Anda di halaman 1dari 9

Based on true story

If This Was A Movie

Tebak dimana aku sekarang? Didalam mobil bersama Harris. Aku tidak tahu kemana dia
akan membawaku, dia hanya menjelaskan jika dia ingin makan disuatu tempat agar dia
bisa menjelaskan padaku tentang caraku untuk pulang ke Indonesia. Aku tahu, tadi pagi
dia menjadi sangat menyebalkan. Tapi dia memesankanku pakaian yang pantas dan
sekarang disinilah aku memakai jeans hitam dan jaket denim.

Harris berhenti di sebuah bangunan dengan tulisan Le Paris. Saat memasuki interior
bangunan yang kurasakan sangat mewah dan bernuansa vintage. Mengapa makan siang
harus di restoran semewah ini? Mengapa bukan McD atau KFC saja? Aku belum pernah
ke tempat seperti ini sebelumnya.

Setelah menemukan meja aku dan Harris duduk berhadapan lalu seorang pelayan
menghampiri meja kami. Well, aku sangat risih disini. Melihat sekelilingku, wanita dan
pria yang memakai setelan dan dress ditambah heels dan yeah.. mereka tentu saja
sepasang kasih yang sedang kencan disini. Ini restoran Paris dan jelas hal-hal romantis
ada di tempat ini. Pesananku kusamakan dengan punya Harris, toh aku sama sekali tidak
tahu menu yang ada di buku ini.

“Rileks,kau tidak perlu setegang itu.” Harris meyadari raut wajahku yang sedari
tadi melirik sekeliling ruangan.
“Apa ini semua diperlukan? Ini berlebihan kau tahu. Restoran ini terlalu-“
“Romantis?” Harris meyambung perkataanku dengan menaikkan salah satu
alisnya. Berlebihan. Aku memang berpikir hal itu tadi namun mendengar dia yang
mengatakannya aku menjadi lebih risih.
“T..ttidak, hanya saja..-“ aku menggantungkan kata-kataku.
“Tidak usah khawatir, aku hanya merindukan tempat ini. Sudah lama aku tidak
kesini.”

Aku mencoba bersikap normal dan beradaptasi di dalam ruangan ini. Meskipun sesekali
ada pandangan mata yang melirik kearahku, aku tidak tahu apakah ini perasaanku saja.
“Jadi, kau bisa mengatakannya sekarang.”kataku sembari menyengir lebar. Aku
sudah tidak sabar untuk pulang.
Harris tersenyum penuh melihat antusiasku, untuk sesaat aku teralihkan. Entahlah, kali ini
dia seperti benar-benar tersenyum dan itu berbeda.
“Tenang tikus kecil, kau akan merusak suasananya.”ucapnya meledekku.
Seketika mood ku rusak karena dia memanggilku dengan panggilan itu lagi.
“Yah, aku tikus kecil! Dan kau sudah tidak sabar untuk menyingkirkanku. Jadi
kuharap kau melakukannya itu segera.” kataku sambil memanyungkan bibirku. Dan lagi
dia tertawa seakan semua ini adalah lelucon.
“Ternyata kau sensi juga.”
Aku tidak menjawabnya, memanggilku tikus kecil kurasa sudah cukup merusak mood
ku.
“Jadi, aku bisa memulangkanmu tanpa password dan kartu identitas. Aku sudah
mengaturnya, besok kau sudah bisa pulang menggunakan pesawat pribadiku.”

Mendengar penjelasan Harris kedua mataku membulat, oh Tuhan! Benarkah ini? aku bisa
pulang besok? Ahh.. aku bahagia sekali. Terima kasih terima kasih..
“Pesawat pribadi?”
Harris mengangguk. “Hari ini aku suda mengurus keperluan landasannya dengan bandara
di negaramu.” Senyum di bibirku terpapar jelas. Aku ingin berteriak! Rasanya bahagia
sekali.
“Hentikan ekspresi itu tikus kecil, aku tahu kau sangat senang. Kau membuatku
tidak bisa mencerna makanan.”
Aku menghiraukan kata-kata Harris dan memilih tetap tersenyum selebar-lebarnya. “Oh
God! Thankyou Harris!”

