhadap
alternatif pemecahan masalah atau program yang akan
diajukan.

10. Komunikasi Dalam Advokasi


Advokasi adalah berkomunikasi dengan para pengambil
keputusan atau penentu kebijakan. Dengan demikian maka sasaran
komunikasi atau komunikannya secara structural lebih tinggi daripada
komunikator atau paling tidak setingkat. Dengan kata lain arah
komunikasinya adalah vertikal dan horizontal sehingga bentuk

24
komunikasinya adalah komunikasi interpersonal. Keberhasilan
komunikasi interpersonal dalam advokasi sangat ditentukan oleh
efektivitas komunikasi para petugas kesehatan termasuk bidan dengan
para pembuat atau penentu kebijakan. Berikut adalah hal-hal yang
diperlukan untuk menghasilkan komunikas yang efektif :
a. Atraksi Interpersonal. Atraksi interpersonal adalah daya tarik
seseorang atau sikap positif pada seseorang yang memudahkan
orang lain untuk berhubungan atau berkomunikasi dengannya.
Atraksi interpersonal ditentukan oleh beberapa faktor antara lain
sebagai berikut :
 Daya tarik
 Percaya diri
 Kemampuan
 Familiar
 Kedekatan

b. Perhatian.
Sasaran komunikasi dalam advokasi adalah para
pembuat keputusan atau penetu kebijakan. Tujuan utama
advokasi adalah memperoleh komitmen atau dukungan
kebijakan dari para pembuat keputusan. Untuk memberikan
komitmen dan dukungan terhadap sesuatu pertama kali ia harus
mempunyai perhatian terhadap sesuatu tersebut.
c. Intensitas.
Komunikasi Dalam komunikasi, pesan adalah faktor
eksternal yang menarik perhatian komunikan (penerima pesan).
Pesan akan bersifat menonjol bila intensitasnya tinggi dan
diulang-ulang. Oleh sebab itu agar komunikasi advolasi efektif
maka harus sering dikomunikasikan melaui berbagai
kesempatan atau pertemuan, baik pertemuan formal atau
informal, melalui seminar dan sebagainya.
d. Visualisasi
Selain pesan yang ditawarkan harus disampaikan
dengan intensitas yang tinggi, informasi atau pesan perlu
divisualisasikan dalam bentuk media, khususnya media
interpersonal. Media interpersonal yang paling efektif dalam
rangka komunikasi advokasi adalah flip chard, booklet, slide
atau video cassette. Pesan itu didasari fakta-fakta yang
diilustrasikan melalui grafik, table, gambar, atau foto.

25
11. Strategi Pendekatan Utama Advokasi
a. Melibatkan para pemimpin/ pengambil keputusan
Partisipasi itu harus didukung oleh adanya kesadaran dan
pemahaman tentang bidang yang diberdayakan, disertai kemauan dari
kelompok sasaran yang akan menempuh proses pemberdayaan.
Dengan begitu, kegiatan promosi kesehatan akan berlangsung dengan
sukses. Agar masyarakat mempunyai kemampuan untuk meningkatkan
kesehatannya. Pemberdayaan masyarakat adalah suatu bentuk upaya
melibatkan peran serta dari masyarakat ketika kita melakukan promosi
kesehatan. Sebagai contoh yaitu pemanfaatan kader yang telah dilatih
atau anggota masyarakat yang mempunyai kemampuan dalam
memberikan promosi kesehatan.
b. Menjalin kemitraan
Kemitraan adalah suatu kerjasama formal antara individu-
individu, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi untuk
mencapai suatu tugas atau tujuan tertentu. Dalam kerjasama tersebut
ada kesepakatan tentang komitmen dan harapan masing-masing,
tentang peninjauan kembali terhadap kesepakatan-kesepakatan yang
telah dibuat,dan saling berbagi baik dalam resiko maupun keuntungan
yang diperoleh.
c. Memobilisasi kelompok peduli
Memobilisasi kelompok peduli merupakan suatu proses
mengorganisasikan individu yang telah termotivasi ke dalam
kelompok-kelompok atau mengorganisasikan kelompok yang sudah
ada. Dengan mobilisasi dimaksudkan agar termotivasi individu dapat
diubah menjadi tindakan kolektif.
d. Menciptakan lingkungan yang mendukung
Masyarakat kita kompleks dan saling berhubungan. Kesehatan
tidak dapat dipisahkan dari tujuan-tujuan lain. Kaitan yang tak
terpisahkan antara manusia dan lingkungannya menjadikan basis untuk
sebuah pendekatan sosio-ekologis bagi kesehatan. Prinsip panduan
keseluruhan bagi dunia, bangsa, kawasan, dan komunitas yang serupa,
adalah kebutuhan untuk memberi semangat pemeliharaan yang timbal-
balik —untuk memelihara satu sama lain, komunitas, dan lingkungan
alam kita. Konservasi sumber daya alam di seluruh dunia harus
ditekankan sebagai tanggung jawab global. Perubahan pola hidup,
pekerjaan, dan waktu luang memiliki dampak yang signifikan pada
kesehatan. Pekerjaan dan waktu luang harus menjadi sumber
kesehatan untuk manusia. Cara masyarakat mengatur kerja harus dapat
membantu menciptakan masyarakat yang sehat. Promosi kesehatan

