Anda di halaman 1dari 20

Laporan Praktikum Rangkaian Listrik II

Rangkaian RL, RC, dan Dasar-Dasar Rangkaian AC

Anggota kelompok :

1. Muizzul Hidayat (12/TT1A)


2. Nadhea Lulu L. (14/TT1A)
3. Putri Ardiana (16/TT1A)
4. Siti Juariyah (21/TT1A)
5. Wahyu Dwi C (23/TT1A)
6. Wuslahtud Dallalah (24/TT1A)

PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

POLITEKNIK NEGERI MALANG

2016
MODUL III

RANGKAIAN RL, RC, dan DASAR-DASAR RANGKAIAN AC

A. RANGKAIAN RL DAN RC
3.1 Tujuan Percobaan
a. Mahasiswa dapat mempelajari efek perubahan frekuensi terhadap impedansi dan arus
pada rangkaian RL seri.
b. Mahasiswa dapat mempelajari efek perubahan frekuensi terhadap impedansi dan arus
pada rangkaian RC seri.

3.2 Dasar Teori


3.2.1 Impedansi Rangkaian RL Seri

Impedansi rangkaian RL seri diberikan rumus :

𝑍 = √𝑅 2 + 𝑋𝐿2 ……...……………………………………………………(3.1)

Jika R adalah konstan, perubahan 𝑋𝐿 akan mempengaruhi Z. Sehingga kenaikan 𝑋𝐿 ,


menyebabkan Z naik. Sebaliknya 𝑋𝐿 turun menyebabkan Z turun.

𝑋𝐿 = 2 𝜋𝑓𝐿 .……………………..……………………………………….(3.2)

Perubahan 𝑋𝐿 dapat dilakukan dengan meniakkan atau menurunkan harga L, dengan f


mendekati konstan. Dapat pula dengan menaikkan atau menurunkan f, dengan L
mendekati konstan.

3.2.2 Arus Terhadap Frekuensi Pada Rangkaian RL

Arus pada Rangkaian AC diberi rumus :

𝑉
𝐼 = 𝑍 ……….………………………………………………………………(3.3)

Besarnya arus berbanding terbalik dengan. Pada saat Z bertambah dengan f pada
rangkaian RL seri, maka arus akan sebagaimana f bertambah.

3.2.3 Impedansi Rangkaian RC Seri

Impedansi rangkaian RC seri diberi rumus :


𝑍 = √𝑅 2 + 𝑋𝐶2 …………………………………………………………...(3.4)

Perubahan 𝑋𝐶 berbanding terbalik dengan frekuensi. Rumus 𝑋𝐶 :

1
𝑋𝐶 = 2 𝜋𝑓𝐶 ………………………………………………………………...(3.5)

Impedansi rangkaian RC seri bertambah dengan penurunan frekusensi dan sebaliknya


akan berkurang dengan kenaikan frekuensi.

3.2.4 Arus Terhadap Frekuensi pada Rangkaian RC

Pada rangkaian Rc seri, ketika f berkurang, 𝑋𝐶 bertambah, Z bertambah dan I


berkurang. Ketika f bertambah, 𝑋𝐶 berkurang, Z berkurang dan I bertambah.
Hubungan ini berkebalikan dengan RL seri.

Sehingga dapat dikatakan bahwa efek dari kapasitor dan inductor pada arus pada
rangkaian RC dan RL adalah kebalikan.

3.3 Alat dan Bahan


a. Audio Generator 1 buah
b. Digital Multimeter 1 buah
c. Resistor (10KΩ) 1 buah
d. Kapasitor (0,1µF) 1 buah
e. Inductor (2,5mH 200mA) 1 buah