Aku memasuki mobil Harris masih dengan suasana hati yang sama. Aku tidak tahu tapi
aku sangat senang! Aku bahkan tidak pernah absen tersenyum. Oke, mungkin aku harus
bersikap normal sekarang. Saat memasang seat belt Harris melirikku sekilas. “Ambil tas
itu.” aku mengerutkan dahiku, lalu meraih tas belanja yang tadinya berada di pertengahan
antara aku dan Harris. Aku hanya menatapnya bingung.
“Open it, that’s for you.”(Bukalah, itu untukmu)
Saat membukanya, disana ada sebuah kotak- Oh my God!
“No, I can’t take this.” (Tidak, aku tidak bisa menerimanya)
Yang benar saja! Dia memberiku ponsel iOS yang bisa kau sebut dengan iPhone. Aku
tentu menolaknya, kau bercanda? Aku sudah banyak merepotkannya. Bahkan baju-baju
ini adalah darinya. Lalu pesawat pribadi tiketku untuk pulang juga darinya. Bagaimana
mungkin itu tidak cukup.
“Ambil saja tikus kecil. Aku bisa membeli lebih dari barang itu.” paksanya. Aku
memutar bola mataku mendengarnya, aku tahu kau kaya idiot!
“Aku tidak b-bisa Harris. Lagipula besok aku sudah pulang, aku tidak
memerlukannya lagi.” tolakku. Namun, aku melihat tatapan itu lagi, menatapku seakan ia
ingin mengendalikan semua yang ada dalam hidupku.
“Ambil atau kau tidak akan pulang.”
Aku membulatkan bola mataku. “Hey!!” Harris menyengir lebar, serius! Itu tidak lucu.
“Lagipula kau pernah mencuri ponsel Nick.” Katanya tanpa melepas sengiran itu
di wajahnya, dia membuatku malu mengingat kejadian itu. Baiklah, aku tidak ingin
merusak rencana pulangku kerumah hanya karena dia memulai segalanya.
“Terserah kau saja.” Aku menghembuskan nafas pasrah.

Lima belas menit atmosfer di dalam mobil ini terasa canggung, aku tidak tahu tapi aku
berusaha untuk memulai percakapan tapi melihatnya menyetir dengan serius, aku
memundurkan niatku melakukannya. Dia seperti memiliki lebih dari satu kepribadian dan
sulit untuk dibaca. Aku akui memang dia tampan, kemungkinan besar semua wanita
menenggelamkan dirinya untuk pria yang ada disampingku ini. Dari samping, aku bisa
melihat rahangnya yang terbentuk sempurna dengan sudut 120 derajat mengukir pelipis
dan dagunya. Wow.. aku tidak tahu dia sesempurna itu.

“Kau bisa menjatuhkan air liurmu jika kau tidak sadar sekarang.”

Ha?

“What?”

Shit.

Harris melirikku sekilas namun dengan senyum itu dibibirnya, senyum gila yang
menjelaskan jika dia telah menangkapku melakukan sesuatu yang memalukan. Aku
terjebak! Aku benar-benar menyesal harus mendekripsikan ketampanannya.
“Aku tahu aku tampan. Kau tidak perlu sejelas itu.”
Aku tidak membalas apapun, aku tahu aku tidak mungkin memenangkan argumen ini
karena dia benar, aku tertangkap basah menatapnya. Bodoh sekali! Aku hanya membuang
pandanganku kearah kaca mobil dan menyembunyikan wajah malu, agar dia tidak
menang berkali-kali.
Aku menyalakan ponsel yang Harris berikan padaku, yeah.. cara terbaik mengalihkan
perhatianku dari situasi awkward ini. Aku masih tidak menyangka dia memberiku ini.
“Kita kemana?” tanyaku reflek saat menyadari arah jalannya berbeda, Harris baru
saja membelokkan mobilnya kearah jalanan sepi dan hanya ditumbuhi pepohonan lebat.
Jelas sekali bukan jalan pulang ke apartemennya.
“Suatu tempat.” Jawabnya singkat.