26
menciptakan kondisi hidup dan kondisi kerja yang aman, yang
menstimulasi, memuaskan, dan menyenangkan.
Penjajakan sistematis dampak kesehatan dari lingkungan yang
berubah pesat.—terutama di daerah teknologi, daerah kerja, produksi
energi dan urbanisasi–- sangat esensial dan harus diikuti dengan
kegiatan untuk memastikan keuntungan yang positif bagi kesehatan
masyarakat. Perlindungan alam dan lingkungan yang dibangun serta
konservasi dari sumber daya alam harus ditujukan untuk promosi
kesehatan apa saja. Lingkungan yang Mendukung adalah lingkungan
dimana kita akan menjadikan contoh yang baik tentang kesehatan
lingkungan ketika kita akan melakukan promosi kesehatan. Contoh
adanya sekolah sehat yang mempunyai lingkungan yang sehat.
e. Memerkuat kegiatan-kegiatan komunitas (strengthen community
actions).
f. Promosi kesehatan bekerja melalui kegiatan komunitas yang konkret
dan efisien dalam mengatur prioritas, membuat keputusan,
merencanakan strategi dan melaksanakannya untuk mencapai
kesehatan yang lebih baik. Inti dari proses ini adalah memberdayakan
komunitas –-kepemilikan mereka dan kontrol akan usaha dan nasib
mereka. Pengembangan komunitas menekankan pengadaan sumber
daya manusia dan material dalam komunitas untuk mengembangkan
kemandirian dan dukungan sosial, dan untuk mengembangkan sistem
yang fleksibel untuk memerkuat partisipasi publik dalam masalah
kesehatan. Hal ini memerlukan akses yang penuh serta terus menerus
akan informasi, memelajari kesempatan untuk kesehatan,
sebagaimana penggalangan dukungan. Gerakan Masyarakat
merupakan suatu partisifasi masyarakat yang menunjang kesehatan.
Contoh gerakan Jum’at bersih.
g. Mengembangkan keterampilan individu (develop personal skills)
Promosi kesehatan mendukung pengembangan personal dan
sosial melalui penyediaan informasi, pendidikan kesehatan, dan
pengembangan keterampilan hidup. Dengan demikian, hal ini
meningkatkan pilihan yang tersedia bagi masyarakat untuk melatih
dalam mengontrol kesehatan dan lingkungan mereka, dan untuk
membuat pilihan yang kondusif bagi kesehatan. Memungkinkan
masyarakat untuk belajar melalui kehidupan dalam menyiapkan diri
mereka untuk semua tingkatannya dan untuk menangani penyakit dan
kecelakaan sangatlah penting. Hal ini harus difasilitasi dalam sekolah,
rumah, tempat kerja, dan semua lingkungan komunitas.

