Anda di halaman 1dari 24

MODUL PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN RUMAH TINGGAL

Akar permasalahan rendahnya implementasi


TAHAN GEMPA standar teknis bangunan tahan gempa

PERSYARATAN RUMAH TAHAN GEMPA


SESUAI DENGAN STANDAR PEDOMAN
MANUAL (SPM)

Wahyu Wuryanti
Puslitbang Permukiman,
Badan Litbang
Kementerian Pekerjaan Umum
2012

Tidak ada benda mati di jagad semesta ini…….


Semuanya sedang bergerak ……
Setiap benda memiliki sifat kehidupan dengan derajat berbeda …….

Langit, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan
bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka… (QS. Al Israa:44)

1
Sumber data : Masyur
I
EURASIA PLATE
PHILIPINE PLATE
SUMBER GEMPA

PASIFIC PLATE

12 cm/year

6 cm/year

INDO AUSTRALIA PLATE

Major Tectonic around Indonesia (Bock et al., 2003)


• There are 4 major tectonic plates in this region: Eurasia, Indoaustralia, Pacific and Philipine.
• Indoaustralia and Philipine/pacific plates subduct beneath the Eursia plate with the rate of 6cm/year
and 12 cm/year

Bagaimana mengukur PERCEPATAN GEMPA


besaran suatu gempa
String
Magnet

Pendulum Bob
Pen
Support Rotating
Tiga besaran untuk mengukur gempa. Drum

1. Percepatan adalah laju perubahan kecepatan, yang dinyatakan


Chart Paper
dalam g (gravitasi) atau 980 cm/det 2 atau 1,00g Direction of
Ground Shaking Recorded

2. Magnitude adalah ukuran yang umum digunakan dalam mengukur


gempa. Ukuran ini mengukur besar gempa di sumber gempa dan
besaran ini akan selalu sama tidak masalah dimana kita berada Percepatan gempa
atau bagaimana getaran tersebut dirasakan, dinyatakan dalam  0,001g (1 cm/det2) tidak dapat dirasakan oleh manusia
satuan skala Richter (1-10)
 0,02g (20 cm/det2) menyebabkan orang kehilangan keseimbangan

3. Intensitas adalam suatu ukuran dari getaran dan kerusakan yang  0,50g sebagian bangunan masih dapat berdiri jika durasi gempa pendek dan
disebabkan oleh gempa dan nilai ini berubahah dari satu lokasi ke jika massa dan konfigurasi bangunan mempunyai cukup redaman
lokasi (I-XII).

2
Seismic Hazard Map of Indonesia (SNI-03-1726-2002)
Horizontal Peak Ground Acceleration at bedrock SB
for 10% in 50 years (+500-years)

Peta Gempa Indonesia 2010


Pengukuran Kekuatan Gempa Bumi
RICHTER INTENSITAS PENGARUH--PENGARUH TIPIKAL
PENGARUH
MAGNITUDE MAKSIMUM
(MMI)
≤2 I s.d II Pada umumnya tidak terasa

3 III Terasa oleh beberapa orang; tidak ada kerusakan

4 IV s.d V Terasa oleh banyak orang; barang


barang--barang
bergerak--gerak; tidak ada kerusakan struktural
bergerak
5 VI s.d VII Terjadi beberapa kerusakan struktural, seperti
retak--retak pada dinding dan cerobong asap
retak
6 VII s.d VIII Kerusakan menengah, seperti hancurnya dinding
yang lemah dan tumbangnya cerobong asap
7 IX s.d X Kerusakan besar, seperti runtuhnya bangunan
yang lemah dan retaknya bangunan yang kuat
≥8 XI s.d XII Rusak total atau hampir hancur total

3
FREKUENSI KEJADIAN GEMPA

DESKRIPSI MAGNITUDE KEJADIAN RATA


RATA--RATA TAHUNAN
Besar M>8 1
Mayor 7 <M <7.9 18
Kuat 6 < M < 6.9 120
Sedang 5 < M < 5.9 800
Ringan 4 < M < 4.9 6200 (perkiraan)
Minor 3 < M < 3.9 49000 (perkiraan)
Sangat minor M<3 2-3 : kira-kira 1000 per hari
1-2 : kira-kira 8000 per hari

1 Earthquake alone do not kill people. The collapse of


man-made structures do. Although people cannot
control the occurrence of earthquake, people can
definitely control the quality of man-made structure

Hazard x Vulnerability
Disaster Risk =
Capacity

4
1. Prediksi (peramalan) gempa
2. Zonasi
3. Perlindungan asuransi
4. Solusi teknis (engineering solution)

