Anda di halaman 1dari 11

BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat rawan akan gempa Tektonik. Indonesia
menempati zona tektonik yang sangat aktif dengan adanya pertemuan 3 lempeng besar dunia
dan sembilan lempeng kecil lainnya yang membentuk jalur-jalur pertemuan lempeng yang
kompleks (Bird, 2003). Keberadaan interaksi antar lempeng-lempeng tersebut menempatkan
wilayah Indonesia sebagai wilayah yang sangat rawan terhadap gempa bumi (Milson, et al.,
1992).

Berdasarkan data tersebut, para ahli di bidang geografi, geofisik, Geologi, Geoteknologi,
Geodesi, Teknik Sipil, dan Departemen Pekerjaan Umum telah membuat peta gempa Indonesia
sehingga Pemerintah dapat memperoleh informasi akan rawannya gempa tektonik di beberapa
wilayah di Indonesia. Selain itu, Pemerintah telah membentuk Rencana Aksi Nasional
Pengurangan Risiko Bencana pada tahun 2006. Pemerintah juga bekerjasama dengan beberapa
negara tetangga untuk menanggulangi bencana alam, salah satunya adalah Australia. Indonesia
bekerjasama dengan Australia dalam menanggulangi bencana alam dengan
membentuk Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR).

Pertolongan dan evakuasi korban bencana alam harus dilakukan secepat mungkin. Misalnya
pada gempa, tim penyelamat harus bertindak cepat untuk menyelamatkan korban, khususnya
yang masih hidup, di antara reruntuhan. Namun, tim penyelamat sering kali mendapat kesulitan
mencari korban di dalam reruntuhan karena rentannya reruntuhan sangat berbahaya dimasuki.
Oleh karena itu, keberadaan robot Search and Rescue (SAR) sangat diperlukan untuk
membantu tim penyelamat dalam mencari korban bencana sebelum bertindak.

Untuk menjalankan misi menolong korban bencana, robot harus memiliki mobilitas yang baik
untuk menjangkau lokasi yang diinginkan. Dalam aksinya, robot dikendalikan oleh tim
penyelamat sebagai operator melalui joystik yang tersedia untuk melakukan langkah
selanjutnya dengan melihat data telemetri maupun visual yang terkirim dari robot SAR.
Dengan adanya robot SAR tersebut, tim penyelamat dapat menentukan tindakan apa yang akan
diberikan pada korban.

Berdasarkan hal yang telah dikemukakan sebelumnya, penulis tertarik untuk melakukan
Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta dengan judul “Pembuatan Robot “SANDROS”
(SAR ANDROID OF ROBOTICS) Sebagai Robot Penjelajah untuk Menolong Korban Bencana
Alam”. Robot ini diberi nama SANDROS, diambil dari kata SAR ANDROID OF
ROBOTICS, karena komponen yang digunakan di robot ini adalah ponsel Android yang
memiliki fitur kamera, bluetooth, sensor, dan internet yang akan digunakan di robot. Robot ini
berpotensi mampu menjadi robot penjelajah untuk menolong korban bencana alam dengan
memberikan data kepada tim penyelamat tentang kondisi daerah bencana.

B. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan yang berusaha diatasi melalui program ini
dapat dirumuskan sebagai berikut.

1. Bagaimana menciptakan Robot SANDROS (SAR ANDROID OF ROBOTICS) sebagai

robot penjelajah untuk menolong korban bencana?

2. Bagaimana cara kerja Robot SANDROS (SAR ANDROID OF ROBOTICS) sebagai

robot penjelajah untuk menolong korban bencana?

3. Bagaimana penerapan Robot SANDROS (SAR ANDROID OF ROBOTICS) sebagai

robot penjelajah untuk menolong korban bencana?


C. TUJUAN

Tujuan dilaksanakannya program ini adalah untuk menolong korban bencana alam dengan
menciptakan Robot SANDROS yang dapat digunakan sebagai robot penjelajah di daerah
bencana alam.

D. LUARAN YANG DIHARAPKAN

Luaran yang diharapkan adalah suatu robot Search And Rescue yang dapat digunakan untuk
menolong korban bencana alam dengan menjadi penjelajah di daerah bencana. Pada robot ini,
terdapat aplikasi sebagai berikut.