3.4 Gambar Rangkaian Praktikum

Gambar 3.1 Rangkaian Respon Frekuensi RL


3.5 Langkah Percobaan
A. Respon Frekuensi Rangkaian RL
1. Ukur resistor 10KΩdengan ohmmeter, catat hasil pengukuran pada tabel 3.1
2. Buatlah rangkaian seperi gambar rangkaian gambar 3.1
3. Atur AG dengan Vout = 5 Vpp dan frekuensi = 50 Hz. Ukur tegangan pada
resistor VR dan catat pada tabel 3.1
4. Atur AG sehingga f = 100 Hz, cek tegangan keluaran = 5 Vpp. Ukur VR dan
catat pada tabel 4.1
5. Ulangi langkah 4 untuk frekuensi seperti pada tabel 3.1 pada tiap frekuensi, ukur
VR dan catat hasil pengukuran pada tabel 3.1 setelah pengukuran selesai, matikan
AG.
6. Dengan harga terukur dari VR dan R. hitung arus pada rangkaian pada tiap
frekuensi. Catat hasil pengukuran pada tabel 3.1
7. Dengan harga hasil perhitungan dari arus I dan tegangan V, hitung impedansi Z
rangkaian padatiap frekuensi. Catat hasil perhitungan saudara pada tabel 3.1
B. Respon Frekuensi pada Rangkaian RC
1. Buat rangkaian seperti gambar 3.2
2. Nyalakan AG dan atur pada fo = 500 Hz dan Vo = 5 Vpp
3. Ukur tegangan resistor VR dan catat pada tabel 3.2
4. Turunkan frekuensi menjadi 450 Hz. Cek tegangan keluarannya. Ukur VR dan
catat pada tabel 3.2
5. Ulangi langkah 4 untuk frekuensi seperti 3.2, setelah pengukuran selesai matikan
AG
6. Dengan menggunakan harga VR yang terukur pada (dari tabel 3.2) dan R (dari
3.1), hitung arus I pada rangkaian tiap frekuensi. Catat hasil perhitungan saudara
pada tabel 3.2
7. Dengan menggunakan harga hasil perhitungan arus I dan tegangan V, hitung
impedansi rangkaian pada tiap harga frekuensi. Catat hasil perhitungan saudara
pada tabel 3.2
3.6 Hasil Percoban
Tabel 3.1 Respon Frekuensi Rangkaian RL Seri
Frekuensi Tegangan Ress Arus Impedansi
V
(Hz) VR (V) Rangkaian Rangkaian
50 5 1,7 0,1 mA 10000,785
100 5 1,7 0,1 mA 10001,58

150 5 1,7 0,17 mA 10002,35


200 5 1,8 0,18 mA 10003,14
250 5 1,8 0,19 mA 10003,92
300 5 1,8 0,2 mA 10004,71
350 5 1,8 0,21 mA 10005,49
400 5 1,8 0,22 mA 10006,28
450 5 1,8 0,23 mA 10007,06
500 5 1,8 0,24 mA 10007,85
R (nominal) = 10KΩ ; R (terukur) = 10 Ω

Tabel 3.2 Respon Frekuensi Rangkaian RC Seri


Frekuensi Tegangan Ress Arus Impedansi
V
(Hz) VR (V) Rangkaian Rangkaian
50 5 1,6 0,5 mA 41847
100 5 1,6 0,49 mA 25923
150 5 1,6 0,48 mA 20615
200 5 1,5 0,47 mA 17961
250 5 1,5 0,46 mA 16369
300 5 1,4 0,45 mA 15307
350 5 1,2 0,44 mA 14549
400 5 1,05 0,43 mA 13980
450 5 0,65 0,42 mA 13538
500 5 0,25 0,40 mA 13184
3.7 Pertanyaan
1. Jelaskan dengan kalimat saudara, bagaimana efek perubahan frekuensi terhadap arus
dan impedansi pada suatu rangkaian RL seri!
2. Jelaskan dengan kalimat saudara, bagaimana efek perubahan frekuensi terhadap
impedansi dan arus pada rangkaian RC seri!
3. Gambarkan grafik yang menggambarkanimpedansi terhadap frekuensi
menggunakan data tabel 3.1, sumbu horizontal (x) menunjukan frekuensi dan sumbu
vertical (y) menunjukan impedansi. Dengan sumbu yang sama, gambarkan grafik arus
terhadap frekuensi!
4. Lakukan seperti pertanyaan 3, menggunakan data pada tabel 3.2!
5. Apakah ada bagian grafik linier pada grafik pertanyaan 3? Jika ada, mengapa linier,
jelaskan!
6. Bagaimana grafik impedansi terhadap frekuensi pada rangkaian RL seri berbeda
dengan rangkaian RC? Jelaskan!
7. Bagaimana grafik arus terhadap frekuensi pada rangkaian RL seri berbeda dengan
rangkaian RC seri? Jelaskan!
8. Buatlah kesimpulan dari percobaan ini!
Jawab
1. Frekuensi semakin besar dan besar beban yang terjadi pada arus dan impedasinya akan
semakin besar .
2. Frekuensi semakin kecil dan kecil beban yang terjadi pada arus dan impedasinya akan
semakin kecil .