GEMPA BUMI DAN PERILAKU BANGUNAN GEMPA BUMI DAN PERILAKU BANGUNAN
struktur

Gelombang
permukaan

tanah
Z

Gelombang
Y
badan Pengaruh gaya inersia di dasar bangunan
PATAHAN EQ X

Strata geologi
• Getaran gempa menjalar secara acak dalam arah tiga dimensi
Penjalaran getaran gempa pada bangunan Bangunan tiga dimensi
• Pada saat awal meski dasar bangunan bergerak, atap cenderung bertahap
pada posisinya. Kemudian atap akan ikut tertarik akibat ikatan dengan
Energi yang lepas dari sumber gempa dirambatkan ke
permukaan tanah setelah melalui beberapa lapisan yang yang dinding dan kolom
dapat menimbulkan berbagai respons, bisa diperkuat • Gaya gempa arah vertikal menimbulkan penambahan gaya gravitasi yang
(amplifikasi), diperlemah (deamplifikasi) atau berubah
dipikul. Ketahanan bangunan akibat gaya gempa vertikal dipikul struktur
kandungan frekuensinya
Sumber IAEE sesuai dengan faktor keamanan Sumber IAEE

5
PERILAKU BANGUNAN SAAT GEMPA PERILAKU BANGUNAN SAAT GEMPA

Sumbu vertikal pusat


puntir bangunan

(a) Single-storey building (b) Three-storey building Earthquake


Ground Movement

GERAKAN HORISONTAL PADA BANGUNAN


Bangunan pada tanah curam

Wall
Massa
bangunan
ringan Wall

Berayun pada tali yang beda panjang

Wall
Columns
Twist Columns

Massa
bangunan Penampatan dinding pada salah satu/dua sisi saja
Getaran tanah berat
akibat gempa
TINGGI ATAU KEKAKUAN KOMPONEN VERTIKAL YANG
PENEMPATAN KOMPONEN VERTIKAL SERAGAM TETAPI PENEMPATAN MASSA TIDAK SERAGAM DAPAT MENYEBABKAN BANGUNAN
PUNTIR PADA SUMBU VERTIKAL
BERBEDA DAPAT MENYEBABKAN BANGUNAN PUNTIR
Sumber IAEE Sumber IAEE

JALUR BEBAN GEMPA PADA BANGUNAN JALUR BEBAN GEMPA PADA BANGUNAN
KOMPONEN VERTIKAL KOMPONEN VERTIKAL
• Saat terjadi gempa akan menyebabkan percepatan pada tanah
JALUR RESPONS BANGUNAN
• Percepatan tanah bersama dengan massa bangunan
Diafragma Diafragma menimbulkan gaya respons pada bangunan yang disebut
Bangunan Bangunan
dengan gaya inersia sebagai gaya perlawanan bangunan
JALUR
terhadap gaya gempa
INPUT Elemen Vertikal Elemen Vertikal
GEMPA Struktur Struktur • Karakter bangunan yang berbeda menimbulkan respon
Bangunan Bangunan
bangunan berbeda pula walaupun digoncang gempa bumi sama
Fondasi Fondasi • Semakin besar massa bangunan (M) semakin besar pula
percepatan pergerakan gempa bumi (a), maka semakin besar
Percepatan Tanah Tanah gaya yang harus ditahan bangunan tersebut (F), yaitu sebesar
gempa
F = M.a

6
PERILAKU BANGUNAN AKIBAT GEMPA FLEKSIBILTAS BANGUNAN – WAKTU GETAR ALAMI

Gaya inersia Inertia Forces  RESPON BANGUNAN akan


u bergoyang kiri
kiri--kanan secara
Atap (a) Atap bangunan ditarik seutas tali teratur..
teratur
Pelat lantai
T
T
 Goyangan utuh satu gerak
dinding T
T
dan kolom Perpindahan atap Time kiri--kanan disebut waktu
kiri
Kolom 0 getar alami fundamental,
fundamental, T

Fondasi
fondasi  Nilai T tergantung pada
fleksibilitas dan massa
Tanah bangunan
Percepatan Soil

Pergerakan gaya inersia relatif terhadap Inverted Pendulum Model


bangunan Getaran gempa

Pergerakan komponen struktur akibat


gaya inersia gempa (b) Bangunan bergoyang setelah tali dipotong

KETENTUAN UMUM  Pemilihan lahan tidak dekat dengan potensi efek gempa
tinggi, seperti pada bagian sesar, longsoran, berpotensi
PERENCANAAN BANGUNAN likuifaksi
TAHAN GEMPA  Penggunaan bahan bangunan seringan mungkin
 Denah bangunan sederhana dan simetris
 Detail komponen dan sambungan memenuhi ketentuan
tahan gempa
 Distribusi kekakuan merata pada arah vertikal maupun
horisontal