1. Video Streaming melalui Internet sehingga tim penyelamat dapat mengetahui keadaan

di suatu tempat bencana.

2. Sistem GPS yang dapat memberikan data posisi bagi tim penyelamat untuk

menjangkau daerah bencana.

3. Sensor Humidity untuk memberikan data kelembaban di daerah bencana.

4. Sensor Gas untuk memberikan data gas yang kemungkinan berada di daerah bencana.

5. Sensor temperatur untuk memberikan data temperatur di daerah bencana


E KEGUNAAN

Kegunaan yang akan diperoleh dari program ini antara lain:

1. Kegunaan ditinjau dari segi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

1. Menciptakan teknologi, yaitu robot SANDROS, yang dapat digunakan untuk

menolong korban bencana alam.

2. Mengembangkan teknologi di bidang pertolongan terhadap masyarakat yang

tertimpa bencana alam.

3. Mengembangkan dan merangsang kreativitas.

4. Kegunaan ditinjau dari segi masyarakat dan ekonomi

1. Memberikan salah satu solusi dalam upaya pertolongan korban

bencana alam.

2. Indonesia tidak perlu membeli robot penjelajah untuk bencana alam

dengan mengimpor dari negara lain.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Bencana Alam dan Robot SANDROS

Indonesia berada di daerah yang rawan bencana alam, khususnya gempa. Indonesia menempati
zona tektonik yang sangat aktif dengan adanya pertemuan 3 lempeng besar dunia dan sembilan
lempeng kecil lainnya (Gambar 1). Dalam enam tahun terakhir telah tercatat berbagai aktifitas
gempa besar di Indonesia, yaitu Gempa Aceh disertai tsunami tahun 2004 (Mw = 9,2), Gempa
Nias tahun 2005 (Mw = 8,7), Gempa Jogya tahun 2006 (Mw = 6,3), Gempa Tasik tahun 2009
(Mw = 7,4) dan terakhir Gempa Padang tahun 2009 (Mw = 7,6) (Masyhur, et al., 2010).
Gempa-gempa tersebut telah menyebabkan runtuhnya bangunan yang menimpa penghuni di
dalamnya. Banyak sekali korban jiwa. Dan tidak sedikit pula korban selamat yang terjebak di
antara reruntuhan menunggu datangnya pertolongan.

Gambar 1. Peta Tektonik kepulauan Indonesia dan sekitarnya (Bock et al., 2003)

Pencarian korban selamat selalu menjadi prioritas tertinggi tim penyelamat yang harus berpacu
dengan waktu. Semakin lemasnya korban yang terjebak tanpa makan dan minum dapat
membuatnya meninggal. Di sisi lain, reruntuhan tersebut masih rentan runtuh sehingga sangat
membahayakan tim penyelamat. Sebagaimana yang terjadi saat penyelamatan di Ambacang
Hotel, Padang, operasi penyelamatan harus tertunda beberapa jam sampai tim penyelamat
yakin tidak begitu membahayakan. Oleh karena itu, keberadaan robot SAR sangat diperlukan
untuk membantu mencari korban yang selamat sebelum tim penyelamat memutuskan untuk
memasuki reruntuhan untuk menyelamatkan korban.
Untuk menjalankan misinya, robot harus memiliki mobilitas yang baik untuk
menjangkau lokasi yang diinginkan. Desain robot SAR yang memungkinkan adalah dengan
menggunakan continous track (roda tank). Hal ini karena bentuk roda tank bisa digunakan
untuk melewati berbagai kondisi permukaan jalan, termasuk kondisi permukaan jalan yang
tidak bagus. Kondisi permukaan jalan yang biasanya tidak menentu pada kondisi bencana alam
dapat dilewati dengan sistem roda tank tersebut. Selain itu, sistem roda tank tersebut juga
sangat stabil dalam hal navigasi

Berdasarkan hal tersebut, robot SANDROS didesain untuk memudahkan navigasi di


daerah bencana. Untuk membantu tim penyelamat dalam menyelesaikan misinya, robot harus
memiliki komponen yang dapat memberikan data kepada tim penyelamat. Robot SANDROS
memanfaatkan fitur yang terdapat di ponsel Android, seperti kamera, GPS, wireless, dan
bluetooth untuk memberikan data kepada tim penyelamat dengan menggunakan video
streaming melalui internet dan GPS untuk memberikan lokasi korban bencana. Selain itu, robot
SANDROS juga dilengkapi dengan sensor gas untuk mendeteksi bahaya gas di daerah bencana.
Sensor lain yang terdapat di robot SANDROS adalah sensor temperatur dan kelembaban yang
memberikan data temperatur dan kelembaban di daerah bencana.