3.
4.
5. Tidak ada, karena frekuensi dan arus mempengaruhi perubahan pada impedensi
6. Iya berbeda, dikarenakan semakin besar frekuensi akan mempengaruhi besar impedensi yang
terjadi pada rangkaian, dan pada RL dan RC mempunyai perbedaan antara Induktor dan
Kapasitor sehingga mempengaruhi impendensinya juga.
7. Iya berbeda, dikarenakan semakin besar frekuensi akan mempengaruhi besar arus yang terjadi
pada rangkaian, dan pada RL dan RC mempunyai perbedaan antara Induktor dan Kapasitor
sehingga mempengaruhi impendensinya juga.
8. Pada rangkaian RL dan RC nilai pada impedensi dapat dipengaruhi oleh besarnya kecilnya
frekuensi dan beban

B. DASAR-DASAR RANGKAIAN AC
3.1 Tujuan Percobaan
a. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami dasar-dasar rangkaian AC.
b. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami tentang nilai puncak, nilai rms, dan nilai
rata-rata/average.
c. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami karakteristik beban resistif pada rangkaian
AC.
d. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami karakteristik beban induktif pada
rangkaian AC.
e. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami karakteristik beban kapasitif pada
rangkaian AC.
3.2 Dasar Teori

3.2.1 Rangkaian AC

Tegangan bolak-balik (AC, Alternating Current) dipergunakan dalam membangkitkan


dan mendistribusikan energy listrik. Tegangan AC dibangkitkan dari perputaran sebuah
gulungan (coli) di dalam sebuah medan magnet, seperti pada gambar dibawah ini.

Tegangan AC yang dihasilkan tergantung dari jumlah belitan dalam gulungan tersebut,
kekuatan medan magnet dan kecepatan putaran gulungan dalam medan magnet.

Sesuai dengan sesuai Hukum Farady tetang induksi elektromagnetik, tentang EMF
yang diinduksikan pada gulungan adalah nilai perubahan fluks yang melingkupi pada
gulungan terhadap perubahan waktu, dimana:

𝑑𝜙
e = -N 𝑑𝑡 …………………………………………………………………………...(3.6)

𝑑(𝜙𝑚 𝑐𝑜𝑠𝜔𝑡)
e = -N …………………………………………………………………..(3.7)
𝑑𝑡

e = -Nω 𝜙𝑚 (-sinωt) ……………………………………………………………….(3.8)

e = ωN𝜙𝑚 sinωt………………………………………………………………….(3.9)

e = 𝐸𝑚 sinωt ……………………………………………………………………..(3.10)

e = 𝐸𝑚 sinθ ……………………………………………………………………….(3.11)
Dimana:

𝐸𝑚 = ωN 𝜙𝑚 ……………………………………………………………………………..(3.12)

θ = ωt…………………………………………………………………………………… (3.13)

Keterangan:

e = tegangan induksi EMF (volt)

𝐸𝑚 = EMF maksimum (volt)

N = Jumlah belitan dalam gulungan

Φ = Jumlah magnet (weber)

𝜙𝑚 = Jumlah magnet maksimum (weber)

ω = Kecepatan sudut (radian/detik)

θ = Sudut listrik (radian)

t = Waktu (detik)

karena ω = 2πf……………………………………………………………………….......(3.14)

Dimana f adalah frekuensi, yang merupakan perbandingan jumlah satu siklus yang
ditempuh per satuan waktu dengan satuan Hz (Hertz), sehingga persamaan tegangan bolak-
balik adalah:

2𝜋𝜋
e = 𝐸𝑚 sin2πft = 𝐸𝑚 sin t…………………..………………………………..(3.15)
𝑇

1
Dimana: f = 𝑇 …………………………………………………………………….(3.16)

T adalah waktu yang dibutuhkan untuk satu periode tegangan menyelesaikan satu
siklus gelombangnya dimana waktu tersebut adalah sama dengan waktu yang dihubungkan
gulungan berputar diantara dua buah kutub magnet dalam satu putaran.

