Anda di halaman 1dari 2

Patofisiologi Miksoma Odontogenik

Manifestasi klinis
Gejala dari sebagian besar miksoma hampir selalu asimtomatis. Menurut Farman dkk
(1979) menjelaskan bahwa odontogenik miksoma lebih sering menyerang mandibula
daripada maksila dengan perbandingan 4:3. Pada mandibula lesi lebih sering terjadi didaerah
premolar dan molar, sedangkan pada maksila menunjukkan peningkatan rasa sakit pada lesi
yang melibatkan maksila dan sinus maksilaris dan pada akhirnya terdapat gangguan
neurogenik. Seluruh kasus menunjukkan pembengkakan yang asimptomatis dan tidak
menimbulkan rasa sakit yang bermakna selama masa perawatannya.
Pasien odontogenik miksoma sering datang dengan keluhan benjolan pada pipi.
Benjolan itu pada mulanya kecil dan kemudian semakin membesar. Kadang pembengkakan
disertai rasa sakit dan sering juga disertai sakit kepala 10. Bagi geligi yang terlibat dapat
mengalami malposisi atau mobiliti (goyang). Rasa sakit maupun parastesi jarang ditemukan
hingga terjadi pembesaran massa yang cukup signifikan atau bermakna, yang mana pada satu
kasus ditemukan adanya malposisi dari gigi molar akibat ekspansi tumor tanpa adanya gejala
neurologis. 10
Pada pemeriksaan ekstra oral terlihat pembengkakan pada pipi dengan permukaan
licin, warna lebih merah dari jaringan sekitar, terlokalisir, tidak terdapat ulkus, konsistensi
keras, tidak terdapat fluktuasi, tidak dapat digerakkan dari dasarnya, tedapat nyeri tekan dan
afebris.
Pada pemeriksaan intra oral didapatkan pembengkakan pada mukosa dan gingiva.
Pembengkakan itu memiliki permukaan licin, lebih merah dari jaringan sekitar, keras,
terlokalisir, tidak dapat digerakkan dari dasarnya, tidak terdapat ulkus, tidak ada fluktuasi dan
tidak ada nyeri tekan. 10

Prognosis
Miksoma meskipun merupakan tumor jinak, namun jika tidak cepat mendapatkan
perawatan yang baik akan dapat menyebabkan cacat pada penderitanya. Apabila lesi
ditemukan masih kecil dan cepat diberi perawatan yang baik dapat menghindari cacat dan
tindakan radikal. 10
Perawatan odontogenik miksoma meliputi enukleasi, kuretase dan reseksi perifer
dengan batas 1-1.5 mm sehingga dapat mempertahankan strip dari tulang kortikal. Reseksi
besar dengan margin 1-1.5cm, dan tindakan pembedahan yang digunakan lebih agresif
menunjukkan tingkat kekambuhan yang lebih rendah. Tingkat kekambuhan dalam intervensi
yang kurang agresif sekitar 25%. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak massa yang
dapat diambil, semakin rendah tingkat kekambuhan.
Daftar pustaka
10 = Masrial. Manulang K. Hemimaksilektomi pada kasus myxoma rahang atas. J Dentika
Dental. Vol 6, No I.2001:176-9.