27
Keterampilan Individu adalah kemapuan petugas dalam
menyampaikan informasi kesehatan dan kemampuan dalam
mencontohkan (mendemostrrasikan). Contoh sederhana ketika petugas
memberikan promosi kesehatan tentang pembuatan larutan gula
garam, maka petugas harus mampu membuatnya dan bias
mencontohkannya.
h. Reorientasi pelayanan kesehatan (reorient health services)
Tanggung jawab untuk promosi kesehatan pada pelayanan
kesehatan dibagi di antara individu, kelompok komunitas, profesional
kesehatan, institusi pelayanan kesehatan, dan pemerintah. Mereka
harus bekerja sama melalui suatu sistem perawatan kesehatan yang
berkontribusi untuk pencapaian kesehatan. Peran sektor kesehatan
harus bergerak meningkat pada arah promosi kesehatan, di samping
tanggung jawabnya dalam menyediakan pelayanan klinis dan
pengobatan.
Pelayanan kesehatan harus memegang mandat yang meluas
yang merupakan hal sensitif dan ia juga harus menghormati kebutuhan
kultural. Mandat ini harus mendukung kebutuhan individu dan
komunitas untuk kehidupan yang lebih sehat, dan membuka saluran
antara sektor kesehatan dan komponen sosial, politik, ekonomi, dan
lingkungan fisik yang lebih luas. Reorientasi pelayanan kesehatan juga
memerlukan perhatian yang kuat untuk penelitian kesehatan
sebagaimana perubahan pada pelatihan dan pendidikan profesional.
Hal ini harus membawa kepada perubahan sikap dan pengorganisasian
pelayanan kesehatan dengan memfokuskan ulang kepada kebutuhan
total dari individu sebagai manusia seutuhnya. Contoh adalah
pemanfaatan sarana kesehatan terdekat sebagai wadah informasi dan
komunikasi tentang kesehatan.
i. Bergerak ke masa depan (moving into the future)
Kesehatan diciptakan dan dijalani oleh manusia di antara
pengaturan dari kehidupan mereka sehari-hari di mana mereka belajar,
bekerja, bermain, dan mencintai. Kesehatan diciptakan dengan
memelihara satu sama lain dengan kemampuan untuk membuat
keputusan dan membuat kontrol terhadap kondisi kehidupan
seseorang, dan dengan memastikan bahwa masyarakat yag didiami
seseorang menciptakan kondisi yang memungkinkan pencapaian
kesehatan oleh semua anggotanya.
j. Pemberdayaan Masyarakat (empowerment)
Pemberdayaan masyarakat di dalam kegiatan-kegiatan
kesehatan. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan lebih

28
kepada untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam bidang
kesehatan. Jadi sifatnya bottom-up (dari bawah ke atas). Partisipasi
masyarakat adalah kegiatan pelibatan masyarakat dalam suatu
program. Diharapkan dengan tingginya partisipasi dari masyarakat
maka suatu program kesehatan dapat lebih tepat sasaran dan memiliki
daya ungkit yang lebih besar bagi perubahan perilaku karena dapat
menimbulkan suatu nilai di dalam masyarakat bahwa kegiatan-
kegiatan kesehatan tersebut itu dari kita dan untuk kita. Dengan
pemberdayaan masyarakat, diharapkan masyarakat dapat berperan
aktif atau berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Sebagai unsur dasar
dalam pemberdayaan, partisipasi masyarakat harus ditumbuhkan.
Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan pada dasarnya
tidak berbeda dengan pemberdayaan masyarakat dalam bidang-bidang
lainnya.
k. Partisipasi dapat terwujud dengan syarat :
 Adanya saling percaya antar anggota masyarakat
 Adanya ajakan dan kesempatan untuk berperan aktif
 Adanya manfaat yang dapat dan segera dapat dirasakan oleh
masyarakat