Gambar dibawah ini memperlihatkan sebuah tegangan induksi emf yang merupakan
fungsi sinusoidal, sesuai dengan persamaan diatas.
Dari gambar diatas terlihat bahwa suatu tagangan induksi emf bolak – balik sinusoidal
mempunyai nilai maksimum, yaitu Em pada sudut 90⁰ dan – Em pada sudut 180⁰. Nilai
maksimum dari tegangan bolak – balik, baik nilai negatif maupun nilai positif disebut
amplituda.

Bila didefinisikan suatu tegangan AC sinusoidal v, maka sesuai dengan persamaan


(1.5), maka ilai sesaat v adalah:

v = 𝑉𝑚 sinωt = 𝑉𝑚 sinθ ………………………………………………………….(3.17)

Dan nilai arus AC sinusoida sesaat adalah :

i= 𝐼𝑚 sinωt = 𝐼𝑚 sinθ …………………………………………………………...(3.18)

Selain mempunyai nilai sesaat , tegangan dan arus bolak – balik mempunyai nilai
efektif. Nilai efektif adalah nilai yangterukur pada alat ukur multimeter. Nilai efektif disebut
juga RMS (root mean square) dari sebuah tegangan bolak – balik memberikan kemungkinan
untu membandingkan tegangan itu dengan tegangan searah yang sepadan. Dalam sebuah
tahanan, nilai ini akan menghasilkan efek panas yang sama seperti yang ditimbulkan oleh
tegangan searah yang setara nilainya.

Maka nilai arus rumus I adalah :

1 2𝜋
I = (2𝜋 ∫0 𝑖 2 𝑑𝜃) ……………………………………………………….………(3.19)

1 2𝜋
I = (2𝜋 ∫0 (𝐼𝑚 sin 𝜔𝑡) 𝑑𝜃) ………………………………………….…………..(3.20)

(𝐼𝑚 ) 𝐼𝑚
I=( ) = = 0,707𝐼𝑚 ………………………………………………………..(3.21)
2 √2
Analogi dengan persamaan (1.16), maka nilai tegangan RMS adalah:

𝑉𝑚
V= = 0,707𝑉𝑚 ………………………………………………………………...(3.22)
√2

Nilai rata-rata dari suatu tegangan bolak-balik dinyatakan sebagai nilai rata-rata gelombang
dalam setengah siklus, dimana nilai rata-rata tegangan bolak-balik 𝑉𝑎𝑣 :

1 𝜋
𝑉𝑎𝑣 = 𝜋 ∫0 𝑉𝑚 sinθ dθ …………………………………………………………….(3.23)

2𝑉𝑚
𝑉𝑎𝑣 = = 0,637𝑉𝑚 ……………………………………………………………...(3.24)
𝜋

Analogi dengan persamaan (1.19), maka arus rata-rata bolak-balik adalah:

2𝑉𝑚
𝐼𝑎𝑣 = = 0,637𝐼𝑚 ………………………………………………………………(3.25)
𝜋

Beban pada rangkaian bolak-balik disebut Impedansi Z (Ω) terdiri dari 3 jenis, yaitu:

1. Beban tahanan murni R, yang menghasilakn panas dalam tahanan.


2. Bebean induktif L, yang menghasilkan medan magnet dalam alat listrik (Induktor).
3. Beban kapasitif C, yang menghasilkan medan listrik dalam alat listrik (kapasitor)

3.2.2 Beban Resistif pada Rangkaian AC

Apabila terdapat sebuah beban resistif murni R pada rangkaian AC, maka sesuai
dengan persamaan (1.5), nilai tegangannya adalah:

v=𝑉𝑚 sin ωt ……………………………………………………………………(3.26)

Dan sesuai dengan Hukum Ohm, maka arus yang dihasilkan adalah:

𝑣 𝑉𝑚 sin 𝜔𝑡
i= R = = 𝐼𝑚 sin ωt………………………………………………………(3.27)
𝑅

Dari persamaan diatas , terlihat bahwa tegangan dan arus saat pada rangkaian AC
untuk beban resistif murni ini adalah Sefasa, karena sudut fasa ωt yang sama dan melewati 0
secara bersamaan. Tegangan dan arus dalam nilai efektif dan bentuk kompleks beserta
phasornya:
3.2.3 Beban Induktif L pada Rangkaian AC

Apabila terdapat sebuah beban induktif murni L pada rangkaian AC , maka sesuai
dengan persamaan (1.5), nilai tegangannya adalah:

v=𝑉𝑚 sin ωt……………………………………………………………………(3.28)