7
Hindari penempatan kawasan terbangun (permukiman,
komersial, dst) pada daerah patahan

Bantul – gampa yogya 2006 patahan opak

LIQUIFAKSI

1
2

3 4

8
PERSYARATAN KONFIGURASI BANGUNAN

BAIK

BURUK

PEMISAHAN (DILATASI) BANGUNAN


SNI 03-1734-1989 butir 3.1.12 mengenai pemisahan
KONFIGURASI BANGUNAN: BERATURAN, gedung 0,004 kali tinggi gedung atau 7,5 cm,
SIMETRIS, SEDERHANA bergantung yang mana yang terbesar

Penempatan dinding-dinding penyekat dan bukaan pintu/ jendela


harus dibuat simetris terhadap sumbu denah bangunan

Kurang baik
Lebih baik

9
PERSYARATAN DISTRIBUSI KEKAKUAN lanjutan…..
lanjutan…..

Perilaku bangunan saat terjadi gempa selain ditentukan


oleh besarnya percepatan gempa juga sangat tergantung
pada bentuk, ukuran dan geometri bangunan.

PERUBAHAN TAHANAN Seorang ahli gempa ternama dari AS, Henry Degenkolb
LATERAL DAN KEKAKUAN mengatakan:
(c) Lahan miring (d) Kolom menggantung
DAPAT MENYEBABKAN “bila seorang insinyur andal merancang bangunan yang bentuknya
KINERJA BANGUNAN BURUK tidak sesuai dengan kaidah tahan gempa, apa yang bisa dilakukan
hanyalah memasang band-aid untuk mengatasi masalah.
Sebaliknya, bila konfigurasi bangunan sudah baik, maka seorang
Dinding geser yang tak cakap pun dapat merancang bangunan tahan gempa.”
tidak menerus

(e) Komponen struktur tidak menerus

FAKTOR PENGARUH KEHANDALAN KONSTRUKSI MEMAHAMI KARAKTERISTIK MATERIAL


BANGUNAN BANGUNAN

• Beton (campuran kerikil + pasir + semen)


Pemahaman
merupakan material kuat terhadap tekan
Bahan bangunan tekan Tarik
dan lemah terhadap tarik
Retak
• Baja, merupakan material daktail karena
berperilaku kuat terhadap tarik dan tekan
• Kayu, merupakan material non-homogen
dan anisotropik dalam berbagai arah baik
terhadap kuat tarik maupun kuat tekan.
Kuat Lemah
• Pasangan bata: (batu bata+plesteran)
Ketrampilan Rekayasa struktur merupakan material lemah terhadap tarik
pelaksana dan konstruksi Pasangn bata
tapi kuat terhadap tekan

10
UKURAN LUASAN DINDING PASANGAN
Perilaku dinding
dinding pasangan terhadap gempa
Bentang Gaya inersia
dinding dari atap
Gaya sebidang dinding terlalu
rubuh panjang
A
Cross Wall terguling
A
A B
Cross Wall Dinding
panjang
B

Arah getaran gempa tanah


A
Arah getaran
Arah kuat Dinding tebal (1½ bata)
gempa Dinding
versus
pendek
Dinding tipis (1 bata)

rubuh B
Dinding ditumpu
oleh dinding lateral
Bergerak tegak
lurus bidang
dinding Arah getaran
gempa Pengaruh panjang dinding Pengaruh ketebalan dinding
Arah lemah

Dipasang
Selama gempa, atap tulangan Perencanaan struktur tahan gempa
Sambungan merupakan satu kesatuan A pd sudut
B
atap dengan sistem struktur
B dinding Pengikat, pengaku, dan penguat antar elemen
dinding
Dinding dengan
bukaan kecil A

Balok Arah getaran


lintel gempa

Gaya inersia dari


Fondasi kaku Sambungan Gaya inersia atap
dinding dan dari atap
fondasi
Sambungan tiap A1
sudut dinding
B2
B1

A2

Arah getaran
gempa Transfer beban Sumber: Teknik sipil UGM
antar dinding

11
BEBAN BEBAN GEMPA
GRAVITASI

GAYA YANG BEKERJA


PADA BANGUNAN AKIBAT (a)

GETARAN GEMPA
Komponen meregang
pada lokasi tarik
Tarik

MODUL RUMAH TAHAN GEMPA SESUAI Standar


Tarik Pedoman Manual (SPM)
(b) (c)

Nilai gaya tarik

Komponen struktur mengalami


tekan dan tarik secara berulang
saat terjadi gempa. Penulangan
direncanakan untuk memikul
kedua jenis gaya tersebut
(d)

Sumber: Teddy Boen dan Krishna S. Pribadi

12
Persyaratan kualitas bahan beton bertulang
mengikuti SNI 03-2847-1992 (2002 ??)
Persyaratan beton untuk perencanaan gempa mengacu pasal 3.14.2 tentang
perencanaan struktur beton bertulang butir 4, sub butir 1) :
• Beton pada komponen struktur yang menahan gaya yang timbul
akibat gempa tidak boleh kurang dari 20 MPa.