12. Indikator Hasil Advokasi


Advokasi adalah suatu kegiatan yang diharapkan akan
menghasilkan suatu produk yakni adanya komitmen politik dan dukungan
kebijaksanaan dari penentu kebijakan atau pembuat keputusan. Advokasi
sebagai suatu kegiatan pasti mempunyai masukan (input), proses, dan
keluaran (output). Oleh karena itu, untuk mengevaluasi hasil advokasi
tersebut maka harus di lihat berdasarkan 3 indikator tersebut.
a. Input
Input untuk kegiatan advokasi yang paling utama adalah
orang (man) yang akan melakukan advokasi dan bahan-bahan
yakni data atau informasi yang membantu atau menduking
argumen dalam advokasi. Indikator untuk mengevaluasi
kemampuan tenaga kesehatan falam melakukan advokasi
sebagai input antara lain :
 Berapa kali petugas kesehatan/bidan telah mengikuti
pelatihan-pelatihan tentang komunikasi, advokasi atau
pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan
pengembangan kemampuan hubungan antar manusia
(human relation).

29
 Sebagai institusi, dinas kesehatan baik ditingkat
provinsi maupun kabupaten, juga mempunyai
kewajiban untuk memfasilitasi para petugas kesehatan
termasuk bidan dengan kemampuan advokasi melalui
pelatihan-pelatihan.
 Hasil-hasil studi, hasil surveillance atau laporan-
laporan yang menghasilkan data, diolah menjadi
informasi dan informasi dianalisis menjadi evidence
yang kemudian akan dikemas dalam media khususnya
media interpersonal dan digunakan sebagai alat bantu
untuk memperkuat argumentasi.
b. Proses Indikator
proses advokasi antara lain :
 Berapa kali melakukan lobying dalam rangka memeproleh
komitmen atau dukungan kebijakan terhadap program dan
dengan siapa saja lobbying itu dilakukan.
 Berapa kali mengahdiri rapat atau pertemuan yang
membahas masalah dan program-program pembangunan
kesehatan dan oleh sipa rapat itu diadakan dan seberapa jauh
pembahasanya dlam rapat itu.
 Berapa kali seminar tentang masalah dan program kesehatan
termasuk pelayanan kebidanan diadakan.
 Seberapa sering media lokal teramsuk media elektronik
membahas atau mengeluarkan artikel tentang pelayanan
kebidanan yang ada pada masyarakat.
c. Output
Keluaran atau output advokasi terdiri dari 2 bentuk yaitu
output dalam bentuk perangkat lunak (soft ware) dan output
dalam bentuk perangkat keras (hardware). Indikator output
dalam bentuk perangkat lunak adalah peraturan atau undang-
undang sebagai bentuk kebijakan atau perwujudan dari
komitmen politik terhadap program kesehtan termasuk
pelayanan kebidanan. Sedangkan indikator output dalam bentuk
perangkat keras antara lain :
 Meningkatnya dana atau anggran untuk
pembanunan kesehatan termasuk untuk pelayanan
kebidanan.
 Tersedianya tau dibangunan fasilitas atau sarana
kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas dan
poliklinik.

30
 Dilengkapinya peralatan kesehatan yang dapat
menunjang pelayanan kebidanan seperti
laboratorium, peralatan pemeriksaan fisik dan
sebagainya.