Dengan tegangannya juga dipengaruhi besarnya induktansi dan perubahan arus terhadap
waktu, sehingga:

di
v= L dt …………………………………………………………………………(3.29)

Dari kedua persamaan diatas, jika di subtitusikan:

𝑑𝑖
𝐿 𝑑𝑡 = 𝑉𝑚 sin ωt…………………………………………………………………(3.30)

𝑉𝑚
di = sin ωt dt………………………………………………………………...(3.31)
𝐿

𝑉𝑚
i= 𝐿
∫ 𝑠𝑖𝑛 ωtdt……………………………………………………………….(3.32)

𝑉
𝑚 𝑚 𝑉 𝜔
i = - 𝜔𝐿 cos ωt= 𝑋𝐿 sin (𝜔𝑡 − 2 ) ………………………………………………(3.33)

XL adalah reaktansi induktif dengan besaran Ohm, dimana:

XL = ωL …………………………………………………………………………(3.34)
Dari persamaan diatas, terlihat bahwa arus pada rangkaian AC untuk beban induktif
murni ini tertinggal 2π rad atau 90⁰ terhadap tegangannya. Tegangan dan arus dalam nilai
efektif dan bentuk kompleks beserta phasornya adalah:

3.2.4 Beban Kapasitif C pada Rangkaian AC

Apabila terdapat sebuah beban kapasitif murni C pada rangkaian AC, maka sesuai
dengan persamaan (1.5), nilai tegangannya adalah:

v = 𝑉𝑚 sin ωt……………………………………………………………………..(3.35)

Dan arusnya dipengaruhi oleh besarnya perubahan muatan listrik terhadap waktu, dimana:

𝑑𝑞
i = 𝑑𝑡 ……………………………………………………………………………(3.36)

𝐷(𝐶𝑣) 𝑑
i= = C𝐷𝑡 𝑉𝑚 sin ωt………………………………………………………...(3.37)
𝑑𝑡

i = ωC𝑉𝑚 cos ωt…………………………………………………………………(3.38)

𝑉
𝑚 𝜋
i = 𝑋𝐶 sin (ω𝑡 + 2 ) ………………………………………………………………(3.39)

XC adalah reaktansi kapasitif dengan besaran Ohm, dimana:

1
XC= ωC ………………………………………………………………………….(3.40)
Dari persamaan diatas, terlihat bahwa arus pada rangkaian AC untuk beban kapasitif
ini mendahului 2π rad atau 90⁰ terhadap tegangannya. Tegangan dan arus dalam nilai efektif
dan arus komleks beserta phasornya adalah:

3.3 Alat dan Bahan

a. AFG 1 buah
b. Oscilloscope 1 buah
c. Multimeter Digital 2 buah
d. Resistor 1KΩ 1 buah
e. INDUKTOR 2,5Mh 1 buah
f. Kapastor 0,01μf 1 buah

3.4 Gambar Rangkaian Percobaan


3.5 Langkah Percobaan

1. Buatlah rangkaian seperti gambar 3.8.


2. Nyalakan AFG dan Oscilloscope.
3. Dengan memperhatikan voltmeter, pertahankan tegangan keluaran AFG pada 5 volt.
4. Atur frekuwensi awal AFG pada 10KHz.
5. Dengan memperhatikan bentuk dan gelombang Oscilloscope, catat nilai tegangan
pada Vm pada tabel hasil percobaan.
6. Catat ilai arus yang ditunujukkan oleh ampermeter pada tabel percobaan.
7. Mengulangi langkah 4 sampai 6, dengan frekuensi yang bervariasi sesuai dengan
tabel.
8. Buatlah rangkaian seperti gamabar 3.9.
9. Ulangi langkah 2 sampai 7 untuk beban induktif.
10. Buatlah rangkaian seperti gambar 3.10.
11. Ulangi langkah 2 sampai 7 untuk beban kapasitif.