Persyaratan baja tulangan dalam pasal 3.14.2, butir 5 tentang tulangan


penahan gaya lentur dan aksial akibat gempa yang digunakan dalam
komponen struktur rangka dan komponen dinding batas harus memenuhi
ketentuan ASTM A706. Tulangan yang memenuhi ASTM A 615M mutu 300
dan 400 boleh digunakan dalam komponen struktur di atas bila:
 kuat leleh aktual berdasarkan pengujian di pabrik tidak melampaui
kuat leleh yang ditentukan lebih dari 120 MPa (uji ulang tidak boleh
memberikan hasil yang mempunyai harga ini lebih dari 20 MPa), dan
 rasio dari tulangan tarik batas aktual terhadap kuat leleh tarik aktual
tidak kurang dari 1,25.

13
DETAILING KOMPONEN
STRUKTUR RUMAH

 SNI 03-1727-1989 Tata Cara Perencanaan


Pembebanan Untuk Rumah Dan Gedung
 SNI 03-1734-1989 beton bertulang dan struktur dinding
bertulang
 SNI 03-1726-2002 Tata Cara Perencanaan Ketahanan
Gempa Untuk Bangunan Gedung
 SNI 03-2847-1992 Tata Cara Perhitungan Struktur
Beton Bertulang Untuk Bangunan Gedung
 SNI 03-6816-2002 pendetailan penulangan beton
Sumber: tedy Boen 2009

14
Pondasi Batu Kali Menerus

Sebaiknya tanah
dasar pondasi
merupakan tanah
kering, padat, dan
merata
kekerasannya.
Dasar pondasi
sebaiknya lebih
dalam dari 45 cm.
Sumber gambar: Tedy Boen

Pondasi Batu Kali Menerus Pengujian penggunaan fondasi


menerus di laboratorium

 Pondasi sebaiknya
dibuat menerus
keliling bangunan
tanpa terputus.
 Pondasi dinding
penyekat juga dibuat
menerus.
 Perlu dipasang balok
pengikat/sloof
sepanjang pondasi
tersebut.

15
Pondasi Batu Kali Setempat

Angker φ 12 – 300

tampak atas

Pondasi setempat Potongan B

16
KETENTUAN MINIMUM BALOK BETON BERTULANG …. lanjutan

Setidaknya dipasang 2 buah


Tulangan bawah bagian
tulangan sepanjang balok
Pendetailan tulangan kolom pada fondasi tumpuan min. harus setengah
dari tul. atas

BALOK
135°
Jumlah total tulangan ditentukan Ujung sengkang yang
KOLOM dari perhitungan KOLOM dibengkokan 135°° tidak akan
terbuka saat mengalami
getaran gempa

Disarankan untuk ditekuk ≥10 times


135°° ke arah dalam kedua Horizontal diameter of
sisi sengkang Spacing stirrup

135º

PENDETAILAN TULANGAN KOLOM Dimensi dan tebal selimut beton

Extra Links

Diperlukan sengkang terbuka


Column
mengelilingi tul utama dengan
bengkokan 135°

Ekstra sengkang diperlukan


untuk melindungi beton

17
Buruknya kualitas pekerjaan

Pembatasan Luasan dinding meningkatkan kinerja


dinding pasangan terhadap ketahanan gempa

18
Buruknya kualitas pekerjaan KERUSAKAN PADA DINDING PASANGAN

Struktur Atap untuk Atap Genteng


Detail sambungan kuda-kuda dan kolom

Angker φ 12 - 300

Sumber: Jogja-Jateng Archquick response production team

19
20
21
Pentingnya perhatian khusus pada daerah sambungan balok kolom

kerusakan rumah/ bangunan


akibat gempa

Sambungan balok kolom yang tidak baik (panjang penyaluran tulangan yang
tidak mencukupi
mencukupi)) mengakibatkan terlepasnya balok dengan kolom
kolom..

22
Pentingnya sengkang pada kolom
KERUSAKAN BANGUNAN AKIBAT GEMPA

Ukuran sengkang
yang terlalu kecil
dan jaraknya yang
terlalu jauh -
sangat berbahaya

Dinding Retak Geser Dinding Retak Lentur

23
Dinding runtuh

Dinding runtuh – out of plane

Two ways a building can


withstand an Earthquake

Kualitas kerja

24