Anda di halaman 1dari 3

Diagnosa Banding

Kolitis ulseratif dapat sulit dibedakan dari etiologi lain diare, khususnya disentri dan keganasan, atau
Crohn’s disease. Membedakan dengan Crohn’s disease tipe colon dapat sangat sulit, meskipun
ketikan kolon yang telah direseksi diperiksa oleh ahli patologi. Bahkan, sekitar 10% kasus
dikategorikan sebagai kolitis non spesifik.

Komplikasi

Lokal

 Dilatasi toksik, dimana kolon berdilatasi pada kolitis fulminan, yang memicu perforasi
 Perdarahan (akut atau kronik dengan anemia progresif)
 Striktur
 Malignant change (penjelasan di bawah)
 Penyakit perianal: umumnya terbentuk fisura anal; fistula in ano, fistula ke vagina dan abses
perianal juga dapat muncul namun jarang jika dibandingkan pada Crohn’s disease.

Umum

 Toksemia
 Penurunan BB dan anemia
 Arthritis (termasuk ankylosing spondylitis) dan uveitis
 Kelainan dermatologi: pioderma gangrenosum, eritema nodosum, ruam kulit lainnya dan
ulserasi di kaki.
 Kolangitis primer juga dihubungkan dengan kolitis ulseratif, sama seperti Crohn’s disease.

Malignant Change

Pasien dengan kolitis ulseratif yang telah menjadi kolitis total kronik (yang menyerang seluruh usus
besar), terutama jika pertama kali terkena pada usia kanak-kanak, beresiko tinggi menjadi keganasan
kolon. Statistik menunjukkan 5-12% pasien dengan kolitis selama 20 tahun menunjukkan perubahan
ke arah keganasan. Pasien sebaiknya ditawarkan kolonoskopi setahun atau dua tahun sekali dengan
biopsi multipel untuk mencari dysplasia yang merupakan pertanda keganasan.

Meskipun tidak terdapat total atau pan-kolitis, pasien dengan kolitis ulseratif memiliki resiko
lebih besar menjadi keganasan dari kolon dibandingkan individu normal. Terlebih lagi, tumor yang
terdapat pada kolitis sering menyerang usia muda, menjadi anaplastik atau multipel dibandingkan
yang terjadi pada orang sehat. Sering hal ini telat didiagnosa, dikarenakan baik pasien maupun
dokter mengarahkan gejala (perdarahan, diare dan pus) ke arah kolitis.

Tatalaksana

Tatalaksana medikamentosa diberikan pada kasus tidak ada komplikasi, namun pembedahan
dibutuhkan saat medikamentosa gagal atau ketika terdapat komplikasi.

 Medikamentosa
Diet tinggi protein disertai suplemen vitamin, zat besi dan potassium (yang terakhir berguna untuk
menggantikan elektrolit yang hilang melalui feses). Transfusi darah diberikan pada pasien anemia
berat. Diare diberikan codein phosphate atau loperamide. Kortikosteroid diberikan secara sistemik,
melalui rektal atau kombinasi, akan memberikan remisi pada serangan akut. Salisilat seperti
mesalazine atau sulfalazine (sulfonamide/kombinasi salisilat) digunakan untuk mempertahankan
remisi. Pada kasus yang lebih berat dapat diberikan faktor antibodi anti tumor nekrosis infliximab
atau adalimumab, atau imunosupresan seperti azatioprine atau siklosporin.

Pasien dengan koltis ulseratif umumnya tegang, gelisah, maka dari itu terapi diberikan dengan rasa
simpati dan hiburan.

 Pembedahan

Indikasi pembedahan sebagai berikut:

1. Penyakit fulminan yang tidak berespon pada medikamentosa (didefinisikan sebagai lebih dari
enam kali perdarahan per hari, disertai demam, takikardi dan hipoalbumin).
2. Penyakit kronis yang tidak respon terhadap medikamentosa
3. Profilaksis terhadap perubahan ke arah keganasan pada penyakit yang lama
4. Telah ditemukan adanya komplikasi dari kolitis.

Prosedurnya berupa total removal dari kolon dan rektum disertai ileostomy permanen atau
anastomosis ileoanal dengan sebuah kantong perantara dari ileum (kantong Parks’).

Kebanyakan pasien yang menjalani pembedahan pada kasus kolitis ulseratif sedang mendapatkan
kortikosteroid atau telah mendapatkan kortikosteroid. Prosedur pembedahan membutuhkan
peningkatan dosis kortikosteroid untuk mengkompensasi efek supresi dari glukokorticoid endogen,
yang nantinya dapat diturunkan perlahan saat post operatif.

Crohn’s Colitis

Penyakit Crohn’s umumnya ditemukan pada ileum terminal, namun dapat menyerang lokasi mana
saja pada saluran cerna mulai dari mulut hingga anus. Hal ini dapat terbatas pada colon atau dapat
melibatkan baik usus kecil maupun besar.

Gejala Klinis

Penyakit Crohn’s sangat mirip dengan kolitis ulseratif pada gejala klinisnya. Namun, tidak seperti
kolitis ulseratif, segmen kolon yang terkena umumnya disertai pembentukan abses dan fistula.
Inflamasi perianal dengan abses dan multipel fistula in ano juga sering ditemukan dan bahkan
menjadi gejalan awal dari penyakit ini.

Tatalaksana
Tatalaksan mirip dengan penyakit Crohn pada usus kecil. Reseksi pada usus besar yang terkena
membutuhkan segmental colectomy jika hanya area kecil yang terkena, atau eksisi total dengan
permanen ileostomy pada kasus yang meluas. Proctocolectomy dan pembuatan kantong Parks’ tidak
dilakukan pada penyakit Crohn’s dikarenakan resiko sepsis dan pembentukan fistula, dan
kemungkinan terjadi berulang.