Jawabannya benar-benar tidak memuaskan, dan aku harus menahan untuk bertanya
padanya karena itu hanya sia-sia. Selagi instingku mengatakan tidak ada yang salah, aku
baik-baik saja. Mungkin, karena aku pecaya padanya. Dia tidak mungkin menculikku
kan?

Beberapa saat kemudian, Harris menghentikan mobilnya di depan sebuah pagar. Aku
tidak tahu, apa ini karena mataku yang rabun atau pagar itu seperti sudah berlumut dan
tidak terawat. Detik berikutnya Harris melepas seatbelt nya dan melirikku sekilas. “Ayo
turun.”

Setelah Harris membuka gembok pagar itu, dia memintaku untuk masuk bersamanya.
Aku tidak tahu apa yang ada didalam sana. Tapi sekali lagi, aku benar-benar
mempercayainya dan aku hanya terdiam dan menurut daritadi. Kau tahu, aku penasaran.

Jujur saja, meskipun suasana sepanjang koridor jalan sangat sepi. Aneh saja aku merasa
nyaman dengan ketenangan ini. Aku hanya ingin tahu mengapa Harris membawaku
kesini. Harris dan aku berjalan beberap meter ke dalam, dan pandanganku tertuju pada
sebuah rumah disana, seperti rumah kayu dengan eksterior yang cukup manis. Aku
sedang berada di Lake House, entahlah.. aku kira yang seperti ini hanya ada di Amerika.
Di depan rumah itu ada sebuah danau terbentang luas. Aku hanya bisa ber-wah kagum
melihatnya.

Harris’s POV

Aku memasuki Lake House. Bisa kulihat Ilmi sangat menyukai tempat ini, dia tak pernah
melepas pandangannya tanpa senyum itu di bibirnya. Jujur saja, untuk kebanyakan gadis
attractive di luar sana. Dia menjadi salah satunya, namun entah bagaimana aku merasa
ada yang membedakan gadis ini dengan kebanyakan diluar sana.
“Ilmi, c’mon in.” (Ayo masuk)
“Jadi, apa yang kita lakukan disini?”
Aku mendesah, belum menjawab pertanyaannya. Sebenarnya, aku mencari dokumen
ayahku. Dokumen yang berisi legalisasi hubungan perusahaan dengan berbagai negara.
Hanya ingin memastikan jika Indonesia adalah salah satunya.

Sejak kecil, orang tuaku selalu membawaku ke rumah ini. Setiap liburan atau saat tertentu
jika ibuku butuh ketenagan, masa-masa itu indah. Aku hampir tidak ingat ada kecacatan
didalamnya. Itu jauh sebelum ayahku menjadi brengsek! Lelaki itu merenggutnya! Semua
kebebasan yang menjadi milikku. Dan jauh sebelum masalah itu datang! Aku membenci
rumah ini! Memori itu datang dan melemahkanku, aku benci menjadi lemah!

“Harris?”
Aku membalikkan badanku. Ilmi menatapku heran, mungkin dia merasakan perubahan
raut wajahku.
“Kau baik-baik sajakan?”
Aku mengangguk lalu menghembuskan nafas panjang. “Aku hanya membenci tempat
ini.”
Ilmi mengerutkan dahinya. “Lalu, kenapa kita kesini?”
“Mencari dokumen, agar kau bisa pulang.”

Aku memasuki kamar yang dulunya adalah kamar orangtuaku. Aku mengacak-acak meja
dan mencarinya didalam laci. Emosiku memuncak memasuki kamar ini. Seakan dihantam
jarum bertubi-tubi. Terakhir aku disini saat aku berumur 13 tahun. Sejak saat itu
semuanya menjadi berubah dan tidak akan pernah bisa sama lagi.

Aku menemukan berkas yang kucari dan segera mengambil gambarnya dan mengirimkan
ke perusahaan untuk dikelola.

Aku mendengar suara pintu terbuka. Ilmi memasuki ruangan dan memegang sesuatu di
tangannya. “Kau terlihat manis.”katanya sambil memperlihatkan sebuah foto yang
merupakan foto masa kecilku bersama orang tuaku dan DJ. Aku benci melihat itu, seakan
semua kenangan yang terkubur didasar itu kembali ke permukaan dan mengikisku
kembali. Mimpi buruk yang biasa hadir menemani malamku menyapaku dan membuat
emosiku semakin memuncak.