Mengingat berbahayanya daerah bencana, Robot SANDROS sangat berpotensi untuk


digunakan di daerah bencana. Teknologi yang terdapat di robot SANDROS merupakan
teknologi yang dapat diterapkan dalam rangka upaya penyelamatan korban bencana alam.
Dengan berbagai fitur dan sensor yang terdapat di robot SANDROS, robot SANDROS sangat
memungkinkan untuk diimplementasikan sebagai robot penjelajah di daerah bencana untuk
menolong korban bencana alam.

B. Sensor Gas

Sensor gas ini digunakan pada daerah atau tempat yang mengalami kebocoran gas
berbahaya seperti di rumah maupun di industri. Jenis sensor gas yang digunakan adalah mq-5
keluaran Hanwei Electronics. Pada penerapannya sensor ini akan memberikan
nilai adc (analog to digital converter), yaitu tegangan yang sesuai dengan kondisi sekitar,
berdasarkan ada atau tidaknya gas berbahaya pada lingkungan di sekitar sensor tersebut.

Gambar 3. Sensor Gas


C. Sensor Jarak

Sensor jarak yang digunakan adalah PINGTM keluaran Parallax. Sensor ini bekerja
berdasarkan sinar ultrasonik yang dipancarkan oleh bagian transmitter dan diterima kembali di
bagian receiver. Pada penerapan di robot, sensor ini akan digunakan untuk keperluan navigasi
dasar dari robot yang akan dikontrol. Jika terdapat halangan, direpresentasikan sebagai
penghitungan jarak yang dekat dari sensor jarak, maka robot tidak akan terus bergerak dan
menabrak halangan tersebut.

Gambar 4. Sensor jarak PINGTM

D. Sensor Temperatur dan Kelembaban

Kedua sensor ini dibuat dalam suatu modul cerdas keluaran innovative electronics
berbasis sensor SHT10 yang dapat digunakan untuk mendeteksi besarnya temperatur udara dan
kelembaban nisbi (relatif humidity disingkat RH) di sekitar sensor. Akurasi dari sensor ini
cukup tinggi, yaitu 0.5 derajat celcius dan 4.5 % RH. Keluaran sensor ini berupa data digital
yang sudah terkalibrasi penuh sehingga dapat langsung dipakai tanpa perhitungan tambahan.
Pada penerapan di robot, sensor ini akan mengambil nilai besar suhu dan kelembaban di
lingkungan sekitar sensor tersebut. Jika terlalu tinggi atau pun terlalu rendah maka dapat
dilakukan tindakan selanjutnya dengan cepat dan tepat.

Gambar 5. Modul Sensor SHT10

E. Sensor Accelerometer

Sensor ini digunakan untuk mengukur kemiringan robot dalam 3-axis terhadap gravitasi
bumi sehingga dalam praktiknya digunakan satuan g sebagai acuan kemiringan. Jenis sensor
yang digunakan adalah MMA7260Q. Pada penerapannya, sensor ini akan mengambil
nilai adc berdasarkan besar kemiringan robot dalam 3-axis sehingga kemiringan robot dari
segala arah dapat diketahui.
F. Ponsel Android dengan Fiturnya

Teknologi yang paling menonjol di robot SANDROS adalah pemanfaatan ponsel Android
untuk menolong korban bencana alam. Robot memanfaatkan Fitur GPS pada android yang
robust dan efisien dalam penentuan posisi. Google telah menyediakan API yang
memungkinkan pengintegrasian peta serta posisi ponsel android ke dalam user interface yang
digunakan. Streaming video dan suara dari kamera yang terpasang di robot ke komputer yang
diawasi oleh operator. Operator juga dapat berbicara melalui microphone yang dapat terdengar
oleh korban melalui ponsel android.

Data dari berbagai sensor yang dipasang dikirim oleh microcontroller ke ponsel android
melalui transmisi data bluetooth. Data tersebut juga dikirim ke komputer sehingga operator
dapat mengetahui keadaan lingkungan tempat robot berada.