3.6 Hasil Percobaan

Tabel 3.1 Hasil Percobaan beban resistif R

No ẝ (KHz) V (V) Vm I (mA)


Vpp RMS
1. 10 5 5,09 1,78 5 mA
2. 20 5 5,20 1,76 5 mA
3. 30 5 5,20 1,74 5 mA
4. 40 5 5,20 1,75 5 mA
5. 50 5 5,20 1,74 5 mA

Tabel 3.2 Hasil Percobaan beban resistif L

No ẝ (KHz) V (V) Vm I (mA)


Vpp RMS
1. 10 5 5 1,8 11,5 A
2. 20 5 5 1,8 5,73 A
3. 30 5 5 1,8 3,82 A
4. 40 5 5 1,8 2,86 A
5. 50 5 5 1,8 2,29 A

Tabel 3.2 Hasil Percobaan beban resistif C

No ẝ (KHz) V (V) Vm I (mA)


Vpp RMS
1. 10 5 5,20 1,74 8,3 mA
2. 20 5 4,64 1,54 4 mA
3. 30 5 4,72 1,52 2,65 mA
4. 40 5 3,92 1,30 1,99 mA
5. 50 5 5,04 1,73 1,59 mA

3.7 Analisa

1. Untuk percobaan beban resistif R.


 Hitung nilai tegangan maksimum Vm.
 Hitung nilai tegangan rata-rata Vav.
 Untuk semua frekuwensi, hitunglah periode gelombang tegangannya
V
 Untuk semua frekuensi, hitunglah nilai R= I

2. Untuk percobaan beban induktif L.


 Hitung nilai tegangan maksimum Vm.
 Hitung nilai tegangan rata-rata Vav.
V
 Hitung nilai reaktansi induktif 𝑋𝐿 = untuk setiap perubahan frekuensi.
I

 Hitunglah nilai reaktansi induktif XL=2πfL, untuk setiap perubahan frekuensi


3. Untuk percobaan beban kapasitif C.
 Hitung nilai tegangan maksimum Vm.
 Hitung nilai tegangan rata-rata Vav.
V
 Hitung nilai reaktansi induktif 𝑋𝑐 = untuk setiap perubahan frekuens.
I
1
 Hitung nilai reaktansi induktif 𝑋𝑐 = 2π fC untuk setiap perubahan frekuensi.

4. Grafik:
 R = f (frekuensi)
 XL = f (frekuensi)
 Xc = f (frekuensi)
5. Bagaiman hasil perhitungan mulai tegangan puncak Vm dan tegangan rata-rata Vav
untuk semua beban, jika dibandingakan dengan hasil percobaan dan dasar teori? Apa
alasannya?
6. Bandingkan nilai tahanan dari hasil perhitungan dengan data resistor yang digunakan?
Apa alasannya?
7. Bandingkan nilai reaktansi induktif dan hasil perhitungan untuk kedua formula
tersebut? Apa pendapat anda?
8. Bandingkan nilai reaktansi kapasitif dari hasil perhitungan untuk kedua formula
tersebut? Apa pendapat anda?
9. Dangan memperhatiakan grafik R = f (frekuensi), apa pendapat mu tentang resistansi
terhadap perubahan frekuensi? Jelaskan secara detail.
10. Dengan memperhatikan grafik XL = f (frekuensi), apa pendapat anda tentang
reaktansi induktif terhadap penurunan frekuensi? Jelaskan secara detail.
11. Dengan memperhatikan grafik XC = f (frekuensi), apa pendapat mu tentang reaktansi
kapasitif terhadap perubahan frekuensi? Jelakan secara detail.
12. Berikan kesimpulan mu tentang percobaan ini.

Jawab
1. Nilai Vm, , Vav, , T, R

No f (KHz) V (V) Vm I (mA) Vav T R


Vpp RMS
1. 10 5 5,09 1,78 5 mA 3,2 0,1 1
2. 20 5 5,20 1,76 5 mA 3,3 0,2 1
3. 30 5 5,20 1,74 5 mA 3,3 0,3 1
4. 40 5 5,20 1,75 5 mA 3,3 0,4 1
5. 50 5 5,20 1,74 5 mA 3,3 0,5 1

2. Nilai Vm, , Vav, XL = v/i , XL = 𝜋fL

No f (KHz) V (V) Vm I (mA) Vav XL XL


Vpp RMS
1. 10 5 5 1,8 11,46A 0,318 0,43 157
2. 20 5 5 1,8 5,73A 0,318 0,87 314,15
3. 30 5 5 1,8 3,82A 0,318 0,94 471,23
4. 40 5 5 1,8 2,86A 0,318 1,74 628,31
5. 50 5 5 1,8 2,29A 0,318 2,18 785,39