13. Advokasi dalam pelayanan kebidanan


Advokasi terhadap kebidanan merupakan sebuah upaya yang
dilakukan orang-orang di bidang kebidanan, utamanya promosi kesehatan,
sebagai bentuk pengawalan terhadap kesehatan. Advokasi ini lebih
menyentuh pada level pembuat kebijakan, bagaimana orang-orang yang
bergerak di bidang kesehatan bisa memengaruhi para pembuat kebijakan
untuk lebih tahu dan memerhatikan kesehatan. Advokasi dapat dilakukan
dengan memengaruhi para pembuat kebijakan untuk membuat peraturan-
peraturan yang bisa berpihak pada kesehatan dan peraturan tersebut dapat
menciptakan lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku sehat dapat
terwujud di masyarakat. Advokasi bergerak secara top-down (dari atas ke
bawah). Melalui advokasi, promosi kesehatan masuk ke wilayah politik.
Agar pembuat kebijakan mengeluarkan peraturan yang menguntungkan
kesehatan (kebidanan).
Advokasi adalah suatu cara yang digunakan guna mencapai suatu
tujuan yang merupakan suatu usaha sistematis dan terorganisir untuk
mempengaruhi dan mendesakkan terjadinya perubahan dalam kebijakan
public secara bertahap maju. Misalnya kita memberikan promosi
kesehatan dengan sokongan dari kebijakan public dari kepala desa
sehingga maksud dan tujuan dari informasi kesehatan bias tersampaikan
dengan kemudahan kepada masyarakat atau promosi kesehatan yang kita
sampaikan dapat menyokong atau pembelaan terhadap kaum lemah
(miskin)
Ada beberapa peran bidan sebagai Advokator yaitu :
a. Advokasi dan strategi pemberdayaan wanita dalam
mempromosikan hak-haknya yang diperlukan untuk mencapai
kesehatan yang optimal (kesetaraan dalam memperoleh pelayanan
kebidanan)
b. Advokasi bagi wanita agar bersalin dengan aman. Contoh: Jika ada
ibu bersalin yang lahir di dukun dan menggunakan peralatan yang
tidak steril, maka bidan melakukan advokasi kepada pemerintah
setempat agar pertolongan persalinan yang dilakukan oleh dukun
menggunakan peralatan yang steril salah satu caranya adalah
melakukan pembinaan terhadap dukun bayi dan pemerintah

31
memberikan sangsi jika ditemukan dukun bayi di lapangan
menggunakan alat-alat yang tidak steril.
c. Advokasi terhadap pilihan ibu dalam tatanan pelayanan. Bidan
sebagai advocator mempunyai tugas antara lain:
 Mempromosikan dan melindungi kepentingan orang-orang
dalam pelayanan kebidanan, yang mungkin rentan dan tidak
mampu melindungi kepentingan mereka sendiri.
 Membantu masyarakat untuk mengakses kesehatan yang
relevan dan informasi kesehatyan dan membertikan dukungan
sosial.
 Melakukan kegiatan advokasi kepada para pengambil
keputusan berbagai program dan sektor yang terkait dengan
kesehatan.
 Melakukan upaya agar para pengambil keputusan tersebut
meyakini atau mempercayai bahwa program kesehatan yang
ditawarkan perlu di dukung melalui kebijakan atau keputusan
politik dalam bentuk peraturan, Undang-Undang, instruksi
yang menguntungkan kesehatan public dengan sasaran yaitu
pejabat legislatif dan eksekutif. Para pemimpin pengusaha,
organisasi politik dan organisasi masyarakat baik tingkat pusat,
propinsi, kabupaten, keccamatan desa kelurahan.

32
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang yang mengandung
arti/makna yang perlu dipahami bersama oleh pihak yang terlibat dalam
kegiatan komunikasi (Astrid).
Advokasi Kesehatan adalah advokasi yang dilakukan untuk
memperolehkomitmen atau dukungan dalam bidang kesehatan, atau
yang mendukungpengembangan lingkungan dan perilaku sehat
(Depkes, 2007).

B. Saran
Melalui makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan
wawasan pembaca pengertian,tujuan,jenis,langkah,cara mengatasi kendala
dalam Komunikasi dan Advokasi dalam pelayanan kesehatan.

33
DAFTAR PUSTAKA

Maulana D. J. Heri. 2009. Promosi Kesehatan. Jakarta: EGC.


Notoatmodjo, S. 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasinya. Jakarta:
RinekaCipta.. 2007. Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku. Jakarta: RinekaCipta
Miller, Valerie., Covey, Jane. 2005. Perencanaan Advokasi. Jakarta. YOI.

34