Streaming video, suara, dan data dilakukan melalui koneksi internet dari ponsel. Ponsel
berperan sebagai IP Server, komputer berperan sebagai client yang menghubungi server sesuai
dengan IP Address nya. Ketika tidak ada jaringan internet pada daerah yang akan dieksplore
oleh robot, maka dapat digunakan sistem open bts untuk membuat jaringan internet sehingga
permasalahan tidak adanya jaringan internet dapat teratasi secara penuh.

Dengan berbagai informasi yang diterima oleh operator, operator dapat memperoleh data
mengenai jumlah korban, persebaran korban, keadaan luka setiap korban, serta keadaan
lingkungan tempat korban berada. Data-data tersebut akan diolah sesuai dengan standar
internasional yang mengacu pada sphere project. Dengan hasil olahan data sesuai sphere
project tersebut dapat ditentukan tindakan darurat yang perlu dilakukan, serta kebutuhan
logistik bagi korban.
BAB III
METODE PELAKSANAAN PROGRAM

Metode yang digunakan untuk melaksanakan program ini secara umum dapat dilihat pada
diagram berikut.

IDENTIFIKASI STUDI LITERATUR DESAIN SISTEM


MASALAH DAN DATA DAN SIMULASI

UJI COBA, ANALISIS,


PRODUKSI DAN EVALUASI OPTIMASI SISTEM

Gambar 7. Diagram Alir Pelaksanaan Program

Terlihat pada Gambar 7, metode pelaksanaan program mengikuti Diagram Alir Pelaksanaan
Program. Berikut adalah penjelasan diagram tersebut.

1. Identifikasi Masalah
Identifikasi dilakukan terhadap permasalahan yang ada. Permasalahan yang telah
diidentifikasi sampai saat ini dapat dilihat pada bagian perumusan masalah.

2. Studi Literatur dan Data


Studi literatur dilakukan dengan mencari informasi dari buku, jurnal, internet dan sumber
lainnya. Studi data dilakukan dengan mencari informasi dari internet tentang bencana
alam, datasheet dari komponen robot, konsultasi dengan dosen pembimbing, dan lain-lain.

3. Desain Sistem dan Simulasi


Pada tahap ini dilakukan desain sistem dengan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu Pemilihan
komponen elektronik dan material robot; pembuatan desain perangkat keras robot; dan
pembuatan desain perangkat lunak robot. Setelah tahapan desain sistem, dilakukan tahapan
Simulasi untuk mencoba kinerja sistem tersebut.
4. Produksi
Pada tahap ini, produksi robot dilakukan dengan melalui beberapa tahapan, yaitu pembelian
komponen elektronik, sensor, mekanik, dan alat-alat pendukung; produksi komponen elektrik
dan mekanik robot; perakitan robot; dan instalasi perangkat lunak

5. Uji Coba, Analisis, dan Evaluasi


Uji coba robot dilakukan dalam bernavigasi dan menjalankan task. Setelah itu, dilakukan
analisis terhadap error, yaitu ketidaksesuaian antara idealisme dengan realita, selama masa uji
coba. Evaluasi dilakukan terhadap error sehingga error dapat diminimalisasi. Pada tahap ini,
dilakukan pula perbaikan robot apabila terjadi kerusakan.

6. Optimasi Sistem
Di tahap ini akan dilakukan perbaikan serta optimasi terhadap robot. Pada tahap ini,
dilakukan penyempurnaan terhadap robot sehingga robot reliable untuk digunakan. Laporan
Akhir program juga dibuat pada tahap ini.
BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN :

SARAN :
DAFTAR PUSTAKA

Irsyam, Masyhur, et al . 2010. Ringkasan Hasil Studi Tim Revisi Peta Gempa Indonesia
2010. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Mawardi, Ikhwanuddin. 2006. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana. Jakarta:
Perum Percetakan Negara RI.

Sentosa, Bagus Jaya. 2008. Struktur Kecepatan Gelombang S Di Bawah Indonesia Melalui
Analisis Seismogram Gempa-Gempa Bumi Di Sekitar Indonesia Pada Stasiun Observasi
Ugm. Makara, Sains, Vol. 12, No. 2 (2008) 134-145.