1
3. Nilai Vm, , Vav, Xc = V/I , Xc= 2𝜋𝑓𝐶

No f (KHz) V (V) Vm I (mA) Vav XC XC


Vpp RMS
1. 10 5 5,09 1,78 8,3 mA 3,23 0,6 1,59
2. 20 5 5,20 1,76 4 mA 3,30 1,25 0,79
3. 30 5 5,20 1,74 2,65 mA 3,30 1,88 0,53
4. 40 5 5,20 1,75 1,99 mA 3,30 2,51 0,39
5. 50 5 5,20 1,74 1,59 mA 3,30 3,14 0,31

4. Grafik
 R = f (frekuensi)

 Xl = f (frekuensi)
 Xc = f (frekuensi)

5. Pada resitor nilai Vm lebih tinggi dari Vav dikarenakan dalam resistor terdapat nilai toleransi
dan tahanan dalam yang mengakibatkan desipaysi daya, sehingga nilai V pada resistor akan
mencapai maksimum dari Vs umber (av).
Pada induktor Vm dan Vav mempunyai harga yang sama dikarenakan V yang mengalir hanya
dapat membuat kumparan induktor menjadi sebuah medan elektromagnetik untuk
mengalirkan arus.
Pada kapasiotor, Vm dititik tertentu akan mengalami kenaikan dan melampaui Vav, dan pada
totok lain Vm akan turun dibawah Vav, hal ini dikarenakan pada saat turun terjadi
pengkosongan daya pada kapasitor dan pada saat naik terjadi pengisian daya pada kapasitor
6. Resistor yang ideal memiliki nilai resistansi yang sesuai dengan desainnya namun pada
kenyataannya resistor tidak memiliki nilai yang presisi sesuai nilai yang terlabel. Resistor
memiliki nilai toleransi yaitu nilai batas atas dan batas bawah dari nilai terlabel. Nilai
toleransi ini bervariasi sesuai jenis resistor, umumnya resistor memiliki nilai toleransi ±5%
atau ±10% dari nilai terlabel.
7. Nilai reaktansi induktif pada hasil percobaan dapat disimpulkan memiliki karakteristik
semakin tinggi frekuensi semakin tinggi nilai reaktansi induktifnya. Pada hasil perhitungan
nilai reaktansi induktif memiliki karakteristik yang tidak berbeda.
8. Nilai reaktansi kapasitif pada hasil percobaan dapat disimpulkan memiliki karakteristik
semakin tinggi frekuensi semakin turun nilai reaktansi kapasitifnya. Pada hasil perhitungan
nilai reaktansi kapasitif memiliki karakteristik yang tidak berbeda.
9. Secara teoretis pengaruh frekuensi pada resistansi murni tidak akan mempengaruhi besar nilai
resistansi. Besar kecil nilai resistansi murni dipengaruhi oleh nilai toleransi resistor. Pada
hasil percobaan nilai resistansi tidak berubah secara signifikan tetapi mengalami fluktuasi ini.
Dalam pengukuran ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam perolehan data yaitu dari
kondisi instrumen alat ukur dan kondisi pengamat.
10. Nilai reaktansi induktif memiliki karakteristik yaitu meningkat seiring bertambahnya
frekuensi. Pada grafik terlihat bahwa nilai arus semakin kecil yang mengindikasikan naiknya
impedansi rangkaian.
11. Nilai reaktansi kapasitif memiliki karakteristik yaitu menurun seiring bertambahnya
frekuensi. Pada grafik terlihat bahwa nilai arus semakin besar yang mengindikasikan turunnya
impedansi rangkaian.
12. Beban pada rangkaian bolak-balik disebut Impedansi Z (Ω) terdiri dari 3 jenis, yaitu:
- Beban tahanan murni R, yang menghasilkan panas dalam tahanan.
Memiliki karakteristik : Resistansi tidak berubah terhadap frekuensi.
- Beban induktif L, yang menghasilkan medan magnet dalam alat listrik (Induktor).
Memiliki karakteristik : Reaktansi berubah - ubah yaitu meningkat seiring bertambahnya
frekuensi dan sebaliknya menurun dengan turunnya frekuensi.
- Beban kapasitif C, yang menghasilkan medan listrik dalam alat listrik (kapasitor).
Memiliki karakteristik : Reaktansi berubah - ubah yaitu meningkat seiring dengan turunnya
frekuensi dan sebaliknya menurun dengan bertambahnya frekuensi.
Perubahan nilai reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif terhadap frekuensi adalah
berkebalikan.