Aku mengambil foto itu dengan kasar di tangannya lalu melemparnya sembarang.
“Bisakah kau diam dan tidak menyentuh apapun?!” emosiku mengontrol diriku dan aku
benar-benar benci itu.
Selanjutnya bisa kulihat dia terkejut menatapku, ada rasa kekecewaan ditatapan matanya.
Aku mengutuk diriku sendiri telah membentaknya namun aku tidak tahu bagaimana
memperbaikinya. Ilmi pergi meninggalkanku dengan tatapan kecewa dan bingung. Dan
percayalah aku merasa sangat bersalah. Aku menjadi pria brengsek sekarang!

Aku duduk diatas ranjang dan mengusap wajahku frustasi, seharusnya itu tidak perlu
terjadi. Emosiku berantakan dan aku membuat masalah yang lain. I’m a mess!

Aku memperhatikan foto yang baru saja kulempar, tergeletak dilantai. Aku hanya tidak
ingin kembali jadi bocah lemah yang bergantung pada sesuatu! Aku sudah berubah sejak
lama, luka itu menguatkanku. Aku tidak ingin sisi itu mengendalikanku. Tidak ada yang
lebih buruk saat membiarkan sisi emosional mengendalikanmu. Akhir-akhir ini aku
melihat diriku begitu beda, aku biasanya tenang dan sekarang tidak terkendali. Aku tidak
tahu apa yang terjadi.

Kemana perginya anak itu?!

Ahh! Dia tidak mungkin melarikan diri. Tapi aku tahu jika dia kesal denganku. Aku
mencari didalam dan diluar rumah dan tidak menemukannya, mungkin saja dia didalam
mobil. Tapi saat melangkah keluar, aku melihatnya duduk di jembatan tepi danau. Untuk
beberapa alasan aku lega melihatnya disana. Dengan sigap aku berjalan menghampirinya.
“Ayo pulang.”
Dia tidak menjawab. Pandangannya lurus kedepan tanpa melirik kearahku atau pun
merasakan keberadaanku. Dia kesal. Dan, aku sudah menduganya. Aku tahu, ini salahku.
“Ilmi, apa kau ingin disini terus, huh?”
Dia tetap tidak menjawabku.
“Kau mau ku gendong?”
Aku mendekat kearahnya pelan.
“What the hell is wrong with you!!?”
Dia menatapku penuh kekesalan. Aku mendesah mencoba lebih tenang dan duduk di
sampingnya.

Beberapa saat aku mengumpulkan semua kenangan itu didalam ingatanku, aku tahu itu
perih dan itu hal terakhir yang pernah kuinginkan. Aku tidak ingin melakukannya, tapi
aku sudah melakukannya sekarang. Aku tidak tahu jika aku akan kehilangan kontrol lagi,
aku hanya ingin rasa itu berakhir.
“Tempat ini..” aku mulai membuka mulut. Menutup mataku sejenak dan
menghembuskan nafas. “adalah tempat favorit liburanku, jauh sebelum semua itu terjadi.”
aku membiarkannya mengapung di pikiranku. Aku menceritakan pahitnya memori itu
perlahan.
“Aku pernah bahagia, dan sekarang aku tahu aku tidak harus membiarkan semua
itu ada dalam hidupku.”

Dan dalam sesaat ada rasa lega saat semua itu mengalir dalam kepalaku, menyakitkan
tapi kali ini aku bisa menahannya.
“Kau menghukum dirimu sendiri atas sesuatu yang bukan salahmu?”
Aku melirik kearah Ilmi, dia menatapku dengan seribu satu pertanyaan di wajahnya.
“Memori itu seperti kutukan, aku tidak ingin membiarkannya
menghancurkanku.”
“Memori itu menguatkanmu, membiarkannya masuk tidak akan
menghancurkanmu. They made you who you are”jelasnya. Aku menatap mata cokelat
gelap itu lama, mencoba melihat lebih jauh ada apa didalam sana.

Aku terdiam, jauh didalam sana. Aku tahu dia benar, dan disisi lain aku merasa sedetik
itu aku bukan diriku yang aku kenal.
“Aku tidak seharusnya membentakmu. Sisi lain dariku terpengaruh oleh
kenangan itu.. kau tahu, aku benci tempat itu.”

Ilmi’s POV

Yah, jujur saja dia sangat menyeramkan saat dia emosi. Dan itu bukan kali pertamanya.
Aku hanya menatapnya sekilas, rahangnya mengeras dan aku tahu dia mencoba menahan
sesuatu yang kuat disana.
“Kau terluka Harris, kau tidak membenci sebagaimana yang kau pikirkan. Tapi
terkadang membiarkan sisi emosionalmu masuk bukan berarti kau lemah, itu hal normal
yang biasa manusia lakukan Har, setelah kau melakukannya rasanya akan membaik. Rasa
sakit itu tidak bertahan lama, kau cukup membiarkannya saja terjadi.”
Dia tidak bergeming hanya ada senyum paksaan yang menghiasi wajahnya. Aku tahu dia
memang terluka dan dia berusaha menutupinya.
“Uh wow, grammarmu semakin bagus, kau bahkan terdengar seperti native
speaker.”
Dan.. boom, saat suasana seperti ini, dia bisa mengacaukan moodku seketika. Dia benar-
benar menghindari percakapan itu. Aku memutar bola mataku dan membuang
pandanganku.
“Sebagai permintaan maaf, aku akan menjadi pemandumu hari ini. Kita akan
berkeliling kota London.”

Kedua mataku reflek membulat. "Really?!"

Harris mengangguk pasti dan melengkungkan kedua sudut bibirnya. "Lagi pula, apa
gunanya kau tiba-tiba muncul disini tanpa memanfaatkannya."

Oh Tuhan! Dia benar! London memang salah satu tempat favoritku dan aku sangat
memimpikan berada disini dan menikmati setiap tempat yang ada. Ini adalah hari yang
indah! Wuhuu.

"Well, kurasa cengiran itu harus kau hentikan sekarang. Waktu berjalan."keluh Harris.
Seperti biasa, dia bisa berubah menyebalkan dalam sedetik.

Harris berdiri dari posisinya kemudian mengulurkan tangannya kearahku. Aku


menengadah menatapnya, kemudian menerima uluran tangannya membantuku untuk
berdiri. Namun, sebelah kakiku kehilangan keseimbangan dan hampir membuatku
terjatuh kedalam air. Tapi, lengan kekar milik Harris lebih dulu menopang tubuhku
hingga sekarang aku berada di dekapannya.

Damn!

Kedua mata itu terpapar oleh sinar matahari membuatnya seperti sebuah hutan hujan
tropis hanya lebih terang dan intens. Jarakku dengannya tak terhitung, aku bahkan bisa
merasakannya bernafas. Dia menyelamatkanku hampir tenggelam dan sekarang aku
malah merasa hanyut didalam matanya.

Aku akui aku pernah sedekat ini dengannya ketika dia menggendongku, tapi waktu itu
aku tidak sadarkan diri. Dan sekarang, berada sedekat ini dengannya membuatku sulit
mengontrol diriku sendiri. Dia.. sungguh tampan.

"Sama-sama." ujarnya sembari menyengir lebar.


Segera setelah itu, aku memundurkan tubuhku darinya. Tersadar bahwa aku sudah
menghabiskan 30 detik mengobservasi ketampanannya. Membuatku begitu malu dan
mengutuk diriku sendiri.

Aku menundukkan kepalaku dan berdehem kecil membersihkan tenggorokanku yang


tidak gatal sama sekali. Demi apapun! Sekarang kurasakan pipiku seperti terbakar.
Semoga dia tidak melihatku malu dan gugup seperti ini, jika iya Harris pasti
memanfaatkan hal ini untuk mengejekku lagi.

"Thanks."

Aku berjalan mendahuluinya dan bergegas menuju ke mobilnya. Aku masih


menyembunyikan wajah meronaku karenanya. "Ayo, Harris. Aku tidak ingin menyia-
nyiakan waktuku. London menantiku!"